Sunday, April 17, 2022

Sakit Perut Hebat Saat Kehamilan di Bulan Ramadan


Bismillah..
Alhamdulillah Allah masih mengijinkanku untuk bisa kembali sehat dan bisa menulis.

Sahur ini perutku rasanya full, kemudian mencukupkan diri untuk makan kurma dan roti isi. Sebelumnya aku dan suami ngobrol sejenak mengenai perjalan kami kemarin yang cukup panjang karena ditempuh menggunakan sepeda. Per hari ini akupun diminta untuk ngga puasa dulu supaya badannya bisa istirahat. Awalnya sedih tapi ya harus nurut yah. Perlahan mulai muncul rasa ngga puguh dari badan, dan akhirnya nyeri yang tak tertahankan. 

Ingatanku langsung melayang pada masa 3 tahun silam, tepat 1 november tahun 2019 saat aku kontraksi dan keguguran. Naudzubillahi min dzalik, harus jaga pikiran dan ngga boleh berpikiran macem-macem. 

Timbul rasa sesal diri sekaligus kebingungan. Kemarin pasca karantina covid, kami pergi ke sekitar Kanazawa Eki (JF ishikawa) untuk memperpanjang paspor. Jarak tempuhnya sekitar 6-7 km sekali jalan dan kami lalui bersama menggunakan sepeda, perlahan. 

Sebagai personal, aku ngga merasakan capek berlebihan, atau apa-apa. Bahkan setelah itu kami masih menyempatkan diri untuk melihat-lihat toko secondhand hard-off dengan waktu yang panjang. Kalau ibu hamil happy aja ya cuci mata, waktu dan tenaga tak terasa. Tapi tentunya mungkin akan  berbeda ya kalau dilakukan oleh ibu hamil yang sedang berpuasa. Badan rasa kuat, tapi kita ngga pernah tau efeknya ke janin ya. 

Sakit Perut Hebat Secara Tiba-tiba
Tepat setelah sahur dan adzan subuh tadi pagi, tiba-tiba aku mengalami nyeri hebat di sekitar perut dan punggung. Allahu akbar.

Rasanya belum pernah sesakit ini kecuali saat mulas mau lahiran haidar dan saat 2019 lalu. Ditambah rasa nyeri yang aneh dari bagian punggung, double combo. Segala bentuk posisi dicoba dan tetap merasa nyeri. Akhirnya keluarlah semua isi perut, alhamdulillah masih sempat meminta wadah dan suami juga gesit mengambilkan wadah yang ada. Alhamdulillah setelah itu rasa nyeri perlahan berkurang, meskipun masih tetap.

Akupun mencoba posisi duduk miring bersandar, ini posisi terenak. Karena jujur, sangat serba salah karena di semua posisi, sakitnya tetap terasa. Perutpun tak bisa kutekan, tapi aku meminta suami untuk memijat area punggung tengah untuk mengurangi rasa sakitnya.

Kejadiannya berlangsung cukup lama, sangat cukup untuk bisa berpikir macam-macam. Lidah hanya bisa bersuara pelan menahan rasa sakit sambil berusaha tetap dzikir. Tak mudah, jujur. Namun apa yang bisa dilakukan kalau itu jadi hari terakhirku hidup di dunia? Terpampang nyata rasa ngga ada amalan yang cukup buat bekal kesana.

Suami bertanya-tanya kesana kemari, mengontak setiap kenalan yang profesinya sebagai dokter. Sampai pada diagnosa "kemungkinan ada maag, dan insyaallah bukan karena kehamilannya". Sebuah kesimpulan yang menenangkan.

Saat nyeri mereda, akhirnya kami memutuskan untuk meminum obat pain killer yang kemarin diresepkan saat covid, semacam parasetamol. Tak yakin obatnya akan bekerja mengatasi nyerinya, namun hanya ikhtiar itu yang bisa kami lakukan disini. Qadarullah alhamdulillah akhirnya nyeri hilang, aku bisa tertidur kembali dan bangun dengan normal.

Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata,
“Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan."
―QS. Maryam [19]: 23

Ahh, 
Memang kita hanya manusia biasa.
Dan Allah memberikan karunia rasa sakit agar sesekali manusia sepertiku benar-benar berpikir. Ini jadi momen ramadan yang tak terlupakan buatku.

Mohon doanya supaya kehamilan kali ini tetap sehat dan lancar 🙏

Update :
Di malam hari, iday bilang "Bunda, pas Bunda sakit tadi, iday takut Bunda meninggal."
Anak shalih, terimakasih udah selalu bisa diandalkan dan bantuin ayah bunda dalam kondisi genting :') Maaf bikin iday jadi takut, makasih udah do'ain bunda ❤️

17 April 2022

#Day16 #PejuangRamadan #30dwcJilid36

No comments:

Post a Comment