Wednesday, April 6, 2022

Mencoba Resep Baru di Bulan Ramadhan


Ramadhan hari ini dapat hikmah besar bahwa memang kita butuh :
✅ punya skill mumpuni
✅ sehingga bisa mengelola waktu dengan baik
✅ sehingga kita ngga lantas melalaikan amanah lainnya

Kali ini ceritanya aku mencoba membuat bubur ayam sendiri, karena tenggorokan kami rasanya semakin sakit dan membutuhkan makanan yang lembut.

Episode memasak ini masih jadi ranah yang abu-abu buatku, dibilang bisa tidak juga, tapi dibilang tidak bisa juga tidak. Kalau ditanya suka/tidak suka masih abu-abu juga karena aku cukup senang ketika bisa berhasil mempraktekkan resep/jenis makanan baru. Hanya saja mungkin aku lebih memilih untuk melakukan hal lainnya dibanding masak ya. Hihi.

Sadar bahwa kami tak bisa membeli bubur disini, maka solusi satu-satunya adalah membuatnya sendiri. Cukup menantang buat aku pribadi, karena bubur itu lumayan banyak printilannya ya. Selain itu sedang shaum jadi sulit icip-icip dan masih kikuk dalam pembuatannua. Ya sambil mengaduk panci bubur, sambil bikin kuah kuning, sambil menggodok telur, dan lain sebagainya.

Aku jadi teringat jaman dahulu saat mp-ASI anak pertama. Semua dilakukan manual secara manual, benar-benar masih newmom yang ngga tahu apa apa. Pada waktu itu seingatku teman yang sudah nikah seangkatanku masih belum banyak, jadi trial error saja.

Masak masakan harian masih belajar, apalagi masak ala mp-ASI yang saat itu sangat perlu memerhatikan banyak hal. Survive di masa itu, aku hanya berpikir, bahwa mpASI manual cara normal ya bisa-bisa aja, tapi memang sedikit lebih rumit karena bisa menghabiskan banyak waktu, terutama bagi yang belum ahli seperti aku.

Bersyukur ya sekarang sudah semakin banyak gadget dapur yang memudahkan para ibu rumah tangga menjalankan tugas-tugasnya. Jadi bisa lebih mengefisienkan waktu dan tenaga, terlebih saat ramadhan.

Tapi tentunya, menurutku ada setidaknya dua jenis pengorbanan yang bisa dipilih, disesuaikan dengan kondisi masing-masing :
1. waktu
2. investasi membeli alat.
Bagi yang memiliki keluangan waktu, bisa mengandalkan apa-apa yang ada saja, tapi bagi yang memiliki keluangan dana, tentunya bisa investasi pada alat-alat yang memang memudahkan.

Hidup bersama dengan keluarga baru di tanah rantau, terkait masak memasak ini aku semakin menyadari bahwa ada dua hal yang begitu mencolok :
1. Skill memasak
2. Rasa percaya diri akan hasil masakannya.
3. Kesediaan meluangkan waktunya.

Banyak yang kulihat selalu siap sedia bila ada kegiatan yang membutuhkan masakan tertentu, sementara aku rasanya masih "planga-plongo" terutamanya karena memang jarang masak besar. Pun kalau membantu proses masak besar, hanya di bagian penyiapan bahan dan tak bertanggungjawab pada rasa dan finishing masakan. Tapi utamanya mungkin kurang pede dengan hasil masakan sendiri 😬✌️ 

Padahal tak jarang juga suami dan anak mengatakan bahwa masakan Bunda enak, mungkin juga karena tak ada makanan lain ya hihihi.

Tapi bersiaplah, di tanah rantau, skill memasakmu akan sangat membantu. Buatku sangat terasa sekali. Sering sekali aku merasa terharu kalau dikirimi makanan sama sesama ibu-ibu, memasak bersama, atau memasak masakan khas daerah masing-masing. Belum lagi takjub melihat yang memang akhirnya terbiasa memasak besar untuk project memasak makanan berbuka (ifthar), bayangkan pahala yang bisa didapatkannya ya.. Masyaallah

Pada akhirnya memang semua kembali pada diri sendiri, ada yang Allah lebihkan bakatnya di satu hal, ada juga yang Allah titipkan amanah lainnya di hal lain. Terpenting masing-masing dari kita bisa menyadari potensi diri sendiri dan mengoptimalkannya untuk bisa melakukan amal-amal kebaikan terutama di bulan Ramadhan.

Semangat mengasah diri, buk 🥰❤️

#Day6 #30dwcjilid36 #PejuangRamadhan


No comments:

Post a Comment