Tuesday, April 5, 2022

Mengenalkan Puasa Ramadhan Pada Anak Balita


Para orangtua di masa Ramadhan ini sudah banyak yang mulai mempersiapkan banyak hal termasuk bagaimana mengondisikan anak untuk mengenal  keistimewaan bulan ramadhan.

Sebelum terlalu jauh, kita perlu memahami bahwa fase anak balita, atau 0-7 tahun, sebetulnya anak belum dikenakan kewajiban syariat untuk berpuasa. Bahkan perintah shalat pun baru Allah dan Rasulullah perintahkan saat anak berusia 7 tahun. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, "Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan).
(Hadits ini hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197)

Jadi sebelum usia itu sebetulnya anak baru kita kenalkan dulu. Dan hal yang lebih pentingnya adalah menanamkan terlebih dahulu kecintaan dan kekaguman pada Allah Sang Maha Kuasa.

Kita perlu ingat bahwa syarat sah puasa ada 3 :
1. Muslim 
2. Berakal
3. Baligh

Kita bedah satu persatu ya..
Untuk poin 1 cukup jelas ya, insyaallah anak kita muslim. 

Untuk poin 2, apakah anak usia 0-7 tahun sudah berakal/sempurna akalnya? Salah satu hikmah mengapa anak sekolah SD dimulai sejak usia 7 karena secara psikologis anak sudah mulai matang akalnya.

"Karena pada usia inilah anak sudah mampu menerima perintah atau sudah paham menerima perintah yang disebut dengan istilah mumayyiz. Karena di usia ini kritis dan cerdas," kata Dr H Abdul Majid Khon dalam bukunya "Hadis Tarbawi. Hadis-Hadis Pendidikan".

"Usia secara kebetulan sama dengan usia anak sekolah dipedomani dalam penerimaan masuk sekolah formal di sekolah tingkat dasar titik konsekuensinya anak yang telah mampu belajar sholat dengan baik berarti pula ia telah menerima hukuman jika meninggalkannya."
(Ali Yusuf, Republika)

Untuk poin 3, tentunya anak usia 0-7 tahun pun belum baligh. Jadi tidak ada tuntutan bagi mereka, yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana menuntun mereka agar mereka merasakan imaji positif mengenai ibadah di bulan ramadhan :)

Tidak ada istilah lebih cepat lebih baik ya kalau menyangkut beban syariat. Karena kita ingin anak memilik fondasi yang kuat dulu mengenai fitrah keimanan, kecintaan nya pada Allah, pada agamanya.

Bayangkan kalau anak usia 0-7 tahun kita paksa untuk beribadah seperti kita yang sudah aqil baligh, sangat mungkin akan banyak penolakan, drama dan orangtuanya jadi stress. Padahal memang usianya belum mumpuni, jadi rileks saja terkait hasil, kita bersemangat pada proses membuat anak happy :)

Jangan sampai anak merasa kesal/trauma dengan syariat islam di usianya yang masih kecil, saat nantinya ia sudah baligh justru tak menjalankan syariat dengan baik.

Beberapa hal praktis yang cukup sering dilakukan orangtua di rumah adalah:
1. Menghias Rumah dengan Dekorasi Ramadhan
2. Menyediakan perlengkapan ibadah anak (sajadah, mukena, iqro/qur'an)
3. Menyediakan berbagai worksheet/printable/buku/mainan untuk mengisi kegiatan ngabuburit anak
4. Menyediakan lembar progress achievement chart ibadah untuk anak.

Ada tips dari Kang Canun dan Teh Fufu mengenai bagaimana cara mengenalkan puasa pada anak dengan menyenangkan:
1. Sounding dan briefing tentang Keistimewaan Shaum Ramadhan.
Misalnya mengenai pintu surga yang disediakan khusus bagi orang yang berpuasa (ar-rayyan), bahwa puasa itu Allah lah yang akan memberikan pahalanya, dan lain sebagainya.
2. Kenalkan latihan shaum ramadhan yang sesuai.
Sesuai kemampuan anak dan sebisa mungkin tidak membanding-bandingkan dengan anak orang lain. Misal anak hanya bisa sampai pukul 10.00 lalu berbuka, tidak apa. Kemudian hanya bisa sampai 12.00, lalu pukul 15.00 dst tidak apa. 
3. Fasilitasi keseruan ramadhan
4. Buat rencana selama bulan ramadhan
5. Apresiasi dan fokus pada progress
Kita bisa siapkan poster atau achievement chart dengan berbagai stiker lucu untuk anak. Apresiasi hal hal baik yang mereka lakukan.
6. Tidak perlu diiming imingi rewards terlebih dahulu.
Ingat bahwa fokus utamanya adalah progress mereka, bila di akhir mau memberi rewards, silakan saja, tapi sebisa mungkin bukan diinfokan di awal ya. Jadi sifatnya hadiah aja, apresiasi atas usaha mereka ingin semakon dekat sama Allah.

Pengalaman pribadi
Anak saya mulai di sounding mengenai shaum ramadhan sejak lama, namun sampai akhirnya dikenalkan dengan ritme ramadhan secara intens di usianya yang ke 4.5, 5.5 tahun dan 6.5 tahun ini. Memang sangat terasa perbedaannya, karena berkaitan dengan kematangan akalnya. Awal-awal dia paling senang karena saat buka puasa itu banyak yang jual makanan berbuka, dan terasa banyak makanan saat berbuka. 

Saya termasuk yang cukup "tenang" bila anak memilih berbuka puasa, namun tentu sedikit banyak ada pengaruh dari sekitar yang terkadang membuat diri jadi "goyah". Semisal perkataan bahwa "Anak saya udah mulai full puasa di usia 4 tahun/5 tahun" sementara saat itu anak saya tidak begitu. Tapi tetap tenang aja, dan isi diri dengan ilmu agar bisa mrlangkah lebih ajeg. Ingat kita perlu membangun fondasi nya terlebih dahulu yaa 😘

Sekian pembahasan mengenai bagaimana mengenalkan puasa pada anak balita. Semoga bermanfaat 😘

Hajah Sofyamarwa R.
Kanazawa, 5 April 2022

#Day4 #30DWCJilid36 #PejuangRamadhan

No comments:

Post a Comment