Friday, December 7, 2018

4 Tahun Pertama Pernikahan

Tanpa sengaja jemari ini membawa saya melihat fitur video pada facebook. Videony bermancam macam sih tapi entah kenapa mostly penampakan uji nyali (?) Hehe ngga juga sih, macem macem pokonya.

Sampai akhirnya saya menemukan film pendek Ini, menontonnya sampai habis dan menangis. Ngga percaya? Coba aja ya tonton sendiri. Hehe.

Alhamdulillah, menyempatkan diri sedikit berkontemplasi tentang apa yang sudah saya alami sepanjang 4 tahun pernikahan. Ya, tepat 30 November 4 tahun lalu, suami saya mengikrarkan Ijab Qabulnya di depan penghulu dan para saksi.

Saat itu sayapun tak menyaksikan, saya berada di bilik ruang rias, menyimak penuh perhatian, dan keluar ketika akad sudah terucap. Saya menangis juga, menangis saja.

Hingga detik ini, ternyata begitu banyak tuntutan yang tidak terpenuhi, hingga saya sadar bahwa pernikahan bukanlah soal menuntut atau dituntut. Bukan juga tentang pertanggungjawaban berupa Laporan LPJ yang tadi pagi saya tanyakan pada suami saya :p

Terkadang kita begitu sibuk memikirkan "apa yang belum ia lakukan pada kita", hingga membutakan mata hati kita, menutup segala tabir yang pernah ada. Padahal, sejatinya yang harus dipikirkan adalah "Apa yang sudah saya perbuat untuk Ia, untuk kebaikannya?"

Kalau lagi "waras" mungkin mudah, tapi bukankah tak jarang pula kita "kurang waras?" 

Sejatinya, pernikahan itu jadi sarana kita buat meraup banyak pahala. Bagaimana suami istri bekerja sama untuk saling berfastabiqul khairat.

Realitanya, keringat dan airmata sering bertumpah karena egoisme pribadi. Pengennya suami begini lah begitulah, terlalu begini lah terlalu begitulah. Padahal itu tadi, kita mah berbuat baik aja semaksimal mungkin, karena saat kita meninggal nanti, yang ditimbang ya amalan kita, bukan amalan pasangan kita pada kita.

Akad nya sama Allah.

Cinta, rasa, kangen, benci, sebel, gemes, itu bumbu. Yang dengannya, amalan kita justru jadi lebih tothemax ke Allahnya.

Kita cinta sama Allah, maka semakin baik sikap kita sama pasangan. Maka semakin baik juga kita menjaga sikap dan memerhatikan setiap kebutuhannya.


"Jika benar cintamu dari Allah, cinta membuatmu lebih baik dari sebelum kamu merasakannya. Ia hadiah untuk hatimu yang kau terima penuh rasa suka. Ia anugerah untuk jiwamu yang membuat hatimu hidup terjaga. Maka cinta tidak akan pernah memburukkanmu, semakin lama kau rasakan semakin ia membaikkanmu"
- Tony Raharjo

Fyi Kutipan ini saya simpan pada kartu undangan pernikahan saya 30 November 2014 lalu. Lazimnya orang menyematkan QS Ar Ruum pada surat undangannya. Saya pribadi sebetulnya saat itu cukup kaget saat semua tulisan dalam undangan harus saya ketik manual seperfect mungkin. Saya juga tak tahu mengapa harus surat ar rum saja yang dikutip (kenapa tidak lebih banyak lqgi? Atau ayat lainnya saja?) Hehe 

Saya hanya berharap, nantinya kami bisa lebih memaknai ayat ayat Allah lebih dalam lagi, memaknai pernikahan tak hanya dari satu ayat tapi dari semua firmanNya.

Kutipan yang saya sematkan, benar benar jadi pengingat bagi diri saya pribadi hingga saat ini.

Jumat, 7 Desember 2018
Hajah Sofyamarwa R
Seorang istri dan ibu yang masih jatuh bangun memperbaiki diri

Wednesday, December 5, 2018

[PRINTABLE] Sayyidul Istighfar

Untuk dzikir sayyidul istighfar 1000x/hari ini saya perlu persiapan.
Ya, hari pertama sudah lasut karena belum punya tally counter alias tasbih digital (alasan macam apa itu). Karena udah lama ngga punya tasbih dan kalau dzikir hanya memanfaatkan ruas jari tangan ;)

Yang kedua, kadang suka lupa-lupa gitu. Jadi akhirnya bikin file buat di print. Dipikir-pikir saya suka ngedit markom jualan aja dipakein hiasan, masa yang beginian ga dihias. Hehehe. Ya sudah dihias dulu, meskipun powered by Canva ya hehe. Nah, buat yang belum hapal betul bisa tempel print an nya di rumah masing-masing yah.

Supaya semangat bisa download printable nya disini yahh :)
Versi PNG & Versi PDF (printable) Download di sini

Semoga Bermanfaat

Hey, Reclaim Your Heart! Part. 1



Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah setelah sekian lama vakuum dalam menulis blog, insyaallah mulai hari ini hajah akan meruntinkan kembali di setiap pagi.

insyaallah alamat blog ini yang semula www.hajahsofya.com, sementara akan kembali menjadi www.hajahsofya.blogspot.com ya. Faktornya karena memang domain .com tersebut belum bisa didaftarkan lagi dan membuat saya jadi tak semangat menulis. PADAHAL, kalau mau menulis ya menulis saja yah HEHEHEHE. Singkat cerita saya putuskan kembali ke alamat lama dulu.

Baik, pagi ini saya menyempatkan membaca sedikit sebuah Buku Berjudul Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu) : Wawasan-Mencerahkan tentang Cinta, Duka dan Bahagia karya Yasmin Mogahed. Buku ini merupakan buku terjemahan yang setahu saya sangat dicari versi bahasa inggrisnya. Saya mencukupkan diri membaca versi terjemahannya dulu saja, saat bukunya ada. hehe

Kenapa buku ini? Bisa nebak sendiri ya kondisi seseorang dari pilihan buku bacaannya ;)

Terdiri dari 7 BAB besar, dengan beberapa subbab. Saya membaca BAB 1 yang berjudul KETERIKATAN, pada subbab : Mengapa Orang Orang harus Saling Meninggalkan?. Jujur pada awalnya saya tak langsung bergejolak saat membacanya, bisa jadi karena faktor buku terjemahan tadi ya. Tapi bisa jadi juga karena pada saat awal saya merasa saya tidak membaca apa yang saya perlukan. PADAHAL setelah dilanjutkan bacanya, saya merasa agak sedikit mirip dengan yang disebutkan dalam bab tersebut.

Cinta dunia itu bukan sekedar materi —seperti yang banyak disangka— 
“Tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia berarti terikat pada hal-hal yang bersifat material. dan saya tidak mengikatkan diri pada materi. Saya terikat pada manusia. Saya terikat pada momen. Saya terikat pada emosi. Maka tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia tidak berlaku pada diri saya. Saya tidak menyadari bahwa manusia, momen, emosi merupakan bagian dari dunia.”“Saya mengharapkan kehidupan ini menjadi sempurna, kondisi yang tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Sebagai seorang yang idealis, saya berjuang dengan setiap sel tubuh saya untuk melakukannya. hidup saya haruslah sempurna. Saya memberikan darah, keringat, dan air mata dalam ikhtiar ini : mengubah dunia menjadi Jannah. Ini berarti mengharapkan orang orang di sekitar saya untuk menjadi sempurna. Mengharapkan hubungan saya menjadi sempurna. Mengharapkan terlalu banyak dari orang-orang di sekitar saya dan dari hidup saya.” 
Jleb!

Kutipan singkat yang rasanya begitu cocok menggambarkan diri saya. Tentu ada beberapa hal yang berbeda dari diri saya dan diri penulis. Kalau penulis menggambarkan diri sebagai orang yang mudah terikat, sangat butuh sahabat. sementara saya, termasuk orang yang sebetulnya tak mudah terikat pada orang. Bukan berarti tak butuh sahabat, ah siapa sih yang tak butuh sahabat? Bedanya, saya perlu waktu lebih untuk beanr benar dekat orang. Bersyukur selama ini Allah berikan saya sahabat-sahabat orang yang mau merangkulm sehingga saya tak begitu sulit menjangkau mereka :)

Saya paling suka kutipa ayat dari Alquran yang muncul disertai dengan hikmah yang ia berikan, salah satunya seperti di surat Al Baqarah 2:256. Seperti secercah embun ditengah kedahagaan jiwa bagi saya! 
“Barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhbul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hey, kemanakah kau berpegang selama ini?
Sekuat apa peganganmu pada Nya?

dan satu lagi ayat yang menggugah saya adalah surat Yunus 10:7 
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”

Baca hikmah ini dan mungkin kamu juga akan merasa tertampar : "Dengan berpikir bahwa saya bisa memperoleh segalanya disini, saya tidak mengharapkan pertemuan dengan Tuhan. Harapan saya bersifat duniawi. Apa artinya menempatkan harapan pada dunia? .., Ini berarti bila Anda memiliki teman, jangan mengharapkan teman-teman anda untuk memenuhi kekosongan Anda. Bila Anda menikah, jangan mengharapkan pasangan Anda untuk memenuhi setiap kebutuhan Anda. Bila Anda seorang aktivis, jangan menaruh harapan dalam hasil. Bila Anda sedang kesulitan, jangan bergantung pada diri sendiri. Jangan bergantung pada manusia. Bergantunglah pada Tuhan."

Jleb jleb jleb.

By the way, Jawaban dari pertanyaan di subbab ini adalah : Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Karena hidup ini tidak sempurna. Jika hidup ini sempurna, bagaimana lagi kita menyebut tahapan perjalanan hidup selanjutnya (akhirat)?

Dicukupkan dulu sampai disini, masih lanjut bacanya yah :)
Semoga bermanfaat :)


Rabu, 5 Desember 2018
Hajah Sofyamarwa R.

Tuesday, May 29, 2018

Bunda.. Jangan Mandi

Sudah jadi rahasia umum bagi para ibu ibu beranak bayi balita,  bahwa pergi mandi terkadang jadi barang yang mewah.

Terutama di usia usia tertentu,  buang air saja terkadang pintu harus terbuka lebar,  atau si balita harus ikut nongkrong di dalem toilet sambil nemenin bundanya.

Ada juga yang harus mendengar tangisan super keras dari sang balita dari luar pintu kamar mandi, yang membuat orang luar akan berpikir macam macam.

Itu semua pilihan, pilihan yang sulit.  Hihi

Pada fase ini,  haidar di usianya yang 32 bulan (2 tahun 8 bulan)  masih juga begitu.  Katanya "Bunda,  jangan mandii.. " diiringi tangisan bak bunda mau mudik ngga balik balik.

"iya,  bunda ngga akan mandi lagi, kan tadi udah. "

"Bunda jangan mandii.. "

Begitulah.

Separation anxiety sebuah kondisi dimana anak mengalami kecemasan karena merasa jauh dari orang tuanya.  Hal yang wajar dan memang masanya, yang perly diketahui orangtua.

Tak jarang orangtua yang menjadi begitu stress ketika anak balitanya tak bisa lepas dari dirinya.

Semoga kita bisa menikmati setiap masa balita kita ya

Sunday, March 25, 2018

Kreativitas dan Bagaimana Menjadi Ibu Kreatif

Tantangan Bunda Sayang di Level 9 ini sedikit berbeda dari biasanya. Kali ini kami lebih diarahkan untuk lebih aktif dan lebih banyak bepikir lagi. 

Diskusi mengenai keativitas ini diawali dengan beberapa test penglihatan, yang sejatinya adalah test pesepsi. Dalam melihat suatu gambar, jawaban dari setiap orang dapat sangat bervariasi. Mengapa? Setidaknya ada 4 hal : pengalaman, sudut pandang, persepsi dan cara kerja otak.

UBAH FOKUS, GESER SUDUT PANDANG KITA. Dalam konteks membersamai anak, kita pelu memiliki berbagai sudut pandang kreatif ketika melihat berbagai kelakuan anak kita. 

Salah satu hal yang dapat mematikan kreativitas adalah dengan memberi komentar
Dalam konteks membersamai anak, terkadang saking pedulinya, orangtua jadi terlampau banyak memberikan komentar. Penggunaan warna yang salah saat menggambar, misalnya. Ketika anak mewarnai awal dengan warna pink, sangat mungkin kita segera mengkoreksi dan memberitahu  tentang itu. Kemungkinan yang terjadi, anak akan sangat hati-hati sekali dalam mewarnai, bahkan bisa menjadi takut, malas, dan bosan. Padahal kita belum tahu dengan jelas, apakah ia memang tidak tahu, lupa, atau sekedar bosan dengan warna awan yang putih.

MAKA, JANGAN BERASUMSI. Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak kita, maka janganlah buru-buru membuat pernyataan, perbanyaklah pertanyaan supaya anak bisa menyampaikan idenya dengan jelas (CLEAR). Tugas kita? Mengklarifikasi saja (CLARIFY). Lebih banyak bertanya, mendengarkan, tanpa perlu menghakimi.

OUTSIDE THE BOX THINKING. Buka kotak pemikiran kita.
Dalam diskusi kami diminta membuat 3 garis tanpa terputus di atas 9 buah titik. kadang kita membatasi diri pada hal yang kita tahu saja, kita kira saja. Padahal kita perlu belaja untuk berfikir keluar dai kebiasaan, ketika memang tidak ada aturannya. Inti simulasi tersebut adalah jangan sampai kita membatasi anak pada pemikiran dan pengalaman kita saja. Biarkan anak-anak bepikir berbeda dari hal-hal yang pernah kita alami.
Kita tidak bisa memaksakan anak untuk berpikir, bertindak, dan merasa seperti kita.

Sekarang, mari kita tengok tentang PROSES KREATIF
1. Evolusi : Ide baru, dibangkitkan dari ide sebelumnya
2. Sintesis : Dua atau lebih ide yang ada, digabungkan jadi satu Ide baru lagi
3. Revolusi : Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada.

Intinya, sebetulnya kita bisa mendapatkan ide baru dari banyak hal, loh. Tapi dalam konteks sebagai Ibu, kadang tantangan menjadi kreatif itu masih ada. Apa ya yang menghambat kita selama ini? Dan solusinya apa?

Hambatan (hasil diskusi) : 
1. Mengkhawatirkan komentar/penilaian orang lain
2. Rutinitas
3. Malas
4. Mau nya instan, ngga mau repot
5. Kurang piknik
6. Ngga siap dikomentari jelek / aneh
7. Kebiasaan
8. Pengaruh trauma masa kecil
9. Belum bisa mengelola diri dengan baik
10. Emosi/kejernihan pikiran

Kalau ngga Kreatif, gimana?
1. Jalan di tempat, ngga maju maju
2. Hidup Flat

Perlu kreatif ga sih jadi Ibu?
Perluuuu, harusssss. Kenapa?
1. supaya ngga garing dan bosen
2. supaya bisa masuk ke frekuensi anak yang kreatif
3. bikin urusan lebih mudah
4. biar anak mau makan dan mandi
5. hidup lebih hidup, ada variasi
6. Supaya uang belanja cukup
7. mengisi aktivitas weekend

Gimana agar kreativitas Ibu tetap terjaga?
jaga kewarasan dan jangan lupa bahagia
Kesehatan jiwa dan raga.
Pikiran yang tenang, ikhlas dan Syukur

Resume Diskusi Kreativitas Kelas Bunda Sayang Level 9
Tanggal : 19 Maret 2018
Oleh : Hajah Sofyamarwa R

Friday, March 16, 2018

Surat Cinta Dari Bunda : Kebaikan Ayahmu

KEBAIKAN AYAHMU
Anakku yang shaleh, tahukah?
.
Dalam kehidupan berumah tangga nantinya, ada kalanya kita menghadapi rintangan yang membuat indahnya keluarga menjadi terasa begitu jauh di mata.
.
Mungkin tak banyak, namun terkadang nila setitik itu jadi merusak kebaikan besar di sekelilingnya. Yang perlu kita lakukan adalah terus mainkan peran dan kewajiban kita sendiri, dan tetap konsisten melakukan kebaikan
.
Bunda belajar untuk mengukir kebaikan kebaikan ayah dalam tulisan. Ya, karena bunda suka menulis dan menulis membuat bunda lebih nyaman. Sangat ingin rasanya juga menuliskan hal hal yang kurang berkenan, namun hingga beberapa lama ini tak pernah bunda lakukan.
.
Bunda tepiskan semua, bahkan tak bunda tulis dalam catatan pribadi bunda. Karena Bunda sadar, begitu banyak kekurangan bunda, dan menuliskan kekurangan orang lain tak mengubah apa apa.
.
Maka, banyak banyaklah bersyukur. Tuliskan saja semua kesyukuranmu setiap harinya nanti. Ingat sisi baik dari orang orang yang kau temui kelak. Beri apresiasi terbaik sepayah apapun ia. .
Caramu menerima dan memotivasinya, akan berarti banyak untuk perubahan dirinya.
.
Mengapa?
Karena tiada yang sempurna, tiada yang bisa persis sama dengan apa keinginan kita. Kitapun begitu, harapan yang oranglain sematkan pada kita juga tak selalu dapat kita penuhi kan?



** Oh ya, ini salah satu kebaikan ayahmu, meski kami sedang belum berteman baik 2 hari ini, ayah tetap menyisakan beberapa lembar menu gokana tepan untuk kita nikmati. Dan pagi ini kamu pun memakannya dengan sangat lahap 

Salam sayang, 
Bunda yang masih terus belajar

Jumat, 16 Maret 2018

Surat Cinta Dari Bunda : Jangan Marah

Dear Anak Kesayangan Bunda,
Baru kali ini bunda sadari, betapa sudah jarang sekali bunda memberimu nasihat.
.
Tanpa bunda sadari, mungkin belakangan ini bunda terlalu takut ucapan bunda menyakiti orang sekitar. Padahal kebenaran tetap harus dikatakan, dan mengatakan kebenaran itu meski pahit tetapi lebih baik daripada pengabaian
.
Sulit memberi nasihat, terlebih karena mungkin hati sedang bernoda. Ya, kau perlu tahu bahwa hati mungkin menjadi keruh karena dosa. Nasihat menjadi tak bermakna, manakala apa yang kita katakan begitu sulit kita lakukan.
.
Mulai hari ini, ingatkan bunda untuk memberimu nasihat ya?
.
.
*
Jangan marah,
Jangan marah,
Jangan marah.
Maka bagimu surga.

Hati yang diliputi kemarahan, tak mampu menangkap logika dengan baik. Itulah kenapa, tersebut oleh nabi bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang fisiknya kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya.

Otoritas diri yang lebih tinggi, membuat diri merasa pantas memarahi lawan bicara. Padahal tak ada manfaat dari kemarahan itu sendiri selain menorehkan luka.

Bunda tahu, terkadang pukulan kecilmu hanya perwujudan dari caramu melindungi dirimu, bagian dari naluri kemanusiaanmu.

Namun bunda yang kurang sabar, tak jarang tersulut api amarah, kemudian menuruti hawa nafsu dengan memarahimu.

Ah, malu sekali.
Padahal bunda sudah lebih besar dari mu, sudah sepatutnya bisa menjaga diri.

Kelak, jadilah orang yang mampu menjaga diri, menjaga agar tidak suka marah marah padahhal yang tak diperlukan.
Semoga selama ini bunda cukup ikhtiar memenuhi kebutuhan emosionalmu, hingga pada saatnya nanti, kau sudah cukup matang untuk bersikap lebih bijaksana.

Salam, bunda. :)

Monday, February 19, 2018

Dan Posting di Medsos Untuk Apa?

Di tengah kegiatan saya ngapload dokumentasi Bunda Sayang dari instagram ke album facebook, kemudian saya berhenti sejenak. Berpikir kembali, "kenapa saya harus melakukan ini?"

Sudah saya tulis di instagram lalu kenapa perlu repot di upload lagi ke album facebook?

😅😅

Sebetulnya sekarang saya bukan orang yang senang mengunggah beraneka aktivitas pribadi di sosial media, apalagi facebook. Tapi saya suka sedih sendiri karena banyak hal yang sering saya lupakan kalau saya ngga mendokumentasikannya.

Dari postingan saya juga, harapannya saya tetap bisa memberikan manfaat buat orang lain walau terkendala jarak dan waktu.

Sekali sekali ngga apa ya, sambil jualan, sambil sharing, sambil berbagi informasi kegiatan. :)

Lurusin niat aja ya.

Wednesday, January 24, 2018

Kuli Pofesional - Renungan dari Robohnya Selasar Gedung BEI Jakarta

Siapa sangka, gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta yang megah itu, bisa "memakan" 72 korban luka akibat robohnya selasar lantai 2 nya? (sumber)
TMC POLDA METRO JAYA

Baiklah, walaupun saya sudah lama tak update blog *kerik lumut*, boleh ya sedikit-sedikit mulai menulis lagi. Berusaha tetap uptodate dengan berita yang ada sambil tetap beraktivitas sebagai emak-emak hehe. Sambil nyetrika, saya dengar diskusi tentang kontraktor dari suatu projek pemerintah.

Sebelumnya, harap maklum ya kalau banyak penggunaan istilah yang salah, dan juga kalau susunan kalimatnya agak acakadut. Hanya mau share sedikit tentang sebuah hikmah yang saya coba tangkap dari diskusi para pakar tersebut.

*

Sudah jadi hal yang wajar ketika sebuah proyek besar dilakukan oleh orang yang besar, sebut saja Proyek Nasional Pemerintah, tentu tak sembarangan. Banyak faktor yang pasti terlibat. Kredibilitas perusahaan, arsiteknya, pemilihan materialnya, pekerjanya, waktu pengerjaannya, pemeliharaannya, dan lain-lain.

Salah satu yang di highlight saya, adalah perkataan narasumber saat itu:
"Perusahaan mungkin boleh bonafit, terpercaya. Tapi ketika sesuatu berhubungan dengan manusia sebagai pekerja, sangat mungkin ada human error. Diantara sebegitu banyak SDM (buruh bangunan)  yang diperlukan, kita kan ngga tau kinerja atau perfomancenya di waktu tertentu seperti apa, misalnya."

*
Tentu saja dengan faktor yang banyak, kita tak bisa menggeneralisir. Namun karena pada dasarna saya tertarik dengan faktor manusianya, maka terkait kualitas manusia, ini yang jadi saya pikirkan:

Oh Ternyata,
Kalau Mau Jadi Kuli Sekalipun, Jadilah Kuli Yang Profesional!


Profesi kuli mungkin masih dianggap sebelah mata, kerjanya yang tak selalu tentu ada, dan resiko kematian tinggi juga melekat. Gedung baru yang indahpun selalu disematkan pada sang perancang/arsiteknya. Tak ada yang menyematkannya pada Sang Kuli Bangunan, kan?


Tapi, Hal kecil sekalipun memang harus dilakukan sepenuh hati, oleh seseorang yang punya kualitas baik. Bukankah mengharukan, bila setiap lapis bangunan rumah atau sekolah kita bertabur zikir dari para pekerja bangunan? Yang mengerjakan semuanya dengan penuh tanggungjawab?

Maka dengung parenting seharusnya lebih menjalar ke setiap tetangga rumah-rumah kita. Tetangga yang mungkin sering makan sekadarnya. Yang tak jarang kita pandang sebelah mata karena dianggap tak prioritas. Yang tak jarang kita jauhi karena takut pengaruh buruknya, padahal karena lemahnya kita membentengi diri sendiri.

Orang berkualitas itu ketika ia bisa menularkan kualitas pada sekitarnya. 
Tetap bersinar dan menyalakan lilin di sekelilingnya. 
lilin kecil yang meskipun kecil, begitu berarti menerangi ruang gelap.


Rabu, 24 Januari 2018
Hajah Sofyamarwa


Tuesday, January 23, 2018

Drama Anak Tantrum Mulai Usia 2 Tahunan

Tangisanku terhenti sejenak. Bocah berusia 2 tahun lewat 4 bulan itupun sudah terlelap di pelukanku sehabis menangis hebat.

Sehabis pulang dari pasar tadi kami mampir sejenak ke buyutnya, maksud hati agar anakku mau bermain disana barang sejam dua jam. Sudah sekian lama tak main disana, karena sesuatu.

Untuk mengalihkan perhatiannya, sempat kubelikan jam tangan spinner 25ribuan di pasar tadi, berharap moodnya bagus dan saat ke uyutnya ia akan mau ditinggal.

Ternyata sama seperti saat berangkat tadi, ia melantai, menangis rewel dan tak mau. Minta digendong dan ingin pulang.

Kalau anakku bilang ngga mau, Aku juga tak bisa membiarkan anakku disana. Maka segera kuajak haidar untuk sekedar salam, namun juga tak mau.

Kupikir ia akan mereda, dalam perjalanan pulang yang hanya sekitar 10meter menuju rumah, anakku mulai memukul marah dan menangis lagi. Barangkali mau di uyutnya lagi? Ternyata tidak juga. Kubawa saja pulang, ia mengantuk.

Sampai depan teras, ia tak mau masuk rumah, berdiam dipagar sambil menangis keras. Alhamdulillah aku masih belum baper, masih santai, hanya heran saja.

Tak mau masuk, akupun masuk ke dalam rumah, dan tangisannya semakin kencang. Singkat cerita ia pun mau digendong dan masuk ke dalam rumah

Tak berhenti sampai disitu, tangisnya mulai lagi. Meronta ronta, gerakan tangannya memukul, gerakan kakinya menendang. Ku tahan dan bilang "kalau marah itu boleh, tapi ngga boleh memukul atau nendang, bunda ngga suka." Belum mempan, saya menjauh dan masuk ke dalam kamar, menutup pintu.

Dipersingkat lagi, tangisanku akhirnya pecah. Ingat beberapa hari sebelumnya ini pernah terjadi, dengan kejadian yang persis. Apakah trauma ya sampai kejadian yang hampir sama walau tak ada penyulutnya, menghasilkan kemarahan yang sama. Bisa jadi, karena ia masih kecil dan apa apa yang terjadi saat kecil begitu membekas.

Ketika tangisanku pecah sambil meringkuk di atas kasur, ia kemudian masuk ke pelukanku. Saling meminta maaf, dan tak lama ia tertidur.

Ya Allah..

Selasa, 23 Januari 2018
Seorang bunda yang masih belajar dan berusaha melakukan yang terbaik.

Kutulis untuk jadi pengingat, dan kelak evaluasi. Betapa bunda masih sangat perlu belajar perlu sabar. Saat Haidar 2 tahun 4 bulan. Maafkan bunda ya, semoga kita selalu disayang Allah

Saturday, January 13, 2018

Diam


"Bisa diam gak sih?"
Begitu katanya, seorang ibu muda yang sedang hilang kesabaran menghadapi tangisan anak balitanya.

Tak pernah terbayang sebelumnya, ia akan menjadi selayaknya “monster” yang terpancing balas meneriaki balitanya.

Segala kesempurnaan menjadi ibu yang pernah ia bayangkan sebelum menikah dulu, kandas semua. Ah, ternyata sebegitu susahnya menjadi ibu.

Ia lalu menutup pintu dan masuk ke dalam kamar. Maksud hati menenangkan diri dan menjauh dari kalimat-kalimat emosi lainnya, balitanya menangis semakin menjadi.

Tumpah pula tangisannya. Mencoba mendekap anak semata wayangnya itu, tak lama justru tendangan kuat bocah kecil itu mendarat di badannya.

Hanya tuhan yang tahu betapa menghayatinya ia berucap istighfar saat itu. Hanya tuhan pula yang tahu, seberapa besar kadar emosinya sudah memuncak.

Ahh, tak pernah terbayang ia akan bersikap seperti itu.

Ia rebahkan dirinya di atas kasur, sementara sang anak tetap merengek menangis.

Didekap kembali anaknya dengan penuh kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa anaknya hanya sesosok manusia kecil yang masih berkembang.

Ia memulainya dengan minta maaf, tak peduli siapa yang sebenarnya salah duluan. Ia hanya tahu bahwa memang sejatinya ia yang perlu meminta maaf pada buah hatinya, atas sikap dan kata-kata yang terlampau berlebihan.

Tangisan bocah kecil itu kemudian berubah nada. Dari kemarahan menjadi tangisan manja khas anak anak. Perubahan gerak bibir bawahnya makin melembutkan hati sang Ibu.

Ah astaghfirullah.
Ia hanya anak-anak yang harus dihujani kasih sayang.

Jumat, 5 Januari 2017
Hajah Sofyamarwa
A mother who learn

*Kisah ini ditulis saat materi kulwap kepenulisan tentang menulis itu mudah, dalam 7 menit :)