Monday, February 23, 2015

Resume Kulwap IIP Bdg 2 #1 : How To Be Professional Mother

Resume Kulwap Perdana IIP Bdg 2,
Rabu, 18 Februari 2015
Narasumber: Septi Peni Wulandani
Admin: Shona Vitrilia
Host: Zakia Muthmainnah Kadir
Co-Host: Lendy Kurnia Reni

HOW TO BE A PROFESSIONAL MOTHER

Anakmu bukan milikmu,ia adalah milik jamannya, boleh kau berikan rumah untuk raganya tapi tidak untuk jiwanya, karena jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi walaupun dalam impian…… (Kahlil Gibran-Anak)

Penggalan puisi di atas mengingatkan kepada kita bahwa tugas orangtua adalah menghantarkan anak-anak untuk siap menemui masa depannya. Meskipun anak-anak adalah homo ludens (makhluk yang suka bermain) tetapi mendidik mereka tidak bisa “Main-main”. Butuh keseriusan para orangtua untuk mempersiapkan anak tersebut mencapai gerbang mimpinya. Butuh sikap profesional dalam mendidik mereka.

Salah satu definisi kata “Profesional” adalah memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya (sumber : kbbi).Sehingga bukan suatu hal yang mustahil apabila ada seorang ibu yang bangga akan profesinya sebagai ibu, menjalankan aktivitas mendidik anak dan mengelola keluarganya dengan berlandaskan sebuah ilmu. Ada satu kalimat dahsyat “jangan biarkan sesuatu berjalan tanpa ilmu, apabila itu terjadi maka tunggulah titik kehancurannya”.

Bagaimana langkah menjadi Ibu Profesional.

1. Menguatkan value ( induk nilai hidup) yang akan kita gunakan selama menjalankan peran sebagai Ibu.

Value (Induk Nilai) dari Ibu Profesional adalah :

a. Never stopped running, THE MISSION ALIVE ( Ibu Professional tidak akan pernah berhenti menjalankan misi dan tugas hidupnya, dengan sukacita. Teruslah bergerak, misi tak pernah mati)

b. Don't Teach Me,I LOVE TO LEARN (Ibu Professional adalah ibu yang senang belajar,tak pernah berhenti hingga mati, proaktif mencari ilmu untuk kemaslahatan diri,suami dan anak-anaknya)

c. I Know, I can be BETTER (Ibu Professional bertekad untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari, karena orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin)

d. Always ON TIME (Ibu Profesional adalah ibu yang menghargai waktu, dan selalu berusaha untuk menepati waktu yang telah disepakati)

e.SHARING is CARING (Ibu Profesional sayang sesama, tak segan-segan untuk berbagi pengalaman, dan hanya membagikan pengalaman apa yang sudah dijalankannya)

2. Menetapkan COMMON INTEREST (ketertarikan bersama) yaitu ANAK, Melawan COMMON ENEMY (musuh bersama) yaitu PERASAAN tertindas di rumah sendiri:)

3.Mempelajari dan menjalankan Tahapan Ilmu di Ibu Profesional yaitu :

a. BUNDA SAYANG (Ilmul tentang mendidik anak)

b. BUNDA CEKATAN (ilmu tentang mengelola diri dan rumah tangga)

c. BUNDA PRODUKTIF (Ilmu tentang memahami passion diri sehingga muncul 4 E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn) aktivitas dalam hidupnya

d. BUNDA SHALEHA (ilmu tentang bagaimana kehadiran kita bisa bermanfaat untuk diri, keluarga dan lingkungan sekitarnya)

Salam Ibu Profesional,

Septi Peni Wulandani twitter : @septipw FB : Septi Peni Wulandani www.ibuprofesional.com

----------Tanya-Jawab---------

1⃣ Alhamdulillah..InsyaAllah bu, saya sedang berusaha menjalani semua proses menjadi ibu profesional. Yang saya tanyakan, seringkali di lapangan saya menjumpai justru Ayahnya yang tidak (belum) profesional, terutama dalam hal ketidakmauan dalam berilmu (agama, parenting, dll) yang berdampak pada sebuah persepsi lama "mendidik anak urusan ibunya".
Pertanyaannya:
Bagaimana pendekatan yang sebaiknya dilakukan terhadap tipikal suami seperti itu, baik kita sebagai:
a.Istrinya
b.Orang luar yang melihat fenomena itu.
1⃣ teh muthi, ini hal jamak yg kita lihat di sekitar kita, karena faktor budaya, bahwa laki-laki itu bekerja, perempuan mendidik anak. Maka langkah awal :
a. Yang harus berubah diri kita terlebih dahulu, tanpa harus menunggu pasangan berubah
b. Perbanyak amunisi ilmu, dam share sedikit demi sedikit ke pasangan sesuai gaya belajarnya
c. Buktikan pada pola pengasuhan anak kita
d. Curhatlah hanya kepada Allah yang maha membolak balikkan hati✅

2⃣ Assalamua'alaikum.  Mohon penjelasan lebih detail utk point no 2. Hatur nuhun.
2⃣ teh kenny, sebagai pasangan maupun komunitas sebaiknya kita memiliki common interest yang sama, yg apabila dibicarakam itu membuat mata kita berbinar-binar dan energy makin naik.

Begitu juga sebaliknya kita perlu common enemy, sesuatu hal yg akan diselesaikan bersama, dilawan, agar adrenalin kita naik, dan kita bisa satu kata unt memicu semangat.

Ini perlu dibicarakan, sebagai ibu biasanya anak adalah common interest kita. Sdgkan PERASAAN tertindas, tidal berguna, jenuh sbg ibu, bisa jadi common enemy yg harus dilawan dg ilmu dan jejaring✅

3⃣ Maksud point 2 apa?  Merasa tertindas di rmh?
3⃣ teh yayu, disana saya gunakan huruf besar semua PERASAAN, artinya kita ini sbg perempuan apalagi IRT, kadang "merasa" ada yg menindas, sehingga perlu sebuah pengakuan. Padahal sebenarnya tidak ada, kita hanya MERASA saja. Tetapi perilaku kita seperti org tertindas, minder, sakiiiit banget, perlu diakui dll.  Maka hilangkan perasaan itu✅

4⃣ Saya ftm dgn 3 anak, paling kecil usia 4 bln, anak prtama terlambat bicara, sehingga 3 anak dgn beda usia jauh tapi seperti punya 3 anak kmbar, sehingga sering keteteran dlm mnjalankan pekerjaan rmh tangga,,
Selain itu saya dan suami berencana utk mnjalankan program HS, 
Adakah tips dari ibu untuk menentukan skala perioritas dari semua itu agar sy bisa mnjadi ibu profesional dlm rmh
4⃣ bunda, yg perlu disiapkan adalah management waktu yg tepat. Tentukan 3 hal aktivitas utama setiap hari dan penuhi dg disiplin. Kemudian perkaya ilmu dan jejaring. Insya Allah bisa teratasi✅

5⃣ Saya adalah ibu rmh tangga yg berbagi waktu di luar separuh waktu dr jam 08-14.00 saya mengajar tk.namun yg saya syukuri adalah anak anak saya tdk pernah tertinggal drmh kami berangkat selalu bertiga....namun ada yg membuat saya kurang nyaman perasaan saya pada anak anak sering ht kecil saya bertanya ridho kah mereka sll menemani aktivitas saya...profesionalkah saya sbgai ibu....
5⃣ teh rani, tanyakan pada diri kita :
a. Apakah anak tetap mendapat prioritas utama selama kita ajak?
b. Apakah hak mereka mendapat kasih sayang ibunya cukup?
c. Apakah kualitas anak semakin neningkat ketika kita ajak bekerja?

Kalau ya, lanjutkan, kl tidak ada yg perlu dibenahi.
Di usia mereka, anak-anak berhak mendapatkan diri kita, hati kita, senyum kita dg kualitas no 1✅

6⃣ pada point menerapkan on time pada anak sangat susah, terutama ketika pagi hari menyiapkan anak sekolah..krn bangun tidur anak lgsung main sementara saya menyiapkan sarapan.sedangkan saya sendiri harus pergi juga berangkat kerja. Bagaimana agar semua bisa dikerjakan pagi hari dengan mudah?
6⃣ teh diah, bicarakan dg seluruh anggota keluarga, untuk mengeejakan pekerjaan rumah sebagai project keluarga bersama.

Bukan hanya pekerjaan kita saja. Ingat kita bukan pembantu rumah tangga, melainkan manager keluarga, maka aturlah dg cermat. Dan atur keluarga kita dg benar✅

7⃣ Menurut Bu Septi, dari mulai usia berapakah seorang anak bisa mulai disekolahkan? Karena sekarang sudah banyak sekali PG yang menerima anak mulai dari usia 2 tahun? Bagaimana tanggapan ibu?

Saya baru punya seorang anak laki-laki umur 21 bulan. Saya masih bimbang apakah anak cukup bermain dengan orang tua dan lingkungannya atau sudah boleh sekolah.
Terima kasih sebelumnya Bu Septi..
7⃣teh yulia, yang kita perlukan sejak dini itu adalah pendidikan anak, bukan sekolah. Karena sekolah itu menjadi salah satu bagian dan pilihan anak di dunia pendidikan
Usia 0-7 th anak akan berkembang bersama ortunya
7- 14 th anak akan berkembang bersama ortu dan lingkungannya
14 th ke atas, anak berkembang bersama komunitas dan mentornya

Jadi jangan buru2 disekolahkan ya, penuhi bermain di alam secara natural bersama ayah ibunya, sambil menguatkan bahasa ibu✅

8⃣ Ttg value point always on time. Bgaimana caranya agar always on time in mnjadi budaya dalam keluarga? Karena seringkali kita brusaha on time tpi suami dan anak kdang menghambat. Adakah tips praktis  selain mengkomunikasikan dgn pasangan?
Maksudnya tips praktis setelah mengkomunikasikan dg pasangan bu.
8⃣ teh shofi, buatlah permainan,  yg ada time keepernya scr bergantian. Insya Allah ini akan membuat kita dan kel menjadi terbiasa. Prosesnya terpaksa, biasa, bisa, budaya✅

9⃣ Sy ibu rumah tangga dg 2 anak balita dan lg hamil 6bln... sejak menikah suami meminta sy u full time d rumah ngurus anak dan rumah tangga.. semua2 yg berhubungan dg keuangan sy bergantung sm suami, awalnya sy enjoy, tp stlh sy jalani 5th sy merasakn jenuh dan merasa ada bbrp kebutuhan pribadi sy yg ga bs suami penuhi bahkan sy sempat jealous liat suami bs beli apa2 aja yg beliau mau dan memuaskan hobby nya.. keinginan u punya penghasilan sendiri lg jd bahan pemikiran bbrp bulan trakhir ini.

Pertanyaan : u menjadi Ibu Produktif itu hrs  spt apa? Pd kenyataannya ngurus anak n rumah aja kadang udh terasa memakan tenaga?
9⃣ teh fitri, hehehe sabaar teh, fasenya memang seperti itu, maka bersungguh-sungguhlah di dua tahap awal, bunda sayang dan cekatan, maka kita akan dg cepat menemukan passion yg membuat kita produktif. Produktif itu bukan diukur dg uang, tp doukur dr portofolio karya kita. Uang itu hanya bonus dr kesungguhan✅

🔟 Pada saat anak di usia golden ages, bisakah kita para ibu memiliki waktu utk aktualisasi diri dan "Me Time"?
Apalagi kalau anaknya jaraknya berdekatan.
Trimakassii, bu Septi.
🔟 teh lendy, dg management waktu yg baik akan sangat bisa kita mengaturnya. Carilah aktivitas me time yg pendek, namun bermakna. Apakah itu, ayo kita brainstorming✅

1⃣1⃣ Sy ibu dr 1 anak laki2 berumur 3th5bln
Sdh 7 bulan inai sy mjalani pengobatan dan fisioterapi, yg tkadang ckp mnyita waktu sy. Belum lg kegiatan latihan terapi mandiri (diluar jadwal rmh sakir) yg hrs sy ikuti. Bagaimana tips agar sy ttp tdk mngurangi hak anak sy atas diri sy, sementara anak sy ckp aktif dan memerlukan energi + fitalitas tinggi dlm mnyertainya bermain
1⃣1⃣ teh mia, syafakillah ya teh. Teteh melatih orang untuk bisa mendelegasikan pekerjaan2 rumah dan anak saat ditinggal. Setelah itu penuhi yg teteh sanggup menjalankannya✅

1⃣2⃣ Aslkm. Ibu saya saat ini ibu bekerja dgn jam kerja dari jam 8 sd jam 16.30 meski kerja sbg dosen tp pekerjaan menuntut untuk full time. Terkadang menjadi ibu prof dgn cerita ibu2 full time sama anak kok rasanya tdk mungkin ya. Pilihan untuk berhenti belum bisa. Anak saya skrg 21bln udah masuk daycare berangkat bareng. Pulang dijemput jam 17.00 bareng.

Wednesday, February 4, 2015

Summoners War Uninstalled


Dek, adek harus tahu kalau adek punya ayah yang lucu dan baiiik banget.

Sebulan setelah nikah, biasanya pasangan pasangan lain bikin sesuatu yang romantis romantis gitu ya, dek. Eh, bunda entah kenapa malah "ngajak ribut" ayah. Bunda protes karena ayah main game terus, pas bunda mau ngomong jadi ngerasa di cuekin.

Habisnya gimana lagi, walaupun baru sebulan (yang harusnya sabar), bunda khawatir kalau bunda ngga segera bilang, nanti semakin sulit ngungkapinnya. Ada rasa khawatir, bunda ngebayangin kalau ayah selamanya anteng main summoners war teruus deeek :O (Ga mungkin atuh buuunnn! Hehe) ._.

Bunda tahu, bagi ayah, game itu sebuah refreshing, dan bunda tahu, ayah juga banyak ambil pelajaran dari situ. Mudah mudahan bunda juga ngga rese ya, bunda baru action kalo sudah merasa berlebihan kok.
Baru bunda sadar, ternyata mungkin karena bunda mulai ngandung adek, jadi lebih sensitif mungkin ya, pengen lebih diperhatiin.. :")

Terus sampe pagi bunda dicuekin dek :"( sedih banget rasanya :"(
Beberapa malam lalu ayah cerita udah nemu komunitas gamenya, dan skill mainnya bisa jadi semakin jago. (Oh waw! Ayah udah hampir level 40 kalo ga salah) Dan adek tau, keesokan paginya, ayah bilang kalau ayah udah nge-uninstall summoners war! (Aaaaaaa)

Antara terharu, tapi kasian jugaa. Bunda ga bermaksud sampai gituuu, sampai ayah harus stop semuanya. Tapi ayah bilang, mesti total katanya.

* * * *
Setelah sebulan berlalu, ayah ijin lagi buat install game nya lagi. Biar ga bosen selama di ambon katanya. Hihi.
Iya gapapa.. :))
4 Februari 2015
Bunda yang lagi Kangen Ayah di Ambon :")
*Sembari galau antara di post ato ngga hehe*

Monday, February 2, 2015

Bertanya Hujan dan Munculnya Pelangi Terindah


Adek Alfath dan si kakang :)
Entah kenapa adek selalu ribut takut banjir. Ya. Maka setiap hujan ia selalu Ribut takut hujan, takut banjir, takut badai. Setiap melihat awan gelap, selalu bertanya, "sekarang hujan?"

Ibu dan yang lain juga tak habis pikir kenapa adek seperti itu, maka terkadang saking kesalnya, jadi muncul omelan. Percayalah, anak kecil memang lucu, namun ada kalanya memang sangat menyebalkan karena begitu cerewet :)

Aku sedikit berbeda. Aku yakin dibalik apapun yang terjadi, selalu ada alasan. Apalagi anak kecil. Kalau sudah berlebihan semacam itu, besar kemungkinan dia pernah trauma suatu hal. Tak selalu begitu sih, aku juga tak tahu pasti.

Ibu heran, dulu ngga pernah ada kejadian apa apa. Tapi waktu kutanya adek, katanya dulu pernah banjir di emak (nenek kami). Aku percaya saja dulu, karena sangat tak mungkin anak kecil tiba2 begitu ketakutan seperti itu.

Aku juga bingung harus jawab apa lagi. Kubilang berbagai hal dari nada sabar sampai yang pake nada rada kesel. Diajak cerita panjang yang komunikatif, bilang "kemaren adek kan sudah berani", dll.
Sammpai suatu titik kehabisan stok jawaban, akhirnya selalu kubilang,  
"kalau hujan tinggal ngapain? Berdoa ya, allahumma shayyiban nafiian.  Kalau udah berdoa ngga perlu takut lagi. Betul kan?"
Adek pun mengangguk senyum :)

Dibalik ketakutannya akan hujan, petir dan banjir, aku mengajaknya untuk berharap bahwa suatu saat kita bisa melihat pelangi setelah hujan. Setelah hal menakutkan, ada sesuatu yang indah untuk dinantikan, jadi tak perlu takut. (Tentang proses terjadinya pelangi dari bias cahaya matahari pada titik hujan yang kujelaskan padanya, sepertinya belum bisa dia pahami, ya? Hehe)

Pokonya aku selalu mencoba menjawab sebaik yang kutahu. Banyak loh yang tak kuketahui tentang alam ini. Dari pertanyaan polosnya yang lucu-polos-kadang-nyebelin itu, kita jadi ngukur diri kalo kita juga banyak ngga tahu nya sama banyak hal.

Siang ini berbeda, saat langit sedang biru cerah cerahnya. Aku mencoba kembali 2 test pack kehamilan lagi.
Alhamdulillah positif. :")

Akang mengajak dan mengingatkanku ku sujud syukur.
Dan seperti teletubbies, kami Berpelukan (loh)

Sambil merenung tiba tiba di luar muncul pelangi
2 hari ini tak hujan, tadi hujan.
Masyaallah..
Ini pelangi terindah yang pernah kulihat. Suasana senja tersyahdu yang pernah kurasa.

6 januari 2015
Kamar De marrakesh 


... dan Terimakasih akang hari tersayang, untuk segala kebaikan, kelembutan, perhatian dan pengertian yang selalu tercurah limpah hingga detik ini. Tak cukup pandai rasanya diri ini mengungkapkan rasa syukur yang teramat banyak atas anugerah Allah terindah yang berwujud akang. :") Maaf karena sering menyangsikan hal-hal baik yang kau lakukan. Jazaakallahu khairan.. :")

Ditambahkan dengan penuh rasa syukur,
2 februari 2015

Test Pack Pertama. Hamil?

Entah kenapa tekadku bulat untuk segera ke apotek terdekat. Ya, aku mau beli test pack kehamilan. Spontan banget, belum sempet baca-baca tentang test pack, pas di dpn griya farma baru browsing.

Merk? AKURAT.
Harga 10.500.
Yg murah ada onemed (3500 wkwkw), tapi di situ gada, yasudahlah.

Coba cek urine. Awalnya band kontrolnya udh muncul. Cuma segaris. Yah, emg belum rejeki. Allah kan yang paling tau kapan amanah nya bisa hambanya sanggup sanggupin untuk dijalani.

Tapi ga lama, eh muncul garis samar di bawahnya!

Masyaallah kagett! Ini teh beneran hamil? Ad yg bilang, kadang hasil TP ga sesuai. Tapi kalau udah 2 garis gitu, artinya positif, berarti HcG nya kedeteksi. Wallahu 'alam.

Terus iseng iseng cek gejala kehamilan lewat informasi di internet. Kan gejalanya banyak tuh. Masalahnya aku ngga ngerasain apa apa (nahloh).
Telat datang bulan aja baru sehari (itu juga kan kadang siklusnya ga pasti). Katanya ada rasa mual pusing gitu, eh abis baca artikelnya tiba tiba sok-sok an pusing (wkwkwk) Walopun aga maksa dan suhesti sih kayanya anggep aja positif dulu hehehe

Ikhtiar dan berdoa yg terbaik aja,
Besok coba lagi ya :)

5 jan 2015
Lantai 2 Rumah De Marrakesh

Tak Kuawali dengan Cinta

Dengannya tak kuawali dengan cinta. Kurasa dia pun begitu. Bukan aku tak peduli cinta, tapi kuharap, keyakinan untuk membersamainya dapat mengantar kami lebih dekat menuju-Nya.

Aku tak bilang yang kulakukan mudah. Maka bukan saranku bila kau mau melakukan hal yang sama. Hanya saja setiap orang punya jalan pembelajarannya masing masing, dan aku mau bantingtulang berupaya untuk bisa memahami dan bersatu dengannya.

Aku tak sedang jatuh cinta. Aku sedang membangun cinta. Ya, aku terus belajar membangun cinta.

Belajar mencintai lagi :)
3 Januari 2014
Mie baso suryani, cicadas

Tuesday, January 27, 2015

Cara Mencintai

Setiap orang punya cara masing masing untuk mencintai. Ya, bahkan terkadang mereka mencintai kita dengan cara yang tak kita pahami atau yang baru saja kita pahami. Maka terkadang kita baru sadar bahwa ternyata mereka itu mencintai kita, hanya saja Mereka mencintai dengan caranya masing masing.

Berlapang-lapanglah, lihat semua kerja cinta yang telah Allah anugerahkan pada hidupmu lewat tangan tangan mereka.
Buka mata buka hati, jernihkan diri, mudah mudahan kau akan lebih jeli melihat semua kebaikan-kebaikan cinta mereka.

Kalau kau belum bisa juga, kerjakan bagian cintamu sekarang juga. Memberi, memberi, memberi. Karena cinta tak mengharap kembali. Ingat, Allah sebaik baik pemberi balasan..

3 Januari 2015
Kamar de Marrakesh
Hajah Sofyamarwa R.

Saturday, January 24, 2015

Pentingnya Keberanian dan Ketegasan Berlalu Lintas

Wess gaya judulna (hehe)

Kali ini aku tak langsung menepi dan memberhentikan motorku untuk menuliskan apa yang barusan kualami. Ya, ini di jalanan, jalur cepat, dan baru saja aku "dimarahi" pengendara motor lain lantaran berjalan terlalu lambat di jalur cepat.
"Neng kalau pelan, jangan di kanan!"

Aku hanya terhentak. Tak jadi kesal, karena pernyataannya memang benar, akupun mengiyakan dan segera menambah kecepatan motor (loh bukannya ambil kiri -_-)

Kadang jalanan itu keras. Yang plin plan, di klakson; yang ragu berjalan, membahayakan; yang ngebut bikin deg degan; yang pelan bikin geregetan.

Aku jadi merefleksi caraku mengendarai motor. Kuakui, kalau jalanan kosong memang sering ngebut (hehe), tapi insyaallah ngga semrawutan ya. Aku juga sering tanpa sadar naik motor di tengah atau di kanan dan bikin kagok orang lain (kalo jalan kaki juga suka ga sadar masih suka ke tengah hehe).

* * *

Jalanan selalu menyajikan pelajaran bagi yang berusaha mencarinya (atau yang kurang kerjaan mikirin daripada bengong hehe). Di jalanan, semua orang berlari kencang pada suatu lintasan jarak dan waktu, bergerak menuju sebuah titik tujuan. Dalam perjalanan terkadang kita begitu tak peduli dengan apa yang terjadi pada orang lain, "ngga ada masalah sama gue, bukan urusan gue.", padahal setiap orang dalam perjalanan itu seringnya butuh diingatkan.

Terimakasih bapak yang sudah berani menegur dan mengingatkan saya!
Saya yang bandel ini kadang tak mempan diingatkan secara halus.
Tapi saya ngga sakit hati kok pak, ciyus. Saya malah seneng. Semoga jadi amal soleh bapak ya!
:))

Suatu sore di jalan memutar soekarno hatta,
Sekitar 12 januari 2015

Thursday, January 15, 2015

Habitat Terbaik : Belajar dan Sadar

Habitat terbaik bukanlah tempat yang mewah dengan berbagai fasilitas, habitat terbaik adalah tempat kita bisa belajar, sadar memaknai apa apa yang disekeliling kita dan bertumbuh baik karenanya :)
- hajah sofyamarwa

* * * *

Kita berbicara tempat kita bertumbuh. Bukan pada mahalnya atau lengkapnya fasilitas fisik, tapi pada proses dan interaksi yang membuat kita mudah dalam belajar. Fitrahnya, manusia selalu bertumbuh dan pasti terus belajar.

Dan, sadar itu mengawali segalanya. Irisan pisau tajam di kulit kadang baru terasa sakitnya setelah kita sadar ada luka, kebaikan seseorang kadang baru kita rasakan ketika sadar bahwa tak ada yang berbuat baik seperti dia memperlakukanmu.

Bersyukurlah bila kau menyadari suatu hal. Mungkin agak terlambat dari yang lain, tapi siapa peduli? Setiap orang punya episodenya masing-masing, kan?

* * * *

29 Desember 2014
Yang terus berupaya mensyukuri yang dihadapi, yang telah lalu, dan kejutan Allah lainnya yang akan datang :)

Thursday, January 8, 2015

Anak yang Belajar Diterima dengan Baik

Aku langsung menepi dan menghentikan laju motorku. Mengetik di memo, membuat lintasan pikiranku tak lenyap begitu saja. Berpikiran kekinian untuk harus mengapdet di status (-,-'). 😅

4 bocah polos di tengah rintik gerimis ini yang membuat hati ini bergejolak. Bukan apa apa, mereka hanya membagikan selebaran pamflet kreditan motor yang promo di bulan desember (eh sudah lewat?). Tak berniat beli motor (belum), terkadang malas juga ambil selebaran yang tak kita butuhkan. Di gang perbatasan santosa asih - margahayu ini sebetulnya aku tinggal lewat, tapa perlu menghiraukan mereka. Ah tapi pikiranku mengutusku untuk berhenti, memberi senyum dan menerima selebaran yang mereka berika. Kau tahu? Ah begitu senangnya melihat tiba tiba senyumannya mengembang!
Ya allah, aku senang sekali!

Aku hanya berharap, satu hal kecil-tak-berarti yang kulakukan ini memberi mereka pengalaman rasa 'diterima dengan baik', meningkatkan rasa percaya diri nya, dan lebih bersemangat.

Bahagia itu sederhana.
Maaf lebay, insyaallah berusaha jujur.

3 Januari 2014,
Jok motor di tepi jalan.

* * * *

Thursday, January 1, 2015

Berlatih "Editing" untuk Menyederhanakan Kehidupan

"Tak banyak orang menyadari bahwa menambah ilmu adalah suatu hal, dan menggunakan ilmu dalam kegiatan sehari hari adalah hal yang berbeda. Dibutuhkan lebih dari sekedar menyimpannya. Untuk dapat digunakan secara efektif diperlukan banyak penyesuaian, yang berarti penyederhanaan."

(Rhenald Kasali, Self-driving, The Power of Simplicity hal.177"

Sampai pada bab ke 9 dari buku ini, "lampu" di kepala saya kedap kedip, ahaaa! Saya jadi inget dengan postingan saya beberapa waktu lalu terkait kesederhanaan : Sederhana VS Tidak Sederhana. Membaca bab itu menyadarkan saya bahwa ternyata pada akhirnya, kita harus berusaha menyederhanakan banyak hal.

Saya adalah orang yang merasa simple, padahal ribet haha. Overthinking mungkin penyebabnya. Jadi sesuatu yang mudah mungkin (tanpa sadar) akan saya bikin jadi ribet. Sejauh ini saya memaklumkan diri, toh masih belajar, masih cari "bentuk", tapi dengan berubahnya fase hidup menjadi seorang istri dan ibu, pencarian bentuk itu harus lebih cepat dan lebih sederhana.

"Menyederhanakan sebuah pengetahuan membutuhkan kerja keras. Segala sesuatu harus disederhanakan, namun bukan berarti itu mudah."
--Einstein

* * *

TIPS BERLATIH "EDITING"
Mengedit dalam kehidupan akan membuat hidup kita dan orang lain jadi lebih simpel. Ya, kita jadi lebih fokus pada apa tujuan kita dan pada apa yang harus kita kerjakan sekarang.

Ini dia tips dari pak Rhenald :
1. Gunakan kata-kata yang mudah dipahami lawan bicara
2. Buat kalimat lebih ringkas, satu dua ide dalam 1 kalimat. Buat contoh jelas, jangan bertele-tele
3. Melayani oranglain agar mereka lebih mengerti, hidup lebih mudah
4. Buang bagian tak perlu, rapikan, pangkas cabang
5. Menambahkan contoh2, menjadikan tulisan/pikiran lebih membumi
6. Sederhanakan penjelasan, susun kembali agar lebih bermakna
7. Memasukkan dalam kategori, subjudul, atau file sehingga mudah ditemukan.

* * *

Masih ada 8 hal lagi selain berlatih editing, insyaallah di postingan selanjutnya.

Nah sampai sini, saya masih ribet dan belum sederhana ya? Hehe

#OneDayOnePost
#ODOPfor99days
#day7

Saturday, December 27, 2014

Telur Ceplok "Salting"

Akhirnya kami berdua dipersatukan :)
Ya, tak terasa kini sudah hampir menginjak 1 bulan.
Banyak hal yang belum kuceritakan ya? Sabar ya, aku juga tak sabar untuk menceritakannya :D

Pagi ini alhamdulillah kami mendapat kesempatan makan di hotel ibis surabaya, sembari makan, si sayang nge share artikel tentang suami yang ridha dengan telur dan tempe yang gosong buatan istri.

Ngomong ngomong soal telur, Saya jadi ingat, 4 hari setelah kami menikah, saya mulai menyiapkan sarapan untuk akang. Jrenggg! Masih baru cuy, bingung mau mulai dari mana. Hihi. Biasanya makan misal nyiapin buat sendiri, ngga ada perasaan gimana gimana, enak ga enak ya makan, karena yang makan kita sendiri. Lah ini, apa apa yang kita lakuin, kita bikin, untuk orang lain, suami yang masih baru, jadi masih deg deg an.

Siapa sih di dunia ini yang ngga bisa masak telor ceplok? Hehe
Entah kenapa Telor ceplok pertama buatan saya untuk akang itu failed banget ahehe.
Malu karena diliatin, trus pake teflon yang ga biasa, jadi lengket.
Terus bentuknya absurd banget, hehehe. Plis telor ceplok doang, nutup mata juga harusnya oke. Ahehehe

Tapi si akangnya sabar aja ngabisin sarapannya. Alhamdulillah. Maafin ya kang, makasih banyak :))

Emang masa awal awal nikah, masa banyak percobaan, mesti siap dengan apa pun yang disajikan hehe (sing sabar). Kata yang udah nikah, awal-awal sang suami mesti siap siap dengan rasa masakan yang hambar, keasinan, atau bahkan siap siap diare. Sebulan ini aman kok, belum diare kan ya kang? Hehe
Banyak sabar ya kang hehe :p

Lobby Ibis Rajawali Surabaya,
27 Desember 2014

Tuesday, December 16, 2014

Memelihara Ketertarikan untuk Disiplin Diri

"Emosi adalah elemen penting untuk belajar."

Meski manusia dewasa harus dapat mengendalikan emosi, manusia tetap memerlukan emosi untuk mendorong semangat kerjanya. Emosi adalah elemen penting yang membuat anda ingin mendalami sesuatu. Tengoklah para musisi-musisi hebat, atlet-atlet kelas dunia atau para pemimpin terkenal. Mereka melakukan sesuatu "di drive" oleh emosi emosi positif. Emosi itu berarti semangat, ambisi, keinginan kuat, dan napas membara untuk melakukan sesuatu yang besar, agung, dan menciptakan kekaguman.

Itulah Sebabnya manusia perlu menekuni hobinya. Apapun itu tidaklah begitu penting. Yang penting anda memelihara ketertarikan. Manusia secara otomatis akan berdisiplin diri karena ketertarikan.

Manusia berdisiplin yang menjadi driver adalah manusia dengan ketertarikan pada bidang tertentu. Manusia-manusia seperti ini bergerak ke depan (moving forward) dan optimistis. Sedangkan mereka yang tak memiliki ketertarikan tidak memiliki disiplin diri akan bergerak mundur (moving backward) dan cepat menyerah."

Rhenald Kasali, "Buku Self Driving"  h.129. Dalam bab 6 bertajuk Self Discipline

* * * * *
Kadang saya suka malu menunjukkan bahkan menutupi apa yang sebenarnya menjadi ketertarikan. Hehe. Padahal penilaian orang toh tak sebegitu penting dibanding apa apa yang terjadi pada diri kita. Ketika kita memang suka, ya suka saja, yang terpenting adalah pelihara keunikan kita.

Proses membaca yang paling asik adalah ketika selesai membaca, kita bisa menangkap langsung realitasnya pada kehidupan sehari-hari, mengaitkan dengan diri sendiri atau kalau tak bisa, kita dimampukan untuk mengingat pengalaman kita yang berkaitan dengan bacaan kita.

Nah, Terkait memelihara ketertarikan ini, saya melihat contoh nyatanya pada diri si suami (ciyeh). Ketertarikan pada suatu hal, memang membuatnya menjadi berdisiplin pada hal tersebut, misal setiap jam 11 harus melakukan apa, setiap pekannya harus melakukan apa, dan setiap 2 pekan harus melakukan hal tertentu. Entah dia sadar ato ngga, saya mengamati bahwa dia memang menjadi disiplin sama hal itu.

Saya mau ambil contoh dari dosen juga, contohnya pak taufik (pembimbing saya) yang punya ketertarikan di bidang fotografi sampai sekarang, trus pak wahyu s (dosen fisika, dikasi tau suami) yang jago sketsa dengan pesan moral yang keren.

Hehe.
Lalu apa ketertarikan mu, jah?
Mengamati, membaca, membahas bacaan, membahas pengalaman membaca, menuliskan, proses belajar. mendesign, melihat membayangkan hal kreatif, tema pendidikan, tema keluarga, perkembangan anak, psikologi dan manusia, jurnalistik dan literasi, mendengar, pemikiran, dll
Nah, belum ada yang terdisiplinkan atau sengaja di program, jadi harus lebih diperhatikan dan diseriuskan nih.

Bismillah ya :)

Pendidikan Iman sebelum Qur'an

Saya (hajah) berlindung pada Allah dari segala hilaf dalam menyebarkan sebuah ilmu. Kajian ini pasti hanya secuil dari inti yg dimaksudkan. Barusan diingatkan juga, oleh salah seorang guru, untuk lebih mendalami lagi maksud iman dan quran.

Kuttab al fatih adalah sebuah lembaga pendidikan untuk anak usia 5-12th yang menitikberatkan pada iman dan al-qur'an. (Baca baca aja di http://kuttabalfatih.com/) barusan aja saya juga tau nya. Ckckck. Sedikit reminder buat diri sendiri, cek semua yang mau kita share dengan benar, jangan sembarang ngeshare sekalipun itu terlihat baik.
Semoga bermanfaat ya, selamat membaca :)

* * * * *
Kajian bersama
Ustadz Budi Ashari, Lc.
Bazaar Madinah, 13 Desember 2014

Pola kita dalam mendidik anak-anak harus kita ubah.

Peran sekolah hanya sebagian saja dalam pendidikan anak, sisanya dilakukan oleh orangtua. Oleh karena itu, orangtua harus terus belajar untuk meningkatkan perannya dalam mendidik anak.

Iman sebelum Quran adalah tema utama di Kuttab. Bermula dari hadist Jundub bin Abdillah, konsep inilah yang menjadi panduan dalam mendidik generasi. Cara keluar dari kesesatan yang nyata ialah dengan memperhatikan urutan perbaikannya. Hal yang kita lakukan di Kuttab Al Fatih saat ini sebenarnya belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan peradaban Islam.

Hasil dari pendidikan yang langsung melompat ke Al-Quran (melewati iman) adalah munculnya penghafal Quran yang buruk keimanannya, akhlaknya, dan keilmuannya. Tidak semua sahabat Nabi hafal Quran, namun keimanan mereka kokoh dan teraplikasikan dalam kehidupan.

Seringnya, kita lebih mengapresiasi anak yang hafalannya banyak dibandingkan anak yang adab akhlaknya baik. Perlu pembenahan bagi anak yang hafalannya banyak namun moralnya buruk. Cobalah mulai memperhatikan keimanan anak anak, jangan hanya hafalan dan nilai akademiknya saja yang diperhatikan. Keimanan itu misalnya terlihat dari mulai tumbuhnya kecintaan terhadap Nabi dan orang beriman.

Orang tawakal itu ialah yang mampu menyeimbangkan antara Raja' (harapan) dan khauf (ketakutan). Raja' secara berlebihan berpotensi melanggar rambu syariat. Sedangkan khauf yang berlebihan akan menimbulkan ketakutan dan kelesuan. Modal utama kita adalah keyakinan. Terutama keyakinan akan janji Allah dan Rasulnya akan kebesaran dan kemuliaan Islam di kemudian hari.

Salah satu contoh dari keimanan: Khansa RA kehilangan 4 orang putranya sekaligus di perang Qadisiyah. Saat dikabari, Khansa hanya tersenyum dan berkata,"Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan syahidnya mereka."

Iman berbeda dengan karakter, bahkan ia melampaui karakter. Seseorang yang memiliki keimanan akan sangat kokoh dan stabil dalam menghadapi hidupnya. Bangsa ini sebenarnya berada dalam kebingungan besar, hendak dibawa ke mana generasi ini? Jika pemimpinnya memberikan teladan yang tidak baik, bagaimana dengan generasi di bawahnya?

Waspadailah syariat yang menjadi tren. Syariat itu punya pakem yang jelas, sedangkan tren senantiasa berubah mengikuti zamannya. Membangun sebuah keyakinan/itikad perlu usaha yang sangat besar. Inilah yang dahulu dilakukan oleh para sahabat, dan kita hendak mengikutinya.

Iman yang sudah memiliki bibit mudah diketahui, yaitu dengan memperhatikan lisannya. Lisan memiliki peran yang sangat besar dalam menghinakan atau memuliakan seseorang. Saat lisan baik, Insya Allah akan diikuti dengan amal perbuatan.

Di akhir, Ustadz Budi mengingatkan kembali jangan sampai kita salah fokus dalam melaksanakan kurikulum Iman sebelum Quran ini. Jangan sampai Al-Qurannya dikejar tapi imannya ketinggalan.

*Dikutip dari grup wa sekolah alam

* * * * *
Astaghfirullah.. Ya, pendidikan iman sebelum apapun. Pendidikan iman akan berhasil bila kedua orang tuanya beriman, atau benar2 berusaha menuju keimanan yang semakin meningkat.

Ya Allah, Jadikanlah kami orang orang yang senantiasa beriman dan mampu beramal shalih..

>,<

Bimbing fya ya kang, belajar sama sama :") mohon maaf ya harus banyak bersabar :"

Thursday, December 11, 2014

Asyiknya Ditampar Buku Self Driving Rhenald Kasali

Satu lagi buku bergizi berhasil hadir di depan mata! Alhamdulillah :)

Dikenalkan pertama kali oleh pak hernowo dalam ulasan-ikatan- makna-nya, serta sedikit kutipan cerita dari salah satu sahabat saya, hani. Buku SELF DRIVING nya Pak Rhenald Kasali ini seperti diramu dari berbagai bahan pilihan yang memang membuat para pembacanya merasa terus "tertampar" setiap membaca halaman demi halamannya. (Ya gatau ya, saya sih ngerasa begitu hehe).

Apa yang disampaikan melalui buku ini begitu cocok dibaca oleh siapapun, terutama bagi yang sedang dalam masa penyadaran diri. Itulah kondisi saya pribadi saat awal membaca buku ini. Saya merasa ini saatnya benar2 memegang kendali terhadap diri saya sendiri. Tidak mudah, tapi insyaallah saya akan sangat senang untuk menjalani prosesnya.

Buku ini menggambarkan perbedaan nyata dari karakter seorang passenger dengan driver. Ternyata banyak orang yang ngga sadar kalau sebenernya masih hidup dengan mental passenger, tak terkecuali orang-orang yang sudah berpendidikan tinggi bahkan sudah punya jabatan.

Menariknya, sejak awal justru dibahas mengenai sistem pendidikan yang ada di indonesia ini, khususnya lulusan lulusan universitas. Ngga main main, dibuat dari persepektif seorang calon rektor yang akan "meramu" sebuah sistem pendidikan. Kalo boleh meminjam istilah bang aad mah, jadi melihat dengan helicopter view nya.

Tadinya saya mau rajin posting rutin resumenya, tapi saking bergizinya buku ini, saya bener bener harus perlahan melahapnya untuk bisa mengambil saripatinya. Membaca adalah sarana, yang terpenting adalah bahwa dengan membaca, kita secara sadar melakukan perubahan atau perbaikan kita menjadi lebih baik.

Karena saat ini lagi baca bab 8 tentang play to win, saya bocorin sedikit ya, meurut saya : buku ini bukan menampar orang-orang pada titik ekstrim, justru buku ini "menampar" orang orang pertengahan yang terkadang hidup sekedarnya, istilah pak rhenald : play not to lose. Yang tidak terganggu dengan gejolak sedihnya kekalahan, tapi juga tidak berjuang sepenuhnya mencapai kemenangan tertinggi, terlalu aman.

Kalau dipikir pikir, Allah juga nyuruh kita minta surga terbaik (ekstrim kanan), dan menjauhkan diri dari neraka (ekstrim kiri), kan? Ngga nyuruh kita untuk jadi biasa biasa aja?

Semoga proses absorpsi isi buku ini membuahkan hasil terbaik ya!
Selamat membaca, share pengalaman baca mu ya! :D

De Marrakesh, 11 Desember 2014

Wednesday, November 26, 2014

Resume Seminar Pranikah 23 Nov : Opening

Opening : Tilawah Hafizh & Shalawat Rasulullah

Hasil seminar yg menginspirasi, ilmu yg sgt luas.. 23.11.14 
Walaupun panjang, semoga bermanfaat dan InsyaAllah ga akan rugi baca ampe akhir. Semoga semakin banyak keluarga berkualitas di Indonesia ini..  

Seminar ini dimulai dgn pembacaan quran oleh Abdul rohman al hafidz
@Ar_motivaquran :

Sapi Betina (Al-Baqarah):164 - Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Sapi Betina (Al-Baqarah):165 - Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Keluarga 'Imran ('Āli `Imrān):31 - Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Keluarga 'Imran ('Āli `Imrān):32 - Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

Ar Rum: 21
Bangsa Romawi (Ar-Rūm):21 - Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Al furqan 74
Pembeda (Al-Furqān):74 - Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Pembacaan Quran tanpa melihat buku, seorang hafiz yg mengingatkan bahwa Allah adalah zat di atas segalanya, dan cinta kita kepadaNya harus melebihi segalanya. 

- Acara dilanjutkan dgn special performance dr Kang Abay, motivasinger @kang_abay

Lagu2nya sgt bagus, benar2 dipikirkan dgn matang dan mengingatkan kita kepadaNya. Lagu pertama yg dibawakan adalah ttg Nabi Muhammad dan mengingatkan kita utk memperbanyak bersalawat. Bayangkanlah rasul sgt dekat saat kita bersalawat.

Reff dr lagunya: 
Kau yang terindah
Wahai Muhammad Nabi tersayang
Kau yg membuatku 
Merasakan cinta seperti ini
Kumencari jejakmu
Waktu terus berlalu
Tetapi dirimu adalah penantian terhebatku

To be continued..

***************
Resume seminar ini ditulis oleh salah satu sahabat terbaik saya, karlina febrianti, founder komunitas Wegrow. Betapa bersyukurnya saya yg ingin dapat hadir tapi ngga bisa, kemudian di beri resume nya :")
Barakallah lin :"))

Monday, November 24, 2014

Roller Coaster Lanjutan

Ya, tiket sudah tersedia, kini menjelang masanya kau memasuki wahana.

Sebetulnya gambaran suasana roller coaster mu nanti pun dapat kau perkirakan sebelum kau memasuki wahana itu. Kau diperbolehkan untuk melihat bagaimana performa nya, kecepatannya, rutenya, warnanya, bertanya siapa pembuatnya, melihat kondisi cuaca sekelilingnya, bagaimana pemeliharaannya, pendapat orang, dan banyak hal yang lain. Namun tetap saja, kau tak akan bisa secara pasti mengetahui sensasi perjalanannya sampai kau benar-benar sudah menaikinya.

Ya. Seperti biasa aku selalu merencanakan untuk bisa berteriak lepas gembira, walaupun saat masuk wahana bisa saja aku terlalu lemah dan ternyata aku harus mual mual dulu untuk bisa berteriak gembira kemudian.

Bandung, 24 November 2014
Sekedar meneruskan analoginya saja,
Sabar, syukur, cerdas, optimis, kreatif!
:D

Sunday, November 23, 2014

Roller Coaster Pernikahan

Oleh : Fahd Pahdepie

Saya menuliskan catatan ini untuk adik laki-laki saya, Futih, yang beberapa jam lagi akan melangsungkan pernikahannya.

Membayangkan apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan Futih pada saat-saat ini, ingatan saya kembali pada lima tahun lalu, tepat beberapa jam sebelum mebacakan ‘ijab qabul’ saya pada Rizqa. Saat itu saya hanya butuh diri sendiri, juga sebuah ‘momen’. Semacam jeda sebelum pesta, di mana saya bisa meredam segala kecemasan untuk kemudian berusaha memaknai pernikahan dari sudut pandang yang paling pribadi: Apa itu pernikahan? Bagaimana menjalani semuanya?

Saya membaca status Facebook Futih malam tadi. Sambil menyebut calon istrinya, Rela, di status itu, Futih menemukan refleksi yang mengagumkan mengenai pernikahan: “Inilah roller coaster yang susungguhnya. Kadang kita harus teriak kencang ketakutan, kadang harus bahagia melepas segala beban. Di atas semua ketakutan itu, kita tahu, semua akan baik-baik saja,” tulisnya. Membaca hasil perenungannya, sebagai kakak, tentu saja saya merasa bangga. Saya tersenyum membacanya. Ada ketenangan tersendiri yang menyelinap dari dalam hati saya. Di tengah segala rasa cemas dan gelisah, tampaknya Futih sudah menemukan ‘momen’-nya sendiri. Dan di momen itulah, Futih melihat pernikahan sebagai sebuah roller coaster yang akan segera dinaikinya bersama Rela.

Sebagai seorang kakak, saya ingin memberikan beberapa nasihat untuk Futih dan Rela. Saya akan menggunakan amsal roller coaster untuk melakukannya. Mudah-mudahan ini sederhana.

Bayangkan kalian berdua akan menaiki sebuah roller coaster yang menawarkan ketakutan sekaligus kegembiraan. Kalian tahu semua ini tidak akan semudah yang dibayangkan, kalian sudah mendapatkan banyak cerita mengenairoller coaster semacam ini… di mana sebagian orang berhasil berbahagia menjalaninya sementara sebagain lain merasa frustrasi mengalaminya. Kalian tidak tahu akan menjadi jenis yang mana dari dua kemungkinan itu. Di tengah situasi semacam itu, kalian merasa cemas sekaligus ingin tahu. Persis seperti perasaan seorang anak yang akan menaiki sebuah roller coaster untuk pertama kali dalam hidupnya… kalian begitu bersemangat, berbahagia, tetapi sekaligus takut. Di sanalah keberanian kalian diuji, melalui sebuah janji.

Pernikahan adalah sebuah perjanjian. Tanpa perjanjian, pernikahan tak akan bermakna apa-apa. Apapun yang terjadi, berjanjilah untuk menolong cinta kalian agar tetap hidup. Berjanjilan untuk saling menjaga dan melindungi, untuk berbicara pada saat kata-kata begitu dibutuhkan, untuk diam pada saat kata-kata tak dibutuhkan… untuk saling setuju atau tidak setuju berdasarkan kasih sayang, untuk menciptakan kehangatan dan ketenangan di antara kekhawatiran kalian berdua. Bayangkan saja kalian saling menggenggam tangan di atasroller coaster yang bergerak naik-turun dengan kecepatan yang barangkali tak sempat kalian perhitungkan lagi, bayangkan kalian menjadi sepasang suami-istri yang harus mengelola kebahagiaan dan ketakutan mereka bersama-sama.

Barangkali semua itu tak tertulis di buku nikah, tak ada dalam ‘sighat ta’liq’, tetapi berjanjilah untuk saling menjaga satu sama lain: Merawat dan menumbuhkan kesabaran, sebesar cinta membutuhkannya. Setelah pernikahan, tak semua barangkali sesuai yang kita bayangkan sebelumnya. Akan ada hal-hal yang membuat kita merasa bangga berlebihan tentang pasangan kita, akan ada hal-hal yang membuat kita kecewa… Di sanalah kalian diuji untuk tetap setia pada ‘janji’. Sesuatu yang di hari pernikahan dibacakan untuk diri sendiri dan pasangan kita, sementara Tuhan dan semesta menyaksikan semuanya.

Sebelum menaiki roller coaster, kita diberitahu tentang beberapa ‘anjuran keselamatan’, seperti menyandarkan punggung, membuka mata, atau memegang erat-erat bar pelindung tubuh kita. Tetapi kenyataannya, di atas wahana dan perjalanan sesungguhnya, ada begitu banyak hal lainnya yang tak diberitahukan sebelumnya. Seperti itu jugalah pernikahan. Tak semua yang akan kita jalani ada dalam buku tips atau nasihat-nasihat pernikahan yang pernah kita dapatkan. Kita sendirilah yang tahu bagaimana menjalaninya, kita sendirilah yang tahu bagaimana mengelola kegembiraan dan kesedihan masing-masing. Hanya kita yang tahu kapan harus berteriak, kapan harus menutup mata, kapan harus mengeratkan genggaman dan saling mendoakan. Tak ada satupun orang lain yang bisa berdiri di atas sepatu nasib yang kita kenakan, kan?

Di atas semua itu, kita tahu… ‘saling membantu pekerjaan rumah’ tak pernah tertulis di buku nikah, tentang membahagiakan pasangan tak pernah disebutkan di surat perjanjian yang ditandatangni di depan penghulu. Tetapi kita harus mengerti bahwa semua itu adalah bagian penting yang dibutuhkan dalam sebuah pernikahan. Mencuci piring, menyetrika pakaian, membersihkan rumah, mencari nafkah, mendidik dan membesarkan anak-anak, tak pernah diatur secara jelas sebagai tugas istri atau suami, sebab hanya kalian yang tahu bagaimana mengatur, membagi, dan mengelola hak-hak dan kewajiban kalian berdua. Demikianlah, tak ada yang lebih baik daripada saling mengerti dan memahami.

Di atas roller coaster, kadang-kadang kita membandingkan diri kita dengan orang lain: Mengapa pasangan kita ketakutan sementara orang lain tidak? Mengapa pasangan kita begitu cengeng dan manja? Mengapa kita merasa biasa-biasa saja sementara orang lain begitu histeris menjalani semuanya? Wajar saja melihat pernikahan orang lain dan membandingkannya dengan kehidupan kita, tetapi ‘selalu memanding-bandingkan’ tak akan membuat kita berbahagia. Kita tak akan menikmati perjalanan jika melulu disibukkan dengan melihat dan membanding-bandingkan pasangan kita dengan orang lain. Maka cukupkanlah semuanya, cukupkanlah cinta di antara kalian berdua.

Jika melihat perempuan lain lebih menarik daripada pasangan kita, itulah saat yang tepat untuk membuat pasangan kita terlihat lebih cantik dan lebih menarik lagi. Cinta, harus diakui, pada satu sisi adalah soal ketertarikan fisik, maka rawatlah baik-baik hal-hal yang berhubungan dengannya. Buat diri kita sendiri merasa bangga memiliki dan menjadi pendampingnya. Barangkali ini nasihat yang agak berbeda dengan kebanyakan orang, tetapi dengarkan baik-baik—

Laki-laki seringkali komplain tentang kulit istrinya yang tak semulus kulit perempuan lainnya, tetapi tak pernah sekalipun memberi kesempatan pada istrinya untuk merawat tubuhnya. Kita sering tertarik melihat perempuan lain yang berpenampilan menarik seraya bertanya-tanya mengapa istri kita tak bisa seperti mereka, tetapi pada saat bersamaan kita tak pernah memberikan dukungan apapun untuk membuat istri kita berpenampilan lebih cantik lagi dari yang kita lihat sehari-hari. Maka tentang membelikan kosmetik yang baik, mengantarnya luluran atau ‘facial’, berbelanja sepatu atau tas baru, mencukupkan dan mendukung semua kebutuhannya lahirnya, kapan saja selalu sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan batinnya.

Di atas roller coaster yang bergerak naik turun itu, kalian tidak sendirian. Pernikahan bukan hanya tentang kalian berdua. Pernikahan adalah tentang menyatukan dua keluarga. Di sana, penting untuk saling mengerti dan memahami keluarga satu sama lain, mengelola ego kalian berdua untuk menghadapi semuanya bersama-sama. Kelak kalian akan melahirkan anak-anak, memperbesar peluang kebahagiaan dan ketakutan kalian berdua di sebuah tempat yang akan kalian sebut sebagai ‘rumah’. Bangunlah rumah itu dengan kasih sayang dan doa-doa. Tumbuhkanlah cinta di setiap sudutnya.

Tentu saja, nasihat ini bisa lebih panjang lagi. Dan lebih panjang lagi. Kita bisa berbicara tentang apa saja. Tetapi kelak kalian juga akan mengerti dan memahami semuanya berdasarkan pengalaman kalian sendiri. Saya tak bermaksud mengguri. Apa yang sudah dan sedang saya alami belum tentu lebih baik dibandingkan dengan apa yang akan kalian alami. Anggap saja ini hadiah dari seorang kakak untuk adik laki-lakinya yang akan menikah. Mudah-mudahan sederhana saja.

Akhirnya, selamat menempuh hidup baru, adikku. Seperti katamu: Iniahroller coaster yang sesungguhnya. Kadang kita harus berteriak kencang ketakutan, kadang harus bahagia melepas segala beban. Di atas semua itu, tenang saja, semua akan baik-baik saja dengan cinta!

Selamat menikah. Jadikanlah semua ini yang terbaik sepanjang hidupmu, yang pertama dan terakhir, hingga maut memisahkan kalian berdua.

Teriring semua doa terbaik yang pernah ada: Selamat berbahagia!

Melbourne, 22 November 2014

Fahd Pahdepie

Sumber : http://fahdpahdepie.com/post/103239020967/roller-coaster-pernikahan

Friday, November 21, 2014

Shalat Berjamaahnya Perempuan dan Laki-Laki yang Bukan Muhrim


Bismillah..
Berawal dari ketidaksengajaan membaca sebuah artikel di konsultasisyariah.com tentang haramnya shalat berjamaah berduaan dengan yang bukan muhrim, sekitar 4 bulan yang lalu.
OOOH TERNYATA NGGA BOLEH TOH YA? OKE.

"Apabila seorang lelaki berduaan dengan wanita yang bukan mahram, maka haram baginya untuk menjadi Imam bagi wanita itu. Karena segala yang bisa mengantarkan kepada yang haram, hukumnya haram ."
(As-Syarh Al-Mumthi', 4/251)

Setelah tahu itu, saya jadi lebih waspada. Ini beberapa pengalaman yang masih saya inget terkait hal ini
  • Pernah suatu ketika saya berpeluang untuk bisa berjamaah (waktu beres wudhunya bareng), namun dengan seorang laki-laki yang bukan mahram saya, karena inget hadits itu, tanpa babibu saya langsung shalat sendirian (hanya bisa berharap itu orang juga ngerti, dan ngga nge judge kalo saya "orang-yang-males-jamaahan" hehe). STATUS : AMAN
  • Pernah suatu ketika saya berpeluang untuk bisa berjamaah (sudah masuk waktu shalat dan karena lokasi yang terbatas). Ada lelaki yang bukan mahram mau shalat, terus saya deg-deg an ini gimana bisi haram (:O) kondisinya saat itu saya numpang sholat soalnya (nahloh). Alhamdulillah ternyata ada adek kecil yang juga ikut sholat berjamaah. Kita jadi ngga berdua, karena adek kecil itu. Tapi kaya gitu teh udah menghapuskan keharaman nya belum ya? STATUS : DIPERTANYAKAN
  • Kemarin saat magrib saya masih di atas motor. Takut kelewat, nyimpang ke mushola SPBU Pertamina (cintailah ploduk ploduk Indonesia meskipun subsidi BBM dikurangi hehe). Ada petugas mau shalat juga, waktu shalatnya bareng. Pikiran saya saat itu : mepet waktunya, ngga ada orang lain lagi, berjamaah pahalanya lebih gede. Saat itu shalatnya pak petugas itu juga di jahr kan (dikeraskan, beliau sudah memposisikan diri sebagai imam). Terus jadinya berjamaah ,_, STATUS : DIPERTANYAKAN
Setelah dipikir-pikir kalau ketemu kondisi seperti itu, bisa aja saya gantian, nunggu orang itu beres (tapi takut kelewat magribnya)

JADI SEBENERNYA HARAMNYA TEH KENAPA YA?

Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan, kecuali dia ditemani mahramnya. 
(HR. Bukhari 5233 dan Muslim 1341)

Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan. Jika terjadi makhluk ketiganya adalah setan
(HR. Ahmad 177, Turmudzi 2165, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)


Ya intinya kegiatan apapun, mau shalat sekalipun, laki-perempuan ngga boleh berduaan. Kalau sekitarnya masih ada orang-orang, ngga masalah. Usahaiiin banget ngga berduaan doang. Apalagi mushola SPBU kadang memang berkururan minimalis.

BERJAMAAH SAMA SI PACAR?
Terus barusan dapet Inspirasi dari blog orang (novianindinindi.blogspot.com). Judul artikelnya kocak asik aja sih "Yang Elo Banggain Itu Haram Looh". Disitu ngebahas tentang perempuan yang seneng banget kalo shalat diimamin pacarnya. Disini saya ngga bahas tentang pacarannya ya, pasti bisa ambil kesimpulan sendiri kok.

Ini saya ajak jalan-jalan sedikit ya, barangkali belum pernah atau lupa tentang hal ini :
Suatu hari datang seseorang bernama Abu Huraiz menemui Abdullah bin Mas'ud. Ia berkata "sesungguhnya aku baru saja menikahi seorang gadis. "Aku takut sekali kalau-kalau dia membenciku."
Ibnu Mas'ud mengatakan : Sesungguhnya rasa kasih itu dari Allah, sedang kebencian itu dari syaitan di mana ia bekeinginan untuk membencikan kepada kalian apa yang telah Allah halalkan bagi kalian. Maka apabila istrimu datang kepadamu, maka perintahkanlah ia Shalat di belakangmu dua rakaat dan berdoalah…
"Ya Allah berkahilah bagiku dalam keluargaku, berkahilah bagi mereka dalam diriku. Ya Allah, kumpulkanlah antara kami selama engkau kumpulkan dalam kebaikan dan pisahkanlah diantara kami jika Engkau memisahkan menuju kebaikan." (Hr. Ibnu Abi Syaibah)

YAAP! AKAN ADA SAATNYA SHALAT BERJAMAAH BERDUA DENGAN ORANG ASING YANG TELAH MENJADI MAHRAM. DAN COBA BAYANGKAN KEBERKAHANNYA. Masyaallah. :"))

Mungkin bukan artikel yang cocok kalau mau cari dalil-dalil shahih, atau penjelasan mengenai fikih-fikihnya. Cuma tulisan blog untuk menangkap hikmah, mengikat makna hehe.
Pokonya tulung banget kalo ada pemahaman yang salah-salah, dikoreksi ya :D

Karena siapapun kita, memang berproses untuk dapat memahami suatu hal :)

Kamar, 21 November 2014
Hajah Sofyamarwa R.

________

Wednesday, November 19, 2014

Teknik Mengikat Makna, Bekal Belajar Saya dalam Membaca Buku

Lama tak bersua dengan Pak Hernowo lewat bukunya, membaca buku Vitamin T saya langsung menuju pada satu topik yang saat ini begitu saya butuhkan. Sudah pernah dibaca, tapi rasanya perlu mengingatnya kembali. Dituliskan pada halaman 58-63, artikel berjudul "Meresensi Buku dalam setting Mengikat Makna", lagi-lagi sukses membuat saya begitu bersemangat lagi membaca buku.

Saya begitu suka dengan buku. Ada masanya saya begitu tak bisa diganggu bila sedang membaca, namun ada masanya pula saya merasa membaca buku hanyalah bagian dari escape from something i don't want to think about. Tapi biar bagaimana pun, saya bersyukur tempat pelarian saya ada pada sesuatu yang cukup positif hehe. Kebiasaan baik tersebut memang sepantasnya dirawat, dan diperhatikan. Bagian bagian mana saja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya, karena semua orang bisa membaca, namun tak semua orang bacaannya bisa kemudian berdampak baik pada kehidupannya.

Saya paling suka ketika kata-kata yang dituangkan pak hernowo benar-benar dapat membahasakan apa yang saya rasakan. Inti proses pengikatan makna yang beliau lakukan adalah bertemunya pengalaman batin diri kita pribadi dengan pengalaman si penulis buku, yang hasil akhirnya membuat diri kita berkembang. Dan itulah yang membuat prose membaca buku menjadi begitu menyenangkan dan berdampak.

Sampai sini saya mau memastikan bahwa kita sudah sefrekuensi dulu ya?
Tujuan saya baca artikel ini adalah agar kegiatan membaca saya benar2 bermanfaat. Saya baca, dan menuliskan kembali untuk mengikatnya, kemudian agar bermanfaat bisa dibagikan kembali pada yang lain. Maka ini upaya agar proses dan hasilnya baik, serta dapat bermanfaat untuk yang lain. Cukup ya?

Lantas bagaimana caranya meresensi buku dengan setting mengikat makna?

Ada 3 teknik, dan proses ini bertingkat semakin tinggi :
1. Cut and paste
Teknik mengunting dan merekatkan. Memberikan peluang sangat besar kepada seseorang untuk berlatih menulis dengan bantuan "bahasa" oranglain. Caranya dengan mencuplik dan mengumpulkan tulisan tulisan yang menarik perhatian kita dari sebuah buku, tuliskan kembali pada buku harian. Lakukan berkali kali, kumpulan resensi itu akan sangat bermakna buat kita, karena pengalaman penulis itulah yang menarik batin kita, yang cocok dengan pengalaman pribadi kita.
-> saya perlu ningkatin lagi ini. Ingat dulu sering, dan buku yang jadi kumpulan tulisan itu bener bener jadi sesuatu yang bermakna kalau dibaca ulang.

2. Focusing
Pusatkan perhatian pada satu hal yang ada di dalam buku, yang menarik perhatian kita. Bisa fokus pada sosok pengarang (latar belakang pendidikan, alasan menulis, apa keistimewaannya, hikmah dari pengalaman luar biasa si penulis), desain sampul buku (kalau misal punya ketertarikan disitu), pengorganisasian buku.
-> Sepertinya saya belum pada tahap ini, karena kadang saat baca buku belum mau nulis yang fokus begitu. Biasanya resume general, dan emg dirasa kadang "core" nya malah kurang dapet. Perlu dicoba.

3. Comparing
Teknik membandingkan, Teknik tertinggi yang akan optimal dilakukan bila 2 teknik sebelumnya sduah dilakukan cukup lama. Perlu baca buku lainnya yang sejenis, analisis lebih dalam dan lebih terukur. Yang perlu diperhatikan dan "diikat" makna nya lebih banyak.

Bagi pak hernowo, pada akhirnya, proses mengikat makna bisa dilanjutkan dalam konteks apa saja. Pokonya ketika bersentuhan dengan hal hal yang bermanfaat bagi diri, langsung dituliskan. Bisa dari nonton film, denger musik, bahkan ketika melihat diri sendiri, langsung IKAT!

Mengikat makna dapat membantu saya dalam mengenali pikiran, perasaan, dan apapun yang bergejolak di dalam diri saya. -hernowo

"Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang lain -entah hal itu nyata atau imajiner- merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kuta mengenai apa sebenarnya diri kita san bisa menjadi seperti apakah diri kita ini."
-Ursula K. L. Guin

Terimakasih pak hernowo, semoga semakin semangat mengikat makna lagi, memudahkan diri dalam proses belajar selanjutnya :)

Monday, November 17, 2014

Cara Berkata Mulia Pada Orang Tua

Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah sayap ketundukan kalian penuh kasih sayang kepada mereka berdua. (Qs. Al-Israa' 17:23)

.. Yaa sa'id, semua yang tersebut di dalam Qur'an tentang birrul walidain sudah aku pahami maksudnya, kecuali firman Allah: Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Sa'id menjawab, "Kira-kira seperti perkataan seorang budak yang melakukan kesalahan di hadapan seorang majikan yang kejam."
--tanya abdul huddaj pada ulama besar tabi'in, Sa'id bin al-Musayyab.

Seperti..
Budak yang bersalah, dihadapan
Majikan yang kejam

._.
#ambilkaca #galitanah

Sunday, November 16, 2014

Kebiasaan Baik Ibu Hamil (bersama Al-Qur'an)

Ceritanya ble'e ble'e begini saya juga ingin jadi penghafal qur'an ._.
Semoga kita dilimpahkan Allah kekuatan untuk mengubah sekedar keinginan menjadi tekad yang kuat ya! Aamiin

Ini ada sebuah kisah yang mudah mudahan bisa menguatkan tekad. Ini pas buat dibaca bagi para calon ibu dan yang ingin punya kwluarga qurani.
Karena interaksi dengan quran bukan hanya untuk kita, tapi untuk amanah generasi-generasi yang suatu saat akan kita didik :)
* * * *

66x KHATAM QURAN SAAT HAMIL
(Satu Keluarga Satu Hafizh)

Istiana (40)
Ibu Rumah Tangga, Jakarta Selatan

Saya hafal Qur'an sejak umur 15 tahun, hasil menghafal secara intensif selama satu tahun dua bulan. Pada usia 19 tahun saya menikah dengan suami yang juga hafizh Qur'an. Kami menyusun rencana untuk melahirkan anak-anak generasi Qur'ani.

Langkah pertama kami, mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak mungkin saat saya hamil. Alhamdulillah, selama masa kehamilan anak pertama, Abdullah Wafiy (16), saya bisa menghatamkan Qur'an 66 kali.

Saat Wafiy berusia 11 bulan, saya harus menelan pil pahit, suami meninggal dunia setelah demam tinggi selama dua hari. Namun, tekad untuk menghasilkan putra-putri penghafal Qur'an tetap saya pegang.

Saya menikah lagi saat Wafiy berusia lima tahun. Bersama suami, Afdal Zikri Mawardi (48), saya berupaya menghidupkan Al-Qur'an di rumah. Tradisi memperbanyak khataman saat hamil juga saya teruskan. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, Wafiy bisa menyempurnakan hafalan 30 juz di usia 10 tahun saat masih duduk di kelas 4 SD. Kini, adik-adiknya juga giat menghafal. Abdullah Azzam Afdal (9) hafal 3 juz, Yahya Ayyasy Afdal (8) hafal 2 juz, Ahmad Yasin Afdal (6) baru rampung 1 juz, dan si bungsu Fatimah Afdal (3) yang masih acak hafalannya.

Di rumah, saya membuat program menghafal untuk anak-anak. Usai shalat Maghrib, saya wajibkan mereka mengaji. Saya ajari tilawah dan menghafal sesuai usianya. Muraja'ah juga saya jalankan dengan cara talaqqi, saya membacakan lalu mereka mengikuti. Masya Allah, anak-anak cepat sekali menyerap hafalan. Saya ulang lima kali, mereka sudah hafal. Mungkin ini karena pembiasaan saat hamil dulu. Memang butuh kesabaran, karena anak-anak kecil sulit untuk duduk manis. Jadi, mereka muraja'ah sambil main mobil-mobilan atau lainnya.

Waktu yang kedua, saat subuh. Anak-anak kami biasakan untuk bangun pukul 03:30. Sambil menunggu waktu shalat Subuh, mereka saya ajak muraja'ah secara bergantian sambil duduk melingkar. Dimulai dari adiknya, misal, yang membaca surat An-Nas. Lalu kakaknya melanjutkan surat Al-Falaq. Diteruskan lagi oleh kakaknya yang membaca surat Al-Ikhlas. Terus begitu sampai sempurna 1 juz.

Sebelum tidur, mereka juga saya perdengarkan setengah sampai 1 juz Qur'an hingga mereka terlelap. Bahkan setiap hari kelahiran anggota keluarga dan ulang tahun pernikahan kami, kami mengadakan khataman Qur'an. Semua itu adalah upaya kami untuk membudayakan Qur'an di rumah, bukan sekadar menghafal untuk mengejar target atau meraih gelar hafizh...

* * * * *
Masyaallah..
Sampai sekarang masih takjub dengan yang sudah hafizh, semacam 'tidak masuk akal tapi nyata'. Tiap orang punya kondisi berbeda, mungkin sang ibu memang sudah terkondisikan sejak usia belasan tahun untuk bisa menghafal. Kalo kita engga begitu terus gimana dong? Misal umur saya sekarang udah hampir 23, tapi jangankan 30 juz, juz 30 aja masih pontang-panting?

Bismillah.. asal tekad kuat dan konsisten insyaallah bisa. sudah banyak kok buktinya. Bukan cari gelar hafizh nya, semoga bisa menambah kedekatan sama Allah lewat Quran. Aamiin..

Friday, November 14, 2014

Anak Perempuan : Kebaikan Yang tak Panjang di Dunia, Tabungan Akhirat.

Halo, assalamualaikum :)
saya seorang anak perempuan yang 2 bulan lagi akan berusia 23 tahun, sekarang usiamu berapa?

Akhir akhir ini saya lebih siaga untuk menyiapkan hati dan telinga diantara pukul 10.00-11.30 supaya dapat kajian rumahku syurgaku-nya ummu yusuf di mq fm.

Setelah mendengar kajian ini, saya merasa kaget sekaligus takjub karena baru saja menyadari hal ini. Ditulis dengan campuran ikatan makna pribadi. Semoga bermanfaat ya. Bismillah..

* * * * *

Keutamaan Bersabar Mendidik Anak Perempuan

Banyak dari kita tak begitu menyadari apa hakikat perbedaan memiliki anak laki-laki maupun perempuan. Kita semua tahu, anak adalah anugerah dari Allah, dan apapun jenis kelaminnya, tak jadi persoalan, kita harus tetap bersyukur.

Saya memosisikan diri sebagai seorang anak perempuan yang sebut saja sedang mempersiapkan diri menjadi seorang calon istri (kamu juga, kan? :)). Maka saat mendengar kajian ini saya membayangkan kedua orang tua saya, calon mertua (nantinya), serta saya saat menjadi seorang ibu di masa depan.

Kajiannya singkat, ada 2 hadits yang dibahas, satu persatu dulu ya

HADITS PERTAMA
Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631)

Menghidupi, menafkahi, mendidik, bersabar dengan segala urusan anak perempuan minimal sampai baligh.
Kita tahu bersama bahwa urusan "anak cewek" lebih rumit dibanding "anak cowok" yang simpel. Dari mulai model baju yang beragam sampai segala aksesoris pelengkapnya.

Tapi tahukah?
Yang lebih berhak atas seorang perempuan adalah suaminya. Dan yang lebih berhak atas anak laki-laki adalah Ibunya.
Maka ketaatan seorang perempuan pada suami lebih tinggi dibanding pada orangtua, padahal orangtua perempuan itu yang harus berrepot repot membesarkan dan mendidiknya.
Sedangkan bagi orangtua yang memiliki anak laki-laki, sang anak sepenuhnya masih bertanggung jawab pada kehidupan ibunya.
Bingung ga?

Perempuan tak bisa bebas mengunjungi orangtuanya sendiri bila tak diijinkan suaminya, maka pesannya : berdoalah Allah karuniakan suami yang shaleh, yang memahami hubungan kita dengan orangtua kita. Kita boleh kok meminta pada suami untuk juga memerhatikan orangtua kita. Tapi ingat, JADIKAN JALAN SURGA, BUKAN JALAN NERAKA. (Maksudnya tdk memaksakan, dan komunikasi dengan baik)

HADITS KEDUA
“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma. Lalu aku berikan sebuah kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan keluar bersama anaknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka” (H.R Muslim 2629)

Segala usaha atau amalan yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan anak tidak akan hilang, tapi akan jadi tabungan di akhirat, bahkan penghalang dari siksa neraka.

Diuji dengan anak perempuan?
Jadi kita ini ujian?!
Melengkapi pertanyaan itu, saya cari dari sebuah situs : Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Anak perempuan disebut sebgai ibtilaa’(ujian) karena umumnya manusia tidak menyukai mereka”. Lihat juga an-nahl 58 untuk tahu penyikapan terhadap anak perempuan pada jaman terdahulu.

Singkatnya : punya anak perempuan itu, kebaikannya tidak panjang di dunia, tapi jadi tabungan di akhirat. (Kalau diurus sebaik-baiknya ya..)

* * *
Pesan buat perempuan yang belum menikah : sadar sadar sadarr! Manfaatkan waktu kebersamaan dengan orangtua sebaik baiknya. Karena serius, tak lama waktu kita bisa berbakti sepenuhnya ._.

Pesan buat saya di masa depan kalau punya anak perempuan : bersabar dalam pemeliharaannya, dan relakan bila tiba saatnya segala kewajiban harus berpindah pada pendamping hidupnya.

Jumat, 14 November 2014

Silakan baca baca lagi, bisa dari sini muslim.or.id :)

'Jemuran' Protecter

Diingatkan Mama
Siang ini tiba-tiba hujan deras. Sebelumnya aku sedang larut dalam kesibukanku sendiri. Mama kemudian mengingatkan bahwa di luar sedang hujan, dan aku punya jemuran yang belum diangkat. Ya, kalau tidak diingatkan, aku akan lupa dan jemuranku mungkin akan tetap ditempatnya sampai besok karena harus menunggu kering lagi.
Ah, perkara sederhana ya?

* * * * *

Teman Kos Misterius Pengangkat Jemuran
Kemudian aku teringat pada kejadian  setahun yang lalu ketika masih berada di tempat kos. Kejadian yang menyentil sekaligus mengharukan -yang ingin kutuliskan disini tapi tak sempat terus- tentang jemuranku.
Saat itu aku dalam kondisi merasa "ga punya adab bertetangga", yang dengan teman kos ngga terlalu mengenal dekat gitu maksudnya. Maklum lagi nugas akhir jarang ketemu di kosan dan emang akunya kuper juga.

Hari hujan, sudah pasrah jemuran akan basah semua, ternyata semua jemuranku ada yang mengambilkan. Alhamdulillah. Bukan chamar, ira, atau syifa (mereka ku kenal dekat dan biasa berbaik hati pula), tapi aku ngga tau siapa. Tanya yang lain juga ngga ada yang jawab. Masya Allah. Mungkin aku lebay, tapi beneran saat itu terharu banget. Maksudnya merasa tertampar karena terkadang aku sendiri ngga berani ngambilkan jemuran orang lain dengan alasan ngga kenal sama pemiliknya. (Padahal kalau liat langit udh mendung, namanya jemuran punya siapa aja ya bantu angkat dong ya ._.)
Yah, lagi lagi perkara sederhana

* * * * *

Dari 2 kejadian itu, yang saat ini kupikirkan adalah bahwa sebenarnya kita hidup itu memang harus banyak bersyukur. Bersyukur atau berterimakasih pada manusia itu wujud keseriusan kita bersyukur sama Allah.

Dan, hal kecil yang berarti banyak dari orang di sekeliling kita itu juga tak abadi. Ada masanya kita akan merindukan itu semua, yang boleh jadi hal itu sebelumnya sama sekali tidak kita hargai.

._.

Jumat, 14 November 2014
Dan kini waktu terasa bergulir begitu cepat..

Thursday, November 13, 2014

Naluri Ibu

"Uhuk uhuk uhuk!"

Suara batuk bocah perempuan kecil dalam pangkuan ibundanya membuat mataku beralih. Mungkin usianya baru 4 tahun. Di sampingnya nampak sesosok bocah laki laki -abangnya- tergolek, tertidur pulas tak bisa diganggu. Di sudut angkutan umum ini Allah perlihatkan padaku, sebuah rekam adegan mengenai romantika seorang ibu dengan kedua anaknya.

Lama sekali bisa kutaksir usia bundanya, mungkin sekitar 35-45 tahun, masih terlihat begitu muda, tetap cekatan meski kulihat sambil menjaga 3 "gembol" barang bawaan. Dengan kondisi itu, tanpa pulasan make up dengan jilbab dan pakaian yang biasa saja, entah kenapa membuatnya justru begitu cantik.

Langit sudah menghitam, Bandung kini sedang dikaruniai rintik hujan dan cuaca dingin. Bocah perempuan itu masih terlelap. Wanita yang mendekap hangat bocah perempuan itu tak henti menciumi putrinya yang terlelap sembari terus terbatuk.

Ah, apakah itu yang disebut naluri keibuan? Sesuatu yang 'katanya' akan otomatis hadir ketika kita ditakdirkan menjadi seorang ibu. Akankah setiap wanita memiliki itu walupun punya latar belakang yang berbeda-beda? Membayangkan harus membersamai putra putri sepanjang hidupnya, membersamai setiap proses tumbuh kembangnya?

Terminal margahayu menjelang, sang ibu kehabisan cara untuk membuat si abang mau bangun. Disaat yang sama tangannya harus sibuk merogoh ponsel dari dalam tas, menggendong putri kecilnya, sembari memastikan 3 gembolannya bisa terangkut pulang.

Ah, Bukan hal yang mudah, sayang. Semoga Allah melapangkan hati hati kita, melunakkan hati kita, menguatkan kita dan membuat semua amal kita hanya tertuju untuk mendapat ridha-Nya..
Aamiin :')

"...Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur..."
-Qs. An-Nahl 16:78

Rabu, 12 November 2014
Padahal katanya sekarang hari Ayah Nasional

Wednesday, November 12, 2014

Saatnya Perhatikan Kembali Shalatmu

Ini ada kutipan yang insyaallah bisa jadi renungan kita terhadap shalat-shalat kita. Semoga bermanfaat

* * * * *

Shalat 60 tahun, tidak diterima
Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata,
“Ada seseorang yang mengerjakan shalat selama 60 tahun, akan tetapi shalatnya tidak diterima.” Lalu ia ditanya tentang orang tersebut, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Abu Hurairah berkata, “Dia tidak pernah menyempurnakan rukuk, sujud, berdiri dan khusyuk dalam shalatnya.”

Adapun ‘Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada orang yang sampai beruban memeluk agama Islam, tapi ia belum pernah menyempurnakan satu rakaat shalatpun demi mengharap ridha Allah.”
Lalu ditanyakan tentang hal tersebut, “Bagaimana hal tersebut bisa terjadi, ya Amirul Mu’minin?”
Umar berkata, “Dia tidak pernah menyempurnakan rukuk dan sujud dalam shalatnya.”

Shalat, tapi hakikatnya tidak melaksanakan shalat.
Berkata pula Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, “Akan tiba suatu zaman yang mana manusia sedang melaksanakan shalat, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidak melaksanakan shalat. Dan aku sangat khawatir jika zaman itu adalah zaman sekarang ini.”
Maka apa (yang akan Anda katakan) jika Anda datang kepada kami lalu melihat keadaan kami saat ini wahai Imam?

Merasa Sujud Sebenar-benarnya, tapi melahirkan dosa karena disibukkan oleh Dunia.
Berkata Imam al-Gazali rahimahullah, “Ada seseorang yang sujud dengan sebenar-benarnya sujud, mengira bahwa dengan melakukan hal itu ia telah mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, demi Allah, seandainya dosa sujud tersebut dibagi kepada seluruh penduduk negerinya maka mereka semua akan binasa.”
Lalu ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana bisa seperti itu?”
Imam Gazali menjawab, “Ia sujud di hadapan Tuhannya dengan kepalanya, akan tetapi ia sibuk dengan hiburan, maksiat, syahwat dan cinta kepada dunia.”

Sujud macam apakah ini?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
(( وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنِيْ فِيْ الصَّلاَةِ))
“Dan dijadikan kecintaanku ada dalam shalat.”

Demi Allah, pernahkah Anda menjadikan kecintaan Anda terhadap 2 rakaat shalat Anda?
Dan pernahkah Anda rindu untuk segera pulang hanya demi melaksanakan shalat 2 rakaat karena Allah?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya),
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 016).

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Belum genap empat tahun antara keislaman kami dengan turunnya ayat tersebut, akan tetapi Allah telah memperingatkan kami. Maka kami menangis karena kurang khusyuknya kami dan dengan peringatan Allah kepada kami.”
Maka pada saat itu kami keluar dan saling mengingatkan satu sama lain.
Kami berkata, “Apakah Anda tidak mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Belum tibakah waktunya bagi orang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” ….
Maka tersungkurlah salah seorang di antara kami lalu menangis atas peringatan Allah kepada kami…

Wahai saudara-saudariku!
Pernahkah Anda merasakan bahwa Allah memperingatkan Anda dengan ayat ini?
Janganlah Anda melihat kepada kecilnya suatu maksiat.
Akan tetapi lihatlah kepada kebesaran Allah yang Anda bermaksiat kepadanya.

Alih bahasa : Arif Ahmadi Yusuf
Diterjemahkan dari artikel berbahasa Arab

* * * * *

Peristiwa Peradaban (Khutbah Nikah dari Ust Anis Matta)

Pernikahan itu seperti kematian, ia tak dapat diprediksi namun wajib untuk disiapkan. Pernikahan itu seperti kematian, ia tak perlu di bicarakan namun ia pasti akan datang”

Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.

Ini bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencinta lalu mengucap akad. Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia.

Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif.

Sakinah’ bukan Cuma ‘tenang’. Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang artinya ‘diam/tetap/stabil’. Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai.

Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komperhensif.

Alqur’an menjelaskan: ‘kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya’. Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas.

Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. 

Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun terlahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera.

Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai.

Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban. 

[Khutbah pernikahan anak Ust.Tate Qomaruddin oleh Ust. Anis Matta]

Sumber : blog teh Lintang
:)

Tuesday, November 11, 2014

Konsekuensi dari Iman

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman," sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
--Qs. Al Ankabut 2-3

Ya, konsekuensi dari iman adalah ujian. Iman ada jenjangnya, surga ada tingkatannya. Ujian ada untuk mendewasakan, membawa kita pada jenjang yang lebih tinggi, pada tingkatan surga yang bisa diraih maksimal.

Allah tahu kemampuan hambanya. Kalau ingin naik tingkat keimanan, bersiaplah karena setanpun tak taggung-tanggung membuat kita lemah.

Selasa, 11 November 2014
Memaknai sepercik ayat Allah dari buku salim a fillah (bahagianya merayakan cinta) dan teteh hasri

:"

Menjadi Menantu Idaman

Resume kopdar#8
Komunitas to be wonderful wife
Ahad, 7 September 2014
Oleh Ibu Sinta Yudisia
(Ibu 4 orang anak, psikolog, penulis)

MENJADI MENANTU IDAMAN

Hmm.. Materi ini terdengar berat ya? Karena memang seringkali menjadi momok bagi perempuan di Indonesia ketika ia berposisi menjadi seorang menantu. Rasanya lebih mudah jika berbicara menjadi istri atau ibu idaman daripada menjadi menantu idaman. Tapi tenang saja, segala sesuatu meski tidak ada sekolahnya tetap bisa kita pelajari. Termasuk belajar bagaimana menjadi menantu idaman. Karena sejatinya hidup adalah untuk belajar  ^_^

Yang perlu diingat, kita hidup di Indonesia yang setiap peran tidak terlepas dari budaya ketimuran kita. Kita bisa mengamati perbedaan penekanan budaya dari sebuah film. Pada film2 India, misalnya, hatta diwarnai tarian dan nyanyian,semua tokohnya termasuk tokoh antagonisnya juga akan digambarkan bagaimana mereka berbakti  kepada orang tua. Begitu juga saat genre film tersebut action.

Pada film Korea,  hampir setiap filmnya menekankan hubungan  kekeluargaan, meski genre-nya ‘romantis’.

Sedangkan untuk film hollywood menekankan kebebasan pilihan hidup, sisi personal satu tokoh saja.

Nah tentu saja menjadi ‘menantu’ di Indonesia tidak bisa lepas dari budaya ‘ikatan kekeluargaan yang kuat’. Atau bosa diartikan, menjadi menantu perempuan di negara2 Timur atau di Indonesia ini sangat berat. Hehehe..

Untuk menjadi menantu, istri dan ibu memang tidak ada sekolahnya, seperti yg disebutkan di awal tadi, namun kita bisa belajar dengan sharing bersama orang lain.
Salah satunya dari nenek saya.

Saat itu saya pernah bertanya kepada Beliau. Nek, apa sih tipsnya biar bisa jadi menantu yang baik? Beliau menjawab :  kuncinya cuma satu :  SABAR.

Sabar di sini bukan berarti hanya pasrah, di injak-injak diam saja seperti sinetron kita yang hanya menangis saat teraniaya hehe. Bukan demikian, namun seperti kata tokoh politik Anis mata,
sabar adalah terus maju dengan beban yang ada dan mencari cara untuk mengatasinya.
Salah satu aplikasi sabar adalah jika mertua berbicara maka menantu MENDENGARKAN.

Banyak cara yang bisa kita lakukan terkait hal ini. Misal coba tanyakan kepada ibu mertua kita tentang  anak beliau, tentang keluarga, tentang masa lalu beliau saat bertemu dengan bapak mertua, dsb. Selain itu kita juga bisa mencoba konsultasi masalah resep. Meskipun kita bisa googling di internet, tapi percayalah, mereka akan merasa dihargai sekaligus senang saat dimintai petunjuk seperti ini ^_^

Biasanya ibu mertua ditakdirkan berbeda dengan kita dan ibu kita. Entah dari kebiasaan, kemampuan, dsb. Ini menjadi tantangan untuk kita agar bisa belajar dan beradaptasi menjadi menantu yang baik.

Tips kedua ialah mempunyai PRINSIP.

Untuk masalah yang prinsip misalnya pengelolaan keuangan, kita boleh tetap bertahan dengan keinginan kita hanya saja tetap menggunakan cara yang tidak merugikan salah satu pihak. Buatlah kesepakatan2.
Ingat, Karena anak laki-laki adalah hak ibunya sehingga ridho mertua akan mempengaruhi kehidupan dan kebarakahan keluarga kita.

Masalah keuangan adalah hal yang paling sensitif. Terlebih jika suami atau kita masih punya tanggungan membiayai adik2.
Buatlah kesepakatan suami istri mengenai nominal uang yang dialokasikan untuk membantu keluarga masing-masing. Takar sesuai kemampuan. Jangan berniat membantu tapi sampai kita sendiripun terlilit hutang karenanya. Takar sesuai kemampuan. Karena saat telah berkeluarga, akan banyak pengeluaran yg tak terduga dan harus segera diselesaikan, misal pengobatan saat anak sakit.

Sebaiknya saat masih bujang, wanita hendaknya rajin menabung, karena di masa kritis keuangan saat menikah nanti kita bisa membantu meringankan beban suami. Misal saat butuh uang untuk biaya kontrakan atau membeli rumah baru, dsb. Hal ini juga bisa meningkatkan harga diri kita di depan suami In syaa allah.

Di Indonesia, masih kental stigma bahwa jika ada sesuatu yg kurang benar dengan rumah tangga anak laki2nya maka mertua akan mempertanyakan bagaimana menantunya. Misal cucian baju tidak bersih, setrikaan tidak rapi atau bahkan kehabisan uang pasti akan ditanyakan bagaimana ‘istrinya’.
Masing2 kita pasti memiliki kekurangan, tak apa, tonjolkan saja kelebihan kita. Bisa jadi kita tidak jago dalam urusan mencuci, tapi kita mahir dalam urusan dapur. Tidak selamanya mertua akan melihat kekurangan kita, apalagi sampai membicarakannya di depan umum. Asal kita pun punya kelebihan yang bisa beliau banggakan dari kita, menantunya.

Tipa ketiga ialah SHALAT MALAM.

Ceritakan permasalahan kita kepada Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Terkadang ada permasalahan yang tidak bisa kita ceritakan kepada suami. Tapi kita bisa ceritakan kepada Allah. Jangan sampai dengan menceritakan masalah kita (tentang mertua) justru kita malah mengadu domba anak dengan ibunya.

Meski menjadi menantu merupakan momok bagi kita namun kita bisa terus belajar dengan cara menjalin komunikasi yang baik dengan mertua, membuat kesepakatan mengenai sistem keluarga bersama suami, dan sebisa mungkin segera mandiri, tidak serumah dengan mertua (kecuali alasan2 mendesak seperti orang tua sedang sakit dan tidak ada yg merawat, dsb).

Meski kalau harus serumah masih bisa disiasati dan mengalah untuk menang.
Yang akan diingat mertua bukanlah hal-hal besar yang kita beri namun justru hal- hal kecil yang sederhana namun penuh ketulusan dan perhatian.
Cari tahu saja apa yang mertua suka, dan berikan. Asal masih sesuai kemampuan.
Hubungi mertua setidaknya sebulan sekali dan tanyakan kabarnya, apakah sehat, sedang apa, masak apa dsb. Hal2 ringan dan sederhana yg bisa kita lakukan agar semakin akrab dengan mertua.

Q : bagaimana jika tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga calon suami ada di bawah kita? Bagaimana jika latar belakang agama kedua keluarga tidak sama?
A : pasti kita butuh belajar beradaptasi ya. Lihat kebiasaan2nya dan pelajari. Cari jalan tengah. Jangan terlalu memaksakan kebiasaan kita agar diterima langsung sekejap mata.
Untuk masalah perbedaan latar belakang agama, jangan terlalu menonjolkan sisi2 yang masih menjadi perdebatan. Banyak hal yang sama dan berjalan harmoni.

Q : bagaimana dengan mertua yang membanding2kan menantu?
A : bersiaplah untuk dibandingkan. Karena membandingkan antar menantu hampir pasti terjadi di kalangan mertua2 Indonesia. Kenali kelebihan, dan tonjolkan. Tak perlu berusaha mati2an menjadi sosok menantu idaman seperti harapan mertua. Bisa lelah lahir batin. Sehebat2 kita berusaha, pasti akan dibandingkan.
Saat mertua berbicara kepada kita dan membanggakan menantunya yang lain, di lain kesempatan bisa jadi kita juga akan dibanggakan di depan saudara ipar kita.

Q : jika kita posisinya masih sebagai calon menantu, apa yang bisa kita lakukan?
A : ingat harga diri, jangan terlalu sering berkunjung ke keluarga calon suami. Kalaupun berkunjung, jangan sendirian.

Q : bagaimana tekhnik komunikasi yang cantik dengan mertua, agar tidak membuat beliau sakit hati atau justru membuat kita jadi menantu durhaka? Misal mengkomunikasikan masalah hal2 prinsip yang tidak sepaham, tentang masalah kesehatan anak
A : bagaimanapun, menantu statusnya adalah inferior. Jadi jika ingin memberi nasehat, sebisa mungkin bukan dari lisan kita. Misal masalah asi eksklusif bagi bayi 0-6 bln atau masalah minum jamu2an setelah melahirkan, bisa kita siasati dengan mengajak beliau saat imunisasi/ periksa si kecil ke RS. Bisa kita tanyakan ke dokter terkait hal ini dan biarkan mertua kita mendengarnya langsung dari ahlinya.
Untuk hal2 yang khawatir syirik semisal hatus ada gunting di bantal anak bayi dsb, ikuti saja tanpa niat syirik sambil perlahan2 kita komunikasikan. Ada seni dalam berdakwah. Bukan dengan langkah2 ekstrim yang justru membuat subyek dakwah kita antipati.

Q : bagaimana dengan ide mengkomunikasikan masalah kita lewat lisan suami? Pasti lebih mudah berkomunikasi dengan anak kandung sendiri
A : ada kalanya bisa kita lakukan, ada kalanya juga sebaliknya. Jangan terlalu sering, kita usahakan dulu komunikasikan sendiri. Karena tipe komunikasi laki2 dan perempuan tidak sama. Misal kita akan mengkomunikasikan pola pengasuhan anak, ternyata bahasa yg dipakai suami krg tepat seperti : sudah deh bu, jangan ikut campur. Ini kan keluargaku. Ini anakku.
Hati2. Karena suami cenderung akan membela istri. Khawatir bahasa yang dipakai kurang tepat dalam mengkomunikasikan masalah yg sedang dihadapi..

Q : kalau mertua marah bagaimana?
A : orang timur suka orang yang sopan. Jangan bersuara lebih keras dari mertua. Jika mertua marah, diam dan dengarkan saja

Q : bagaimana kalau menitipkan anak pada kakek neneknya?
A : perlu diwaspadai, kadang kala kakek nenek juga bisa jadi ancaman karakter bagi anak. Mungkin aman dari sisi fisik, tidak akan dianiaya dsb, tetapi seringkali yang muncul adalah perbedaan prinsip dalam pola pengasuhan anak. Karena terlalu sayang pada cucu dan tidak mau repot akhirnya apa yang diminta sang cucu akan diberi. Bisa jadi juga karen faktor usia dan mereka telah lelah. Tanyakan kepada mereka sejauh mana kesanggupan mereka dititipi anak2 kita. Buat pembagian tugas. Sebaiknya di tahap golden age ( 0-5 thn ) anak memang berada dalam pengasuhan tangan ibu sendiri. Jika ingin berkarir di luar rumah bisa menunggu saat anak telah melewati masa golden age nya

-end-

Sumber : http://anikawida.wordpress.com/2014/09/

Menjadi Ibu Tangguh

Oleh : Ustadzah Habibah

Ibu dahsyat itu quwwatut tahammul (kuat dalam menanggung, menjalankan tugas, menjalankan amanah).

Tangguh bukan hanya perkara fisik, tp yg lbh penting adalah kognitif dan perasaan. Tangguh itu pantang mengeluh. Ini yang Rasulullah ajarkan saat Fatimah meminta pembantu karena lelah dengan pekerjaan rumahnya. Rasulullah tidak memberikan pembantu, tapi justru mengajarkan untuk lebih bersabar, kuat, dan ikhlas. Ibu hebat itu adalah yang mampu melaksanakan tugas dengan ikhlas dan hati yang riang.

CARANYA :
1.  Husnuzan billah
Selalu berbaik sangka pada Allah atas apapun yang Allah beri karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya.

■ sebelum nikah,
kadang ada yg punya perasaan takut dulu kalo nanti saat jadi ibu akan repot ngurusin anak, rumah, dll. Padahal mereka yang sudah menikah pun banyak yang menjalankan perannya sebagai ibu dengan bahagia.
Banyak bersyukur, maka akan lahir perasaan senang dan bahagia.

■ saat waktunya tiba akan menikah,
Pikirkan dengan matang apakah dia yang terbaik? Caranya: istikharah. Selalu libatkan Allah dalam setiap keputusan penting yang akan kita ambil.
*bahkan ustadzah cerita, ayahnya  istikharah sampai sebulan untuk mencarikan pasangan terbaik untuk beliau.
Serahkan keputusan pada Allah, karena Dia pasti memberikan yang terbaik untuk kita.

■ setelah punya anak,
Tetap husnuzan selalu, bagaimana pun anak kita, fisik maupun sikapnya. Ga perlu ngeluh anak nakal, dsb. Selalu optimis bahwa kita masih bisa mendidik mereka selama kita masih hidup. Karena An Najah (sukses) baru terlihat setelah kita meninggal.

2. Ilmu
Banyak-banyak belajar. Dari mana pun. Jangan hanya dari buku, karena itu hanya teori. Belajar juga dari ibu-ibu lain secara langsung. Misalnya lihat anak yang pinter, hafidz, nah tanya tuh ibunya, gimana cara mendidik anaknya. Terbuka dengan semua orang, bahkan dari yang berbeda agama pun insya Allah ada teladan yang bisa diambil.

3. Jaga fisik
Mulai dari sekarang, bahkan yang belum nikah juga. Mulai dari olahraga, makanan yang dikonsumsi, istirahat, dll. Investasi dari sekarang! Ini akan menentukan juga kekuatan fisik kita saat tua nanti. Ibu dahsyat kan pasti banyak yang harus diurusi, jadi musti kuat

Semoga bermanfaat

Sumber : http://anikawida.wordpress.com/2014/09/

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...