Thursday, June 1, 2017

Day 0 : Tantangan Komunikasi Produktif Bunda Sayang

Perkuliahan online Bunda Sayang dari IIP sudah dimulai sejak tanggal 29 Mei lalu. Materinya adalah tentang komunikasi produktif, bagi saya itu merupakan tantangan tersendiri.

Proyeknya harus dilakukan rutin setiap hari minimal 10 hari dan maksimal 17 hari, terhitung sejak tanggal 1 Juni hingga 17 Juni. Akan saya posting juga di sini, Insha Allah.

Inti dari materi komunikasi produktif ini adalah tentang kemauan kita untuk mengubah pola komunikasi. Diakui atau tidak, selama ini belum mempraktekkan pola komunikasi orang dewasa yang baik. Terkadang (atau sering) masih mengkomunikasikan banyak hal secara kekanakan, bukan lucu malah nyebelin.

Untuk diingat, bahwa fokus kita adalah perbaikan diri sendiri. Memperbaiki kualitas komunikasi kita. Tak perlu pusing dengan respon dari sekitar yang belum sesuai harapan, karena yang perlu kita pertanggungjawabkan hanya diri kita, cara kita. Berdoa, berpikir positif, lakukan yang terbaik, insyaallah Allah memberikan hasil terbaik.

Mengakui kesalahan sendiri itu kesannya mudah, tapi dalam percakapan, karena tidak mau merasa kalah biasanya, kadang tidak terlihat bahwa kita sedang mengakui kesalahan. Ujung-ujung nya malah bikin pertahanan diri yang justru ngga menyelesaikan masalah. Astaghfirullah.

* * *

Sebelum mulai, saya ingin mencoba membuat daftar tentang pola komunikasi saya yang harus diperbaiki. Saya buat ini sebagai langkah ke-0 untuk semacam assesment terhadap 5 kaidah komunikasi produktif (komprod) yang diberikan pada materi 1 ini.

5 KAIDAH KOMUNIKASI PRODUKTIF PADA ORANG DEWASA
1. CLEAR AND CLARIFY
2. CHOOSE THE RIGHT TIME ***
3. KAIDAH 7-38-55 ***
4. INTENSITY OF EYE CONTACT
5. I'M RESPONSIBLE FOR MY  COMMUNICATION RESULT *

1. CLEAR AND CLARIFY
Poin ini, menurut saya pribadi, bukan masalah utama saya. Selama ini saya termasuk orang yang kalau ngomong apa-apa harus jelas (clear). Saya juga terbiasa mengkonfirmasi lawan bicara saya (clarify). Problemnya justru karena saya terlalu berlebihan menuntut orang lain untuk harus jelas juga. Hihi. Mungkin karena saya butuh perhatian lebih saat berbicara, maka semuanya harus jelas. Wajar sih, tapi mungkin perlu dikurangi ya hehe.

2. CHOOSE THE RIGHT TIME ***
Jumlah bintang menunjukkan seberapa pentingnya saya memperbaiki poin ini. Hehe. Ya, ini problem kelas berat buat saya pribadi. Bagi saya, seluruh waktu saya sudah saya sediakan kalau pasangan mau ngobrol atau perlu sesuatu. Namun kenyataannya, pasangan bicara kita kan juga punya rasa lelah, sakit, kantuk dll hehe.
Kadang saya ngga bisa lihat sikon saat ingin ngajak/diajak ngobrol sama pasangan. Bagi saya, obrolan jenis serius atau bercanda bebas dilakukan kapan saja, tapi tidak bagi pasangan. Hehe.

Sepulang suami kerja, rasanya banyak yang ingin dibicarakan. Tapi realitasnya tentu saja beliau sudah lelah dan inginnya istirahat hihi. Bukan hal-hal keseharian saja, tapi tentang hal-hal penting yang memang perlu dibicarakan.
Kami perlu membuat kesepakatan waktu khusus. Pernah disepakati jam 2 pagi, tapi sering skip karena tidak bisa selalu bangun pukul 2.

Pemilihan waktu yang kurang tepat ini juga berdampak kurang baik, karena ketika saya lagi ingin ngobrol tapi suami cape dan menanggapi "seadanya", saya jadi ngambek. Haha (maune opo sih)

Akhirnya ngobrol nya nunggu inisiatif dari pasangan aja. Atau cari cara lain.

3. KAIDAH 7-38-55 ***
Ini problem besar saya yang kedua haha. Ketika kata-kata hanya memberi dampak 7%, intonasi 38%, bahasa tubuh lah yang menjadi penentu utama 55%. Ketika bibir tak mampu berkata, maka diam seribu bahasanya saya sudah mengartikan bahwa "Saya ngambek" hehe.

Problemnya muncul karena pasangan saya ngga suka banget kalau saya diem kaya gitu. Haha. Lebih baik ngomong dulu sedikit dan bilang kondisinya.

Mungkin di poin ini, proyeknya adalah tetap mengkomunikasikan (walau sedikit) kalau sedang ngambek. Habis itu baru diem lagi haha.

4. INTENSITY OF EYE CONTACT
Selama ini saya memegang betul prinsip ini, bukan masalah besar. Masalah yang muncul adalah karena saya menuntut pasangan untuk melakukan hal yang sama. Jaman gadget gini ya, mungkin itu problem semua orang. Mungkin nanti bisa membuat kesepakatan dan komitmen bersama.

5. I'M RESPONSIBLE FOR MY  COMMUNICATION RESULT *
Karena dari 5 kaidah masih ada big problem nya, maka poin ini masih jadi peer buat saya. Saya bertanggung jawab terhadap apa yang mau saya sampaikan. Membantu lawan bicara untuk paham maksud saya, mencari cara sebaik mungkin untuk menyampaikan pesan.

* * *

Alhamdulillah, sekian gambaran pola komunikasi (terhadap pasangan) saya di awal perkuliahan. Semoga allah karuniakan kesabaran dan ketangguhan untuk memperbaiki diri.

Kamis, 1 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
6 Ramadhan

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day 15

No comments:

Post a Comment