Saturday, July 8, 2017

Apakah Rohis Harus Diawasi?

Bismillahirrahmanirrahim.

Timeline facebook saya sedang ramai dengan berbagai berita yang viral. Salah satunya tentang Kemenag DIY (Kementrian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta) yang meminta sekolah untuk mengawasi kegiatan-kegiatan rohis. Menurutnya, itu perlu dilakukan agar kegiatan rohis tidak dimanfaatkan oknum yang tak bertanggung jawab, yang bisa menyebarkan paham-paham radikal.

Berita selengkapnya bisa dibaca disini, menurut saya pemaparan latarbelakangnya cukup jelas dan masuk akal. Apalagi menurut berita tersebut, sudah ada satu kejadian nyata, dimana beberapa anak sudah "dibaiat" oleh kelompok tertentu.

Menyusul informasi itu, menurut berita ini, Menag Lukman Hakim Saiffudin juga sepakat dan menghimbau kepada para pihak sekolah untuk lebih memperhatikan masalah ini.

Lalu, apa masalahnya?
Bukan dunia kalau tak pernah ada pro kontra. Ada yang menanggapi berita tersebut dengan menganggap Kemenag DIY terlalu berlebihan, ada pula yang mendukung. Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof. Din Syamsuddin justru mengatakan hal hal positif yang muncul dari adanya kegiatan-kegiatan rohis.

Menurut Opini Saya
Sejauh ini menurut saya, apa yang Menag sampaikan terkait pengawasan terhadap rohis itu hal yang wajar. Semacam bentuk perhatian orangtua terhadap anaknya. Pihak sekolah dan guru terkait memang perlu mengikhlaskan diri untuk lebih memantau aktivitas anak didiknya.

Hanya saja, jangan sampai bentuk perhatian dan kasih sayang itu membuat ruang gerak rohis di sekolah-sekolah jadi terbatas. Ibarat nila setitik rusak susu sebelanga, jangan sampai satu kejadian saja jadi membuat kita menggeneralisir semua.

Sebelum bergerak lebih jauh, kita juga harus menyepakati definisi radikal. Ketika seseorang teguh dalam memahami agamanya, itu bukan radikal kan?

Kita belum lupa dengan stigma negatif yang pernah diberikan kepada rohis, kan?  Entah rohis teroris atau rohis sesat, kini bertambah lagi rohis radikal. Stigma yang tak perlu, tapi membuat banyak anak rohis jadi merasa insecure karena para orangtuapun paranoid dengan stigma yang salah itu. Pengalaman yang sama ketika orangtua saya juga sempat begitu. Saya cuma geleng-geleng karena justru saat bergaul di lingkungan rohis, saya jadi punya filter berpikir yang lebih baik dari sebelumnya.

Memang tidak disangkal pula bahwa sekarang pun banyak kelompok-kelompok yang berupaya menguasai rohis-rohis di sekolah. Mungkin maksudnya baik, tapi justru mengganggu ketentraman. Pemikiran-pemikiran kurang baik pun juga bisa disusupi pada berbagai ekstrakurikuler lainnya kan?

Ya, inilah saatnya setiap ekstrakurikuler disekolah mendapat perhatian lebih :)

Saya rasa, kalau dalam setiap kegiatan rihlah (jalan-jalan ke alam), pelatihan kepemimpinan, majelis ilmu, olahraga, dan keputrian rohis selalu ada guru yang mendampingi, pasti anak-anak juga senang :) Saya hanya kasian sama bapak ibu guru kalau harus selalu ikut kegiatan rohis yang seabreg hehe.

Sama seperti ekstrakurikuler resmi sekolah lainnya, rohis punya relung tersendiri untuk membentuk karakter para siswa yang tak bisa didapat di dalam ruang kelas.

Jadi,
Apakah rohis harus diawasi?
Ya, Tentu saja!

Sabtu, 8 juli 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Yang punya temen adik adik rohis

#30dwc #30dwcjilid7 #day3

No comments:

Post a Comment