Saturday, April 15, 2017

Bertukar

Lelaki paruh baya itu tak berhenti menyapa setiap pengunjung masjid ini, termasuk kami. Perawakannya sedang, dengan pakaian taqwa sederhana memakai peci kecil berwarna putih. Bekas hitam nampak di sudut-sudut alisnya, wajahnya tak putih namun bersih.

Gaya berceritanya begitu menarik, meski kami tak berhenti kaget dan tetap waspada. Pembicaraannya sedikit memotong agenda kami. Sudahlah tak apa, kita lihat apa maksudnya. Ceritanya panjang lebar, tapi kucoba serap apa apa yang bermanfaat.

Dia berjanji memberikan sebuah informasi pada kami. Tapi, tunggu katanya. Sebelum bergegas masuk ke dalam masjid, ia memastikan kami akan tetap di selasar ini sampai ia selesai. Waktu duha, dan ia keluar melewati kami, membawa sebungkus keresek hitam. Lisannya tak berhenti berkata, sepertinya seluruh otaknya terus bekerja untuk mrmbuat kami yakin padanya.

Aku tetap berusaha sopan, dan sepertinya maksudnya kini sudah tercapai. Isi keresek hitam itu kemudian berpindah padaku, dan ia pulang dengan membawa selembaran uang kertas. Bertukar.

Ia berhasil.

Sabtu, 15 April 2017
Hajah Sofyamarwa

#30dwc #30dwcjilid5 #day5 #30dwchajah #squad2

Friday, April 14, 2017

Orang-orang yang Berhijrah (Dari Mekkah ke Madinah)


Sekarang ini banyak orang beramai-ramai mengajak kita untuk hijrah. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan hijrah? Apakah sekedar berpindah tempat? Bagaimana manusia-manusia terdahulu berjuang dengan hijrahnya? Udah pernah baca-baca tentang kisah hijrah dari Mekkah ke Madinah?

Setelah 10 Tahun periode kenabian Rasulullah SAW berjuang di Mekkah, tibalah saatnya untuk hijrah ke Madinah. Proses hijrah ini terjadi sampai 2 bulan lebih setelah bai’at aqabah kubra. Di bawah ini ada contoh kisah beberapa orang yang berhijrah pada masa itu, dan perhatikanlah baik-baik kondisinya.

1.       Abu Salamah. Abu Salamah adalah orang yang pertama hijrah, setahun sebelum masa bai’at aqabah yang kedua (kubra). Sudah mempunyai istri dan anak, namun berhijrah sendiri. Saat istrinya mau menyusul, keluarga sang istri protes. Bagi mereka hijrah adalah kepentingan Abu salamah saja, Tidak merasa masuk di akal mereka, mengapa mereka harus hijrah dari rumahnya di mekkah menuju tempat dimana mereka tak punya apa-apa (Madinah). Akhirnya sang istri di bawa oleh keluarganya. Tahu kondisi begitu, sekarang keluarga Abu salamah tersinggung, “kami tidak akan meninggalkan anggota keluarga kami bersama wanita yang diambil secara paksa”, maka setelah “berebut” akhirnya anak Abu Salamah dibawah keluarganya. Jadi Abu salamah hijrah sendiri, Istri kembali pada keluarganya, sedangkan anaknya di bawa keluarga suaminya.
Ummu salamah setama kurang lebih setahun, sehari-harinya menangis, tentu saja, sendirian berpisah dari suami dan anaknya. Pada akhirnya ada kerabat yang kasihan dan menyuruh Ummu salamah untuk ikut hijrah.

2.       Shuhaib bin Sinan Ar-Rumy. Menyerahkan seluruh hartanya pada kafir quraisy yang menahannya. “Dulu engkau datang kepada kami dengan keadaan hina dan sengsara. Pada saat bersama kami harta bendamu melimpah. Engkau mendapatkan apa yang engkau inginkan. Sekarang engkau pergi begitu saja dengan harta-hartamu itu?” begitu kata para kafir quraisy. Shuhaib menjawab : “Bagaimana jika aku serahkan hartaku, apakah kalian akan membiarkanku pergi?”. Dan kafir quraisy itu meng-iya-kan.
Kalau mau dipikir, harta benda kepemilikannya kan jelas, milik shuhaib. Hak shuhaib juga sebetulnya kalau mau membawa seluruh harta bendanya. Tapi demi bisa berhijrah ia rela meninggalkan harta nya, demi memperoleh keberuntungan yang dikatakan rasulullah.

3.       Umar Bin Khattab, Iyasy bin Abu Rabi’ah, dan Hisyam bin Al-Ash bin Wa’il.
Hisyam nya di tahan kafir quraisy. Iyasy dan Umar berhasil bertemu. Datang Abu jahal dan Al-Harits untuk menakut-nakuti Iyasy perihal ibunya yang bernadzar tidak akan menyisir rambut dan tidak akan berteduh dari sinar matahari selama tidak melihat iyasy. Iyasy pilu, Umar menguatkan, “Wahai iyasy, Demi Allah, jika mereka ingin memperdayaimu agar mau meninggalkan agamamu maka hindarilah. Demi Allah, jika ibumu telah tersiksa oleh kutu, pasti dia akan menyisirnya dan bila dia sudah tidak tahan dengan teriknya matahari, pasti dia akan berteduh.”. Tapi iyasy memilih kembali bersama Abu Jahat dan Al-Harits.
Yang berkesan buat aku adalah ketika umar menyuruh Iyasy untuk menunggangi unta Umar, padahal ibaratnya Umar udah ngasi nasehat dan Iyasy ngga mendengar nasihatnya, tapi tetep dikasi bantuan Unta. Semacam : “Bro, bawa nih mobil gue, buat elo”, baik banget ga sih?
Setelah itu ternyata Abu jahal memperdayai Iyasy dan mengikatnya. Saat sampai di Mekkah, Iyasy di bully “Wahai penduduk Mekkah, Beginilah seharusnya kalian memperlakukan orang-orang dungu itu”

Ckckck.. begitu 3 contoh orang orang yang berhijrah. Rela berpisah dengan keluarga, dengan harta, ditakut-takuti dan dipermalukan di depan umum. Maka hakikatnya hijrah bukan sekedar berpindah tempat. Perjuangan merelakan segala kemudahan dunia menjadi salah satu prasyaratnya.

Kalau kita coba mengingat, hijrah yang pertama dilakukan pada tahun ke 5 periode kenabian rasulullah SAW. Bedanya saat itu hijrah dilakukan ke Habsyah, dengan jumlah hanya sekitar 16 orang (12 laki-laki, 4 perempuan), dan yang melatarbelakangi adalah karena tekanan dan siksaan dari kafir quraisy begitu kejam. Pada masa hijrah itu, dakwah Islam masih sembunyi-sembunyi, hijrah untuk melindungi  diri dan mencari ketenangan. Sedangkan pada masa Hijrah di tahun ke 10, pemeluk Islam sudah jauh lebih kuat, sudah mengancam keberadaan kau quraisy dan ingin melakukan penyebaran Islam dengan lebih massif lagi.

Menarik ya? Mungkin kapan kapan kubahas lagi ya tentang hijrah pertama ke habsyah dan bagaimana menariknya adegan ketika Rasulullah yang akan pergi berhijrah.
Semoga bermanfaat!

Jumat, 14 April 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30DWC #30DWChajah #30DWCday4
#30DWCjilid5 #day4

_________________________________________________________________
Tulisan ini merupakan upaya pengikatan makna saya mempelajari sirah nabawiyah. Apa yang saya baca, saya ceritakan dan bagikan. Merupakan bagian dari postingan 30 Days Writing Challenge, jadi sangat menerima bila ada feedback berupa masukan, saran, kritik tentang penulisan ini. Terimakasih ya ! J

Referensi : Buku Shahih Sirah Nabawiyah (Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury)





Thursday, April 13, 2017

Hanya setengah




Kau menyuruhku mengambil bungkusan dari dalam tas mu, sesaat setelah kau sampai ke rumah. Bukan hal mewah, terkadang sekotak nasi makan siang yang belum kau makan, terkadang pula sekedar wadah kresek kecil berupa sepotong makanan. Iya sepotong, setengah dari yang telah kau makan tadi.

* * *
Aku jadi ingat sejak kecil dulu mamaku suka membawa bungkusan berisi aneka kue dari acara pengajian atau arisannya. Biasanya dibawa lengkap, dan pulang lalu diserbu oleh kami, keempat anak nya. "Mah, mau ini ya? Hehe." Tanpa benar benar ingat apakah mama juga mau atau tidak. "Sok aja." Begitu kata mamaku, walaupun semakin besar kadang aku menanyakan dulu, apakah beliau mau atau tidak. Yah, biasanya hanya sepotong kecil saja.

Bungkusan dari bapakku juga sering menjadi incaran kami. Apa saja. Meski kadang apa - apa yang bapak bawa adalah hal yang "berbeda", tapi toh bisa habis juga. Kami jadi banyak pengalaman, belajar memakan makanan yang "berbeda". Bapak pun seringnya berkata, "sok aja, buat kalian." Kami pun kembali lahap menyantapnya.

* * *
Nah, sekarang kembali pada kamu, suamiku. Pada bungkusan darimu yang berisi setengah dari apa yang sudah kau makan. Mungkin orang-orang bingung mengapa hanya setengah saja kau berikan padaku. Tapi aku begitu paham bagaimana rasanya menahan diri untuk tidak menghabiskan satu buah pisang aroma --misalnya, kesukaanmu. Bukankah lebih mudah menghabiskannya saja, dripada harus menyisakan setengah buatku? Ya, aku begitu paham rasanya. Sama sekali tidak sepele. Mencoba berbagi dengan sesederhana yang dipunya, mencoba mengingat yang dirumah ketika sedang berada di luar. Berbagi, biarpun sedikit.

Sudah cukup bagiku.
Barakallahu, lelaki imamku :)

Kamis, 13 April 2017
Hajah Sofyamarwa R.

* * *
Postingan ini terinspirasi dari seorang kawan yang juga sedang mensyukuri pasangan nya. Semoga kita semua dikaruniai Allah kemampuan bersyukur yang menyehatkan hati :)
Yang bersyukur, Allah tambahkan nikmat Nya :)

#30dwc #30dwcjilid5 #30dwchajah #day3

Wednesday, April 12, 2017

Rumah Belajar (ala-ala) Mamah Haidar

Rumah Belajar (ala-ala) Mamah Haidar

Takjub rasanya ketika Allah secara ‘spontan’ namun begitu lembut menuntunku pada apa yang telah kuniatkan. Padahal pemikiran itu belum lebih dari 2 minggu paska tugas pembuatan proyek sosial dari Program Matrikulasi IIP Batch 3.

PERPUSTAKAAN IMPIAN
Sudah sejak dulu cita-citaku ingin memiliki perpustakaan mini yang bisa diakses siapa saja termasuk anak-anak. Maka ketika uang sedang ditangan, rasanya ingin sekali memborong semua buku-buku yang ada di toko buku. Hehe. Setelah aku punya anak, baru kusadar ternyata selama ini aku seringnya membeli buku buat orang dewasa, bukan buku anak. Jadi koleksi buku haidar juga belum cukup banyak untuk dapat dijadikan koleksi perpustakaan anak. Tolong do’a kan saja ya semoga impiannya bisa terus diperjuangkan J
Diriku yang seperti ini, tak lepas dari pengaruh keluarga terdekat. Bapak, punya banyak koleksi buku-buku dan perpustakaan mini (meski saat kecil dulu rasanya tak banyak baca buku bapak), serta kakak perempuanku yang hobi juga beli buku dengan segala jenis buku-buku nya yang menarik (terimakasih ya). Dari situ aku berpikir, mudah-mudahan kesukaanku terhadap buku juga bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitarku. Adik-adik remaja masjid di dekat rumahku dulu juga sering aku sodorkan berbagai macam buku, kenapa? Karena semenarik-menariknya aku bercerita, tentu saja aku banyak kekurangan, banyak hal yang lebih menarik untuk dibaca sendiri oleh mereka, ya lewat membaca sendiri buku-buku itu.

Sekarang, dengan peranku sebagai warga baru yang juga sudah punya anak, aku berharap semoga apa-apa yang kupunya bisa dimanfaatkan pula oleh anak-anak di sekitar rumahku. It Takes a village to raise a child. Ya, anak-anak tetanggaku kan sangat mungkin menjadi teman anakku, maka memberikan lingkungan terbaik juga merupakan ikhtiarku untuk berbuat baik pada anakku.

RUMAH BELAJAR MAMAH HAIDAR
Hihi, jangan tertawa ya!
Sebetulnya aku dipanggil haidar dengan sebutan bunda, aku dan suami pun memang menyepakati untuk dipanggil Ayah-Bunda. Tapi secara alamiah, aku dipanggil mamah haidar sama anak-anak tetangga. Kadang juga mereka memanggil teh Fya, nama kecilku. Tak apalah, Rumah Belajar Mamah Haidar lebih ear-catching, bukan? Hehe.

Ini hasil perenunganku setelah tinggal sebagai warga masyarakat dan memiliki anak. Perpustakaan atau taman bacaan saja tidak cukup, aku berharap bisa mengadakan kegiatan-kegiatan menarik di rumahku. Rumahku sering dijadikan tempat bermain bagi beberapa anak tetangga. Mungkin karena mereka senang bermain dengan haidar. Pada awalnya mereka hanya sekedar main, membaca buku, menemani haidar. Namun di waktu yang sama, ketika aku mencetuskan rencana proyek RUMAH BELAJAR MAMAH HAIDAR, anak tetanggaku tiba-tiba bilang ingin belajar baca iqra padaku. Tak ada angin tak ada hujan, mereka sendiri yang minta karena merasa sudah cukup besar namun belum pernah lagi belajar iqra. Terharu :’)

Selama aku disini, aku seringnya sekedar bertegur sapa dengan tetangga, haha hihi yang seperlunya saja. Sebagai ibu yang punya anak balita manajemen waktuku masih belum baik, rasanya aku lebih banyak berkutat di rumah. Sampai aku berpikir, nanti kalau aku meninggal, tetanggaku akan bersikap seperti apa ya? Rasanya kok aku belum memberikan manfaat apa-apa selama disini.
Alhamdulillah kegiatan belajar iqra nya sudah berjalan selama sepekan di rumahku setiap sore. Sejauh ini sangat menyenangkan dan bikin aku jadi merasa harus belajar tahsin lagi. Coba cari-cari lagi buku materi tahsin, cari-cari video tahsin Ust Abu Rabbani, serta meminta suamiku mengoreksi bacaan qur’anku (bagian ini cukup dramatis mengingat gurunya adalah suami sendiri hihi).
Pada mukadimah kitab al-Mu’allimin karya Ibnu Sahnun, disebutkan bahwasanya al-Qadhi Isa bin Miskin membacakan Al-Quran kepada anak-anak dan cucu-cucunya, ‘Iyadh berkata “Setiap habis ashar, dia memanggil kedua putrinya dan putri saudaranya untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan kepada mereka. Hal ini juga dilakukan oleh penakluk Shaqliyah, Asad Ibnul Furat kepada putrinya yang akhirnya memiliki pengetahuan sangat tinggi.
Disadur dari kitab Tarbiyyatul Aulad (2/167) yang kukutip dari buku Prophetic Parenting hal. 334.

Kapan seorang anak belajar Al-Qur’an?
Saat ini muridku baru 5 orang, usianya sekitar 4 SD (2 orang), 2 SD, 5 tahun, dan 4 tahun. Namun yang paling serius adalah yang sedang belajar iqra 1, yang sudah bisa mengaji al-qur’an baru sekedar menyimak temannya saja  dan yang lainnya meramaikan :D). Aku jadi berpikir, mulai usia berapa ya seorang anak harus diperkenalkan dengan iqra dan al-quran?

Ibrahim bin Sa’ad al-Jauhari mengatakan, “Aku melihat seorang anak berusia empat tahun dibawa menghadap al-Ma’mun. Dia hafal al-Qur’an dan pandai ilmu filsafat. Hanya saja kalau lapar, dia menangis.”

Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman al-Ashbahani mengatakan : Aku hafal Al-Qur’an pada usia lima tahun. Aku dibawa menghadap Abu Bakar Al-Muqri untuk memperdengarkan bacaanku. Saat itu aku masih berusia empat tahun. Sebagian yang hadir mengatakan, “Tidak usah didengar bacaannya. Dia masih terlalu kecil.” Ibnul Muqri berkata kepadaku, “Bacalah surat at-takwir!” Aku pun membacanya dengan baik. Kemudian orang yang lainnya mengatakan, “Bacalah surat al-Mursalat!” Aku pun membacanya tanpa salah sedikitpun. Ibnul Muqri berkata, “dengarkanlah bacaannya. Nanti biar aku yang bertanggungjawab.”

Abu Ashim mengatakan, “Aku membawa anakku menghadap ibnu Juraij. Anakku saat itu usianya belum mencapai tiga tahun. Dia belajar hadist dan al-qur’an.” Abu ‘Ashim mengatakan, “Tidak apa apa mengajari anak  seusianya hadits dan Al-Qur’an.”

Dikutip penulis dari Al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah, karya al-Khathib al-Baghdadi, hal 116-117, cetakan ggmesir, dalam buku Prophetic Parenting hal 342.

Ternyata bahkan sebelum usia 3 tahun ya.. Proses lainnya coba kubahas dalam postingan lain ya!

* * *
Aku tahu mungkin hal yang kita lakukan kadang begitu terlihat sepele, tapi Aku yakin, kalau hal “sepele” itu tidak kita lakukan, bisa jadi akan ada yang  tak mendapat manfaat. Jangan berhenti beramal ketika merasa hal kita lakukan tidak keren, tidak besar, tidak hebat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat?
Semoga tulisan ini ada manfaatnya ya, kalau kalian punya proyek apa di daerah tempat tinggal kalian? Share ya di kolom komentar ^^

Rabu, 11 April 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30DWC #30DWChajah #30DWCday1
#30DWCjilid5 #day1

928 Words

Tuesday, April 11, 2017

Apakah Kegiatan Baca-Tulismu Sudah Bermakna?




Apakah Kegiatan Baca-Tulis mu Sudah Bermakna?
(Sebuah Refleksi dari Target Diri, dan Pembelajaran Bermakna dari Pak Hernowo)

Apapun yang anda baca, selayaknyalah Anda kemudian melanjutkan “pengikatan”, alias menuliskan pemahaman Anda atas apa yang Anda raih dari kegiatan membaca anda.” 
--Hernowo

Komitmen pribadi yang saya buat di bulan januari lalu untuk membaca 1 buku setiap pekan, hanya berjalan baik selama 2 pekan. Komitmennya adalah membaca 1 buku dalam 1 pekan, kemudian meresensi/mereview nya. Namun yang terjadi, saya berhasil melakukannya 2 kali saja di awal, kemudian selanjutnya sekedar membaca buku yang ingin dibaca saja, random, tanpa menuliskannya. Hingga saat ini (bulan April 2017) saya belum benar-benar menamatkan sebuah buku pun. Kalau boleh dinilai, keberhasilan targetnya baru 14% (sukses 2 dari 14 pekan). Dan kalau dilanjutkan tanpa evaluasi, boleh jadi akan tetap tak bertambah sampai di penghujung tahun. Mari jadi rakyat yang berkontribusi meningkatkan indeks membaca di Indonesia. Hehe

Sebetulnya mengapa di 2 pekan pertama itu saya bisa berhasil, adalah karena:
(1)    Menentukan target baca di awal bulan (misal 4 buku)
(2)   Tentukan judul buku apa yang ingin dibaca (tulis lengkap)
(3)  Bawa selalu buku itu kemanapun pergi, membaca nya dan lekas menandai hal menarik (bersama stabilo, pulpen, post it, atau kalau perlu buku catatan khusus)
(4)    Sambil membaca sambil merangkai draft tulisan.
(5)    Saat waktunya menyelesaikan tulisan, hanya butuh waktu khusus, dan selesai!
Faktor kegagalannya ngga perlu dibahas ya, di bulan pertama kurang menjaga konsistensi, dan di bulan berikutnya, tidak menjalankan step 1 yakni membuat target. Otomatis keempat step dibawahnya juga tidak jelas :))

Pak Hernowo, dalam bukunya Vitamin T mengatakan bahwa, sayang sekali bila kita tidak langsung menuliskan (mengikat) bergeraknya pikiran kita saat membaca. Pikiran kita yang berubah akibat proses membaca, kemungkinan besar jadi hilang, dan terbuang percuma. Hilangnya pemikiran berharga kita itu (sebut saja inpirasi yang datang –red), akan tertimpa oleh pikiran baru yang mendesak, yang mungkin sebetulnya tidak lebih berharga dari apa-apa yang sudah kita baca. Kemungkinan kedua, lanjut pak hernowo, adalah belum terbiasa nya diri kita untuk mengikat makna setelah membaca buku, sehingga kita jadi merasa berat untuk melanjutkannya ke kegiatan tulis menulis (mengikat) hal berharga yang tiba-tiba kita dapatkan.

Sering begitu kah? Sayang ya, apalagi di era digital dan informasi semacam ini, kita dibombardir berbagai info, dan seharusnya kita punya waktu untuk bisa memasukkan pemahaman pada pikiran kita dengan lebih baik.

Latihan Diri agar mampu melakukan proses perekaman (mengikat makna) secara akurat:
1.       Mengikat Makna dengan Membuat semacam catatan harian.
Biasakan diri menulis secara cepat dan bebas, bisa dengan kertas atau di handphone.
Kemampuan ini perlu dilatih secara perlahan dan tidak terburu-buru, karena kalau tidak dicicil kegiatan menuliskan itu jadi terasa seperti beban, berat, dan memakan waktu. Padahal kalau setelah membaca segera menuliskan yang didapat, semuanya terasa ringan.
Tidak perlu memperdulikan struktur kalimat yang berantakan, tulis saja.

Manfaat kegiatan membaca lalu menulis :
a.       membantu kita menangkap gagasan hebat yang berkelebatan bagai kilat setiap saat.
b.      Kegiatan membaca kita juga jadi lebih efektif, berdampak pada pemerolehan “mata baru” yang nyata.

2.       Membaca dan Menuliskan PIKIRAN, bukan sekedar HURUF
Apa bedanya ? Hanya membaca huruf akan mengakibatkan kemalasan, sementara membaca pikiran pengarang di buku yang kita baca dapat menggerakkan pikiran kita.
“Apabila seorang pengarang tidak mampu menyampaikan gagasannya lewat bahasa tulis secara bagus, ada kemungkinan dia belum pernah atau jarang berlatih menuliskan pikirannya. Seorang dikatakan berhasil menuliskan pikiran apabila dia rajin menuliskan pikirannya setiap hari.”

Saran pak hernowo, saat menuliskan pikiran, gunakan kata ganti orang pertama, AKU. Mengapa? Tulisan kita menjadi berisi diri kita sendiri, dan bahasa yang tampil di kertas atau layar komputer pun menjadi bahasa khas milik kita. Huruf yang kita susun, kata, kalimat, alinea, semua jadi menggambarkan pikiran dan perasaan kita sehingga pada akhirnya kita bisa menemukan diri kita.

3.       Kita dapat merumuskan ukuran sebuah tulisan yang baik dan menarik itu seperti apa
Sebuah tulisan yang dapat menampung gejolak pikiran si penulis adalah tulisan yang ‘bertenaga’. Artinya sesuatu yang mampu menggugah dan berkemungkinan besar mengubah diri penulis dan diri pembaca.
Ya, proses menulis yang baik adalah ketika kita benar-benar mengupayakan untuk bisa berkomunikasi dengan diri kita sendiri lewat tulisan-tulisan yang kita buat setiap harinya. Menurut pak hernowo, Kita harus bersungguh-sungguh menggali inner-self (diri-lebih dalam) dan bersabar untuk terus memperbaiki tulisannya, agar kita sendiri dulu yang memahaminya, baru orang lain.

Pesan terakhirnya, tulisan yang baik adalah tulisan yang kaya gagasan. Gagasan itu bisa didapat dari pengalaman yang terjadi di diri sendiri taua dari buku-buku karya penulis besar yang memang sudah “bergulat” dengan proses menuliskan pikirannya.

Jadi, apakah proses membaca dan menulis yang kita lakukan selama ini sudah bermakna untuk kita? Apakah sudah membuat kita menemukan diri kita? Apakah kita bisa menangkap gagasan-gagasan dari seorang penulis yang kita baca bukunya? Apakah kita sudah benar-benar menuliskan pergulatan pikiran kita?

Mari membaca (pikiran) dan menuliskan (pikiran) ! :)
Semoga bermanfaat!

Selasa, 11 April 2017
Hajah Sofyamarwa R

#30DWC #30DWChajah #30DWCday1
#30DWCjilid5 #day1

__________________________________________________________________________
Tulisan ini merupakan refleksi dari targetan yang pernah saya buat, ditambah sedikit rangkuman pengikatan makna dari salah satu bab dalam Buku Vitamin T “Antara membaca-Menuliskan Huruf dan Membaca-Menuliskan Pikiran”
Gambar ilustrasi bakground diambil dari picarts, diedit dengan aplikasi phonto.

789 Words

Menjadi Fighter di 30 Days Writing Challenge #30DWC



Bismillah
Insyaallah selama 11 April 2017 - 9 Mei 2017 menjalani masa 30 Days Writing Challengr nya mas Rezky Firmansyah bareng temen-temen KMO inspiratoracademy.

Semoga istiqomah dan bisa menulis dengan lebih terarah ^^

#30DWC #30DWCJilid5 ##30DWCSquad2  #30dwchajah

Monday, April 10, 2017

Hadiah dari Bentang Pustaka melalui Giveaway ophiziadah.com


Alhamdulillah sekitar 3 bulan lalu dapat rejeki 2 buah buku dari bentangpustaka ketika saya mengikuti giveaway yang diadakan mba ophi ziadah (ophiziadah.com). Saat itu syaratnya tidak terlalu sulit, membaca postingan-postingannya, memberi respon berupa komen, dan memberikan alasan kenapa saya ingin mendapatkan buku Melihat Dunia.

Ini komentar saya pada waktu itu, sekitar bulan Juli 2016 tanggal 26.

Kenapa aku ingin mendapatkan Buku Melihat Dunia?
Saya adalah ibu baru yang masih perlu belajar menjadi ibu. Kutipan kutipan dari postingan mba ophi bikin saya penasaran dengan keseluruhan isi bukunya. Basic nya saya doyan banget sama buku, tapi saya juga jadi tertarik karena baru kemarin lusa "ngga sengaja" ketemu bu yanti nya di sebuah acara diskusi parenting. Beliau sangat vokal dan menyemangati para ibu2 yang ada.
"Syukuri setiap hal kecil yang kita lalui sekarang, karena nantinya kita akan begitu rindu, dan sadar bahwa hal itu tak akan terulang." Kalimatnya terlihat klise, tapi akan beda kalau melihat sendiri bagaimana bu yanti mengungkapkannya :)

Saya ingin membaca habis bukunya, menyerap hal hal terbaik dan semangat ketangguhan beliau, untuk saya praktekan sebagai ibu. 

Saya ingin tahu bagaimana rasanya dikaruniai anak yang gifted, serta bagaimana menyikapinya. Saya juga ingin tahu bagaimana cara beliau istiqomah mengungkap keluarbiasaan anaknya, sementara kadang dunia mengatakan anak kita "beda".
Alhamdulillah.

* * * *
Setelah bukunya sampai, ternyata saya mendapat 2 buku : Melihat dunia dan The magic of tidying things (ini katanya bonus yeay alhamdulillah)
Insyaallah nanti ada sedikit ulasan dari kedua buku itu ya ^^

Senin, 10 April 2017
Hajah Sofyamarwa Rachmawati

Saturday, April 8, 2017

Kamu Istri yang Pundungan atau Baperan? Coba Baca Ini.

Merasa jadi istri yang baperan, pundungan? Coba baca ini ya. 

“Kehidupan setelah menikah itu bukan untuk menuntut hak, tapi untuk menjalankan kewajiban. Perjanjian kita hakikatnya sama Allah, bukan sama pasangan kita. Pada akhirnya kan yang dihisab adalah sejauh mana kita berikhtiar menjadi yang terbaik, menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya, bukan sekedar menuntut hak apa saja yang sudah kita dapatkan.”

Semoga Allah merahmati seorang ustadz yang memberikan pernyataan itu dalam ceramahnya di sebuah acara TV Damai Indonesiaku. Saya bahkan tidak tahu namanya, sekedar tak sengaja mendengar sesaat sebelum saya menjemur pakaian di siang hari.

Tapi bagi saya itu pukulan telak. Jleb!

Setelah menikah, muncul pertanyaan dalam diri saya, kenapa saya itu begitu pundungan? Hehe. Iya, saya sendiri juga heran. Rasanya ko aneeh sekali. Namun kemudian saya berpikir mungkin itu karena adanya kesenjangan antara harapan-harapan kita sebelum menikah dengan realita yang ada setelah menikah. Percayalah insyaallah pasanganmu saat ini memang sudah yang terbaik yang Allah berikan, hanya saja mungkin kau yang belum memahaminya. Memahami dirinya, memahami formulasi hubungan antara kalian. Maka benarlah nasihat ini : sabar dan syukur.

Kehidupan semakin menarik ketika Allah mengamanahkan kita seorang anak. Muncul lagi konflik antara ekspektasi terhadap pasangan, dengan realita yang ada. Padahal pasangan kita sudah memberikan yang terbaik yang ia bisa. Dari situ saya juga semakin bertanya-tanya, “Ko saya pundungan ya? Ko gampang baperan ya? Ko rasanya ada ganjalan ya?” Introspeksi pun harus dimulai.

APA YANG SALAH YA?
1.      Kurang ibadah
2.       Kurang ikhlas
3.       Kurang ilmu
4.       Kurang sabar
5.       Kurang syukur
6.       Kurang deket sama Allah
Astaghfirullah.  Banyak kurangnya :( 

Realitanya memang ada jenis-jenis manusia yang belum baik dalam menjalankan perannya sebagai suami/istri, namun ketika kita belum bisa lapang dengan yang terjadi, menurut saya memang hal itu yang sering terjadi. Dan anehnya (namanya manusia), setelah tau penyebabnya boleh jadi ngga bisa langsung bener-bener bertobat. Mungkin ada ikhtiar memperbaiki kualitas ibadah, perbanyak, cari ilmu, dengerin kajian-kajian, berusaha ikhlas, dll. Tapi ya hidayah kan Allah yang beri, jalannya bisa dari mana aja.

Contoh kesenjangan antara harapan dan kenyataan:

Pundungnya saya tuh dulu suka diem aja. Padahal suami ngga suka saya diem sambil pundung. Padahal saya kalo pundung emang diem. Gimana itu ? Saya ngga mau ngalah karena merasa itu cara pundung saya. Tapi disisi lain, kan kita ingin suami seneng, masa hal yang ngga disukain malah dipiara? Pokonya waktu itu pusing deh saya hehe.
Saya kalau ngerasa ngelakuin kesalahan akan nanya ke suami berkali-kali biarpun dia udah jawab “Ngga apa-apa”. Sementara suami terganggu karena saya nanya berulangkali dan ngga percaya kalau beliau beneran ngga apa-apa.
Di sisi lain, saya kalau pundung justru pingin ditanya-tanya, malah suami Cuma nanya sekali, dan ketika kita bilang ngga apa-apa, mereka akan berhenti bertanya. Padahal saya maunya ditanyain terus haha.
Keduanya melakukan hal yang sebagaimana ia ingin diperlakukan. Berita baiknya, mengubah habit perlu waktu ya ngga bisa instan.Remeh ya problemnya? Tapi ya begitulah.

Nah, hal menarik yang saya pribadi syukuri adalah, ketika dapat  tausiyah dari ustad itu (yang bahkan saya ngga tau siapa), saya semacam dapat pencerahan.

“fokus pada kewajiban, bukan menuntut hak.”

Semenjak itu, bersamaan dengan tekad yang udah saya sampaikan juga ke suami bahwa saya akan woles dan ngga baper berlebihan, mode pundung udah ngga pernah saya lakuin lagi, beneran. Ini baru berjalan sekitar sepekan sih, hehe. Tapi Alhamdulillaaaah banget, lebih ringan.

Pelajaran yang bisa saya ambil:
1.       Fokus sama kewajiban diri, bukan menuntut hak
2.       Hidayah bisa datang dari siapapun bahkan dari yang ngga kita sangka

Sekian dari saya, tulisan ini sama sekali bukan untuk menggurui, semata-mata dibuat sebagai dokumentasi dan pengingat pribadi, dan syukur-syukur kalau bisa bermanfaat buat yang membaca. Semoga semakin dikuatkan dalam beraktivitas hanya karena Allah.
Sharing ya mak, cara ngatasin kebaperan dan kepundungannya ? hehe

Hajah Sofyamarwa R
Sabtu, 8 April 2017

*Pundung itu dalam bahasa sunda, artinya kurang lebih sakit hati karena tersinggung, mudah tersinggung.


Wednesday, April 5, 2017

Rahasia Menulis Produktif dari Sang Penulis 12 Buku dalam 5 tahun, Rezky Firmansyah


Baru dua hari ini saya melihat wajah beliau dalam poster di sebuah akun instagram kepenulisan. Rezky Firmansyah, seorang yang sudah produktif menghasilkan 12 buku dalam usia nya yang relatif masih sangat muda, 23 tahun! Malam ini saya berkesempatan menyimak sharing dari beliau via grup Whatsapp KMO Inspirator Academy 1. Dari cara penyampaian beliau, yang saya lihat beliau orangnya simple dan to the point. Kalau mau dibilang “galak” mungkin bisa karena ngga banyak basa-basi, tapi sebetulnya tegas, dan menurut saya mungkin itulah salah satu karakter yang bikin beliau bisa seperti sekarang ini. Istilahnya kalau orang udah fokus dan komitmen pada suatu hal, jangan berani lawan hehe. Menurut saya orang seperti ini cocok sebagai mentor bagi orang yang “lenjeh-lenjeh”. hehe Wallahu 'alam sih perkenalan baru sebatas sebagai audience dalam grup whatsapp.

Perlu diketahui, saat ini beliau masih berkuliah, mengerjakan skripsi, bisnis, berorganisasi, dan menjabat sebagai Presiden Badan Legislatif Mahasiswa. Masih jomblo, dan sangat produktif. Sharing malam ini adalah cerita seputar awal mula kisahnya dalam dunia kepenulisan dan rahasia beliau menjadi penulis produktif di usia muda.  Beberapa topic dan hasil tanya jawab saya sarikan dalam bentuk tulisan yang sudah saya gubah agar lebih megalir, to the point dan mudah diambil intinya.

* * * * *

Kiprahnya dimulai 5 tahun lalu dari tahun 2012, ketika beliau masih duduk di bangku SMA kelas 12. Beliau bersama teman-temannya memikirkan kenangan terindah bisa mereka berikan saat momentum perpisahan, maka terbitlah sebuah buku antologi yang berjudul Admiral : Generasi, Perjuangan, dan KeajaibanTak sedikit yang meremehkan nilai sebuah buku antologi, “Apa istimewanya?”, namun respon kitalah yang akan membedakannya. Bagi beliau yang merasa masih sangat pemula dalam dunia kepenulisan, momen terbitnya buku pertama benar-benar sangat bermakna. Dari situ ia semakin ingin terus berkarya, dan tekadnya dibuktikan dengan terbitnya buku yang berjudul What Amazing You! Dan diterbitkan oleh penerbit skala nasional Elex Media Komputindo. Bayangkan, anak baru lulus SMA, sudah bisa menerbitkan buku skala nasional, Keren apa keren banget? Begitulah awalnya hingga saat ini beliau aktif terus menerbitkan karyanya satu persatu, termasuk buku ke 9 yang terbit di bulan Februari 2017 lalu yang berjudul “Jomblo, Mantan & Masa Depan”. Buku terbarunya yang ke 12 nya ini insyaallah akan terbit di bulan April, judulnya “Inilah Capres (Catatan Presiden) Pilihan”, Memaknai Momentum Sertijab Organisasi.

Kalau mau kita perhatikan, Mas Rezky berhasil menerbitkan 12 buku dalam 5 tahun (2012-2017). Artinya kalau kita pukul rata,  minimal dalam setahun berhasil menerbitkan 2 buku, ada pula yang 3 buku! Mungkin banyak dari kita yang punya hasrat untuk bisa sekali seumur hidup menerbitkan buku, tapi tak kunjung terbit karena tak kunjung memulai, ada? *cung* Kira-kira supaya bisa produktif gitu apa ya rahasianya?


INI RAHASIANYA

Bangun Kebiasaan Menulis!
Memulai dengan menulis sekarang juga, menulis apapun, bebas. Tak perlu banyak Tanya, tak perlu takut tulisan jelek, tak perlu takut dikritik.
Kalau bingung ide? Ide menulis bisa apa saja. Bahkan saat ngga ada ide, itupun bisa jadi ide. Entah menulis prosa, puisi, atau artikel tentang itu.

Hal ini pula yang menjadi spirit awal Mas Rezky Membuat Program 30DWC (30 Days Writing Challenge). Membangun kebiasan menulis secara rutin selama 30 hari. Outputnya bukan menulis buku, lebih ke komitmen kita untuk meluangkan waktu untuk menulis rutin selama 30 hari. Kalaupun ada tulisan yang bisa dibukukan, sifatnya antologi. Dari naskah dan penulis terpilih.
#0DWC ini juga program berbayar, karena setiap impian selalu ada perjuangan. Harapannya tidak menganggap remeh, dan bisa merasakan esensi perjuangannya


Sesi Tanya Jawab 

Cara Mendapat Inspirasi untuk menjadi penulis produktif
1.      Saat dapat ide, segera dicatat, catat saja keywordnya. Saat ada waktu lowong, bisa langsung dikembangkan.
2. Menulis hampir setiap hari, bahkan pernah nulis artikel 121 hari nonstop di rezkyfirmansyah.com, saat momen 30 Days Writing Challenge Jilid 1 (Oktober 2015-Februari 2016). Kalau per hari nya tergantung kondisi. bila sedang ada naskah akan lebih dari biasanya.

Kategori dalam Blognya (rezkyfirmansyah.com)
1.       Love & Relationship
2.       Passion Writing
3.       Refleksi Diri
4.       Creative Thinking
5.       Indonesia lebih Baik

Supaya stabil mood?
Jangan jadikan jomblo sebagai alasan, jomblo harus produktif dan inspiratif. Kalau masih banyak alasan ngga mood dll, ngga usah nulis, penulis ngga butuh alasan.

Beberapa Penulis Buku yang Menginspirasi :
Sering baca buku non fiksi. Inspirasi, pengembangan diri, motivasi.
Membaca buku yang bahasanya mengalir
1.       Ippho Santosa
2.       Bong Chandra (momentum dan pola pas nulis di awal)
3.       Pandji Pragiwaksono (tema nasionalisme dan Indonesia lebih baik)
4.       Dedy Dahlan (Bahasa yang nyantai)
5.       Rene Suhardono (kretivitas)
6.       Yoris Sebastian (Kreativitas)
7.       Brili Agung (Visi Menulis)

Cara menulis dengan alur yang baik?
Buat outline

Cara mencari ide?
Cari aja, dunia luas, jangan banyak alasan.
Bisa juga dengan mencari inspirasi stalking ke tulisan peserta 30DWC lain
Stalking mantan.. (bercanda) Apapun bisa jadi inspirasi, buktinya bisa jadi Buku. “Mantan tidak bisa dilupakan, melainkan dilepaskan. Lalu pelajarannya digunakan di masa depan.”

Bingung milih tema yang menarik?
Mulai dari kegelisahan yang kita rasakan.
Jangan banyak mikir dan perfeksionis.
Ga ada yang namanya tulisan sekali tulis langsung bagus.

Cara Menggali Ide supaya bisa berkembang dan tulisannya bagus
Gunakan jubah kreator, baru editor. Cek vlog terbaru di @rezky_passionwriter

Cita-cita terbesar dalam dunia kepenulisan
Nulis buku nikah bareng istri

Pesan terakhir :
Intinya jangan banyak alasan. Kita punya waktu 24 jam, tapi ngga ada yang punya waktu 24 jam untuk nulis. Luangkan waktu untuk menulis, bukan menulis di waktu luang.

* * * * *

Sekian sharing saya tentang rahasia sukses dan kisah permulaan Rezky Firmansyah menjadi penulis. Sengaja saya buat dalam bentuk artikel agar lebih mudah membacanya dan mengambil poin pentingnya. Pelajaran bagi saya pribadi, kita perlu memanfaatkan sebuah momentum untuk dapat melesat mencapai impian kita. Percaya pada mimpi kita, pada momentum yang mungkin menjadi batu loncatan kita bergerak maju. Sukses itu meninggalkan jejak, maka jangan gengsi belajar dari ahlinya, ikuti kebiasaan baiknya. Buat keputusan, mau maju terus atau beralasan terus.
Dan dalam belajar, jangan lupa adab menuntut ilmunya juga ya, Semangat!

Semoga bermanfaat dan dapat diambil pelajarannya :)
Salam!

Hajah Sofyamarwa R


30 Days Writing Challenge bersama Rezky Firmansyah.
(sumber : Akun Instagram @inspiratoracd )

Kesan Mengikuti Kuliah Matrikulasi IIP Batch 3


Aliran Rasa Usai Menyelesaikan Matrikulasi IIP Batch 3
By Hajah Sofyamarwa Rachmawati

Kalau boleh jujur, sebetulnya tidak banyak perubahan yang saya alami atau lakukan selama 9 Pekan mengikuti kelas matrikulasi. Aktivitas saya seputar membaca materi, mencoba memahami materi dengan menuliskan ulang materi pada buku, mengerjakan NHW yang seringnya diketik menjelang deadline, serta membaca review NHW kemudian memposting nya pada blog pribadi. Alasan kuat saya mengikuti Matrikulasi IIP di batch 3 ini adalah untuk mempelajari pondasi-pondasi penting yang harus diketahui seorang perempuan terkait perannya sebagai istri dan ibu. Kita semua tahu bahwa Jurusan Ilmu Per-Ibu-an belum ada di bangku perkuliahan kan?

Di awal pengerjaan NHW (1 dan 2) saya masih sempat “berjalan-jalan” cari inspirasi, membaca NHW para peserta lain. Terinspirasi sekaligus terintimidasi sebab seperti mencoba memakai sepatu yang terlihat menawan, namun belum pasti cocok dan nyaman. NHW berikutnya sudah menyadari bahwa jalan hidup setiap orang berbeda maka prosesnya pun akan berbeda. Fokus pada diri sendiri namun kekurangannya adalah belum yakin apakah tugasnya sudah memenuhi standar yang diharapkan dari masing-masing tugas. Saat mendengar bahwa ada peserta yang begitu berhasil mengerjakan NHW bersama suami, saya bahkan “iri” dan seolah malah tidak bersyukur dengan berbagai dukungan yang sudah suami saya lakukan, masih kurang terus rasanya. Padahal nyatanya, Matrikulasi ini memang utamanya untuk diri pribadi, dukungan suami sebagai pelengkap saja. Saat menuliskan aliran rasa ini pun ada rasa malu karena melihat berbagai aliran rasa para peserta lain rasanya begitu bermakna.

Namun entah kenapa, setelah proses Matrikulasi selesai, saya merasakan ada perubahan yang cukup nyata pada diri saya. Saya belum mengerjakan seluruh komitmen yang saya tulis pada NHW, tapi inputan, interaksi, suasana belajar bersama para sejawat (ibu-ibu), membuat saya menjadi memaklumkan diri saya atas apa yang saya jalani selama ini. Menikah dan mempunyai anak tak otomatis membuat diri kita punya sikap, pikiran, dan kebiasaan sebagai Ibu yang baik bukan? Semua perlu proses, dan mungkin perlu babak belur menjalani prosesnya, yang penting terlihat tujuan akhirnya.
Jujur selama ini saya masih sering uring-uringan karena punya pengharapan yang masih belum sepenuhnya didominasi dengan kesabaran menempuh proses, kesyukuran dalam menjalaninya dan qanaah dalam segalanya.

TENTANG TUGAS NICEHOMEWORK MIP Batch 3
Tugas-tugas NHW MIP membuat saya harus membuat keputusan penting mengenai diri sendiri, membuat capaiannya sesuai kemampuan dan kondisi diri, melihat potensi kebaikan dari pasangan dan anak, belajar membuat desain pembelajaran, belajar membuat diri lebih terorganisasi untuk bisa menjadi manajer keluarga, menggali lebih bakat dan minat diri, belajar merumuskan resolusi dan strategi nyata, serta memikirkan alasan kuat mengapa kita diciptakan disini yang berwujud proyek pribadi sederhana untuk masyarakat.

Beberapa hal menarik yang saya temukan paska Kelas Matrikulasi berlangsung :
1.      Proses Matrikulasi IIP sukses membuat saya berpikir bahwa memang ketika menikah, kita dan pasangan harus saling melengkapi, namun semua itu kurang kuat bila kita sendiri tidak menguatkan diri, menguatkan kesadaran peran sebagai istri dan ibu.
2.      Matrikulasi IIP merupakan inputan luarbiasa yang tak bisa sekali baca, sekali lewat. Inputan ini menjadi bekal bagi pikiran, dan mudah-mudahan bisa menarik magnet kebaikan lainnya ke depannya.
3.      Setelah menyadari bahwa pekerjaan utama kita adalah mengerjakan kewajiban dan bukan menuntut hak, saya merasa lebih ringan menjalani keseharian saya. Sebetulnya ini saya dapatkan dari cuilan ceramah, namun bagi saya sangat mencerahkan. Katanya kontrak kita sebetulnya dengan Allah, maka yang dipertanggungjawabkan ya sejauh mana kewajiban kita dilaksanakan, bukan justru menuntut hak macam-macam dari makhluk lain (suami atau anak kita).
Saya merasa lebih ringan menjalankan aktivitas, tanpa banyak dibumbui baper, pundung dan manyun. Hehe.
4.      Project Social Venture pada NHW 9 yang saya coba inisiasi, ternyata sudah Allah sematkan secara tiba-tiba pada saya. Tiba-tiba anak tetangga yang biasanya sekedar main ke rumah, kini ingin rutin belajar membaca iqra di rumah saya. Padahal saya belum benar-benar siap, tapi mungkin menurut Allah sudah saatnya untuk saya lebih bermanfaat bagi sekitar. Tinggal bagaimana saya harus mengorganisasikannya dengan lebih baik.

EVALUASI PRIBADI
1.  Dari 9 pekan pembelajaran, Alhamdulillah berhasil menyelesaikan 9 dari 9 NHW yang diberikan (100%).
2. Terhitung 2 buah ijin dispen minta penambahan waktu karena ingin bisa mengerjakan bersama suami, namun nyatanya kalau mengerjakan ‘bersama suami’ saat itu kondisinya belum memungkinkan, ujung-ujungnya tetap mengerjakan sendiri di waktu deadline.
3. Rencana yang dibuat masih sebatas rencana, belum diaplikasikan.
4. Perlu meninjau ulang kesinambungan antar NHW, karena masih ada yang tidak sesuai.
5. Manajemen waktu perlu diperbaiki, dan menjadi prioritas. Mengingat program selanjutnya Bunda Sayang membutuhkan komitmen yang lebih tinggi setiap harinya. (matrikulasi masih santai karena per pekan)

UCAPAN TERIMAKASIH
Kepada Founder IIP Ibu Septi Peni yang telah mewakafkan diri untuk mempersiapkan ibu-ibu tangguh, fasilitator MIP Bandung 1 (teh Ismi dan Bubu Wiwik) atas bimbingan dan kesabarannya, teman-teman satu grup Bandung 1 yang menginspirasi dengan segala keunikannya masing-masing, suami tercinta Hari Purnama yang udah merelakan waktu, pikiran dan hati ikut sesekali memantau tugas istrinya meski tak jarang dipundungin hehe, dan haidar anak kesayangan bunda yang malah pasang muka ketawa kalau bundanya ngambek, maaf selama ini belum jadi ibu yang baik, semoga masih dikasih kesempatan sama Allah buat terus perbaiki diri.

TIPS BAGI CALON PESERTA MIP BATCH BERIKUTNYA
Komitmen pada diri untuk dapat hadir hati sepenuhnya. Jadwal yang sudah dibuat teratur seharusnya bisa memudahkan. Ambil kesempatan mengikat makna dengan mengalirkan rasa saat kesempatan diberikan. Silent reader terkadang oke, tapi untuk benar-benar terlibat dalam kelas matrikulasi via whatsapp ini sebaiknya banyak terlibat. Kalau dapat kesempatan mengambil amanah lebih (sebagai ketua kelas atau korming) ambillah, semoga bisa terjadi percepatan pembelajar dibanding sebagai warga biasa. Hehe.

Sekian dulu aliran rasa dari saya paska mengikuti Matrikulasi IIP Batch 3 di tahun 2017 ini.
Mohon maaf karena aliran rasa nya mengalir terlalu deras hehe.
Semoga aku dan kamu bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya :D

Salam!
Hajah Sofyamarwa R
Peserta MIP Batch 3 dari Grup Bandung 1

Resume Matrikulasi IIP Batch 3

Kumpulan hasil resume kelas Matrikulasi IIP Batch 3.
Belum sepenuhnya lengkap tapi setidaknya terdokumentasikan


Outline Matrikulasi IIP Batch 3

MATERI
1. Adab Menuntut Ilmu
2. Menjadi Ibu Professional, kebanggaan Keluarga
3. Peradaban dari Dalam Rumah
4. Mendidik dengan Kekuatan Fitrah
5. Belajar Bagaimana Caranya Belajar
6. Ibu Manajer Keluarga Handal, Motivasi Bekerja Ibu
7. Rejeki Itu pasti, Kemuliaan Harus Dicari
8. Misi Spesifik Hidup dan Produktivitas
9. Bunda Sebagai Agen Perubahan

TUGAS NICEHOMEWORK
1. Pilihan Jurusan di Universitas Kehidupan, Alasan, Strategi, Sikap Yang Perlu Diperbaiki
2. Indikator Profesionalisme Perempuan
3. Potensi Suami, Anak, Diri
    3a. Surat Cinta Untuk Suami 
4. Latihan Membuat Kurikulum Diri
5. Desain Pembelajaran
6. Rutinitas Harian : Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Handal
7. Bakat : Tahapan Menuju Bunda Produktif
8. Purpose of Life, Strategic Plan, and A Year Resolution
9. My Social Venture Projects

REVIEW NHW
4. Membuat Kurikulum Yang Gue Banget
5. Belajar Cara Belajar
6. Belajar Menjadi Manajer Keluarga
7. Ikhtiar Menjemput Rejeki
8. Misi Hidup dan Produktivitas


Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...