Thursday, August 21, 2014

"Sekolah Yang Bener"

Kalo ada yang bilang ke kamu : "sekolah yang bener" atau "kuliah yang bener", itu artinya jalanin dengan baik dan penuh kesungguhan pada apa yang lagi kamu hadepin sekarang (misal pendidikan)

Terkadang kesannya memang kamu diminta fokus pada hal itu, dan menyuruh kamu ngga terlalu aktif di hal selain itu. Pesan terbaik dari kalimat itu adalah lakukan yang terbaik. Artinya, kerjakan dengan sebaik mungkin, sampai mengeluarkan semua kemampuan kamu.

Mungkin cuma Allah dan kamu yang tau, gimana cara kamu menjalani itu semua. Sekedar mengalir, biasa saja atau penuh ambisi, biarlah menjadi rahasia kamu sama Allah. Yang penting, mulai di detik ini juga kamu sedang dalam kondisi sadar, untuk melangkah dengan langkah yang penuh kesungguhan.

Mari berdoa untuk terus diberi bimbingan sama Allah untuk menjalankan semua dengan penuh kesungguhan dan rasa syukur.
Sempurnakan dengan ikhtiar yang maksimal.

Pesanku buat siapapun yang baca, khususnya adik adik yang masih bersekolah atau kuliah, jalani semua dengan penuh jiwa. Kalau ngga bisa, periksa diri kamu sendiri, cepat atau lambat kamu memang harus punya kesadaran ini.

****
Lagi ketampar baca buku Bukan Kacamata Kuda nya @udayusuf, sambil masih duet maut baca DNA sukses mulia nya @jamilazzaini.

Wonosobo, 21 agustus 2014

Friday, August 15, 2014

DNA Sukses Mulia : #1 Kehidupan Terbaik Sukses Mulia

Bicara Sukses dan bicara Mulia, setiap orang punya definisi tersendiri.

Konsep sukses mulia disini simple nya : SUKSES yang terlihat secara duniawi [4-TA : Harta, Tahta, Kata (ilmu), dan Cinta]
MULIA itu ketika bisa bermanfaat untuk orang lain, orang disekitar kita.

Yang menarik adalah konsep dibalik penulisan SuksesMulia yang digabungkan. Disebutkan bahwa, keduanya sama pentingnya dan tidak boleh terpisahkan.

Kalau Hanya Sukses?
Ini sepenggal kisah tentang yang awalnya mencapai sukses saja. (Akhirnya menyadari, mulia pada akhir masa hidupnya)

Di bab pertama, diceritakan sebuah kisah tentang seorang anak yang berjuang dari bawah, merangkak berproses, kemudian mencapai kesuksesan. Di masa puncak keberhasilannya, ia masih belum bisa mendefinisikan kebahagiaan hidupnya. Masih ada kekosongan batin yang membuatnya tak tenang. Sampai suatu ketika Allah menakdirkannya bertemu dengan seorang anak yang membuatnya bisa menemukan kembali kebahagiaan pada hidupnya.

Kalau Hanya Mulia?
Nah ini salah satu pertanyaan yang ingin saya cari jawabannya, sini mari merapat. Hehe

"Tanpa kesuksesan, kemuliaan Anda akan memiliki batasan." (h.9)

Yap!
Ketika kita belum mencapai kesuksesan terbaik, daya kita dalam membantu yang lain tidak akan maksimal. "Andai aja punya uang lebih banyak lagi.. andai aja aku lebih pinter lagi.. andai aja aku punya pengaruh lebih lagi.." dll bahkan membuat kita hanya menjadi seorang pengandai-andai! #nahloh

Logika aja deh, kita hanya bisa memberi apa yang kita miliki. Kalau kita ngga punya apa apa untuk diberikan, apa yang mau kita beri?

NOTED
Lebih Harta : banyak sedekah
Lebih tahta : gunakan untuk perbaikan sekitar
Lebih kata : buat orang lain berhasil
Kalo 3 diatas masih terbatas, berikan Cinta pada orang yang membutuhkan.

"Tidak ada alasan untuk tidak segera mulai menunjukkan kemuliaan diri. Siapapun anda saat ini, yakin, akan selalu ada orang yang 4-TA nya lebih rendah dari anda. Itu peluang untuk memberi manfaat. untuk jadi mulia, tak perlu tunggu kaya raya, berpangkat dan berilmu tinggi serta populer." (h.14)

Sukses dan Mulia itu Beriringan.
Nunggu Sukses dulu baru mulia? Iya kalo masi idup.

* * * *

Jadi, musti SuksesMulia, dong?
Yap! Berproseslah untuk SuksesMulia. Dari kekerenan di bab ini, ada yang kurang dibahas sih menurutku. Ada dimensi akhirat yg ga tralu difokusin. Karena ada orang-orang yang sukses dunia, bermanfaat buat orang banyak, tapi entah akhirnya kemana. Saya tambahin dikit deh keyword nya : surga. Jadi, SuksesMuliaSurga (SMS) ! Hihi

Yang ada di pikiran saya sendiri, kebanyakan adalah impian untuk menjadi mulia *ciyemulia*, tapi langkah suksesnya ini loh yang malah belum saya fokusin *gimanasih* -_- gpp gpp, i accepted all my dodolism, skrg semoga konsisten belajar ini dan ga cuma jadi sampah pikiran.

Ingetin ya!

Buku DNA Sukses Mulia : #0 Cuap cuap

Dear readers,
Rasanya udah lama saya ngga ngebahas/ngebedah buku. Saya percaya cara efektif mendapatkan ilmu adalah dengan mengajarkannya kembali.

Bukan bermaksud menggurui (da akumah apa atuh hehe), ini bagian dari proses belajar :)

Buku yang dipelajari kali ini adalah buku DNA SUKSES MULIA, "Panduan meraih harta, takhta, kata dan cinta yang tinggi sebagai sumber manfaat seluas-luasnya" yang ditulis oleh Farid Poniman, Indrawan Nugroho, Jamil Azzaini (Kubik Leadership).

Alhamdulillah Bersyukur selama ini dapat kesempatan kenal dengan kawan kawan di KSM (Komunitas SuksesMulia), yang anaknya kocak kocak namun terasa sekali usaha menuju SuksesMulia nya. Setelah sekian lama, sekarang baru menyempatkan untuk mengkaji buku nya hehe.

* * * *

Alasan saya mau belajar buku ini, karena ada pertanyaan besar dalam pikiran saya : bagaimanakah orang yang hanya ingin hidup mulia, tapi ngga sukses? Ada ngga sih?

Cara efektif membaca buku adalah memulai dengan sebuah pertanyaan : AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu)

Semoga dengan mempelajari buku ini,  saya jadi SEMANGAT pengen jadi orang sukses, TAU CARAnya, dan MELAKUKANNYA. Hehe

Nantikan postingan selanjutnya ya!
#inipostinganapadong

STAY HUNGRY, STAY FOOLISH

Thursday, August 14, 2014

Radio Kehidupan

Ada benarnya bahwa setiap adegan dalam kehidupan kita tak bisa berjalan sesuai seperti apa yang kita inginkan. Kalo dianalogikan dengan radio atau ipod, lagu hidup kita ngga selalu bisa kita pilih kaya ipod.

Mau bahagia tinggal setel lagu bahagia, dan karena terserah kita, kalo bisa ngga perlu simpen lagu sedih deh.

Karena hidup kita milik Allah dan Ia tahu yang terbaik untuk kita, maka terkadang (bahkan sering) kenyataan tak sesuai dengan harapan.

Apa apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Dan apa apa yang menurut kita buruk, mungkin saja terbaik bagi kita menurut Allah. Maka percayakan saja lah pada yang Lebih Mengetahui, ya?

* * *

Pola yang terjadi di kehidupan kita mungkin memang lebih mirip channel di radio. Apa yang disiarkan, itu yang harus kita terima. 

Lantas dimana daya kita sebagai makhluk berakal yang punya kehendak?

Hey jangan lupa, kita tetap harus memilih channel mana yang akan menjadi prinsip kita, kan?

Kita bisa berpindah-pindah mencari gelombang untuk memperkaya pikiran kita, tapi kurasa pada akhirnya, kita akan tetap berpulang pada channel prinsip kita. Berserah dan berjuang di sana.

A very late post. Lagi ngoprek draft blogger, liat ini belum di posting. #Dibuangsayang #jadidiposting #semoga bermanfaat ajah  :)

14 Agustus 2014


Wednesday, August 6, 2014

Fenomena Pernikahan Bulan Syawal


Hai para warga Blogger City! :D
Sebelumnya, empunya blog mengucapkan : SELAMAT IDUL FITRI 1435 H :D

Setelah hari raya idul fitri, seperti biasanya, terbitlah berbagai undangan pernikahan dari kawan-kawan. Sebut saja Winda (6/8), Yorga (10/8), Ka mirza (10/8), Ka Fahma (17/8), Pipit Zaky (23/8), teh Millaty (24/8), Ka Ume (30/8), Ka Lia (31/8). Masih kurang juga, undangan kamu mana? #jleb

Hehe, tenang saya bukan orang rese yang suka iseng menggangggu perikehidupan oranglain hehe. Serunya, ini bulan Syawal (kalender Islam, hijriah). Menikah di bulan syawal, fenomena kah? Di bulan syawal ini terutama, menurut saya iya. Jujur, sebelumnya saya ngga pernah merhatiin, tapi kali ini saya jadi penasaran sama hal itu. Kamu penasaran ga? Hehe

Ada apa sih di bulan syawal?

Kata orang, bulan syawal itu bulan peningkatan. Yap, setelah sebulan kita berusaha meraup obral pahala besar-besaran yang Allah sediain, kita dihadapkan kembali pada 11 bulan berikutnya untuk berjuang. Di bulan syawal juga, dapat terlihat (oleh mata manusia) indikator keberhasilan ramadhan kita. Biasa aja, makin memble, atau meningkat?
Terkait dengan tebaran undangan pernikahan di bulan syawal kali ini, saya penasaran, adakah firman Allah untuk melangsungkan ‘perjanjian yang berat’ itu di bulan syawal?

Hari baik untuk menikah?

Setahu saya, semua hari adalah baik menurut islam. Penentuan hari dan tanggal diikhtiarkan oleh kita saja sebagai manusia, tanpa perlu menggunakan jasa mbah-mbah primbon ato hal lain yang justru mengarah pada kesyirikan. Faktor kesiapan kedua calon dan kedua belah pihak keluarga besarlah yang lebih utama. Menganggap ada hari baik tertentu aja kurang jelas dasarnya, ternyata ada juga orang yang nganggap hari sial itu juga ada (semoga bukan kita).

Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan. Dan tidak ada seorang pun diantara kita melainkan (pernah melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap tawakal.
(HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)

Ramalan nasib adalah syirik..
(HR Abu Dawud no 3411)

Rasulullah Menikahi Aisyah pada bulan Syawal

Yap! Ini dia mungkin salah satunya. Seperti hadits di atas, rasulullah menikahi Aisyah pada bulan Syawal.

Dari hasil berguru sama si mbah google, saat jaman jahiliyah dulu, orang-orang menganggap akan sial kalau menikah di bulan syawal. Macem-macem ceritanya kayak : makna kata syawal itu 'mengangkat' (onta betina jaman dulu, saat bulan syawal menolak  kawin dengan onta jantan, dengan mengangkat ekornya) juga tentang anggapan bahwa waktu tersebut diapit oleh 2 hari raya besar islam *terus kenapa ya*, dst.

Mungkin untuk menepis anggapan itu, bunda aisyah menekankan bahwa dia tentu tetap beruntung walau menikah di bulan syawal ;) *yaiya bun, nikahnya sama rasulullah gituloh* hehe. Dari hadits riwayat muslim, Aisyah juga dulu suka menikahkan para wanita di bulan syawal.

So. Ngga perlu panik ngga bisa menikah di bulan syawal tahun ini, masih ada hari-hari baik lainnya pada 11 bulan yang lain. Hehe :p Sehabis bulan syawal justru ada 3 bulan haram yang disebutkan : “sangatlah baik untuk melakukan amal ketaatan!” (dari Zaadul Massir, tafsir 9:36)
Wallahu ‘alam, Selamat berstrategi! :D


Bandung, 6 Agustus 2014

Hajah Sofyamarwa R.

Monday, August 4, 2014

Iman Seharga Gorengan

Fenomena yang ada belakangan ini di jagat raya dunia maya, membuat saya memikirkan beberapa hal. Menjelang ramadhan begini, ingatan saya kembali melayang pada waktu saya mudik ke kampung halaman bapak di Wonosobo.

Dibandingkan Bandung, tak begitu banyak hal menarik dari kabupaten wonosobo ini, maka hal hal sederhana menjadi begitu disyukuri.

Sejak kecil mudik kemari, hanya ada beberapa hal yang benar benar menjadi ciri khas. Mie ongklok, tempe kemul, ikan bertumpuk tumpuk, dan suasana pedesaan yang menyejukkan.

Saya ingat, suatu pagi setelah Idul Fitri  tahun 2014 silam saya berupaya melakukan syawalan, shaum sunnah yang dilaksanakan 6 hari selama bulan syawal. Sebelum subuh saya melakukan sahur seperti biasa, maka logikanya saya siap berpuasa.

Tapi pagi itu, bapak jalan-jalan pagi ke pemukiman warga dan membawa pulang bungkusan tempe kemul. Masih hangat, dengan aroma yang menggugah selerah! Terjadilah pergejolakan batin pertarungan antara nafsu kabita dan keinginan untuk meneruskan shaum syawalnya. Akhirnya saya batalkan shaum syawal saya hari itu, memakan gorengan tempe kemul itu, dan mengganti shaum sunnah nya di hari yang lain.Lucu juga kalau dipikir-pikir, saat itu usia saya sudah 22 tahun, sudah bukan anak-anak lagi. Kalah sama gorengan.

Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian pintu. Yang paling rendah dari iman adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaha illallah.” (HR. Muslim, no. 35 dan Tirmidzi, no. 2614)

Ah, iman itu bertingkat-tingkat, dan kita tak tahu ada di tingkat yang mana kita berada.

Bertambahnya usia seseorang bukan jaminan bertambah pulanya keimanan seseorang. Bang Aad dalam workshop Home Education beberapa hari lalu mengatakan bahwa, iman ini memang sesuatu yang unik.

Kini, ketika saya diamanahi seorang anak, saya jadi berpikir bagaimana cara saya memastikan bahwa anak saya kelak mrnjadi orang yang kokoh imannya. Kalau boleh jujur, mungkin tak banyak dari kita yang pernah diuji keimanannya, padahal kita sering menghadapi ujian ujian pelajaran yang sifatnya kognitif. Bagaimana orangtua mendidik keimanan pada anaknya?

Lanjut bang Aad, Keimanan itu fitrah setiap manusia, tidak diajarkan, tapi dirawat dan ditumbuhkan. Orangtua tidak menanam benihnya, karena Allah yang sudah menanamnya. Sebagai orangtua kita hanya perlu merawat fitrahnya, membesarkannya sesuai tuntunanNya.

Masalah yang muncul berkaitan dengan periode akhir jaman, salah satunya adalah iman yang sulit kokoh. Kalau saya boleh jujur, saat dulu saya harus menyampaikan ilmu tentang Allah, saya masih merasa kering, sebatas pengetahuan tanpa makna. Tapi sekarang terasa, bahwa yang terpenting adalah rasa dan makna kita masing-masing akan keberadaanNya, bahwa kita dibimbing dalam setiap aktivitas kita.

* * *

Dari Hanzholah Al-Usayyidiy -beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?”

Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.”

Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan kalian. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim, no. 2750).

* * *

Pada intinya, keimanan bisa berubah-ubah levelnya, bisa naik bisa turun. Manusia mulia sekelas Abu Bakar ash shiddiq pun begitu, jadi tenang saja. Kita tak bisa menilai/menghakimi keimanan seseorang karena memang bukan keperluan kita. Asal kita terus mau perbaiki diri dan meningkatkan keimanan.

Lagi shaum tergoda sama gorengan ada di level mana ya ? Hehe.

8 April 2014
Rabu 24 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day7

Sumber kutipan hadits dari : https://rumaysho.com/13108-dalil-iman-itu-bertambah-dan-berkurang.html

Selang Mampat, Keran Berkarat

Ilustrasi (image source : pixabay.com)

Kita menyalahkan mampatnya selang yang tak bisa mengalirkan air pada taman taman kehidupan kita.
* * *

Kerannya protes, tamannnya ikut protes.
Memang betul, sang selang terkesan tak mau berusaha membuka mampatnya. Aku serius, ini betul betul lebih sulit dari selang manapun yang kau tahu.
Maka wajarlah.

Namun semakin hari, Sang Keran semakin benci Selang, Tamanpun jadi benci Selang.
Untuk hidup, taman mendapat sedikit cipratan dari keran, namun tak sedikitpun melalui Selang. Ya, Taman bisa hidup, sekedar untuk tidak mati.

Setelah itu semua, Taman sadar bahwa sebetulnya itu bukan hanya salah Selang mampat. Taman pun sangat tidak pantas untuk membenci Selang. Menurutnya, sebetulnya Sang Keran itu sedang berkarat, tak mau untuk memutar diri untuk mengalirkan air dengan baik pada sang selang.

Maka taman mulai bicara pada Keran, dan bicara pula pada Selang.
Sang selang memang mampat dan harus berusaha membuka diri.
Sang keran memang berkarat dan harus mau mulai mengalirkan airnya lewat selang.
Siapa tahu dorongan air dari keran bisa meluluhkan selang yang mampat.
Begitulah,
Taman belum tahu cara lainnya, Taman hanya berusaha.
Wonosobo, 4 Agustus 2014
Personil Taman Kehidupan

Kepikiran judul tambahan : Selang Mampat, Keran Berkarat, (Taman Sekarat) hehe

Saturday, August 2, 2014

Keputusan untuk Mencintai (2)

Dulu aku belum memutuskan untuk mencintai, namun kini, keputusan itu telah kuambil.

Ah tak seberapa, modal cintaku hanya alakadarnya. Tapi aku yakin, keputusanku untuk mulai mencintai --untuk mulai membaikkan mereka-- adalah sesuatu yang terbaik.

Ketika mencintai adalah sebuah kata kerja, jiwa pemalas ini mulai bergerak. Maka benarlah katanya, cinta menggerakkan yang buruk menjadi lebih baik. Cinta kemudian tercermin lewat tindakan, lewat perkataan, lewat candaan yang membahagiakan.

Seperti yang kau tahu, besar sekali energi yang diperlukan, dan mungkin akan dinilai sebagai ke-tidak-efisien-an kerja karena hasil yang tak kunjung nyata. Ah.. tapi siapa peduli? Kita kan tahu untuk apa, dan untuk siapa kita bergerak.

Kau tahu? Lambat laun, mulai kurasakan keajaiban itu. Tak sebesar letusan bom atom, yah, mungkin hanya sebesar percikan dari geretan korek api. Tapi yang selalu kuyakin hingga saat ini, aku jadi selalu punya bahan bakarnya.

Katanya cinta membutakan, aku sih belum sampai tahap itu (dan rasanya tak perlu ya). Hanya saja, memang terkadang kurasakan, saat memperjuangkan cinta, kita melakukan hal hal bodoh. Ya, bersedia "menjadi terlihat bodoh" demi cinta.

Ah sudahlah, sementara ini kau cukup tahu dulu ya. Mungkin nanti pada saatnya, kau mulai kuajak kerjasama, membangun cinta kan tak sanggup sendiri. Aku sudah merencanakannya kok, oke?

Apa yang dituju?

Setiap orang hakikatnya selalu dalam pencarian. Entah apa saja yang dicari, namun setiap orang akan terus mencari, sambil terus menuju.

Tuanya usia hidup kita di dunia, tak menjadi jaminan kita akan mengetahui apa yang sebenarnya kita cari. Bisa saja kita hanya berjuang untuk sekedar hidup, bukan hidup untuk berjuang menuju sesuatu yang lain.

Maka pengetahuan kita tentang apa yang sebenarnya kita tuju, apa yang sebenarnya kita cari, adalah suatu hal yang penting, kan?

Setelah pembicaraan penuh makna yang panjang,
Wonosobo, 2 agustus 2014
Hajah Sofyamarwa

Friday, August 1, 2014

Cinta untuk perubahan

Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan efeksamping sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam.

Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekedar kekuatan fisik

- Erich Fromm

Sunday, July 27, 2014

Al Quran perspektif Profesor Jeffrey Lang

Ilustrasi Buku (image source: granadabookshop)
Anda tidak dapat membaca al quran begitu saja, tidak dapat demikian jika anda memberi perhatian yang sungguh sungguh. Anda menyerah saja kepadanya atau anda memeranginya. Al quran menyerang dengan kuat, langsung dan tertuju pada setiap pribadi. Al quran mendebat, mengkritik, membuat malu, dan menantang.

Dari semula al quran menarik garis batas pertempuran, dan saya berada di sisi yang diperangi. Saya berada di sisi yang tidak menguntungkan, karena menjadi jelas bahwa pengarangnya mengenali saya lebih baik daripada saya mengenali-Nya.

Seorang pelukis dapat membuat mata sebuah potret tampak mengikuti anda dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi pengarang mana yang dapat menulis naskah yang mengantisipasi perubahan hidup anda sehari hari?

Al quran selalu berada di depan pikiran saya. Al quran menghapus batasan batasan yang telah saya bangun bertahun tahun lalu dan menjawab pertanyaan pertanyaan saya.
Setiap malam saya merumuskan pertanyaan dan bantahan, lalu entah bagaimana caranya saya temukan jawabannya pada keesokan harinya ketika saya terus membacanya sesuai dengan urutan yang ada.

Tampaknya pengarangnya sedang membaca pikiran pikiran saya dan kemudian menulis pada baris baris yang sesuai untuk bacaan saya berikutnya. Saya melihat diri saya sendiri di setiap halamannya dan saya takut akan apa yang saya lihat. Saya digiring, dan saya melukis diri saya sendiri pada suatu sudut yang hanya berisi satu pilihan.

Jeffrey Lang, Guru Besar  Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat.
Dalam buku "Struggling to Surrender".
Pada bab I Syahadat

H-3 idul fitri 1435 H

Malam pertama di kampung halaman bapak, Wonosobo.

Bisa whatsapp-an, tapi sangat sulit untuk browsing dan buka email. Baru kepikiran buat update di blog aja. #pentingbanget -_- #curcoljamansekarang

Rumah embah (alm) masih sepi, kami keluarga pertama yang hadir disini. Perjalanan dengan mobil pun semakin sepi karena kami hanya bertiga (bapak, mama, fya).

Rasanya sudah lama sekali tak kemari,  jalan sekitaran rumah yang dulu masih tanah berbatu, sekarang sudah di semen (atau beton? Hehe)

Sore harinya bapak mamah belanja ke kertek, beli tempe kemul. Lucu. Mamah curhat karena ditinggalin bapak di mobil demi gorengan (!) Hihi.

Alhamdulillah bisa buka puasa bareng bareng :)

Kami bicara banyak hal, ahh.. senangnya :D Entah malam itu mereka saling bernostalgia. Bapak cerita sedikit tentang embah, tentang rumah ini, tentang masa kecil yang meracik petasan sendiri.

Macem macem deh, ah udah ah ya hehe :)
#NyebelinAmat hehe

Wonosobo, 25 juli 2014

Untung Tarawehnya Tak se "dhoooliin" yang Diceritakan

Ilustrasi (image source: ervakurniawan)
Malam kedua di wonosobo, H-2 idul fitri. Rencana mencoba tarawih di masjid sini akan dilaksanakan. Yap! Rasa rasanya puluhan kali mudik kemari, ngga inget pernah coba tarawih disini. #Katro

Satu satunya adik tercinta udah datang dari jogja, dia nebeng sama keluarga tante yanti dari pasuruan.

Nah ini dia inti ceritanya,
Si adik bilang kalau tarawih disini kaya SKJ. 23 rakaat, dan bacaannya ga jelas. Saking cepetnya cuma bisa denger "dhoooooollliiin", dan itu bikin dia pengen ketawa.


Saya? Kemungkinan buat ketawa saat tarawih macam itu sangat besar!
Tapi insyaallah tekad udah bulat #halah, dicoba aja.


Tarawih disini memang unik. 23 rakaat, salam setiap 2 rakaat. Setiap 4 rakaatnya diselingi dengan pujian pujian doa dan asmaul husna yang hampir seluruh masyarakatnya sudah hapal.

Kalian tahu?
Sesuai judul postingan ini, ALHAMDULILLAH ternyata bacaan tarawih nya ngga se "dhhoooooolllllinnn" yang dibilang. Ritme bacaannya memang secepat kilat #lebay, tapi masih terdengar. Alhamdulillah hanya perlu menahan diri untuk tidak tertawa di awal, dan setelahnya mulai beradaptasi dengan gerakan yang cepat.


Btw, beda dgn 11 rakaat yang biasanya lebih panjang, tarawih ini ngga bikin ngantuk (tentu saja! *Senang*)
Jadi berpikir, dulu rasulullah shalat tarawih ngga pernah lebih dari 11 rakaat, Dengan rakaat rakaat yang tak perlu ditanya bagusnya.. T_T
* * *

Masjid sedang dalam renovasi, insyaallah akan dibuat semakin besar dengan desain yang lebih baik. Semoga nantinya dengan masjid yang lebih baik, akan berbanding lurus dengan keimanan dan ketaatan warga menjalankan syariat allah. Aamiin


Wonosobo, 26 Juli 2014
Hajah Sofyamarwa R.

Ada Cinta Di Setiap Butirnya


Masakan kemarin malam adalah sambel goreng kentang kecil pake kacang tanah, saya cuma kebagian disuruh nyuciin bahan dasarnya aja. Hehe

Setiap butir kentang kecil itu harus dibersihkan satu persatu dari tanah yang menempel, karena kulitnya ikut dimasak. Kalau membersihkannya ngga bener, setiap kentang berpotensi menyumbang secercah tanah ke dalam masakannya.
"Satu satu ya", kata mamah.

Setiap butir kacang tanah masih terus tumbuh, banyak yang berkecambah karena bijinya terimbibisi. Tak lucu kan kalau di makanan kita berasa ada tunas atau akar? Maka setiap butir kacang tanah harus diperhatikan, dipastikan semua tunasnya sudah dihilangkan.

Ya, ada cinta di sambel goreng kentang :)
Ada cinta di setiap butirnya :")

Wonosobo, 27 juli 2014
Hajah Sofyamarwa Rachmawati

Thursday, July 24, 2014

Greatest Love Of All lyrics

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be

Everybody's searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs
A lonely place to be
And so I learned to depend on me

[Chorus:]
I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be

[Chorus]

And if, by chance, that special place
That you've been dreaming of
Leads you to a lonely place
Find your strength in love

***
I would write something about this song, someday
:)

Tuesday, July 22, 2014

Niat : 5 Detik Pertama Aktivitas Kita


Apa selama ini kamu udah merasa bahwa semua yang kamu kerjakan dalam hidup, semata kamu persembahkan untuk Allah SWT,  atau untuk kepentingan lain?

Banyak dari aktivitas kehidupan  kita yang luput dalam pengawasan diri. Kita sudah tahu bahwa sesuatu yang tidak didasari karena Allah, sebaik apapun aktivitasnya, maka tidak memberikan keuntungan sedikitpun di hari akhir nanti.

Seringkali niat kita tidak tepat, entah kenapa menjadi begitu banyak “tuhan-tuhan” lain di sekitar kita. Beberapa pengotor dalam memulai aktivitas antara lain : Ingin dilihat, ingin didengar, ingin menonjol, ingin dianggap terhebat, ingin dianggap shaleh, ingin dianggap baik, ingin dilihat ‘dia’, malu sama yang lebih muda, malu kalau tidak berbuat hal yang sama dengan yang lain, terpaksa, kebetulan bisa, dan banyak lagi yang lainnya. Padahal inilah 5 detik pertama yang menentukan keberkahan aktivitas kita, niat.

Niat memang tidak cukup dengan hanya 5 detik saja, tapi bila setiap detik sebelumnya jiwa hidup kita sudah mengarah pada Tuhannya, bukankah 5 detik meluruskan niat menjadi lebih mudah?

Kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan, insyaallah. Sudahkah kau tau bahwa orang yang cerdas adalah yang niatnya meliputi bumi dan menjangkau sampai ke langit? Kau sudah tau apa yang harus kau pikirkan setiap detik.

“Amal ibadah tidak akan sah kecuali jika diiringi dengan niat. Karena niat tanpa amal diberi pahala, sementara amal tanpa niat adalah sia-sia. Perumpamaan niat bagi amal, ibarat ruh bagi jasad. Jasad tidak akan berfungsi jika tanpa ruh, dan ruh tidak akan tampak jika terpisah dari jasad.”
--- Al Baidhawi

Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.
--- Hadits Shahih Muslim Nomor 1907



Belum, semoga Allah kuatkan ikhtiar kita semua.
#TanyaHakikatHidupDanKematian

Hajah Sofyamarwa R.
20 Juli 2014



* * *
Pertanyaan #TanyaHakikatHidupDanKematian ini adalah salah satu dari sekian banyak daftar pertanyaan yang terdapat dalam buku Anis Matta, "Delapan Mata Air Kecemerlangan", yang saya coba jawab dengan sebuah tulisan :)

Sunday, July 20, 2014

Menanamkan Aqidah Pada Anak with Abah Ihsan (part 2)

Setelah sebelumnya kita berusaha memahami beberapa alasan kenapa mendidik itu harus pakai ilmu, postingan kali ini mulai masuk ke bahasan utama, yaitu : gimana cara menanamkan aqidah pada anak kita.

Menurut saya, kenapa ini rasanya menjadi lebih berat, karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Teko yang kosong tidak bisa menuangkan isinya pada gelas. Kalau orangtuanya belum baik aqidahnya, mana pantas menuntut anak untuk shaleh?

* * * *

Bismillah..
Rasul bilang : baiti jannati, rumahku surgaku.
Bukan tetanggi jannati (?) bahkan bukan madrasati jannati (?)
Karena semua selalu berawal dari rumah (keluarga) dan akan kembali pada keluarga. Periksalah orang-orang hebat, apakah karena sekolahnya yang hebat? Atau dari rumahnya? biasanya mereka berasal dari keluarga yang hebat dalam pendidikan.
Kata abah, orang israel sudah sejak 1969 punya pendidikan khusus untuk para orangtua. Alhamdulillah di indonesia juga sudah semakin banyak yang sadar akan pentingnya hal ini.

AQIDAH ITU IKATAN..
Aqidah itu ikatan, maka anak kita harus terikat, pada sesuatu yang benar.
Apa yang terikat?
Yang terikat itu hati dan pikirannya.
Terikat pada apa?
Allah. Bukan semata hanya karena takut, tapi karena bahagia, karena sadar. Kita harus kenal dan mengenalkan ini sama anak kita.

Otak sebagai pusat pengendali tubuh, membutuhkan "installan software" yang benar agar seluruh "hardware" tubuh juga berjalan dengan benar.

Dan ini yang bikin saya merinding:
"Kalau bukan kita sebagai orangtua yang menginstall software otak anak kita, maka DEMI ALLAH, akan ada orang lain yang menginstallkan."

*tv, sinetron, internet, games, lagu, fashion, dll*

POLA RASULULLAH MENDIDIK ANAK SHALAT
mari belajar dari SOP Rasulullah dalam mendidik anak shalat. Usia 7 tahun anak sudah mulai disuruh shalat, dan kalau sudah usia 10 tahun belum mau shalat, baru boleh dipukul. Artinya ada masa 3 tahun minimal untuk mendidik anaknya mau shalat.

Sekali lagi, bukan sekedar menyuruh-nyuruh shalat loh yaa. Ajakan untuk shalat harus diiringi dengan rasa cinta kita (orangtua) pada dzat yang hidup kita dalam genggamannya.
Kalau kita belum khatam kisah kisah nabi dan rasul, belum khatam 99 nama-nama allah (asmaul husna), siapa yang mau kita kenalkan?
Lagipula siapa sih yang suka disuruh-suruh?

UNSUR PENTING UTAMA DALAM AQIDAH
1. Jaga pikiran anak
JAGA RASA KEINGINTAHUAN ANAK. ketika kita sedang capek sekalipun, jangan pernah mematikan rasa ingin tahu mereka, tumbuhkan dengan baik sikap penasaran anak.

Gimana caranya?
Budayakan berdialog, DUA ARAH. namanya dialog, yang bicara kan ngga hanya 1 pihak. Ajak anak bicara, biarkan mereka mengekspresikan rasa penasarannya.
Metode paling rendah dalam pendidikan adalah : memberi tahu langsung jawabannya pada anak. Seharusnya kita memfasilitasi anak untuk dapat menemukan jawabannya, proses penemuan adalah hal yang penting untuk perkembangan pikiran anak.

Contoh
"Ayah/bunda, kenapa sih itu bisa kaya gitu?"
(Ceritanya Kalo lagi sibuk)
Jawaban kurang oke : jawab seenaknya, ngasal, bohong, nyuruh anak diem.
Jawaban lumayan oke : kakak pengen tau ya? Bunda belum bisa jawab sekarang sayang, sedang ada yang bunda kerjakan. Kalau bunda jawab setelah ini, boleh ya? :)
Atau : (kalo ngga tau) wah bunda belum tahu jawabannya, tapi akan bunda bantu carikan jawabannya setelah urusan bunda selesai. Kakak mau bersabar sebentar, ya?

2. Kenalkan pada Allah
Mungkin banyak dari kita mengetahui teori teori ilmu aqidah. Dipelajari, tapi dalam prakteknya entah bagaimna mengaplikasikannya. Selama ini kita seringnya diajarkan keterampilan beragama, bukan keyakinan. Sehingga kita hanya bisa shalat, tapi belum mencintai shalat. Sehingga kita hanya tau teori, tapi tak nampak dalam kehidupan sehari-hari.

Perbanyak pengetahuan kita ttg Allah, maknai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak membaca, terus belajar. Tidak mudah, tapi berusahalah.

Karena bagaimana bisa mengenalkan sesuatu yang kita sendiri tidak kenal?

Dua hal yang menjadi objek ketakjuban anak-anak
1. Tentang Diri mereka sendiri
2.Tentang alam semesta

Suburkan rasa keingintahuan mereka.

* * * *

Abah ihsan kemudian menyuruh kami berpasang pasangan untuk saling bersalaman dan mengucapkan komitmen diri untuk terus belajar. Saat itu partner saya seorang ibu muda, mba tiktik. Saling berangkulan, sibuk dengan pikiran masing masing pada sebuah amanah yang cepat atau lambat akan segera datang.

* * * *

Ahad, 20 juli 2014 02:49
Hajah Sofyamarwa Rachmawati,
A daughter, future wife, future mother, insyaallah :)

*peserta dapat hardcopy handout, kontennya bagus juga. Bagi yang mau, mangga kontak saya ya, nanti bisa dkirim via whatsapp. Lagi ngga bisa upload gambar disini hehe :)

Menanamkan Aqidah Pada Anak with Abah Ihsan (part 1)

Alhamdulillah bersyukuur banget akhirnya allah ngasi saya kesempatan untuk bisa ketemu sama Abah Ihsan (auladi parenting school). Sbelumnya saya dikenalkan oleh seorang teman pada beliau melalui bukunya "Renungan dahsyat untuk orang tua".

Kajian parenting ini mantep buaanget! Karena selain pembicaranya oke pisan, acara ini juga haratis :')) *terharu hehe* kata abah, ini edisi ramadhan, lagi soleh. Hehe. haturnuhun pisan buat panitianya (IIP dan pemudi persis)

Yang paling bikin asik adalah, ternyata abah ihsan itu ekspresif buanget! :D Penyampaiannya kocak dan gampang dicerna.  Jadi sepanjang acara teh, kita pada ketawa ketawa yang bermakna tea #halah

Beliau orangnya open banget bahkan ngizinin kita untuk konsultasi di hari tertentu langsung ke nomer hp ny. Auladi parenting School juga suka ngadain Pelatihan, barangkali pada tertarik ikut :) klik auladi.net

* * * *

"Menanamkan aqidah pada anak"
Bukan menanamkan ketakutan pada allah.

Pertama-tama, abah ihsan membawa kita pada pemahaman mengenai konsep konsep dasar dalam parenting terlebih dahulu, karena kalau bicara aqidah, kita mesti paham strategi mendidik yang benar dulu.
Katanya beliau senang karena peserta yang hadir ternyata ada juga dari muda mudi yang belum punya anak. (Belum terlambat, mempersiapkan)

KENAPA MENDIDIK MESTI PAKE ILMU
1. Jaman skrg, belajar jadi orangtua itu wajib 'ain

2. Biar ga KUDET!
Anak jaman dulu, kalau pait paitnya orangtua ngga ngedidik, masih SAVE. Kalau sekarang? Ada televisi, games, video klip, iklan, internet, dan macem macem yang ga bisa lepas dari kita.

Kalau diibaratkan ungkapan di jaman sekarang,
"Yang menyenangkan itu baik,
Yang buruk itu relatif."

Jaman dulu, orangtua dan guru disegani banget karena gada sumber informasi lain. Skrg?
Sumber informasi udah banyak, tinggal tanya mbah google, apa sih yang ngga bisa kita tahu?

Jaman dulu, kalau kata ortu bgitu, harua begitu, kalau sekarang anak kan lebih "canggih" dari orangtua kalo ngejawabnya. Hehe

3. Kalo ngga, anak akan jadi KORBAN
Tanpa persiapan ilmu, anak jadi trial, korban warisan.
Kita akan melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman kita (kalo ngga punya ilmunya). Jadi sangat mungkin kita melakukan hal yang sama pada anak kita, sbagaimana kita dulu diperlakukan, sadar atau tidak.

* * * * *
Motivasi itu kaya iman, kadang naik kadang turun, makanya jangan permah berhenti belajar :D
Akan beda ortu/calon ortu yang selalu berusaha belajar dgn yang tidak, walau motivasinya naik turun, insyaallah akan ada perubahan perilaku yang semakin baik.
banyak

Anak itu fitrah nya baik, hampir semua potensi sifat baik ada di anak, tapi akan bergantung gimana orang tuanya mengarahkan dan memupuk subur potensi kebaikan itu.
Buat para calon orangtua, yakinlah, apapun yang terjadi sama anak kita adalah tanggungjawab kita, dan ada pengaruh dari kita.

Ini prinsip bagus
"Kalau anak berbuat baik, kita bicara (puji, apresiasi)
Kalau anak berbuat buruk, kita sedikit bicara, perbanyak tindakan."

Ya, betul. Kadang malah terbalik : yang baik dianggap biasa, kalo buruk dinasehatin sampe berbusa. Sekarang kalau kita lihat anak anak yang "bermasalah" (narkoba dll), yang salah itu siapa? Temennya yang ngajak? Lingkungan hanya pemicu, sebagai orang tua, harus ngebangun pondasi yang kuat di anaknya.

Kebanyakan dari mereka memang punya masalah di keluarganya. Entah terlalu sering diberi nasehat, atau bahkan diacuhkan.
Tapi ternyata kebanyakan diberi nasehat, akan punya efek kurang baik juga. Terkadang isi nasehatnya baik, tapi kalau cara penyampaian atau frekuensinya tidak baik, apa efeknya?
Karena bukankah kita tidak suka nasehat yang berlebihan?

* * * *

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.”

Insyaallah bahasan intinya (aqidah) berlanjut ke posting selanjutnya ya :))

Friday, June 13, 2014

I'm an Independent Oriflame Consultant! :D


Yeay, now I'm an Independent Oriflame Consultant! Keprok heula hehe :O
Ada 2 hal yang mau saya promosiin kali ini, boleh ya boleh ya? hehe :))

Boleh kok cuci-cuci mata liat katalognya, tinggal pilih produknya dan order hehe :D 
Saran, cari produk promo di bulan ini ya, lumayan biar rada ngirit-ngirit kece :D Ternyata banyak produk yang 'sok parebut' sama yang lain, jadi kalo ngga cepet-cepet ya bakal keabisan. Silakan aja klik e-catalogue di bawah ini yaa.. Dipilih dipiliih! :D

Oriflame Cosmetics
Oriflame Cosmetics

b. Peluang join bisnis oriflame online dari jaringan d'BC Network,
dapetin informasi-informasi seputar bisnis oriflame, klik : http://www.dbc-network.com/?id=hajahsofya nanti langsung masuk kemari :


Ngga ngejanjiin ikut bisnis ini tiba-tiba langsung jadi orang kaya baru kok, hehe. Sama aja kaya bisnis lain, smua diawali dari basic dulu, dan kalo mau makin makmur keuntungannya ya mesti banting tulang juga. hehe. :D

fyi, dari dulu saya juga ngga kebayang kalo akhirnya beneran jadi join member oriflame juga ahehe. Tapi setelah dijalanin (belum lama juga hehe-_-) ternyata emang seru :O 

Nah, kalau penasaran pengen tau tentang bisnis oriflame dari jaringan dBCN, boleh ko isi form nya dari page ini.

By the way, Saya tukang pulsa juga, jadi mangga sekalian aja ngorder produk 'cecentilan' dan tetap terhubung dengan pulsa yang selalu siap sedia hehe *naon 

Trakhir, kalo ada yang mau tanya-tanya langsung aja yaa, bisa lewat apapun dimanapun asal terhubung ke sayah hehe. 
feel free to ask anything! :D

HEPI BLANJA-BLANJA CANTIK Lah ya. hehe :)

Tuesday, June 10, 2014

Antara Tahu dan Bertindak - Goethe Quotes


"mengetahui saja belum cukup
kita harus bertindak

Sekedar ingin pun belum cukup
kita harus melaksanakan.."

-- Goethe

Monday, June 9, 2014

Sederhana VS Tidak Sederhana

Banyak aku lihat orang-orang hebat itu justru sangat sederhana. Ga banyak bicara atau mengumbar-umbar. Pokoknya, dari yang kulihat, mereka simpel, tapi menohok.

Aku yang sangat tidak sederhana ini seringnya merasa tertampar kalau melihat orang-orang besar. Yah, namanya makhluk lagi terpana, berusaha ngikutin kesederhanaannya. Tapi yang baru aja kusadari, menurutku mereka itu sebenarnya sangat kompleks tapi dapat tampil sederhana. Mereka bisa menyederhanakan kekompleks an dirinya menjadi suatu kesederhanaan yang bermakna.

Makna.
Ya itu. Yang tadi kusebut kompleks, adalah kedalaman makna yang mereka punya.

Menjadi manusia yang dapat menemukan makna-makna kehidupan butuh proses. Yang pasti aku sadar kalao berpura-pura menjadi sederhana adalah bukan ide yang tepat. Aku paham kalau diri ini sedang dalam masa pencarian, jadi jalani saja jadi dirimu yang terbaik.

#latepost, Suatu hari di bulan april 2013

Imam Ada Karena Makmum

Ketika kau tak beranjak dari kamar tidurmu dan kau merasa tak menemukan alasan untuk sekedar menongkrong di lantai bawah bersama kedua orangtuamu, kau punya minimal 5 waktu dalam sehari untuk mengajaknya shalat berjamaah lagi.

Ya, lakukan itu.

* * *
"Seorang imam akan menjadi imam bukan hanya karena dirinya yang menganggap/mengharuskan dirinya menjadi imam, tapi, dengan adanya makmum yang senantiasa mengingatkan.."

Sekecil apapun peranmu, lakukanlah. Bukan hanya untuk menjalankan peranmu, juga untuk menghidupkan peran lainnya. Maha Besar Allah yang menciptakan segalanya berpasang-pasangan :')


12 Januari 2014
Hajah Sofyamarwa

pengorbanan tak kasat mata #orangtua


Mata dan seluruh indera kita terlalu lemah untuk tahu segala hal 
yang mereka lakukan untuk kita
Mungkin itu mengapa Allah menyuruh kita untuk berprasangka baik 
dan berbuat baik kepada keduanya
Karena berprasangka buruk sama sekali tidak ada manfaatnya

Sekali lagi, indera kita tak cukup hebat untuk mengetahui segala pengorbanan yang mereka lakukan

Sebuah sudut pandang baru dari nonton  film tokyo tower dan tonbi

Ditulis 26 Juni 2013
dibenarkan 8 Juni 2014
Hajah Sofyamarwa R.
 
b e l a j a r  c i n t a
Mama dan bapak di Solo (captured by adik tercinta :))

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...