Sunday, July 20, 2014

Menanamkan Aqidah Pada Anak with Abah Ihsan (part 1)

Alhamdulillah bersyukuur banget akhirnya allah ngasi saya kesempatan untuk bisa ketemu sama Abah Ihsan (auladi parenting school). Sbelumnya saya dikenalkan oleh seorang teman pada beliau melalui bukunya "Renungan dahsyat untuk orang tua".

Kajian parenting ini mantep buaanget! Karena selain pembicaranya oke pisan, acara ini juga haratis :')) *terharu hehe* kata abah, ini edisi ramadhan, lagi soleh. Hehe. haturnuhun pisan buat panitianya (IIP dan pemudi persis)

Yang paling bikin asik adalah, ternyata abah ihsan itu ekspresif buanget! :D Penyampaiannya kocak dan gampang dicerna.  Jadi sepanjang acara teh, kita pada ketawa ketawa yang bermakna tea #halah

Beliau orangnya open banget bahkan ngizinin kita untuk konsultasi di hari tertentu langsung ke nomer hp ny. Auladi parenting School juga suka ngadain Pelatihan, barangkali pada tertarik ikut :) klik auladi.net

* * * *

"Menanamkan aqidah pada anak"
Bukan menanamkan ketakutan pada allah.

Pertama-tama, abah ihsan membawa kita pada pemahaman mengenai konsep konsep dasar dalam parenting terlebih dahulu, karena kalau bicara aqidah, kita mesti paham strategi mendidik yang benar dulu.
Katanya beliau senang karena peserta yang hadir ternyata ada juga dari muda mudi yang belum punya anak. (Belum terlambat, mempersiapkan)

KENAPA MENDIDIK MESTI PAKE ILMU
1. Jaman skrg, belajar jadi orangtua itu wajib 'ain

2. Biar ga KUDET!
Anak jaman dulu, kalau pait paitnya orangtua ngga ngedidik, masih SAVE. Kalau sekarang? Ada televisi, games, video klip, iklan, internet, dan macem macem yang ga bisa lepas dari kita.

Kalau diibaratkan ungkapan di jaman sekarang,
"Yang menyenangkan itu baik,
Yang buruk itu relatif."

Jaman dulu, orangtua dan guru disegani banget karena gada sumber informasi lain. Skrg?
Sumber informasi udah banyak, tinggal tanya mbah google, apa sih yang ngga bisa kita tahu?

Jaman dulu, kalau kata ortu bgitu, harua begitu, kalau sekarang anak kan lebih "canggih" dari orangtua kalo ngejawabnya. Hehe

3. Kalo ngga, anak akan jadi KORBAN
Tanpa persiapan ilmu, anak jadi trial, korban warisan.
Kita akan melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman kita (kalo ngga punya ilmunya). Jadi sangat mungkin kita melakukan hal yang sama pada anak kita, sbagaimana kita dulu diperlakukan, sadar atau tidak.

* * * * *
Motivasi itu kaya iman, kadang naik kadang turun, makanya jangan permah berhenti belajar :D
Akan beda ortu/calon ortu yang selalu berusaha belajar dgn yang tidak, walau motivasinya naik turun, insyaallah akan ada perubahan perilaku yang semakin baik.
banyak

Anak itu fitrah nya baik, hampir semua potensi sifat baik ada di anak, tapi akan bergantung gimana orang tuanya mengarahkan dan memupuk subur potensi kebaikan itu.
Buat para calon orangtua, yakinlah, apapun yang terjadi sama anak kita adalah tanggungjawab kita, dan ada pengaruh dari kita.

Ini prinsip bagus
"Kalau anak berbuat baik, kita bicara (puji, apresiasi)
Kalau anak berbuat buruk, kita sedikit bicara, perbanyak tindakan."

Ya, betul. Kadang malah terbalik : yang baik dianggap biasa, kalo buruk dinasehatin sampe berbusa. Sekarang kalau kita lihat anak anak yang "bermasalah" (narkoba dll), yang salah itu siapa? Temennya yang ngajak? Lingkungan hanya pemicu, sebagai orang tua, harus ngebangun pondasi yang kuat di anaknya.

Kebanyakan dari mereka memang punya masalah di keluarganya. Entah terlalu sering diberi nasehat, atau bahkan diacuhkan.
Tapi ternyata kebanyakan diberi nasehat, akan punya efek kurang baik juga. Terkadang isi nasehatnya baik, tapi kalau cara penyampaian atau frekuensinya tidak baik, apa efeknya?
Karena bukankah kita tidak suka nasehat yang berlebihan?

* * * *

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.”

Insyaallah bahasan intinya (aqidah) berlanjut ke posting selanjutnya ya :))

No comments:

Post a Comment