Monday, June 15, 2015

[Our Marriage Story] Gonjang-ganjing Masa Penantian, Ketika Pinangan Belum Tersampaikan



28 Juli 2014

Dream of You

Ini sudah kali ke empat aku memimpikanmu.
Ditambah kau mengirimkanku gambar dengan sebuah tulisan “Let’s Get Married, and Go to Paradise” :O heyaah
Ya Allah..Semoga Allah menambah keberkahan dalam setiap detik masa penantian kita. >,<

Dan kau tahu? Kuperhatikan diri ini selalu menunggu kabar apapun terbaru dari mu. Ya, setiap saat mengecek ponselku, itu yafng kutunggu. Padahal demi Allah, mungkin bukan aku yang sedang dipikiranmu. Bahkan mungkin kau sedang menghabiskan waktu penuh manfaat dengan sanak keluargamu di sana.

Kau sering mengekspresikan perasaanmu, seperti yang kukatakan padamu, aku sangat tersanjung karena itu. Ingin sekali kubalas dengan sesuatu yang setimpal, yang mungkin akan membuatmu merasakan hal yang sama. Ya, itu sangat bisa kulakukan. Tapi Demi Allah, aku takut itu menjadi penghilang dari keberkahan-keberkahan yang kita inginkan.

“Intensnya komunikasi tak menjamin kau akan jadi suami istri kelak” –Zaky nya Pipit

Kau bahkan belum resmi melamarku kan?
Rasa-rasanya ini akan menjadi kepingan hari yang panjang.. >,<

Wonosobo, 28 Juli 2014



29 Juli 2014

Mama said that..

Pagi ini sepupuku bertanya tentang proses kita. Sambil tersenyum malu aku mencoba menceritakannya. Di tengah perbincangan, kudapati suatu fakta mencengangkan. Mama berkata “Masa pas lebaran haji? kan persiapan dulu, bisa tahun depan..”

Aku hanya mencoba menjelaskan bahwa itu perkiraan bapak, dan BUKAN berarti aku begitu ngebet ingin cepat-cepat. Aku hanya menegaskan, bila memang tidak tahun ini, maka akan kupersilakan akang untuk mencari yang lain. Aku percaya ada keberkahan dalam menunggu, ada keberkahan dalam kesabaran. Namun, aku juga tak mau mengotori hati sepanjang tahun, memikirkan akang lalu lalang di pikiranku terlalu lama tanpa kehalalan ikatan.

Ya, mungkin beliau belum mengerti. Meskipun aku juga tak tahu sampai kapan beliau akan sekedar mencoba untuk mengerti. Hanya saja aku tak bisa menerima kalau alasannya (lagi-lagi) hanya seputar uang dan uang. Aku mengerti, persiapan materi untuk sebuah acara pernikahan bukan suatu hal sepele, ditambah adanya keinginan untuk mempersembahkan yang terbaik, tentu memang tidak sepele.

Aku juga paham semuanya butuh persiapan, tentu saja. Mungkin harus aku tanyakan dengan detail padanya, hal apa apa saja yang harus dipersiapkan.

Kalau memang tak jadi tahun ini, kupersilakan akang mundur saja dan berproses dengan yang lain. :’(

* * *
Dan tepat setelah selesai menulis ini, akang menghubungi ku, mengajak diskusi tentang psikologi suami istri. Ah Andai kau mengerti bagaimana rasanya..
T_T


2 Agustus 2014

Kapan kau lamar aku?

Perjalanan ke jogja kemarin ditemani iringan lagu norak yang sepanjang putaran albumnya kuhina-hina. Liriknya, sesuatu. Kok rasanya seperti tak ada keindahan dalam penyusunan liriknya. Masa ada perempuan nanya ke pacarnya, “kapan kau lamar aku ke orangtuaku? Aku tlah cinta mati padamu.” Hehe -_-
Percayalah aku hanya bisa tersenyum dan mengiyakan karena merasa terwakili lagu norak itu. Yaa walaupun cinta mati nya sih belum. hehe
Baca judulnya, anggap saja ini tulisan lucu-lucuan. Sudah, jangan ditertawakan, dong.


3 Agustus 2014

Berharap menjadi pembuka segalanya.


Sudah lebih dari sebulan sejak pertama kau menanyakannya padaku. Maka kini aku mengerti bagaimana ”tersiksa” nya seorang insan yang dirundung kerinduan. (-_-‘) Hemm.. Baiklah aku tahu aku terlalu berlebihan dalam mengatakan ini. Hehe.

Keputusan ini –untuk berproses denganmu— kuakui sebuah keputusan yang multidimensi. Ya, tentu setiap orang tahu bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua orang anak manusia. Pernikahan melibatkan dua keluarga yang akan semakin rekat ikatannya, yang dari sanalah, muncul dukungan kuat membangun satuan unit peradaban. Sekali lagi aku mohon maaf karena sering membuatmu menunggu. Aku selalu membuatmu harus bersabar dengan apa-apa yang kulakukan.

Keputusan ini, kuharap menjadi sebuah pembuka gerbang, pemecah gunung es (seperti yang kau bilang), atas apa-apa yang ada pada keluargaku. Mungkin aku terkesan egois karena ada yang ingin kuselesaikan dulu di bawah atap rumahku, tapi percayalah, aku melakukannya sebagai bagian dari cita-citaku bersamamu.

Keputusan ini, memberikan energi lebih padaku untuk berbicara dengan orangtuaku. Si bocah kanak-kanak ini, jadi semakin belajar bahwa cinta itu peduli, bahwa cinta itu tidak membiarkan semua berlarut larut.

Keputusan ini, membuatku menjadi seorang yang lebih berani untuk mengerjakan cinta pada yang seharusnya kucintai lebih dahulu. Ucapan terimakasihku tak akan sanggup menggantikan kebaikanmu.

Mengapa lama sekali pulang ke bandungnya.. hehe
Wonosobo, 3 Agustus 2014


4 Agustus 2014

Jadi lama sekali, ya?


Tanggal 16 nanti kami kembali ke jogja, Alhamdulillah adik semata wayangku di wisuda pada tanggal 19. Itu berarti harus semakin bersabar untuk yang ditunggu-tunggu. Bisa jadi 23 Agustus atau bahkan 13 September katanya. Itu berarti 3 atau 6 pekan lagi.

Bersabar dalam penantian, insyaallah akan indah pada waktunya.
Sama seperti hari itu, perjalanan pulangku diiringi dengan shaum syawal dan godaan remeh limpahan makanan. Insyaallah, akan berbuah indah pada waktunya :”)

5 Agustus 2014

Tetiba ingin semua diakhiri



Memang hanya Allah lah sang Maha Pemilik Hati..
Kuselesaikan amanahku yang terkait denganmu ini, ah tapi mengapa aku jadi sangat benci dengan ini semua.
Seketika aku ingin ini semua diakhiri T_T

Ini amanah pilihanku, jauh sebelum kau menanyakan hal itu padaku. Betul aku serius.
Kuakui memang ada kalanya aku berfikir bahwa amanahku ini akan membantumu nanti, kelak.
Tapi demi Allah, aku tak mau amanahku hancur karena ada kamu pada niatku.

Mungkin karena harus menunggu terlalu lama,
Ah Ya Allah, berikah keberkahan dalam masa menunggu kami
Berikan yang terbaik..
Aamiin..

7 Agustus 2014

Tak perlu mencurahkan apa yang memang belum saatnya dicurahkan



Setelah kusadari sejauh ini, ternyata tak ada hari tanpa sekedar chating denganmu. Maha besar Allah yang mengingatkan hambanya dengan berbagai cara :
“Tak perlu menumpahkan apa yang sebenarnya memang belum tumpah, tak perlu mencurahkan apa yang memang belum saatnya.”
Itu cukup bagiku agar tak “tergoda” untuk sekedar menyapamu.

Pinangan belum disampaikan saja godaan banyak sekali ya?

Ada yang selalu memahamiku lebih dari siapapun, tanpa aku perlu berkata-kata padanya
Ada yang bila ku dekat dengannya malah justru membuatnya terbakar
Ada yang diam diam terus kuperhatikan selama ini
Ada yang diam diam terus kuharapkan.

Semoga Allah mengampuni.


previous post
1. Siapkanlah (Juli 2013).
2. Pertanyaan Yang Mengawali Segalanya (Juni 2014).

next post
4. Lamaran Resmi Keluarga Besar (September 2014) 

No comments:

Post a Comment