Thursday, January 5, 2012

Ikhlas dalam memberi, sebuah analogi dari (maaf) buang air

image source
Bismillahirrahmanirrahim..

Hey, maaf saya ngga bermaksud untuk ngga sopan, belajar bisa dari mana saja kan?
:)

Bicara ikhlas bukan sesuatu yang mudah dilakukan, tapi setiap manusia tentu saja berupaya untuk itu. Kenapa? Karena kebaikan apa-apa yang kita lakuin kalo  ngga ikhlas karena Allah atau terbersit suatu keinginan terselubung, musti di cek tuh diterima ato ngga nya sama Allah. (Karena masalah niat itu sulit dideteksi, keserempet dikit bisa belok ke riya')

biar lebih nyambung, Ikhlas kalo secara bahasa, maknanya: 
bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.
Sedangkan secara istilah :
ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.


Sering kita dengar, ikhlas itu dianalogikan seperti (maaf) buang air. Hal ini baru saja diingatkan lagi oleh seorang ustadz, dalam suatu pengajian yang saya hadiri.
Kita ngga pernah --dengan sepenuh hati-- nginget-nginget kapan terakhir kita ngelakuin itu, atau hapal bentuknya gimana, atau akan berhilir kemana, dsb (ini tadi kata ustadznyaa hehe). Ya setelah kita melakukan itu, yang muncul adalah perasaan lega dan ngga berusaha mengingat-ngingat atau mengungkitnya lagi.

Nah, tadi pas di angkot, itu saya pikirin lagi, sampe ngotot mau ngejadiin ini bahan tulisan hehe, semacam upaya mengikat makna tea :)

Filosofi ikhlas memberi seperti analogi dari (maaf lagi) buang air,
Bener banget! Saya ingin mengupasnya secara lebih mendalam hehe
Sekarang temen-temen membayangkannya jangan hanya ketika kegiatan buang air itu SUDAH selesai dilakukan, tapi proses ketika bahkan PERASAAN INGIN buang air belum ada, jadi jauuh sebelum itu. (ini yang membuat analogi proses ikhlas lebih ngena).

Ini ilustrasi kalo orang sakit perut (kebelet) gitu ya :
Perut kosong -> makan banyak -> kenyang -> secara alamiah tubuh memproses (mengambil hanya zat yang diperlukan tubuh, membuang yang tidak diperlukan) dan HARUS dikeluarkan -> buang air -> lega dan lupa

Bandingkan dengan proses ikhlas dalam memberi (contohnya mau ngasi uang ke pengamen):
Hidup biasa -> dapat banyak rezeki uang (sadar atau engga) -> berlebih ->  secara alamiah memenuhi kebutuhan, namun masi menyisakan rezeki yg belum dimanfaatkan ->  memberi pengamen -> lega dan lupa

Mudah mudahan bisa dimengerti ya hehe
Yang ingin saya tekankan adalah
  1. ikhlas memberi sama orang lain itu pada dasarnya fitrah manusia, pada dasarnya fitrah kita itu baik dan ingin meringankan orang lain.
  2. Ikhlas memberi sama orang lain itu (krn itu fitrah kita) bikin kita jadi 'kebelet' untuk ngebuangnya alias buru-buru ngasiin ke orang lain
  1. Setelah itu kita lakukan, kita lega karena perut kita udah ngga sakit (sedekah sudah dilakukan, jadi ngga ada 'hutang'), timbul perasaan lega dan kemudian mudah kita lupakan bila proses ini dilakukan secara rutin.

Satu lagi, persiapkan diri selalu dalam keadaan 'kebelet'. Kebelet ngasi orang, kebelet  berbuat baik sama orang, dan kebelet lainnya :)

wah maaf ya kalau tulisan ini agak aneh
Hikmah bisa didapat dari mana saja bukan?
Sama sama belajar ikhlas lah ya,
Mudah mudahan maknanya sampe :D

Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”
-perumpamaan dari ibnul Qoyyim-


sumber pustaka lain yang pastinya lebih bergizi:
Bugi, Mochamad. 2008.


Kamis, 5 Januari 2012
22:37
kamar

No comments:

Post a Comment