Wednesday, February 8, 2017

Materi #3 PERADABAN DARI DALAM RUMAH (Matrikulasi IIP Batch 3)

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL – Bandung 1

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Resume Materi Sesi #3
PERADABAN DARI DALAM RUMAH
Selasa, 7 Februari 2016

Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah
Ketua Kelas : Derini Handayani
Koord. Mingguan : Nurita Azizah Rachman

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch#3 Sesi #3

👨👩👦👦MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH👨👩👧👧
“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?

🙋 PRA NIKAH
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

👨👩👧👧 NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

👩👧👧 ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.
Karena
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016
https://www.youtube.com/watch?v=kwM9PDoRQRk&feature=youtu.be

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

*```RESUME TANYA-JAWAB SESIi#3```*
Pertanyaan 1. Teh Afina
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Saya yakin dengan awal pernyataan itu, tapi bukankah kita juga harus berusaha melihat peluang? Karena ada juga ibu yang terlalu fokus dengan urusan 'rumah' sehingga menggantungkan segala sesuatu kepada suami. Saya juga yakin ibu yg punya segudang aktifitas ataupun mampu berpenghasilan, bisa melihat peluang di depan matanya.
Bagaimana pandangan teh Ismi dalam hal ini?
Jawaban:
Dear teh Afina, setelah mengalirkan rasa dan berpikir jernih, saya baru bisa menemukan jawaban versi saya.
Jadi kembalikan semua kepada niat, apa tugas utama kita di dunia, lalu jika ada peluang, untuk apa niat kita melakukannya. Lalu saya ingat cerita ibu waktu beliau juga nyambi ambil peluang berjualan, ternyata fokus membersamai tumbuh kembang anak, dan subhanallah sekarang bunda septi sedang menuai apa yang beliau tanam.
Lalu apa ketika kita ada peluang kita tidak boleh mengambilnya? Kembalikan lagi pada prinsip diri, keyakinan, dan niat. Jika kita yakin dan kita yakin kita akan bahagia silahkan ambil peluang itu.
Kembali lagi pada slogan bunda produktif..
Rezeki itu pasti, kemulian yang dicari
Be a profesional, and rezeki will follow ✅
Pertanyaan 2. Teh Hansa
Ini sebenernya pertanyaan saya dari dulu, buat apa saya lahir di keluarga ini. Bertemu banyak orang yang menjadikan kepribadian saya seperti ini. Dapat suami dengan kelebihan dan kekurangan seperti ini, diamanahi anak. Sayang nya masih belum nemu jawabannya karena bingung harus mulai dari mana.
Kira2 saya harus mulai dari mana ya untuk mencari jawabannya. Karena saya ngerasa disemua bidang biasa2, saya tidak merasa ada yang spesial didiri saya. Terimakasih.
Jawaban:
Dear teh Hansa, bagus banget sudah tau kelebihan dan kekurangan pasangan. Itu sudah step mengenali pasangan kita.
Mengenali diri bisa dicoba dengan hal ini :
* Aktivitas apa yang kita suka
* Aktivitas apa yang tidak kita suka
Fokus pada hal yang kita suka teh. Misal, saya tidak suka setrika, sekuat apapun saya mencoba, saya ga suka. Apa harus dipaksakan? tidak, saya fokus sama hal yang saya suka. Saya tidak pernah menyetrika, kecuali kepepet. Tetapi hal yang saya suka saya lakukan terus menerus.
Dari situ bisa terlihat apa kekurangan dan kelebihan kita ✅
Pertanyaan 3. Teh Hamidah
Saya kn baru menikah 4 bulan dan tdk mlalui proses pacaran, dmna sgala sesuatunya masih saling mengenali dan menyesuaikan..utk menggali rahasia/hikmah perjodohan dg suami jg rasanya masih dangkal dan butuh waktu,
Nah, kira-kira bagaimana memulai membangun peradaban dari rumah dg kondisi saya seperti ini ya?
Jawaban:
Dear teh Hamidah,
pertama teteh harus bersyukur karena menikah tanpa melalui proses pacaran 👍🏻
Untuk membangun peradaban, kita perlu saling mengenal teh, kenali pasangan kita perlahan. Temukan kelebihannya dan koneksikan dengan kelebihan kita. Ketika mulai menemukan kekurangan dan "koq dia gini ya" luruskan niat lagi karena Allah dan berusaha menerima "ternyata pasanganku begini"
Fokus pada kelebihan dan menerima kekurangan itu sangat enak. Mangga dicoba.✅
Pertanyaan 4. Teh Prita Annisa Utami
Bagaimana cara menjaga anak dari lingkungan yang kurang baik? Mengingat pengaruh lingkungan terhadap laku anak sangat besar. Karena ada masanya anak banyak berkegiatan diluar rumah dan orang tua tidak bisa memantaunya 24 jam. (Jadi baper 😔 hehe)
Jawaban:
Dear teh Prita, saya dan suami selalu berpegang teguh pada kata kata seorang ustazah "kita tidak bisa membendung informasi negatif dari luar, tetapi kita bisa menutup informasi negatif itu dengan informasi positif"
Jadi jangan pernah lelah membersamai anak-anak kita di rumah, karena basic pendidikan bukan diluar, bukan di sekolah, tetapi dari rumah✅
Pertanyaan 5. Teh Rizki Amalia
Mau bertanya,, tp kayanya harus cerita dulu..😂
Saya seorang tenaga kesehatan, bekerja di klinik yg dikelola bareng sama komunitas pembelajar juga.. karena saya satu2nya dokter disana, akhirnya diamanahi menjadi penanggung jawab. Sebagian besar waktu dan tenaga saya digunakan untuk mengupayakan klinik terus bertumbuh dan bermanfaat untuk masyarakat. Alhamdulillah suami sangat mendukung dan berada dalam satu komunitas yg sama. Kita sepakat bahwa ini adalah peran peradaban kami,, bukan hanya saya, karena realitanya, suami dan anak selalu saya boyong ke klinik (Alhamdulillah suami freelance dan fleksibel secara waktu). Proses mendidik anak pun tak terpisahkan dr kegiatan saya menjalankan amanah ini. Tp seringkali saya merasa 'lalai' dgn tanggung jawab saya sebagai seorang istri dan ibu. D satu sisi saya meyakini ini adalah peran peradaban kami, di sisi lain, suka terpuruk dgn perasaan 'peran peradaban ibu adalah rumah, anak, dan keluarganya'. Pertanyaannya,,
1. apakah peran peradaban seorang ibu memang terbatas dalam rumah, anak, dan keluarga?
2. Saya sudah merenungi materi 2,, Bu Septi mengatakan kalo pijakan utamanya adalah bunda sayang dan bunda cekatan,, baru bunda produktif. Bagaimana jika peluang menjadi bunda produktif datang di saat kita belum 'ajeg' menjadi seorang bunda sayang dan bunda cekatan yg profesional? Apakah harus menunda peluang tersebut? Atau bagaimana mensiasatinya?
Jawaban:
Dear teh Rizki,
a. Menurut saya peradaban seorang wanita tidak terbatas pada itu. Tetapi ibu adalah madrasah pertama anak itu memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Sadarilah ketika kita mendidik anak, kita sedang membangun peradaban. Ketika pijakan sebagai ibu, istri, rumah dan keluarga kuat, insyaAllah seorang wanita mampu bermanfaat untuk masyarakat. Sudah banyak contoh realita hidup orang orang sukses berawal dari pendidikan rumah.
b. Karena sudah memilih di ranah publik. Maka saran saya teh rizki :
- niatkan karena ibadah
- dokter adalah pekerjaan mulia
- kuatkan pijakan bunda sayang & bunda cekatan
- ajak suami bersama memanfaatkan waktu membersamai anak
Kuatkan dan disiplinkan masalah manajemen waktu untuk bunda bunda yang memilih ranah publik, karena untuk anak bukan waktu sisa tetapi waktu optimal. ✅
Pertanyaan 6. Teh Witri Khotimah
1.Dalam tahapan pra nikah, bisakah kita menerapkannya saat kita sudah menikah? Terlambatkah? Apakah nanti jika diterapkan akan ada efek yg berbeda karena beda masanya?
2. Bagaimana kita menemukan keunikan positif dalam diri oleh kita sendiri? Karena saya merasa saya sendiri tidak punya kelebihan atau potensi yang menonjol dalam suatu hal dibandingkan teman yang lain.
Jawaban:
dear teh Witri,
a. Tahapan pra nikah, ada tahapan berdamai dengan masa lalu teh. Banyak orang yang missed masalah ini, termasuk saya. Jadi ada baiknya kita mengingat kembali hal hal positif saat masa lalu kita dalam keluarga, memafkan masa lalu, memang akan sangat sulit, tetapi harus kita coba. Bisa juga bersama dengan pasangan saling tukar pengalaman.
b. InsyaAllah ada teh, tapi teteh belum menemukannya. Coba cek jawaban no.3 ya. Bagaimana mengenali kelebihan dan kekurangan diri ✅
Pertanyaan 7. Teh (anonym)
1. Suami saya memiliki pengalaman yang kurang baik saat di didik oleh orang tuanya sejak kecil, (diperlihatkan banyak pertengkaran, dicurhati segala masalah oleh ibunya dan tidak pernah dicontohkan bagaimana menyelesaikan masalah) sampai saat ini suami masih berhubungan sangat baik dgn orang tuanya, namun saat muncul masalah dgn org tuanya seakan-akan "monster terpendam" pada diri suami saya keluar lagi. Saya sudah mencoba utk menyarankan setiap masalah coba diutarakan penyelesaiannya dgn org tua, tapi hal itu mustahil menurut suami saya. Yg saya akan tanyakan, apakah mungkin "monster yg terpendam" ini bisa jadi muncul dalam mendidik anak anaknya? Jika iya apa solusi yang dapat saya lakukan ?
2. Jika saya masih berpindah pindah rumah kontrakan, apakah berpengaruh terhadap cara mendidik anak dari sisi lingkungannya ?
Jawaban:
dear teteh sholehah,
a. Iya teh pasti pengaruh positif dan negatif pengasuhan kita secara tidak sadar akan mempengaruhi cara kita mengasuh anak. Tetapi kalau kita sudah mengenali "masa lalu" kita, maka ada baiknya kita keluarkan. Jika memungkinkan untuk berkomunikasi baik baik dengan orangtua kita lebih maksimal lagi, jika tidak bisa maka suami butuh "ruang" untuk mengeluarkan inner child. Solusi yang pasti jangan pernah lelah membersamai pasangan memaafkan masa lalunya teh.
b. Menurut saya tidak, rumah pindah pindah tidak masalah, asal kita harus mencari lingkungan yang baik, tetangga yang baik, ramah anak. Ingat kata ibu, it takes a village to raise a children ✅
Pertanyaan 8. Teh Andam
pertanyaan saya untuk materi 3
1. Bagaimana kiatnya agar suami tertarik dan mau berpartisipasi dalam pengasuhan anak?
2. Bagaimana menyamakan frame dan cara mendidik anak agar selaras karena tidak jarang berbeda cara pengasuhan terhadap anak?
Hatur nuhun teh
Jawaban:
dear teh Andam,
a. Perbanyaklah waktu dengan suami untuk membicara tentang parenting, meminta pendapatnya ttg masalah2 anak, menshare materi via japri, lalu lihat tanggapannya. Awal saya gabung iip, suami saya ga begitu tertarik, tetapi lama-lama mengakui 😄 lalu kita ambil prinsip yang sesuai dengan keluarga kita.
b. Nah ini teh butuh proses panjang, butuh perjuangan, tetapi komunikasi intinya. Banyak banyak ngobrol tentang anak kita dgn suami, bukan ngobrol yang lain. 😬 ✅
Pertanyaan 9. Teh Nafsa
Cara menyelesaikan 'masalah' masa lalu saat kita dididik oleh orang tua kita itu seperti apa ya? Apakah dengan kita ikhlas memaafkan atau dengan dikomunikasikan saat ini?
Jawaban:
dear teh Nafsa, saya juga belum pengalaman komunikasikan dengan orangtua masalah masa lalu pengasuhan. Soalnya saya pikir, saya tidak mampu berkata kata dengan baik dan lembut. Jadi saya pun masih jatuh bangun, pertama adalah keluarkan, keluarkan apa yang teteh rasakan. Ketika sudah keluarkan masa lalu negatif, ingat ingat lagi teh masa lalu positif yang akhirnya membuat kita bisa berdamai dan memaafkan. Dan ketika sudah tau salah pengasuhan, semoga bisa menjadi warning untuk kita dalam mendidik anak.
Kalau tidak salah, ini disebut Inner child ya, automatic pilot parenting. Bisa dicari referensinya di fb Mas Supri. Maaf belum paham banyak 🙏🏻 ✅
Pertanyaan 10. Teh Ziyana
Assalamualaikum teh, mau bertanya yaa..
Materi yg luar biasa menggugah membentuk peradaban dengan diawali membentuk karakter anak. Nah jika saya msh berada di posisi blm memiliki keturunan teh, kira2 kesempatan apa yang bs saya benahi untuk membuat peradaban??
Hatur nuhun teh..
Jawaban:
dear teh Ziyana, mungkin ini hal hal yang perlu disiapkan, siapa tau ketika sungguh2 maka Allah berikan keturunan di waktu yang tepat.
* Perbanyak ilmu mendidik anak, catat, kemudian arsipkan
* Perbanyak ilmu ttg kehamilan, persalinan, masalah2 ibu baru
* Perbanyak komunikasi dengan suami, lihat tanggapannya, lalu lihat misi apa yang diharapkan suami terhadap anak dan ibunya kelak.
Misal dulu suami bilang sebelum nikah, saya ingin anak-anak saya dipegang oleh istri saya sendiri. Eh ternyata benar, mungkin jadi doa, setelah melahirkan saya resign 😄
* Perbanyak ingat pengasuhan masa lalu, coba komunikasikan dengan pasangan, keluarkan, coba berdamai dan memaafkan. dicicil teh biar lega✅
Pertanyaan 11. Teh Rifadina
Bagaimana cara terbaik untuk menemukan "misi spesifik"? Apakah dengan trial and error cukup efektif?
Jazakillah, Teh 🙂
Jawaban:
dear teh Rifadina, saya juga tidak yakin apakah trial error efektif. Tetapi kita bisa belajar dari kesalahan dan memperbaikinya. Misi spesifik akan terbentuk, jika masing2 kita (suami istri) memiliki visi misi ke depan yang sama. jangan sampai masih pakeukeuh keukeuh sama prinsipnya masing masing. Memperbaiki komunikasi dengan pasangan bisa jadi awal yang bagus untuk memulai, saya pun masih belajar teh 😀💪🏻 ✅
Pertanyaan 12. Teh Prita
sy dl didik dengan cara yang kurang bisa sy terima oleh ortu sy,, sy masih merasa sakit sampai skrng.. ada kah tips untuk mengilangkan rasa sakit kembali memaafkan ortu saya, dan kembali menghormati dengan tulus?..
sy pernah coba mengubah mindset sy dengan mengatakan bahwa yang terjadi dgn sy itu takdir..Allah punya tujuan agar sy lbh baik (krn saat itu sy masih kecil, secara fisik, mental sy belum mampu untuk melindungi diri sy bahkan untuk meminta pertolongan orang lain).
setelah diberi mindset seperti itu msh tetap terasa pengalamn dl,, (masih blm memaafkan)..
Jawaban:
dear teh Prita, ini memang susah dan butuh proses panjang. Tetapi paling tidak kita sudah mencoba menerima, terima dulu pengasuhan masa lalu kita.
Oh saya dulu dibeginikan, oh begini begitu...
Coba keluarkan teh, entah bagaimana nyamannya teteh. Ngobrol dengan suamikah, atau menulis di catatan terus sobek sobek ya teh karena aib. Lalu buka kembali foto foto bahagia kita di masa lalu, tidak mungkin kan semua negatif, pasti ada rasa itu, rasa positif, rasa bahagia. Alirkan rasa negatif dan positif secara bersamaan, mungkin kita akan bisa mencicil memaafkan masa lalu kita. Jangan lupa berdoa untuk orangtua kita teh, karena kita ingin semua berkumpul di surga.
Dan coba deh alirkan kebahagiaan masa lalu kita dengan anak anak, ga kerasa kita bisa memaafkan karena lihat respon anak anak kita.
Saya pernah, mencoba cerita kenangan positif saya ttg jalan jalan naik pesawat waktu kecil, ga kerasa lihat respon anak positif, eh saya jadi ingat orangtua, lalu ingat pasti orangtua kita berjuang banget demi mengajak jalan. Alirkan rasa teh😘✅
Pertanyaan 13. Teh Derini
Saya merupakan anak dari keluarga broken home, memang saya tidak pernah ikut2 menjadi nakal seperti pada umumnya, Alhamdulillah mungkin berkat doa ibu yang selalu mendoakan anak-anaknya.
Belakangan saya Baru bisa memahami akibat perceraian orang tua saya, terbelit masalah ekonomi Dan komunikasi yang bermasalah. Ayah saya tidak bekerja, lebih menyukai memancing. Saat itu (akibat stress) ibu kerja menjahit. Komunikasi tidak berjalan mulus, hingga mereka memutuskan pisah rumah terlebih dahulu. Ibu ikut ke rumah nenek, Dan ayah ikut adiknya. Akhirnya komunikasi mereka semakin sulit, pihak ayah mengira mereka sudah bercerai, namun ibu hanya ingin mereka berdua mengoreksi diri masing2. Pada akhirnya ayah menikah lagi. Dan ibulah yang merasa tersakiti.
Saat ini kondisi keluarga saya agak mirip, dalam kondisi suami tidak bekerja Dan komunikasi kurang lancar. Saya sering baper mengingat-ingat Masa lalu orang tua saya, "teladan" seorang Istri tidak saya dapatkan Saat perceraian itu ketika saya Masih berusaha 8tahun belum mengerti apa2 soal masalah orang tua.
Saya memiliki keinginan untuk merubah sejarah agar tidak terulang kembali.
Apakah dalam diri belum memaafkan ayah?karena Tidak mendapatkan sosok ayah selama ini?(cukup rumit jika diceritakan bisa panjang lebar 😄 )
Teh Ismi, bagaimana agar kita bisa merasa bangga pada suami dalam kondisi seperti ini?
Jawaban:
dear teh derini, wallahu alam teh. Mungkin iya teteh belum bisa memaafkan. Karena merasa sudah merasa tersakiti, jadi belum bisa berdamai dengan masa lalu. Lagi lagi alirkan rasa negatif dan positif secara bersamaan teh derin... karena hal positif bisa membendung hal negatif. Memaafkan masa lalu memang susah... tapi kita harus coba. Tengok kembali ibu yang sudah berjuang, jadikan masalah sebagai pembelajaran.
Mengenai suami, kadang kadang pria tidak suka dinasehati, karena jiwanya pemimpin. Mungkin kita bisa memperbaiki komunikasi tentang apa yang diinginkan suami. Lalu sampaikan secara baik tentang fitrah pencari rezeki. Mungkin ada sesuatu yang belum tersalurkan dari pasangan teh, sehingga belum bisa menemukan pekerjaan yang cocok.
Bismillah, harus tetap bangga teh, kalau tidak bangga, bagaimana suami bisa percaya diri. 😘
Sampaikan kenangan positif beliau yang kita suka, yang membuat kita bahagia.✅
Pertanyaan 14. Teh Yola Widya
Terkait dengan keluarga sebagai pondasi peradaban dan saya yakini pola pendidikan anak yang tepat termasuk kedalam poin penting dalam membangun pondasi tersebut. Setelah memahami pola pendidikan yang tepat utk anak dan setelah paham kurikulum yg tepat untuk anak, saya terganjal dengan kurikulum sekarang yg padat materi dan jelas tidak cocok utk anak saya yg cenderung lebih paham materi praktek dan olah tubuh.yg menjadi pertanyaan..
1.Apa yg harus dilakukan ketika ternyata anak cenderung lebih fokus pada kegiatan klub sepakbolanya daripada pelajarannya karena memang dia tidak cocok dengan kurikulum yg padat materi.
2.haruskah saya mencari sekolah dengan kurikulum yg tepat sesuai dengan kondisi anak yg cenderung kinestetik? Ataukah cukup seperti sekarang ini dia tetap sekolah di sekolah pada umumnya,namun saya barengi dengan klub sepakbola sesuai dengan minatnya.mengingat dia(anak) yg kurang minat terhadap pelajaran.
Jawaban:
dear teh Yola, saya belum pengalaman anak usia sekolah teh. 🙏🏻 khawatir tidak memberi solusi, saya skip dulu ya dan mencari referensi bacaan. ✅ 📝
Pertanyaan 15. Teh Fathiah
Bagaimana menurut teteh tentang menangis sebagai cara meluapkan emosi? Jujur untuk periode tertentu saya membutuhkannya, kadang ga bisa ketahan, walaupun sdah berusaha untuk tidak menangis sambil bilang sama diri sndiri "udah jangan nangis, ga ada gunanya", tapi kalau belum terluapkan rasanya aktifitas dn komunikasi terganggu. Kadang menangis ini berawal dr rasa kecewa baik pada diri sndiri maupun.suami, atau krn merasa sendiri, kadang juga karena kelelahan ingin curhat tapi suami sibuk dan saya bingung harus mulai drmana,
Apa solusi menurut pengalaman teteh pribadi Untuk mengatasi perasaan 2 negatif tersebut?
Adakah alternatif lain yg lebih efektif dan solutif dalam mengalirkan emosi selain menangis?
Jawaban:
dear teh fathiah... wow teteh mengingatkan saya tentang nhw saya. Bagi saya menangis adalah efektif ketimbang marah. Anak saya 5y suka ingetin "janganlah marah bunda, maka bagimu surga" adem ya dengarnya?
Bagi tipikal orang ekstrovet, atau terbuka, akan sangat mudah menyampaikan emosinya. Kata orang ceplas ceplos. Berarti saya nebak mungkin teteh tipikal orang tertutup, tidak mudah mengungkapkan. Jadi saya pribadi, pengalamannya gini :
1. Anak tantrum, marah, dll, terima.
2. Komunikasikan.
3. Masih lanjut.
4. Diamkan.
5. Masih lanjut.
6. Pergi.
7. Dikejar
8. Menangis.
Cobain, menurut saya efektif. lain halnya kalau saya marah, ga efektif teh, yang ada dosa nambah, anak niru, terus anak jadi muka takut.
Dua hal ini saya masih jatuh bangun juga teh, tapi dicoba aja.
Setelah keluar dengan menangis, silahkan tarik nafas buang nafas. lalu peluk anak, komunikasikan dengan anak.
Kecewa dengan diri sendiri, apa yang bisa teteh lakukan?
1. Terima
2. Catat apa kesalahan
3. Menyesali dengan menangis, keluarkan
4. Setelah tenang coba berwudhu, shalat.
5. Curhatlah kepada Allah.
Marah pada pasangan? Saya sendiri suka sering diam, terus inginnya dimengerti. Ternyata itu tidak efektif loh. Malah nambah masalah baru.
Jadi saya coba :
1. Coba bilang
2. Tidak bisa bilang, diam sejenak tinggalkan pasangan
3. Setelah itu teteh bisa catat
4. Silahkan menangis
5. Setelah tenang kasih ke suami
6. Mau menangis lagi silahkan
7. Dengarkan penjelasan suami
8. Terima
9. Maafkan
Jangan lupa peluk suami ☺
Dicoba ya teh✅
Pertanyaan 16. Teh Rani A. Puspi
MasyaAllah.luar biasa ilmu2 nya😍 #jleeebbgtttt 😢 makin semangat bebenah diri💪💪 Ada pertanyaan nih teh setelah mendalami utube nya..
1. Dulu sy suami tdk byk melihat masa lalu,khususnya ttg pola pendidikan ortu pd diri kami msg2 (ilmu nya kurang banyak nih sblm kd ortu hehe).Bgmn ya teh berdamai masa lalu dg kondisi kami yg "telat menyadari hal ini"?Prakteknya susah..jd secara tdk sengaja muncul lah ke anak..kl k ortu berusaha memaklum.krn byk nya jasa mrk..
2. Mendidik anak dg fitrah yg diberikan Allah. Dan bkn mendidiknya spt yg qt mau..
Fitrah2 apa saja ya yg perlu dijaga sampai dia dewasa nanti?krn lingkungan jaman skrg yg qt tau banyak sekali tantangannya..
jazakillah..
Jawaban:
dear teh rani, memang prakteknya susah berdamai dengan masa lalu. tetapi harus dicoba, hanya dengan menerima, memaafkan, dan menjadikan sebagai pembelajaran
b. bisa cari lebih lengkap di pendidikan berbasis fitrah oleh ust.harry.
- fitrah iman
- fitrah belajar
- fitrah cinta
- fitrah fisik
- fitrah bahasa
- fitrah perkembangan
- fitrah bakat
- fitrah individu & sosialitas✅
Pertanyaan 17. Teh Nenih
Ketika saya dan suami sudh menemukan misi spesipik keluarga, bagai mana saya mengajak anak untuk bisa d ajak kerja sama sedangkan sya masih tinggal denga keluarga sya yg kebanyakan tidak sepaham dengan saya.
Jawaban:
dear teh Nenih, saya kebetulan tidak punya pengalaman. Tetapi saya ingat cerita Ibu, waktu beliau tinggal bersama keluarga. Jadi bikin space. Ini wilayah kekuasaan kita misal kamar, jadi prinsipnya apapun yang berlaku diluar, di kamar aturan kita yang berlaku. Semoga saya ga salah memahami cerita ibu 😬
Sama sih intinya, yang penting kuatkan pondasi keluarga kita. saya pun tidak tinggal serumah, tetapi kalau dibawa ke rumah keluarga prinsipnya bertabrakan semua, tetapi anak anak tidak serta merta ngikutin, kepengaruh mah iya, namanya anak-anak, tapi kita tak boleh pernah lelah. tetapi anak anak itu kritis hanya ingin tau kenapa loh.
Saya kasih contoh simple ya semoga bermanfaat.
Di keluarga kami, jarang beli mainan, harus nabung dulu, atau bikin aja mainan. Lalu dia terkaget2 dengan sepupunya yang tiap minggu dibelikan mainan. Dia cuma tanya kenapa, tapi karena kita terus2an kasih informasi positif, alhamdulillah tidak terpengaruh, merajuk... kritis sering, tetapi alhamdulillah sampai saat ini aman aman saja 😄
Referensi jawaban Ibu untuk bunda produktif :
Bunda, saya dulu juga mendapatkan pesan yg sama ketika masih gadis
Ibu saya single parent sejak saya usia 8 th.
Sehingga ibu selalu berpesan "harus jadi perempuan mandiri, berpenghasilan, tidak bergantung pada suami"
Mindset terbangun, tetapi di satu sisi saya selalu terngiang-ngiang masa kecil saya, sedih banget ketika pulang sekolah, ingin banget curhat dg ibu, tapi harus nunggu malam, karena ibu baru pulang kerja dan kuliah malam hari.
Akhirnya hal itulah yg memicu saya bahwa saya harus mandiri finansial tanpa harus meninggalkan anak-anak saya.
Maka sebisa mungkin sebelum anak-anak memasuki usia 12 th. Ajaklah selalu bersama ibu atau ayahnya. Libatkan mereka, sehingga kebutuhan kasih sayang terhadap kehadiran diri kita terpenuhi.
Apalagi kalau kita buka usaha sendiri, pasti kita bisa mengaturnya.
Kalau harus bekerja dengan org lain, maka didiklah asisten rumah tangga yg bisa mendampingi anak dengan baik, dengan segala konsekuensi yg akan bunda terima✅
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
referensi jawaban ibu pertanyaan dengan berdamai masa lalu :
datanglah ke orangtua anda apabila masih ada, peluk beliau berdua, sebagai visualisasi bahwa kita benar-benar sdh menerima segala kondisi masa lalu.
Seringlah berbuat baik untuk mereka, untuk mengganti rasa sakit/dendam masa lalu yg pernah ada.
Kemudian hindari masa-masa dimana kita dalam posisi marah yg memuncak ke anak.
Karena kalau kita belum selesai dg masa lalu, dalam kondisi tertekan, pasti kita akan melakukan perbuatan yg pernah dilakukan orangtua kita ke kita jaman kecil dulu, meskipun diri kita sendiri sangat tidak menyukainya.
Maka ujilah, kalau dalam kondisi tertekan kita bisa mengendalikan diri kita, insya Allah masa lalu sudah bisa kita terima dengan baik.
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
referensi jawaban ibu ttg yang masih tinggal bersama mertua/orangtua :
kunci utama ketika kita masih jadi satu dengan orangtua adalah komunikasi
Libatkan orangtua/mertua menjadi satu team dg kita, berikan mereka peran khusus yg bisa dikerjakan.
Kemudian bicarakan dengan suami, bahwa ring 1 yg harus kita bangun adalah keluarga inti plus ortu kita.
Makin kreatif dg solusi, mbak akan makin menemukan peran peradaban mbak di muka bumi ini
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Diresume oleh Korming : teh Nurita

==================
NICE HOMEWORK #3

📚MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 📚

Bunda, setelah kita belajar tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

🙋Pra Nikah

a. Bagi anda yang sedang memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang baik, tulislah suara hati anda dengan tema “UNTUKMU CALON IMAMKU”

b. Lihatlah diri anda, tuliskan kekuatan potensi yang ada pada diri anda.

c. Lihatlah orangtua dan keluarga anda. Silakan belajar membaca kehendakNya, mengapa anda dilahirkan di tengah-tengah keluarga anda saat ini dengan bekal/senjata potensi diri anda. Misi rahasia hidup apa yang DIA titipkan ke diri kita. Tulis apa yang anda rasakan selama ini.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda?adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa  anda dihadirkan di lingkungan ini?

👨‍👩‍👦‍👦Nikah

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

👩‍👧‍👧Orangtua Tunggal (Single Parent)

Bagi anda yang saat ini sedang mendidik anak-anak anda sendirian tanpa kehadiran pasangan hidup kita

a. Buatlah “Tanda Penghormatan’, dengan satu dua kalimat tentang sisi baik “ayah dari anak-anak kita” sehingga dia layak dipilih Allah menjadi ayah bagi anak kita, meskipun saat ini kita tidak lagi bersamanya.

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan  potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak anda, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasiaNya  sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yg kita miliki.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.

Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Saturday, February 4, 2017

My NHW #2 : indikator Profesionalisme Perempuan

NICE HOME WORK #2
Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat
✅“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”✅
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu
Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.
Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan.
Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri.
Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
- SPECIFIK (unik/detil)
- MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
- REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
- TIMEBOND ( Berikan batas waktu)


Dalam pengumpulan tugas NHW #2 ini, subhanallah banyak tantangannya. Saya meminta ijin kompensasi kepada korming karena atas takdir Allah ada kejadian yang saya dan suami perlu tangani terlebih dahulu, dan tidak memungkinkan untuk dapat berdiskusi mengenai hal ini. Hingga tulisan saya selesai pun, suami belum sempat melihat dan memberi saran apa apa. 

Saya belum memungkinkan menuliskannya dalam bentuk excel atau diketik via HP. Qadarullah. Hp sy bermasalah, rusak tidsk bisa di charge. Dan baru saja selesai di service. Itupun blm sembuh betul. Saat saya pakai hp cadangan, takdir allah pula disaat yang sama HP tsb hilang saat saya naik gojek.

Laptop sy juga blm bisa dipakai, dan mungkin baru bisa meminjam laptop suami nanti.

Mudah mudahan tulisan saya dalam foto tersebut cukup terlihat. Dan bisa dijalankan sebaik baiknya. Insyaallah akan segera diperbaiki :)

Materi #2 Menjadi ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga (Matrikulasi IIP Batch 3)

KELAS MATRIKULASI BATCH 3

INSTITUT IBU PROFESIONAL – _Bandung 1_*

 

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

 

*```Resume Materi Sesi #2```*

 

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Selasa, 31 Januari 2017

 

Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah

Ketua Kelas : Derini Handayani

Koord. Mingguan : Ziyana Nur Hida

 

_Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional_

 

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #3? Pekan ini kita akan belajar bersama 
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --; 
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang : 

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka. 

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015
https://youtu.be/hmLVcXK658Y

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

 

*```Resume Tanya Jawab Sesi #2```*

 

Pertanyaan 1.  Teh Gina Mardiati

Bagaimana memaksimalkan peran kita menjadi ibu profesional? 
sedangkan saya masih bekerja di ranah publik (rumah sakit dng pola kerja 3 shift) Saya memang sudah memiliki niat untuk resign. Tapi, terlalu banyak kekhawatiran saya. Misal, finansial, psikis saya setelah resign, memberi pengertian kepada keluarga, dll..

Jawaban :

 Di ibu profesional semua ibu adalah bekerja. ada yang bekerja di ranah publik dan domestik. jika teteh akan memutuskan resign, dan memilih bekerja di ranah domestik, maka yakinlah kunci rezeki itu baik satu maupun dua pintu hasilnya tetap sama. dan mulai petakan tantangan apa saja yg akan dihadapi beserta langkah menghadapinya. jika niat kita kuat dan yakin, insyaAllah jalannya akan terbuka ✅
jawaban tambahan:
karena sejatinya semua ibu adalah bekerja. ibu bekerja ranah publik harus punya energi double garda, jangan sampai dirumah mendapat sisa2. maka anggaplah sedang bermain peran, ketika pulanh ke rumah, ini stage baru, segera mandi menyegarkan diri dan bersiap bermain bersama anak, mendengarkan ceritanya, dst ✅

Pertanyaan 2.  Prita Annisa Utami

Masa emas anak adalah 0-3 tahun. Dimana kita harus mengerahkan 'segalanya' untuk anak, full untuk anak. Juga berkaitan dengan empat hal yg dimiliki anak, kalau ada yang menurun kualitasnya, maka letak kesalahannya ada pada ibunya, yang tentu saja membersamainya.

Lalu bagaimana kalau kita merasa kurang full, sedangkan anak sudah lewat usia 3 tahun misalnya. Adakah cara untuk memperbaiki masa emasnya?

Jawaban :

 Pertama, jangan menyalahkan diri sendiri. kaca spion untuk dilihat sesekali bukan selalu dipandangi. tentu bisa teteh insyaAllah, karena sejatinya golden age itu adalah seumur hidup kita. buktinya teteh ada di matrikulasi ini  hak kita adalah berubah dan hak Allah adalah mengubah. tidak ada kata terlambat jika kita memulainya dengan langkah pertama ✅

Pertanyaan 3.  Teh Andam 

Indikator keberhasilan Ibu Professional adalah menjadi kebanggaan keluarga. Jika berkenaan dengan tahapan bunda sayang, bagaimana agar kita mampu membuat komunikasi yang produktif terhadap anak anak sehingga dalam interaksi ibu dan anak setiap harinya dapat berjalan harmonis sesuai apa yang menjadi tujuan?

Jawaban :

Lebih lengkapnya nanti ada di materi bunda sayang komunikasi produktif setelah matrikulasi. ada tantangan 10harinya juga lho.. kuncinya: harus satu level dengan anak.
for Teh things to change i must change first. dan i'm responsible for my communication result ✅

Pertanyaan 4.  Teh Nopi Rahmawati

Setelah membaca materi 2 ini, dan sy reviewe ttg NHW1 sy, kok sepertinya sy langsung loncat ke tahapan 3 (bunda produktif). Apakah mungkin tahapannya bisa diloncati? Atau sy harus fokus ke tahapan bunda sayang dl? Dan apakah berarti sy harus merubah NHW1 sy, sehingga berkaitan dg tahapan bunda sayang?Mohon pencerahannya ya tth, masih bingung krn tugas NHWnya pasti saling berkaitan.

Jawaban :

Pijakan awal di ibu profesional memang menguatkan bunda sayang, ilmu dasar mendidik anak, agar nanti saat waktunya kita produktif, anak tdk keteteran.. apakah harus mengubah nhw 1? simak terus materi dan nhw selanjutnya yaa..

prinsipnya apapun yang menjadi ranah suka-bisa / passion kita, tetap libatkan anak didalamnya.✅

Pertanyaan 5. Dea Fadhila

1. Tahapan menjadi ibu profesional itu bunda sayang, bunda cekatan, bunda profesional kemudian bunda solehah.. Teh wiwik yang mau saya tanyakan tahapan tersebut haruskah berurutan untuk mendapatkan hasil maksimal di universitas kehidupan ini? 
2. Apabila keadaan dirumah baru diamanahi suami yang harus di urus, bolehkah loncat ke bunda cekatan lalu bunda produktif teh? 

Jawaban :

Dear teh Dea, tahapan ini adalah proses perjalanan ibu septi. ibu sudah membuktikan, bahwa bersungguh-sungguh mendidik anak, cekatan didalam rumah maka rezeki itu / produktif menghampiri, selanjutnya ibu berbagi ilmu tersebut sehingga mjd bunda shaleha (bermanfaat). saya sendiri masih jatuh bangun mengaplikasikan bun-bun itu, tapi yang saya rasakan tahapan itu memang sejalan, sekarang saya bisa produktif hanya karena ingin memenuhi kebutuhan anak-anak saya dengan lahirnya @temanmain.bdg dan playdate@homesweethome.

bagi yang belum memiliki anak, memang bisa loncat ke bunda cekatan dst.✅

Pertanyaan 6. Teh Witri Khotimah

1. Bagi sebagian masyarakat umum, ibu yang dipandang hebat adalah ibu yg bisa mengurus rumah tangga dan sukses dalam karirnya. Lalu bagaimana kita menyikapi pemikiran2 tersebut dimana terkadang menjadi irt dipandang sebelah mata dan kurang dihargai?

2. Dalam menjadi ibu profesional, haruskah kita melewati 4 tahap tsb secara berurutan? Bagaimana jika tidak dilakukan secara berurutan, apakah bisa? adakah pengaruhnya?

Jawaban :

Dear teh witri, utk no.1 afirmasikan: cancel cancel go away.. fokus menjadi ibu kebanggaan keluarga..berikan penghargaan kepada diri sendiri. karena kita tdk perlu penghargaan dan pandangan orang lain, cukup anak dan suami yang menjadi indikator kesuksesan kita ✅
no.2 lihat jwban sebelumnya.

Pertanyaan 7.  Teh Nafsa Karima

1. Ada 4 tahapan menjadi ibu profesional (bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, bunda soleha) disebutkan bahwa disetiap tahap ada ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu. Nah apakah ilmu-ilmu dalam setiap tahapan tersebut akan kami pelajari di kelas matrikulasi ini?

2. Setelah lulus dari kelas matrikulasi ini (aamiin) apakah kami akan naik tingkat menjadi bunda sayang? Dan adakah program seperti kulwap ini di bunda sayang? Seperti itu hingga akhirnya sampai di bunda soleha?

Jawaban :

Dear teh nafsa, betul sekali setelah lulus matrikulasi kita akan belajar di kelas bunda sayang. 12 materi mendidik anak akan dipelajari selama 12 bulan. kemudian lanjut bunda cekatan ada 12 materi manajemen rumah dalam 12 bulan juga, dst. sehingga total lama belajar di iip ini adalah 4 tahun sampai ke bunda shaleha.

dan tiap bulan akan ada tantangan 10hari. bagi yang sudah lulus matrikulasi insyaAllah lebih ringan, karena sudah terujj komitmen dan konsistensinya. 

r u ready? ✅
Pertanyaan 8.  Teh Nurita

Saat ini, saya ibu rumah tangga dengan 2 putra berusia 4 dan 5,5 thn. Dalam rencana jangka panjang saya (10 tahun kedepan), saya ingin produktif di satu bidang yg saat ini sedang saya minati. 
Awalnya, saya ingin meluangkan waktu untuk mencicil belajar/ memperkaya referensi bidang tsb. Tapi, setelah mempelajari materi #2, ternyata saat ini anak saya masih berada dalam tahapan usia yg memerlukan perhatian saya secara penuh.
Apakah artinya saya 'cut' dulu mempelajari bidang tersebut, atau lanjut saja selama itu tdk mengganggu dalam memberi perhatian pada anak?

Jawaban :

 Dear teh nurita, prinsipnya adalah manajemen waktu dan sebisa mungkin libatkan anak dalam prosesnya jika memungkinkan.

ada cerita menarik tth seorang ibu yang passionnya adalah mencuci dan menyetrika tapi tdk passion mendidik anak. beliau tetap melibatkan anak-anak selama proses tsb. hasilnya ibu ini menjadi juragan laundry, dan anak-anaknya tau betul bagaimana industri bisnis laundry dari hulu ke hilirnya ✅

Pertanyaan 9.  Teh Vita Puspita Sari

1.Saya bekerja 8jam perhari saya masih kurang pd bisa jd ibu prof sembari bekerja.. apakah menjadi ibu prof wajib untuk stay @home??
2.Menurut video td katanya pembentukan karakter sampai dgn 12 thn.. gimana dgn jika seorang anak usia 20 thn menjadi anak yg agak nyeleneh dy sering berbohong.. tp kan udh terbentuk karakternya.. apa masih bisa diperbaiki oleh orang tua nya??

Jawaban :

Dear teh vita, di ibu profesional sejatinya semua ibu bekerja, ada yang di ranah publik maupun domestik. tentu semua bisa menjadi ibu profesional ~ yang bersungguh-sungguh mendidik diri, anak dan keluarganya.

2. anak yang sudah aqil baligh, berarti memiliki kewajiban syariat yang sama dgn kita, maka statusnya adalah rekan. jika ada kesalahan yang pernah kita perbuat, minta maaflah, dan bicara dari hati ke hati, karena mereka bukan anak-anak lg.✅

Pertanyaan 10.Teh Rani Anggraeni

Pertama disebutkan d utube td ttg dunia anak itu bermain. Bermain dg gembira.Terkadang,dikegiatan bermain sy&anak terasa hambar..sy merasa tdk seluwes guru paud yg pandai mengondisikan anak..misal humoris dll.Sy cb evaluasi diri,bs jd krn perasaan/pikiran diri sy yg tdk bebas.msal krn ad pekerjaan lain yg "mengganggu" atau misal merasa ada perasaan semacam inner child,masa lalu dg keluarga yg sy ingat sy jarang diajak bermain bersama sprt sy ke anak sekarang(maklum sy anak pertama dg ortu pekerja yg pny banyak adik hehe&sy jg tau dulu ilmu parenting tdk sederas jaman skr).bagaimana mengatasi perasaan2 tsb?jazakillah.. :)

Jawaban :

Dear teh rani, kita pernah menjadi anak-anak, dan anak-anak memang suka bermain. kalau saya, saya hadirkan si playfull inner child, dgn mengatakan wi yuk main, ada teman..dan saat bermain itulah kita satu level dengan anak. saat itulah bonding dan moTehr trust terbntuk. teh rani sudah luar biasa, dgn pengalaman yg tdk enak, tapi tetap memberikan yg terbaik utk anak ✅

Pertanyaan 11.  Teh Yola Widya

Bismillah terkait dengan ibu sebagai agen of change, bagaimana caranya menyamakan persepsi dengan pasangan agar tercapai keselarasan yg diinginkan dalam membawa perubahan dalam keluarga. Sehingga jangan sampai timbul prasangka pada pasangan terkesan kita (istri) ingin menggurui beliau. Juga agar anak mau bekerjasama dengan orangtuanya dalam menjalani visi dan misi agent of change tersebut. Seperti yg diketahui anak sekarang selalu merasa aku lebih tahu aku lebih pintar dari orang tuaku

Jawaban :

 Dear teh yola, komunikasi dengan pasangan lengkapnya ada di bunsay. kalo saya pribadi, ke suami itu harus acceptance/ikhlas dulu baru bisa berkomunikasi. kalau belum accept beliau, biasanya salah satu akan ngotot.

nah,setelah acceptance untuk memulainya, gunakan Teh power of question supaya beliau ga merasa digurui.

Pertanyaan 12. Teh Dian

1. Disebutkan di video ibu Septi bahwa bahwa golden age anak 0-3 tahun, materi apa yang sebaiknya sdh kita tanamkan agar mendapat ke 4 poin meningkat?

2. Dalam fitrahnya anak itu pembelajar.. bagaimana agar anak itu sampai besar senang belajar? Seperti yg diketahuj ketika masih balita, anak2 memang cenderung ingin tahu, tapi ketika mulai masuk sekolah anak cenderung malas belajar.. 

3. Kemandirian anak sebaiknya dididik dari usia brp ya teh? Apakah sleep training sbg salah satu kemandirian itu perlu untuk usia 3 bln? Rumornya kalau anak nangis dicuekin akan menjadikan dia cuek jg.. saya masih maju mundur mau sleep training..

Jawaban :

 Dear teh Dian, 
1. usia golden age disini dalam artian perkembangan otak anak sedang dalam masa pesatnya. semua stimulasi motorik kasar, halus, bahasa, kemandirian, sosial yg diberikan inti nya adalah untuk menguatkan bonding dengan ortu. 

di keluarga ibu septi usia 0-7th adalah waktu menanamkan iman-adab-akhlak-bicara.

penanaman iman dengan berkisah, sedangkan adab-akhlak dan bicara hanya bisa DiTULARKAN

2. jika saat besar anak jadi malas belajar,mungkin ada fitrah yang terluka. seperti terlalu banyak dilarang, dilarang mencoba, dilarang bertanya, dll. atau ada tercerabut hak bermainnya atas nama "belajar" diminta les calistung sebelum 7th? atau gaya belajarnya yg tidak sesuai? atau dia hnya menyukai beberapa ilmu saja utk diplajari?

3. kemandirian bisa diajarkan sedini mungkin. dengan catt: si anak siap, ortunya juga siap dan sesuai dengan perkembangan usianya.

untuk sleep training, saya pernah mencoba pada anak kedua sejak dia new born. dan saya pribadi tdk merekomendasikan, karena komunikasi bayi adl menangis, dia perlu respon kita, dia membutuhkan kita sbg satu-satunya tempat mencari pertolongan. khawatir jika dibiarkan malah akan trauma, wallahualam ✅

Pertanyaan 13. Teh Ani Siti

Dalam pola asuh mendidik anak, sering kali terbawa apa yang telah dilakukan orang tua sewaktu kecil terhadap diri sendiri dan secara tidak langsung dilakukan pula pada anak.. padahal tau jika hal tersebut kurang baik, nah bagaimana cara mengontrol hal tersebut?
Makasi teh 

Jawaban :

Dear teh ani, dalam psikologi ini disebut autopilot parenting. good poinnya adalah sudah menyadari bahwa kita bertindak seperti orangtua kita. mengatasinya yaitu dengan: memaafkan kesalahan pengasuhan ortu, menerima ikhlas bahwa kita pernah mendapat perlakuan seperti itu. dan saat dipengaruhi kondisi autopilot, ambil jeda untuk menenangkan diri. karena tugas kita selain belajar ilmu pengasuhan juga memutus rantai pola pengasuhan dahulu yg tidak baik, supaya tdk diwariskan kembali ke anak-anak kita✅

Pertanyaan 14. Teh Nenih

1. Setelah tau bahwa saya blm menjadi ibu profesional hal apa yg paling penting saya perbaiki dulu terutama dalam pengasuhan anak?

2. Dalam banyak hal kadang ibu tidak mampu untuk meng ajar langsung pada anak, apakah saya sebagai ibu harus memampukan saya terlebih dahulu atau boleh d lempar pada pihak le 3, contoh anak pertama sya laki2 umur 4,5 tahun blm mau belajar ngaji, dan bijak kah saya menyuruh pihak ke 3 untuk mengajar mengaji?

3. Apa yg harus saya lakukan ketika saya berbuat salah dan anak menirunya, apakah cukup dengan merubah sikap saya atau perlu saya komunikasikan juga dengan anak?

Jawaban :

 Dear teh nenih
1. mengacu pada pijakan bunda sayang, komunikasi adalah yang pertama kita perbaiki. karena basic kita dalam berhubungan baik ke anak, pasangan orang lain adalah komunikasi

2. home based education bukan berarti semua diambil alih sendiri, bisa didelegasikan apabila kita tidak mampu dan tidak mmpunyai ilmu tersebut. dalam pembelajaran sebaiknya jangan ada pemaksaan, karena hanya menghasilkan penolakan. oya umur 4.5th kenapa sudah harus belajar mengaji?

3. ya, ajak anak berkomunikasi, meminta maaf jika kita punya salah, jelaskan bagaimana seharusnya perbuatan yang benar, lalu saling bersepakat untuk mengubah dan mengingatkan ✅

Pertanyaan 15.  Teh Windy

1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan setiap ibu untuk dapat menyelesaikan setiap tahapan ? Faktor apakah yg mempengaruhi cepat lambatnya menyelesaikan setiap tahapan?

2. Apakah mungkin bisa saja terhenti ditengah tengah tahapan dan tidak bisa melanjutkan hingga akhir?jika iya bagaimana utk menghindari hal tersebut?

Jawaban :

Tentang tahapan belajar iip sdh ada dijwbn sebelumnya.
faktor yang memperlambat: mengizinkan mr.ah hinggap ~ ah nanti aja, ah susah ah...dst

mempercepat: 
-bertemu langsung dengan para ahli atau orang yang sudah berpengalaman

-praktek

-sharing apa yg sudah dipraktekan

2. kuatkan niat dan tetaplah bersama orang-orang yang se-value untuk mnjaga semangat belajar. jika putus ditengah jalan insyaAllah bisa disambung ✅

Pertanyaan 16. Teh Siti Nurjannah

1. Dalam tahapan menjadi ibu profesional point c (bunda produktif) apa yang di maksud dngn produktif disini khususnya kalimat "produktif dngn bahagia tanpa harus meninggalkan anak&klg ini berkaitan dengan sesuatu yang dapat menghasilkan uang (selalu harus materi) ?

2. Indikator keberhasilan ibu profesional point bunda produktif khususnya point a
Bagaimana cara menemukan minat & bakat kita sesungguhnya?

Jawaban :

Dear teh siti
1. produktif di ibu profesional tidak selalu berkaitan dengan materi. karena rezeki itu pasti, kemuliaan yg harus dicari✅

2. nanti di materi dan nhw selanjutnya ada bahasan tentang ini stay tune yaa ✅

Pertanyaan 17.  Teh Lisna Sari

Sering disebutkan meningkatkan "kualitas ibu". Bagaimana tolak ukur menjadi seorang ibu yang berkualitas untuk keluarga ? Dan apa saja faktor pendukung agar seorang ibu tersebut menjadi berkualitas ?

Jawaban :

Dear teh Lisna, tolak ukur keberhasilan ibu: tanya customer anda: anak dan suami.

faktor pendukung: upgrade ilmu dan jadilah ibu yang bahagia karena kebahagiaan itu menular ✅

Pertanyaan 18. Bu Elly

Bagaimana kiat menjadi ibu yang menjadi kebanggan keluarga? Karena saya banyak di rumah dan mungkin kurang kreatif dan rasanya bosan, padahal saya suka koleksi buku-buku edukatif dan menemani mereka baca dan belajar. Kebanyak ibu2 ingin resign saya malah pengen kerja karena merasa kurang aktualisasi..

Jawaban :

Dear teteh, tidak ada yang bertentangan dengan aktualisasi diri dan mengasah bakat dengan mendidik anak, seperti cerita yg saya kisahkan di jwbn di atas ✅

Pertanyaan 19. Teh Rosa

Iya Teh mau Tanya kan untuk praktek, apakah ada hal yg bias saya lakukan saat ini mengingat saya belum menikah, tapi sudah mendapatkan teori?

Jawaban :

Di nhw selanjutnya akan ada nhw untuk single.. stay tune..keren kan blm menikah ilmunya udah mumpuni praktknya lbh mudah dibanding saya yg telat belajar

Pertanyaan 20. Teh Hajah

BAngga menjadi ibu-ibu (khususnya yg bekerja ranah domestic) itu, realnya seperti apa? Sejujurnya pernah juga merasa seperti pertanyaan no.18. dan bagaimana cara untuk bias sampai tahap itu?

Jawaban :

Dear teh hajah, bangga menjadi ibu domestik itu realnya adalah sudah tidak mendengarkan suara dan nyanyian sumbang atau merasa ada tatapan yg sbelah mata saja. karena indikator sukses kita bukan dari mereka.✅

Prosesnya pasti perlu waktu.. dimulai dengan mngubah mindset dan penerimaan diri bhwa saya ibu bkerja domestik dan saya bngga..kalau kita sendiri aja ga merasa bangga, ada suara sumbang sedikt,akan mudah goyah.

 

Pertanyaan 21.  Teh Fathiah

Mau Tanya, maaf kalo OOT NHW #1 boleh direvisikah? Kalau boleh direvisi cukup disimpan sendiri atau dilaporkan lagi?

Jawaban :

Silakn direvisi pribadi teh..

Pertanyaan 22.  The Farah Luthfia

Jika seorang ibu bekerja lebih karena merasa bertanggung jawab kepada kepentingan public, suami sih oke Cuma anak-anak usia 2th dan 4 th lbh ingin ibunya ‘dasteran’ aja dirumah lbh homie kata mereka? Bagaimana menjembatani hal seperti itu?

Meski bonding kita kuat, secara kemana-mana nempel terus kecuali tempat saya bekerja. Karena area kerja saya di rumah sakit jd seminimal mungkin dibawa ke tempat kerja.

Jawaban :

Dear the farah, memahamkan ke anak yang usianya dibawah 7 tahun dimana secara otak mereka belum bersambungan adalah dengan pengulangan.

Ceritakan betapa mulianya tugas tenaga medis, membantu orang lain dan banyak dibutuhkan orang ceritakan dengan buku bagaimana ibu bekerja disana. Sesekali ceritakan kisah di kantor pengalaman menarik saat bertemu pasien dll.. in syaa allah lama-lama mereka paham.
  
 

 

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

 

Friday, January 27, 2017

My NHW #1 Matrikulasi IIP Batch 3 : Pilihan Jurusan Ilmu di Universitas Kehidupan



NICE HOMEWORK #1
ADAB MENUNTUT ILMU
Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #3, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.
Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.
Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:

* * * * * * *

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Bagi saya, NHW pertama ini cukup menantang karena kita sudah diharuskan untuk menentukan, mengambil keputusan mengenai jurusan ilmu yang akan ditekuni dalam universitas kehidupan ini.

Untuk mengisinya saya membutuhkan waktu cukup lama untuk mengumpulkan dulu apa apa saja yang menjadi ketertarikan saya. Bagi saya saat ini, rasanya masih sulit untuk fokus pada 1 topik pembelajaran, sementara masih banyak hal lain yang juga ingin dilakukan. Ada kalanya saya merasa jurusan yang saya pilih lingkupnya terlalu kecil, ada kalanya juga saya merasa terlalu luas (sehingga justru tidak fokus). Ada juga topik ilmu yang isinya tautan dari 2/lebih ketertarikan saya, apakah itu bisa? :)

Ini beberapa contoh pilihan topik jurusan yang saya kumpulkan : ilmu parenting, ilmu parenting islami, ilmu parenting nabawi, ilmu keluarga, ilmu agama islam, ilmu islamic lifestyle, ilmu desain grafis, ilmu kepenulisan, ilmu kepenulisan islamic lifestyle, ilmu gizi, ilmu perkembangan manusia, ilmu Keibuan, ilmu Pendidikan, ilmu manajemen diri, ilmu enterpreneur.

Diantara semua hasil brainstorming itu ada yang memang sudah merupakan cabang ilmu, ada pula yang murni merupakan hasil pemikiran saya sendiri, jadi tak perlu kaget ya kalau aneh aneh ^^
Akhir cerita saya menimbang hal apa yang begitu penting bagi diri saya dan orang terdekat saya, minimal saat ini. Karena saat ini saya diharuskan fokus dalam mempelajari ilmu nya, mencari sumber ilmu, dan memperdalam maknanya untuk saya. Satu hal penting lainnya, saya ingin jurusan yang saya pilih itu bermanfaat dan bisa diamalkan. Sudah cukup sekedar menulis setumpuk  catatan, namun masih minim aksi. 

Bismillah..
Jurusan Ilmu Parenting Nabawi
(Bagaimana ilmu menjadi orangtua /teman/kakak sesuai dengan yang dicontohkan rasulullah saw & para sahabat dalam islam serta tuntunan alquran; Memahami tumbuh dan kembang seorang manusia sehingga paham bagaimana seharusnya menjalaninya)

2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Sebagai istri dan ibu, saya masih sangat kurang ilmu. Kurangnya ilmu membuat amal menjadi kurang maksimal, padahal itulah salah satu jalan ikhtiar saya untuk mendapat ridha Allah dan memasuki Jannah nya kelak.
Saya ingin bisa menjadi teladan yang baik dan punya cara membimbing yang baik bagi anak saya dan adik adik binaan saya dan mengerahkan yang terbaik untuk Allah sesuai teladan rasulullah dan para generasi terbaik.

Sejak sma saya sudah tertarik dengan bidang pengembangan manusia, pembinaan, kaderisasi. Ditambah pengalaman menjadi guru privat, kakak mentor di SMA, di organisasi pemuda dekat rumah, dan menjadi guru di SD, membuat saya merasa ini salah satu peran yang bisa saya ambil. Apalagi sekarang sudah mrmiliki anak, sementara saya pribadi masih merasa perlu banyak perbaikan.

Dari sekian banyak ilmu parenting yang didapat, saya merasa tercerahkan dengan konsep ilmu parenting nabawiyah yang diusung oleh ust budi ashari.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
- menambah ilmu dengan membaca minimal 1 topik perhari
- mengikat ilmu dengan menuliskan ikatan makna yang didapat
- mengikat ilmu dengan repetisi berbagi pada orang banyak berupa artikel dalam blog : jannah-family.blogspot.com
- mencoba mengaplikasikannya kepada anak dan adik-adik binaan.
- melakukan pengayaan materi dengan jaulah/wawancara pada narasumber 1 pekan sekali.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Perubahan mindset pada awalnya.
- niat ikhlas untuk melakukan amal terbaik
- kosongkan gelas saat menerima ilmu. tidak sok tahu atau merasa pintar saat menerima materi.
- terbuka dengan informasi, namun  tetap memfilternya dengan melakukan perenungan.
- disiplin waktu, dan target.
- berusaha lebih dekat dengan narasumber/sumber ilmu dengan lebih intens berkomunikasi dan menghormatinya.

* * * *

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

Salam (calon) Ibu Profesional,
Hajah Sofyamarwa Rachmawati
Jumat, 27 Januari 2017

Materi #1 Adab Menuntut Ilmu ( Matrikulasi IIP Batch 3)

Materi
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU 
ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik darii Ibunya

☘ ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

☘ ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

T&J

Tugas :
📚NICE HOMEWORK #1📚
ADAB MENUNTUT ILMU

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #3, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.

Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.

Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Saturday, January 21, 2017

[Review Buku] Inspirasi dari Rumah Cahaya - Budi Ashari, Lc

[Review Buku] Inspirasi dari Rumah Cahaya – Ust Budi Ashari, Lc

Sebetulnya ini sudah lewat dari target waktu saya menuliskan review dari buku ini. Sekarang kendalanya adalah saya lupa dimana menyimpan buku tersebut, sementara coretan yang saya buat ya hanya di buku itu. Hihi. Selain itu, saya juga tidak sembari menuliskan catatan-catatan di notes hp saya, sehingga sekarang saya udah ngga punya contekan deh. Hehe.
Maka dari itu, kali ini saya mungkin hanya akan menuliskan kesan-kesan saya mengenai buku itu ya. Semoga kapan-kapan bisa diupdate, atau seenggaknya sedikit tulisan ini bisa bermanfaat buat pembacanya.

* * * * * * *

Sudah lama saya menaruh perhatian pada sebuah sekolah dengan konsep “pengajaran iman dahulu, baru Al-qur’an” yang diusung oleh Kuttab Al-Fatih. Budi Ashari sebagai founder nya mungkin sering kita lihat di layar televisi sebagai salah satu ahli dalam sejarah islam.

Sudah lama pula saya suka baca-baca artikel dari parenting-nabawiyah dan punya keinginan besar untuk membeli buku-bukunya. Saya penasaran dan ingin tahu seperti apa sebetulnya konsep pengajaran iman sebelum al-quran itu dalam aplikasi pendidikan keseharian. Singkat cerita, saya memesan paket buku nya : Inspirasi dari Rumah Cahaya; Remaja,Antara Hijaz dan Amerika; serta Ke Manakah kulabuhkan hati ini.



* * * * * * *

Penulisan buku Inspirasi dari Rumah Cahaya (IRC) ini menurut saya cukup runut. Dimaksudkan untuk membuat para pembacanya benar-benar memiliki pondasi yang benar mengenai cara berpikir kita tentang konsep pernikahan, pendidikan dan keluarga. Serial Parenting-nabawiyah ini hadir sebagai “pelurus” dari berbagai pemahaman kita akan konsep parenting yang saat ini sangat menjamur. Bukankah sebuah berita baik, bila kini para orangtua begitu semangatnya mencari ilmu dalam mendidik ? Iya, hanya saja orangtua perlu tahu pakem-pakem apa saja yang harus dipegang sebagai umat islam. Teori pendidikan bisa datang dari belahan bumi manapun, aplikasinya juga mungkin bisa bermanfaat pada sebagian orang, namun sebagai umat islam, patutlah kita mencoba belajar ilmu parenting dari teladan kita terdahulu yang memang terbukti menghasilkan generasi-generasi unggulan yang mulia di dunia dan dirindukan di surga.
Parenting nabawiyah ini membedah sejarah den mengambil hikmahnya dengan sangat baik. Banyak hal-hal yang awalnya bagi saya “biasa saja”, kemudian seolah mendapat pencerahan “Eh, oh iya ya!”

Contohnya di awal, tentang tujuan pernikahan. Penulis menjabarkan mengenai pemahaman surat Al Furqan ayat 74 yang berbunyi: “ Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami iman (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.”
Penulis mengingatkan bahwa Al-quran adalah mukjizat yang susunannya pun sudah diatur oleh Allah sedemikian rupa dengan maksud tertentu. “kompak” dengan pasangan dahulu, lalu mendidik anak agar menjadi pemimpin yang “tim” nya adalah orang bertaqwa, bukan pemimpin yang tidak sejalan secara visi akhirat dengan timnya, begitulah kira-kira.

Gambaran mengenai pentingnya ‘kekompakan’ suami dengan istri begitu nyata terlihat dari kisah-kisah terdahulu. Bagaimana Nabi Nuh yang shaleh bahkan tak bisa mengajak istri dan anaknya kepada Allah, bagaimana Asiyah wanita shaleh harus berdoa mohon perlindungan pada Allah dari Fir’aun suaminya sendiri, bagaimana Maryam salah seorang wanita terbaik juga terlahir dari keluarga yang baik.

Dari buku ini tertancaplah langsung ke otak saya beberapa keluarga/sosok yang memang terbaik dan harus menjadi panutan. Keluarga Nabi Ibrahim AS dan Rasulullah SAW. Saya juga jadi ngeh berapa jumlah anak Rasulullah. 3 lelaki dan 4 perempuan (selama ini ingetnya Cuma Fatimah aja). Kita bisa berguru pada rasulullah bagaimana mendidik anak perempuan, dan “berguru” pada Ibrahim bagaimana mendidik anak laki-laki. Betapa ebrhasilnya rasulullah mendidik sahabat-sahabatnya dari berbagai generasi tua maupun muda.

Buku ini mengajak kita melihat parenting bukan saja dari lingkup kecil, tapi juga pada lingkup yang sangat besar. Memasuki fase akhir jaman dimana Islam akan kembali Berjaya, membutuhkan generasi-generasi yang jauh lebih tangguh dari pemuda di masa kejayaan Islam terdahulu.

Salah satu kelebihan dari susunan buku ini adalah, di setiap akhir bab ada kisah berhikmah semacam studi kasus agar pembaca lebih mudah memahami pelaksanaanya, serta catatan-catatan hal-hal aplikatif untuk menjadi action plan bagi para pembacanya.

Akhir kata, menurut saya buku ini rekomended untuk dibaca para orangtua dan calon orangtua. Mengingatkan kembali pada “settingan awal” mindset berkeluarga dan mendidik generasi terbaik. Parenting nabawiyah ala nabi yang memang terbukti kualitasnya.

Sabtu, 21 Januari 2017
Selesai pukul 01:30


Thursday, January 19, 2017

Karunia Seperempat Abad

25 tahun aja diinjak hehe
Seperempat abad sudah Allah izinkan saya menjalani kehidupan di dunia.
HAJAH SOFYAMARWA RACHMAWATI, sebuah doa yang bapak dan mamah saya panjatkan. 

HAJAH, karena saat masih janin saya sempat dibawa mamah ke mekkah saat mereka berhaji. 
SOFYAMARWA, mengambil nama 2 bukit yang termahsyur di sana, safa dan marwa
RACHMAWATI, jabal rahmah, bukit kasih sayang yang diyakini sebagai tempat bertemunya adam dan hawa. 

Wati untuk identitas keindonesiaan saya, hehe


Saya pernah malu dengan nama hajah, kalau menulis nama, saya hanya menulis singkatannya saja dengan ejaan yang salah pula " H. SOFIA MARWA R." Sampai SD tak ada yang memanggil saya hajah, semua memanggil sofia atau fia.

Tapi terimakasih yudha teman SMP saya yang dulu memanggil saya dengan nama hajah (waktu dulu sih kesel haha). Sampai kini saya sadar kalau nama saya hajah. Dan perlahan saya pun tahu cara menulis nama saya dengan baik dan benar. Hehe.

Seseorang perlu energi dan ruh untuk dapat menjalankan kehidupannya dengan sadar betul. Sejujurnya, saya juga belum pernah dapat "ruh" nya banget ketika mendapat jawaban dari orang tua saya mengenai makna nama saya.

Ah, Biarlah menjadi doa'doa rahasia mereka, biar saya pun menggali sendiri makna nama saya di dunia, menjadi sadar betul tentang apa yang Allah maksudkan pada diri saya.

Salah satu ketidak mengertian saya akan nama hajah ialah sampai saat ini saya merasa jiwa saya belum meraung terpanggil untuk berhaji ke sana. Kalau ditanya apa semua muslim mau ke baitullah, saya juga begitu, siapa yang tidak mau. Tapi jiwa saya belum cukup sadar, atau pengetahuan saya yang memang masih minim.

Iri sekali saya pada siapa siapa yang hatinya sudah begitu terpanggil mengunjungi baitullah. Kita boleh iri pada hal hal yang baik, bukan? Semoga allah berikan kesempatan itu juga pada saya. :)


SAFA dan MARWA identik dengan bukit yang dipakai siti hajar saat berupaya mencarikan air untuk bayinya, ismail. Sebuah kisah yang hampir semua muslim mungkin tahu. Tapi tahukah, ternyata perlu waktu bagiku untuk memahaminya. Ada TAWAKAL yang TINGGI dalam setiap jejak langkah siti hajar. PERCAYA PENUH pada kuasa Allah, bahwa Ia tak akan menyia-nyiakan hambanya yang shalih. KETIDAK BERGANTUNGAN SITI HAJAR pada seorang makhluk pun, meskipun itu suaminya sendiri. DOA PANJANG SEORANG AYAH   yang menjadi bekal utama dan penjagaan bagi keluarganya. Ia tetap bertahan hidup dan setelah pertemuannya lagi dengan ibrahim di kemudian hari, ia tak pernah sekalipun membencinya.

* * *

Dan kini, saya bersama suami saya hari purnama. Nama yang diberikan oleh kakeknya itu sampai saat ini, bila ada, saya belum juga mendapat jawaban akan maknanya. Kalau diijinkan, boleh kah saya menganggapnya sebagai cahaya terbaik, utuh, yang bersinar pada waktu waktu yang tepat,  yang Allah anugerahkan untuk keluarga kecil kami ? :")

Maka dear myself, jagalah agar rumah kita tetap bercahaya, tak dipadamkan oleh pemadam cahaya berupa kelalaian dan bisikan syetan yang tak bisa kita halau karena lemahnya penjagaan diri kita masing masing. Jaga rumah kita tetap bercahaya, seperti bercahayanya keluarga Muhammad saw, keluarga ibrahim, keluarga imran, keluarga luqman.

Bersambung

Ditulis 12 januari 2017
(Tulisan ini dipengaruhi bacaan saya pekan itu, inspirasi rumah cahaya ust budi ashari)

Monday, January 9, 2017

Review Buku Genap - Nazrul Anwar

Genap by Nazrul Anwar (photo : hajahsofya)


Judul : Genap
Penulis : Nazrul Anwar
Penerbit : Adnara Self-Publishing
Cetakan : I, 2015
Tebal : 166 halaman

Alhamdulillah akhirnya selesai juga baca buku Genap ini dalam waktu 4 hari. Buku ini saya beli sekitar tahun 2015 di awal-awal saya menikah dan baru sempat saya tamatkan di awal tahun 2017. Hehe.

Buku Genap ini termasuk serial fiksi yang topiknya sangat dekat dengan keseharian kita. Merupakan kumpulan “curhatan” seorang wanita tentang/pada pasangannya yang menggenapinya (menikah, menjadi jodohnya). Hal pertama yang paling saya sukai adalah dari pemilihan bahasanya. Karena isinya mirip buku diari, maka bahasa yang digunakan seolah mengajak pembaca untuk berbicara pada diri sendiri, atau seseorang yang sangat dekat. Saya menyebutnya dengan istilah monolog yang sesekali berdialog.

Sebetulnya sangat sedikit percakapan yang dimunculkan dalam buku ini, dan secara keseluruhan adanya percakapan memudahkan pembaca untuk memahami isinya. Namun pada bab 7 saya merasa agak aneh ketika muncul percakapan yang tidak formal, seperti “hehe”. Padahal biasanya juga mungkin lazim ya, tapi karena sejak awal saya sudah senang dengan monolognya, saya jadi agak “kaget”.

Kalau melihat daftar isinya, ada 48 Bab yang semua nya mengandung kata “Kamu”, semisal “Siapapun Kamu,  tentang kamu, mencemburui kamu, perhatian kamu, Istri seorang kamu, dan lain-lain. Sedikit banyak menginspirasi saya , kalau nanti mau bikin tulisan buat suami bisa pake tema ini aja. Hihi.

Banyak kalimat kalimat bagus yang bisa kita kutip juga, mengingatkan kita tentang konsep konsep dalam menjalani suatu hubungan pernikahan. Pembaca dapat merasakan dengan cukup lengkap bagaimana sebenarnya perasaan-perasaan yang muncul saat dipertemukan dengan jodoh, "kekagetan" setelah menikah, penyesuaian-penyesuaian, dan lain-lainnya.

Hal menarik bagi saya juga karena di akhir cerita beberapa babnya ada kejutan (twist-nya)! Yang kalau kita bacanya Cuma selewat bisa jadi ngga terasa, harus bener-bener dihayati hehe. Misal pada suatu bab, tokoh utama dapat berbicara banyak hal dan ternyata semua itu hanya karena sang suami dari tokoh utama lupa dengan hari ulangtahunnya! *cewek banget ya hihi*

Salah satu bab yang berkesan bagi saya adalah pada Bab Aku, Dia dan Kamu. Bagian ini yang membuat saya sadar bahwa buku ini punya alur yang menarik. Kisah Antara tokoh utama, suami dan kawannya. Bisa bikin kita tercengang sendiri, baca aja ya.

Buku ini juga menampilkan contoh-contoh kehidupan oranglain untuk diambil pelajarannya, dikemas dengan sangat mengalir dan menimbulkan rasa ingin tahu bagi saya pribadi. Sampai rasanya saya ingin bertanya pada penulisnya, “itu ceritanya beneran gak?”

Hal berkesan lainnya ada di bab Mengingat kamu. Ada surat dari seorang laki-laki duda yang sudah memiliki anak, yang kemudian menikahi seorang gadis. Menurut saya penulis sukses sekali mengatakan bahwa walaupun sosok itu seorang duda, proses menikah yang kedua kalinya tidak hanya sekedar untuk melanjutkan hidup. Pembaca dapat merasakan adanya jaminan bahwa sang istri yang baru akan diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dipahami dan diperhatikan sebagai orang yang spesial.

Menurut saya buku ini mewakili apa-apa yang ingin dikatakan seorang wanita kepada pasangannya. Takjubnya, penulis adalah seorang lelaki, namun begitu sukses menulis dengan sudut pandang wanita. Kesan awalsaat saya membaca, saya berpikir took utamanya laki-laki (karena penulis laki-laki dan buku yang sebelumnya ditulis dengan sudut pandang laki-laki). Jujur, selama membaca saya sempat agak repot memposisikan tokoh utama sebagai perempuan karena penulisnya laki-laki.

Kejutan lainnya, buku ini dipersembahkan sebagai mahar dari penulis untuk istrinya di hari pernikahan mereka. Kebayang ya sweet nya? Hihi awas baper.

Akhir kata, saya suka buku ini. Buku ini juga mengingatkan saya untuk mencari keberkahan pada pernikahan, dan bagaimana asam garam dalam mendapatkannya. Menurut saya buku ini rekomended buat teman-teman yang dalam proses mencari penggenap hidup, berada pada fase-fase awal menggenap, dan yang merasa perlu inspirasi untuksaling terus mengenali detail pasangan hidupnya. Banyak konsep-konsep yang baik dalam kehidupan yang bisa kita petik. Dibaca pelan-pelan, resapi, coret-coret aja bukunya dengan kesan kita supaya makin nampol ya. hehe

Salam,
9 Januari 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Sedang belajar mereview buku ^^

Book Review Pertama 2017 #Bookreview2017

Friday, December 30, 2016

Tidur Bagi Ibu Baru


Saya ngga akan mendramatisir kondisi dengan mengatakan bahwa menjadi seorang ibu baru a.k.a Mahmud Abas (Mamah Muda Anak Baru Satu) itu sangat kesulitan untuk bias beristirahat tidur. Apa yang saya nyatakan ini murni opini pribadi berdasarkan pengalaman sendiri, dan kondisi pada ibu-ibu lainnya bias sangat berbeda. Apa yang saya tulis ini semata-mata untuk merefleksikan apa-apa yang saya alami, untuk kemudian saya pikirkan pelajarannya. Dan karena saya begitu sangat pelupa dengan moment-moment, maka saya tuliskan seperti ini. *prolognya panjang pissannn*

Kebutuhan dasar hidup manusia seperti makan, mandi, beristirahat, memang menjadi begitu mewah ketika anak pertama saya lahir. Sebulan pertama paska operasi sesar saya masih sangat dibantu oleh orang-orang di sekitar saya. Makan dimasakin, diingetin, dicerewetin mamah. Mandi diingetin, diingetin, diingetin mamah (diingetinnya ampe berkali kali ya hemmm). Tidur dianjurin, disuruh, dibiarin sama mamah. Iya, sebulan pertama masih adaptasi dan belajar buat ganti popok, cuci popok, nyusuin bayi, dan motoin bayi #eh. Kayak yang ringan yaa hihi. Emang lebih ringan sih, soalnya banyak hal lainnya yang di backup sama yang lain. Tapi percayalah, ketika seorang anak lahir, tak serta merta software “Mamah Kece Hebat Banget” terinstall ke dalam diri kita, semua perlu belajar.

Kembali ke si Tidur tadi, sebulan pertama, haidar masih suka bangun malam untuk menyusu, sampai searang masih sih (13 bulan). Bedanya kalau dulu haidar bangun, saya bangun dengan mata yang full terbuka. Bangun tidur turun dari kasur, gendong haidar, bawa ke kasur, nyusuin, nyimpen haidar lagi di keranjang bobonya, lalu kembali tidur. Atau kalau nangis lagi, bangun berjalan kemudian mengganti popoknya yang basah . begitulah. Kalau sekarang jangan tanya ya, setelah menemukan posisi menyusui ternyaman sedunia bagi saya, kalau haidar bangun nyusu saya hanya bangun sebentar kemudian terlelap lagi bersama haidar. Hehe

Bagi saya pribadi, kalau tidurnya terinterupsi di waktu yang tidak tepat, bangunnya bisa telat. Dan adanya interupsi-interupsi saat kita tidur sedikit banyak akan memengaruhi jam biologi kita masing-masing. Maka jangan kaget kalau jam tidurbangun kita jadi agak beda dari biasanya. Masih bisa pasang alarm atau alarm barunya juga akan bunyi (anak bayi nangis hehe)


Menyusui menjadi gerbang awal saya kemudian tertidur pulas di malam itu. Hehe 

Lain lagi kalau tidur siang. Kalau sudah capek berat dan ikut tertidur bersama haidar, kadang saat bangun saya akan merasa penuh penyesalan. Loh? Menariknya masa-masa bayi pertumbuhan anak kita begitu cepat, singkat.  Pertumbuhan yang pasti dibarengi dengan perubahan itu juga membuat setiap fasenya kita ikut berubah. Tau tau anaknya udah bias senyum, udah bisa balik kanan balik kiri, udah bias muter, udah bias nengkurep, udah bisa ngesot, udah bias ngerangkak, udah bisa jalan dikit, udah bisa jalan banyak, udah bisa nempel terus ke badan kita walaupun kita lagi riweuh masak depan kompor. Nah, penyesalan yang hadir adalah karena banyak hal yang harusnya bisa dilakukan saat anak kita lagi bobo, tapi jadi ngga dilakukan karena kita juga tidur! Ahaha.

Padahal itu mungkin karunia dari Allah supaya kita istirahat, jadi harusnya disyukuri aja yaa hihi.

“Dan kami Jadikan tidurmu untuk Istirahat.” (QS An-Naba : 9)

Kalo inget penyesalan saat tidur itu inget jaman kuliah, ketika lagi ngerjain laporan deadline besok tibatiba ketiduran,  ketika lagi ngapalin materi ber bab-bab itu tiba-tiba ketiduran. Hehe. Yaa, kira-kirasama lah rasa menyesalnya. “seharusnya bisa lakukan ini, lakukan itu.. bisa masak, bisa ini bisa itu..” Tapi sudahlah, kewarasan menjadi yang utama.

Contoh aktivitas yang sebaiknya bisa kita lakukan saat bayi kita bobo : Ngejemur pakaian di atas (pastiin Kasur aman), masak, nyapu, ngepel.

Saat anak bayi bangun  biasanya itu waktunya kita fokus sama bayi. Ngga fokus pun bayi pasti meminta fokus kita. Kalau bisa main sendiri ya syukur-syukur tinggal sambil diawasin, kalau ngga bisa, ya sabar aja ditempelin terus hihi. Bisa sambil beberes, nyetrika (kadang heboh ding kalau bayi udah mulai pegang sanaa sini, bahayaa).

Nah dari itu semua, tengah malam menjadi waktu-waktu berharga bagi saya, istilah kerennya Me Time. Bisa browsing sepuasnya, nulis sepuasnyakaya gini (perlu loh), beberes sepuasnya, ngepel sekedarnya #eh, dan banyak hal lainnya. Tentunya kalau ngga ketiduran dan ga cape banget yaa.. hehe..

Imbasnya, besok bisa bobo siang deh :p
Tidur pada saat siang terik juga suka dilakukan rasul loh, tapi sebentar sih hehe. Asik kan?

* * * * *

Nah apakah kebiasaan tidur saya sudah baik?
Nope.
  • Rasulullah tidur di awal waktu dan bangun tengah malam untuk “Me Time” nya.
  • Tidur siang sesaat sebelum dzuhur nya belum bisa diaplikasiin. haidar masih aktif-aktifnya. Bobonya abis dzhuhur biasanya jam 1
  • Karena bobonya suka tiba-tiba pas lagi nyusuin, kadang jadi lupa berdoa boro boro wudhu. Mungkin harus jaga wudhu terus dan saat nyusuin fokus
  • Karena sekarang udah punya partner buat ngingetin, harusnya hari ke hari makin baik ya!

Sekian :D
Senangnya bisa menulis ini, semoga ada manfaat yang bisa diambil ya
Selamat bobo cantik ibu-ibu sedunia. Semoga berkah selalu meliputi segala aktivitas buibu semua :D


5 Oktober 2016
Hajah Sofyamarwa R.
Di Meja Kecil Ruang Tengah Cibangkong


Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...