Friday, November 22, 2013

waktu #1 : taubat si tukang telat

Bismilllah..

Ada dua hal yang mendorong saya harus merampungkan tulisan ini:
1. Saya tukang telat yang ingin tobat
2. Membaca buku Agus Mustofa yang berjudul "Tahajud Siang hari, Dhuhur Malam Hari" (buku ini sepertri nya akan di bahas di lain waktu :D)

Waktu adalah kehidupan. Tidak menghargai waktu berarti tidak menghargai kehidupan. Saya tertampar, bahwa setiap milidetik yang sering kita sia-siakan, yang sering kita abaikan, mengilustrasikan kebenaran sempurna surat al-ashr. Bahwa pada hakikatnya, manusia berada dalam kerugian, kecuali yang sadar untuk beriman dan melakukan amal shaleh.

Yah, biasanya orang menulis karena setidaknya punya integritas untuk diteladani. Tapi kali ini, tulisan ini dibuat sebagai langkah awal tobat saya yang tukang telat, untuk lebih menghargai waktu, menghargai kehidupan. Saya sadar, sudah jutaan korban *lebay* berjatuhan akibat sikap saya. Dalam proses penulisan ini pun masih dirasa keleletan saya yang berdampak pada waktu orang lain. Bersama ini saya memohon maaf atas segala kesalahan yang saya lakukan, karena sangat tidak mungkin menulis semua korban saya disini, bisa terlalu panjang. Saya berharap kawan-kawan mau saling mendoakan dan memaafkan saya hehe :)

* * * * *

Saya adalah termasuk orang yang sangat meyakini, dan telah membuktikan bahwa ajaran islam adalah ajaran yang bersifat universal. Al-qur'an menyimpan petunjuk universal yang akan berlaku sampai akhir zaman. Bergantung pada kemampuan kita merumuskannya… Dalam buku ini saya hanya mengungkap salah satu bagian tantangan universal itu. Sederhana saja : tentang jadwal shalat dan puasa. Kita bisa melihatnya betapa umat islam perlu merekonstruksi kembali kepahamannya tentang 'waktu'. Sebuah parameter yang oleh Allah dijadikan sebagai sumpah: "Demi masa." (Agus Mustofa)

Sejauh ini, saya mulai sampai pada satu kesimpulan bahwa pemahaman kita terhadap waktu sangat menentukan kualitas diri kita sebagai manusia. Kalau saya bilang waktu itu sangat penting, semua orang pasti juga akan bilang "Ya Iyalah!". Namun pemahaman sebagian orang, termasuk saya ini, belum sampai pada tahap benar-benar memaknai dan mengaplikasikannya pada seluruh kehidupan. Contoh sederhana saja, kalau kita benar-benar mengerti tentang waktu, kita tidak akan pernah sengaja datang terlambat pada suatu pertemuan meskipun tahu bahwa orang-orang lainpun akan terlambat, bukan?

Kemudian saya lalu teringat pada tulisan ustadz anis matta mengenai umur, bahwa umur adalah sebagai batas masa kerja. Kita harus bertanggung jawab pada batas umur kita sendiri. Di dalam batas umur, kualitas hidup kita tidaklah ditentukan pada seluruh umur itu sendiri. Kualitas hidup kita hanya ditentukan pada batasan umur efektif kita. Umur efektif kita adalah saat dimana kita mencapai rasio produktivitas hidup, yaitu apabila 1 unit waktu kita sama dengan 1 unit amal.

Bisa dibilang kita ini hanya numpang lewat di lalulintas waktu yang ada. Bersyukurlah bahwa Kita tidak akan mempertanggung jawabkan seluruh waktu yang Allah hamparkan dari jaman Nabi Adam sampai sekarang. Ya, kita hanya mempertanggungjawabkan usia (waktu hidup) yang diberikan pada kita.

Waktu tidak akan terulang, waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan yang pasti waktu kita akan kita pertanggungjawabkan >,< Mohon jangan bosan mengingatkan >,<

6 November 2013

No comments:

Post a Comment