Sunday, March 1, 2015

Transisi

Pola asuh, kebiasaan-kebiasaan, budaya keluarga, pembiasaan-pembiasaan yang dialami setiap orang pasti berbeda, setiap keluarga memiliki kebijakan-kebijakan dan prinsip yang mereka anut. Ada yang memang prinsip nya sudah terpatri dalam jiwa, dan diterjemahkan oleh kehidupan sehari hari. Ada pula yang tak tahu prinsip yang dianut, tapi menjalankannya setiap harinya, itu juga prinsip, hehe.

Alhamdulillah, allah berikan saya kesempatan untuk dapat melihat lebih dalam mengenai hal ini, untuk mempelajari lebih. 22 tahun dibesarkan dalam sebuah keluarga, kini Allah mengajarkanku untuk mengenal sebuah keluarga baru, dengan segala paketan yang tentu saja berbeda dengan paketan keluargaku.

Selalu ada kali pertama untuk segala sesuatu. Maka untuk hal ini, saya juga memahamkan pada diri saya bahwa inilah proses belajar saya. Saya harus belajar beradaptasi. Kaget? Pasti, tentu saja. Jangankan dengan keluarga baru, kalau baru beli kacamata baru aja pasti mata harus beradaptasi dulu. Kalau mau mindahin taneman hasil kuljar dari lab ke tanah lapang juga tanaman harus diaklimatisasi dulu agar bisa bertahan tetap hidup.

Alhamdulillah saya bersyukur, dengan ini, saya jadi punya sudut pandang baru. Saya jadi punya frame baru mengenai "paketan" keluarga saya, dan saya juga belajar dari "paketan" keluarga baru saya. Dari sana, Allah munculkan rasa dalam hati saya, bahwa apapun yang kita alami, hangatkan dengan sabar dan syukur. Ya, kau merasa jadi lebih bersyukur dengan apa yang selama ini kau dapatkan.

Ada kalanya kita mempertanyakan takdir Allah pada kita, mempertanyakan maksud-maksudnya. Tak ada yang salah dengan itu, namun yang perlu kita pahami adalah bahwa tak pernah ada kehendak buruk untuk kita dari Allah. Allah pasti sudah menyiapkan paketan takdir kita dengan sebaik baiknya. Maka, tetap berjuang menjalaninya dan sabar. Karena seringnya, semua baru dapat kita pahami setelah semua kejadian berlalu, ya kan? Waktu akan menjawabnya.

Sama seperti saya, dan mungkin beberapa anak lainnya di berbagai belahan bumi lainnya. Terkadang tak sabar hingga muncul rasa tak bersyukur dalam hati. Kondisi keluarga begini-lah, ortu gue begitu lah, hidup gue begitu-lah, dan segala keluhan lainnya. Padahal akan ada suatu masa, kamu begitu mensyukuri bagaimanapun buruknya kondisimu di masa lampau.

Ada 2 hal yang mungkin bisa lahir dari pengalaman yang-kata-dia-pahit : (1) Perasaan tak terima dan ingin membalas dengan melampiaskannya pada orang lain, atau (2) berupaya menerima, mempelajari lebih, dan berupaya tak melakukannya lagi pada siapapun. Bersyukurlah ketika Allah menanamkan perasaan yang kedua padamu. Rasa pertama diwujudkan seperti perpeloncoan, sedangkan rasa kedua menimbulkan tekad yang kuat dalam diri untuk menjadi lebih baik.

Alhamdulillah,
Alhamdulillah,
Alhamdulillah.
:)

No comments:

Post a Comment