Tuesday, January 28, 2014

Mengubah Orang Lain?


Bismillahirrahmanirrahim..

Halo kak, apa kabar adik-adik binaan nya?


Saya ingin sedikit sharing tentang apa yang pernah dan sedang saya pikirkan. Semoga bisa bermanfaat untuk kakak-kakak yang sama-sama berusaha terus membina. Saya percaya tak pernah ada kisah yang sia-sia. Menulis dan membagikannya, akan sangat bermanfaat bagi siapapun orang di luar sana yang sedang berada dalam kondisi yang serupa :)


Ini berawal dari perkenalan saya dengan seorang remaja laki-laki yang luar biasa. Aktif di berbagai perlombaan, banyak prestasi, pribadi yang supel dan mudah dekat dengan orang, shaleh, bisa mengaji dan bisa mengajarkannya, pandai mengarahkan orang, bersemangat mengerjakan banyak hal, inisiatif dan rajin, bisa diandalkan, banyak keterampilan, dan masih banyak lagi. Semacam remaja sempurna ya? Percayalah dia tetap masih remaja, tetap mencari sosok yang bisa membimbing, tetap sedang dalam pencarian, tetap  terus belajar.


Kurasa dia hampir-hampir tak pernah kehabisan energi, jarang sekali bisa diam dan selalu aktif. Selama ini saya melilhatnya sebagai anak yang berakhlak sangat baik, saya memaklumi bila ada sikap-sikap yang belum baik sebagai anak remaja. Toh semua berproses, tak ada yang sempurna. Namun sifatnya yang blak-blakan dan kadang kurang baik dalam pengontrolan diri membuat kadang ada yang tersakiti. Terkadang sikap sikap yang belum dewasa muncul, bahkan terkadang berbicara dengan bahasa yang kurang baik. Kawan-kawan yang juga sayang padanya beberapa kali mengingatkan, bahkan perkara itu sampai memicu konflik yang cukup berat untuk dialami anak remaja seusianya.


Kami sebagai Pembina juga berupaya melakukan perbaikan dan sabar menghadapinya. Kami percaya suatu saat juga ia bisa sadar dan memperbaiki diri. Namun adakalanya, bila Pembina menghadapi hal semacam ini, ada rasa putus asa bila sang anak tak kunjung berubah bahkan semakin menjadi, ya kan?


Ini pengingatnya, jawaban yang kudapat di pagi ini :


“Kita sebaiknya tidak apriori dengan siapapun karena hidayah Allah tidak ada yang bisa memperkirakan, Kewajiban kita hanyalah menyempurnakan ikhtiar, berdakwah dengan penuh rasa cinta, dan menjalin komunikasi dengan orang lain sebaik mungkin; Selebihnya, kita harus tawakal terhadap Allah.” (Husain MATla, Dakwah dengan Cinta)


Ya, kau tidak berpikir untuk membuat dia berubah dengan kekuatanmu kan? Kalau hidayah-Nya memang bukan lewat kita, relakan, yang penting kita sudah mendoakan dan berusaha semaksimal mungkin. Periksa lagi mungkin masih ada niat atau apapun yang salah dari diri kita dalam upaya itu. Tetap berusaha dan perbaiki dirimu.


Allah. Semua pasti dengan izin Allah..


Dibalik segala prestasi dan keceriaan hidupnya, rasanya tak ada yang akan menyangka kalau  ia tidak seberuntung kita yang masih bisa tinggal bersama orangtua kandungnya.

Semoga keberkahan melimpahi kehidupannya di dunia sebagai bekal di akhirat nanti. Rencana Allah pasti baik sehingga memberikanmu kesempatan untuk belajar dari berbagai jenis orangtua :)

No comments:

Post a Comment