Saturday, March 10, 2012

Hidup itu terkadang seperti mengepel selasar hijau salman :)


Tulisan ini dibuat sesaat setelah selesai melaksanakan piket selasar hijau salman di hari ahad pagi (12 Feb 2012).
Biasanya tiap ngepel selasar hijau saya belum dapet ilham ini, mungkin karena baru sekarang terpikir dan memang ada tugas mading di asrama putri.

Bismillah..
Kalian tentu sangat familiar dengan selasar hijau masjid salman, bukan?
Ya, kuperkirakan lantainya  hanya terusun dari semen, kemudian diberi sedikit sentuhan cat hijau. Tempat ini mungkin menjadi kenangan tersendiri bagi yang pernah berkunjung ke salman. Tempat kajian ifthar, duduk minum kopi/teh, atau sekedar menunggu teman.
Kawan-kawan dari Asrama Salman ITB memang memiliki jadwal tersendiri untuk melaksanakan piket di sekitaran salman pada hari ahad pagi. Biasanya asrama putra akan beramai-ramai kerja bakti di lapangan rumput dan beberapa tempat lainnya. Sedangkan asrama putri kebagianmembersihkan selasar hijau dan daerah depan kantin.

Apanya sih yang aneh?
hehe
Saya mau sedikit bicara tentang  sesuatu yang terpikir oleh saya di kala itu.
Mengepel selasar hijau terlihat tidak ada gunanya, karena toh mungkin kami hanya sekedar 'membasahi lantai'.
Sebelum saya di asrama, mungkin saya tidak pernah aware sama selasar hijau ini. Mungkin tidak pernah terpikirkan bahwa ternyata, ada loh yang selalu rajin bersihin itu lantai setiap hari. Kami sih mudah saja, hanya 1 hari dalam 1 pekan.

Lantai semen hijau itu setiap digosok berkali-kali, yang terlihat ya itu itu aja. Kalau kalian perhatiin lagi, ngga ada perubahan. Mungkin para pengepel nya juga merasakan hal yang penuh kesia-siaan.
Tapi di pagi hari itu, saya memikirkan hal lain, bahwa mungkin memang ada suatu pekerjaan  yang kita terus lakukan, tapi rasanya ngga ada efeknya, ngga ada perubahan. Adakalanya kita melakukan pekerjaan yang sejatinya ngga terlihat baik atau buruknya, seperti sebuah hal yang sia-sia.
Padahal kalau dipikir, misalnya ngga ada siapapun yang bertugas bersihin selasar itu, ngga ada yang peduli sama selasar itu, mungkin kalo lantainya dicolek, jari jari kita penuh sama debu ya?
Terkadang kita memang harus sabar (masih belajar) dengan proses yang musti kita laluin, terkadang musti sabar karena suatu pekerjaan itu rasanya sia-sia,
Tapi ya, mungkin sejatinya usaha kita itu sekarang jadi bahan buat ngebangun istana di surga. Ngga keliatan kalo pake mata dunia, percaya aja.

Ya, Hidup itu terkadang seperti mengepel selasar hijau.
Dampak dari perbuatan kita mungkin ngga keliatan sekarang, mungkin rasanya sia-sia,
Tapi percayalah (ayo percaya, jah..) bahwa ngga ada satupun yang sia-sia.
Ini proses, perlu bertahap!


hap hap
Selesai hari Sabtu, 10 Maret 2012
16:57
Warnet  Asrama

Ps: din, maaf ya tulisannya baru selese sekarang hehe :)
Dan walaupun mungkin ngga nyambung, yasudahlah ya hehe :p

Daerah selasar hijau Masjid salman yang selasarnya ngga kelihatan hehe. Diambil saat pasar seni itb, (Yudha PS, 2010)
image source : http://salmanitb.com/2010/10/salman-itb-pun-sesak-dengan-manusia/

No comments:

Post a Comment