Saturday, March 10, 2012

Overload Informasi? Waspadai futur! (sebuah resume)

image source : http://www.plrinternetmarketing.com/internet/avoid-information-overload/

Bismillah..
Tulisan ini merupakan sebuah resume dari sebuah subbab materi yang saya baca dari buku Sudahkah Kita Tarbiyah, karya Eko Novianto. Sepertinya saya sempat merasakan hal ini, makanya saya mark, dan saya coba sedikit berbagi disini. :)

DEFINISI
Overload informasi adalah keadaan dimana informasi diterima dalam jumlah yang terlampau besar sehingga muatan-muatan info tersebut menyebabkan atau memicu timbulnya reaksi-reaksi negatif pada diri receiver (penerima pesan)

GEJALA
  • Merasa perlu menghindari pertemuan dengan ikhwah (aktivis) lainnya
  • Tidak menikmati informasi yang kita terima, padahal biasanya selalu ditunggu-tunggu

Komunikasi adalah sebuah niscaya. Kebutuhan kita akan pemahaman islam yang syamil, kamil dan mutakamil melahirkan kesadaran bahwa kita memiliki potensi yang spesifik dan terbatas (juzi'yah ma'dudah). Maka kerjasama dan komunikasi sebetulnya merupakan hal yang sudah tentu. Selain itu dakwah islam terus berjalan, semakin meluas dan melebarkan ladang amal tambahan dimana-mana. Maka hambatan dalam komunikasi (communication gap) sebaiknya diperkecil, mengingat kerja dakwah yang tidak semakin ringan.

7 REAKSI NEGATIF PADA KOMUNIKASI AKIBAT OVERLOAD (G. Miller)
  1. Gagal memperhitungkan informasi
  • Agenda kerja penuh dengan info
  • Punya kegiatan dalam jumlah besar
  • Punya janji dengan pihak lain/komitmen dengan pihak lain dalam jumlah besar.
Sehingga mungkin sering lupa, tidak berdaya dalam mengelola informasi

  1. Banyak melakukan kesalahan
  • Bingung tidak fokus, memicu terjadinya berbagai kesalahan
  • Terkadang korelasi  antar informasi rendah

  1. Menunda / menumpuk pekerjaan
  • Stadium awal : penundaan itu bisa jadi cerminan ketidakmampuan
  • Stadium Lanjut : penumpukan dan penundaan tugas merupakan refleksi dari penyakit ma'nawiyah untuk selalu meminta penilaian yang lebih tinggi dari kualitas pekerjaannya.
  • Waktu dan banyaknya amanah senantiasa menjadi kambing hitam dari kegagalannya

  1. Melakukan proses penyaringan atas informasi
Karena beban informasi berlebih, kemudian cenderung menyaring (memilah mana yang dianggap penting/tidak), bisa juga dengan menghilangkan sebagian info yang lain. Ketika informasi datang, kemudian menentukan skala prioritas atas informasi tersebut. Membuka peluang timbulnya persepsi yang keliru. Info penting berubah menjadi informasi yang tidak penting, dan info tidak penting menjadi info penting.

  1. Hanya menangkap garis besar informasi
Informasi yang rinci tidak cukup menarik baginya, tidak mendapat tempat dalam memorinya.

  1. Korban Mendelegasikan tugas.
Sebetulnya mendelegasikan tugas biasanya dilakukan oleh 3 tipe pemimpin.
  1. Pemimpin yang sangat sibuk, punya staf memadai
  2. Pemimpin yang malas terlibat langsung dalam tugas
  1. Pemimpin yang baik hati serta bijak untuk mendidik staf
Tipe yang mana?

  1. Korban menghindari informasi
Ketika telah sadar bahwa dirinya terjebak dalam kelebihan informasi, makan respon nya adalah menghindari informasi, menghindari tempat-tempat informasi dan menghindari sumber-sumber informasi. Respon ini dilakukan untuk mengurangi akses informasi serta mengurangi stress karena kelebihan infromasi.

Teryata memang penyebab futur itu banyak, overload informasi merupakan salah satunya. Sebetulnya sulit membedakan futur dalam jenis ini, ataupun jenis yang lain. Segala sesuatu yang berlebihan toh memang tidak baik. Demikian pula dengan akses informasi. Informasi yang terlampau sedikit mungkin akan menghambat kerja dakwah kita, tapi toh overload informasi juga buka keadaan ideal. 

TAHAP MENGHINDARI OVERLOAD INFORMASI:
-Spesialisasi (setidaknya adanya kejelasan ruang lingkup tugas)
-Memperjelas alur informasi
-Memperjelas wewenang pengawasan
-Otoritas evaluasi merupakan fondasi yang kuat sebagaimana fondasi bagi sebuah bangunan.

Kita juga harus menyadari betul bahwa suasana dakwah adalah amanah dan bukan suasana kewenangan. Menjaga keseimbangan menjadi kata kunci.
Upaya menjaga keseimbangan dapat dilakukan dengan membatasi kerja secara proporsional sesuai wewenang dan kemampuan.

Wallahu a'lam

Sabtu, 10 Maret 2012
16:32
warnet asrama

No comments:

Post a Comment