Friday, October 25, 2013

harga secuil celah gerbang

Ide tulisan yang terpikir karena di Kampus ITB, gerbang belakang sudah tidak dibuka. Kami harus lewat gerbang SBM atau Gerbang Batan.

Awalnya kerepotan,  karena suka lupa hehe. Kalau malam daerah gerbang ini sepi, penjaga satpamnya suka ngga ada, serem juga.
Sampai sekarang saya juga belum tahu pasti alasan ditutupnya gerbang utara. Beberapa waktu sebelumnya juga parkiran Utara ditutup, jadi dari sepanjang dayang sumbi untuk bisa masuk ITB harus jalan sampe gerbang SBM.

Hello, PKL Dayang Sumbi!
Setelah kejadian PKL dayang sumbi beberapa pekan lalu, disana sekarang sudah dibangun kembali saung-saung bambu yang telah rapi dan dinomori. Ada plang besar yang menunjukkan bahwa mereka adalah kumpulan PKL dayang sumbi. Pedagang yang memakai gerobak dorong pun tetap berjualan di depan gerbang walaupun kini akses keluar udah ga bisa lewat situ.

Sekarang kondisinya, Tunnel menuju sabuga semakin ramai, di Tunnel sekarang ada koperasi, ATM BNI, dan tempat fotokopian. Kantin-kantin nya juga semakin ramai, dan parkirannya juga sepertinya lebih ramai. Istilahnya segala kebutuhan disediakan disitu.  Lama-kelamaan sepertinya akan jadi pusat kegiatan.

Back to the topic,
Sekarang saya kepikiran, itu bangunan saung PKL dayang sumbi yang udah rapi itu gimana nasibnya ya?
Gerbang utara yang dulunya dibuka (sebagai celah sempit pejalan kaki mahasiswa,  tapi akses utama keluar) sekarang digembok, ga ada yang bisa lewat. Otomatis akses ke daerah PKL dayang sumbi juga semakin sulit, y a kan?

Sebuah celah sempit biasa, tapi kalau hal lainnya (tunnel mulai ramai, parkiran utara ditutup, gerbang utara ditutup dll) di desain sesuai yang diinginkan, mungkin lama kelamaan mahasiswa akan mulai terbiasa dan kemudian lupa dengan apa yang terjadi di daerah PKL dayang sumbi.


================================

Bandung, 13  Februari 2013
#baru di post

No comments:

Post a Comment