Tuesday, April 10, 2012

Membangun kepemimpinan di sekolah (sebuah resume)


Dari hal sederhana, tapi luar biasa :)

Bicara kepemimpinan (leadership), bukan sesuatu yang didapat serta merta tiba-tiba. Dibutuhkan suatu proses panjang yang dibentuk dan diupayakan sejak kecil.
Beberapa pertanyaan yang sering terungkap adalah seperti ini:
Apakah pemimpin itu dilahirkan, atau dibentuk?
Jawabannya:
Tentu saja semua pemimpin dilahirkan, oleh ibu kita hehe
Maksudnya begini, kalau kita ingat lagi, sebetulnya manusia memang dilahirkan untuk menjadi khalifah di muka bumi, which means, kita  memang diminta untuk menjadi pemimpin.

Sesuatu yang diwajibkan tentu akan dimudahkan. Analoginya sama seperti ini, ketika diwajibkan shalat, kita benar-benar dimudahkan dalam pelaksanaannya. Kalau ngga bisa berdiri ya duduk, kalo ngga bisa duduk ya tidur, kalo ngga bisa juga, dengan isyarat mata (kedipan) pun diperbolehkan. Kalo sampe berkedip pun kita ngga bisa, saatnya dishalatkan..
Contoh analogi lain, kita wajib menghirup oksigen --> kalo ngga, bisa mati karena kebutuhan respirasi kita tidak terpenuhi.
Maka, Allah memudahkan kita untuk mendapat oksigen secara gratis, bahkan kita ngga ada istilah lupa minta oksigen sama Allah, karena udah pasti dapet. Perkara oksigen semakin sedikit, itu mah salah manusia.

Jadi pada dasarnya kita sudah diberi bakat sejak kelahiran kita, yang membedakan adalah lingkungan. Pembentuknya, keluarga, dan juga sekolah.

Kalau sekarang kita dalam masa sekolah, bisa hitung sudah berapa tahun kita berada di bangku sekolah? Kalu dihitung hitung dari TK-SMA, mungkin sekitar 14 tahun ya? Lama juga ya?
Kalau disuruh mengingat ngingat, apa pendidikan yang sekolah berikan padamu? Pelajaran akademis-kah? Sejauh mana berdampak  pada dirimu?

PENDIDIKAN BERKARAKTER
Pendidikan berkarakter mulai dicanangkan oleh pemerintah, karena memang mulai dirasakan penting. Tapi gimana aplikasinya ya? Apakah nantinya akan ada tambahan mata pelajaran baru "Pendidikan Berkarakter"? Dengan tambahan jam, guru dalam kelas? Apa yang kira-kira mau diajarkan? Apa bedanya dengan mata pelajaran agama, atau Kewarganegaraan?
Idealnya, selain memberi ilmu, guru juga mendidik. Bukan hanya berfokus pada "LULUS UAN". Mari kita apresiasi guru-guru teladan yang mendidik kita dengan baik :)
Dan tentang ekstrakurikuler, itu wadah yang paling pas buat mengaplikasikan ilmu-ilmu kehidupan. Karena kehidupan setelah selesai masa sekolah formal kita, itu keras, bung :) hehe

BUKAN LAGI UPACARA 17-an
Kalau 17 Agustus, apa yang pada umumnya sekolah sekolah lakukan? Rasanya dari mulai TK hingga SMA, semua melakukan upacara bendera. Sebetulnya itu membentuk budaya 'mau disuruh suruh, mau patuh'. Malah ada yang pernah bilang, "kamu tuh disekolahin supaya gampang diatur!"
Nah ngaco ngga tuh?
Makanya kalo lihat pemimpin-pemimpin hebat, dulunya biasanya mereka bandel (menurut pendapat kebanyakan orang). Padahal yang bandel-bandel calon pemimpin hebat tuh!
Hehe.

Ada salah satu budaya menarik yang dibiasakan oleh suatu sekolah. Jadi sekolah itu ketika Hari kemerdekaan RI 17 Agustus menghormati jasa para pahlawan dengan cara yang berbeda. Mereka biasa menjadikan dirinya sebagai  pahlawan itu sendiri dengan cara berjalan jauh dengan perbekalan yang juga sedikit. Guru-gurunya akan berkata : "Begini nih analogi pahlawan kita dulu, bahkan dulu lebih berat." Nah dari situ akan terlihat mana anak-anak yang memang semangat dan tidak berkeluh kesah serta anak-anak yang manja istilahnya. "Pak, nanti kalo ada ojeg, boleh naik ojeg ngga?" hehe

DI JERMAN
Di jerman itu ngga ada bimbel calistung. Mereka disibukkan dengan kegiatan melukis, dan berekspresi. Nanti pun mereka menghadapi "UAN" atau ujiannya. Keseluruhan fokus sekolah tidak ditujukan kesana, tapi memang dipersiapkan. Rasanya UAN bukan fokus utama.

Bagaimana menanamkan konsep kepemimpinan dari tali sepatu?
Seorang anak tali sepatu nya selalu terlepas. Guru teladan ini kemudian membantu anak ini dengan mengikatkan kedua nya. Keesokan harinya terjadi lagi, dan guru ini masih membantunya. Namun selanjutnya, ketika tali sepatunya lepas lagi, sang guru hanya mengikat sebelah sepatunya saja, dan membiarkan sebelahnya lagi dilakukan oleh anak tersebut. Dan kau tahu? Keesokan harinya, sang anak dengan bangga berteriak, "Pak Guru, Kedua sepatuku sudah kuikat  sendiri dengan benar !"
Yah, sesederhana itu.. :)

Sisanya keasikan ngedengerin, hehe
sedikit ada tambahan yang berupa opini :)

Resume dari radio MQ FM 102,7 di pagi hari
10 April 2012
:)

No comments:

Post a Comment