Friday, August 26, 2016

Ketika Anak Sakit (Part 1)

Saya itu (dulu) kalau ada ibu ibu yang bilang anaknya sakit, rasanya biasa aja. Apa empati saya minus? :/

***
Yap, seseorang bertindak atas apa apa yang ia miliki. Ketidaktahuan akan suatu hal biasanya akan membuat ia lalai, abai, atau bahkan tidak peduli. Pengetahuan menjadi salah satu ukuran awalnya.

Dulu saya belum tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, tepatnya menjadi seorang ibu yang anaknya sedang sakit. Ditambah saya sendiri termasuk orang yang memang cuek dengan penyakit pribadi. Jadi ya, saya ngga paham gimana rasanya.

Tapi baru 11 bulan jadi ibu baru, akhirnya saya bisa paham. Hehe.

Demam, batuk, pilek, termasuk "penyakit langganan" buat anak bayi. Termasuk salah satu mekanisme tubuh untuk kemudian hari dapat lebih kuat (melatih sistem imunnya). Biasanya anak bayi demam pasca pemberian vaksin, atau saat terpapar kerabat/sanak saudara/lingkungan sekitar yang memang membawa kuman.

Kalau haidar, paska vaksin juga mengalami demam. Tidak selalu, mungkin sekitar 3 kali. Demamnya pun tak terlalu tinggi. Beberapa kali juga haidar sempat batuk pilek, juga demam. Yang terakhir sejak tanggal 4 agustus lalu, yang demamnya tinggi sekali (39.6) sampai ayah bunda harus ke IGD jam 1 pagi.

Lalu apa efeknya bagi sang ibu ?
Pakai logika aja jah, hihi.
Pengasuh utama anak bayi adalah ibu dan ayahnya. Ketika bayi sakit, maka ibu harus ekstra memberi perhatian pada bayi nya. Kebanyakan bayi yang demam akan selalu merasa nyaman digendong, nempel terus gabisa dilepas. Kadang juga ngga mau menyusu, dan jadi semakin ngga nyenyak tidur. Bahasa singkatnya : rewel. Iya, badannya ngga enak. Jadi ingin didekap terus. Sementara di rumah banyak pula yang harus dikerjakan sang ibu. Entah bebersih, memasak, dll. Endingnya mungkin rumah tetep berantakan. Hihi. *minta bantuan ayah*
Memberi makan pada diri sendiri dan mandi aja kadang keteteran banget. Hehe.

Yah ternyata begitulah.
Episode anak sakit bagi seorang ibu itu sangat berarti. Salah salah kalau sang ibu juga kondisinya lagi ngga fit, bisa ikut sakit juga. Terus ngerembet lagi ke ayahnya. *curhat*

***
Ternyata perempuan sejak single itu emang harus sehat, bugar, punya pola hidup sehat. Karena pas udah double, triple dst yang diurus udah bukan badan sendiri aja. Kalau badan sendiri keteteran, gimana bisa maksimal ngurus yang lain?

Dan sodara sebangsa setanah air, Yang mungkin pernah punya pemikiran kaya saya di awal, ini saya kasih sedikit bocoran. :) mudah mudahan lebih tercerahkan ya :) ngga berarti empatinya minus kok, kan namanya juga ngga tau. Hehe

#selfnote

No comments:

Post a Comment