Monday, April 20, 2020

REVIEW FILM LION KING - SIMBA YANG KEMBALI MENEMUKAN JATI DIRINYA

Saya adalah tipe orang yang memutuskan menonton sebuah film dari review orang mengenai makna apa yang bisa didapatkan dari sana. Semenjak jadi istri dan ibu, jarang sekali saya tetiba niat nonton suatu film, kecuali • direkomendasiin orang • diajak nonton sama suami • diceritain adek ipar hihi

Dari dua film Lion King, saya pilih yang versi binatang real daripada yang kartun. Awal melihat covernya yang gambar binatang asli, sebagai lulusan biologi anehnya saya kurang begitu interest haha. Karena belum kebayang ini Lion King mau mengisahkan tentang apa? Gimana sinopsisnya? Aslinya saya anaknya kudet soalnya, bahkan thriller nya aja belum pernah liat. Hihi #janganditimpuk

Buat saya yang ngajak nonton bareng anak (4.5 tahun), film ini baguuuss 😍😍 iday sampai gemes kesel gitu sama paman Scar nya hihi.



Tuesday, April 14, 2020

MINDSET - Istri yang Melakukan Semua Pekerjaan Rumah Sendiri

Allah selalu punya cara untuk mendidik hamba-hamba Nya menjadi manusia yang lebih baik setiap saat. 

Sesuatu yang kita masukkan ke dalam diri kita, entah itu melalui bacaan, rekaman suara, atau tayangan, sedikit banyak akan memengaruhi diri kita sadar maupun tidak. Dan itu semua, kadang kita juga tak tahu betul, apakah itu benar, ataukah itu salah.

Hampir 5.5 tahun usia pernikahan, saya jadi teringat kala itu saat masih pengantin baru. Terdengar suara motor Suami pulang dari kantor saya langsung nyiapin teh manis hangat kesukaannya, juga langsung dandan tipis tipis. Berusaha bangun lebih awal buat nyuci piring beberes rumah, dan setiap waktu makan nyiapin semua sebelum waktunya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata banyak yang terkikis ya 🤭 Bertambah amanah seorang anak, bertambahh peran lagi sebagai pebisnis, kini sudsh banyak pekerjaan rumah yang mulai saya delegasikan pada pihak lain. Lambat laun ada masanya rasanya saya begitu lalai menjadi seorang istri. 

Ya, seolah kami saling tenggelam dalam kesibukan masing masing, dan butuh penyegaran lagi mengenai hakikat peran seorang istri.

Menjadi diri sebelum menjadi istri, menjadi istri sebelum menjadi ibu. 

Bahkan dalam keberjalanannya, sempat saya mempertanyakan ulang, sebetulnya hak dan kewajiban suami istri itu apa? Belum lagi berseliweran berbagai bahan bacaan mengenai "Istri bukan Pembantu", "Suami yang seharusnya menyediakan fasilitas terbaik untuk anak dan istri.", daaaan lain lain. Sesuatu yang seolah "membela kaum hawa".

Tahukaaah?
Sedikit banyak itu memengaruhi mindset dan aksi sehari hari. Jadi kurang gesit melakukan banyak hal, dan cenderung menunda.

Sampai pada suatu malam kemarin saya mendengar seseorang pendengar radio yang sharing mengenai topik Sinergi. Katanya 

"Saya melakukan semua pekerjaan rumah sendiri, suami tinggal duduk saja biar saya yang melayani semua kebutuhannya. Tapi suami jadi suka inisiatif pingin bantuin."

#jleb!

Kalo kalian dengerin itu, rasanya gimana?
Buat saya itu mengubah 180 derajat cara berpikir saya. Bukan berarti saya ngga pernah kepikiran itu ya, justru itu yang saya pikirkan dulu saat saya memutuskan menikah. Tapii, kesibukan, waktu, dan kurang ilmu membuat saya terhanyut ke muara yang keruh. Apalagi saat lelah mengurus rumah, anak, pekerjaan, kita cenderung akan mengambil hal hal yang sesuai dengan pikiran kita kan?

Ya sayang, itu adalah hakikat kemuliaan seorang istri, dan ladang pahala yang tak terhingga.

Pernyataan itu, mungkin akan terdengar sumbang bagi sebagian orang, selfish lah, intimidatif lah, atau hal negatif lainnya. Tapi bagi saya, saat itu seketika energi saya langsung penuh dan melakukan banyak hal lebih baik dari sebelumnya.

Kemudian saya membaca beberapa artikel ilmu sebagai penguat, yang menyatakan beberapa hal semu yang pernah hinggap di pikiran saya itu berdasar dari sesuatu yang lemah (memang diungkapkan sebagian ulama, tapi tidak sesuai dengan pendapat jumhur ulama). Nah loh, yang salah jangan dipiara yah..

Bagi saya saat ini, perkataan itu membuat mindset saya menjadi lebih baik. Mungkin karena dalam pernyataan itu, diri kita lah yang mengambil tanggung jawabnya. Dan ketika kita sudah benar benar sadar dan mrngambil tanggungjawab, maka energi akan penuh dan jauh dari pikiran negatif. Kita yang mengendalikan diri, kan?

Doakan saja bisa bertahan lama yahh. Hehe

Lalu bagaimana dengan para wanita yang memang biasa melakukan semua sendiri, tapi suami/anak tidak ada inisiatif membantu?
Menurut hemat saya, semua kembali pada keikhlasan dan kebahagiaan masing masing ya. Bila bahagia dan ikhlas lanjutkan. Bila berat, tak bahagia dan sulit ikhlas, maka perlu dikomunikasikan dengan baik aja. Cari nasihat penguat agar apa apa yang dilakukan  tetap menjadi amal sholeh 😘

Salam hormat pada para Wanita di seluruh dunia yang selalu berusaha menjadi Istri Solehah yang Allah Ridhoi ❤️

14 April 2020
Hajah Sofyamarwa R.

Sunday, April 12, 2020

Belajar Dari Kehidupan BCL dan Ashraf Sinclair


Saya lupa persisnya apa yang membuat malam ini saya menonton berbagai video mengenai Ashraf dan BCL di youtube. Oh ya, saya habis nonton film ftv 😂berjudul 'Istri' yang sebenarnya punya makna agak dalam, meskipun dari alur cerita rasanya kok gemes gemes kesel ya hihi. Tapi, mari Back to the topic😌

Dimulai dengan secuplik lagu Wanita Terbahagia, dan kemudian saya mulai 'kepo' dengan bagaimana mereka menjalani hidup berumahtangga dengan tanpa gosip atau rumor negatif seperti beberapa artis lainnya.

Saya menonton video klipnya, menonton film pertama mereka di bali, menonton wawancara mereka berdua, menonton BCL di tonight show, menonton presentasi ashraf di event InspiraFest Merry Riana, dan wawancara adik ashraf (aishah sinclair) mengenai sosok Ashraf.

Kepergian suami yang begitu mengagetkan, dan setelah semua pergi, rasanya justru orang semakin mengenal beliau sebagai sosok yang luar biasa baik. 

Sebagai rakyat biasa saya awalnya hanya melihat mereka sebagai pasangan serasi #couplegoals, pasangan selebritis, tapi baru saya sadar ternyata banyak dari prinsip baik yang bisa saya jadikan pelajaran.

Ini beberapa poin yang saya pelajari dari Ashraf Sinclair:
1. Pekerja keras. Ternyata dulu pernah juga hidup susah merangkak dari bawah. Jadi pelayan restoran. Pernah coba investasi peternak lele di Indonesia terus gagal, pernah investasi di Restoran tapi Mall nya sepi, pernah invest di tempat ngegym tapi ga balik modal. Daan lain lain. 
2. Punya prinsip Presesi dalam menjalankan hidup. Artinya apapun yang kamu lakukan, akan punya dampak pada sekitar. Berusahalah memberikan add value buat siapapun di sekitar. Jangan lewatkan kesempatan berbuat baik. Value tersebut yang kemudian menjadi tujuan hidup yang sebenarnya. Ini kayanya beliau pegang banget deh. Soalnya di acara merry riana itu bliau ngundang 10 orang untuk diajak mentoring "apa yang bisa saya bantu ke kamu". Ya buat beneran bantuin.
3. Beliau adalah sosok yang romantis, familyman dan bertanggungjawab pada keluarganya.
4. Orang yang selalu memberi makna pada setiap hal yang dia lakukan.


Nah selain itu ada juga beberapa hal yang baik untuk dipelajari kita kita sebagai pasangan suami istri:
1. Memberikan perhatian kepada pasangan sesibuk apapun.
Misal lagi pada syuting, anterin makanannya ke lokasi syuting, ato kalo ngga bisa, kirim kirim makanan. (Ya kalo kita mah kaga syuting kan yaah cari ide lain daah hihi)
2. Memberikan kejutan kecil
Ashraf suka bikin tulisan missing you di kaca kamar mandi sebelum BCL masuk. 
3. Punya waktu khusus Quality time 
Misal jalan jalan, atau ngedate beneran hanya berdua sebagai couple (yang waktu dandannya ditutupin satu sama lain, surprise gituu seruu kaan)
4. Kita adalah pasangan, sebelum menjadi orangtua. (We were couple first)
Ya, banyak suami istri yang terlalu fokus menjadi orangtua, sampai lupa bahwa mereka punya pasangan untuk saling membahagiakan. Happy parents, happy kids. Anak belajar dari melihat ketulusan kasih sayang orangtuanya. Its totally right! Teladan.
5. Berteman
Saling kenal teman masing masing, saling support. Saling jujur dengan apapun yang dirasakan. Saling tau baik buruknya masing masing jauh lebih dalam dari siapapun. Menurut ashraf untuk benar benar bisa jujur, kita perlu sudah di taraf "siap kehilangan" (loose everything). Maksudnya, orang lebih sadar sesuatu itu berharga ketika itu tidak ada kan yah?
6. Mengatakan kalimat cinta dan sayang
I love you gituuhh uhuy
7. Pagi sebelum berangkat kerja ada Family Hug (berdua dan bersama Anak)
8. Ini yang menarik. Kelak ketika tetap bersama, bukan karena mempertahankan demi anak semata. Tapi bersama karena memang bahagia bersama. Bukan bersama untuk berkorban.
Jadi bukan terpaksa, justru jadi tergerak untuk menghidupkan cintanya (ignite the spark) unch bener banget ❤️

Salah satunya di video ini https://www.youtube.com/watch?v=dhy9hudjK2Y saya nonton wawancaranya, lainnya silakan youtubing aja yah. Worth banget buat disimak kok, reminder buat kita kita menjalan kan peran sebagai suami atau istri 🥰

Dan ini catatan buatku pribadi yah, kalo ngga lengkap atau salah berkabar aja, nanti di update lagi. Ini bagian dari cara saya mengikat makna soalnya.

Saya juaa baru inget 2018 lalu saya cukup kaget lihat ashraf muncul di agenda Kopdar Saudagar Nusantara, ternyata jiwa entrepreneur, motivator nya emang luar biasa. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

Alhamdulillah..
Semoga Allah melimpahkan rasa sabar syukur dan sakinah dalam hati hati kita. Menjadi pribadi yang berdampak baik pada siapapun di sekitar kita. Karena kita ngga pernah tau kapan kita dipanggil. Maa

Belajar darimanapun,
Berikan makna pada dirimu 

Teman teman boleh berbagi yah hal-hal kecil apa yang konsisten teman teman lakukan untuk pasangannya 🥰 

Minggu 12 April 2020
03.45
Hajah Sofyamarwa R.

Thursday, April 9, 2020

Senyuman Penyejuk Jiwa

Baru saja kemarin bunda pundung karenamu, tapi malam ini lemparan senyuman manismu menjadi oase di dalam hati Bunda. Tak bicara, hanya berkali kali melempar senyum, serta segelas air minum, memberi penguatan.

Allahu akbar.

Bunda selalu berharap kelak kau akan menjadi lelaki penuh kasih sayang dan tanggungjawab. Apa yang selama ini berusaha bunda lakukan tak lain adalah agar dirimu tumbuh dengan baik dan matang sebagai manusia. 

Semoga Allah selalu membimbingmu menuju jalan yang lurus.

9 April 2020
Hajah Sofyamarwa R.

Tuesday, April 7, 2020

Kekecewaan itu Muncul dari Ekspektasi yang Tak Sesuai Realita : Bunda Pundung

Malam ini kita makan lagi sepiring berdua sama ayam goreng. Sebetulnya kamu udah mulai biasa lancar makan sendiri, tapi entah kenapa malam ini Bunda ingin nyuapin kamu.
.
Sehabis baca iqro magrib tadi Bunda bilang iday ngga usah nonton ultramen dulu ya malem ini. Jadi bunda ambil smart hafiz terus niat buat dengerin kisah dan lagu lagunya.
.
Faktanya kita malah asik nyanyi berdua, nasi sebakul nya malah jadi ngga dimakan makan. Hihi salah ya? Mau makan tapi malah setel lagu.
.
.
Iday lucuuu banget masyaallah. Dan iday tau sendiri kaan bunda kalo lagi nemenin iday nyanyi, apalagi lagu gajah ini pasti sambil heboh dan pake gerakan. Saking asiknya, iday juga protes kenapa makanannya disuapin ke mulut iday, iday jadi ngga bisa nyanyi hihi.
.
.
Terus bunda bilang, ah nanti kita bikin rekaman lagu ato video yuk! Kata iday bolehh. Nah bunda ngga kepikiran ngerekam saat itu karena hape bunda lagi di charge dan mikirnya nanti juga bakal jadi rekaman berdua.
.
.
Habis itu bunda langsung siap siap pake jilbab, nyiapin tripod dan ngeposisiin camera hapenya, iday nya malah asik ngajak main tazos coki coki. Yaudahh bunda main aja dulu kaya biasa walau pun pereuz telapak tangannya hihi. Akhirnya bunda nyerah minta istirahat dulu.
.
.
Habis itu bunda ngajak iday nyanyi bareng lagi, ngga mau, malah mau nya main tazos lagi. Hiks yaudah bunda ajuin solusi buat ganti peraturan baru. Peraturan defaultnya tuh bikin permainan ngga ada berhentinya kan, makanya sama bunda diajuin bikin aturan baru yang mainnya bisa lebih singkat. Ehhh iday nya mggs mau malah ngambek.
.
.
Dari situ bunda pundung. Sampe sekarang jadi download Aplikadi Blogger, dan nulis ini. Sekuat itu rasa pundungnya :)))))))) wkwk
.
.
Ya, terkadang rasa kecewa muncul pada waktu dan tempat yang tak tepat. Meskipun sah sah saja karena kita juga meski seorang ibu, ya punya emosi juga. 

Kecewa ketika punya ekspektasi tertentu, tapi ngga terwujud di ruang realita, pundung. Haha
.
.
Momen menyenangkan kaya tadi sebetulnya sering terjadi, tapi ketika sadar, sadar pula bahwa ngga keburu mendokumentasikannya. Maka kadang apa yang didokumentasikan ngga selalu pada level kesenangan yang terbaik (karena reka ulang) haha.
.
.
Bunda ini orang yang mudah lupa, maka bunda ingin mendokumentasikannya disini, dalam bentuk apapun.
.
Bunda hanya ingin saat iday besar nanti, iday tau betul betapa bunda begitu senang membersamai iday. Dengan segala keseruan yang pernah dilewati bersama.
.
.
Bunda cukup sedih karena banyak emosi masa kecil yang ngga bunda bisa ingat, maka dari itu bunda ingin iday kelak bisa merasakannya kembali.

Salam sayang <3
Dari bunda yang sedang pundung dan meneteskan air mata. Dan kamu yang tertidur di sebelah bunda karena nungguin pengen bobo sama bunda.

Duh maapin bunda yahh

7 April 2020
22.35

Monday, October 7, 2019

Selamat Jalan Teh Ayu Hilmawati..

Hari Senin pagi, grup desain IP Bandung dapat request untuk membuatkan ucapan Berduka untuk Teh Ayu. Pelupuk mata entah kenapa tetiba becek diguyur air mata. Kabar duka seorang ibunda yang telah berjuang melawan penyakit kankernya.

"Maaf teh yang ini ngga bisa. T.T" kataku enggan.

Keluarga? Bukan
Saudara? Bukan
Teman Dekat? Bukan juga.

Saya hanya kenal beliau lewat media online ketika kami bersama dalam satu kelas Bunda Sayang IP bandung. Saat itu kami pernah satu kelompok, dan beliau begitu rajin menanyai saya yang selalu posting tantangan di injury time.

Tahu wajahnya? Tidak
Ingat wajahnya? Tidak
Tahu persis beliau siapa? Tidak.

Tapi entah mengapa di berbagai grup WA kami, kepergiannya menjadi perbincangan yang mengharukan.

Saya lalu mengunjungi laman facebooknya, Ayu Hilmawati.
Beberapa pesan terakhirnya berisi nasihat dakwah, sampai situ sudah saya berhenti. Mendengar ceramah Aagym yang di postingnya tentang berbicara. Kebetulan sepagi ini saya menghadapi suatu hal yang berkaitan dengan itu.

Dari situ saja teh ayu sudah mendapat pahala dakwah, meski telah tiada.

Saya lalu terpikir, apa yang akan saya tinggalkan nanti ketika kelak saya meninggal?
Profesi saya sebagai pedagang saat ini, apakah akan menjadi bekal baik bagi saya di akhirat nanti?
apakah orang yang melihat media sosial saya hanya akan berhenti scrolling karena penat melihat postingan saya yang isinya jualan saja? Ataukah orang orang tak ingat pada diri saya dan melewatkan diri saya dari setiap doa doanya? Naudzubillah.. T_T

"Ini chat sma temen diruang rawat nya teh ayu pas sakit..Masya Allah orang nya baik bgt." (teh Andini)



Selain itu yang bikin airmata saya berderai (bahkan saya ngga pernah ketemu tapi nulis ini!), karena kesan baik yang ia tinggalkan dimanapun...

Wahai para istri cobalah lihat ini, kata kata dari sang suami yang ditinggalkan, bukan sumpah serapah atau hal buruk yang di katakan:



Alhamdulilah, almarhumah Ayu Hilmawati sudah dimakamkan di Cikutra. InsyaAllah Ayu husnul khotimah, Ridho suami didapatnya, "Ayu sangat sabar, sepanjang usia pernikahan belum pernah Ayu marah kepada saya" ucap suaminya berlinang air mata, Anaknya Balqis juga terlihat tegar.


Allahu Akbar...

Saya jadi semakin paham, bahwa apa yang terpenting adalah bagaimana diri kita selalu berusaha memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik demi ridha Allah, bukan demi ridha manusia. Yang terpenting Allah ridha, bagaimanapun sikap orang lain terhadap kita.

Saya menulis ini tanpa ijin dari siapapun, karena sangat ingin mengalirkan rasa, dan rasanya airmata tak berhenti keluar juga. Semoga keluarga juga berkenan saya menuliskan ini untuk pengingat diri.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiun..
Semoga mendapat surga Allah yang terbaik, dan seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Semoga kita semua dimatikan Allah dalam keadaan khusnul khatimah..
Aamiin Ya Allah..

Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya),” (surat Al-Fajr: 27-28).

Senin, 7 Oktober 2019
Hajah Sofyamarwa R.


 Sudah dimakamkan tadi. Di samping makam ayahnya..

Tuesday, September 17, 2019

Mengajukan EDC Bank Untuk UMKM

Bismillah..
Dalam postingan kali ini, insyaallah mau sedikit sharing tentang cara pembuatan Surat Keterangan Usaha (SKU). Saya membuat SKU ini untuk keperluan pengauan mesin EDC di rumah.

EDC (Electronic Data Capture) adalah mesin yang berfungsi sebagai sarana penyedia transaksi dan alat pembayaran yang penggunaannya dengan cara memasukkan atau menggesek kartu ATM, kartu debit maupun kartu kredit dalam suatu bank maupun antar bank, serta dilengkapi dengan fasilitas pembayaran lainnya yang terkoneksi secara realtime.
Sebetulnya awalnya saya juga masih mempertimbangkan apakah perlu mengadakan mesin EDC di rumah yang saya sulap jadi toko ini. Namun beberapa kali pengalaman, banyak calon customer yang datang ke rumah tak membawa uang cash dan berharap bisa `gesek kartu debit`. Akhirnya, saya yang harus mengantar customer ke depan jalan raya untuk ke ATM.

Lebih mudah bila customer punya mobile banking, namun bila tidak ada ya tidak bisa dipaksakan juga, ya kan? Banyak yang membeli Smart Hafiz di www.smarthafiz.online wilayah bandung, yang datang langsung ke rumah untuk membelinya secara COD.

Baiklah saya mulai sharing nya ya..

Dalam hal ini saya mengajukan ke Bank Mandiri, sebetulnya karena kemudahan lokasi saja yang dekat rumah. Dan setelah survey singkat, rate yang dibebankan kepada merchant rerata sama saja (standar).

Untuk memulainya, bisa membuka mandiri tabungan bisnis terlebih dahulu yaa.

SYARAT
- KTP
- NPWP
- SKU (Surat Keterangan Usaha) dari Kelurahan
- Formulir yang diisi
- Rekening Mandiri Bisnis (ini kalau saldo akhir bulan 10.000.000 atau transaksi nya minimal 15 juta, bebas biaya bulanan 150.000)

Nah karena saya ngga punya NPWP sendiri, pakai punya suami, jadi diperlukan Kartu Keluarga.

Kalau pengajuannya di setujui, akan di datangi untuk semacam survey lokasi dan foto, baru nanti proses pemasangannya berjalan ya :)

Nanti kalau sudah terpasang saya akan infokan update nya ya insyaallah.


Bismillah semangat scale up usaha nya ya
meski rumahan, insyaallah bisa berkembang
:)

3 September 2019
Hajah Sofyamarwa R.

Sunday, February 24, 2019

Menjadi EPC PT Tigaraksa Satria

Alhamdulillah wa syukurilah.
Tak pernah menyangka bisa sampai ke tahapan ini. 2018 menjadi tahun yang penuh perjuangan ketika saya memutuskan untuk benar benar fokus sebagai Educational Product Consultant (EPC) di PT Tigaraksa Divisi Smart Family.

Awal saya bergabung sebagai EPC itu di tahun 2016, sebelumnya saya tergabung sebagai reseller dari kaka kelas saya (teh ririn), dan tidak diseriusi. Ya, saat itu saya masih berjualan produk fashion fungsional, dan merasa nyaman dengan itu karena masih adaptasi sebagai istri dan ibu rumah tangga beranak 1.

2016-2017 itu saya memang tidak fokus berjualan, kalau ada yang beli saja. Jarang promo. Tapi saya menyukai aktivitas offline nya, jadi hampir selalu ikut kalau ada bazaar atau babyexpo.

2017 akhir saya ikut personal goal setting training, dan dari situ saya memutuskan untuk meniti jalan menjadi EPC. Saya juga mengeluarkan modal yang cukup besar pada saat itu untuk sekedar menyewa stand bazaar.

Alhamdulillah menuai hasil di kemudian hari. 2018 awal saya juga sempat down karena tak mencapai target bulanan. Bahkan aturan saja saat itu masih samar samar belum paham betul. Seperti apa EPC qualified itu daaan lain lain. EPD saya saat itu (dulu masih sama EPC), menyemangati dan terus membantu sampai akhirnya saya bisa qualified setiap quartalnya.

Di akhir 2018, saya harus berjuang lebih mengejar ketertinggalan targetan untuk bisa mengikuti Annual Conference tahunan. Suami juga sudah mulai turut membantu dan mendukung saya dengan berbagai macam cara. Alhamdulillah yang penting beliau sudah ridha. Singkat cerita saya bisa mengikuti Annual Conference di Bali pada tanggal 16 februari 2019 dengan gratis.

Ini salah satu pencapaian terbesar saya, ketika 2017 mungkin penjualan saya hanya sedikit, tapi di 2018 bisa mencapai 1600 unit, kira kira setara omzet 400jt. Sebuah lonjakan yang sangat drastis.

Banyak keajaiban yang Allah kasih pada saya di tahun 2018 ini. Buku buku bagus dan produk edukasi yang 'katanya' mahal itu bisa saya miliki satupersatu sebagai bahan pembelajaran untuk anak saya bahkan tetangga. Saya juga bisa punya penghasilan sendiri meski berjuang kerja dari rumah.

Detail perjuangan mungkin tak bisa saya ceritakan disini hihi, hanya sekilas gambaran besar, bahwa memang apa apa yang kita bayangkan, ketika kita mau capai, insyaallah kita bisa.

Saya hanya berharap, kebaikan ini bisa menyebar tidak hanya untuk kami sekeluarga, tapi juga para reseller RKtimbyHajah dan keluarga keluarga lainnya. Insyaallah.

Semoga Allah memberkahi setiap ikhtiar kita, meniatkan ibadah karena Allah untuk setiap aktivitas kita.

Ahad, 24 Februari 2019
Pukul 11.00
Hajah Sofyamarwa Rachmawati

Sunday, January 20, 2019

My Interphase

Blog! Kangen!

Bismillahirrahmanirrahim,
Apa kabar temen temen semua? Semoga jiwa raga teman teman dalam keadaan terbaik ya. Minimal dalam keadaan ingin selalu lebih baik.

Alhamdulillah malam ini saya berhasil begadang, untuk.. untuk apa yah?
Rasanya begadang jadi hal yang mahal buat saya beberapa waktu ini, karena masih sering ketiduran karena nemenin haidar baca buku sebelum bobo. 

Ditemani iringan backsound musik instrumen yang sengaja saya stel dari yutub, saya hanya sedang mencari ketenangan. ya. ketenangan dari ramainya isi pikiran yang belum sejalan dengan aksi yang seharusnya dilakukan.

ah, sejenak kuhapus saja kata "seharusnya", mari sedikit lebih relax dan tidak memberi beban berlebih pada diri. Targetan selalu mengejar, ah tapi ternyata ku memang perlu waktu sendiri dulu. Ngga apa yah :)

Bagi seorang Ibu muda beranak balita aktif semacam  saya (dan ibu ibu lainnya), cukup sulit menemukan waktu sendiri, kecuali di malam hari. Ngomong ngomong tiba tiba saya jadi ingat sebuah frasa yang pernah saya pakai jaman kuliah di biologi dahulu, tentang interfase dalam siklus sel. Lebih lengkap nya mungkin kapan kapan kubahas, tapi intinya, hikmah yang saya ambil, adalah untuk melakukan hal hal (yang terlihat) produktif dibutuhkan persiapan dulu sebelumnya. yang bahkan waktunya lebih lama dari masa produktif itu sendiri. Mungkin bukan sekedar urusan waktu ya, tapi juga ke-mindfullness-an kita.

by the way 03.15 haidar bangun dan nyariin bundanya yang nangkring di depan laptop. jadi ini udah ngetik sambil mangku anak balita hehe 

I think I need time for doing interphase!

watch this https://www.youtube.com/watch?v=U5vAO_f2LDQ



Friday, December 7, 2018

4 Tahun Pertama Pernikahan

Tanpa sengaja jemari ini membawa saya melihat fitur video pada facebook. Videony bermancam macam sih tapi entah kenapa mostly penampakan uji nyali (?) Hehe ngga juga sih, macem macem pokonya.

Sampai akhirnya saya menemukan film pendek Ini, menontonnya sampai habis dan menangis. Ngga percaya? Coba aja ya tonton sendiri. Hehe.

Alhamdulillah, menyempatkan diri sedikit berkontemplasi tentang apa yang sudah saya alami sepanjang 4 tahun pernikahan. Ya, tepat 30 November 4 tahun lalu, suami saya mengikrarkan Ijab Qabulnya di depan penghulu dan para saksi.

Saat itu sayapun tak menyaksikan, saya berada di bilik ruang rias, menyimak penuh perhatian, dan keluar ketika akad sudah terucap. Saya menangis juga, menangis saja.

Hingga detik ini, ternyata begitu banyak tuntutan yang tidak terpenuhi, hingga saya sadar bahwa pernikahan bukanlah soal menuntut atau dituntut. Bukan juga tentang pertanggungjawaban berupa Laporan LPJ yang tadi pagi saya tanyakan pada suami saya :p

Terkadang kita begitu sibuk memikirkan "apa yang belum ia lakukan pada kita", hingga membutakan mata hati kita, menutup segala tabir yang pernah ada. Padahal, sejatinya yang harus dipikirkan adalah "Apa yang sudah saya perbuat untuk Ia, untuk kebaikannya?"

Kalau lagi "waras" mungkin mudah, tapi bukankah tak jarang pula kita "kurang waras?" 

Sejatinya, pernikahan itu jadi sarana kita buat meraup banyak pahala. Bagaimana suami istri bekerja sama untuk saling berfastabiqul khairat.

Realitanya, keringat dan airmata sering bertumpah karena egoisme pribadi. Pengennya suami begini lah begitulah, terlalu begini lah terlalu begitulah. Padahal itu tadi, kita mah berbuat baik aja semaksimal mungkin, karena saat kita meninggal nanti, yang ditimbang ya amalan kita, bukan amalan pasangan kita pada kita.

Akad nya sama Allah.

Cinta, rasa, kangen, benci, sebel, gemes, itu bumbu. Yang dengannya, amalan kita justru jadi lebih tothemax ke Allahnya.

Kita cinta sama Allah, maka semakin baik sikap kita sama pasangan. Maka semakin baik juga kita menjaga sikap dan memerhatikan setiap kebutuhannya.


"Jika benar cintamu dari Allah, cinta membuatmu lebih baik dari sebelum kamu merasakannya. Ia hadiah untuk hatimu yang kau terima penuh rasa suka. Ia anugerah untuk jiwamu yang membuat hatimu hidup terjaga. Maka cinta tidak akan pernah memburukkanmu, semakin lama kau rasakan semakin ia membaikkanmu"
- Tony Raharjo

Fyi Kutipan ini saya simpan pada kartu undangan pernikahan saya 30 November 2014 lalu. Lazimnya orang menyematkan QS Ar Ruum pada surat undangannya. Saya pribadi sebetulnya saat itu cukup kaget saat semua tulisan dalam undangan harus saya ketik manual seperfect mungkin. Saya juga tak tahu mengapa harus surat ar rum saja yang dikutip (kenapa tidak lebih banyak lqgi? Atau ayat lainnya saja?) Hehe 

Saya hanya berharap, nantinya kami bisa lebih memaknai ayat ayat Allah lebih dalam lagi, memaknai pernikahan tak hanya dari satu ayat tapi dari semua firmanNya.

Kutipan yang saya sematkan, benar benar jadi pengingat bagi diri saya pribadi hingga saat ini.

Jumat, 7 Desember 2018
Hajah Sofyamarwa R
Seorang istri dan ibu yang masih jatuh bangun memperbaiki diri

Wednesday, December 5, 2018

[PRINTABLE] Sayyidul Istighfar

Untuk dzikir sayyidul istighfar 1000x/hari ini saya perlu persiapan.
Ya, hari pertama sudah lasut karena belum punya tally counter alias tasbih digital (alasan macam apa itu). Karena udah lama ngga punya tasbih dan kalau dzikir hanya memanfaatkan ruas jari tangan ;)

Yang kedua, kadang suka lupa-lupa gitu. Jadi akhirnya bikin file buat di print. Dipikir-pikir saya suka ngedit markom jualan aja dipakein hiasan, masa yang beginian ga dihias. Hehehe. Ya sudah dihias dulu, meskipun powered by Canva ya hehe. Nah, buat yang belum hapal betul bisa tempel print an nya di rumah masing-masing yah.

Supaya semangat bisa download printable nya disini yahh :)
Versi PNG & Versi PDF (printable) Download di sini

Semoga Bermanfaat

Hey, Reclaim Your Heart! Part. 1



Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah setelah sekian lama vakuum dalam menulis blog, insyaallah mulai hari ini hajah akan meruntinkan kembali di setiap pagi.

insyaallah alamat blog ini yang semula www.hajahsofya.com, sementara akan kembali menjadi www.hajahsofya.blogspot.com ya. Faktornya karena memang domain .com tersebut belum bisa didaftarkan lagi dan membuat saya jadi tak semangat menulis. PADAHAL, kalau mau menulis ya menulis saja yah HEHEHEHE. Singkat cerita saya putuskan kembali ke alamat lama dulu.

Baik, pagi ini saya menyempatkan membaca sedikit sebuah Buku Berjudul Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu) : Wawasan-Mencerahkan tentang Cinta, Duka dan Bahagia karya Yasmin Mogahed. Buku ini merupakan buku terjemahan yang setahu saya sangat dicari versi bahasa inggrisnya. Saya mencukupkan diri membaca versi terjemahannya dulu saja, saat bukunya ada. hehe

Kenapa buku ini? Bisa nebak sendiri ya kondisi seseorang dari pilihan buku bacaannya ;)

Terdiri dari 7 BAB besar, dengan beberapa subbab. Saya membaca BAB 1 yang berjudul KETERIKATAN, pada subbab : Mengapa Orang Orang harus Saling Meninggalkan?. Jujur pada awalnya saya tak langsung bergejolak saat membacanya, bisa jadi karena faktor buku terjemahan tadi ya. Tapi bisa jadi juga karena pada saat awal saya merasa saya tidak membaca apa yang saya perlukan. PADAHAL setelah dilanjutkan bacanya, saya merasa agak sedikit mirip dengan yang disebutkan dalam bab tersebut.

Cinta dunia itu bukan sekedar materi —seperti yang banyak disangka— 
“Tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia berarti terikat pada hal-hal yang bersifat material. dan saya tidak mengikatkan diri pada materi. Saya terikat pada manusia. Saya terikat pada momen. Saya terikat pada emosi. Maka tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia tidak berlaku pada diri saya. Saya tidak menyadari bahwa manusia, momen, emosi merupakan bagian dari dunia.”“Saya mengharapkan kehidupan ini menjadi sempurna, kondisi yang tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Sebagai seorang yang idealis, saya berjuang dengan setiap sel tubuh saya untuk melakukannya. hidup saya haruslah sempurna. Saya memberikan darah, keringat, dan air mata dalam ikhtiar ini : mengubah dunia menjadi Jannah. Ini berarti mengharapkan orang orang di sekitar saya untuk menjadi sempurna. Mengharapkan hubungan saya menjadi sempurna. Mengharapkan terlalu banyak dari orang-orang di sekitar saya dan dari hidup saya.” 
Jleb!

Kutipan singkat yang rasanya begitu cocok menggambarkan diri saya. Tentu ada beberapa hal yang berbeda dari diri saya dan diri penulis. Kalau penulis menggambarkan diri sebagai orang yang mudah terikat, sangat butuh sahabat. sementara saya, termasuk orang yang sebetulnya tak mudah terikat pada orang. Bukan berarti tak butuh sahabat, ah siapa sih yang tak butuh sahabat? Bedanya, saya perlu waktu lebih untuk beanr benar dekat orang. Bersyukur selama ini Allah berikan saya sahabat-sahabat orang yang mau merangkulm sehingga saya tak begitu sulit menjangkau mereka :)

Saya paling suka kutipa ayat dari Alquran yang muncul disertai dengan hikmah yang ia berikan, salah satunya seperti di surat Al Baqarah 2:256. Seperti secercah embun ditengah kedahagaan jiwa bagi saya! 
“Barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhbul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hey, kemanakah kau berpegang selama ini?
Sekuat apa peganganmu pada Nya?

dan satu lagi ayat yang menggugah saya adalah surat Yunus 10:7 
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”

Baca hikmah ini dan mungkin kamu juga akan merasa tertampar : "Dengan berpikir bahwa saya bisa memperoleh segalanya disini, saya tidak mengharapkan pertemuan dengan Tuhan. Harapan saya bersifat duniawi. Apa artinya menempatkan harapan pada dunia? .., Ini berarti bila Anda memiliki teman, jangan mengharapkan teman-teman anda untuk memenuhi kekosongan Anda. Bila Anda menikah, jangan mengharapkan pasangan Anda untuk memenuhi setiap kebutuhan Anda. Bila Anda seorang aktivis, jangan menaruh harapan dalam hasil. Bila Anda sedang kesulitan, jangan bergantung pada diri sendiri. Jangan bergantung pada manusia. Bergantunglah pada Tuhan."

Jleb jleb jleb.

By the way, Jawaban dari pertanyaan di subbab ini adalah : Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Karena hidup ini tidak sempurna. Jika hidup ini sempurna, bagaimana lagi kita menyebut tahapan perjalanan hidup selanjutnya (akhirat)?

Dicukupkan dulu sampai disini, masih lanjut bacanya yah :)
Semoga bermanfaat :)


Rabu, 5 Desember 2018
Hajah Sofyamarwa R.

Tuesday, May 29, 2018

Bunda.. Jangan Mandi

Sudah jadi rahasia umum bagi para ibu ibu beranak bayi balita,  bahwa pergi mandi terkadang jadi barang yang mewah.

Terutama di usia usia tertentu,  buang air saja terkadang pintu harus terbuka lebar,  atau si balita harus ikut nongkrong di dalem toilet sambil nemenin bundanya.

Ada juga yang harus mendengar tangisan super keras dari sang balita dari luar pintu kamar mandi, yang membuat orang luar akan berpikir macam macam.

Itu semua pilihan, pilihan yang sulit.  Hihi

Pada fase ini,  haidar di usianya yang 32 bulan (2 tahun 8 bulan)  masih juga begitu.  Katanya "Bunda,  jangan mandii.. " diiringi tangisan bak bunda mau mudik ngga balik balik.

"iya,  bunda ngga akan mandi lagi, kan tadi udah. "

"Bunda jangan mandii.. "

Begitulah.

Separation anxiety sebuah kondisi dimana anak mengalami kecemasan karena merasa jauh dari orang tuanya.  Hal yang wajar dan memang masanya, yang perly diketahui orangtua.

Tak jarang orangtua yang menjadi begitu stress ketika anak balitanya tak bisa lepas dari dirinya.

Semoga kita bisa menikmati setiap masa balita kita ya

Sunday, March 25, 2018

Kreativitas dan Bagaimana Menjadi Ibu Kreatif

Tantangan Bunda Sayang di Level 9 ini sedikit berbeda dari biasanya. Kali ini kami lebih diarahkan untuk lebih aktif dan lebih banyak bepikir lagi. 

Diskusi mengenai keativitas ini diawali dengan beberapa test penglihatan, yang sejatinya adalah test pesepsi. Dalam melihat suatu gambar, jawaban dari setiap orang dapat sangat bervariasi. Mengapa? Setidaknya ada 4 hal : pengalaman, sudut pandang, persepsi dan cara kerja otak.

UBAH FOKUS, GESER SUDUT PANDANG KITA. Dalam konteks membersamai anak, kita pelu memiliki berbagai sudut pandang kreatif ketika melihat berbagai kelakuan anak kita. 

Salah satu hal yang dapat mematikan kreativitas adalah dengan memberi komentar
Dalam konteks membersamai anak, terkadang saking pedulinya, orangtua jadi terlampau banyak memberikan komentar. Penggunaan warna yang salah saat menggambar, misalnya. Ketika anak mewarnai awal dengan warna pink, sangat mungkin kita segera mengkoreksi dan memberitahu  tentang itu. Kemungkinan yang terjadi, anak akan sangat hati-hati sekali dalam mewarnai, bahkan bisa menjadi takut, malas, dan bosan. Padahal kita belum tahu dengan jelas, apakah ia memang tidak tahu, lupa, atau sekedar bosan dengan warna awan yang putih.

MAKA, JANGAN BERASUMSI. Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak kita, maka janganlah buru-buru membuat pernyataan, perbanyaklah pertanyaan supaya anak bisa menyampaikan idenya dengan jelas (CLEAR). Tugas kita? Mengklarifikasi saja (CLARIFY). Lebih banyak bertanya, mendengarkan, tanpa perlu menghakimi.

OUTSIDE THE BOX THINKING. Buka kotak pemikiran kita.
Dalam diskusi kami diminta membuat 3 garis tanpa terputus di atas 9 buah titik. kadang kita membatasi diri pada hal yang kita tahu saja, kita kira saja. Padahal kita perlu belaja untuk berfikir keluar dai kebiasaan, ketika memang tidak ada aturannya. Inti simulasi tersebut adalah jangan sampai kita membatasi anak pada pemikiran dan pengalaman kita saja. Biarkan anak-anak bepikir berbeda dari hal-hal yang pernah kita alami.
Kita tidak bisa memaksakan anak untuk berpikir, bertindak, dan merasa seperti kita.

Sekarang, mari kita tengok tentang PROSES KREATIF
1. Evolusi : Ide baru, dibangkitkan dari ide sebelumnya
2. Sintesis : Dua atau lebih ide yang ada, digabungkan jadi satu Ide baru lagi
3. Revolusi : Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada.

Intinya, sebetulnya kita bisa mendapatkan ide baru dari banyak hal, loh. Tapi dalam konteks sebagai Ibu, kadang tantangan menjadi kreatif itu masih ada. Apa ya yang menghambat kita selama ini? Dan solusinya apa?

Hambatan (hasil diskusi) : 
1. Mengkhawatirkan komentar/penilaian orang lain
2. Rutinitas
3. Malas
4. Mau nya instan, ngga mau repot
5. Kurang piknik
6. Ngga siap dikomentari jelek / aneh
7. Kebiasaan
8. Pengaruh trauma masa kecil
9. Belum bisa mengelola diri dengan baik
10. Emosi/kejernihan pikiran

Kalau ngga Kreatif, gimana?
1. Jalan di tempat, ngga maju maju
2. Hidup Flat

Perlu kreatif ga sih jadi Ibu?
Perluuuu, harusssss. Kenapa?
1. supaya ngga garing dan bosen
2. supaya bisa masuk ke frekuensi anak yang kreatif
3. bikin urusan lebih mudah
4. biar anak mau makan dan mandi
5. hidup lebih hidup, ada variasi
6. Supaya uang belanja cukup
7. mengisi aktivitas weekend

Gimana agar kreativitas Ibu tetap terjaga?
jaga kewarasan dan jangan lupa bahagia
Kesehatan jiwa dan raga.
Pikiran yang tenang, ikhlas dan Syukur

Resume Diskusi Kreativitas Kelas Bunda Sayang Level 9
Tanggal : 19 Maret 2018
Oleh : Hajah Sofyamarwa R

Friday, March 16, 2018

Surat Cinta Dari Bunda : Kebaikan Ayahmu

KEBAIKAN AYAHMU
Anakku yang shaleh, tahukah?
.
Dalam kehidupan berumah tangga nantinya, ada kalanya kita menghadapi rintangan yang membuat indahnya keluarga menjadi terasa begitu jauh di mata.
.
Mungkin tak banyak, namun terkadang nila setitik itu jadi merusak kebaikan besar di sekelilingnya. Yang perlu kita lakukan adalah terus mainkan peran dan kewajiban kita sendiri, dan tetap konsisten melakukan kebaikan
.
Bunda belajar untuk mengukir kebaikan kebaikan ayah dalam tulisan. Ya, karena bunda suka menulis dan menulis membuat bunda lebih nyaman. Sangat ingin rasanya juga menuliskan hal hal yang kurang berkenan, namun hingga beberapa lama ini tak pernah bunda lakukan.
.
Bunda tepiskan semua, bahkan tak bunda tulis dalam catatan pribadi bunda. Karena Bunda sadar, begitu banyak kekurangan bunda, dan menuliskan kekurangan orang lain tak mengubah apa apa.
.
Maka, banyak banyaklah bersyukur. Tuliskan saja semua kesyukuranmu setiap harinya nanti. Ingat sisi baik dari orang orang yang kau temui kelak. Beri apresiasi terbaik sepayah apapun ia. .
Caramu menerima dan memotivasinya, akan berarti banyak untuk perubahan dirinya.
.
Mengapa?
Karena tiada yang sempurna, tiada yang bisa persis sama dengan apa keinginan kita. Kitapun begitu, harapan yang oranglain sematkan pada kita juga tak selalu dapat kita penuhi kan?



** Oh ya, ini salah satu kebaikan ayahmu, meski kami sedang belum berteman baik 2 hari ini, ayah tetap menyisakan beberapa lembar menu gokana tepan untuk kita nikmati. Dan pagi ini kamu pun memakannya dengan sangat lahap 

Salam sayang, 
Bunda yang masih terus belajar

Jumat, 16 Maret 2018

Surat Cinta Dari Bunda : Jangan Marah

Dear Anak Kesayangan Bunda,
Baru kali ini bunda sadari, betapa sudah jarang sekali bunda memberimu nasihat.
.
Tanpa bunda sadari, mungkin belakangan ini bunda terlalu takut ucapan bunda menyakiti orang sekitar. Padahal kebenaran tetap harus dikatakan, dan mengatakan kebenaran itu meski pahit tetapi lebih baik daripada pengabaian
.
Sulit memberi nasihat, terlebih karena mungkin hati sedang bernoda. Ya, kau perlu tahu bahwa hati mungkin menjadi keruh karena dosa. Nasihat menjadi tak bermakna, manakala apa yang kita katakan begitu sulit kita lakukan.
.
Mulai hari ini, ingatkan bunda untuk memberimu nasihat ya?
.
.
*
Jangan marah,
Jangan marah,
Jangan marah.
Maka bagimu surga.

Hati yang diliputi kemarahan, tak mampu menangkap logika dengan baik. Itulah kenapa, tersebut oleh nabi bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang fisiknya kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya.

Otoritas diri yang lebih tinggi, membuat diri merasa pantas memarahi lawan bicara. Padahal tak ada manfaat dari kemarahan itu sendiri selain menorehkan luka.

Bunda tahu, terkadang pukulan kecilmu hanya perwujudan dari caramu melindungi dirimu, bagian dari naluri kemanusiaanmu.

Namun bunda yang kurang sabar, tak jarang tersulut api amarah, kemudian menuruti hawa nafsu dengan memarahimu.

Ah, malu sekali.
Padahal bunda sudah lebih besar dari mu, sudah sepatutnya bisa menjaga diri.

Kelak, jadilah orang yang mampu menjaga diri, menjaga agar tidak suka marah marah padahhal yang tak diperlukan.
Semoga selama ini bunda cukup ikhtiar memenuhi kebutuhan emosionalmu, hingga pada saatnya nanti, kau sudah cukup matang untuk bersikap lebih bijaksana.

Salam, bunda. :)

Monday, February 19, 2018

Dan Posting di Medsos Untuk Apa?

Di tengah kegiatan saya ngapload dokumentasi Bunda Sayang dari instagram ke album facebook, kemudian saya berhenti sejenak. Berpikir kembali, "kenapa saya harus melakukan ini?"

Sudah saya tulis di instagram lalu kenapa perlu repot di upload lagi ke album facebook?

😅😅

Sebetulnya sekarang saya bukan orang yang senang mengunggah beraneka aktivitas pribadi di sosial media, apalagi facebook. Tapi saya suka sedih sendiri karena banyak hal yang sering saya lupakan kalau saya ngga mendokumentasikannya.

Dari postingan saya juga, harapannya saya tetap bisa memberikan manfaat buat orang lain walau terkendala jarak dan waktu.

Sekali sekali ngga apa ya, sambil jualan, sambil sharing, sambil berbagi informasi kegiatan. :)

Lurusin niat aja ya.

Wednesday, January 24, 2018

Kuli Pofesional - Renungan dari Robohnya Selasar Gedung BEI Jakarta

Siapa sangka, gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta yang megah itu, bisa "memakan" 72 korban luka akibat robohnya selasar lantai 2 nya? (sumber)
TMC POLDA METRO JAYA

Baiklah, walaupun saya sudah lama tak update blog *kerik lumut*, boleh ya sedikit-sedikit mulai menulis lagi. Berusaha tetap uptodate dengan berita yang ada sambil tetap beraktivitas sebagai emak-emak hehe. Sambil nyetrika, saya dengar diskusi tentang kontraktor dari suatu projek pemerintah.

Sebelumnya, harap maklum ya kalau banyak penggunaan istilah yang salah, dan juga kalau susunan kalimatnya agak acakadut. Hanya mau share sedikit tentang sebuah hikmah yang saya coba tangkap dari diskusi para pakar tersebut.

*

Sudah jadi hal yang wajar ketika sebuah proyek besar dilakukan oleh orang yang besar, sebut saja Proyek Nasional Pemerintah, tentu tak sembarangan. Banyak faktor yang pasti terlibat. Kredibilitas perusahaan, arsiteknya, pemilihan materialnya, pekerjanya, waktu pengerjaannya, pemeliharaannya, dan lain-lain.

Salah satu yang di highlight saya, adalah perkataan narasumber saat itu:
"Perusahaan mungkin boleh bonafit, terpercaya. Tapi ketika sesuatu berhubungan dengan manusia sebagai pekerja, sangat mungkin ada human error. Diantara sebegitu banyak SDM (buruh bangunan)  yang diperlukan, kita kan ngga tau kinerja atau perfomancenya di waktu tertentu seperti apa, misalnya."

*
Tentu saja dengan faktor yang banyak, kita tak bisa menggeneralisir. Namun karena pada dasarna saya tertarik dengan faktor manusianya, maka terkait kualitas manusia, ini yang jadi saya pikirkan:

Oh Ternyata,
Kalau Mau Jadi Kuli Sekalipun, Jadilah Kuli Yang Profesional!


Profesi kuli mungkin masih dianggap sebelah mata, kerjanya yang tak selalu tentu ada, dan resiko kematian tinggi juga melekat. Gedung baru yang indahpun selalu disematkan pada sang perancang/arsiteknya. Tak ada yang menyematkannya pada Sang Kuli Bangunan, kan?


Tapi, Hal kecil sekalipun memang harus dilakukan sepenuh hati, oleh seseorang yang punya kualitas baik. Bukankah mengharukan, bila setiap lapis bangunan rumah atau sekolah kita bertabur zikir dari para pekerja bangunan? Yang mengerjakan semuanya dengan penuh tanggungjawab?

Maka dengung parenting seharusnya lebih menjalar ke setiap tetangga rumah-rumah kita. Tetangga yang mungkin sering makan sekadarnya. Yang tak jarang kita pandang sebelah mata karena dianggap tak prioritas. Yang tak jarang kita jauhi karena takut pengaruh buruknya, padahal karena lemahnya kita membentengi diri sendiri.

Orang berkualitas itu ketika ia bisa menularkan kualitas pada sekitarnya. 
Tetap bersinar dan menyalakan lilin di sekelilingnya. 
lilin kecil yang meskipun kecil, begitu berarti menerangi ruang gelap.


Rabu, 24 Januari 2018
Hajah Sofyamarwa


Tuesday, January 23, 2018

Drama Anak Tantrum Mulai Usia 2 Tahunan

Tangisanku terhenti sejenak. Bocah berusia 2 tahun lewat 4 bulan itupun sudah terlelap di pelukanku sehabis menangis hebat.

Sehabis pulang dari pasar tadi kami mampir sejenak ke buyutnya, maksud hati agar anakku mau bermain disana barang sejam dua jam. Sudah sekian lama tak main disana, karena sesuatu.

Untuk mengalihkan perhatiannya, sempat kubelikan jam tangan spinner 25ribuan di pasar tadi, berharap moodnya bagus dan saat ke uyutnya ia akan mau ditinggal.

Ternyata sama seperti saat berangkat tadi, ia melantai, menangis rewel dan tak mau. Minta digendong dan ingin pulang.

Kalau anakku bilang ngga mau, Aku juga tak bisa membiarkan anakku disana. Maka segera kuajak haidar untuk sekedar salam, namun juga tak mau.

Kupikir ia akan mereda, dalam perjalanan pulang yang hanya sekitar 10meter menuju rumah, anakku mulai memukul marah dan menangis lagi. Barangkali mau di uyutnya lagi? Ternyata tidak juga. Kubawa saja pulang, ia mengantuk.

Sampai depan teras, ia tak mau masuk rumah, berdiam dipagar sambil menangis keras. Alhamdulillah aku masih belum baper, masih santai, hanya heran saja.

Tak mau masuk, akupun masuk ke dalam rumah, dan tangisannya semakin kencang. Singkat cerita ia pun mau digendong dan masuk ke dalam rumah

Tak berhenti sampai disitu, tangisnya mulai lagi. Meronta ronta, gerakan tangannya memukul, gerakan kakinya menendang. Ku tahan dan bilang "kalau marah itu boleh, tapi ngga boleh memukul atau nendang, bunda ngga suka." Belum mempan, saya menjauh dan masuk ke dalam kamar, menutup pintu.

Dipersingkat lagi, tangisanku akhirnya pecah. Ingat beberapa hari sebelumnya ini pernah terjadi, dengan kejadian yang persis. Apakah trauma ya sampai kejadian yang hampir sama walau tak ada penyulutnya, menghasilkan kemarahan yang sama. Bisa jadi, karena ia masih kecil dan apa apa yang terjadi saat kecil begitu membekas.

Ketika tangisanku pecah sambil meringkuk di atas kasur, ia kemudian masuk ke pelukanku. Saling meminta maaf, dan tak lama ia tertidur.

Ya Allah..

Selasa, 23 Januari 2018
Seorang bunda yang masih belajar dan berusaha melakukan yang terbaik.

Kutulis untuk jadi pengingat, dan kelak evaluasi. Betapa bunda masih sangat perlu belajar perlu sabar. Saat Haidar 2 tahun 4 bulan. Maafkan bunda ya, semoga kita selalu disayang Allah

Saturday, January 13, 2018

Diam


"Bisa diam gak sih?"
Begitu katanya, seorang ibu muda yang sedang hilang kesabaran menghadapi tangisan anak balitanya.

Tak pernah terbayang sebelumnya, ia akan menjadi selayaknya “monster” yang terpancing balas meneriaki balitanya.

Segala kesempurnaan menjadi ibu yang pernah ia bayangkan sebelum menikah dulu, kandas semua. Ah, ternyata sebegitu susahnya menjadi ibu.

Ia lalu menutup pintu dan masuk ke dalam kamar. Maksud hati menenangkan diri dan menjauh dari kalimat-kalimat emosi lainnya, balitanya menangis semakin menjadi.

Tumpah pula tangisannya. Mencoba mendekap anak semata wayangnya itu, tak lama justru tendangan kuat bocah kecil itu mendarat di badannya.

Hanya tuhan yang tahu betapa menghayatinya ia berucap istighfar saat itu. Hanya tuhan pula yang tahu, seberapa besar kadar emosinya sudah memuncak.

Ahh, tak pernah terbayang ia akan bersikap seperti itu.

Ia rebahkan dirinya di atas kasur, sementara sang anak tetap merengek menangis.

Didekap kembali anaknya dengan penuh kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa anaknya hanya sesosok manusia kecil yang masih berkembang.

Ia memulainya dengan minta maaf, tak peduli siapa yang sebenarnya salah duluan. Ia hanya tahu bahwa memang sejatinya ia yang perlu meminta maaf pada buah hatinya, atas sikap dan kata-kata yang terlampau berlebihan.

Tangisan bocah kecil itu kemudian berubah nada. Dari kemarahan menjadi tangisan manja khas anak anak. Perubahan gerak bibir bawahnya makin melembutkan hati sang Ibu.

Ah astaghfirullah.
Ia hanya anak-anak yang harus dihujani kasih sayang.

Jumat, 5 Januari 2017
Hajah Sofyamarwa
A mother who learn

*Kisah ini ditulis saat materi kulwap kepenulisan tentang menulis itu mudah, dalam 7 menit :)

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...