Showing posts with label reporter-wannabe. Show all posts
Showing posts with label reporter-wannabe. Show all posts

Friday, March 29, 2013

(tak) sengaja bertamu ke rumah Mang Dodong Kodir


    Sebetulnya ini dalam rangka silaturahim pada sesepuh warga Cisitu. Semacam "minta doa restu" untuk acara Mural yang insyaallah akan digarap sekitar tanggal 14 April 2013.

    Pak Wawan (Ketua RT 07 yang super gaul abis dan berjiwa muda) memberikan 5 nama "sesepuh" yang bisa kita kunjungi. Saya yang bukan warga cisitu awalnya tidak berpikir apa-apa, hanya kunjungan ke warga kan? Biasanya juga kalo di komplek rumah suka ngider ke rumah warga nyebar undangan acara remaja mesjid (KRIMA) sama anak-anak, dan itu yaa, biasa aja. Paling cengengesan ngobrolnya juga hehe (dasar bocah).

    Kamis itu (28/3/2013) sekitar pukul 11, dengan ditemani kang timus dan kang ade sebagai pemuda aktif cisitu, saya ikut silaturahim ke salah satu sesepuh yang namanya Pak Kodir.

    Alhamdulillah beliau ada di rumah. Sebuah rumah sederhana yang di bagian ruang tamunya banyak sekali berbagai frame figura berisi foto, poster dan penghargaan. Sisi lemari juga terdapat berbagai hiasan yang tidak biasa. Saat itu saya masih belum tau apa-apa.

    Pak Kodir terlihat sangat ramah dan bersemangat di usia nya yang sudah menua. Cara bicaranya juga sudah melambat, kini beliau sedang sakit. Lama mengobrol baru saya sadar, ORANG DI DEPAN SAYA INI ORANG LUAR BIASA!

    Silakan googling saja untuk tahu siapa beliau :)
    Seniman yang sudah melanglang buana ke berbagai negara!
    Terkenal sangat "dekat" dengan sampah karena bisa memanfaatkan berbagai sampah menjadi alat musik. Whoooaaaaa!
    Membawa tradisi indonesia dan mengenalkan budaya indonesia pada dunia.
    Dan saya baru tahu rumahnya di CISITU!
    (maap ya ga gaul banget aku ini ._.)
     
    * * * * * *

    Alat musik dari bahan sampah beliau diabadikan dan divisualisasikan oleh seorang mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Fian Afandi (51906102) sebagai buku cerita anak-anak. Mang dodong dengan bangga dan bahagia memperlihatkan buku tersebut.

    Cover Buku (Copyright Fian Afiandi, 2011)
    Judul bukunya Dodong dan Bisikan Sampah. Menarik banget buat anak-anak, mudah di[ahami dan full colour. Isinya menceritakan proses kreatif mang dodong menghasilkan alat musik dari sampah.
    Nah dibawah ini foto beliau yang kemudian diadaptasi menjadi karakter kartun pada buku ini.

    Karakter Dodong dan aslinya. (Copyright Fian Afandi, 2011)

    Pada saat ngobrol dan tulisan ini dibuat, rambutnya sudah tidak segondrong itu. hehe.
    Lalu ini ada salah satu inspirasi mang dodong juga menjadi alat musik, buah labu! Katanya kita harus melestarikan ini, katanya untuk mendapat labu, waktu itu mendapat dari baduy. 

    story board penemuan alat musik tornadong (Copyright Fian Afiandi, 2011)

    Labu dan karakter buatan Fian Afandi dalam bukunya (Copyright Fian Afandi, 2011)

    eh ko saya jadi bahas bukunya ya? Menarik sih hehe.
    Btw, alhamdulillah dapat kesempatan langka ini. Banyak sekali yang beliau sampaikan, mungkin suatu saat akan saya jadikanbahan tulisan tersendiri :)
    Sayang sekali saat ngobrol ga ambil gambar (asa teu sopan hehe), ternyata cari gambar terupdatenya susah banget di internet hehe
    Yuk Main ke Cisitu! :D


    Sumber gambar : Dari skripsi Kak Fian Afiandi (klik disini)

Monday, March 25, 2013

Mural Sepanjang Jalan Babakan Siliwangi

Wujud dukungan para seniman dalam melindungi hutan kota di babakan Siliwangi :)
 























awalnya saya kebetulan lewat di daerah baksil. Lupa kalau saya sebenernya emang mau motoin. Lalu saya naik angkot caheum ledeng yang lagi ngetem. Tiba-tiba saya inget, akhirnya saya bilang sama abang angkotnya, "eh bang tunggu bentar mau turun dulu."
turunlah saya dari angkot, dan berjalan sepanjang baksil. 
Karena lama, ternyata angkotnya udah mulai jalan, pas ketemu saya, saya di klakson. karena belum beres fotonya, ga saya gubris #parah
padahal mungkin abang angkotnya udah baik mau nungguin (tapi gatau nungguin saya ato bukan sih #geer)

gambar muralnya masih banyak, tapi ga saya fotoin semua :)

Bandung, 24 Maret 2013

* * * * *

More and deep info :

Blog Kampanye Penyelamatan Taman Kota Babakan Siliwangi, Bandung – Indonesia

http://savebabakansiliwangi.wordpress.com

Tuesday, March 5, 2013

A' Sidik Sang Pengamen yang Enak


Hari ini hari selasa, seperti biasa ini jadwal saya mengajar privat di setramurni. Karena besok anaknya UTS, jamnya jadi ekstra, walhasil pulang lebih malam.
Tak seperti biasanya, saya diantar mang ajay sampai ke borma setiabudi, dengan ini saya jadi hanya perlu naik angkot caheum ledeng sekali untuk dapat sampai di kosan. Sesaat setelah duduk manis di angkot, saya galau antara turun dulu untuk ke borma atau tidak.
Tak lama kemudian seorang pengamen berstelan santai datang, menenteng gitar sembari makan sebungkus batagor.

"Ngiring mang.."
Dan sambil menyapa penumpang,
"Punten teh.. Makan teh? Lumayan buat ngeganjel.."

Angkot masih ngetem dan sayapun masih belum memutuskan untuk turun ke borma. Yasudah, tak jadi saja. Kemudian saya perhatikan, ada yang beda dari sang pengamen. Dan dengan mengumpulkan segenap keberanian, saya putuskan untuk menyapa..
"pulang kemana a'?"
"Cihampelas, teh.. Tapi ini mah mau ke balubur dulu, mau ke 'kape'."
(hah? Kape? Apaan ya? Kerja praktek?)

"Kape apaan ya a'?"
"Itu, kape, kape.." (sambil menunjuk warung-warung makan)
(oooh kafe maksudnya.. -_-  hehe :p)

Singkat cerita, sepanjang perjalanan kami ngobrol. Namanya Sidik, orangnya sopan dan sunda pisan. Beliau sudah sejak kecil ngamen di setiabudhi.  Bisa main gitar sejak kecil belajar sendiri dan ada pengurus yang mengajarkan (dari hari rusli katanya). Biasanya ia ngamen dari pukul 9 sampai magrib.

Saya kurang tau tepatnya, apa yang ia bilang tentang mengamen. Saat ini ia juga sambil menunggu pekerjaan. Ia bilang ngamen itu enak, santai. Bisa menghibur juga. Katanya walaupun sudah bekerja di tempat lain, rasanya tetap ingin di jalanan.

Saya bercerita tentang pengamen yang keliatan suka marah-marah kalau tidak diberi. Dengan bijak ia bilang, mungkin karena merasa ngga diwaro, ga ada respon dari penumpang setelah lagunya berhenti dinyanyikan, jadi kesal. Tapi ngga tau juga, katanya. Tergantung pengamennya.

Sangat terlihat bahwa ia menyenangi lokasi tempatnya ngamen, setiabudi. Anak-anaknya baik, enak-enak. (sering banget ia bilang 'enak' hehe). Santai, saling terbuka, saling ngajarin, saling ngedidik yang bisa dididik.

Ternyata a sidik punya keluarga besar. Ia tinggal dengan orang tuanya, dengan 6 adik! Tapi ia bilang, ga pusing. Kalau bisa ngasih uang, kasih, syukur. Kalau ngga ada juga ga apa apa.

Lama kami terdiam, a Sidik mulai memainkan gitarnya, sebuah instrumen pada awalnya (dan itu indah ) #so melankolis -_- hehe tapi beneran ini mah.
Setelah itu terdengarlah dendang lagu jangan menyerah-nya D'massive.

Sampai di gelap nyawang ia pamit turun duluan.
"mangga teh, assalamualaikum.."
"wa'alaikumsalaam.. Mangga-mangga.."

Dan sepanjang turun dari angkot sampai kosan kayanya saya senyam senyum sendiri hehe

******

Mungkin suatu saat bisa ketemu lagi ya a'!
Sukses! Orang baik dan rendah hati kaya a' sidik insyaallah jalannya mudah.

"Yah, itumah gimana kitanya juga teh.
Kalau kitanya baik, enak sama orang, pasti orang lain juga enak ke kita.."
--A' Sidik

Terbukti!


Thursday, November 15, 2012

manusia perak di dago


miftah (bisnis-jabar)
Bismillah..
Berkali kali liat manusia perak di sepanjang jalan dago dalam perjalanan pulang. Sepanjang tubuhnya memang dicat perak, dan yang saya wawancarai hanya memakai celana pendek tanpa baju, membawa kardus bertuliskan Peduli Yatim Piatu. Biasanya Cuma kepo-kepo aja curi-lirik diem diem ngeliatin.

Kemarin beda! Berkesempatan untuk ngobrol face to face! Hihi. Reporter-wannabe. Dia  duduk di angkot yang saya tumpangi.

Ternyata mereka mahasiswa peduli anak Yatim Piatu dari STSI. STSI itu Sekolah Tinggi Seni Indonesia, letaknya di jalan buah batu (biasa saya lewati waktu masa-masa SMP dulu). Dasar mahasiswa seniman kreatif, kegiatan amalnya juga ngga biasa :) Dan mereka tetep kuliah loh.

Saya ngga ngobrol banyak sih, katanya hasilnya disumbangkan ke anak yatim piatu di daerah dekat Hotel Horison (kurang tau tepatnya).

Terus saya tanya tentang cat perak di badannya, katanya aman ko, pake body painting gitu dengan suatu campuran tertentu. (Iya juga ya, ko saya pikir di piloks -_- hehe)

******
browsing browsing ternyata mereka menamai dirinya Komunitas Silver Peduli.
Yah terlepas dari bagaimanapun caranya, asal halal dan berkah.
Sumber foto disini bisnis-jabar
Soalnya saya lupa ngga ambil foto hehe

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...