Showing posts with label ramadhan. Show all posts
Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Tuesday, April 12, 2022

Membacakan Sirah Nabawiyah Kepada Anak


Bismillah..

Sebuah catatan untuk kembali menguatkan diri dan bunda-bunda lainnya, agar senantiasa membawa serta Rasulullah dalam setiap keseharian. Fenomena yang sering kulihat sebagai seorang pedagang buku sirah nabawiyah balita, masih banyak orangtua yang belum merasa perlu membacakan buku sirah pada anaknya yang masih balita. Insyaallah momen bulan Ramadan ini menjadi salah satu waktu yang tepat untuk mengenalkan sosok teladan Rasulullah di rumah kita.

KHATAMKAN SIRAH RASULULLAH SEBELUM USIA PERNIKAHAN
Kata Bunda Kurnia Widhiatuti, pastikan sebelum anak menginjak usia pernikahan, mereka sudah mengkhatamkan sirah Rasulullah yaa...

Siapakah disini yang sudah pernah mengkhatamkan buku sirah nabawiyah?
Mungkin kebanyakan dari kita menggeleng, padahal kita sebagai orangtua perlu punya referensinya terlebih dulu yahh. Perlu juga kita lengkapi dengan kisah 10 sahabat yang dijamin surga, dan kisah 10 shahabiyah.

Manfaatnya, bagi anak laki laki mereka memiliki berbagai referensi sosok teladan sebagai seorang imam di masa depannya. Sedangkan bagi anak perempuan, mereka juga memiliki referensi bagaimana menjadi seorang muslimah yang baik, dan bagaimana menemukan jodohnya 😄

Nah, kalau kita orangtua dihadapkan, pada dua pilihan buku sirah. Yang satu bukunya tipis, harganya 35ribu, yang satu lagi tebal, harganya 300.000. Mana yang akan kita pilih?
Kebanyakan akan menjawab yang tipis, agar bisa selesai dan cepat dibacanya.

Ini salah satu yang jadi kelemahan umat islam di masa sekarang. Kalau di benak kita saja tak ada kisah rasulullah, bagaimana kita akan menceritakannya dengan hati pada anak-anak kita? 😭😭

Menjadi orangtua yang patut diteladani akhirnya pun menjadi sulit karena tak ada referensi dalam benak kita 😭😭

Lalu bagaimana cara mengkhatamkannya? Bacalah secara teratur, berurutan boleh. Namun menurut bunda Kurnia, salah satu tips baca buku sirah adalah membacanya secara acak. Otak manusia nantinya akan tetap mampu merunutkan secara utuh.

METODE BERCERITA SESUAI USIA
Nah setelah kita paham urgensinya, maka kita juga perlu memahami kondisi psikologis anak dan tahapan dalam bercerita. Setiap anak sebetulnya punya keunikan tersendiri, tapi secara garis besar, ini metode bercerita sesuai usia yang bisa dipraktekkan:

♥️ Fase 1 : 0-7 tahun
Fase Bercerita dengan Ekspresi dan imajinasi
Sedapat mungkin memberikan  berbagai ekspresi saat membacakan buku pada anak. Sedih, gembira, takut, berani, marah, dan lainnya.

♥️ Fase 2 : 8-14 tahun
Fase Role Play (Bermain Peran)
Ajak anak untuk masuk ke dalam peran. Atau diskusi singkat. Libatkan emosi. Memanfaatkan kejadian apapun sebagai golden momen 
Misal tema kejujuran : 
- udah bisa disuruh baca
- Apa yang bisa kamu tangkap dari kisah itu
- diskusi

♥️ Fase : 15 tahun
Lakukan Project Kebaikan (Role Being)
Misal membuat project bersama ayah bundanya, sedekah kepada orang yang membutuhkan. Selalu ada kisah mengenai rasulullah dalam keseharian..
Misalnya
• sikat gigi : rasulullah orang yang paling rajin menggosok gigi (bersiwak)
• memberi makan orang miskin : Rasulullah orang yang paling dermawan

REFERENSI BUKU SIRAH
Referensi buku sirah untuk orangtua ada banyak jenisnya, contohnya buku Shirah Syaikh Mubarrak Alfury, Al Buthy. 

Referensi buku sirah untuk anak pun saat ini sudah banyak, salah satunya buku Muhammad is My Hero yang sangat cocok dipakai sejak anak berusia balita, bahkan bayi.

Membacakan buku pada anak ada dua jenis :
1. Membaca dengan buku : ayah atau bunda membacakan anak buku seperti biasa
2. Membaca bersama buku : membaca meskipun tidak bersama buku, tapi bersama nilai nilai yang ada di buku. Tingkatan ini kisah yang ada di dalam buku sudah terinternalisasi dalam benak orangtuanya.

Lima Karakter Utama yang bisa dipelajari dari Shirah Nabawiyah:
1. Shidiq (jujur) 
2. Syajaah (berani) : tidak takut, tidak lemah, 
3. Dermawan 
4. Pemalu 
5. Setia (Loyal)

Target pembentukan :
1. 0-7 tahun : memiliki kemampuan personality yg baik. Sejak bayi pun sudah menyenangkan, berkah. 
2. 8-14 tahun : integritas, merenungi diri sendiri. Bukan hanya soleh sendiri, tapi secara lingkungan. Diakui oleh lingkungan
3. 15-20 tahun : melibatkan dalam komunitas (kalau bisa membuat) gerakan sosial,
4. 21 tahun ke atas : daya pengaruh, generousity, daya keummatan

Tips Membacakan Buku Sirah Nabawiyah Pada Anak di Bulan Ramadhan.
Kita bisa melakukan ODOS atau One Day One Sirah. Dalam prakteknya tidak perlu menjejali terlalu banyak isi buku ke dalam diri anak. Mulai dengan perlahan dan menyenangkan. 

Kalau menggunakan buku Muhammad is My Hero, 17 buku yang ada bisa kita pergilirkan setiap harinya. Kita juga bisa variasikan cara membacanya, bergantian antara kisah sirahnya, juga kisah aplikatif sehari-harinya.

Insyaallah hari-hari di bulan Ramadhan akan lebih berkesan bagi anak kita.

Penting bagi setiap kita menjalankan wasiat Rasulullah, untuk memegang teguh Al Quran dan Assunah. Alhamdulillah di masa kini sudah banyak lembaga maupun sarana anak untuk mengenal quran dengan lebih baik. Namun jangan sampai terlewatkan, kisah perjuangan Rasulullah untuk kita kenalkan pada mereka.

* * * *

PERINTAH MENGIKUTI RASULULLAH
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku (nabi muhammad), niscaya Allâh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 
[Ali Imran/3:31]

CINTAILAH ORANG-ORANG SHALIH, ENGKAU AKAN BERSAMA ORANG-ORANG YANG ENGKAU CINTAI
  حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن ثابت عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ 

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat.

Orang itu mengatakan, 
‘Kapankah hari kiamat itu?’

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ 

Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ 

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’ 

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’ 

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan.

-- Diangkat dari Kutub wa Rasail Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr, 2/111

* * * * *

Jadi, jangan menunggu anak besar dulu ya buat membacakan shirah nabawiyah ke anak. Sejatinya membacakan buku ke anak itu hanya langkah awal. Kelak akan ada fase lainnya, dimana anak akan membaca lebih banyak lagi, mengkajinya, mengambil hikmah dan menjadikannya teladan dan rujukan dalam pengambilan keputusan-keputusan.

Hajah Sofyamarwa R.
12 April 2022

#Day11 #30dwcJilid36 #PejuangRamadan

Saturday, April 9, 2022

Mengendalikan Hawa Nafsu di Bulan Ramadhan

Bismillah..

Pagi ini sembari di dapur, aku mendengar kajian di MQFM mengenai cara mengenalkan puasa ramadan pada anak. Pengisi kajian adalah seorang dokter spesialis anak dari IDAI dan juga psikolog anak. 

Dari kajian tersebut secara singkat esensi nya adalah bahwa meskipun mengenalkan secara bertahap, orangtua perlu mengenalkannya secara komprehensif dari segala aspek. Puasa bukan sekedar melatih anak menahan lapar dan haus dahaga semata, melainkan juga memerhatikan aspek fisik, psikis, juga mental mereka.

Puasa bukan sekedar menyuruh anak menahan lapar dan haus saja, melainkan juga mengajak anak untuk bisa menjaga hawa nafsu dan menjaga bicara mereka. Jleb! Saat mendengar kalimat itu tiba-tiba aku jadi teringatkan, bahwa selama proses iday belajar puasa 5 hari ke belakang aku sangat berfokus pada hal yang bersifat "teknis" mengenai pembiasaan. Pembiasaan waktu sahur (dan waktu tidur), ajakan shalat, dan bagaimana mengisi waktu agar anak bisa berbuka di waktu yang diharapkan.

Saya lupa bahwa sounding dan mengingatkan anak untuk menjaga hawa nafsu juga merupakan salah satu esensi berpuasa. Frase yang terasa 'klise' tapi tetap perlu di tanamkan kepada anak. Bukan fokus besar di awal ramadan ini, mungkin karena secara emosional kami bertiga cukup bisa 'menjaga hawa nafsu' masing-masing selama ini. Qadarullah mungkin karena sedang suasana karantina covid juga di rumah, jadi saling menjaga.

Menjaga hawa nafsu saat tidak terjadi apa-apa, tentunya relatif mudah. Namun yang jadi ujiannya adalah, ketika kita dihadapkan pada suatu kondisi yang tidak biasa, yang menuntut kita untuk bisa mengendalikan hawa nafsu kita.

Semoga kita semua Allah mudahkan dalam latihan mengendalikan hawa nafsu selama bulan Ramadan dan seterusnya. Baik dalam proses pendidikan diri, pendidikan keluarga, maupun pendidikan anak.

* * *

"Tujuan berpuasa adalah supaya bisa berakhlak sebagaimana sifat as-Shamad bagi Allah, juga agar manusia bisa mengikuti sifat-sifat malaikat, yaitu mengekang syahwat sebisa mungkin. Malaikat adalah makhluk yang terbebas dari syahwat. Level manusia sendiri berada di atas hewan karena dengan cahaya akal yang dimilikinya mampu menaklukkan syahwat. Akan tetapi di bawah level malaikat karena memiliki syahwat dan diuji untuk menaklukannya. Jika ia terbuai oleh syahwatnya, levelnya akan turun setara dengan hewan. Sebaliknya, jika mampu menghancurkan syahwatnya, makan levelnya akan naik setinggi-tingginya bersama golongan para malaikat. 
(Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, juz , hal. 236)

#PejuangRamadan #30dwcJilid36 #Day9

Friday, April 8, 2022

Batas Waktu


Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya
.” 
(QS. Al A’raf: 34).

* * * *

Air mata tiba-tiba tak henti meleleh dipipiku. Setelah kusadari bahwa kemungkinan besar akupun turut terinfeksi virus corona. Ya, tepat di pagi ini, gejalaku tak hanya radang tenggorokan dan batuk, tapi juga mulai muncul rasa sakit kepala yang cukup kuat dan demam yang hebat.

Lebay?
Jujur selama pandemi bertahun-tahun ini mungkin aku termasuk barisan orang yang paling santai dan tidak sehigienis kebanyakan orang. Biasa-biasa saja. Mungkin juga karena aktivitasku bekerja kebanyakan di rumah dan tidak begitu banyak bersinggungan dengan orang lain.

Aku bukan takut pada virusnya, aku hanya baru menyadari bahwa gejala yang sebelumnya kuanggap biasa itu, sangat berbeda rasanya saat dialami oleh diri sendiri. Belum lagi aku sedang berbadan dua yang membuat pergerakan badan tak selalu mudah, juga posisi kami yang sedang berada jauh dari kampung halaman.

Hari ini tibalah waktunya aku dan anakku yang melakukan swab test, bersepeda ke klinik dan menunggu lama di ruangan isolasi bersuhu lama, badan rasanya lemas sekali. Ingin sekali aku turun dari kursi besi dan melantai bergoler saja di bawah. Sendi-sendi kaki rasa lemas lunglai rasanya.

Ada tiga hal yang tiba-tiba muncul di kepalaku, sakura, Ramadan, dan batas waktu kehidupan. Semua berkaitan dengan dimensi waktu, yang bagi orang sepertiku seringnya tak benar-benar menyadarinya.

Sakura
Kalau ingat bahasanku sebelumnya, sakura ini hanya tumbuh dan bermekaran selama 2 pekan saja. Bila aku benar-benar dinyatakan positif covid, besar kemungkinan waktu isolasi bertambah. Itu artinya kecil kemungkinan kami bisa keluar rumah untuk melihat-lihat keindahan bunga sakura secara langsung, yang sudah kami tunggu-tunggu selama musim dingin lalu.

Remeh?
Ah wajar saja ya, manusiawi. Selama 30 tahun hidup pun aku tak pernah begitu terobsesi pada bunga sakura. Namun, ketika berada di Kanazawa dan bersabar selama musim dingin yang panjang, rasanya sah-sah saja menantikan cuaca yang lebih hangat bersahabat dan pemandangan yang lebih indah, bukan?

Ramadan
Kemudian aku berpikir tentang Ramadan ini, mungkin Allah ingin memberikan kami pengalaman yang sangat berharga. Perhari ini, akhirnya aku harus membatalkan shaumku karena batuk dan sakit kepala hebat. Aku diharuskan memperbanyak minum dan meminum obat. Sebagai ibu yang pernah hamil dan menyusui saat Ramadan, alhamdulillah selama ini belum pernah absen shaumnya. Tapi qadarullah, kali ini demi kebaikan semua, aku mengambil rukhsah untuk tidak berpuasa dulu. 

Akupun merasa, Allah ingin mengujiku, apakah aku masih mau menjalankan amalan-amalan harian selama ramadan dengan segala keterbatasan? Apakah aku hanya akan 'terlena' dengan gejala sakit yang ada dan memaklumkan diri untuk tidak tilawah karena radang tenggorokan? Ataukah justru ini jadi kesempatan terbaik untuk memperbanyak tilawah Al-Qur'an?

Batas Waktu Kehidupan
Hal terakhir yang kupikirkan adalah batas waktu kehidupan. Kalau selama ini sering mendengar orang berbicara "alumni covid", apakah keluarga kami termasuk golongan tersebut? Atau apakah justru kami termasuk orang-orang yang tak bisa survive? Sungguh aku bukan paranoid, atau pesimis. Dalam kondisi ini tentu apapun bisa terjadi. Upacara masuk sekolah SD anakku saja yang sudah direncakan jauh hari akan diikuti hari ini, qadarullah harus kami lewatkan. Ah, bukankah memang mudah bagi Allah menyusun skenario terbaiknya? Aku hanya teringat, betapa diri ini belum layak untuk dipanggil Allah cepat-cepat. Anggap saja aku ingin sesekali menjadi orang yang cerdas, yang banyak mengingat kematian dengan sebenar-benarnya dan berusaha memperbaiki persiapannya.

Sakura, Ramadan, dan kehidupan, tiga hal indah yang hanya muncul sekejap saja. Yang kedatangannya selalu dinanti, namun terkadang tak sadar disia-siakan.

Semoga kita semua selalu dalam kondisi iman, amal terbaik, dan Allah ridha pada apa-apa yang kita lakukan.

* * * *

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,  “Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui, terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya, akan tetapi dia malah dibawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati). Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya keadaan yang diinginkan.” (Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

Hajah Sofyamarwa
Kanazawa, 8 April 2022
03.19 JST

#PejuangRamadan #Day7 #30DwcJilid36

Tuesday, April 5, 2022

Mengenalkan Puasa Ramadhan Pada Anak Balita


Para orangtua di masa Ramadhan ini sudah banyak yang mulai mempersiapkan banyak hal termasuk bagaimana mengondisikan anak untuk mengenal  keistimewaan bulan ramadhan.

Sebelum terlalu jauh, kita perlu memahami bahwa fase anak balita, atau 0-7 tahun, sebetulnya anak belum dikenakan kewajiban syariat untuk berpuasa. Bahkan perintah shalat pun baru Allah dan Rasulullah perintahkan saat anak berusia 7 tahun. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, "Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan).
(Hadits ini hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197)

Jadi sebelum usia itu sebetulnya anak baru kita kenalkan dulu. Dan hal yang lebih pentingnya adalah menanamkan terlebih dahulu kecintaan dan kekaguman pada Allah Sang Maha Kuasa.

Kita perlu ingat bahwa syarat sah puasa ada 3 :
1. Muslim 
2. Berakal
3. Baligh

Kita bedah satu persatu ya..
Untuk poin 1 cukup jelas ya, insyaallah anak kita muslim. 

Untuk poin 2, apakah anak usia 0-7 tahun sudah berakal/sempurna akalnya? Salah satu hikmah mengapa anak sekolah SD dimulai sejak usia 7 karena secara psikologis anak sudah mulai matang akalnya.

"Karena pada usia inilah anak sudah mampu menerima perintah atau sudah paham menerima perintah yang disebut dengan istilah mumayyiz. Karena di usia ini kritis dan cerdas," kata Dr H Abdul Majid Khon dalam bukunya "Hadis Tarbawi. Hadis-Hadis Pendidikan".

"Usia secara kebetulan sama dengan usia anak sekolah dipedomani dalam penerimaan masuk sekolah formal di sekolah tingkat dasar titik konsekuensinya anak yang telah mampu belajar sholat dengan baik berarti pula ia telah menerima hukuman jika meninggalkannya."
(Ali Yusuf, Republika)

Untuk poin 3, tentunya anak usia 0-7 tahun pun belum baligh. Jadi tidak ada tuntutan bagi mereka, yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana menuntun mereka agar mereka merasakan imaji positif mengenai ibadah di bulan ramadhan :)

Tidak ada istilah lebih cepat lebih baik ya kalau menyangkut beban syariat. Karena kita ingin anak memilik fondasi yang kuat dulu mengenai fitrah keimanan, kecintaan nya pada Allah, pada agamanya.

Bayangkan kalau anak usia 0-7 tahun kita paksa untuk beribadah seperti kita yang sudah aqil baligh, sangat mungkin akan banyak penolakan, drama dan orangtuanya jadi stress. Padahal memang usianya belum mumpuni, jadi rileks saja terkait hasil, kita bersemangat pada proses membuat anak happy :)

Jangan sampai anak merasa kesal/trauma dengan syariat islam di usianya yang masih kecil, saat nantinya ia sudah baligh justru tak menjalankan syariat dengan baik.

Beberapa hal praktis yang cukup sering dilakukan orangtua di rumah adalah:
1. Menghias Rumah dengan Dekorasi Ramadhan
2. Menyediakan perlengkapan ibadah anak (sajadah, mukena, iqro/qur'an)
3. Menyediakan berbagai worksheet/printable/buku/mainan untuk mengisi kegiatan ngabuburit anak
4. Menyediakan lembar progress achievement chart ibadah untuk anak.

Ada tips dari Kang Canun dan Teh Fufu mengenai bagaimana cara mengenalkan puasa pada anak dengan menyenangkan:
1. Sounding dan briefing tentang Keistimewaan Shaum Ramadhan.
Misalnya mengenai pintu surga yang disediakan khusus bagi orang yang berpuasa (ar-rayyan), bahwa puasa itu Allah lah yang akan memberikan pahalanya, dan lain sebagainya.
2. Kenalkan latihan shaum ramadhan yang sesuai.
Sesuai kemampuan anak dan sebisa mungkin tidak membanding-bandingkan dengan anak orang lain. Misal anak hanya bisa sampai pukul 10.00 lalu berbuka, tidak apa. Kemudian hanya bisa sampai 12.00, lalu pukul 15.00 dst tidak apa. 
3. Fasilitasi keseruan ramadhan
4. Buat rencana selama bulan ramadhan
5. Apresiasi dan fokus pada progress
Kita bisa siapkan poster atau achievement chart dengan berbagai stiker lucu untuk anak. Apresiasi hal hal baik yang mereka lakukan.
6. Tidak perlu diiming imingi rewards terlebih dahulu.
Ingat bahwa fokus utamanya adalah progress mereka, bila di akhir mau memberi rewards, silakan saja, tapi sebisa mungkin bukan diinfokan di awal ya. Jadi sifatnya hadiah aja, apresiasi atas usaha mereka ingin semakon dekat sama Allah.

Pengalaman pribadi
Anak saya mulai di sounding mengenai shaum ramadhan sejak lama, namun sampai akhirnya dikenalkan dengan ritme ramadhan secara intens di usianya yang ke 4.5, 5.5 tahun dan 6.5 tahun ini. Memang sangat terasa perbedaannya, karena berkaitan dengan kematangan akalnya. Awal-awal dia paling senang karena saat buka puasa itu banyak yang jual makanan berbuka, dan terasa banyak makanan saat berbuka. 

Saya termasuk yang cukup "tenang" bila anak memilih berbuka puasa, namun tentu sedikit banyak ada pengaruh dari sekitar yang terkadang membuat diri jadi "goyah". Semisal perkataan bahwa "Anak saya udah mulai full puasa di usia 4 tahun/5 tahun" sementara saat itu anak saya tidak begitu. Tapi tetap tenang aja, dan isi diri dengan ilmu agar bisa mrlangkah lebih ajeg. Ingat kita perlu membangun fondasi nya terlebih dahulu yaa 😘

Sekian pembahasan mengenai bagaimana mengenalkan puasa pada anak balita. Semoga bermanfaat 😘

Hajah Sofyamarwa R.
Kanazawa, 5 April 2022

#Day4 #30DWCJilid36 #PejuangRamadhan

Friday, April 1, 2022

Bersiap Ramadhan Pertama di Jepang

Bismillah..

Assalamu'alaikum wrwb, konbanwa!

Tak terasa sudah masuk tanggal 1 April 2022, bertepatan dengan detik-detik menuju ke Bulan Ramadhan di tahun 2022 (1443 H). Buat aku yang lahir dan besar di Indonesia selama 30 tahun, menghadapi Ramadhan kali ini rasanya benar-benar deg-degan!

Ada beberapa kondisi yang bagiku menjadi tantangan di bulan Ramadhan kali ini. 

1. Aku masih terhitung baru sebagai pendatang di Jepang
Yes, ini experience pertamaku ya, di tempat baru, nuansa baru, keluarga baru. Wajar yaa kalau nervous hihi

2. Kondisi sedang Hamil
Nah untuk kondisi ini, sebetulnya dulu pun pernah mengalami hamil dan juga menyusui saat Ramadhan. Tapi saat dulu kondisinya aku masih di Indonesia, dan alhamdulillahnya ngga ada masalah apa-apa plus masih bisa shaum full. Kali ini, struggling kehamilannya cukup luar biasa (apalagi di awal trimester 1), yang menyebabkan berat badan justru turun dan susah makan. 

3. Kondisi Musim, Suhu dan Waktu yang Berbeda
Sebetulnya saat ini sudah genap 5 bulan lewat 1 pekan aku berada disini. Bagi sebagian orang mungkin proses adaptasinya bisa cepat, bisa juga tidak. Tapi bagiku, proses adaptasi ini berjalan sepanjang hari hihi. Pertama sampai di Jepang itu sekitar bulan Oktober 2021, musim gugur mendekati musim salju. Di Musim Salju kemarin lumayan struggling, alhamdulillahnya menjelang Ramadhan ini sudah hampir memasuki musim Semi (bunga bermekaran). Semoga lebih bersahabat kondisinya :)

Suhu udah ngga di angka 0 derajat Celcius, alhamdulillah udah di sekitar angka 14. Suhu dingin biasanya ngga gampang keringetan dan kehausan, Tantangannya di mobilitas sehari-hari di dalam rumah aja plus kalau habis wudhu itu rasanya kedinginan banget hihi.

Terkait waktu, aku sempat merasakan "jetlag" karena rasanya jam-jam shalat disini dinamis banget perubahannya. Sebelum ke jepang rasanya di Indonesia shalat subuh masih sekitar pukul 04.30 an, saat ke Jepang, ada masanya subuh itu adzan jam 05.30 an, eeeh sekarang taunya kembali lagi ke sekitar 4.15 an. Buat aku ini cukup challenging, sih. Bayangin suhu dingin, tidur baru sebentar, eh udah mesti bangun lagi hehe. Kenapa aku bilang tidur sebentar, karena seringnya aku tidur larut malam. Perbedaan waktu Indo dengan Jepang itu sebetulnya hanya 2 jam, tapi ketika banyak kerjaan Indo dan kelas belajar yang diselenggarakannya jam 20.00-22.00 WIB aja, di Jepang kan jadi jam 22.00-24.00 ya.. Otomatis jam tidur jadi sedikit kacau.

Kalau dihitung sama waktu menyiapkan sahur, mungkin perlu bangun jam 03.30 atau jam 03.00 amannya sih ya. Sebenarnya dipikir-pikir sama aja jamnya kaya di Indonesia, ngga jauh berbeda. Tapi ya itu sih, jujur jam biologis badanku masih belum stabil. Harapannya habis subuh kan ngga tidur lagi ya, tapi mengingat jam tidurnya terlampau singkat, bumil butuh tambahan jam tidur. 

4. Menu Masakan Disesuaikan
Aku tipe emak-emak yang bukan hobi dan jago masak, jadi masak itu ya sebisanya aja. Di Indonesia kayanya masaknya giu-gitu aja, maka pas pindah kesini kombinasi bahan-bahan juga masih sebisanya aja. Kendala nya di belum banyak eksplor, pembacaan bumbu masak (nihongo gaes), dan kehalalalnya. Pengen gitu rasanya ngelist menu andalan yang bahannya tinggal rikues sama mamang sayur (Sayur lodeh, sayur asem, dkk)

5. Ngga ada Jajanan Ngabuburit dan Gofood
Ini yang pasti kangen banget sih, kebayang kaan serunya jalan-jalan cari mamang jualan buat jajan? Kali ini sabar aja ya. Ngabuburit nya masak sendiri bikin sendiri aja hihi.

6. Masjid Cukup Jauh dari Apato
Disini kami masih belum memilih opsi memiliki kendaraan mobil, jadi selama ini hanya mengandalkan sepeda, bus dan tebengan wkwk. Kalau di Indonesia kan tinggal pilih ya mau ngesot ke masjid mana, disini masjid terdekat sekitar 7 km dari apatoku. Alhasil suasana tarawih di masjid kemungkinan bakal langka. Masa awal pandemi pun kita ngalamin sih ya ngga bisa ke masjid, atau hanya sesekali aja dan berjarak, tapi yang ini jelas beda. Semoga tetep bisa khusyu juga ya meski ngga sering-sering kecelup nuansa jamaah di masjid.

Nah segitu dulu deh unek unek ku memasuki Bulan Ramadhan.
Menurut sidang Istbat pemerintah tadi insyaallah Ramadhan jatuh tanggal 1 Ramadhan ya #eh 3 April 2022, hari Ahad Insyaallah.

Mohon Maaf Lahir Bathin ya semua, 
Semoga bisa memasuki bulan ramadhan dengan hati yang lebih khusyu, dan jiwa yang makin ingin mendekat sama Allah

Hajah Sofyamarwa Rachmawati
1 April 2022

#PejuangRamadan #30DWCJilid36

Monday, June 13, 2016

Mengaji dengan Niat Melakukan Amalan Terbaik

Banyak sekali yang ingin kutulis, tapi.. ah.. mari memulainya dari sesuatu yang mungkin bermanfaat :)

* * *

Sungguh malam ini hatiku bahagia sekali setelah duduk mengaji walau aku sangat lelah. Mengaji itu pupuknya hati dan akal, ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan iman kita di era hebat ma’siyat ini.” - Ust. M Arifin Ilham

Sebuah kutipan singkat dari salah seorang kakak sealmamater yang orangnya lucu tapi sangat meaningful. Entahlah, saya juga jarang berinteraksi dengan beliau lagi, tapi saya masih bisa merasakan kedalaman makna yang beliau pancarkan lewat tulisan tulisannya.

Ramadhan sudah hari ke-delapan. Begitu cepat, sungguh, bahkan sampai saya tak sempat menulis sepatah dua patah kalimat sambutan di blog berdebu ini.

Ramadhan kali ini, Allah karuniakan pada kami anggota keluarga baru. Haidar sudah 9 bulan saja, tak terasa. Amanah sebagai seorang istri, serta ibu, menjadi tantangan tersendiri bagi saya pribadi.

Kelompok halaqah kami punya target harian di bulan ramadhan ini. 2 kali khatam, berarti persebarannya 2 juz perharinya. Tantangan tersendiri, apakah saya bisa mencapainya dengan amanah saat ini ?

Seharuanya bisa. Tak lebih dari 3 jam seharusnya. Tapi saat ini jujur saya masih belepotan mengatur pekerjaan domestik rumah tangga. Hehe. Dan salah satu godaan lain adalah mengurusi online shop hehe.

Ah seharusnya tetap bisa. Banyak yang sudah bisa membuktikannya.

***

Namun perbincangan dengan paksuami, dan diskusi ringan di grup watsap halaqah kami membahas tentang amalan yang terbaik (ahsanu amala), Bukan amalan terbanyak. Bisa dilihat pada surat al-Mulk ayat 2, surat yang sejak 3 bulan lalu saya masih stuck menghapal disini :"" *parah*

"...Supaya Dia mengujimu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya..." (TQS AL-Mulk 67:2)

Menurut Muhammad bin ajlan dari kutipan dalam buku tafsir ibnu katsir, "Yang paling baik amalnya. Dan allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya."

Sejak dulu saya juga punya targetan tertentu yang dikejar, misal dulu hanya 1 juz perhari saja. Namun seiring berjalannya waktu dan pemahaman, target penting untuk standar diri kita pribadi, namun kualitas harus dipikirkan juga.

Kalau kita mau setiap ramadhan selalu lebih baik dengan "hanya" meningkatkan kuantitas tilawah kita, mungkin 30 tahun lagi, target kita 30 juz perhari alias 30 kali khatam?
Untuk apa? Tak diijinkan karena memang pasti kita akan melalaikan kewajiban kewajiban lain. Islam mengajarkan keseimbangan.

Membaca tanpa memahami, kira kira apa dampaknya untuk kehidupan kita?

***
Saya pribadi masih banyak peer.
Bacaan masih harus diperbaiki
Hafalan masih belum komitmen.
Pemahaman quran juga masih sangat minim.

Semoga kita bisa meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita dengan shaum, meningkatkan pemahaman dan kecintaan kita terhadap quran di bulan ramadhan. (Seperti yang ust. Nouman ali khan sebutkan dalam status fb nya)

Sabtu 18 juni 2016
Diselesaikan pada ramadhan hari ke 12

Sunday, July 7, 2013

Do'a Berbuka Puasa yang Shahih



Do'a berbuka puasa yang shahih.
Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah.
“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

Dari hadits :
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ… »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca: “Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…” (HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

Tata cara berbuka setelah mendengar adzan:
  1. Membaca basmallah
  2. Berbuka dengan kurma/ air putih
  3. Membaca do'a diatas :)

Jangan lupa, ketika puasa, doa kita diijabah Allah. Perbanyak berdo'a ya, insya Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang yakin pada setiap janji Allah :)

sumber kajian: http://www.konsultasisyariah.com/doa-sahih-berbuka-puasa/
Hak cipta gambar karakter 2 orang : karyajonos@gmail.com
 
:)

cacaica's puppetshow



Puppet show buatan caca yang dibantu ica. Dibuat dari kertas yang digambarin, lem, dan lidi.
Yeay! Kreatif nyaaa :D

#support persiapan sanlat ramadhan KRIMA 1434 :)

Wednesday, July 25, 2012

Jalan-jalan Islam Lewat TV : Omar dan Jazirah Islam di Italia

Bulan Ramadhan ini di waktu sahur ternyata banyak tayangan TV yang asik banget! Kita bisa manfaatin  TV buat sarana belajar Islam, selain jenis-jenis tayangan lainnya. OMAR (Umar Bin Khattab) di channel MNC TV, dan Jazirah Islam di TV7.

Film OMAR
Nonton film Omar, saya jadi inget film serupa yang judulnya The Messenger. Film yang wajib tonton bagi yang ngerasa muslim dan pingin belajar sejarah nabawiyah secara audio-visual (kadang kalo baca buku ada yang males juga soalnya).

Bukan Cuma belajar sejarah sih, tapi dengan tayangan, perasaan penonton jadi lebih terbawa. Semangatnya, keberaniannya, dan situasinya jadi lebih nyata. Memang, saya yang baru pertama lihat film ini merasa bahwa pemainnya mirip semua, jadi susah membedakan hehe. Agak bingung di awalnya, tapi kita bisa tahu lah, mana yang sudah beriman, mana yang masih gengsi. Saran saya sih, ntar kalo ada yang bikin film bagus seperti ini lagi, kemunculan tokohnya dikasih label nama, jadi penonton tau. Hehe

Ada yang punya pilemnya mungkin versi lengkap? Kepingin minta, biar ga kepotong iklan-iklan, dan bisa nonton dari awal hehe :)

JAZIRAH ISLAM
Jazirah islam kali ini membahas tentang negeri Roma, Italia. Yang namanya diabadikan Allah dalam Al-qur'an sebagai surat Ar-ruum. Takjub, bahwa salah satu Negeri besar yang dulu sempat menjadi penguasa (selain Persi), dapat dikuasai oleh bangsa Islam dari Jazirah Arab yang konon disebut Jahiliyah. Sejarah menjelaskan bahwa Peradaban Islam kala itu terbukti kekuatannya, tentu bukan karena kejahiliyahannya (baca buku sirah lagi..).

Jujur saya baru sadar bahwa Roma, itu sempat menjadi saksi sejarah kegemilangan Islam. Saya selama ini tidak benar-benar menyadari hal itu, karena Roma saya identikan dengan Vatikan, makanan pasta super lezat, dan colloseumnya (minim wawasan sekali..)

Pembawa acara mengunjungi sebuah masjid yang katanya masjid terbesar di eropa. Masjid Agung Roma. Ia bilang bahwa suasana ketika masuknya menyiratkan bahwa pembangunan masjid ini didasari dari kecintaan yang luar biasa oleh pembangunnya.

Masjid Agung Roma. (Hendri, A/ardisfamily.com) photo arranged by me :)
Masjid Agung Roma adalah masjid terbesar di Eropa yang dibangun dan dibiayai oleh Raja Faisal dari Saudi Arabia (1994). Inisiatif pembangunan berasal dari Muhammad Hasan dan istrinya Razia Begum – Prince and Princess Of Afghanistan. Tentu ini adalah Masjid Sunni. Luasnya hampir 30.000 meter persegi dan bisa menampung 12.000 orang. Letaknya di Acqua Acetosa area, Monti Paroli, atau Roma.bagian utara. Di pinggiran kota Roma dan bisa dicapai dengan kereta api, taxi atau yang lainnya.

Sumber : Hendri, Ardianto. 2012. Masjid Agung Roma Italia. http://www.ardisfamily.com/2012/07/masjid-agung-roma-italia/ diakses pada 25 Juli 2012

Wah , jadi kepingin jalan-jalan beneraan, ga cuma lewat TV ajaa :)
Aamiin, insyaallah :)

Tuesday, May 22, 2012

let us reach the month of ramadhan #pict

Oh Allah, let us reach the month of Ramadhan..

"Ya Allah, berkahi kami di bulan rajab dan Sya'ban, 
dan sampaikanlah kami ke dalam bulan Ramadhan.."
:)

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...