Showing posts with label love kids. Show all posts
Showing posts with label love kids. Show all posts

Thursday, January 8, 2015

Anak yang Belajar Diterima dengan Baik

Aku langsung menepi dan menghentikan laju motorku. Mengetik di memo, membuat lintasan pikiranku tak lenyap begitu saja. Berpikiran kekinian untuk harus mengapdet di status (-,-'). 😅

4 bocah polos di tengah rintik gerimis ini yang membuat hati ini bergejolak. Bukan apa apa, mereka hanya membagikan selebaran pamflet kreditan motor yang promo di bulan desember (eh sudah lewat?). Tak berniat beli motor (belum), terkadang malas juga ambil selebaran yang tak kita butuhkan. Di gang perbatasan santosa asih - margahayu ini sebetulnya aku tinggal lewat, tapa perlu menghiraukan mereka. Ah tapi pikiranku mengutusku untuk berhenti, memberi senyum dan menerima selebaran yang mereka berika. Kau tahu? Ah begitu senangnya melihat tiba tiba senyumannya mengembang!
Ya allah, aku senang sekali!

Aku hanya berharap, satu hal kecil-tak-berarti yang kulakukan ini memberi mereka pengalaman rasa 'diterima dengan baik', meningkatkan rasa percaya diri nya, dan lebih bersemangat.

Bahagia itu sederhana.
Maaf lebay, insyaallah berusaha jujur.

3 Januari 2014,
Jok motor di tepi jalan.

* * * *

Tuesday, October 21, 2014

Pembiasaan Disiplin dari Kecil, dari Hal Kecil : Simpan Sepatu



Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan
--Aristotle

Ruang kelas hasil perpaduan bambu dan kayu itu  begitu sederhana. Tak ada pintu untuk masuk yang menutupi, namun sebelum masuk, siapapun dipersilakan membuka alas kaki dan menyimpannya di  sebuah rak penyimpanan sepatu di sebelah kiri tangga.

Bukan sebuah hal besar, tapi begitu membekas di hati. Setiap anak dibiasakan untuk selalu menyimpan alas kakinya di rak. Barangsiapa yang lupa. Bersiap diteriaki oleh murid yang piket atau yang sedang rajin sweeping sepatu. Setiap anak punya hak untuk diingatkan terlebih dahulu. Tak ada bedanya guru maupun murid, semua punya hak dan kewajiban yang sama.


“Heeey ini sepatu siapaa? Mau di simpen atau mau dibuang ajaa?”


Dan setelah itu anak-anak berhamburan menyimpan sepatu sandalnya masing masing dengan riang gembira! Kebiasaan itu pasti tidak muncul serta merta, perlu pengondisian dan kekonsistenan dari seluruh elemen yang terkait. Dalam hal ini guru kelasnya di sekolah, dan terutama di rumahnya.

Dari sana anak belajar untuk disiplin, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Teratur dan disiplin yang dijadikan kebiasaan akan menuntun kita pada kebiasaan baik yang sangat berguna di masa depannya. Saking pentingnya sebuah keteraturan, sampai seorang penyair Pope menyatakan bahwa keteraturan adalah hukum surga pertama. Dan tahu kan apa yang lebih utama? Amalan yang dicintai Allah adalah yang iqtiqamah (konsisten) walaupun kecil.

Kalau sudah punya pandangan tentang akhiran yang baik, maka prosesnya juga mesti baik, maka otomatis cara mengingatkannya pun harus dengan baik, betul kan? :)

Maka perhatikan hal kecil, biasakan disiplin sejak kecil, dari hal-hal kecil yang seringnya kita abaikan :)


Bandung, 21 Oktober 2014
Hajah Sofyamarwa R.
Pernah sebentar jadi guru

*Special Thanks To Bu Arti, mantan “Partner in Crime” saya di SD 2 dulu yang sudah menyetting suasana semacam itu :D


=========================================================================
Serial tulisan #SekolahAlam ini saya buat sebagai salah satu wujud syukur dan terimakasih atas pembelajaran yang saya dapatkan waktu saya mendapat kesempatan menjadi guru kelas (fasilitator) di Sekolah Alam Bandung. Dulu tak sempat, sekarang punya waktu lebih luang, sayang sekali kalau tidak dibagikan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk para pendidik, calon orangtua dan siapapun yang berdekatan dengan anak-anak :)

Friday, October 3, 2014

Alarm Anti-Males Sholat

Namanya manusia ada kalanya merasa capek, lelah, atau malas sehingga jadi menunda waktu shalat. Itu wajar, tapi ya teteup, harus diantisipasi.

Belakangan ini saya mulai punya alarm-anti males sholat. Namanya icha, ponakan saya (kelas 2 Sd) Hehe. icha lagi sering-seringnya ngingetin shalat, walaupun malesnya juga suka muncul. Pernah suatu waktu, saya sampai di rumah malem-malem habis ngasi privat dan belum shalat, icha ngajakin sholat. Allah Tau banget gitu kayanya saat itu saya lagi males, trus ngingetinnya lewat icha. Hehe

Kenapa bisa begitu?
Note to myself, buat para om dan tante, calon orangtua, kakak, dimanapun kalian berada, buatlah shalat menjadi suatu ajakan yang menyenangkan. Terkadang kita hanya berfokus pada : anak udah umur segitu tapi belum bisa bacaan shalat; atau nyuruh shalat sekedar nyuruh, padahal menurut saya yang terpenting ditanamkan pada anak-anak adalah kesukaannya pada shalat dan pembiasaan untuk melakukannya disiplin tepat waktu.

Kita semua pernah jadi anak anak toh, suka males solat juga, suka boong juga bilangnya udah solat padahal belum, atau suka males kena aer wudu pagi-pagi. Jadi namanya nyuruh anak shalat ngga perlu pake marah marah dulu. Inget pola rasul : sebelum umur 7 pembiasaan, usia 7-10 masa berlatih, 10 sudah harus mantep (makanya kalo anak gamau, boleh dipukul. Asal udh ngelewatin tahap pelatihan nya dulu ya..)

Ngajarin anak shalatnya bagus itu investasi banget. Jangan jaim dan sekedar memberi instruksi satu arah ke anak, mereka perlu tau bahwa kitapun bersedia diingatkan oleh anak anak. Seru deh!

* * * *

Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat, apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk
(HR. Ath thabrani)

Menanam, menjaga dan merawat shalat anak, menolong dirinya dan diri kita di masa depan :)

Ahad, 5 oktober 2014
Happy idul adha :)

Thursday, July 24, 2014

Greatest Love Of All lyrics

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be

Everybody's searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs
A lonely place to be
And so I learned to depend on me

[Chorus:]
I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be

[Chorus]

And if, by chance, that special place
That you've been dreaming of
Leads you to a lonely place
Find your strength in love

***
I would write something about this song, someday
:)

Sunday, July 20, 2014

Menanamkan Aqidah Pada Anak with Abah Ihsan (part 2)

Setelah sebelumnya kita berusaha memahami beberapa alasan kenapa mendidik itu harus pakai ilmu, postingan kali ini mulai masuk ke bahasan utama, yaitu : gimana cara menanamkan aqidah pada anak kita.

Menurut saya, kenapa ini rasanya menjadi lebih berat, karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Teko yang kosong tidak bisa menuangkan isinya pada gelas. Kalau orangtuanya belum baik aqidahnya, mana pantas menuntut anak untuk shaleh?

* * * *

Bismillah..
Rasul bilang : baiti jannati, rumahku surgaku.
Bukan tetanggi jannati (?) bahkan bukan madrasati jannati (?)
Karena semua selalu berawal dari rumah (keluarga) dan akan kembali pada keluarga. Periksalah orang-orang hebat, apakah karena sekolahnya yang hebat? Atau dari rumahnya? biasanya mereka berasal dari keluarga yang hebat dalam pendidikan.
Kata abah, orang israel sudah sejak 1969 punya pendidikan khusus untuk para orangtua. Alhamdulillah di indonesia juga sudah semakin banyak yang sadar akan pentingnya hal ini.

AQIDAH ITU IKATAN..
Aqidah itu ikatan, maka anak kita harus terikat, pada sesuatu yang benar.
Apa yang terikat?
Yang terikat itu hati dan pikirannya.
Terikat pada apa?
Allah. Bukan semata hanya karena takut, tapi karena bahagia, karena sadar. Kita harus kenal dan mengenalkan ini sama anak kita.

Otak sebagai pusat pengendali tubuh, membutuhkan "installan software" yang benar agar seluruh "hardware" tubuh juga berjalan dengan benar.

Dan ini yang bikin saya merinding:
"Kalau bukan kita sebagai orangtua yang menginstall software otak anak kita, maka DEMI ALLAH, akan ada orang lain yang menginstallkan."

*tv, sinetron, internet, games, lagu, fashion, dll*

POLA RASULULLAH MENDIDIK ANAK SHALAT
mari belajar dari SOP Rasulullah dalam mendidik anak shalat. Usia 7 tahun anak sudah mulai disuruh shalat, dan kalau sudah usia 10 tahun belum mau shalat, baru boleh dipukul. Artinya ada masa 3 tahun minimal untuk mendidik anaknya mau shalat.

Sekali lagi, bukan sekedar menyuruh-nyuruh shalat loh yaa. Ajakan untuk shalat harus diiringi dengan rasa cinta kita (orangtua) pada dzat yang hidup kita dalam genggamannya.
Kalau kita belum khatam kisah kisah nabi dan rasul, belum khatam 99 nama-nama allah (asmaul husna), siapa yang mau kita kenalkan?
Lagipula siapa sih yang suka disuruh-suruh?

UNSUR PENTING UTAMA DALAM AQIDAH
1. Jaga pikiran anak
JAGA RASA KEINGINTAHUAN ANAK. ketika kita sedang capek sekalipun, jangan pernah mematikan rasa ingin tahu mereka, tumbuhkan dengan baik sikap penasaran anak.

Gimana caranya?
Budayakan berdialog, DUA ARAH. namanya dialog, yang bicara kan ngga hanya 1 pihak. Ajak anak bicara, biarkan mereka mengekspresikan rasa penasarannya.
Metode paling rendah dalam pendidikan adalah : memberi tahu langsung jawabannya pada anak. Seharusnya kita memfasilitasi anak untuk dapat menemukan jawabannya, proses penemuan adalah hal yang penting untuk perkembangan pikiran anak.

Contoh
"Ayah/bunda, kenapa sih itu bisa kaya gitu?"
(Ceritanya Kalo lagi sibuk)
Jawaban kurang oke : jawab seenaknya, ngasal, bohong, nyuruh anak diem.
Jawaban lumayan oke : kakak pengen tau ya? Bunda belum bisa jawab sekarang sayang, sedang ada yang bunda kerjakan. Kalau bunda jawab setelah ini, boleh ya? :)
Atau : (kalo ngga tau) wah bunda belum tahu jawabannya, tapi akan bunda bantu carikan jawabannya setelah urusan bunda selesai. Kakak mau bersabar sebentar, ya?

2. Kenalkan pada Allah
Mungkin banyak dari kita mengetahui teori teori ilmu aqidah. Dipelajari, tapi dalam prakteknya entah bagaimna mengaplikasikannya. Selama ini kita seringnya diajarkan keterampilan beragama, bukan keyakinan. Sehingga kita hanya bisa shalat, tapi belum mencintai shalat. Sehingga kita hanya tau teori, tapi tak nampak dalam kehidupan sehari-hari.

Perbanyak pengetahuan kita ttg Allah, maknai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak membaca, terus belajar. Tidak mudah, tapi berusahalah.

Karena bagaimana bisa mengenalkan sesuatu yang kita sendiri tidak kenal?

Dua hal yang menjadi objek ketakjuban anak-anak
1. Tentang Diri mereka sendiri
2.Tentang alam semesta

Suburkan rasa keingintahuan mereka.

* * * *

Abah ihsan kemudian menyuruh kami berpasang pasangan untuk saling bersalaman dan mengucapkan komitmen diri untuk terus belajar. Saat itu partner saya seorang ibu muda, mba tiktik. Saling berangkulan, sibuk dengan pikiran masing masing pada sebuah amanah yang cepat atau lambat akan segera datang.

* * * *

Ahad, 20 juli 2014 02:49
Hajah Sofyamarwa Rachmawati,
A daughter, future wife, future mother, insyaallah :)

*peserta dapat hardcopy handout, kontennya bagus juga. Bagi yang mau, mangga kontak saya ya, nanti bisa dkirim via whatsapp. Lagi ngga bisa upload gambar disini hehe :)

Menanamkan Aqidah Pada Anak with Abah Ihsan (part 1)

Alhamdulillah bersyukuur banget akhirnya allah ngasi saya kesempatan untuk bisa ketemu sama Abah Ihsan (auladi parenting school). Sbelumnya saya dikenalkan oleh seorang teman pada beliau melalui bukunya "Renungan dahsyat untuk orang tua".

Kajian parenting ini mantep buaanget! Karena selain pembicaranya oke pisan, acara ini juga haratis :')) *terharu hehe* kata abah, ini edisi ramadhan, lagi soleh. Hehe. haturnuhun pisan buat panitianya (IIP dan pemudi persis)

Yang paling bikin asik adalah, ternyata abah ihsan itu ekspresif buanget! :D Penyampaiannya kocak dan gampang dicerna.  Jadi sepanjang acara teh, kita pada ketawa ketawa yang bermakna tea #halah

Beliau orangnya open banget bahkan ngizinin kita untuk konsultasi di hari tertentu langsung ke nomer hp ny. Auladi parenting School juga suka ngadain Pelatihan, barangkali pada tertarik ikut :) klik auladi.net

* * * *

"Menanamkan aqidah pada anak"
Bukan menanamkan ketakutan pada allah.

Pertama-tama, abah ihsan membawa kita pada pemahaman mengenai konsep konsep dasar dalam parenting terlebih dahulu, karena kalau bicara aqidah, kita mesti paham strategi mendidik yang benar dulu.
Katanya beliau senang karena peserta yang hadir ternyata ada juga dari muda mudi yang belum punya anak. (Belum terlambat, mempersiapkan)

KENAPA MENDIDIK MESTI PAKE ILMU
1. Jaman skrg, belajar jadi orangtua itu wajib 'ain

2. Biar ga KUDET!
Anak jaman dulu, kalau pait paitnya orangtua ngga ngedidik, masih SAVE. Kalau sekarang? Ada televisi, games, video klip, iklan, internet, dan macem macem yang ga bisa lepas dari kita.

Kalau diibaratkan ungkapan di jaman sekarang,
"Yang menyenangkan itu baik,
Yang buruk itu relatif."

Jaman dulu, orangtua dan guru disegani banget karena gada sumber informasi lain. Skrg?
Sumber informasi udah banyak, tinggal tanya mbah google, apa sih yang ngga bisa kita tahu?

Jaman dulu, kalau kata ortu bgitu, harua begitu, kalau sekarang anak kan lebih "canggih" dari orangtua kalo ngejawabnya. Hehe

3. Kalo ngga, anak akan jadi KORBAN
Tanpa persiapan ilmu, anak jadi trial, korban warisan.
Kita akan melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman kita (kalo ngga punya ilmunya). Jadi sangat mungkin kita melakukan hal yang sama pada anak kita, sbagaimana kita dulu diperlakukan, sadar atau tidak.

* * * * *
Motivasi itu kaya iman, kadang naik kadang turun, makanya jangan permah berhenti belajar :D
Akan beda ortu/calon ortu yang selalu berusaha belajar dgn yang tidak, walau motivasinya naik turun, insyaallah akan ada perubahan perilaku yang semakin baik.
banyak

Anak itu fitrah nya baik, hampir semua potensi sifat baik ada di anak, tapi akan bergantung gimana orang tuanya mengarahkan dan memupuk subur potensi kebaikan itu.
Buat para calon orangtua, yakinlah, apapun yang terjadi sama anak kita adalah tanggungjawab kita, dan ada pengaruh dari kita.

Ini prinsip bagus
"Kalau anak berbuat baik, kita bicara (puji, apresiasi)
Kalau anak berbuat buruk, kita sedikit bicara, perbanyak tindakan."

Ya, betul. Kadang malah terbalik : yang baik dianggap biasa, kalo buruk dinasehatin sampe berbusa. Sekarang kalau kita lihat anak anak yang "bermasalah" (narkoba dll), yang salah itu siapa? Temennya yang ngajak? Lingkungan hanya pemicu, sebagai orang tua, harus ngebangun pondasi yang kuat di anaknya.

Kebanyakan dari mereka memang punya masalah di keluarganya. Entah terlalu sering diberi nasehat, atau bahkan diacuhkan.
Tapi ternyata kebanyakan diberi nasehat, akan punya efek kurang baik juga. Terkadang isi nasehatnya baik, tapi kalau cara penyampaian atau frekuensinya tidak baik, apa efeknya?
Karena bukankah kita tidak suka nasehat yang berlebihan?

* * * *

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.”

Insyaallah bahasan intinya (aqidah) berlanjut ke posting selanjutnya ya :))

Thursday, May 15, 2014

Tips Anak Membereskan Mainan Sendiri

Sudah hampir 2 bulan saya “belajar” di Sekolah Alam Bandung, banyak banget sebenernya yang ingin diceritakan, dicicil aja ya :D Nah, salah satu capaian untuk anak kelas SD 2 dalam lingkup interaksinya dengan alam adalah : “Tertib membereskan barang setelah digunakan”, alias “abis main, beresin lagi” 

Saya kepikiran share ini karena dua ponakan saya yang SD kelas 1 dan 3 kadang juga suka susah beresin bekas mainannya. Namanya juga anak-anak umur segitu segala dipake, tapi kadang ngga mau beresin. Paling oke kalo setelah make 1 barang, langsung dikembalikan. Yang repot adalah kalau mereka udah bikin rumah kaya kapal pecah, mereka juga males mau beresin karena merasa terlalu banyak.


Gampang gampang susah, asal tahu trik nya, setidaknya akan lebih mudah :)

1. Membersihkan Sampah berserakan.

Metode ini diadaptasi dari Bu arti (parner di kelas yang zzupperr), menggunakan cara-cara mengaitkan “suruhan” dengan matematika.

“Silakan ambil sampah minimal 3!”

Seketika anak-anak berhamburan mencari sampah sampai minimal 3, menunjukkan pada ibu guru, dan membuangnya.
Anak-anak jadi semangat karena ada targetan yang bisa dikejar, dan kelihatan mudah dicapai. Yang anaknya masih males banget? Ambil 1 sampah, sobek-sobek sampe 20 ._.


2. Membereskan Barang yang Sudah digunakan

Ini baru aja kepikiran tadi ketika icha sama sekali ngga mau beresin bekas mainannya, kakak caca lebih bisa kompromi. Marah-marah cuma ngabisin energi, ngga bagus buat anaknya dan anaknya juga malah nangis (tetep ngga beres). Langkah ke nol adalah minta maaf dulu kalo tadi sempet marah, tanyain alasannya, dengarkan.

Yang pertama, secara psikologis dia ngerasa berat kalo harus beresin semua, bilang kita akan bantu.
Kedua, walau kita bantu, dia harus tetap tau kalau barang yang kita bereskan adalah tetap tanggung jawab dia, jadi tetap tanamkan hal itu.
Ketiga, gunakan pengkaitan dengan hal lain missal matematika lagi (hehe).

“Ini baju yang tadi ica pake kan, bukan sama tante fya, tapi tante fya bantu. 1! Ini kain dipake kakak tadi, bukan tante fya yang pake, tapi tante fya bantu. Tante fya udah 2 niihh. (ambil barang lain) 3! 4! 5! Kakak udah berapa?? Dst.”

Setelah itu, anak-anak akan ikut menghitung dan ikut mengambil barang untuk dibereskan. :D
Dengan suasana kompetisi yang seru, hampir setiap orang akan suka (walaupun saya ngga ngejanjiin kado ._. hehe )

* * * * *
Belum banyak sih buku parenting yang saya baca, kalau ada yang kurang pas tolong dikabari ya. Saya share karena cara ini sudah saya buktikan berhasil.



Syang Anak, Sayang Anak!

:)

Kamar, 15 Mei 2014
Hajah Sofyamarwa R.

Monday, April 21, 2014

Kucing Sekolah : Lexon dan Foru

Saya ngga pernah nyangka bahwa suatu ketika saya akan menulis sesuatu tentang kucing. Pada dasarnya, sebelum ini, di mata saya tidak ada yang sebegitu spesial di diri kucing. Ngga suka-suka banget, juga ngga benci, biasa aja datar.

Pengalaman dengan kucing yang saya masih inget dari dulu sampe sekarang adalah, waktu masih balita tanganku pernah dicakar kucing pas lagi mandi. Setelah itu ngga ada kenangan manis apapun sama kucing manapun. #pundung hehe.

Llatarbelakang saya nulis ini karena terkenang sejarah perkucingan dalam hidup *halah*. Saat ini saya berada di lingkungan sekolah yang anak-anaknya doyan banget sama kucing. Rada flashback dulu pas jaman kuliah yaa hehe :D

* * * *

KUCING SITH ITB

Anehnya, semasa kuliah (khususnya di akhir-akhir), Allah menakdirkan saya bertemu dan dekat dengan teman-teman yang gila kucing --sebut saja Chamar dan Ira-- hehe. Saya ngga paham lagi, mereka kalo lagi ngomongin kucing itu udah kaya ngomongin manusia, pake perasaan. Saya yang gapcing *gagap kucing* ini cuma bisa ngedengerin sambil mencoba memahami sisi psikologi kekucingan kucing yang mereka bahas (?). 

Chamar melihara kucing di rumahnya, saya sampe lupa namanya siapa aja (mbul, igo?) karena suka ketuker sama nama adeknya dia hehe. Bahkan chamar pernah cerita kalo ibunya sendiri pernah ketuker manggil nama anak laki-lakinya sama kucing *gubrag hihi*. Seingetku sih chamar yang paling suka nyeritain psikologi kucing. Dan tau kan kalian gimana perasaan saya yang menganggap semua kucing itu sama saja? Hihi..

Ira yang gila kucing juga paham banget sosiologi per-kucing-an di SITH. Bahas sissy (nama kucing), kelakuan sissy, anaknya sissy yang baru lahir, anaknya sissy yang badannya kecil (teteh), anaknya sissy yang ganteng (gigan), pacarnya sissy yang baru, dll. Maap-maap ya kalo salah, jangankan silsilah dinasti kucing, selama 4 tahun kuliah di SITH, saya baru bisa bedain kucing-kuicng yang ada di tingkat akhir #thanks ra, cham :") hehe.

Di masa-masa TA, justru kami dipersatukan dalam bahtera kosan bersama (plus syifa, aku belum tau gimana perasaannya dia sama kucing). Jadi coba bayangkan, orang tiis kucing macem saya ini harus bisa memahami dengan baik, kisah-kisah perkucingan yang mereka ceritakan.

Saya percaya semua sudah ditakdirkan sama Allah, ngga ada yang sia sia. Yang selanjutnya dibahas adalah kucing di sekolah alam tempat saat ini saya ngajar :)

* * * *

KUCING SEKOLAH ALAM

Tadaa!

\

Yap, yang menarik dari anak-anak adalah tingkat kuriositas dan antusiasme mereka terhadap berbagai macam hal yang ada di sekitar mereka. Rasanya hampir semua anak di SD 2 (kelas lain juga) sayang sama kucing di atas. Perkenalkan, namanya Lexon, anak-anak memanggilnya Leksen. Katanya sih mereka yang ngasih namanya, entahlah inspirasi dari mana nama itu hehe.  

Karena sistem belajar kami lesehan (makan di lantai), lucunya setiap Leksen mendekat, petugas piket hari itu harus mengusirnya, rariweuh weh hehe. Kadang pake sapu lah disodok-sodok, atau di dorong-dorong (kasian juga ._.). Kalau ada kucing pas lagi buka kelas, repot deh. Gurunya dicuekin, kucingnya dioper-operin -_-, smuanya lebih perhatian sama si kucing. hihi. 

Leksen ini baru aja melahirkan. aduh, walaupun saya gapcing, akhirnya seneng juga ngeliatin suasana ini :')

Lexon dan 2 anaknya kyaa kyaa :')

Nah kalo yang ini, namanya Foru. asal-usul namanya saya juga belum tau. Beda karakter sama lexon, foru ini rada mager-an kucingnya. Tiis-tiis ngantuk gitu hehe. Karena saya belum ngerti psikologi kucing, mungkin kapan-kapan mesti ngajak ira dan chamar buat observasi *yaelaah*


Sebenarnya masih ada 2 kucing kecil lagi, namanya Lucy dan Alexandria (alexa) *buset dahh kece buanget namanyaa*, tapi belum sempet moto dan kayanya udah ada kakak kelas mereka yang ngambil buat dipiara di rumah.

Ada 1 anak yang seriiing banget nanyain keberadaan kucing-kucing itu pas lagi ngga ada, karena saya bingung jawabnya apa, saya sering banget bilang "iya ya, kemana ya, kayanya lagi jalan-jalan deehh :D" (hehe abis bingung -_-)

* * * *

DIbalik semua pengalaman saya sama kucing dan anak-anak, malah saya yang jadi belajar buat sayang sama binatang. Anak-anak itu pada dasarnya sayang sama binatang, hanya kadang kurang tepat pengekspresiannya, yang menyebabkan si binatang malah tersakiti. Kalau mau ngajarin anak-anak buat sayang binatang, kita harus nyontohin dong ya, ngga cuma ngomong teori aja? :)


Kamar, 
21 April 2014
Selamat Hari Kartini !

Wednesday, April 9, 2014

proker : nonton film kartun!


Ceritanya hari gini lagi booming Frozen. Sebelumnya saya ngga merasa menonton frozen adalah suatu keharusan. Lagunya di nyanyikan dalam banyak bahasa, booming, semua nonton. Tapi saat itu saya belum ngerasa perlu-perlu amat nonton. Saya sendiri doyan kok nonton kartun ato Barbie, macem-macem, tapi ya kalau belum kahatean *halah* ya ngga maksain nonton. 

Sampai ketika membersamai anak-anak SD2 di Sekolah Alam, akhirnya saya merasa bahwa menonton banyak film kartun adalah suatu keharusan! Hihi, ya, mereka banyak bercerita tentang film kartun –yang bahkan judulnya aja aku ngga pernah tau--. Belajar menjadi seorang pendidik harus mengerti dunia mereka. Saat mereka bercerita pada kita, pasti menurut meraka itu hal yang penting, maka sebagai pendengar, tentu harus menghadirkan hati saat mendengarkan mereka, benar-benar ikut merasakan bahwa hal itu benar-benar penting. Karena percayalah, selain mendengar, anak-anak harus belajar untuk didengar agar timbul kepercayaan dirinya.

Jadilah malam itu ngubek-ngubek film di laptop, akhirnya nemu Happy Feet! Yah, ngga apa-apa, nyicil dulu aja nonton film kartunnya. Hihi. Akhirnya frozennya nonton juga kok hehe

Dasar saya kudet, sinopsis Happy Feet aja ngga tau -_- Ngga pake gugling dulu itu cerita film nya kaya apa, yang penting konsentrasi di awal-awal nonton. Finally, filmnya bagus syekaliii :D :D Sarat makna :’)

Everything in this world
No mater how big
No matter how Small
Is connected in way we never accepted
--Happy Feet


Kamar,  9 April 2014
Habis nyoblos pileg, kepingin nulis hehe
  
image source : http://miconyau.wordpress.com/2010/10/23/happy-feet/

Tuesday, July 23, 2013

Caca's Giraffe-doll makeover!



Ini yang pernah bikin caca ngga mau tidur sampe jam 1 malem.
Katanya mau bikin baju berbie.

Caca  (C): Tante Fya, mau bikin baju berbie
Saya (S) : Baju berbie buat apa?
C : Ya buat berbie. 
S : Sok atuh, berbie nya mana?
C : Ngga ada
S : Loh nanti ga sesuai ukurannya.
C : Ya udah atuh buat ini aja (boneka jerapah)
S : Haah??
C : Iya benerrr.  Kan bisa dijual.
S : Katanya mau bikin baju berbie. Ya nanti ukuran baju jerapah nya beda sama yang punya temen caca
C : Iya udah gapapaa.
S : *Diem* Yaudah hayu..

Kreatifnyaaaaaa!! :D :D

Sunday, July 7, 2013

cacaica's puppetshow



Puppet show buatan caca yang dibantu ica. Dibuat dari kertas yang digambarin, lem, dan lidi.
Yeay! Kreatif nyaaa :D

#support persiapan sanlat ramadhan KRIMA 1434 :)

Wednesday, April 24, 2013

kids wear hijab : nisa in action!




Suatu malam di bulan april, iseng-iseng makein kerudung ke 2 keponakan. 
Ceritanya eksperimen hijab-hijab-an (tantenya belum, ponakannya dulu aja yang didandanin hehe :p). 
Waloupun outfitnya belum pas (baju tidur little mermaid lengan pendek hehe), 
tapi kerudungnya udah oke kan ya? hehe
Nah model yang paling oke ya nisa ini karena si caca mah mau fotonya sambil ganggu2 aja hehe. 
(liat yang nongol dari gorden -_-)
aaaaa lucuuu :3

Emang anak kecil harus diusahain dibiasain pake kerudung ya dari kecil.
Supaya ntar pas udah gede, pas emang udah wajib, jadinya ga kaget.

Sunday, March 24, 2013

bukan pencuri mimpi : caca's bussiness project


Asiknya menjadi anak-anak, adalah bahwa kita belum tau banyak hal yang membuat kita ragu akan apapun. Yeah, begitulah anak-anak, pikirannya masih bebas.

Malam ini chacha tidur di rumah sini. Dia bikin kerajinan dari HVS. Memakai peralatan seadanya (gunting, lem, spidol merah dan pita saya), dia buat pembatas buku, label buku tulis dan hiasan gantung. Dengan bangga chacha bilang nanti mau buat dijual :D

Mungkin sang pencuri mimpi akan bilang : siapa yang mau beli ?

Dalam kondisi "waras" mungkin kita ngga akan jadi pencuri mimpi. Tapi kalau lagi kurang "waras" mungkin kita hanya menganggap kerjaan mereka sebagai suatu hal yang tidak ada artinya. 

Aku ngga mau jadi pencuri mimpi, walaupun emang itu cuma dari HVS di gambarin (namanya juga anak-anak), tapi dari situlah anak-anak belajar bermimpi, belajar berani dan percaya diri dengan hal-hal yang dia miliki.

:) cupmuah :)

Thursday, October 18, 2012

Kids, they're talking in english!


Masih di angkot yang sama, di kursi kerasku.
Dua kakak beradik laki-laki tak henti-hentinya berbicara dengan ibunya. Mungkin usia sang kakak sekitar 4 tahun, dan sang adik 3 tahunan.
Tak ada yang spesial sampai telingaku benar-benar terpasang  (baca=kepo) mendengarkan apa yang mereka katakan.

They're talking in english!

Dari tipe wajah kulihat mereka asli Indonesia, sempat terpikir betapa hebatnya sejak kecil anaknya sudah dibiasakan berbicara dalam bahasa Inggris. Lalu jadi membayangkan akan seperti apa kelak membesarkan anak-anak. Eerr.. kembali ke topik.

Aku bisa aja terus diam, tapi aku akhirnya milih untuk menyapa sang ibu. Yah sangat penasaran dan jadi nekat aja. Sempat terpikir untuk memulainya dalam bahasa Inggris, tapi ngga jadi hehe.
"Bu, anak-anak sehari-harinya pakai bahasa Inggris ya bu?"

Kira-kira seperti itulah aku memulai pembicaraan. Setelah beberapa diskusi, ternyata keluarga mereka sudah dua tahun di Inggris (di daerah apa tuh ya namanya lupa). Suaminya meneruskan kuliah di sana dan saat ini mereka sedang berlibur. Katanya kedua anak mereka jadi lupa sama bahasa Indonesia karena sehari-hari di Inggris pasti pakai bahasa Inggris.

Sang ibu malah jadi keasyikan cerita. Katanya dua anak mereka itu suka sama mosque alias masjid, paling suka kalau main disana. Tapi bedanya, di masjid sana anak usia dibawah 7 tahun ngga diperbolehkan masuk, jadi nggak ada ceritanya anak lari-larian di masjid. Katanya, batas tempat shalat perempuan dan laki-laki sangat ketat, jadi benar-benar ngga bisa saling ketemu. Selain itu katanya bulan ramadhan kemarin, semakin mendekati idul fitri, masjid semakin ramai (agak sedikit beda dengan di sini katanya, bener?).

Lalu aku penasaran, nantinya anak mereka kalau sekolah di Indonesia gimana. Ternyata mereka memang lagi libur, tapi bolos seminggu disini. Yang menarik, untuk anak diatas 5 tahun, kalau bolos sekolah, harus bayar 50 pound per orang yang membawa pergi sang anak. Semacam harus tanggung jawab karena membuat sang anak ketinggalan pelajaran. Aneh juga, keren pisan. Baru denger yang semacam ini.

Singkat cerita, mereka turun di kiara condong kemudian pamit.
Satu satunya kata dalam bahasa Inggris yang kuucapkan pada mereka adalah,
Bye bye!
:p

Thursday, August 9, 2012

Anak Luar Biasa di Sekolah Luar Biasa


Kisah ini tentang cuplikan pengalaman saya berkunjung dan berkenalan dengan adik-adik di SLB (Sekolah Luar Biasa) Bina Kasih Ciwastra.

Salah satu kegiatan sosial dalam rangkaian acara Ramadhan Festival KRIMA 1433 H adalah buka bersama anak-anak sanlat dengan teman-teman dari SLB Bina Kasih. Karena izin Allah (entah saya tumbal atau bagaimana hehe) saya diminta jadi MC.

Apa??
Saya sadar diri bahwa saya belum kompeten jadi MC semacam itu, apalagi membawakan acara dengan anak-anak dari SLB yang bahkan saya belum pernah berinteraksi. Tentu berkecamuk dalam hati dan pikiran saya, bagaimana saya harus membawakan acara? Jujur saya takut, takut menyinggung dan sebagainya.
Tapi oke, saya harus ikut survey ke sekolahnya dulu sebelum hari H nanti (tanggal 5 Agustus 2012). Paling tidak, tahu medan perang.

24 Juli 2012.
Ini yang saya syukuri, rencana Allah memang indah. Kali pertama survey sekolah tutup dan kami semua pulang. Kali kedua survey, alhamdulillah sekolah ada kegiatan, pesantren kilat juga dalam 1 kelas besar.

Bangunan itu terletak di tikungan jalan. Ukurannya kecil, tak seberapa luas kalau disebut sekolah. Tampaknya tiap sudut ruangan dipergunakan secara maksimal untuk kelas-kelas,  kantor, serta kamar mandi. Rombongan kami diterima di bagian kantor, setelah berbincang beberapa saat, alhamdulillah kami diijinkan melihat langsung (bahkan terlibat) di dalam kelas mereka.

SLB Bina Kasih menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. SLB BC istilahnya, untuk menangani anak Tuna Rungu (tidak bisa dengar) dan anak Tuna Grahita.
Cess!
Saya tak tahu rasa apa yang menjalar. Kebanyakan dari mereka, psikologis nya memang lebih rendah dari usianya. Kalau kata pak gurunya, IQ nya rendah di bawah orang normal. Yang membuat saya tidak habis pikir juga, ada yang berusia 40 tahunan, dan masih belajar bersama disana, karena kecerdasannya rendah dan usia mentalnya yang masih kecil.
 Tapi jangan salah, banyak hal yang mereka bisa lakukan juga. Angklung, pantomim, bacaan shalat, hapalan surat, menari, baca puisi, dan hal-hal lainnya.

Yak, salah satu teman saya yang paling heboh bahkan keluar ruangan kelas, menangis dan butuh waktu lama untuk kembali ke dalam. Touching

Mengikis itu semua saya hanya berusaha mengajak main salah satu anak yang sedang asik menggambar. Saya sih SKSD aja, emang seneng ngegodain anak kecil hehe. Kebanyakan dari mereka sifatnya malu-malu, memang kitanya yang harus aktif mendekati. Tapi mereka senang dapat banyak kunjungan.

Kami akhirkan, setelah sebelumnya melihat latihan performance mereka dengan angklung dan lagu-lagunya. Kamipun berbincang dengan salah satu Ibu pembinanya. Dari situ saya tahu bahwa SLB ini memang diperuntukkan untuk kalangan menengah ke bawah. Rata-rata orangtua murid tidak bayar iuran, hanya infaq, itupun seadanya. Dana operasional sekolah hanya dari BOS. Gaji guru pun  kebanyakan memang pakai keikhlasan  saja. Ya itu yah, kalo sudah sayang dibungkus ikhlas, rasanya upah bukan yang utama.

* * * *
5 Agustus 2012
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, sejujurnya agak hectic karena banyak yang miss dari persiapan acara, tapi alhamdulillah lancar, walau para MC sangat garing (-_-) hehe. Partner saya tiba-tiba batal, shock saya kalo harus sendirian. tapi ga apa apa, alhamdulillah ada yang mau nemenin, makasih banget dah!

Sambil jadi MC saya ngobrol dengan salah satu alumni SLB yang sekarang berkuliah, tingkat 3. Sosoknya terlihat normal, tapi memang ada sesuatu yang membuat beliau harus bersekolah di SLB. Yang dihadapi beliau ini, motorik nya bermasalah dan dulu katanya sangat susah berhitung, tapi kalau hapalan bisa. Beliau sayang sekali sama adik-adiknya di SLB. Ada pesan, katanya bagus ada acara seperti ini, dan remaja remaja nya aktif, harus dipertahankan jangan sampai berhenti! Insyaallah kang!

Terimakasih inspirasinya :)

kita kadang merasa bahwa masalah kita adalah yang paling berat, paling membebani pikiran. padahal, setidaknya kita harus bersyukur karena punya usia mental yang sesuai dengan usia fisik kita saat ini.
suasana latihan di sekolah SLB Bina kasih. yang jaket merah botak di belakang bukan ya, dia anak KRIMA hehe (Sudrajat, 2012)

Wednesday, August 1, 2012

Antusias Mukena Strawberry Shortcake

"Satu hal yang harus saya lakukan saat kelak punya anak perempuan (aamiin nsyaallah) adalah membelikan sebuah mukena yang paling lucu, disukai dan dipilih sendiri sama anak saya!"
Sekarang saya 20 tahun, sedang dikelilingi 3 bocah superlucu-nyebelin-ngegemesin, keponakan saya. Caca (2 SD), Ica (TK B), Nisa (3 taunan). Waktu dulu ngga punya mukena, seringnya mereka beralasan ngga mau solat. Kadang kalo di rumah mukena anak-anaknya Cuma ada satu, pasti berantem dulu sampe bikin panas kepala.

Caca sama ica sekarang udah punya mukena baru, dibeliin mamanya. Mukenanya gambar Strawberry Shortcake, punya Caca warna pink dan punya Ica warna ungu (nisa belum dibeliin, masi pake punya saya yang warna pink kadang-kadang, soalnya dia mah tergolong masih ikut-ikutan kakaknya). Mukena barunya ini warnanya cukup ngejreng, tapi terbukti emang bikin semangat.

Kalo disuruh solat, pasti minta ditungguin, terus semangat lari ke rumahnya (di depan) buat ngambil mukena plus sajadah mininya.

Alhamdulillah mereka semangat. Saya juga jadi rada kebayang tips-tips buat nantinya ngajakin anak kecil rajin solat. Soalnya dulu waktu kecil juga saya males solat kayanya hehe.
:)

Kamar, 28 Juli 2012
01:52

bersabar dengan anak kecil itu..

Halo! Saya kembali hadir dengan tulisan yang terinspirasi dari 3 bocah super di rumah saya. Gimana ngga pikiran saya tentang ini terus, orang mereka selalu hadir menghantui saya hihi

Sebetulnya dari dulu saya sering denger ungkapan :
"sama anak kecil itu harus sabar."
Karena dulu saya belum ngalamin, saya pikir ungkapan itu biasa-biasa aja, semua orang juga harus dihadapin pake sabar.
Tapi hal yang membuat saya menulis ini juga, mungkin salah satu makna "sabar" yang saya rasakan saat menghadapi anak kecil.

Terkadang ketika anak kecil (maap belum bisa ngomong "anak kita") lagi ngadat dan ngambek ngga jelas, banyak orangtua yang kemudian membentak anaknya. Bukannya si anak jadi diem dan masalah selesai, biasanya si anak malah makin ngambek dan keliatan stress tanpa ada akhir yang menyenangkan.

Beberapa kali saya mencoba hal ini pada keponakan saya. Saya yakin betul bahwa dengan marah, membentak dan mengancam, masalah yang ada ngga akan beres. Dalam artian, mungkin masalahnya selesai saat itu, tapi hubungan kita sama anak itu jadi ngga bagus, mungkin semacam trauma dan "dendam". Saya masih percaya bahwa anak kecil itu bisa diajak kompromi pada tingkat tertentu, sebagaimana orang dewasa.

Yang dimaksud sabar dalam makna saya, adalah benar-benar menanggapi anak dan mencoba mengerti maunya tanpa menunjukkan rasa marah sedikit pun. Tanyakan keinginannya, tanggapi dengan sabar, bujuk, pandangan mata sejajar (ilmu dari nonton nanny 911), beri penghargaan, diarahkan.

Ketika cara ini berhasil, si anak akan jadi lebih respect terhadap kita, dan kita jadi temennya. Lebih enak ko, jamin! Suasana rumah jadi nyenengin tanpa perlu ada teriakan teriakan ancaman.

Yang pasti yang ada dipikiran saya, saya ngga mau bikin itu anak punya trauma tertentu yang akan membekas sampai dia besar.
Yah, disitulah saya memaknai ungkapan "bersabar dengan anak kecil"

:)

Kamar, 28 Juli 2012
02:14

Sunday, June 10, 2012

Terasering

Dalam sebuah les privat, sedang diadakan tes untuk menguji anak-anak

Guru : Bentuk persawahan di tanah yang miring?
Murid A : Huruf depannya, bu!
Guru : T!
Murid B : Huruf terakhirnya, bu!
Guru : ing, belakangnya -ing
Murid A : hmm.. apa ya? Ah aku tau! (menulis di kertas jawabannya)
Haha, itu looh. si tera sering ya! (memberi clue dengan bangga)
Murid B : apa gitu?
Murid A : itu loh, si tera sering ya! (masih dengan bangga memberi clue dengan SANGAT jelas)
Murid B : (diam saja lalu menulis)
Guru : (melihat jawaban anak-anak) Loooh kok retsleting!

********************
Kejadian nyata ulah anak-anak muridnya tante Ana di lembang. Tiap jam 6.30 pagi udah semangat banget dateng buat les. bocah2 kelas 5 SD. hihi senyam senyum saya dengernya dari lantai 2 :)

Thursday, June 7, 2012

Lindungi anak-anak, masa kini, masa depannya..

Entah ini salah siapa. Atau kebingungan mencari siapa yang salah. Lihat gambar di atas saya miris. Mengiyakan, sekaligus refleksi. Belum, saya belum punya anak, adik saya pun sudah sangat besar, tapi saya punya 3 keponakan yang lucu-lucu yang kisaran usianya masih sekitar pra TK, TK, dan kelas 1 SD.

Kalau liat  anak kecil, perempuan, dibajuin macem-macem, didandanin macem-macem kayanya lucu ya. Emang dari sananya anak kecil diciptakan masih sangat lucu, ditambah hasrat doyan main barbie, jadi dipakein pakaian yang lucu-lucu. Warna pink untuk perempuan, dan warna biru untuk laki-laki, rasanya jadi template di pikiran saya.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan itu, dampak positifnya anak jadi punya selera seni, tau warna, tau matching, tau berpakaian pantas. Tentang perilaku mereka juga, terkadang kita orang dewasa menganggap lucu hal-hal aneh yang mereka lakukan. Tarian, goyangan, atau nyanyian aneh-aneh yang sering kita dengar sekarang (dangdut, artis dengan pakaian minim dll) jadi terasa lazim dan lucu kalau anak-anak itu bisa mempraktekkannya. Memang lucu kan?

Tapi jadi ngga lucu kalo inget gambar di atas. Ngga selalu begitu sih alurnya, tetep aja  orangtua punya peran penting untuk membimbing. Tapi bayangkan,  faktor lingkungan saat ini dapat mendorong munculnya alur semacam itu kan?

Contoh kasus, anak SD jaman sekarang sering nonton TV. Mungkin kesukaannya kartun dan beberapa film superhero indonesia (yang wonderwoman, catwoman, betmen, kolor ijo jadi satu itu loh) yang aneh-aneh. Udah mah jalan ceritanya aneh, bajunya juga aneh-aneh. Sehabis itu, ada iklan. Dan iklan-iklan di Indonesia tea juga suka ada yang aneh-aneh, ditambah cuplikan film-film yang pemainnya pake baju kurang bahan. Anak-anak tuh merekam dalam memorinya, dan lama kelamaan meniru. Hasilnya? Lebih suka pake baju terbuka dan gayanya macem-macem. Ckck

Kasus lain, beberapa hari yang lalu saat saya sedang di rumah tante, datang 2 anak murid privat tante saya. Namanya Adul kelas 2 SD, dan Opik kelas 1 SD. Karena tante saya lagi ngga ada, saya suruh aja mereka nunggu sambil baca-baca buku (sayangnya belum lancar baca, jadi ngobrol hehe). Mereka sempet cerita, temennya ada yang nonton film jojorangan (apa jorang2an ya? Lupa). Saya ngga tau ini bahasa apa, (sunda?) tapi dari alur ceritanya, intinya film anonoh lah. Katanya temennya itu liat di Hpnya anak ini. Yang jadi aneh adalah, ni anak cerita seolah-olah mengadukan perilaku temannya, tapi film yang ditonton itu dari HP nya -_-) Serem lah pokonya.
 
Mungkin kasus serupa masih banyak. Yang simpel-simpel kaya ngikutin gaya artis, dan apal banget ama SM*SH ama CHERRYBELE hehe. Chibi chibii (eh kalo ini kadang saya suka ngikutin gayanya buat poto rame-rame hehe)

Semacam itulah. Saya serem aja kalo ngebayanginnya. Maksudnya sekarang kan emang belum ngerasain punya anak dengan segala kesibukannya. Yah semoga ada yang bisa diambil pelajaran buat para calon orangtua.

Ya, lindungi masa kininya, masa depannya..

Hari keempat kerja praktek
Balitsa, 7 Juni 2012
sumber gambar: punten lupa, dari sebuah situs, sempat banyak dishare di salah satu jejaring sosial

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...