TAKJUB
#ODOPfor99days #day24
Ketika oranglain bisa konsisten sampai hari ini, sementara saya tertinggal jauh, sejujurnya sedih. Tapi mungkin kembali lagi ke prioritas kita masing-masing ya. Hal mana yang mau diprioritaskan, hal mana yang mau ditunda dulu. Mudah-mudahan saya masih bisa akselerasi proses menulisnya.
![]() |
| Monthly planner 2016 |
![]() |
| Isi dan cover buku agenda saya dari tahun 2014-2016 |
Lanjutan dari posting saya sebelumnya :)
Apa saya segitu curigaannya sama orang yang muji? Hehe
Latarbelakang penulisan #serialpujian ini karena saya dihadapkan pada sebuah kondisi dimana saya harus terbiasa disanjung, sedangkan saya tak terbiasa dan bingung menyikapinya (hehe._.)
Mungkin ini hanya dimengerti oleh yang sudah punya pasangan (suami/istri), karena saya pribadi memang baru merasakannya setelah menikah. Waktu masih single, ada juga sih yang muji dan bikin idung saya ngapung (halah), tapi tetep aja beda.
Coba deskripsikan bagaimana kondisi fisikmu sehari hari saat DI RUMAH!
*pikirin dulu, bayangin..
*deskripsiin!
Saat kita keluar rumah, hampir pasti sudah dalam keadaan terbaik, maksudnya sudah mandi, pakai baju pergi --yang pastinya lebih bagus dari baju rumah, dandan seminimalnya yang minimalis biar ga kucel. Betul?
Kalau di rumah?
Rambut jabrig acak acakan, baju rumah dasteran rombeng rombeng, muka berminyak kaya gorengan, kalo libur ga ada acara mandi, aroma semerbak mewangi abis dari dapur, dll dsb. Betul?
*ato cuma saya doang? Wkwkwk*
Dan dikondisi seperti itu, suami kita tetep bilang kita cantik. Bisa percaya gak tuh? Hehe
Pertama-tama saya harus bersyukur, diberi anugerah sama Allah berupa suami yang baik. Yang kedua, saya jadi kasian kalo tiap di rumah saya kucel mulu, ya ngga?
Oke sebenernya ga parah banget sih, tapi ya itu, ada kalanya ketika kita lagi males centil centilan di rumah, eh masih aja dibilang cantik.
Si akang jujur, bohong, atau apa sih?
* * * * *
Paling engga, dengan kutipan artikel dari konsultasi syariah ini saya lebih tenang :
“Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan).” (HR. Muslim)
Yang dimaksud berbohong antar-suami istri adalah berbohong dalam rangka menampakkan rasa cinta, menggombal, dengan tujuan untuk melestarikan kasih sayang dan ketenangan keluarga. Seperti memuji istrinya hingga tersanjung, atau menampakkan kesenangan bersamanya sampai pasangannya tersipu malu, dst
“Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.”
(Fathul Bari, 5:300)
* * * * *
Kalo untuk hal ini, kayanya ngga perlu aku nanya "bener gitu aku cantik?" Hihihi terima aja lah ya. Syukuri. Berkata yang tak sesuai kondisi itu berat loh, jadi suami/istri kita itu udah berjuang dengan bilang hal hal yang baik-baik di depan kita. Alhamdulillah. Percaya aja deh hehe :)
Jadi kasian kan kalo suami/istri kita harus berjuang muji yang ga sesuai dengan kondisi aslinya? Yuk, introspeksi :D
Pustaka : http://www.konsultasisyariah.com/bohong-yang-dibolehkan/
Sebuah kabar bahagia lagi dari seorang temanku. Menjadi seorang pengajar di Halmahera Selatan.
Sedikit kilas balik, 2013 lalu setelah lulus kuliah, aku menyampaikan salah satu mimpiku pada salah seorang sahabatku (nisa) untuk menjadi seorang pengajar muda dalam Indonesia Mengajar. Saat itu nisa urung karena belum diperbolehkan oleh orangtuanya. Aku? Merasa akan diperboleh kan saja, padahal berencana ijin mendadak (jitak!). Tahukah? Alhamdulillah nisa justru direstui orangtua nya, dan diterima seleksi Indonesia Mengajar, ditempatkan di Halmahera Selatan. Ya Rabb, begitulah kekuatan sebuah restu orangtua? :"
Hidup masing masing orang sudah ada garisnya, kawan :)
Oh ya, kupikir aku adalah wanita tanpa sejumput mimpi. Ketika temanku diterima kerja di berbagai perusahaan, aku cukup ikut berbahagia. Tapi entah kenapa setiap saat temanku yang lain diterima sebagai pengajar, rasanya aku sangat bergejolak! :'
Bahrelway, good news is a good news!!
Alhamdulillah ikut seneeeeng banget!! :"D siapapun yang kesana, yang terpenting kontribusinya. Dimanapun kita berada, yang terpenting kontribusinya.
Barakallah, setahun mengajar, insyaallah menginspirasi mimpi mimpi mereka, ya :")))
Aamiin :)
Saya jadi tertarik menulis ini karena 3 hal. Pertama, saya hanya ingin merefleksikan bagaimana masa lalu "mendidik" saya terkait pujian. Kedua, saya dihadapkan pada sebuah kondisi dimana saya harus terbiasa disanjung, sedangkan saya tak terbiasa dan bingung menyikapinya (hehe._.) Dan ketiga, saya harus mengerti bagaimana sebuah pujian akan berdampak baik, kaitannya dengan membangun sebuah keluarga.
Maka dari itu, rencananya hal ini akan saya bagi menjadi 3 bagian. (Btw, Manusia hanya bisa berencana hehe)
Saya dibesarkan pada lingkungan yang tak membudayakan pujian atau sanjungan. Apa apa yang sudah baik, yasudah, tapi bila ada sebuah kesalahan, sebutkan. Katanya, seperti itu agar kita tak mudah cepat puas atau sombong, juga supaya kita bisa perbaiki kesalahan kita. Namun, betulkah harus seperti itu ?
Mungkin sindromnya terjadi tak hanya pada lingkungan saya. Saya yakin, begitu banyak orang yang memiliki cara pandang semacam itu. Saya yakin dampak pada setiap individu akan bervariasi, tergantung bagaimana komposisi antara pujian dan koreksi, juga tergantung bagaimana individu tersebut memaknainya.
Sebelum lebih jauh, saya penasaran apa kata KBBI tentang puji, sanjungan dan koreksi
pu·ji n (pernyataan) rasa pengakuan dan penghargaan yg tulus akan kebaikan (keunggulan) sesuatu
san·jung v, me·nyan·jung v melontarkan kata-kata pujian untuk membangkitkan rasa senang; mempersenangkan hati
mengoreksi /me·ngo·rek·si/ v 1 membetulkan (memperbaiki) kesalahan.
****
Karena saya jarang dipuji (atau karena emang ga ada hal yang bisa dipuji? Hehe), saya begitu terbiasa melakukan segala hal dengan biasa biasa saja. Tidak pada semua hal sih. Saya melakukan segala hal sebagaimana yang saya inginkan saja. Kalau maunya segitu, ya segitu, titik. Hehe
Saya pernah baca, kalau untuk anak anak, pujian sangat bagus untuk memotivasi. Puji pada hal spesifik yang memang anak itu baik disitu, fokus pada hal baiknya. Bila konsisten, Dampaknya akan bagus untuk masa depannya, motivasinya untuk menjadi yang terbaik akan besar. Dan memang terbukti, sudah saya coba pada beberapa anak yang saya temui.
Anak yang terlalu sering dikoreksi malah akan takut dalam melangkah. Padahal, masa-masa itu adalah masa yang penting untuk bereksplorasi.
Btw, alhamdulillah, sejauh ini saya ngga terlalu takut pada banyak hal. Yang kurang mungkin, motivasi saya untuk jadi numero uno hehe. Saya ngga mengutuki diri ko, toh selama ini emang menganggap blm perlu perlu amat kaya gitu. Hehe. Saya sendiri memahami kenapa saya seperti itu. Tapi tenang, mungkin nanti akan ada masa nya saya semakin baik, ya! Kan kita semua hidup sambil terus belajar ya? Doakan! :D
Februari 2015
Pola asuh, kebiasaan-kebiasaan, budaya keluarga, pembiasaan-pembiasaan yang dialami setiap orang pasti berbeda, setiap keluarga memiliki kebijakan-kebijakan dan prinsip yang mereka anut. Ada yang memang prinsip nya sudah terpatri dalam jiwa, dan diterjemahkan oleh kehidupan sehari hari. Ada pula yang tak tahu prinsip yang dianut, tapi menjalankannya setiap harinya, itu juga prinsip, hehe.
Alhamdulillah, allah berikan saya kesempatan untuk dapat melihat lebih dalam mengenai hal ini, untuk mempelajari lebih. 22 tahun dibesarkan dalam sebuah keluarga, kini Allah mengajarkanku untuk mengenal sebuah keluarga baru, dengan segala paketan yang tentu saja berbeda dengan paketan keluargaku.
Selalu ada kali pertama untuk segala sesuatu. Maka untuk hal ini, saya juga memahamkan pada diri saya bahwa inilah proses belajar saya. Saya harus belajar beradaptasi. Kaget? Pasti, tentu saja. Jangankan dengan keluarga baru, kalau baru beli kacamata baru aja pasti mata harus beradaptasi dulu. Kalau mau mindahin taneman hasil kuljar dari lab ke tanah lapang juga tanaman harus diaklimatisasi dulu agar bisa bertahan tetap hidup.
Alhamdulillah saya bersyukur, dengan ini, saya jadi punya sudut pandang baru. Saya jadi punya frame baru mengenai "paketan" keluarga saya, dan saya juga belajar dari "paketan" keluarga baru saya. Dari sana, Allah munculkan rasa dalam hati saya, bahwa apapun yang kita alami, hangatkan dengan sabar dan syukur. Ya, kau merasa jadi lebih bersyukur dengan apa yang selama ini kau dapatkan.
Ada kalanya kita mempertanyakan takdir Allah pada kita, mempertanyakan maksud-maksudnya. Tak ada yang salah dengan itu, namun yang perlu kita pahami adalah bahwa tak pernah ada kehendak buruk untuk kita dari Allah. Allah pasti sudah menyiapkan paketan takdir kita dengan sebaik baiknya. Maka, tetap berjuang menjalaninya dan sabar. Karena seringnya, semua baru dapat kita pahami setelah semua kejadian berlalu, ya kan? Waktu akan menjawabnya.
Sama seperti saya, dan mungkin beberapa anak lainnya di berbagai belahan bumi lainnya. Terkadang tak sabar hingga muncul rasa tak bersyukur dalam hati. Kondisi keluarga begini-lah, ortu gue begitu lah, hidup gue begitu-lah, dan segala keluhan lainnya. Padahal akan ada suatu masa, kamu begitu mensyukuri bagaimanapun buruknya kondisimu di masa lampau.
Ada 2 hal yang mungkin bisa lahir dari pengalaman yang-kata-dia-pahit : (1) Perasaan tak terima dan ingin membalas dengan melampiaskannya pada orang lain, atau (2) berupaya menerima, mempelajari lebih, dan berupaya tak melakukannya lagi pada siapapun. Bersyukurlah ketika Allah menanamkan perasaan yang kedua padamu. Rasa pertama diwujudkan seperti perpeloncoan, sedangkan rasa kedua menimbulkan tekad yang kuat dalam diri untuk menjadi lebih baik.
Alhamdulillah,
Alhamdulillah,
Alhamdulillah.
:)
"Emosi adalah elemen penting untuk belajar."
Meski manusia dewasa harus dapat mengendalikan emosi, manusia tetap memerlukan emosi untuk mendorong semangat kerjanya. Emosi adalah elemen penting yang membuat anda ingin mendalami sesuatu. Tengoklah para musisi-musisi hebat, atlet-atlet kelas dunia atau para pemimpin terkenal. Mereka melakukan sesuatu "di drive" oleh emosi emosi positif. Emosi itu berarti semangat, ambisi, keinginan kuat, dan napas membara untuk melakukan sesuatu yang besar, agung, dan menciptakan kekaguman.
Itulah Sebabnya manusia perlu menekuni hobinya. Apapun itu tidaklah begitu penting. Yang penting anda memelihara ketertarikan. Manusia secara otomatis akan berdisiplin diri karena ketertarikan.
Manusia berdisiplin yang menjadi driver adalah manusia dengan ketertarikan pada bidang tertentu. Manusia-manusia seperti ini bergerak ke depan (moving forward) dan optimistis. Sedangkan mereka yang tak memiliki ketertarikan tidak memiliki disiplin diri akan bergerak mundur (moving backward) dan cepat menyerah."
Rhenald Kasali, "Buku Self Driving" h.129. Dalam bab 6 bertajuk Self Discipline
* * * * *
Kadang saya suka malu menunjukkan bahkan menutupi apa yang sebenarnya menjadi ketertarikan. Hehe. Padahal penilaian orang toh tak sebegitu penting dibanding apa apa yang terjadi pada diri kita. Ketika kita memang suka, ya suka saja, yang terpenting adalah pelihara keunikan kita.
Proses membaca yang paling asik adalah ketika selesai membaca, kita bisa menangkap langsung realitasnya pada kehidupan sehari-hari, mengaitkan dengan diri sendiri atau kalau tak bisa, kita dimampukan untuk mengingat pengalaman kita yang berkaitan dengan bacaan kita.
Nah, Terkait memelihara ketertarikan ini, saya melihat contoh nyatanya pada diri si suami (ciyeh). Ketertarikan pada suatu hal, memang membuatnya menjadi berdisiplin pada hal tersebut, misal setiap jam 11 harus melakukan apa, setiap pekannya harus melakukan apa, dan setiap 2 pekan harus melakukan hal tertentu. Entah dia sadar ato ngga, saya mengamati bahwa dia memang menjadi disiplin sama hal itu.
Saya mau ambil contoh dari dosen juga, contohnya pak taufik (pembimbing saya) yang punya ketertarikan di bidang fotografi sampai sekarang, trus pak wahyu s (dosen fisika, dikasi tau suami) yang jago sketsa dengan pesan moral yang keren.
Hehe.
Lalu apa ketertarikan mu, jah?
Mengamati, membaca, membahas bacaan, membahas pengalaman membaca, menuliskan, proses belajar. mendesign, melihat membayangkan hal kreatif, tema pendidikan, tema keluarga, perkembangan anak, psikologi dan manusia, jurnalistik dan literasi, mendengar, pemikiran, dll
Nah, belum ada yang terdisiplinkan atau sengaja di program, jadi harus lebih diperhatikan dan diseriuskan nih.
Bismillah ya :)
Menjalani proses ini, membuatku berpikir akan banyak hal, membuat mata, hati dan telingaku semakin terbuka pada apa-apa yang terjadi di sekitarku. Kenyataan bahwa di usia ku yang 22 tahun jelang 23 ini, aku baru bertekad untuk mulai menjadi manusia yang sadar dengan prosesnya. Tak mengapa. Maka harap dimaklumi kalo banyak keluar bahasa-bahasa jiwa yang hanya Allah dan diri sendiri yang tahu *saking abstraknya diksi gueh maksudnya hehe*
* * * * *
Aku mulai sadar, titik fokusku sangat berkisar pada apa-apa yang terjadi di internal. Kesadaranku ini muncul diawali dari ketertarikanku yang sangat dalam mengurusi manusia. Aku selalu peduli pada bagaimana setiap orang dalam satu tim/kelompok, saling merasa. Misal kalau dalam sebuah organisasi akan mengadakan sebuah acara tapi relasi manusianya kurang baik, saya lebih memprioritaskan mengurusi hubungan-hubungan antar anggota, bukan hanya keberlangsungan acara.
Apalah arti berlangsungnya sebuah acara, tapi komponen manusia yang seharusnya terlibat malah tidak terlibat? Apalah arti nya bila malah tak saling peduli atau bahkan harus ada yang menahan sakit?
Dari interaksi itu kita belajar, dari sana kita mendewasa. Ada beda karakter pasti, ada beda pendapat biasa, namun ada keharusan untuk berlapang dada. Karena tujuannya satu, keikhlasan dan untaian doa terbaik dari setiap pihak.
Aku kadang heran juga, datang dari mana pemikiran semacam itu. Maksudku, kita di hari ini kan kumpulan dari berbagai inputan dari manapun. Kupikir pemikiran itu semata-mata datang dari interaksiku dengan orang-orang dalam berbagai organisasi yang kuikuti selama ini. Ya, sedikit banyak pasti iya. Tapi lucunya, dari proses ini baru aku sadari, bahwa ketertarikanku pada hal hal internal memang berawal dari rumah.
Mama bilang : "ya gimana-gimana juga prioritas keluarga dulu, baru yang lain." Bagiku dulu, kalimat itu begitu tak kusukai. Kenapa? Karena bagiku saat itu, kalimat itu terdengar begitu egois. Bagiku saat itu, aku iri dengan orang lain yang bisa berbuat banyak pada manusia lainnya. Bagiku saat itu, aku merasa tak banyak hal yang bisa kulakukan pada orang lain, sehingga kesal sekali rasanya ketika ingin berbuat lebih tapi malah dibatasi.
Tapi akhirnya aku mulai mengerti sebabnya. Aku mengerti, sangat memahaminya. Dan bagaimanapun juga harus bersyukur dengan apa-apa yang sudah membentukku menjadi seperti ini. Alhamdulillah :) Hey, bukankah itu salah satu fokus terpenting seorang istri atau ibu dalam rumah tangga nya kelak? Menjaga rumah tangganya? :")
Ya, kusadar bahwa segalanya memang berawal dari rumah. Rumah yang menjadi akar dari daun-daun perhatian-perhatian kita di kehidupan.
Selasa, 7 oktober 2014
"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlak nya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya dan buruk akhlaknya."
Hadits
Aku tak mau jadi wanita yang celaka. Aku hanya ingin menjadi wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah, sungguh.
Suatu hari di pertengahan bulan ramadhan juli 2014 lalu, kami sekeluarga diberi kesempatan untuk bisa berbuka puasa di luar rumah bersama. Bapak, mamah, mba ovie, fya, ifa. Tanpa perlu booking tempat dulu, kami mendapat tempat dengan suasana outdoor yang cukup asyik di lantai 2 citroengrass.
Saat itu pramusaji yang bertugas di meja kami ada 2, lelaki dan perempuan. Yang kuperhatikan, selain mas nya ganteng (?) mbak nya cantik (?), keduanya sangat sopan dan baik sekali dalam melakukan tugasnya. Tahukah apa yang saya pikirkan? I always want to try to be someone like them!
Ya, saya ingin merasakan menjadi seorang pelayan restoran!
..menyapa pelanggan, menyediakan yang dibutuhkan, mendengar yang ia inginkan, membuat perasaan mereka semakin baik setelah meninggalkan restoran.
Mama bilang, "ya mungkin nanti fya bisa punya restoran sendiri kaya gini, bikin usaha sendiri.." saya sih meng aamiin kan saja, tapi jauh di lubuk hati terdalam, pengen ngerasain jadi pelayannya dulu.
Dulu dibesarkan oleh orangtua yang secara materi cukup (walau bapak juga kan dari kampung, biaya apa apa juga mesti usaha sendiri), jadi belum ngerasain titik ekstrim.
Cita-cita yang aneh dan #apabanget disaat teman2 perempuan sesama lulusan itb lainnya udah melanglang jauh kemana, tapi itulah, saya hanya berusaha jujur pada diri. Meski untuk ini, mesti mengumpulkan nyali kalau bener2 mau coba, dan entah sampai akhir hayat bisa kesampaian ato enggak. Hehe
* * *
Selain itu kalau denger cerita orang yang kuliah ke luar negeri dan harus kerja part time dengan jadi seorang waitress, bagian terasik yg paling ingin saya rasakan adalah itu, menjadi waitress nya, bukan kuliahnya! *Haha *apabangetsihgue -_-
Kenali dirimu, kenali Allah.
Kamar, 15 September 2014
Hajah Sofyamarwa R.
Ketika penggalian akan dirimu semakin dalam, kamu akan semakin takjub dengan sebuah sosok yang ternyata begitu menarik. Mungkin kamu tak melihat sosok selebritis atau tokoh heroik fantastis, tapi jauh dari itu, itu adalah kamu dengan segala keunikan dirimu. Bentuk badan, kebiasaan, kesukaan, minat, bakat, potensi, hal lucu, kebodohan, jalan hidupmu, masa lalu, pilihanmu, keputusanmu, orang disekitarmu, latar belakang keluargamu, dan banyak hal lainnya yang melekat rapat pada dirimu.
Tak ada yang persis sama dengan kamu, Seru ya?
Pada suatu ketika, setelah kamu jauh melangkah, kemudian kamu sadar bahwa kamu tidak berada pada jalurmu. Ah benarkah? Tak ada yang benar-benar tahu, hanya saja sepertinya hati kecil kamu bisa mengetahuinya dan meneriakimu. Karena ya, mungkin saja dalam hidup kita pernah 'kurang tepat' dalam memilih jalan, ikhlaskanlah, karena setiap perjalanan selalu mengandung hikmah bagi yang mau berpikir.
Kini, dengan segenap kesadaran dan kemampuan menentukan pilihan yang telah Allah curahkan padamu, putuskan dengan bulat. Kamu sudah menggali dirimu, buat keputusan-keputusan yang menjadi pondasi hidupmu ke depan.
Kamu akan takjub dengan keputusan itu, karena tetiba muncul sebuah energi besar yang meliputi dirimu! Kamu menjadi tak khawatir lagi dengan apa yang orang lain katakan, kamu punya 'sesuatu' yang besar untuk kamu perjuangkan! Dan tetiba rasanya seluruh alam semesta, Allah perintahkan untuk membantu perjuanganmu.
Ini bukan akhir, perjuangan terus berlanjut. Bersyukurlah dengan apa yang ada, berani merawat cita-citamu, berani memperjuangkannya.
Kamar, 27 Agustus 2014
Kalau kamu lagi terus terusan merasa ngga pantes hidup karena ngga punya tujuan, sini deh, berhenti dulu sebentar.
Ngga ada di dunia ini yang Allah ciptakan sia-sia atau seenaknya, kamu ada disini PASTI ada alasannya, dan emang CUMA KAMU yang bisa ngelakuin hal itu.
Dan kalau kamu beneran lagi ngrasa ngga punya tujuan idup banget, saatnya ngaca. Liat diri kamu sendiri, bongkar lagi semua ingatan kamu tentang apa apa yang membuat kamu sedih, atau yang membuat kamu senang.
Serius, dig yourself deeply!
Karena kadang kita sudah terlalu lama bergerak menjauh dari apa yang sebenarnya kita cari, sampai kita lupa sama diri kita sendiri.
Jadi, kalau ngga punya tujuan hidup? Seriusin memaknai diri, dan minta sama pencipta kita buat diarahkan.
Kamar, 26 agustus 2014
Terkadang berani berbagi itu hanya ketika merasa sudah selangkah lebih dari tahap ini. Aku juga termasuk hehe. Padahal menurutku banyak juga orang yang merasakan hal yang sama :)
Pernah ngerasa hidup seperti zombie? Yang sekedar menjalani, bahkan jadi mempertanyakan tuhan kenapa kita mesti ada di dunia ini?
Ngerti banget deh perasaan kamu yang ngerasa nggak punya arah hidup, ngga punya tujuan, ngga ada yang ingin dicapai, rasanya ngga enak ngapa ngapain. Sampe mikir ngapain hidup?
Hal terpenting sebenarnya ada pada proses pencarian tujuan. Dalam proses itu, fitrah kita untuk berpikir dan merenungkan banyak hal, jadi bertumbuh subur.
Dalam proses pencarian yang kita ngga tau ada ujungnya apa ngga, berdoalah untuk menjalani kehidupan yang baik. Karena kalau di jalan tiba tiba mati? Kan ngga tau, ya?
"Ya allah, perbaikilah agamaku yang merupakan urusanku paling penting, dan duniaku tempat penghidupanku, serta akhiratku tempat aku kembali. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan dan kematian sebagai istirahat bagiku dari setiap kejahatan."
-H.R. Muslim
Kamar, 26 Agustus 2014
Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...