Showing posts with label masjid impian. Show all posts
Showing posts with label masjid impian. Show all posts

Wednesday, August 15, 2012

Panitia Ramadhan Festival - Closing Sanlat

Ramadhan Festival Committee - Closing 12 Agustus 2012 (captured by: fifipewz)
Akhir yang indah untuk sebuah awalan yang akan semakin baik.
Tiada yang dapat menggantikan lelah kita, cukuplah Allah sebagai sebaik-baik pembalas
Maaf atas segala khilaf yang dilakukan, terimakasih atas segalanya.
Semoga menjadi pengikat hati, menjadi amalan kebaikan di bulan Ramadhan ini.


Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu,
bertemu untuk taat kepada-Mu,
bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu,
berjanji setia untuk membela syariatmu.
Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya ya Allah,
abadikanlah kasih sayangnya,
tunjukanlah jalannya,
dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, 
Hidupkanlah dengan ma'rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.. 
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Amin..

Wednesday, July 25, 2012

Masjid Al-Muhajirin pukul 17.11

Masjid Al-Muhajirin pukul 17.11 (Sudrajat, 2012)

The most beautiful masjid I've ever seen.
Mungkin ini terlihat seperti atapnya yang sederhana atau langitnya yang indah. Bukan, bukan sekedar itu.
Bersamanya aku tumbuh, bersamanya aku peduli, bersamanya aku berharap.
Dari sinilah generasi pecinta masjid akan lahir
Ya, dari sini..
:')

Monday, July 23, 2012

Egoisme Sajadah

Puasa perdana saya di hari ketiga, Tarawih perdana pula berjamaah di Masjid Al-Muhajirin.
Berkah Ramadhan mungkin, banyak yang saya renungkan.
sembari mendengar khutbah tarawih, muncul ide-ide di kepala saya, dan wajib segera di tuangkan dalam tulisan supaya ga nguap dan lupa begitu aja.
Tapi sekali lagi, satu-satu aja ya saya paparkan hehe

* * *

Sudah sejak beberapa tahun kebelakang fenomena ini sering terlihat. Begitu semangatnya kaum muslimin di sekitar masjid saya berbondong-bondong memenuhi shaf-shaf shalat untuk tarawih berjamaah

Warga disini mengambil tempat shalat yang sesuai dengan keinginannya. Ada yang menyukai di depan agar lebih hangat (biasanya orangtua), ada juga yang memilih di belakang agar mudah berjalan jalan (biasanya anak-anak) dan ada pula yang memilih di luar agar tidak kepanasan.

Dengan sajadah yang beraneka ukuran, menambah besar lubang-lubang shaf yang terbentuk. Lucu memang, sajadah yang dibawa biasanya berukuran besar, jadi shafnya pun tidak rapat.

Ada keengganan untuk saling merapat, mungkin karena kalau terlalu rapat jadi sulit saat duduk tasyahud, mungkin juga karena teritorinya sudah dibentuk dengan sajadah masing-masing. Padahal masjid Al-Muhajirin sekarang udah pake karpet yang alhamdulillah bagus banget (mahal anti debu hehe), ngga pake sajadah juga sepertinya masih nyaman.

Egoisme sajadah istilah yang terlintas, biasanya dialami kalangan ibu-ibu. Penanggulangannya tidak bisa instan, harus dibiasakan, serta disadari oleh banyak pihak. Mungkin saya harus bikin Gerakan 1000 Sajadah Mini (GSM) atau Gerakan Penambal/Penyempil Shaf (GPS) untuk melibas egoisme sajadah semacam itu. Hehe.

"Barang siapa menutup shaf, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya satu kali dan akan membangunkan sebuah istana untuknya di Surga." (HR. Nasa'i & Huzaimah)
Kamar, 23 Juli 2012
Hari ke 3 Ramadhan

Sebaik-baik shaf wanita, shaf yang di belakang

Kok waktu shalat di masjid salman, shaf perempuannya dimulai dari belakang dulu sih? Bukannya shaf paling depan yang paling utama?

"Shaf wanita berada dibelakang shof pria, dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang di belakang." (HR. Muslim)

Akhirnya nemu juga haditsnya, alhamdulillah. Shalat di Masjid Salman itu emang paling unik. Shaf perempuan selalu dimulai dari tengah belakang, kemudian ke kanan kiri sampai shaf terisi penuh, baru dibuat shaf baru di depannya. Hal ini yang kadang ditanyakan beberapa teman seperti pertanyaan di atas.

Dari majalah Hidayatullah (Juli 2007), ketentuan tersebut memang baku sampai ada hal-hal tertentu (situasi) yang bisa mengubahnya. Bila perempuan diberi tempat khusus di masjid dengan tabir tersendiri yang terpisah dengan laki-laki, maka shaf terbaik bagi perempuan adalah yang paling depan, sebagaimana shafnya laki-laki.

Nah tabir tersendiri yang dimaksud itu seperti apa? harus tinggi atau pembatas yang pendek pun masih termasuk tabir? Kalo lihat kondisi di salman, pembatasnya rendah (perempuan bisa terlihat oleh laki-laki), dan shaf perempuan dimulai dari paling belakang, berarti (mungkin dugaan saya) pembatas itu belum disebut tabir tersendiri yang memisahkan dengan laki-laki. Wallahu 'alam

By the way, bagus juga kayanya kalo ada tempelan tulisan hadits nya di masjid, jadi yang mau shalat mengerti dan paham ilmunya, landasannya.

Terimakasih pada  Mbak Rini dan Bu Idar yang selalu merapikan shaf akhwat sampai rapi dan rapat shafnya.
Barakallah :)

* * *

Monday, July 16, 2012

Website Masjid, Bincang-bincang dengan Pimred


Suatu pengalaman yang patut disyukuri karena pastinya udah Allah yang mengatur
Berangkat dari 2 hal yang melatarbelakangi pertemuan 1 jam saya jumat sore itu:
  1. Pemenuhan tugas mempelajari manajemen web
  2. Mimpi bikin web buat mesjid al-muhajirin di deket rumah

Sebuah perbincangan dengan pimpinan Redaksi salmanITB.com (13/07/12)
Yudha P. Sunandar (http://myudhaps.wordpress.com/).
Sangat bersahaja, ramah dan suka berbagi.
Ditemani sang istri cantik yang setia mendampingi :)


"Intinya bagaimana web yang dihasilkan bisa berdaya bagi orang banyak. Membuat masjid semakin dekat dengan masyarakat dari segi sosial dan spiritual sekaligus. Pemudanya yang bergerak, melingkupi pandangan dengan fikrah islami, menjadi problem solving masalah yang nyata terjadi. Masjid-masjid di pedalaman, justru itulah jihad sebenarnya! Yang pasti pemudanya harus dibiasakan punya budaya suka membaca."
--Kak Yudha P. Sunandar dalam kilasan pandangan mengenai pemuda, masjid dan websitenya 
(ditulis dengan bahasa saya tanpa mengubah esensi yang beliau sampaikan)


Siap mentraining pemuda-pemuda masjid katanya.
Gank, siap-siap abis ramfest, sediain waktunya :)


Kamar, 16 Juli 2012
#masjidimpianku
seneng quotenya, seneng hal barunya, seneng ilmunya
 :)

Thursday, April 19, 2012

Belajar dari Shaf Shalat yang Bolong



Bismillahirrahmaanirrahiim..

Ahad, 15 April 2012
Dhuhur itu, tidak seperti biasanya, saya membantu mbak Rini dan bu Idar (karyawan salman-red) merapatkan shaf shalat. Hal itu jarang saya bisa lakukan (padahal harusnya anak asrama bisa), karena aktivitas semacam ini tidak mudah bagi saya. Walaupun pernah tahu bahwa shaf shalat harus rapat, saya masih segan untuk mengingatkan orang yang akan shalat. Pasti saat itu saya hanya dapat melakukannya dengan isyarat tangan dengan suara yang lebih kecil. Berusaha tidak menyinggung siapapun terutama jama'ah yang sudah lebih tua.

Shalat berjamaah akan dimulai, saya pun bergegas mencari tempat untuk saya shalat. Ternyata di shaf yang mau saya tempati, sudah penuh. Saya harus bikin shaf baru di depan. Grasak grusuk, saya dan beberapa jamaah lainnya membuat shaf baru sambil memakai mukena. Karena saat itu saya udah siap, saya langsung takbiratul ikhram dan mulai shalat mendahului yang lain.

Ibu-ibu di sebelah saya menyusul, namun menyisakan satu lubang kosong di shaf kami. Saat mulai shalat, beliau agak kurang merapat, sehingga antara saya dan ibu tersebut ada jarak yang cukup besar, yang bila saya coba bergeser, hanya akan memindahkan lubangnya ke sisi lainnya. Saat itu kami lagi shalat, dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Padahal tadi di awal saya yang menyuruh jamaah untuk merapatkan shaf, tapi ternyata shaf saya yang berlubang, persis di sebelah saya!

Semoga shalat saya tetap diterima, karena saya memikirkan hal ini ketika shalat. Separuh berharap ibu tersebut akan bergeser atau akan ada orang lain yang mengisinya. Tapi sekali lagi, saat itu saya dalam kondisi shalat dan tidak tahu harus berbuat apa.
Mungkin ilustrasinya begini:

"Help. Ayolah ada yang datang dan ngisi shaf ini. Ayo pahami bahwa kami ingin shaf yang rapat.."

Oh ya kalo bisa telepati itu mungkin. Tapi toh saya kan ngga bisa.
Sampe beberapa rakaat, beberapa orang yang mau shalat, ngga mengambil tempat di sebelah saya. T_T

Terus saya jadi mulai mikir bahwa itulah salah satu alasan mengapa seharusnya setiap muslim memahami dan menjalankan agamanya, (kalau dalam hal ini keutamaan dari shaf yang rapat).
Bahwa dalam filosofi shalat berjamaah yang saya rasakan, pada dasarnya makmum harus 'kompak' saling memahami. Kalau hanya beberapa saja yang paham, jadi seperti istilah bertepuk sebelah tangan. Dan ini berlaku tidak hanya di waktu shalat, tapi kapanpun. 
Bahwa semua muslim memang harus paham dirinya sebagai muslim yang akan melengkapi yang lainnya seperti sebuah bangunan yang kokoh.
Bahwa seorang penyampai (dalam kasus ini saya yang meminta orang untuk merapatkan shafnya), memang hanya bisa menyampaikan, karena yang mengatur semuanya juga Allah.


Yang rapat ya shafnya!
Foot to Foot, Shoulder to Shoulder! :D

"Barang siapa menutup shaf, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya satu kali dan akan membangunkan sebuah istana untuknya di Surga." (HR. Nasa'i & Huzaimah)


PS: Salah saya juga karena mulai shalat duluan, tanpa bersama-sama mengondisikan kerapihan dengan jamaah di sebelah saya. Alhamdulillah pada akhirnya ada juga yang mengisi tempat di sebelah saya, saat itu juga saya langsung lega.
Setelah shalat beres saya baru sadar ternyata dia temen satu asrama saya, Ami! Hehe Makasi ya! :)


Kamis, 19 April 2012
00:54

image source: internet (punten web nya tidak tercatat)

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...