Showing posts with label biologist. Show all posts
Showing posts with label biologist. Show all posts

Tuesday, June 30, 2015

Menyiram Tanaman

Halo, saya lulusan biologi yang sampai pada tingkat 4 kelulusan, kadang masih suka dibilang gini sama mamah :
"Kalo mamah lagi ngga ada, meni ngga ada yang nyiramin tanaman."
Dan habis itu biasanya berjuta alasan dilancarkan untuk berkilah mencari pembenaran. Hehehe.. xp

Terkadang orangtua kita meng-generalisir, karena ada masanya kita juga nyiram taneman di rumah kita. Tapi coba itung deh, pasti "gak nyiram" nya lebih sering daripada nyiramnya, betul? Hehe xp

Sebagai anak jurusan biologi, tentu sangat merasakan banyak berhubungan dengan makhluk hidup, khususnya tumbuhan.

Hampir setiap mata kuliah tumbuhan yang saya ambil, kalau ada praktikumnya tentu berurusan dengan perawatannya. Entah dari tanamannya, atau komponen pendukungnya seperti tanah dan air.
Contoh :
1. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan (supertum)
2. Fisiologi tumbuhan (fistum)
3. Ekofisiologi tumbuhan (ekofistum)
Dll

Seingat saya, waktu di praktikum, saat jadi asisten, saat Kerja Praktek, bahkan saat tugas akhir, saya diharuskan merawat tanaman perlakuan. Entah menanam tomat dan cabai dari biji, menyiram adenium pagi sore, merawat salvinia buat TA, semua praktikum itu harus dilakukan dengan tertib dan terjadwal. Pagi dan sore harus di cek. Kalau ga disiplin, tanamannya rusak (ga kekontrol) dan bakal ngerusak hasil penelitian juga. Untuk hal itu, kita rempongnya setengah mati.

Jadi kalau buat urusan kuliah mah, tanaman diurus. Kalau udah ngga ada tugas kuliahnya, tanaman dibiarin aja?

Dari hal sederhana itu, renungan buat saya pribadi. Proses pendidikan berhasil ketika materi dan esensi nya berhasil kita pahami dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menyiram tanaman pagi atau sore bukan sekedar karena disuruh mamah, atau cuma karena si taneman lagi jadi objek penelitian.
Menyiram tanaman pagi atau sore harus disertai rasa tanggung jawab sebagai seorang yang pernah tahu ilmunya, sebagai 'petugas' pesuruh langit yang harus menjaga bumi ini, sebagai sesama makhluk yang ingin berbuat baik pada makhluk lainnya.

Tanaman yang dirawat mamah kita di depan rumah itu manfaatnya banyak. Bikin mata seger, udara seger, bisa panen, bikin rumah lebih enak, dll. Dan untuk dapat semua benefit itu, emak kita yang suka rajin nyiramin (kita mah kan suka lupa haha -_-). Hehe maaf dan makasih ya maah :3

Ingat, ketika begitu banyak fasilitas yang kita dapatkan dari sesuatu yang tidak kita lakukan sendiri, maka kita harus berterimakasih dan lebih bersyukur atas hal itu.

Semoga semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin bermanfaat.

Selasa, 30 Juni 2015
Sebuah renungan pagi 13 ramadhan,
Saat melakukan aktivitas "nyebor tanaman", ketika rasa haus dahaga melanda di hari-hari kemarau (taneman ga disiram kasian loh, masa ikut puasa juga). Hehe

Thursday, April 18, 2013

Kulap Wetland - Nusakambangan! :D



Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Pantai Permisan, NUSAKAMBANGAN :D
Karena Pulau ini ga banyak gangguan, alias hanya diperuntukkan bagi para penghuni lapas, sipir dan keluarga, kondisi pantai dan hutannya masih bagus :))




Pesisir pantai Permisan, Nusakambangan

"Anakan" Mangrove di sisi jalanan Nusakambangan

Abis kotor-kotoran ngambil data, foto dulu lah ya hehe :D
Alhamdulillah :))
Semoga masih dikasih kesempatan sama Allah buat menjelajahi berbagai sisi bumi lainnya :D

Monday, March 25, 2013

Mural Sepanjang Jalan Babakan Siliwangi

Wujud dukungan para seniman dalam melindungi hutan kota di babakan Siliwangi :)
 























awalnya saya kebetulan lewat di daerah baksil. Lupa kalau saya sebenernya emang mau motoin. Lalu saya naik angkot caheum ledeng yang lagi ngetem. Tiba-tiba saya inget, akhirnya saya bilang sama abang angkotnya, "eh bang tunggu bentar mau turun dulu."
turunlah saya dari angkot, dan berjalan sepanjang baksil. 
Karena lama, ternyata angkotnya udah mulai jalan, pas ketemu saya, saya di klakson. karena belum beres fotonya, ga saya gubris #parah
padahal mungkin abang angkotnya udah baik mau nungguin (tapi gatau nungguin saya ato bukan sih #geer)

gambar muralnya masih banyak, tapi ga saya fotoin semua :)

Bandung, 24 Maret 2013

* * * * *

More and deep info :

Blog Kampanye Penyelamatan Taman Kota Babakan Siliwangi, Bandung – Indonesia

http://savebabakansiliwangi.wordpress.com

Monday, January 14, 2013

Salvinia molesta






29 Desember 2012 lalu akhirnya dapat tanamannya dari pedagang tanaman hias di metro. S.molesta ini termasuk paku air, dianggap sebagai gulma liar, jadi diberikan secara cuma-cuma sama si abangnya. Alhamdulillah..
 Sekarang masih dipelihara aja di baskom, di dekat kolam ikan. Yang kusimpan di kolam tampaknya mulai berkembang biak cepat. ayo ayo cepat tumbuh yang banyak ya :D

Penelitiannya belum dimulai, ini hitungannya masih aklimatisasi (hampir 3 pekan, karena sebelumnya mereka tumbuhnya di kolam yang airnya kering tinggal tanah)

Ya Allah, mudahkan dalam proses menjalaninya sampai selesai.

Saturday, January 5, 2013

Perkenalkan, Salsa si Salvinia :)

Giant Salvinia
Salvinia molesta
Photo by Vic Ramey
Copyright 2000 Univ. Florida

Perkenalkan kawan, ini Salsa (naon deui -_-) yang suka fitoremediasi
salah satu yang bikin galau di tingkat 4.
Sampai saat ini belum dapet pesen dimana (di sawah banyak, dan belum jadi pesen pak juandi juga)
akhirnya bisa ketemu aslinya di tukang taneman depan metro
karena ini taneman liar, jadi dikasih gratis.
buat pendekatan dulu aja sih supaya lebih akrab

 research questionnya mesti mantep euy, masih taraf studi literatur.
haiaaah semangaat!!!
:D

Wednesday, December 19, 2012

allelopathy : ga baik buat tetangga

Setahun lalu dan beberapa bulan yang lalu saya belajar interaksi antar spesies (yang mutualism, parasitism dll tea).
ada salah satu interaksi yang namanya Alelopati.
Istilah alelopati ini artinya efek berbahaya (harmful effect) dari suatu tanaman pada tanaman tetangganya (di sekitarnya). (Taiz and Zeigher, 2003)
Menurut yang dipelajari di kelas, Interaksi ini bagi spesies 1 tidak berefek apa-apa (0), tapi bagi spesies lainnya akan terganggu (-). Jadi spesies 1 akan mengeluarkan suatu senyawa, terserap ke tanah, dan akan membuat spesies tetangga di sekitarnya pertumbuhannya terhambat. Interaksi (0) (-)

Ilustrasinya :
Kamu tiba-tiba ngeluarin suatu senyawa yang bagi kamu  ga berefek apa-apa, tapi temen sebelah kamu pertumbuhannya jadi terhambat.
(ekstrim juga, saya ga mau punya temen kaya gitu, makin terhambat aja pertumbuhan saya hehe)

Nah terus saya belajar metabolisme tumbuhan nih barusan, seperti sebuah AHA MOMENT, ternyata alelopati itu diakibatkan oleh suatu senyawa  metabolit sekunder golongan phenol, lebih tepatnya dari turunan asam benzoat atau fenil propanoid sederhana (as. Caffeic ato ferulic). (trust me, ini karena lagi belajar aja jadi bisa nulis ini).

Nah tapi dari ebook abang taiz and zeigher (2003) itu disebutkan kalo di ekosistem alami kepentingan dari senyawa alelopati ini masih kontroversi. Para peneliti masih ragu kalo senyawa ini adalah faktor signifikan pada interaksi antar tanaman, karena pembuktian fenomena ini sulit untuk didapetin.

Kenapa?
Kalau dilakukan penelitian di lab, mungkin mudah, tapi di alam bebas sulit buat nunjukkin kalau senyawa yang dilepaskan ke tanah bisa cukup untuk menghambat pertumbuhan tanaman lainnya.

Menurut bang taiz dan zeigher juga, ini menarik. alelopati potensial untuk aplikasi bidang agrikultur. Penurunan hasil panen karena rumput-rumput liar atau sisa tanaman sebelumnya bisa jadi hasil dari alelopati. Prospek ke depannya, mungkin bisa dirancang rekayasa genetik taneman yang bersifat alelopati terhadap rumput-rumput liar.

* * * * * *
Setelah dipikir-pikir, interaksinya harusnya (+) (-) sih, soalnya si empunya senyawa diuntungin untuk bisa tumbuh lebih baik. Dari taiz dan zeigher disebutkan kalau pertumbuhan temennya terhambat, dia jadi bisa tumbuh lebih baik karena akses ke nutrisi, air dan cahaya yang lebih mendukung. Ya ga sih? Cmiiw

* * * * * *
Kalau ceritanya dia membahayakan sekitar gitu, ga mau punya efek alelopati dong ya?

"Sebaik-baik manusia di antaramu  adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain."
(HR. Bukhari )

Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya.
(HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156)

Wallahu 'alam
Back to UAS mettummbzh ~

(sumbernya taiz and zeigher, biar ga sesat, lebih lanjut baca ebook nya aja sendiri ya, bisa download di link di atas, atau minta ke aku hehe)

fenomena lidah mertua di ITB

Nama latinnya Sansevieria sp. Bisa dilihat di dekat koridor ketika masuk gerbang depan kampus ITB, dekat pos satpam.
Kasus ini saya jadikan bahan pembahasan dalam UTS mata kuliah Metoda Berpikir Kreatif.

 
Foto pertama (22 Mei) diambil jauh hari sebelum UAS diberikan. Di gambar itu bisa dilihat area kosong yang tidak lagi ditumbuhi Sansevieria. Sansevieria dikenal sebagai tanaman penyerap polutan, saya kurang tau alasan pastinya kenapa itu tanaman yang ditanam disana, mungkin juga karena dia termasuk tanaman yang kuat (?). Keberadaan sanse (disingkat ya, biar lebih akrab hehe) di situ sebenernya udah lama jadi perhatian saya. Kenapa? Karena saya termasuk orang yang suka motong lewat jalur itu! Awalnya cuma ikut-ikutan, supaya perjalanan lebih efisien (egois). Juga pada awalnya saya berpikir "ah ga akan kenapa-kenapa ini, toh jalannya juga ati-ati". Asalnya area kosong nya cuma sedikit, lama kelamaan orang-orang banyak yang lewat situ juga, jadi tanamannya lama kelamaan mati karena gangguan mekanis (langkah kaki).

Foto kedua (18 Oktober) nampaknya ITB sudah melakukan penanaman kembali. Kali ini, untuk melindungi si sanse, dipasanglah itu pita hitem-kuning! Bisa dilihat dengan jelas, sanse-sanse aman dari langkah-langkah kaki orang. Ckckck..

Nah, buat UTS ku cuma sampe sini ngebahasnya. Untuk menegakkan hak hidup si sanse, ternyata musti  pake pita kuning-item yang nyata keliatan kayanya. Tapi, indah gitu?

Lama kelamaan, mungkin ITB sudah merasa aman, markipot (mari kita copot) pitanya!
Eeeh, beberapa saat lalu (14 Desember) saya ambil gambarnya lagi, kondisinya udah ompong lagi..



malangnya nasibmu, sansee..

* * * * 
Pemilihan fenomena  sederhana ini bukan sekedar menyoroti kondisi tanaman saja, melainkan apakah dapat berkorelasi dengan sifat manusia dalam masalah kepedulian lingkungan serta menaati peraturan.
Diawali oleh rasa bersalah dan penasaran. hehe

Pada awalnya, mungkin orang pertama yang lewat situ sedang terburu-buru, berpikir "ah sekali-kali ga akan apa-apa". Tapi mungkin ada yang melihat dan terinspirasi, kemudian meniru. Atau mungkin tanpa pernah melihat pelakunya, langsung lewat situ karena liat kondisinya memang sudah hancur.

* * * *
Kalau dikorelasikan dengan bagaimana perilaku kita sehari hari, kita ga bisa dengan egois berpikir "ini hidup gue, terserah gue, urus aja diri lo sendiri". Karena bagaimanapun juga, yang kamu lakuin itu pasti punya dampaknya ke lingkungan. Ya, mungkin ga secara langsung sih, tapi setelah belajar ekologi saya percaya banget kita ini hidup itu saling memengaruhi satu sama lain.

Sebuah efek multiplikasi yang jelas. Efek multiplikasi buruk lebih tepatnya. berkali lipat juga mungkin dosanya.

Jadi, kalo mau bikin efek multiplikasi, bikinlah efek multiplikasi yang baik! :D
Yuk jah, lebih peduli sekitar!
Semoga bisa, aamiin..
         

Tuesday, November 13, 2012

takut ngebangunin (kulap story)

Bismillah..
Cuplikan kisah lama, dalam perjalanan pulang dari kulap (kuliah lapangan).  Saya lupa persisnya, entah kulap proeko atau kulap biper. (maap lupa hehe..)

Pagi itu di keheningan dan kelelapan tidur kami, kami dibangunkan. Bus yang dingin ber-AC ini berhenti di sebuah tempat perhentian. Sedikit untuk melepas lelah, mencuci muka serta mengambil wudhu untuk persiapan shalat subuh yang masih 1 jam lagi.

Setelah selesai kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Sambil terkantuk kantuk, dikasih bangun sama Allah (tumben bisa bangun), ternyata waktu sudah menunjukkan waktu shalat subuh. Saya bangunin temen sebangku dan karena tadi sudah wudhu, saya solat aja seperti biasa (padahal kalo ngga salah sebelumnya sempet ketiduran -_- batal ga ya? Semoga ngga Ya Allah ._.)

Sebelum shalat saya sempatkan lihat kondisi para penghuni bus yang hening (kebanyakan pada tidur saking capeknya), sempat terpikir untuk membangunkan teman-teman, supaya pada bangun untuk bisa shalat subuh, tapi saya takut, takut mengganggu teman-teman yang lagi capek banget. Akhirnya saya urungkan niat, shalat sendiri, dan tanpa sadar sudah tidur lagi.

Mata saya kemudian terbuka, matahari terik sudah menusuk. Dan saya tidak tahu  apakah teman-teman saya sempat bangun semua untuk solat subuh tadi pagi?

* * * * *

Bulan ramadhan lalu, saya berkesempatan bekerja bareng teman saya dalam sebuah acara buka bersama himpunan. Sampai pada suatu perbincangan, dia cerita :
X : E"h jah, tau gak? Pas kulap kemarin itu, yang pas di bus itu, aku ga solat subuh loh jah, ketiduran capek bangeet, ngga ada yang kebangun dan ngebangunin juga.. Sedih banget.."
H : . . . . . . . . . .

Ah Sahabatku, saat itu aku bangun dan seharusnya bisa membangunkan kalian..
 

* * * * *

Salah satu hal yang benar-benar disesali, dan sampai kapanpun sepertinya tidak akan saya lupakan. Terbukti bahwa memang kita itu ada untuk saling mengingatkan.  Terkadang saya ragu-ragu dalam mengajak kebaikan, ketakutan tak beralasan yang mengindikasikan belum kokohnya 'sesuatu' di dalam diri ini.

Padahal solat udah jelas wajib gitu, tapi saya sama sekali ga ada usaha buat ngebangunin temen-temen. Bikin kegaduhan kek, ato bangunin pake cara apa kek, atau apa lah gitu yang penting temen-temen bisa bangun. Padahal kita diperintahkan untuk menyampaikan, mengusahakan, perkara teman kita bisa bangun atau enggak itu lain hal kalo kita udah sekuat tenaga.

Tadinya ini akan saya pendam terus, mungkin hanya akan saya ceritakan pada teman- teman seangkatan saya di akhir kelulusan nanti, atau momen tertentu saja, atau bahkan tidak sama sekali. Tapi saya pikir, hal semacam ini mungkin akan sering terjadi dalam kehidupan teman-teman lainnya. Setidaknya dengan adanya cerita ini dapat diambil hikmahnya.
Maafin saya yang belum berani ini..

"Teman2 karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa" ( 43:67)
"Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (103:2-3)


* * * *

Untuk siapapun yang masih sering ragu dalam kebenaran,
Untuk teman-teman yang mencintai sahabat-sahabatnya,
Untuk yang suka bepergian jauh,
Untuk yang akan melalui kuliah lapangan,
Tulisan ini dipersembahkan :')

Selasa, 13 November 2012

Tuesday, August 28, 2012

Bangsa Tanpa Visi Ekologi


by : Marison Guciano, MAHASISWA PASCASARJANA UI
LIAISON OFFICER ORANG UTAN REPUBLIK EDUCATION INITIATIVE (OUREI)
Sumber : KOMPAS, 3 Februari 2012
 Jika pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah ditangkap, sungai terakhir telah mengering, manusia baru sadar bahwa uang tak bisa dimakan. (Suku Indian)
Jared Diamond dalam bukunya, Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed (2005), memasukkan Indonesia, selain Nepal dan Kolombia, sebagai peradaban yang mungkin dekat dengan keruntuhan.
Krisis ekologi, seperti yang kini terjadi di Indonesia, disebut Diamond sebagai salah satu persoalan yang mendasari keruntuhan peradaban pada masa lalu. Ia mencontohkan kepunahan bangsa Viking Norse di Skandinavia gara-gara tak sengaja menyebabkan erosi dan penggundulan hutan sehingga menghancurkan sumber daya mereka.
Diamond juga mengangkat sejarah Ankor Wat, peradaban bangsa Maya, Kepulauan Easter, bangsa Zimbabwe, dan lembah Sungai Indus sebagai pelajaran penting bagaimana seharusnya kita memperlakukan alam.

Krisis Ekologi
Kekhawatiran Diamond bahwa Indonesia akan mengalami tekanan lingkungan paling buruk sudah terbukti. Sepekan terakhir, bencana banjir menenggelamkan puluhan kabupaten dan kota.
Bencana ekologi, seperti banjir, sebenarnya bukan yang pertama. Sepanjang tahun, bencana serupa rutin menerjang pelosok negeri seolah tak mungkin berkesudahan. Pada musim kemarau, bencana kekeringan sering kali melanda; penduduk kesulitan air bersih dan petani tak bisa lagi mengairi lahan pertanian.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, dalam dua tahun terakhir (2010-2011) terjadi 3.830 bencana alam yang melanda Indonesia dengan jumlah korban meninggal 2.973 orang dan 112.664 rumah rusak. Banjir, banjir bandang, kekeringan, dan tanah longsor disebutkan BNPB sebagai bencana yang paling dominan melanda Indonesia.

Fenomena alam, seperti cuaca buruk tingginya intensitas curah hujan, sering kali menjadi kambing hitam atas sumber dari segala sumber malapetaka ini. Padahal, bangsa yang tak pernah punya visi ekologi merupakan pangkal sebab menurunnya daya dukung lingkungan dan hadirnya bencana ekologi di sekitar kita.
Kawasan hutan yang terus beralih fungsi menjadi permukiman, industri, lahan pertanian, dan perkebunan; pembalakan liar yang marak; gaya hidup hedonis yang tak ramah lingkungan juga pangkal sebab ketidakseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan. Di lain pihak, dana-dana rehabilitasi hutan dan penanggulangan bencana justru bergulir tidak tepat sasaran, dikorupsi mafia-mafia anggaran.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia mencatat, hingga 2011, 42,96 juta hektar—setara 21 persen dari total luas daratan Indonesia—telah diizinkan negara untuk kegiatan eksplorasi pertambangan. Untuk kelapa sawit, dari rencana 26.710.800 ha telah terealisasi 9.091.277 ha. Sementara alih fungsi ekosistem rawa gambut mencapai 3.145.182 ha.
Berdasarkan data Forest Watch Indonesia (2009), dalam kurun waktu 60 tahun terakhir, tutupan hutan di Indonesia berkurang dari 162 juta ha menjadi hanya 88,17 juta ha pada 2009 atau setara dengan sekitar 46,3 persen dari luas total daratan Indonesia.
Bersamaan musnahnya puluhan juta hektar tutupan hutan itu, punah pula jutaan keanekaragaman hayati di dalamnya. Padahal, keanekaragaman hayati berfungsi sebagai penyedia sumber air dan kebutuhan nyata jutaan penduduk, penyedia tanaman obat, sumber stok genetik, regulasi iklim, pencegah bencana alam, serta penjaga keseimbangan ekosistem.

Keputusan Penting
Sepanjang sejarah Indonesia, bangsa ini sering kali mengambil keputusan keliru terkait masalah ekologi. Sebutlah obral izin pengusahaan hutan, maraknya kebijakan alih fungsi hutan lindung, pemberian keistimewaan bagi konglomerat kehutanan melalui penghapusan utang.
Belum lagi terbitnya PP No 22/2008 yang dinilai kontroversial karena memberi keistimewaan bagi petambang untuk menambang di hutan lindung, pasifnya penegakan hukum lingkungan, hingga masyarakat yang menganggap orangutan sebagai hama sawit sehingga layak dibantai seperti baru-baru ini terjadi di Kalimantan Tengah.
Diamond telah meninggalkan warisan berharga sebagai bahan pelajaran bagi bangsa Indonesia untuk mengambil sebuah keputusan penting terkait masa depannya. Seperti dikatakan Diamond, kekeliruan membuat keputusan akan menyebabkan bangsa ini mempercepat kepunahan sendiri. 

_____________________

Monday, August 27, 2012

Kelas Ekologi (lagi) bersama Bu Devi - Semester 7


Berada di kelas ekologi (lagi) bersama dengan teman-teman yang berbeda. Yah, ini hari pertama kuliah tingkat empaaaaaat ! :D

Awalnya supertakut (pasti), karena ini pengalaman pertama ngambil matakuliah yang sama, karena sebelumnya belum diijinin lulus sama Allah. Apalagi bareng-bareng sama angkatan yang berbeda, dan saya memang satu-satunya yang beda angkatan. Hihi. Pasti banyak yang bertanya-tanya (ato mungkin jg enggak) liat saya nongol dikelas mereka. Dan pengalaman saya dulu ya, kalo liat kakak kelas yang ada di kelas angkatan kami, rasanya pengen nanya alesan kenapa ada disini, tapi ngga berani karena takut nyinggung hehe. Akhirnya kealamin juga sama sendiri :)
Tapi, alhamdulillah seneng banget! 2010 emang baek baek semua dan insyaallah ke depannya bisa lancar. Aamiin :D

Berasa dejavu, Ibu Devi ngejelasin dulu tentang perkuliahan ini. Banyak hal yang dulu memang sempat kealamin, tapi ngga kaya sekarang, karena banyak hikmah yang bisa diambil.

Setidaknya selama kuliah, di pikiran saya selalu ada signal warning yang terus bilang gini :
"ini kesempatan kamu yang kedua, perhatiin bener-bener semuanya. Setidaknya udah pernah belajar ini kan? Jadi tahu gambarannya dan bisa ngebenerin semua yang dulu salah."

Kali ini dosennya ada dua, bareng sama Pak Yayat Hidayat. Beliau in ilebih ke teknologi kehutanannya gitu, tapi sambil sama-sama belajar. Ngga liat ada asisten (padahal taun lalu diasistenin kak Gita BI '08).

Kuliah sama bu Devi itu asik, cara ngajar beliau itu memang nganggep kita sebagai orang yang udah dewasa. Contohnya kehadiran, ibu ngga terlalu ambil pusing, intinya, yang butuh kan kita sendiri, jadi yang penting paham dan nilai nya  aman.

Salah satu wejangan penting dari Bu Devi :
Semester 5 itu masa-masa yang sibuk, ada proyek ekologi (sks yang berbeda) dan proyek biselmol yang memang menguras waktu dengan sangat banyak. Kuliah ekologi 4 sks ini kadang dikorbankan (atau jadi korban). Dipikirnya tinggal baca, tapi sampe akhir ga  di baca-baca. H-1 Ujian kaget liat bahannya yang buanyak banget, udah gitu ngga paham materinya. Jadi kalo ngga dapet A di kuliah 4 sks ini, sayang banget dan bakal nerjunin IP.

Lulus nanti, jadinya sarjana biologi. Jadi kita dituntut untuk harus menguasai semua, bukan Cuma yang kita suka, ato yang kita bisa.

Yang harus diperhatikan juga, terkadang mahasiswa (contohnya saya), ngambil matakuliah itu Cuma karena keharusan, padahal seharusnya kita ngerti, kenapa kita ngambil matakuliah itu. Hal esensi yang terkadang dilupakan.

Tambahan dari Pak Yayat, menjalani ini kita harus pake cinta. Beneran. Karena jaman sekarang informasi apapun tinggal goongling dan semua bisa kita dapet, gampang! Yang susah didapet itu dari aspek kejiwaan, gimana kamu nyikapin dan mencintai yang sedang kamu jalani. Asik ko, serius!

Sekian hasil ikatan makna yang didapet dari kuliah pertama ekologi di semester 7.
Semoga ada manfaatnya :D



Wednesday, June 13, 2012

Belajar Metode Elisa : Harus Percaya yang Ghaib!


Ide tulisan ini dilatarbelakangi oleh salah satu pekerjaan yang saya lakukan selama KP di Lab Virologi, Balitsa. Suatu metode andalan (kojo, istilah sundanya hehe) pengujian berbagai virus yang sering dilakukan di lab virologi. Namanya Elisa, walau bukan Elisa Khoerunisa teman saya di kampus hehe. Eenzym-linked Immunosorbent Assay.

Seluruh pekerjaan dilakukan menggunakan plate microtiter yang memang khusus, dan menggunakan mikropipet. Hasil akhirnya dapat dilihat di plat  microtiter itu, secara kualitatif dari konsentrasi warna yang muncul, dan secara kuantitaif dari nilai absorbansinya.
Microtiter Plate. http://www.bio-world.com/productinfo/2_18_158/121097/Poly-Lysine-coated-microplates.html


Ada dalam metodenya, beberapa kali langkah pencucian plat dengan PBS-Tween. Pencucian plat disini bukan bertujuan membersihkan plat sampe kinclong bersih, karena masih ada "sesuatu" yang tetap menempel di dasar lubang. (Dan percayalah,  di plat itu kau tidak bisa melihat apapun!).

Cara kerjanya plat dibersihkan dibuang cairannya (buffer dll), diketrok di semacam lipatan kertas  saring beberapa kali, diisi full oleh PBS-Tween, kemudian di shaker dengan speed 3 dalam waktu 3 menit. 1 siklus prosesnya diulang 6 kali! (yeah)

Pencucian plate itu memang dilakukan setiap akan diganti larutannya. Selama proses itu, karena saya ngga tau ilmunya, dirundung rasa khawatir dan takut  sampelnya akan ikut larut terbuang, dan selama itu pula saya musti yakin bin percaya bahwa sampelnya tetap menempel. (walaupun percayalah sama saya, di platnya ngga keliatan apa-apa! T_T)

Saya masih berpikir, ini sampelnya masih ada atau ngga, apa kebuang ato enggak. Masalahnya ini bukan sampel punya sendiri, tapi punya orang lain.

Tibalah tahap akhir, dimana ditambahkan substrat buffer dan P-Nitrophenil (ngga usah tanya itu apa ya) sebagai pemuncul warna indikator. 1 jam berlalu, dan ternyata, plate nya berubah warna, pertanda memang ada sesuatu di dasar plate-yang-kelihatan-kosong-itu ! Alhamdulillah..
:D


****************
Jadi Metode Elisa itu salah satu metode serologi untuk ngedeteksi virus yang sering banget digunakan karena cukup sederhana, mudah, cepat, sensitif, akurat, dan bisa digunakan untuk sampel yang jumlahnya besar. Metode tersebut berdasarkan pada konjugasi antara VIRUS (antigen) dengan ANTIBODI dan enzim, dengan menambahkan substrat pewarna maka ikatan konjugasi antibodi-enzim mengkatalisasi perubahan substrat kromogenik menjadi produk yang berwarna (Dari Buku magang virus sayuran balitsa, juli 2006). 

kalau masih bingung, tanya mbah google aja ya, atau lihat video dari youtube ini, bisa jadi ilustrasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di plate microtiter itu disini. walau masih belum terlalu ngerti semua tahap, tapi setidaknya ada bayangan.
Dulu kayanya sempat pake plat mikrotiter itu waktu praktikum Proyek Biselmol, tapi dasar saya katro (eh maksudnya belum belajar), jadi ngga tau prinsip plat itu hehe 
:D

* * * * * * * * *
Sempat terpikirkan, pantas saja ada orang yang tak percaya Tuhan. Mereka tak percaya tuhan karena salah satu alasannya adalah mengandalkan hanya inderanya saja (baca di suatu sumber). Mungkin karena tidak melihatnya, jadi tak percaya. Atau mungkin juga memang karena hatinya sudah ditutup. Naudzubillah..


Hari keempat KP,
Balitsa, 7 Juni 2012
Sembari menunggu 3 menit fase pencucian plate di shaker :)

Hari Pertama KP


Tulisan ini justru diketik di hari ke-9 KP (Padahal judulnya Hari Pertama KP)
Soalnya saya emang baru mulai nulis pas hari keduanya hehe, tapi kurang enak kalo hari pertama ga di post, jadi saya post deh :) Dan setelah posting ini, akan ada beberapa tulisan yang sempat ditulis pada minggu pertama, tapi baru sekarang sempat dipost hehe

* * * *
rumah kawat (tampak luar), rumah kawat dalam (tempat tomatku), isi lab virologi
.
tampak luar Lab. Virologi
KP Hari pertama masuk-masukin tanah ke dalam pot. Jumlah potnya 225, dan nantinya akan diisi dengan 450 butir benih tanaman tomat.

Awalnya saya shock, jumlah taneman yang akan dicoba-kan sebanyak itu, tapi ternyata emang buat percobaan mah harus banyak jumlah tanamannya dan jumlah ulangan juga harus disesuaikan.

Insyaallah judul KPnya:

PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN BIJI TOMAT (Solanum lycopersicum L.) DALAM EKSTRAK DAUN PAGODA TERHADAP INFEKSI CMV (Cucumber Mosaic Virus) DI BALAI PENELITIAN
TANAMAN SAYURAN (BALITSA), LEMBANG

Total ada 15 perlakuan dari kombinasi faktor Konsentrasi dan Lama Perendaman
Konsentrasi:
  • Kontrol
  • 0,5 %
  • 1 %
  • 5 %
  • 10 %

Lama Perendaman:
  • 30 menit
  • 60 menit
  • 1 hari

Masing-masing perlakuan ada 10 tanaman, dan pengulangannya sebanyak 3x (dari situlah angka 450 muncul hoho). Nanti kalo udah pada gede-gede, dioles pake virus CMV deh daunnya, dilihat kombinasi perlakuan yang mana yang paling tokcer :)
Oh ya di hari pertama ini ternyata ngga ada pengenalan staf, lokasi, alat bahan, atau yang resmi kayak begitu-begitu.  Langsung mulai aja. mungkin biar kita ngenal sendiri hoho

Yah semoga hasilnya baik ya, do'akan! :D

Ditulis pada hari kesembilan KP
Cikole, 13 Juni 2012 
 .

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...