Showing posts with label dari buku. Show all posts
Showing posts with label dari buku. Show all posts

Wednesday, December 5, 2018

Hey, Reclaim Your Heart! Part. 1



Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah setelah sekian lama vakuum dalam menulis blog, insyaallah mulai hari ini hajah akan meruntinkan kembali di setiap pagi.

insyaallah alamat blog ini yang semula www.hajahsofya.com, sementara akan kembali menjadi www.hajahsofya.blogspot.com ya. Faktornya karena memang domain .com tersebut belum bisa didaftarkan lagi dan membuat saya jadi tak semangat menulis. PADAHAL, kalau mau menulis ya menulis saja yah HEHEHEHE. Singkat cerita saya putuskan kembali ke alamat lama dulu.

Baik, pagi ini saya menyempatkan membaca sedikit sebuah Buku Berjudul Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu) : Wawasan-Mencerahkan tentang Cinta, Duka dan Bahagia karya Yasmin Mogahed. Buku ini merupakan buku terjemahan yang setahu saya sangat dicari versi bahasa inggrisnya. Saya mencukupkan diri membaca versi terjemahannya dulu saja, saat bukunya ada. hehe

Kenapa buku ini? Bisa nebak sendiri ya kondisi seseorang dari pilihan buku bacaannya ;)

Terdiri dari 7 BAB besar, dengan beberapa subbab. Saya membaca BAB 1 yang berjudul KETERIKATAN, pada subbab : Mengapa Orang Orang harus Saling Meninggalkan?. Jujur pada awalnya saya tak langsung bergejolak saat membacanya, bisa jadi karena faktor buku terjemahan tadi ya. Tapi bisa jadi juga karena pada saat awal saya merasa saya tidak membaca apa yang saya perlukan. PADAHAL setelah dilanjutkan bacanya, saya merasa agak sedikit mirip dengan yang disebutkan dalam bab tersebut.

Cinta dunia itu bukan sekedar materi —seperti yang banyak disangka— 
“Tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia berarti terikat pada hal-hal yang bersifat material. dan saya tidak mengikatkan diri pada materi. Saya terikat pada manusia. Saya terikat pada momen. Saya terikat pada emosi. Maka tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia tidak berlaku pada diri saya. Saya tidak menyadari bahwa manusia, momen, emosi merupakan bagian dari dunia.”“Saya mengharapkan kehidupan ini menjadi sempurna, kondisi yang tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Sebagai seorang yang idealis, saya berjuang dengan setiap sel tubuh saya untuk melakukannya. hidup saya haruslah sempurna. Saya memberikan darah, keringat, dan air mata dalam ikhtiar ini : mengubah dunia menjadi Jannah. Ini berarti mengharapkan orang orang di sekitar saya untuk menjadi sempurna. Mengharapkan hubungan saya menjadi sempurna. Mengharapkan terlalu banyak dari orang-orang di sekitar saya dan dari hidup saya.” 
Jleb!

Kutipan singkat yang rasanya begitu cocok menggambarkan diri saya. Tentu ada beberapa hal yang berbeda dari diri saya dan diri penulis. Kalau penulis menggambarkan diri sebagai orang yang mudah terikat, sangat butuh sahabat. sementara saya, termasuk orang yang sebetulnya tak mudah terikat pada orang. Bukan berarti tak butuh sahabat, ah siapa sih yang tak butuh sahabat? Bedanya, saya perlu waktu lebih untuk beanr benar dekat orang. Bersyukur selama ini Allah berikan saya sahabat-sahabat orang yang mau merangkulm sehingga saya tak begitu sulit menjangkau mereka :)

Saya paling suka kutipa ayat dari Alquran yang muncul disertai dengan hikmah yang ia berikan, salah satunya seperti di surat Al Baqarah 2:256. Seperti secercah embun ditengah kedahagaan jiwa bagi saya! 
“Barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhbul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hey, kemanakah kau berpegang selama ini?
Sekuat apa peganganmu pada Nya?

dan satu lagi ayat yang menggugah saya adalah surat Yunus 10:7 
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”

Baca hikmah ini dan mungkin kamu juga akan merasa tertampar : "Dengan berpikir bahwa saya bisa memperoleh segalanya disini, saya tidak mengharapkan pertemuan dengan Tuhan. Harapan saya bersifat duniawi. Apa artinya menempatkan harapan pada dunia? .., Ini berarti bila Anda memiliki teman, jangan mengharapkan teman-teman anda untuk memenuhi kekosongan Anda. Bila Anda menikah, jangan mengharapkan pasangan Anda untuk memenuhi setiap kebutuhan Anda. Bila Anda seorang aktivis, jangan menaruh harapan dalam hasil. Bila Anda sedang kesulitan, jangan bergantung pada diri sendiri. Jangan bergantung pada manusia. Bergantunglah pada Tuhan."

Jleb jleb jleb.

By the way, Jawaban dari pertanyaan di subbab ini adalah : Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Karena hidup ini tidak sempurna. Jika hidup ini sempurna, bagaimana lagi kita menyebut tahapan perjalanan hidup selanjutnya (akhirat)?

Dicukupkan dulu sampai disini, masih lanjut bacanya yah :)
Semoga bermanfaat :)


Rabu, 5 Desember 2018
Hajah Sofyamarwa R.

Tuesday, December 16, 2014

Memelihara Ketertarikan untuk Disiplin Diri

"Emosi adalah elemen penting untuk belajar."

Meski manusia dewasa harus dapat mengendalikan emosi, manusia tetap memerlukan emosi untuk mendorong semangat kerjanya. Emosi adalah elemen penting yang membuat anda ingin mendalami sesuatu. Tengoklah para musisi-musisi hebat, atlet-atlet kelas dunia atau para pemimpin terkenal. Mereka melakukan sesuatu "di drive" oleh emosi emosi positif. Emosi itu berarti semangat, ambisi, keinginan kuat, dan napas membara untuk melakukan sesuatu yang besar, agung, dan menciptakan kekaguman.

Itulah Sebabnya manusia perlu menekuni hobinya. Apapun itu tidaklah begitu penting. Yang penting anda memelihara ketertarikan. Manusia secara otomatis akan berdisiplin diri karena ketertarikan.

Manusia berdisiplin yang menjadi driver adalah manusia dengan ketertarikan pada bidang tertentu. Manusia-manusia seperti ini bergerak ke depan (moving forward) dan optimistis. Sedangkan mereka yang tak memiliki ketertarikan tidak memiliki disiplin diri akan bergerak mundur (moving backward) dan cepat menyerah."

Rhenald Kasali, "Buku Self Driving"  h.129. Dalam bab 6 bertajuk Self Discipline

* * * * *
Kadang saya suka malu menunjukkan bahkan menutupi apa yang sebenarnya menjadi ketertarikan. Hehe. Padahal penilaian orang toh tak sebegitu penting dibanding apa apa yang terjadi pada diri kita. Ketika kita memang suka, ya suka saja, yang terpenting adalah pelihara keunikan kita.

Proses membaca yang paling asik adalah ketika selesai membaca, kita bisa menangkap langsung realitasnya pada kehidupan sehari-hari, mengaitkan dengan diri sendiri atau kalau tak bisa, kita dimampukan untuk mengingat pengalaman kita yang berkaitan dengan bacaan kita.

Nah, Terkait memelihara ketertarikan ini, saya melihat contoh nyatanya pada diri si suami (ciyeh). Ketertarikan pada suatu hal, memang membuatnya menjadi berdisiplin pada hal tersebut, misal setiap jam 11 harus melakukan apa, setiap pekannya harus melakukan apa, dan setiap 2 pekan harus melakukan hal tertentu. Entah dia sadar ato ngga, saya mengamati bahwa dia memang menjadi disiplin sama hal itu.

Saya mau ambil contoh dari dosen juga, contohnya pak taufik (pembimbing saya) yang punya ketertarikan di bidang fotografi sampai sekarang, trus pak wahyu s (dosen fisika, dikasi tau suami) yang jago sketsa dengan pesan moral yang keren.

Hehe.
Lalu apa ketertarikan mu, jah?
Mengamati, membaca, membahas bacaan, membahas pengalaman membaca, menuliskan, proses belajar. mendesign, melihat membayangkan hal kreatif, tema pendidikan, tema keluarga, perkembangan anak, psikologi dan manusia, jurnalistik dan literasi, mendengar, pemikiran, dll
Nah, belum ada yang terdisiplinkan atau sengaja di program, jadi harus lebih diperhatikan dan diseriuskan nih.

Bismillah ya :)

Thursday, December 11, 2014

Asyiknya Ditampar Buku Self Driving Rhenald Kasali

Satu lagi buku bergizi berhasil hadir di depan mata! Alhamdulillah :)

Dikenalkan pertama kali oleh pak hernowo dalam ulasan-ikatan- makna-nya, serta sedikit kutipan cerita dari salah satu sahabat saya, hani. Buku SELF DRIVING nya Pak Rhenald Kasali ini seperti diramu dari berbagai bahan pilihan yang memang membuat para pembacanya merasa terus "tertampar" setiap membaca halaman demi halamannya. (Ya gatau ya, saya sih ngerasa begitu hehe).

Apa yang disampaikan melalui buku ini begitu cocok dibaca oleh siapapun, terutama bagi yang sedang dalam masa penyadaran diri. Itulah kondisi saya pribadi saat awal membaca buku ini. Saya merasa ini saatnya benar2 memegang kendali terhadap diri saya sendiri. Tidak mudah, tapi insyaallah saya akan sangat senang untuk menjalani prosesnya.

Buku ini menggambarkan perbedaan nyata dari karakter seorang passenger dengan driver. Ternyata banyak orang yang ngga sadar kalau sebenernya masih hidup dengan mental passenger, tak terkecuali orang-orang yang sudah berpendidikan tinggi bahkan sudah punya jabatan.

Menariknya, sejak awal justru dibahas mengenai sistem pendidikan yang ada di indonesia ini, khususnya lulusan lulusan universitas. Ngga main main, dibuat dari persepektif seorang calon rektor yang akan "meramu" sebuah sistem pendidikan. Kalo boleh meminjam istilah bang aad mah, jadi melihat dengan helicopter view nya.

Tadinya saya mau rajin posting rutin resumenya, tapi saking bergizinya buku ini, saya bener bener harus perlahan melahapnya untuk bisa mengambil saripatinya. Membaca adalah sarana, yang terpenting adalah bahwa dengan membaca, kita secara sadar melakukan perubahan atau perbaikan kita menjadi lebih baik.

Karena saat ini lagi baca bab 8 tentang play to win, saya bocorin sedikit ya, meurut saya : buku ini bukan menampar orang-orang pada titik ekstrim, justru buku ini "menampar" orang orang pertengahan yang terkadang hidup sekedarnya, istilah pak rhenald : play not to lose. Yang tidak terganggu dengan gejolak sedihnya kekalahan, tapi juga tidak berjuang sepenuhnya mencapai kemenangan tertinggi, terlalu aman.

Kalau dipikir pikir, Allah juga nyuruh kita minta surga terbaik (ekstrim kanan), dan menjauhkan diri dari neraka (ekstrim kiri), kan? Ngga nyuruh kita untuk jadi biasa biasa aja?

Semoga proses absorpsi isi buku ini membuahkan hasil terbaik ya!
Selamat membaca, share pengalaman baca mu ya! :D

De Marrakesh, 11 Desember 2014

Wednesday, November 19, 2014

Teknik Mengikat Makna, Bekal Belajar Saya dalam Membaca Buku

Lama tak bersua dengan Pak Hernowo lewat bukunya, membaca buku Vitamin T saya langsung menuju pada satu topik yang saat ini begitu saya butuhkan. Sudah pernah dibaca, tapi rasanya perlu mengingatnya kembali. Dituliskan pada halaman 58-63, artikel berjudul "Meresensi Buku dalam setting Mengikat Makna", lagi-lagi sukses membuat saya begitu bersemangat lagi membaca buku.

Saya begitu suka dengan buku. Ada masanya saya begitu tak bisa diganggu bila sedang membaca, namun ada masanya pula saya merasa membaca buku hanyalah bagian dari escape from something i don't want to think about. Tapi biar bagaimana pun, saya bersyukur tempat pelarian saya ada pada sesuatu yang cukup positif hehe. Kebiasaan baik tersebut memang sepantasnya dirawat, dan diperhatikan. Bagian bagian mana saja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya, karena semua orang bisa membaca, namun tak semua orang bacaannya bisa kemudian berdampak baik pada kehidupannya.

Saya paling suka ketika kata-kata yang dituangkan pak hernowo benar-benar dapat membahasakan apa yang saya rasakan. Inti proses pengikatan makna yang beliau lakukan adalah bertemunya pengalaman batin diri kita pribadi dengan pengalaman si penulis buku, yang hasil akhirnya membuat diri kita berkembang. Dan itulah yang membuat prose membaca buku menjadi begitu menyenangkan dan berdampak.

Sampai sini saya mau memastikan bahwa kita sudah sefrekuensi dulu ya?
Tujuan saya baca artikel ini adalah agar kegiatan membaca saya benar2 bermanfaat. Saya baca, dan menuliskan kembali untuk mengikatnya, kemudian agar bermanfaat bisa dibagikan kembali pada yang lain. Maka ini upaya agar proses dan hasilnya baik, serta dapat bermanfaat untuk yang lain. Cukup ya?

Lantas bagaimana caranya meresensi buku dengan setting mengikat makna?

Ada 3 teknik, dan proses ini bertingkat semakin tinggi :
1. Cut and paste
Teknik mengunting dan merekatkan. Memberikan peluang sangat besar kepada seseorang untuk berlatih menulis dengan bantuan "bahasa" oranglain. Caranya dengan mencuplik dan mengumpulkan tulisan tulisan yang menarik perhatian kita dari sebuah buku, tuliskan kembali pada buku harian. Lakukan berkali kali, kumpulan resensi itu akan sangat bermakna buat kita, karena pengalaman penulis itulah yang menarik batin kita, yang cocok dengan pengalaman pribadi kita.
-> saya perlu ningkatin lagi ini. Ingat dulu sering, dan buku yang jadi kumpulan tulisan itu bener bener jadi sesuatu yang bermakna kalau dibaca ulang.

2. Focusing
Pusatkan perhatian pada satu hal yang ada di dalam buku, yang menarik perhatian kita. Bisa fokus pada sosok pengarang (latar belakang pendidikan, alasan menulis, apa keistimewaannya, hikmah dari pengalaman luar biasa si penulis), desain sampul buku (kalau misal punya ketertarikan disitu), pengorganisasian buku.
-> Sepertinya saya belum pada tahap ini, karena kadang saat baca buku belum mau nulis yang fokus begitu. Biasanya resume general, dan emg dirasa kadang "core" nya malah kurang dapet. Perlu dicoba.

3. Comparing
Teknik membandingkan, Teknik tertinggi yang akan optimal dilakukan bila 2 teknik sebelumnya sduah dilakukan cukup lama. Perlu baca buku lainnya yang sejenis, analisis lebih dalam dan lebih terukur. Yang perlu diperhatikan dan "diikat" makna nya lebih banyak.

Bagi pak hernowo, pada akhirnya, proses mengikat makna bisa dilanjutkan dalam konteks apa saja. Pokonya ketika bersentuhan dengan hal hal yang bermanfaat bagi diri, langsung dituliskan. Bisa dari nonton film, denger musik, bahkan ketika melihat diri sendiri, langsung IKAT!

Mengikat makna dapat membantu saya dalam mengenali pikiran, perasaan, dan apapun yang bergejolak di dalam diri saya. -hernowo

"Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang lain -entah hal itu nyata atau imajiner- merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kuta mengenai apa sebenarnya diri kita san bisa menjadi seperti apakah diri kita ini."
-Ursula K. L. Guin

Terimakasih pak hernowo, semoga semakin semangat mengikat makna lagi, memudahkan diri dalam proses belajar selanjutnya :)

Tuesday, November 11, 2014

Konsekuensi dari Iman

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman," sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
--Qs. Al Ankabut 2-3

Ya, konsekuensi dari iman adalah ujian. Iman ada jenjangnya, surga ada tingkatannya. Ujian ada untuk mendewasakan, membawa kita pada jenjang yang lebih tinggi, pada tingkatan surga yang bisa diraih maksimal.

Allah tahu kemampuan hambanya. Kalau ingin naik tingkat keimanan, bersiaplah karena setanpun tak taggung-tanggung membuat kita lemah.

Selasa, 11 November 2014
Memaknai sepercik ayat Allah dari buku salim a fillah (bahagianya merayakan cinta) dan teteh hasri

:"

Sunday, May 26, 2013

Tunggu! Saya Juga Seniman!


"Tunggu! Saya juga seniman!"
Jawaban menakutkan yang mungkin terdengar,
"Bagaimana kau tahu?"
Tentunya seorang seniman baru tidak akan pernah tahu.
Hanya ada impian, perasaan, dorongan, hasrat.
Jarang sekali ada bukti nyata, tetapi impian itu terus membumbung.

--Julia Cameron, Meniru Kreativitas Tuhan--

Sunday, May 5, 2013

Beramal Islami di Dalam dan Melalui Jamaah (Anis Matta)


Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencintai
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu
-M. Iqbal

Itulah beberapa bait dari sajak doa iqbal. Mungkin batinnya menjerit pada kesaksiannya atas zamannya: umat ini seperti daun daun yang berhamburan. Seperti daun daun yang gugur diterpa angin, tak ada lagi kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih menggayut pada pohonnya.

Begitulah kenyataan umat ini: mungkin banyak orang salih diantara mereka, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah bernama jamaah, mereka hilang diterpa angin zaman. Mungkin banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu diantara mereka, tapi semuanya berserakan di sana sini, tak terhimpun.

Maka, jamaah adalah alat yang diberikan islam bagi umatnya untuk menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, supaya padu dengan kekuatan setiap orang shalih, orang hebat atau satu potensi bertemu pada dengan kekuatan saudaranya yang lain, yang sama shalihnya, yang sama hebatnya, yang sama potensialnya.

Jamaah juga merupakan cara yang paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan individu. Di dalam satu jamaah, individu-individu yang mempunyai kemiripan disatukan dalam sebuah simpul. Maka, meskipun ada banya jamaah, itu tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Bagaimanapun, jauh lebih mudah memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau simpul simpulnya, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu.

Maka jalan panjang menuju kebangkitan umat ini harus dimulai dari menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, merajut kembali jalinan cinta diantara mereka, menyatukan potensi dan kekuatan mereka, kemudian meledakkannya pada momentum sejarahnya, menjadi pohon peradaban yang teduh, yang menaungi kemanusiaan.

Tapi, itulah masalahnya.  Ternyata, itu bukan pekerjaan yang mudah; ternyata, cinta tidak mudah ditumbuhkan diantara mereka; ternyata, orang shalih tidak mudah disatukan; ternyata, orang hebat tidak selalu bersedia menyatu dengan orang hebat yang lain. Mungkin itu sebabnya, ada ungkapan di kalangan gangster mafia: seorang prajurit yang bodoh, kadang-kadang lebih berguna daripada dua orang jenderal yang hebat. Namun, tidak ada jalan lain. Nabi umat ini tidak akan pernah memaafkan setiap orang diantara kita yang meninggalkan jama'ah, semata-mata karena ia tidak menemukan kecocokan bersama orang lain dalam jama'ahnya. Bagaimanapun, kekeruhan jama'ah, kata imam Ali bin Abi thalib r.a jauh lebih baik daripada kejernihan individu.

DARI INDIVIDU KE  JAMA'AH
Orang-orang shalih diantara kita harus menyadari bahwa tidak banyak yang ia berikan atau sumbangkan untuk islam kecuali kalau ia bekerja di dalam dan melalui jama'ah. Mereka tidak dapat menolak fakta bahwa tidak ada orang yang dapat mempertahankan hidupnya tanpa bantuan orang lain; bahwa tidak pernah ada orang yang dapat melakukan segalanya atau menjadi segalanya; bahwa kecerdasan individual tidak pernah dapat mengalahkan kecerdasan kolektif. Bekerja di dalam dan melalui jamaah tidak hanya terkait dengan fitrah sosial kita, tapi terutama terkait dengan kebutuhan kita untuk menjadi lebih efisien, efektif, dan produktif.

 Ada juga alasan lain. Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia dilakukan didalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan, dan lain-lain. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat modern menjadi sangat efektif, efisien dan produktif.

Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada pada individu-individu yang lain.

Jadi kebutuhan setiap individu muslim untuk bekerja atau beramal islami di dalam dan melalui jama'ah, bukan saja lahir dari kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan produktivitasnya, tapi juga lahir dari kebutuhan untuk bekerja dan beramal islami pada level yang setara dengan tantangan zaman kita.


Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri tanpa organisasi, dan kalau ada biasanya tanpa manajemen.


Pilihan untuk bekerja dan beramal islami di dalam dan melalui jama'ah, hanya lahir dari kesadaran mendalam seperti ini. Namun, kesadaran ini saja tidak cukup. Ada persyaratan psikologis lain yang harus kita miliki untuk dapat bekerja lebih efektif, efisien, dan produktif dalam kehidupan berjama'ah.


  1. Kesadaran bahwa kita hanyalah bagian dari fungsi pencapaian tujuan. Jama'ah didirikan untuk mencapai tujuan-tujuan besar: jama'ah bekerja dengan sebuah perencanaan dan strategi yang komprehensif dan integral. Di dalam strategi besar itu, individu harus ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan elemen yang diperlukan untuk mencapainya. Jadi, sehebat apapun seorang individu, bahkan sebesar apapun kontribusinya, dia tidak boleh merasa lebih besar daripada strategi dimana ia merupakan salah satu bagiannya. Baegitu ada individu yang merasa lebih besar dari strategi jama'ah, strategi itu akan berantakan. Untuk itu, setiap iindividu harus memiliki kerendahan hati yang tulus.

  1. Semangat memberi yang mengalahkan semangat menerima. Dalam kehidupan berjama'ah terjadi proses memberi dan menerima. Namun, jika pada sebagian besar proses kita selalu pada posisi menerima, secara perlahan kita "mengonsumsi" kebaikan-kebaikan orang lain hingga habis. Itu tidak akan pernah mampu melanggengkan hubungan individu dalam sebuah jama'ah. Betapa bijak nasihat KH. Ahmad Dahlan kepada warga Muhammadiyah, "Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah."

  1. Kesiapan untuk menjadi tentara yang kreatif. Pusat stabilitas dalam jama'ah adalah kepemimpinan yang kuat. Namun, seorang pemimpin hanya akan menjadi efektif apabila ia mempunyai prajurit-prajurit yang taat dan setia. Ketaatan dan kesetiaan adalah inti keprajuritan. Begitu kita bergabung dalam sebuah jama'ah, kita harus bersiap untuk menjadi taat dan setia. Akan tetapi, ruang lingkup amal islami yang sangat luas membutuhkan manusia-manusia kreatif, dan kreativitas tidak bertentangan dengan ketaatan dan kesetiaan. Jadi, kita harus menggabungkan ketaatan dan kreativitas; ketaatan lahir dari kedisiplinan dan komitmen, sementara kreativitas lahir dari kecerdasan dan kelincahan. Hal itu merupakan perpaduan yang indah.

  1. Berorientasi pada karya, bukan pada posisi. Jebakan terbesar yang dapat menjerumuskan kita dalam kehidupan berjama'ah adalah posisi struktural. Jama'ah hanyalah wadah bagi kita untuk beramal. Maka kita harus selalu berorientasi pada amal dan karya yang menjadi tujuan utama kita berjama'ah, dan memandang posisi struktural sebagai perkara sampingan saja. Dengan begitu, kita akan selalu bekerja dan berkarya, ada atau tanpa posisi struktural.

  1. Bekerjasama walaupun berbeda. Perbedaan adalah tabiat  kehidupan yang tidak dapt dimatikan oleh jama'ah. Maka, menjadi hal yang salaha jika berharap bisa hidup dalam sebuah jama'ah yang bebas dari perbedaan. Yang harus kita tumbuhkan adalah  kemampuan jiwa dan kelapangan dada untuk tetap bekerja sama dengan perpecahan dan karena itu kita tetap dapat bersatu walaupun kita berbeda.


JAMAAH YANG EFEKTIF
Mungkin jauh lebih realstis untuk mencari jama'ah yang efektif ketimbang mencari jama'ah yang ideal. Kita adalah umat yang sakit. Setiap kita mewarisi kadar tertentu dari penyakit tersebut. Jika orang-orang sakit itu sering bertemu dalam sebuah jama'ah, pada dasarnya jama'ah itu juga merupakan jama'ah yang sakit. Itulah faktanya. Namun, tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan.

Jama'ah yang efektif adalah jama'ah yang dapat mengeksekusi atau merealisasikan rencana-rencanaya. Kemampuan eksekusi itu lahir dari integrasi antara berbagi elemen: ada sasaran dan target yang jelas, strategi yang tepat, sarana pendukung yang memadai, pelaku yang bekerja dengan penuh semangat, dan lingkungan strategi yang kondusif. Jama'ah yang didirikan untuk kepentingan menegakkan syariat Allah di muka bumi akan menjadi efektif apabila ia memililki syarat-syarat berikut ini:

  1. Ikatan akidah, bukan kepentingan. Orang-orang yang bergabung dalam jama'ah itu disatukan oleh ikatan akidah, dipersaudarakan oleh iman, dan bekerja untuk kepentingan Islam. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan duniawi yang biasanya lahir dari syahwat; keserakahan (hubbud dunya) dan ketakutan (karahiatul maut).

  1. Jama'ah itu sarana bukan tujuan. Jama'ah itu tetap diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan, sehingga tidak ada alasan untuk memupuk dan memelihara fanatisme sekedar untuk menunjukkan kesetiaan pada jama'ah. Hilangnya fanatisme juga memungkinkan jama'ah-jama'ah itu saling bekerja sama diantara mereka, membangun jaringan yang kuat, dan tidak terjebak dalam pertarungan yang saling mematikan.

  1. Sistem, bukan tokoh. Jama'ah itu akan menjadi efektif jika orang-orang yang ada di dalamnya bekerja dengan sebuah sistem yang jelas, bukan bekerja dengan seseorang yang berfungsi sebagai sistem. Pemimpin dan prajurit hanyalah bagian dari strategi, sistem adalh sesuatu yang terpisah. Dengan cara ini, kita mencegah munculnya diktatorisme, di mana selera sang pemimpin menjelma menjadi sistem,

  1. Penumbuhan, bukan pemanfaatan. Sebuah jamaah akan menjadi efektif jika ia memandang dan menempatkan orang -orang yang tergabung ke dalamnya sebagi pelaku-pelaku, yang karenanya perlu ditumbuh-kembangkan secara terus menerus, untuk fungsi pencapaian tujuan jama'ah itu. Jama'ah itu akan menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi perkembangan kreativitas individunya, dan tidak memandang mereka sebagai pembantu-pembantu yang harus dipaksa bekerja keras, atau sapi-sapi dungu yang harus diperah setiap saat.

  1. Mengelola perbedaan, bukan mematikannya. Jama'ah yang efektif selalu mampu mengubah keragaman menjadi sumber kreativitas kolektifnya, dan itu dilakukan melalui mekanisme syura yang dapat memfasilitasi setiap perbedaan untuk diubah menjadi konsensus.***



____________________________________________
Sebuah tulisan Anis Matta dalam bukunya yang berjudul "Dari Gerakan Ke Negara : Sebuah rekonstruksi Negara Madinah yang Dibangun dari Bahan Dasar Sebuah Gerakan"
Buku ini recomended banget menurut saya, membuka pikiran tentang esensi negara dalam islam, tahapan yang dicontohkan rasulullah, tentang rakyat dan pemimpinnya, tentang paradigma berpikir bagaimana penegakkan syariat yang sebenarnya, dan banyak hal lainnya.
Dari sekitar 30 essay singkat yang ada di buku ini, saya pilih yang ini karena cocok dengan apa yang saya pikirkan mengenai suatu hal yang terjadi di lingkungan terdekat saya, dan saya bingung harus berbuat apa, dan mulai dari mana. >,<

Thursday, May 2, 2013

Konsolidasikan Kembali Umat


Sebuah kutipan tulisan ustadz anis matta dari buku "Dari Gerakan ke Negara".
Saya kutip karena setuju dan pernah berpikir hal yang sama tapi tanpa bisa menterjemahkannya menjadi susunan kalimat hehe :)

* * *

KONSOLIDASIKAN KEMBALI UMAT

Yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa dunia islam telah terbelah lagi, terpecah lagi, dan terjebak dalam pilihan-pilihan yang hanya semakin memperdalam lubang perpecahan itu. Itu bukan karena kita menghadapi serangan mahadahsyat dan mendesak dari orang lain. Itu semata-mata karena senjata saudara-saudara kita telah dipakai untuk membunuh saudara kita sendiri.

. . .

Di hadapan kita tiba-tiba terkuak sebuah lubang yang menganga lebar bahwa dengan mudahnya umat ini diinfiltrasi dan dipecah belah oleh musuh dalam dirinya sendiri. Itu berarti ada cacat besar dalam struktur kehidupan umat kita. Cacat besar tulah yang menjadi salah satu ciri dari masyarakat yang tidak terorganisasi

. . .

Masyarakat yang tidak terorganisasi menyimpan berbagai kerapuhan dalam dirinya: kekuatannya terpecah dan tidak solid; emosi kolektifnya tidak sama dan karenanya kehilangan semangat pembelaan; mempunyai pemimpin yang ada secara fisik, tapi tidak mempunyai fungsi kepemimpinan; sering bertemu tapi tidak merumuskan apa-apa, apalagi melakukan sesuatu; tidak ada kebanggaan kolektif yang sama-sama mereka rasakan dan karenanya sulit dikonsolidasi; keragaman mereka merupakan sumber perpecahan dan bukan sumber produktivitas; keunggulan-keunggulan individu diantara mereka tidak terakomodasi dalam struktur organisasi kolektif mereka dan karenanya mengalami disfungsi; mereka tidak mempunyai kesiapan yang memadai untuk mengantisipasi berbagai tantangan, terutama yang bersifat tiba-tiba dan mengejutkan.

. . . 

Setiap individu muslim saat ini harus memperbarui kembali komitmennya kepada risalah dan jalan hidupnya sebagai muslim. Disitulah ia mengondisikan dirinya untuk memiliki kerendahan hati yang memadai, untuk dapat bekerja sama dalam sebuah tim. Mendistribusikan pekerjaan selanjutnya adalah perkara teknis.

Monday, March 11, 2013

copying what you love

start copying what you love
copy copy copy copy
at the end of the copy
you wil find yourself
--Yohji Yamamoto

♥ ♥ 

Wednesday, March 6, 2013

curious and deeper #pict #quote


You have to be curious about the world in which you live.
Look things up chase down every reference.
Go deeper than anybody else -- that’s how you’ll get ahead
(Austin Kleon - Steal Like an Artist)

#tumblrstyle hehe
#thebookilove

Wednesday, February 13, 2013

CUR to the HAT, CURHAT!


Kita sering menyebutnya curhat. Sejak masa remaja alay ku dulu, curhat menjadi suatu kegiatan yang paling anak muda banget. Topiknya seputar kecengan, keluarga, masalah sama pacar, musuh, segala weh diomongin  dll. Masih ingat dulu juga punya buku curhat se geng, dan kalau dilihat lagi kayak, "oh tidak, aku pernah se kampring itu!" hahaha.

Seiring bertambahnya kedewasaan (halah), frekuensi curhat semakin menurun. Masing-masing orang dewasa sudah punya pikirannya sendiri, terkadang menganggap hal-hal kurang penting tak perlu diungkapkan menjadi sebuah topik pembicaraan. Ekstremnya, sampai ketika sebenarnya kau seharusnya mengungkapkannya dengan bebas, kau juga malah tak mengungkapkannya. Terkadang kita menyimpannya terlalu dalam. Secara ringkas, James W. Pennebaker -seorang ahli psikologi)menyebutnya dengan pengekangan. Ya, kusimpulkan bahwa  curhat merupakan salah satu cara untuk melepaskan diri dari pengekangan.
Dalam buku Ketika Diam Bukan Emas, banyak dipaparkan hasil-hasil penelitian beliau mengenai bagaimana kegiatan mencurahkan isi hati (self-disclosure) bisa berpengaruh positif bagi perasaaan, pikiran, dan kesehatan tubuh kita dalam jangka panjang. Setelah membaca buku ini, makin sadar betapa kegiatan curhat itu begitu sangat penting!

Kutub yang berlawanan dengan pengekangan adalah konfrontasi. Istilah ini dimaksudkan sebagai upaya seseorang untuk memikirkan dan atau membicarakan pengalaman yang penting serta mengakui emosi yang terkait dengannya. Melakukan konfrontasi secara psikologis akan mengatasi segala akibat dari pengekangan, baik psikologis maupun secara kognitif (Pennebaker, 1990).
Konfrontasi sebagai cara mengatasi pengekangan, dapat secara simpel kita sebut curhat lah ya.
Cara curhat bisa berbagai macam, biasanya pada sahabat dekat, melalui tulisan pada blog, nulis diary, atau bahkan mengungkapkannya pada orang yang asing sama sekali. Apapun caranya.

Dan namanya baca buku, kita akan ambil sesuatu yang paling cocok dan pas sama diri kita kan? Hihi. Nemu yang asik nih :

"Pengekangan juga bisa memengaruhi kemampuan berpikir. Dapat terjadi perubahan cara berpikir yang secara potensial merusak. Dalam menahan pikiran dan perasaan penting yang terkait suatu peristiwa, biasanya kita tidak berpikir tentang peristiwa itu secara luas dan integratif. Dengan tidak membicarakan suatu peristiwa yang ingin kita sembunyikan, biasanya kita tidak sanggup menerjemahkan peristiwa itu ke dalam bahasa. Hal ini menghalangi kita untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan peristiwa tersebut." (Pennebaker, 1990)

Kita mainnya pikiran gituloh! Anugerah yang diberikan Sang Pencipta buat kita pakai sebaik-baiknya. (Bukti bahawa pikiran manusia sebegitu pentingnya bisa baca Terapi berpikir Positif nya Pak Dr. Ibrahim Elfiky)

Nah lanjutnya,
"Melakukan pelepasan terhadap suatu trauma membantu manusia memahami, dan akhirnya menyesuaikan diri terhadap peristiwa traumatis itu. Dengan menuliskan atau membicarakan pengalaman yang sebelumnya dikekang, orang yang bersangkutan dapat membahasakan peristiwa itu. Apabila sudah dibahasakan orang bisa semakin memahami pengalaman tersebut dan akhirnya bisa mulai meninggalkannya." (Pennebaker, 1990)

Mungkin itu salah satu  alasan kenapa dulu saya suka mengungkapkan hal-hal yang mungkin mempermalukan diri sendiri (buka aib -_-), tapi membuat saya nyaman karena saya sudah "melepaskan semuanya". Nah kalo sekarang kayanya gatau kenapa rada ngerem nih, ngga nyaman loh beneran. Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa saya baca buku ini hihi.

Baca buku psikologi memang selalu menyenangkan, terutama ketika ada yang pas banget buat diri kita. Hihi.
Bukunya asik banget kok, ilmiah, dan  banyak contoh-contoh real yang mendukung hipotesis beliau.

Yak, belajar terus mengungkapkan apa yang dirasakan!
ekspresikan emosi ! Yeay
Ga perlu takut juga dibilang "curcol nih yee"
*curhat colongan

Pustaka:
Pennebaker, James W. 1990. Ketika Diam Bukan Emas - Berbicara dan Menulis Sebagai Terapi. Penerbit Mizan. Bandung
(Buku terjemahan dari Opening Up: The Healing Power Of Expressing Emotion)

*Judul terinspirasi barusan dari liat blog nya debi hehe :p

Friday, August 24, 2012

Pagi Ini Aku Cantik Sekali


Pagi ini saya cantik sekali
Padahal sudah berhari-hari rasanya saya adalah The Beast, makhluk buruk rupa dari negeri antah berantah. Berkali-kali saya menengok ke cermin, namun apa yang terpampang di cermin memang bukan mimpi. Pantulan wajah yang terukir di sana sungguh menarik, bahkan dalam pandangan mata saya sendiri

Lihatlah mata saya, maka engkau akan mendapati apa yang dapat saya dapati di cermin pagi ini. Mata itu berbinar-binar bak bintang bercahaya meski tanpa softlens. Kelopaknya yang tanpa eyeshadow tampak segar, sehat dan penuh. Tak ada sembab maupun kantung lebam di sekitarnya. Sungguh, pagi ini saya cantik sekali

Lihatlah pipi saya dan engkau akan melihat apa yang saya lihat di kaca pagi ini. Pipi yang tanpa bedak dan blush on itu bersemu, lembut dan jernih. Urat-uratnya rileks dan santai. Permukaannya halus tanpa jerawat. Betul, pagi ini saya cantik sekali.

Lihatlah senyum di bibir saya! Pasti engkau akan menyaksikan apa yang saya saksikan di cermin pagi ini. Senyum di bibir yang tanpa lipstik itu sedemikian merekah. Benar, pagi ini saya cantik sekali.

Lihatlah dagu saya maka engkau akan melihat apa yang saya lihat pagi ini. Dagu yang mengilat itu terangkat lurus, sejajar dengan rahang yang kokoh namun lembut.

* * * * * *

Maka hal apakah gerangan yang menjadikan hari ini saya cantik sekali?

Tadi pagi saya bangun dengan badan segar, shalat shubuh, kemudian membaca wirid ma'tsurat sambil  gerak badan di halaman. Tak ada acara bergelung kembali pascasubuh. Saya mengisi rongga dada dengan udara pagi yang bersih penuh-penuh hingga kulit pun terasa ikut bernapas lewat segenap pori-porinya. Aha! Mungkin itu yang membangungkan seluruh pori-pori saya dan memberikan kesegaran pada permukaan kulitnya.  Seluruh urat syaraf pun rileks dan santai hingga menyebabkan pipi ini bersemi, halus, lembut, dan jernih, memancarkan gembira dan riang hati.

Mengapakah saya bisa bangun pagi dengan segar dan tidak tidur lagi sehabis shalat shubuh?

Tadi malam! Ya, semalam saya tidur nyenyak sekali tanpa mimpi. Padahal sebelumnya tidur saya hampir selalu dihinggapi mimpi yang melelahkan hingga saat saya bangun, seputar mata menyisakan kantong bewarna legam, dan akhirnya saya tidur lagi sehabis shalat shubuh yang menyebabkan mata menjadi sembab. Aha! Mungkin ini yang menyebabkan kelopak mata saya segar, sehat dan penuh, serta tidak sembab atau berkantung, menggambarkan pemiliknya tidur nyenyak tanpa beban.

Mengapa saya dapat tidur tanpa diganggu mimpi?

Hmm, tadi malam menjelang tidur saya tak lupa membaca doa, kemudian mengantar tidur dengan ayat kursi, wirid dan mengulang hafalan meskipun sedikit. Saya juga sempat mengingat kembali apa yang telah saya lakukan hari itu bagi diri saya dan orang lain, kemudian mengikhlaskan diri atas semua interaksi dengan segala makhluk. Saya menutup mata sambil mengisi nurani penuh-penuh dengan cinta sampai ruh melayang meninggalkan raga. Aha! Bisa jadi itu yang menyebabkan mata saya berbinar, memancarkan aura semangat dan cinta yang tulus dari hati.

Jauh sebelum subuh tiba, Allah membangunkan saya untuk beberapa rakaat shalat lail dan witir. Aha! Barangkali hal ini yang menyebabkan saya mempu mengangkat dagu sejajar dengan rahang. Penuh percaya diri, karena yakin Allah menyertai.

Dan akhirnya, saya dapat mengakhiri aktivitas domestik saya pagi ini dengan santai sebelum memulai aktivitas publik. Tak lagi dikejar-kejar waktu. Menyapa setiap tetangga kamar dan tetangga rumah dengan gembira dan senyum lebar, meluluskan keramahan yang tulus. Dari teman sebaya, ibu-ibu, nenek-nenek, bapak-bapak, teman kecil saya hingga kucing tak bertuan menumpang di sofa depan. Assalamu'alaikum! Apa akabar pagi ini? Ibu sehat? Hai, mau berangkat sekolah, Dik? Hai, kucing manis. Nyenyak tidurmu semalam?

Segala puji bagi Allah! Sungguh, saya cantik sekali pagi ini.

Dan tiba-tiba saya ingat, semua sikap jiwa akan berimbas kepada penampilan fisik. Semangat dan optimisme akan memancar den menjadikan mata berbinar-binar sebagaimana luka dan kesedihan meredupkan cahaya penglihatan. Kedamaian, kebersihan hati dan sikap positif akan terbayang pada senyum yang rekah penuh keramahan, sebagaimana kedengkian dan kemarahan akan mengeruhkan roman muka. Kepasrahan dan kepercayaan pada Allah akan memancarkan aura wajah yang jernih dan segar, sebagaimana keputusasaan akan menyebabkan kelesuan. Mahasuci Allah yang telah mengaruniakan  kecantikan pada saya pagi ini.

* * * * * *

Mungkin ada saat-saat di mana kita kehilangan kecantikan kita, tapi pastikan kita meraihnya kembali. Maka ayo, bangkit dan 'dandani' jiwa ada agar kecantikan itu segera kita miliki lagi, berapapun usia kita, apapun status kita. Kemudian tatap wajah anda di cermin. Insyaallah, engkau akan menjumpai wajah nan cantik dan menarik.

Azimah Rahayu, 29 Agustus 2002
Pagi Ini Aku Cantik Sekali

Travel : Pengemis dan Muhajirin


Dua kategori ini diambil dari sebuah buku berjudul Nyantri di Luar Negeri yang ditulis oleh Deddy Mulyana. Sebenarnya penjelasan ini memaparkan kondisi di Australia sana, tapi saya pikir bisa dipakai dimana saja.

Menurut Ismail Al-Faruqi, Muslim migran itu bisa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pengemis dan Muhajirin
  1. Kelompok pertama, Mereka yang bekerja memperoleh rezeki, belajar memperoleh ilmu pengetahuan di perguruan negeri tinggi, tanpa mempunyai komitmen untuk mengenmabngkan islam, beramar ma'ruf nahi munkar. Muslim jenis ini bisa menjadi parasit bagi negeri dimana mereka tinggal, terlepas dari apakah mereka produktif atau tidak. Bahkan jika mereka produktif pun, misal dengan menghasilkan penemuan riset di laboratorium atau perpustakaan, mereka hanya menambah apa yang sudah ada
  1. Kelompok kedua, Mudah-mudahan kita termasuk kelompok ini, orang-orang yang datang ke negeri baru bukan saja untuk mengembangkan profesi mereka atau mencari ilmu, melainkan juga terdorong untuk menelaah islam lebih jauh. Mereka mempunyai komitmen baru bagi Islam. Mereka merasa bahwa kedatangan mereka ke Negeri yang baru adalah suatu langkah yang dikehendaki dan dibimbing oleh Allah, yang mengilhami mereka untuk menjadi khalifah di muka bumi, untuk menghidupkan dan mencintai Islam, serta mendakwahkannya kepada orang lain. Mereka menjadi juru dakwah islam dan berusaha menjadi contoh terbaik orang-orang Islam. Perspektif mereka memberi mereka kriteria untuk menilai dan menyelamatkan negeri baru dari kejahatan dan kekacauan moral. Orang-orang inilah yang telah melayani dan mengembangkan islam di Negeri Ini,...

__________________

Bergidik saya, kelompok pertama --yang secara sepintas baik-baik saja-- ternyata masih dikatakan pengemis!
Yah, mungkin yang membedakan memang orientasi dan paradigma dari kedua kelompok tersebut.

Perkenankan aku menjelajah Bumi-Mu yang luas, Ya Allah!!

___________________

Deddy Mulyana. 2004. Menuju kejayaan islam di australia dalam buku Nyantri di Luar Negeri. Hal 69-70

Sunday, July 22, 2012

Cara Alternatif Mengawali dan Menutup Pembicaraan


Barangkali ada manfaatnya jika saya mengemukakan pandangan mengenai hal ini.
Saya tidak akan  berupaya menyampaikannya berdasarkan penelitian ilmiah atau mengupas makna-makna idiomatik. Ini sekedar yang ditulis secara spontanitas, sehingga yang dikemukakan disini hanya yang dapat diingat dan dirasakan.

Jika apa yang akan saya kemukakan ini benar, berarti kebenaran itu semata-mata dari Allah dan hanya milik-Nya segala puji. Jika tidak demikian, maka hanya kebaikanlah yang sebenarnya saya inginkan. Kuasa Allah-lah dalam segala urusan, sebelum dan sesudahnya.

Dikutip dari tulisan Hasan Al Banna dalam buku Memoar Hasan Al-Banna, dalam tulisan berjudul Tentang Tasawuf. Rangkaian kata-kata di atas dalam teks aslinya tentu saja ada hal mengenai Tasawuf, tapi karena dalam posting kali ini saya beri judul : "Cara Alternatif Mengawali dan Menutup  Pembicaraan", maka saya ambil yang bersesuaian.

Kenapa saya ambil kutipan tersebut?
Karena menurut saya ungkapannya sangat bijak,
Terutama pada bagian yang di bold.
Selama ini orang-orang (dan saya) lazim mengatakan "kebenaran datang dari Allah dan kesalahan dari saya pribadi", dan sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu.
Namun saya pikir, itu tadi. Ungkapan itu sangat bijak, menyampaikan maksud bahwa sebenarnya hanya kebaikanlah yang sebenarnya dimaksudkan oleh pembicara :)

Kamar, 20 Juli 2012
1 Ramadhan 1433 H

Wednesday, June 13, 2012

Setan dan Kehendak Hati


Kami pernah duduk di depan Ka'bah selepas shalat Maghrib. Pada saat kami sedang berbincang-bincang di waktu yang penuh dengan keimanan itu, tiba-tiba seorang teman saya bertanya,
"Setan itu merasuki bukan lantaran kehendak manusia."

Maka saya katakan,
"Sebenarnya kehendak itu adalah suatu fasilitas yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia yang dapat membantunya untuk memilih kebenaran atau kebatilan, dan peran setan disini adalah menghiasi kebatilan, hingga dipilih oleh manusia dengan kehendaknya."

* * * * * * * 
Dari buku Renungan Kehidupan, buku kumpulan tulisan-tulisan Abdul Hamid Al-Bilaly. Pada halaman 17 dengan judul Setan dan Kehendak Hati. Jakarta. Penerbit Qisthi Press. Cetakan Kedua tahun 2005.

Ditulis beliau setiap  setelah subuh selama 2 tahun. Menurut beliau, saat fajar terbit dan setelahnya, adalah saat paling baik di sepanjang hari, lantaran pada saat itu para makhluk diliputi ketenangan dan jauh dari kebisingan, jiwa pun merasakan ketentraman dan keteduhan. Pada saat itu jiwa manusia menjadi jernih, sunyi dari bersitan dan perasaan yang mengusik. Itu adalah saat dibaginya rejeki. Bersitan nurani dan kelapangan hati adalah satu macam dari rezki yang dibagikan Allah pada saat itu.

*recomended book, karena kontennya beragam, hasil perenungan dengan mengikat makna yang kaya, bukan sekedar materi. Mengetuk bagian sisi jiwa yang lain, yang haus akan hikmah :)



 Balitsa, 7 Juni 2012

Monday, May 14, 2012

mengapa harus tegas #1

Jadi ada suatu masa dimana Rasulullah SAW diajak kompromi sama petinggi-petinggi kaum Quraisy, (Walid bin Mughirah, Aswa bin Abdul Mutahalib, dan Umayyah bin Khalaf)
Ceritanya mereka  menawarkan suatu perjanjian pada rasul terkait kehidupan beragama yang mereka jalani

Mereka menawarkan,
Selama satu tahun, mereka akan menyembah tuhan yang Muhammad Sembah, dan
Di tahun berikutnya, Muhammad dan kaumnya lah yang harus menyembah tuhan mereka.
 "Kalau agama Muhammad yang benar, kami tentu untung. Dan kalau agama kami yang benar, Muhammad pun akan untung," begitu katanya.

Sepintas, rasanya biasa saja. Toh kedua belah pihak tidak saling dirugikan karena mendapat konsekuensi yang sama.

Tapi, benarkah?
Kalau begitu, dimana letak keimanan kita?


Saat itu Muhammad dengan tegas menjawab:
"Aku berlindung kepada Allah dari Perbuatan menyekutukan-Nya"
Dan kemudian membacakan surat Al-Kaafiruun, yang menegaskan penolakan sikapnya.

Oh, ya Rasul :)

 * * * * *
Sebuah potongan kisah yang singkat, tapi sedikit mengetuk pikiran saya.
Bayangkan bila saat itu Muhammad menyetujui tawaran itu
Bayangkan bila Muhammad adalah seorang yang oportunis yang hanya menginginkan keamanan bagi dirinya sendiri
Bayangkan bila aturan Islam memperbolehkan adanya percampuran keyakinan (aqidah)

 * * * * *
Kalau saat itu Rasulullah menyetujuinya, bisa jadi Islam yang kita dapatkan saat ini bukan islam sesungguhnya, karena akan terdapat suatu campur tangan manusia.

Tapi toh itu tidak terjadi kan?


 * * * * *
Ide tulisan ini berawal dari buku tafsir al-qur'an kontemporer-nya Ustadz Aam Amirudin, pada surat Al-kaafiruun. Sangat jelas bahwa dalam surat ini,  sarat dengan ketegasan. Inilah toleransi dalam beragama yang sesungguhnya. Hidup berdampingan dan saling tolong menolong dengan kaum agama yang lain, namun tidak dalam hal aqidah. Tidak ada paksaan, tidak ada paksaan untuk mengkhianati agama yang sudah diyakini.

Tidak bermaksud berandai-andai,
Saya hanya memikirkan ini sebagai kelanjutan dari pemikiran saya yang lain mengenai :
Alasan-alasan mengapa harus bersikap tegas dalam beragama.
Bukan kaku atau tidak toleransi, namun dengan prinsip yang dipegang teguh, sebetulnya dari sanalah pesona Islam terpancar.
Selama ini terkadang saya melakukan toleransi-toleransi yang setelah dipikir-pikir kurang tepat.

Katakanlah," Hai orang-orang kafir !
Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.
Dan tiada (pula) kamu menyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku bukan penyembah apa yang biasa kamu sembah.
Dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah.
Bagimu agamamu dan untukku agamaku."
(109:1-6)

Dalam gagasan #1 mengapa harus tegas?
image source: http://www.wallpaperseek.com/blog/tag/sun-rise-wallpaper/

Wednesday, April 25, 2012

Panduan Berkemah :)



 
Berkemah adalah sarana penting dan efektif dalam amal thullaby (pemuda) dimana para mahasiswa berkumpul cukup lama di suatu tempat. Tidak seperti sarana yang lain, berkemah cukup besar andilnya dalam membina hubungan sosial dan budaya diantara para mahasiswa.

KEISTIMEWAAN
1.   Disukai
2.   Sarana efektif untuk ta'aruf
Adanya interaksi yang cukup lama secara langsung di antara peserta --> proses perkenalan lebih efektif. Antar semua pihak. Panitia pun lebih mudah mengenal peserta (akhlak, karakter dan pemikiran, dll)
3.    Melatih disiplin terhadap waktu
Program hariannya seharusnya bisa diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari (waktu-waktunya diefektifkan)
4.    Memperkuat dan menambah kesegaran fisik
Kegiatan olah raganya --> meningkatkan kemampuan fisik, pembiasaan hidup sehat
 5.   Memperbaiki pemikiran & bisa mengarahkan pada akhlak mulia dan keteladanan yang tinggi (dengan kegiatan tsaqofahnya)
6.  Wadah mengenal potensi dan kemampuan, melatih dan mengembangkannya.
7.  Membiasakan hidup mandiri

JENIS JENIS
1.       Dengan tujuan khusus (olahraga, kepanduan)
2.       Dengan beragam tujuan (tsaqofiyah, refreshing, pelatihan, dll)

PERSIAPAN DAN PENYELENGGARAAN
Waktu sebelum pelaksanaan adalah waktu yang berharga. Semakin baik persiapannya, semakin besar keberhasilan yang mungkin di raih, semakin banyak tujuan yang dapat tercapai
Beberapa hal yang penting dilakukan panitia:
1. Menentukan sasaran
Sasarannya mengacu pada sasaran amal thullaby
·Melihat potensi dan bakat peserta, mengembangkan dan memfungsikannya
·Bertambahnya tingkat sisi ruhiyah dan ibadah
·Latihan fisik dan kekuatan
·Peningkatan tsaqofah, tukar pendapat dan penyebaran fikrah
·Ta'aruf dan keakraban
·Melatih untuk dapat beramal dan meningkatkan kemampuannya.
2. Menentukan waktu pelaksanaan
·Antara awal persiapan dengan pelaksanaan harus ada waktu yang cukup, sehingga bisa berjalan baik.
·Undangan untuk peserta bisa lebih awal agar dapat mempersiapkan diri (karena setiap orang mungkin punya prioritas berbeda di waktu yang sama tho?)
·Dilaksanakan di waktu yang tepat (berikhtiar mencari waktu sebaik-baiknya.)
3. Menentukan tempat
·Udara dan suasana yang kondusif, segar, tenang
·Diusahakan luas
·Dekat dengan berbagai fasilitas
4. Mempersiapkan lokasi
·Lokasi tidur dan keperluannya
·Tempat untuk masak
·MCK memadai (ada air, terpisah ikhwan akhwat, ada alat kebersihan)
·Tempat yang sesuai untuk acara bersama, dengan logistik yang mungkin diperlukan (whiteboard, spidol, alat peraga, kertas dll)
·Tempat shalat
·Tempat olah raga dan segala keperluannya
5. Mengundang dan mengajak mahasiswa
Mengundang dalam rentang waktu yang pas, memberitahukan dan memahamkan sasaran dan tujuan acara
6. Memilih pengisi acara
·Sesuai jadwal yang ditetapkan
·Menyiapkan cadangan bila yang satu berhalangan
·Menguasai tema dan mampu memberi pengaruh pada pendengar (berkesan)

BEBERAPA GAMBARAN ACARA
1.    Acara dimulai setelah subuh, memperhatikan waktu shalat, waktu rileks, acara bebas
2.    Menempel jadwal agar mudah dilihat peserta. Bila ada perubahan, diumumkan.
3.    Jadwal acara harus ditepati. Meskipun boleh diganti sesuai kondisi
4.    Acara olah raga dilakukan pagi hari sesudah matahari terbit, disesuaikan dengan peserta dan tujuan.
5.    Pemberian materi (ceramah) sebaiknya pagi hari, sebaiknya jangan diadakan setelah makan siang/makan malam/olah raga (tergantung)
6.    Peserta terlibat dalam menyiapkan makanan dan menjaga kebersihan. Adanya pembagian pekerjaan agar terbiasa dengan amal jama'i (bersama-sama)
7.    Jika ada kunjungan ke suatu tempat, dipersiapkan minimal sehari sebelumnya
8.    Acara-acara harus bervariasi sepanjang hari. Misal: 1 hari melatih kemahiran tertentu, hari lain keterampilan yang lain.
9.    Harus ada penanggung jawab yang mengurusi hal-hal penting dan menerima masukan, pengaduan, dan berkoordinasi dengan ketua-ketua seksi, serta mengubah acara.
Pelaksana bertugas menjalankan acara dan langkah-langkah teknis
10.  Jaga interaksi agar terbina hubungan yang baik selama acara maupun setelahnya.

EVALUASI
1.    Minta pendapat peserta (feedback) terhadap seluruh acara. Menganalisa kekurangan dan upaya perbaikannya serta menyampaikan pada peserta hasil-hasil evaluasi tersebut
2.    Mengevaluasi kinerja panitia (ketua, pelaksana lapangan) sesuai evaluasi peserta dan berdasarkan rencana, apakah tujuan tercapai atau belum.

Diketik ulang dengan beberapa perubahan seperlunya (tanpa mengubah makna).
Sumber:
Thahan, M.M. 2002. Risalah Pergerakan Pemuda Islam. Penerbit VISI. Jakarta.

*Berkemah (Mukhoyyam)
image source : http://tendakemping.com/tag/peralatan-camping/

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...