Showing posts with label menikah. Show all posts
Showing posts with label menikah. Show all posts

Saturday, December 27, 2014

Telur Ceplok "Salting"

Akhirnya kami berdua dipersatukan :)
Ya, tak terasa kini sudah hampir menginjak 1 bulan.
Banyak hal yang belum kuceritakan ya? Sabar ya, aku juga tak sabar untuk menceritakannya :D

Pagi ini alhamdulillah kami mendapat kesempatan makan di hotel ibis surabaya, sembari makan, si sayang nge share artikel tentang suami yang ridha dengan telur dan tempe yang gosong buatan istri.

Ngomong ngomong soal telur, Saya jadi ingat, 4 hari setelah kami menikah, saya mulai menyiapkan sarapan untuk akang. Jrenggg! Masih baru cuy, bingung mau mulai dari mana. Hihi. Biasanya makan misal nyiapin buat sendiri, ngga ada perasaan gimana gimana, enak ga enak ya makan, karena yang makan kita sendiri. Lah ini, apa apa yang kita lakuin, kita bikin, untuk orang lain, suami yang masih baru, jadi masih deg deg an.

Siapa sih di dunia ini yang ngga bisa masak telor ceplok? Hehe
Entah kenapa Telor ceplok pertama buatan saya untuk akang itu failed banget ahehe.
Malu karena diliatin, trus pake teflon yang ga biasa, jadi lengket.
Terus bentuknya absurd banget, hehehe. Plis telor ceplok doang, nutup mata juga harusnya oke. Ahehehe

Tapi si akangnya sabar aja ngabisin sarapannya. Alhamdulillah. Maafin ya kang, makasih banyak :))

Emang masa awal awal nikah, masa banyak percobaan, mesti siap dengan apa pun yang disajikan hehe (sing sabar). Kata yang udah nikah, awal-awal sang suami mesti siap siap dengan rasa masakan yang hambar, keasinan, atau bahkan siap siap diare. Sebulan ini aman kok, belum diare kan ya kang? Hehe
Banyak sabar ya kang hehe :p

Lobby Ibis Rajawali Surabaya,
27 Desember 2014

Wednesday, November 26, 2014

Resume Seminar Pranikah 23 Nov : Opening

Opening : Tilawah Hafizh & Shalawat Rasulullah

Hasil seminar yg menginspirasi, ilmu yg sgt luas.. 23.11.14 
Walaupun panjang, semoga bermanfaat dan InsyaAllah ga akan rugi baca ampe akhir. Semoga semakin banyak keluarga berkualitas di Indonesia ini..  

Seminar ini dimulai dgn pembacaan quran oleh Abdul rohman al hafidz
@Ar_motivaquran :

Sapi Betina (Al-Baqarah):164 - Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Sapi Betina (Al-Baqarah):165 - Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Keluarga 'Imran ('Āli `Imrān):31 - Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Keluarga 'Imran ('Āli `Imrān):32 - Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

Ar Rum: 21
Bangsa Romawi (Ar-Rūm):21 - Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Al furqan 74
Pembeda (Al-Furqān):74 - Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Pembacaan Quran tanpa melihat buku, seorang hafiz yg mengingatkan bahwa Allah adalah zat di atas segalanya, dan cinta kita kepadaNya harus melebihi segalanya. 

- Acara dilanjutkan dgn special performance dr Kang Abay, motivasinger @kang_abay

Lagu2nya sgt bagus, benar2 dipikirkan dgn matang dan mengingatkan kita kepadaNya. Lagu pertama yg dibawakan adalah ttg Nabi Muhammad dan mengingatkan kita utk memperbanyak bersalawat. Bayangkanlah rasul sgt dekat saat kita bersalawat.

Reff dr lagunya: 
Kau yang terindah
Wahai Muhammad Nabi tersayang
Kau yg membuatku 
Merasakan cinta seperti ini
Kumencari jejakmu
Waktu terus berlalu
Tetapi dirimu adalah penantian terhebatku

To be continued..

***************
Resume seminar ini ditulis oleh salah satu sahabat terbaik saya, karlina febrianti, founder komunitas Wegrow. Betapa bersyukurnya saya yg ingin dapat hadir tapi ngga bisa, kemudian di beri resume nya :")
Barakallah lin :"))

Sunday, November 23, 2014

Roller Coaster Pernikahan

Oleh : Fahd Pahdepie

Saya menuliskan catatan ini untuk adik laki-laki saya, Futih, yang beberapa jam lagi akan melangsungkan pernikahannya.

Membayangkan apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan Futih pada saat-saat ini, ingatan saya kembali pada lima tahun lalu, tepat beberapa jam sebelum mebacakan ‘ijab qabul’ saya pada Rizqa. Saat itu saya hanya butuh diri sendiri, juga sebuah ‘momen’. Semacam jeda sebelum pesta, di mana saya bisa meredam segala kecemasan untuk kemudian berusaha memaknai pernikahan dari sudut pandang yang paling pribadi: Apa itu pernikahan? Bagaimana menjalani semuanya?

Saya membaca status Facebook Futih malam tadi. Sambil menyebut calon istrinya, Rela, di status itu, Futih menemukan refleksi yang mengagumkan mengenai pernikahan: “Inilah roller coaster yang susungguhnya. Kadang kita harus teriak kencang ketakutan, kadang harus bahagia melepas segala beban. Di atas semua ketakutan itu, kita tahu, semua akan baik-baik saja,” tulisnya. Membaca hasil perenungannya, sebagai kakak, tentu saja saya merasa bangga. Saya tersenyum membacanya. Ada ketenangan tersendiri yang menyelinap dari dalam hati saya. Di tengah segala rasa cemas dan gelisah, tampaknya Futih sudah menemukan ‘momen’-nya sendiri. Dan di momen itulah, Futih melihat pernikahan sebagai sebuah roller coaster yang akan segera dinaikinya bersama Rela.

Sebagai seorang kakak, saya ingin memberikan beberapa nasihat untuk Futih dan Rela. Saya akan menggunakan amsal roller coaster untuk melakukannya. Mudah-mudahan ini sederhana.

Bayangkan kalian berdua akan menaiki sebuah roller coaster yang menawarkan ketakutan sekaligus kegembiraan. Kalian tahu semua ini tidak akan semudah yang dibayangkan, kalian sudah mendapatkan banyak cerita mengenairoller coaster semacam ini… di mana sebagian orang berhasil berbahagia menjalaninya sementara sebagain lain merasa frustrasi mengalaminya. Kalian tidak tahu akan menjadi jenis yang mana dari dua kemungkinan itu. Di tengah situasi semacam itu, kalian merasa cemas sekaligus ingin tahu. Persis seperti perasaan seorang anak yang akan menaiki sebuah roller coaster untuk pertama kali dalam hidupnya… kalian begitu bersemangat, berbahagia, tetapi sekaligus takut. Di sanalah keberanian kalian diuji, melalui sebuah janji.

Pernikahan adalah sebuah perjanjian. Tanpa perjanjian, pernikahan tak akan bermakna apa-apa. Apapun yang terjadi, berjanjilah untuk menolong cinta kalian agar tetap hidup. Berjanjilan untuk saling menjaga dan melindungi, untuk berbicara pada saat kata-kata begitu dibutuhkan, untuk diam pada saat kata-kata tak dibutuhkan… untuk saling setuju atau tidak setuju berdasarkan kasih sayang, untuk menciptakan kehangatan dan ketenangan di antara kekhawatiran kalian berdua. Bayangkan saja kalian saling menggenggam tangan di atasroller coaster yang bergerak naik-turun dengan kecepatan yang barangkali tak sempat kalian perhitungkan lagi, bayangkan kalian menjadi sepasang suami-istri yang harus mengelola kebahagiaan dan ketakutan mereka bersama-sama.

Barangkali semua itu tak tertulis di buku nikah, tak ada dalam ‘sighat ta’liq’, tetapi berjanjilah untuk saling menjaga satu sama lain: Merawat dan menumbuhkan kesabaran, sebesar cinta membutuhkannya. Setelah pernikahan, tak semua barangkali sesuai yang kita bayangkan sebelumnya. Akan ada hal-hal yang membuat kita merasa bangga berlebihan tentang pasangan kita, akan ada hal-hal yang membuat kita kecewa… Di sanalah kalian diuji untuk tetap setia pada ‘janji’. Sesuatu yang di hari pernikahan dibacakan untuk diri sendiri dan pasangan kita, sementara Tuhan dan semesta menyaksikan semuanya.

Sebelum menaiki roller coaster, kita diberitahu tentang beberapa ‘anjuran keselamatan’, seperti menyandarkan punggung, membuka mata, atau memegang erat-erat bar pelindung tubuh kita. Tetapi kenyataannya, di atas wahana dan perjalanan sesungguhnya, ada begitu banyak hal lainnya yang tak diberitahukan sebelumnya. Seperti itu jugalah pernikahan. Tak semua yang akan kita jalani ada dalam buku tips atau nasihat-nasihat pernikahan yang pernah kita dapatkan. Kita sendirilah yang tahu bagaimana menjalaninya, kita sendirilah yang tahu bagaimana mengelola kegembiraan dan kesedihan masing-masing. Hanya kita yang tahu kapan harus berteriak, kapan harus menutup mata, kapan harus mengeratkan genggaman dan saling mendoakan. Tak ada satupun orang lain yang bisa berdiri di atas sepatu nasib yang kita kenakan, kan?

Di atas semua itu, kita tahu… ‘saling membantu pekerjaan rumah’ tak pernah tertulis di buku nikah, tentang membahagiakan pasangan tak pernah disebutkan di surat perjanjian yang ditandatangni di depan penghulu. Tetapi kita harus mengerti bahwa semua itu adalah bagian penting yang dibutuhkan dalam sebuah pernikahan. Mencuci piring, menyetrika pakaian, membersihkan rumah, mencari nafkah, mendidik dan membesarkan anak-anak, tak pernah diatur secara jelas sebagai tugas istri atau suami, sebab hanya kalian yang tahu bagaimana mengatur, membagi, dan mengelola hak-hak dan kewajiban kalian berdua. Demikianlah, tak ada yang lebih baik daripada saling mengerti dan memahami.

Di atas roller coaster, kadang-kadang kita membandingkan diri kita dengan orang lain: Mengapa pasangan kita ketakutan sementara orang lain tidak? Mengapa pasangan kita begitu cengeng dan manja? Mengapa kita merasa biasa-biasa saja sementara orang lain begitu histeris menjalani semuanya? Wajar saja melihat pernikahan orang lain dan membandingkannya dengan kehidupan kita, tetapi ‘selalu memanding-bandingkan’ tak akan membuat kita berbahagia. Kita tak akan menikmati perjalanan jika melulu disibukkan dengan melihat dan membanding-bandingkan pasangan kita dengan orang lain. Maka cukupkanlah semuanya, cukupkanlah cinta di antara kalian berdua.

Jika melihat perempuan lain lebih menarik daripada pasangan kita, itulah saat yang tepat untuk membuat pasangan kita terlihat lebih cantik dan lebih menarik lagi. Cinta, harus diakui, pada satu sisi adalah soal ketertarikan fisik, maka rawatlah baik-baik hal-hal yang berhubungan dengannya. Buat diri kita sendiri merasa bangga memiliki dan menjadi pendampingnya. Barangkali ini nasihat yang agak berbeda dengan kebanyakan orang, tetapi dengarkan baik-baik—

Laki-laki seringkali komplain tentang kulit istrinya yang tak semulus kulit perempuan lainnya, tetapi tak pernah sekalipun memberi kesempatan pada istrinya untuk merawat tubuhnya. Kita sering tertarik melihat perempuan lain yang berpenampilan menarik seraya bertanya-tanya mengapa istri kita tak bisa seperti mereka, tetapi pada saat bersamaan kita tak pernah memberikan dukungan apapun untuk membuat istri kita berpenampilan lebih cantik lagi dari yang kita lihat sehari-hari. Maka tentang membelikan kosmetik yang baik, mengantarnya luluran atau ‘facial’, berbelanja sepatu atau tas baru, mencukupkan dan mendukung semua kebutuhannya lahirnya, kapan saja selalu sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan batinnya.

Di atas roller coaster yang bergerak naik turun itu, kalian tidak sendirian. Pernikahan bukan hanya tentang kalian berdua. Pernikahan adalah tentang menyatukan dua keluarga. Di sana, penting untuk saling mengerti dan memahami keluarga satu sama lain, mengelola ego kalian berdua untuk menghadapi semuanya bersama-sama. Kelak kalian akan melahirkan anak-anak, memperbesar peluang kebahagiaan dan ketakutan kalian berdua di sebuah tempat yang akan kalian sebut sebagai ‘rumah’. Bangunlah rumah itu dengan kasih sayang dan doa-doa. Tumbuhkanlah cinta di setiap sudutnya.

Tentu saja, nasihat ini bisa lebih panjang lagi. Dan lebih panjang lagi. Kita bisa berbicara tentang apa saja. Tetapi kelak kalian juga akan mengerti dan memahami semuanya berdasarkan pengalaman kalian sendiri. Saya tak bermaksud mengguri. Apa yang sudah dan sedang saya alami belum tentu lebih baik dibandingkan dengan apa yang akan kalian alami. Anggap saja ini hadiah dari seorang kakak untuk adik laki-lakinya yang akan menikah. Mudah-mudahan sederhana saja.

Akhirnya, selamat menempuh hidup baru, adikku. Seperti katamu: Iniahroller coaster yang sesungguhnya. Kadang kita harus berteriak kencang ketakutan, kadang harus bahagia melepas segala beban. Di atas semua itu, tenang saja, semua akan baik-baik saja dengan cinta!

Selamat menikah. Jadikanlah semua ini yang terbaik sepanjang hidupmu, yang pertama dan terakhir, hingga maut memisahkan kalian berdua.

Teriring semua doa terbaik yang pernah ada: Selamat berbahagia!

Melbourne, 22 November 2014

Fahd Pahdepie

Sumber : http://fahdpahdepie.com/post/103239020967/roller-coaster-pernikahan

Sunday, November 16, 2014

Kebiasaan Baik Ibu Hamil (bersama Al-Qur'an)

Ceritanya ble'e ble'e begini saya juga ingin jadi penghafal qur'an ._.
Semoga kita dilimpahkan Allah kekuatan untuk mengubah sekedar keinginan menjadi tekad yang kuat ya! Aamiin

Ini ada sebuah kisah yang mudah mudahan bisa menguatkan tekad. Ini pas buat dibaca bagi para calon ibu dan yang ingin punya kwluarga qurani.
Karena interaksi dengan quran bukan hanya untuk kita, tapi untuk amanah generasi-generasi yang suatu saat akan kita didik :)
* * * *

66x KHATAM QURAN SAAT HAMIL
(Satu Keluarga Satu Hafizh)

Istiana (40)
Ibu Rumah Tangga, Jakarta Selatan

Saya hafal Qur'an sejak umur 15 tahun, hasil menghafal secara intensif selama satu tahun dua bulan. Pada usia 19 tahun saya menikah dengan suami yang juga hafizh Qur'an. Kami menyusun rencana untuk melahirkan anak-anak generasi Qur'ani.

Langkah pertama kami, mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak mungkin saat saya hamil. Alhamdulillah, selama masa kehamilan anak pertama, Abdullah Wafiy (16), saya bisa menghatamkan Qur'an 66 kali.

Saat Wafiy berusia 11 bulan, saya harus menelan pil pahit, suami meninggal dunia setelah demam tinggi selama dua hari. Namun, tekad untuk menghasilkan putra-putri penghafal Qur'an tetap saya pegang.

Saya menikah lagi saat Wafiy berusia lima tahun. Bersama suami, Afdal Zikri Mawardi (48), saya berupaya menghidupkan Al-Qur'an di rumah. Tradisi memperbanyak khataman saat hamil juga saya teruskan. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, Wafiy bisa menyempurnakan hafalan 30 juz di usia 10 tahun saat masih duduk di kelas 4 SD. Kini, adik-adiknya juga giat menghafal. Abdullah Azzam Afdal (9) hafal 3 juz, Yahya Ayyasy Afdal (8) hafal 2 juz, Ahmad Yasin Afdal (6) baru rampung 1 juz, dan si bungsu Fatimah Afdal (3) yang masih acak hafalannya.

Di rumah, saya membuat program menghafal untuk anak-anak. Usai shalat Maghrib, saya wajibkan mereka mengaji. Saya ajari tilawah dan menghafal sesuai usianya. Muraja'ah juga saya jalankan dengan cara talaqqi, saya membacakan lalu mereka mengikuti. Masya Allah, anak-anak cepat sekali menyerap hafalan. Saya ulang lima kali, mereka sudah hafal. Mungkin ini karena pembiasaan saat hamil dulu. Memang butuh kesabaran, karena anak-anak kecil sulit untuk duduk manis. Jadi, mereka muraja'ah sambil main mobil-mobilan atau lainnya.

Waktu yang kedua, saat subuh. Anak-anak kami biasakan untuk bangun pukul 03:30. Sambil menunggu waktu shalat Subuh, mereka saya ajak muraja'ah secara bergantian sambil duduk melingkar. Dimulai dari adiknya, misal, yang membaca surat An-Nas. Lalu kakaknya melanjutkan surat Al-Falaq. Diteruskan lagi oleh kakaknya yang membaca surat Al-Ikhlas. Terus begitu sampai sempurna 1 juz.

Sebelum tidur, mereka juga saya perdengarkan setengah sampai 1 juz Qur'an hingga mereka terlelap. Bahkan setiap hari kelahiran anggota keluarga dan ulang tahun pernikahan kami, kami mengadakan khataman Qur'an. Semua itu adalah upaya kami untuk membudayakan Qur'an di rumah, bukan sekadar menghafal untuk mengejar target atau meraih gelar hafizh...

* * * * *
Masyaallah..
Sampai sekarang masih takjub dengan yang sudah hafizh, semacam 'tidak masuk akal tapi nyata'. Tiap orang punya kondisi berbeda, mungkin sang ibu memang sudah terkondisikan sejak usia belasan tahun untuk bisa menghafal. Kalo kita engga begitu terus gimana dong? Misal umur saya sekarang udah hampir 23, tapi jangankan 30 juz, juz 30 aja masih pontang-panting?

Bismillah.. asal tekad kuat dan konsisten insyaallah bisa. sudah banyak kok buktinya. Bukan cari gelar hafizh nya, semoga bisa menambah kedekatan sama Allah lewat Quran. Aamiin..

Friday, November 14, 2014

Anak Perempuan : Kebaikan Yang tak Panjang di Dunia, Tabungan Akhirat.

Halo, assalamualaikum :)
saya seorang anak perempuan yang 2 bulan lagi akan berusia 23 tahun, sekarang usiamu berapa?

Akhir akhir ini saya lebih siaga untuk menyiapkan hati dan telinga diantara pukul 10.00-11.30 supaya dapat kajian rumahku syurgaku-nya ummu yusuf di mq fm.

Setelah mendengar kajian ini, saya merasa kaget sekaligus takjub karena baru saja menyadari hal ini. Ditulis dengan campuran ikatan makna pribadi. Semoga bermanfaat ya. Bismillah..

* * * * *

Keutamaan Bersabar Mendidik Anak Perempuan

Banyak dari kita tak begitu menyadari apa hakikat perbedaan memiliki anak laki-laki maupun perempuan. Kita semua tahu, anak adalah anugerah dari Allah, dan apapun jenis kelaminnya, tak jadi persoalan, kita harus tetap bersyukur.

Saya memosisikan diri sebagai seorang anak perempuan yang sebut saja sedang mempersiapkan diri menjadi seorang calon istri (kamu juga, kan? :)). Maka saat mendengar kajian ini saya membayangkan kedua orang tua saya, calon mertua (nantinya), serta saya saat menjadi seorang ibu di masa depan.

Kajiannya singkat, ada 2 hadits yang dibahas, satu persatu dulu ya

HADITS PERTAMA
Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631)

Menghidupi, menafkahi, mendidik, bersabar dengan segala urusan anak perempuan minimal sampai baligh.
Kita tahu bersama bahwa urusan "anak cewek" lebih rumit dibanding "anak cowok" yang simpel. Dari mulai model baju yang beragam sampai segala aksesoris pelengkapnya.

Tapi tahukah?
Yang lebih berhak atas seorang perempuan adalah suaminya. Dan yang lebih berhak atas anak laki-laki adalah Ibunya.
Maka ketaatan seorang perempuan pada suami lebih tinggi dibanding pada orangtua, padahal orangtua perempuan itu yang harus berrepot repot membesarkan dan mendidiknya.
Sedangkan bagi orangtua yang memiliki anak laki-laki, sang anak sepenuhnya masih bertanggung jawab pada kehidupan ibunya.
Bingung ga?

Perempuan tak bisa bebas mengunjungi orangtuanya sendiri bila tak diijinkan suaminya, maka pesannya : berdoalah Allah karuniakan suami yang shaleh, yang memahami hubungan kita dengan orangtua kita. Kita boleh kok meminta pada suami untuk juga memerhatikan orangtua kita. Tapi ingat, JADIKAN JALAN SURGA, BUKAN JALAN NERAKA. (Maksudnya tdk memaksakan, dan komunikasi dengan baik)

HADITS KEDUA
“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma. Lalu aku berikan sebuah kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan keluar bersama anaknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka” (H.R Muslim 2629)

Segala usaha atau amalan yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan anak tidak akan hilang, tapi akan jadi tabungan di akhirat, bahkan penghalang dari siksa neraka.

Diuji dengan anak perempuan?
Jadi kita ini ujian?!
Melengkapi pertanyaan itu, saya cari dari sebuah situs : Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Anak perempuan disebut sebgai ibtilaa’(ujian) karena umumnya manusia tidak menyukai mereka”. Lihat juga an-nahl 58 untuk tahu penyikapan terhadap anak perempuan pada jaman terdahulu.

Singkatnya : punya anak perempuan itu, kebaikannya tidak panjang di dunia, tapi jadi tabungan di akhirat. (Kalau diurus sebaik-baiknya ya..)

* * *
Pesan buat perempuan yang belum menikah : sadar sadar sadarr! Manfaatkan waktu kebersamaan dengan orangtua sebaik baiknya. Karena serius, tak lama waktu kita bisa berbakti sepenuhnya ._.

Pesan buat saya di masa depan kalau punya anak perempuan : bersabar dalam pemeliharaannya, dan relakan bila tiba saatnya segala kewajiban harus berpindah pada pendamping hidupnya.

Jumat, 14 November 2014

Silakan baca baca lagi, bisa dari sini muslim.or.id :)

Wednesday, November 12, 2014

Peristiwa Peradaban (Khutbah Nikah dari Ust Anis Matta)

Pernikahan itu seperti kematian, ia tak dapat diprediksi namun wajib untuk disiapkan. Pernikahan itu seperti kematian, ia tak perlu di bicarakan namun ia pasti akan datang”

Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.

Ini bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencinta lalu mengucap akad. Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia.

Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif.

Sakinah’ bukan Cuma ‘tenang’. Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang artinya ‘diam/tetap/stabil’. Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai.

Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komperhensif.

Alqur’an menjelaskan: ‘kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya’. Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas.

Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. 

Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun terlahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera.

Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai.

Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban. 

[Khutbah pernikahan anak Ust.Tate Qomaruddin oleh Ust. Anis Matta]

Sumber : blog teh Lintang
:)

Tuesday, November 11, 2014

Menjadi Menantu Idaman

Resume kopdar#8
Komunitas to be wonderful wife
Ahad, 7 September 2014
Oleh Ibu Sinta Yudisia
(Ibu 4 orang anak, psikolog, penulis)

MENJADI MENANTU IDAMAN

Hmm.. Materi ini terdengar berat ya? Karena memang seringkali menjadi momok bagi perempuan di Indonesia ketika ia berposisi menjadi seorang menantu. Rasanya lebih mudah jika berbicara menjadi istri atau ibu idaman daripada menjadi menantu idaman. Tapi tenang saja, segala sesuatu meski tidak ada sekolahnya tetap bisa kita pelajari. Termasuk belajar bagaimana menjadi menantu idaman. Karena sejatinya hidup adalah untuk belajar  ^_^

Yang perlu diingat, kita hidup di Indonesia yang setiap peran tidak terlepas dari budaya ketimuran kita. Kita bisa mengamati perbedaan penekanan budaya dari sebuah film. Pada film2 India, misalnya, hatta diwarnai tarian dan nyanyian,semua tokohnya termasuk tokoh antagonisnya juga akan digambarkan bagaimana mereka berbakti  kepada orang tua. Begitu juga saat genre film tersebut action.

Pada film Korea,  hampir setiap filmnya menekankan hubungan  kekeluargaan, meski genre-nya ‘romantis’.

Sedangkan untuk film hollywood menekankan kebebasan pilihan hidup, sisi personal satu tokoh saja.

Nah tentu saja menjadi ‘menantu’ di Indonesia tidak bisa lepas dari budaya ‘ikatan kekeluargaan yang kuat’. Atau bosa diartikan, menjadi menantu perempuan di negara2 Timur atau di Indonesia ini sangat berat. Hehehe..

Untuk menjadi menantu, istri dan ibu memang tidak ada sekolahnya, seperti yg disebutkan di awal tadi, namun kita bisa belajar dengan sharing bersama orang lain.
Salah satunya dari nenek saya.

Saat itu saya pernah bertanya kepada Beliau. Nek, apa sih tipsnya biar bisa jadi menantu yang baik? Beliau menjawab :  kuncinya cuma satu :  SABAR.

Sabar di sini bukan berarti hanya pasrah, di injak-injak diam saja seperti sinetron kita yang hanya menangis saat teraniaya hehe. Bukan demikian, namun seperti kata tokoh politik Anis mata,
sabar adalah terus maju dengan beban yang ada dan mencari cara untuk mengatasinya.
Salah satu aplikasi sabar adalah jika mertua berbicara maka menantu MENDENGARKAN.

Banyak cara yang bisa kita lakukan terkait hal ini. Misal coba tanyakan kepada ibu mertua kita tentang  anak beliau, tentang keluarga, tentang masa lalu beliau saat bertemu dengan bapak mertua, dsb. Selain itu kita juga bisa mencoba konsultasi masalah resep. Meskipun kita bisa googling di internet, tapi percayalah, mereka akan merasa dihargai sekaligus senang saat dimintai petunjuk seperti ini ^_^

Biasanya ibu mertua ditakdirkan berbeda dengan kita dan ibu kita. Entah dari kebiasaan, kemampuan, dsb. Ini menjadi tantangan untuk kita agar bisa belajar dan beradaptasi menjadi menantu yang baik.

Tips kedua ialah mempunyai PRINSIP.

Untuk masalah yang prinsip misalnya pengelolaan keuangan, kita boleh tetap bertahan dengan keinginan kita hanya saja tetap menggunakan cara yang tidak merugikan salah satu pihak. Buatlah kesepakatan2.
Ingat, Karena anak laki-laki adalah hak ibunya sehingga ridho mertua akan mempengaruhi kehidupan dan kebarakahan keluarga kita.

Masalah keuangan adalah hal yang paling sensitif. Terlebih jika suami atau kita masih punya tanggungan membiayai adik2.
Buatlah kesepakatan suami istri mengenai nominal uang yang dialokasikan untuk membantu keluarga masing-masing. Takar sesuai kemampuan. Jangan berniat membantu tapi sampai kita sendiripun terlilit hutang karenanya. Takar sesuai kemampuan. Karena saat telah berkeluarga, akan banyak pengeluaran yg tak terduga dan harus segera diselesaikan, misal pengobatan saat anak sakit.

Sebaiknya saat masih bujang, wanita hendaknya rajin menabung, karena di masa kritis keuangan saat menikah nanti kita bisa membantu meringankan beban suami. Misal saat butuh uang untuk biaya kontrakan atau membeli rumah baru, dsb. Hal ini juga bisa meningkatkan harga diri kita di depan suami In syaa allah.

Di Indonesia, masih kental stigma bahwa jika ada sesuatu yg kurang benar dengan rumah tangga anak laki2nya maka mertua akan mempertanyakan bagaimana menantunya. Misal cucian baju tidak bersih, setrikaan tidak rapi atau bahkan kehabisan uang pasti akan ditanyakan bagaimana ‘istrinya’.
Masing2 kita pasti memiliki kekurangan, tak apa, tonjolkan saja kelebihan kita. Bisa jadi kita tidak jago dalam urusan mencuci, tapi kita mahir dalam urusan dapur. Tidak selamanya mertua akan melihat kekurangan kita, apalagi sampai membicarakannya di depan umum. Asal kita pun punya kelebihan yang bisa beliau banggakan dari kita, menantunya.

Tipa ketiga ialah SHALAT MALAM.

Ceritakan permasalahan kita kepada Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Terkadang ada permasalahan yang tidak bisa kita ceritakan kepada suami. Tapi kita bisa ceritakan kepada Allah. Jangan sampai dengan menceritakan masalah kita (tentang mertua) justru kita malah mengadu domba anak dengan ibunya.

Meski menjadi menantu merupakan momok bagi kita namun kita bisa terus belajar dengan cara menjalin komunikasi yang baik dengan mertua, membuat kesepakatan mengenai sistem keluarga bersama suami, dan sebisa mungkin segera mandiri, tidak serumah dengan mertua (kecuali alasan2 mendesak seperti orang tua sedang sakit dan tidak ada yg merawat, dsb).

Meski kalau harus serumah masih bisa disiasati dan mengalah untuk menang.
Yang akan diingat mertua bukanlah hal-hal besar yang kita beri namun justru hal- hal kecil yang sederhana namun penuh ketulusan dan perhatian.
Cari tahu saja apa yang mertua suka, dan berikan. Asal masih sesuai kemampuan.
Hubungi mertua setidaknya sebulan sekali dan tanyakan kabarnya, apakah sehat, sedang apa, masak apa dsb. Hal2 ringan dan sederhana yg bisa kita lakukan agar semakin akrab dengan mertua.

Q : bagaimana jika tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga calon suami ada di bawah kita? Bagaimana jika latar belakang agama kedua keluarga tidak sama?
A : pasti kita butuh belajar beradaptasi ya. Lihat kebiasaan2nya dan pelajari. Cari jalan tengah. Jangan terlalu memaksakan kebiasaan kita agar diterima langsung sekejap mata.
Untuk masalah perbedaan latar belakang agama, jangan terlalu menonjolkan sisi2 yang masih menjadi perdebatan. Banyak hal yang sama dan berjalan harmoni.

Q : bagaimana dengan mertua yang membanding2kan menantu?
A : bersiaplah untuk dibandingkan. Karena membandingkan antar menantu hampir pasti terjadi di kalangan mertua2 Indonesia. Kenali kelebihan, dan tonjolkan. Tak perlu berusaha mati2an menjadi sosok menantu idaman seperti harapan mertua. Bisa lelah lahir batin. Sehebat2 kita berusaha, pasti akan dibandingkan.
Saat mertua berbicara kepada kita dan membanggakan menantunya yang lain, di lain kesempatan bisa jadi kita juga akan dibanggakan di depan saudara ipar kita.

Q : jika kita posisinya masih sebagai calon menantu, apa yang bisa kita lakukan?
A : ingat harga diri, jangan terlalu sering berkunjung ke keluarga calon suami. Kalaupun berkunjung, jangan sendirian.

Q : bagaimana tekhnik komunikasi yang cantik dengan mertua, agar tidak membuat beliau sakit hati atau justru membuat kita jadi menantu durhaka? Misal mengkomunikasikan masalah hal2 prinsip yang tidak sepaham, tentang masalah kesehatan anak
A : bagaimanapun, menantu statusnya adalah inferior. Jadi jika ingin memberi nasehat, sebisa mungkin bukan dari lisan kita. Misal masalah asi eksklusif bagi bayi 0-6 bln atau masalah minum jamu2an setelah melahirkan, bisa kita siasati dengan mengajak beliau saat imunisasi/ periksa si kecil ke RS. Bisa kita tanyakan ke dokter terkait hal ini dan biarkan mertua kita mendengarnya langsung dari ahlinya.
Untuk hal2 yang khawatir syirik semisal hatus ada gunting di bantal anak bayi dsb, ikuti saja tanpa niat syirik sambil perlahan2 kita komunikasikan. Ada seni dalam berdakwah. Bukan dengan langkah2 ekstrim yang justru membuat subyek dakwah kita antipati.

Q : bagaimana dengan ide mengkomunikasikan masalah kita lewat lisan suami? Pasti lebih mudah berkomunikasi dengan anak kandung sendiri
A : ada kalanya bisa kita lakukan, ada kalanya juga sebaliknya. Jangan terlalu sering, kita usahakan dulu komunikasikan sendiri. Karena tipe komunikasi laki2 dan perempuan tidak sama. Misal kita akan mengkomunikasikan pola pengasuhan anak, ternyata bahasa yg dipakai suami krg tepat seperti : sudah deh bu, jangan ikut campur. Ini kan keluargaku. Ini anakku.
Hati2. Karena suami cenderung akan membela istri. Khawatir bahasa yang dipakai kurang tepat dalam mengkomunikasikan masalah yg sedang dihadapi..

Q : kalau mertua marah bagaimana?
A : orang timur suka orang yang sopan. Jangan bersuara lebih keras dari mertua. Jika mertua marah, diam dan dengarkan saja

Q : bagaimana kalau menitipkan anak pada kakek neneknya?
A : perlu diwaspadai, kadang kala kakek nenek juga bisa jadi ancaman karakter bagi anak. Mungkin aman dari sisi fisik, tidak akan dianiaya dsb, tetapi seringkali yang muncul adalah perbedaan prinsip dalam pola pengasuhan anak. Karena terlalu sayang pada cucu dan tidak mau repot akhirnya apa yang diminta sang cucu akan diberi. Bisa jadi juga karen faktor usia dan mereka telah lelah. Tanyakan kepada mereka sejauh mana kesanggupan mereka dititipi anak2 kita. Buat pembagian tugas. Sebaiknya di tahap golden age ( 0-5 thn ) anak memang berada dalam pengasuhan tangan ibu sendiri. Jika ingin berkarir di luar rumah bisa menunggu saat anak telah melewati masa golden age nya

-end-

Sumber : http://anikawida.wordpress.com/2014/09/

Menjadi Ibu Tangguh

Oleh : Ustadzah Habibah

Ibu dahsyat itu quwwatut tahammul (kuat dalam menanggung, menjalankan tugas, menjalankan amanah).

Tangguh bukan hanya perkara fisik, tp yg lbh penting adalah kognitif dan perasaan. Tangguh itu pantang mengeluh. Ini yang Rasulullah ajarkan saat Fatimah meminta pembantu karena lelah dengan pekerjaan rumahnya. Rasulullah tidak memberikan pembantu, tapi justru mengajarkan untuk lebih bersabar, kuat, dan ikhlas. Ibu hebat itu adalah yang mampu melaksanakan tugas dengan ikhlas dan hati yang riang.

CARANYA :
1.  Husnuzan billah
Selalu berbaik sangka pada Allah atas apapun yang Allah beri karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya.

■ sebelum nikah,
kadang ada yg punya perasaan takut dulu kalo nanti saat jadi ibu akan repot ngurusin anak, rumah, dll. Padahal mereka yang sudah menikah pun banyak yang menjalankan perannya sebagai ibu dengan bahagia.
Banyak bersyukur, maka akan lahir perasaan senang dan bahagia.

■ saat waktunya tiba akan menikah,
Pikirkan dengan matang apakah dia yang terbaik? Caranya: istikharah. Selalu libatkan Allah dalam setiap keputusan penting yang akan kita ambil.
*bahkan ustadzah cerita, ayahnya  istikharah sampai sebulan untuk mencarikan pasangan terbaik untuk beliau.
Serahkan keputusan pada Allah, karena Dia pasti memberikan yang terbaik untuk kita.

■ setelah punya anak,
Tetap husnuzan selalu, bagaimana pun anak kita, fisik maupun sikapnya. Ga perlu ngeluh anak nakal, dsb. Selalu optimis bahwa kita masih bisa mendidik mereka selama kita masih hidup. Karena An Najah (sukses) baru terlihat setelah kita meninggal.

2. Ilmu
Banyak-banyak belajar. Dari mana pun. Jangan hanya dari buku, karena itu hanya teori. Belajar juga dari ibu-ibu lain secara langsung. Misalnya lihat anak yang pinter, hafidz, nah tanya tuh ibunya, gimana cara mendidik anaknya. Terbuka dengan semua orang, bahkan dari yang berbeda agama pun insya Allah ada teladan yang bisa diambil.

3. Jaga fisik
Mulai dari sekarang, bahkan yang belum nikah juga. Mulai dari olahraga, makanan yang dikonsumsi, istirahat, dll. Investasi dari sekarang! Ini akan menentukan juga kekuatan fisik kita saat tua nanti. Ibu dahsyat kan pasti banyak yang harus diurusi, jadi musti kuat

Semoga bermanfaat

Sumber : http://anikawida.wordpress.com/2014/09/

Monday, November 3, 2014

Gejolak dalam Penantian

Entah apakah para calon pengantin merasakan hal ini juga. Sebulan menjelang hari akad timbul berbagai gejolak atau kekhawatiran akan banyak hal. Aku sendiri mengalaminya. Ketidakyakinan akan kepantasan diri sendiri untuk bisa mendampinginya, serta kekhawatiran apakah ia adalah orang yang tepat.

Tapi satu hal, alasan yang membuatku akan sangat mensyukuri kehadirannya. Ia adalah lelaki yang penuh kelembutan hati. Eh, Bagaimana kau bisa tahu? Kau kan belum mengenalnya sepenuhnya? Tenanglah, tak ada orang yang mengenali orang lain 100 %, karena perkenalan itu sepanjang masa. Aku hanya melihat dan mendengar dari apa yang ibunya katakan tentangnya. Mencoba merasakan apa yang ibunya ungkapkan mengenai anak lelakinya itu.

Seorang lelaki yang tak sampai hati menyakiti ibunya, meskipun menikah dengan seburuk-buruk perempuan, tak akan pernah menyakiti istrinya. Aku yakin itu. Ia begitu menghormati dan menghayati betul sosok seorang perempuan.

Setelah itu, gejolak yang timbul tadi tiba-tiba sirna (ngga tiba tiba banget sih), berganti sebuah keyakinan bahwa aku sudah memilih orang yang tepat. Aku kembali ingat bahwa inilah yang memang menjadi salah satu alasanku untuk yakin terhadapmu, insyaallah :)

Ditulis di kamar, 3 November 2014
Sekarang diposting untuk kakanda yang sudah halal, yang lagi pusing dan kepanasan di Surabaya.
Selamat berjuang! :")

Wednesday, October 29, 2014

Wanita Cantik di Hari Tua nya

Flashback.
Entah apa yang membuat saya menjadi teringat akan hal ini pada hari ini.

Ramadhan lalu, di malam-malam jelang idul fitri, seperti biasa keluarga besar kami berkumpul dan berbincang di ruang tengah rumah Mbah. Sederhana saja, di atas lantai dingin beralaskan karpet tua.

Kami anak-anak bertugas memijat, ya, saya sih amatiran. Tahukah apa yang saat itu terlintas di pikiran saya?

* * * *

Orang tua, lebih khususnya seorang ibu. Wanita yang dahulu pernah muda, yang pernah begitu cantik dengan fisik yang menarik. Menikah, hamil, melahirkan, menyusui, merawat tempat tinggalnya, merawat keluarganya. Perlahan ia akan menua, dan tentu berubah secara fisik. Perubahan fisiknya akan sangat jauh drastisnya, dibanding saya yang saat ini terkadang terlalu 'berisik' saat kulit semakin menggelap atau saat timbul jerawat.

Saat muda kini mungkin kau langsing, tapi setelah melahirkan, kau sudah siap bila badanmu menjadi gemuk?

Pekerjaan rumah yang begitu banyak mungkin membuat kau harus rela  urat-uratmu lebih menonjol, otot-otot semakin kekar, kulit kasar, kulit kaki pecah-pecah?

Yah, memang begitu, bahkan lebih dari itu.
Maka benarlah, Allah tak mengukur kita dari seberapa cantik rupa kita.

Wahai perempuan,
Berdoalah semoga taqwa menjadi jatidiri terbaik kita, dan semoga Allah berikan pasangan terbaik untuk menjadi imam kita menuju-Nya.

Maka apalah arti cantik kini?
Mensyukuri yang Allah beri, merawatnya sebaik-baiknya, berjuang keras dalam keshalihan, shalihah :)

Kamar, 29 oktober 2014
Hajah Sofyamarwa R.

Friday, September 19, 2014

Wanita Penuh Barakah

"Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlak nya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya dan buruk akhlaknya."
Hadits

Aku tak mau jadi wanita yang celaka. Aku hanya ingin menjadi wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah, sungguh.

Wednesday, August 6, 2014

Fenomena Pernikahan Bulan Syawal


Hai para warga Blogger City! :D
Sebelumnya, empunya blog mengucapkan : SELAMAT IDUL FITRI 1435 H :D

Setelah hari raya idul fitri, seperti biasanya, terbitlah berbagai undangan pernikahan dari kawan-kawan. Sebut saja Winda (6/8), Yorga (10/8), Ka mirza (10/8), Ka Fahma (17/8), Pipit Zaky (23/8), teh Millaty (24/8), Ka Ume (30/8), Ka Lia (31/8). Masih kurang juga, undangan kamu mana? #jleb

Hehe, tenang saya bukan orang rese yang suka iseng menggangggu perikehidupan oranglain hehe. Serunya, ini bulan Syawal (kalender Islam, hijriah). Menikah di bulan syawal, fenomena kah? Di bulan syawal ini terutama, menurut saya iya. Jujur, sebelumnya saya ngga pernah merhatiin, tapi kali ini saya jadi penasaran sama hal itu. Kamu penasaran ga? Hehe

Ada apa sih di bulan syawal?

Kata orang, bulan syawal itu bulan peningkatan. Yap, setelah sebulan kita berusaha meraup obral pahala besar-besaran yang Allah sediain, kita dihadapkan kembali pada 11 bulan berikutnya untuk berjuang. Di bulan syawal juga, dapat terlihat (oleh mata manusia) indikator keberhasilan ramadhan kita. Biasa aja, makin memble, atau meningkat?
Terkait dengan tebaran undangan pernikahan di bulan syawal kali ini, saya penasaran, adakah firman Allah untuk melangsungkan ‘perjanjian yang berat’ itu di bulan syawal?

Hari baik untuk menikah?

Setahu saya, semua hari adalah baik menurut islam. Penentuan hari dan tanggal diikhtiarkan oleh kita saja sebagai manusia, tanpa perlu menggunakan jasa mbah-mbah primbon ato hal lain yang justru mengarah pada kesyirikan. Faktor kesiapan kedua calon dan kedua belah pihak keluarga besarlah yang lebih utama. Menganggap ada hari baik tertentu aja kurang jelas dasarnya, ternyata ada juga orang yang nganggap hari sial itu juga ada (semoga bukan kita).

Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan. Dan tidak ada seorang pun diantara kita melainkan (pernah melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap tawakal.
(HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)

Ramalan nasib adalah syirik..
(HR Abu Dawud no 3411)

Rasulullah Menikahi Aisyah pada bulan Syawal

Yap! Ini dia mungkin salah satunya. Seperti hadits di atas, rasulullah menikahi Aisyah pada bulan Syawal.

Dari hasil berguru sama si mbah google, saat jaman jahiliyah dulu, orang-orang menganggap akan sial kalau menikah di bulan syawal. Macem-macem ceritanya kayak : makna kata syawal itu 'mengangkat' (onta betina jaman dulu, saat bulan syawal menolak  kawin dengan onta jantan, dengan mengangkat ekornya) juga tentang anggapan bahwa waktu tersebut diapit oleh 2 hari raya besar islam *terus kenapa ya*, dst.

Mungkin untuk menepis anggapan itu, bunda aisyah menekankan bahwa dia tentu tetap beruntung walau menikah di bulan syawal ;) *yaiya bun, nikahnya sama rasulullah gituloh* hehe. Dari hadits riwayat muslim, Aisyah juga dulu suka menikahkan para wanita di bulan syawal.

So. Ngga perlu panik ngga bisa menikah di bulan syawal tahun ini, masih ada hari-hari baik lainnya pada 11 bulan yang lain. Hehe :p Sehabis bulan syawal justru ada 3 bulan haram yang disebutkan : “sangatlah baik untuk melakukan amal ketaatan!” (dari Zaadul Massir, tafsir 9:36)
Wallahu ‘alam, Selamat berstrategi! :D


Bandung, 6 Agustus 2014

Hajah Sofyamarwa R.

Friday, August 1, 2014

Cinta untuk perubahan

Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan efeksamping sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam.

Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekedar kekuatan fisik

- Erich Fromm

Friday, November 22, 2013

Kesan pertama membaca buku "Menikah Untuk Bahagia"

image source : http://www.indranoveldy.com/menikah-untuk-bahagia

Aku langsung tercerahkan pertama kali membaca kalimat pengantar dari tulisan mas Mas Indra Noveldy dan mbak Nunik Hermawati dalam bukunya yang berjudul Menikah Untuk Bahagia : Formula Cinta Membangun Surga di Rumah.
 
"Mama, Papa, Ibu, Bapak..
Buku ini kami persembahkan untukmu
Maafkan kami yang terlalu lama berproses.
Maafkan kami yang telah melukai hatimu.
Maafkan kami yang belum bisa membahagiakanmu
Kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu
Kami tidak akan pernah mampu
Ridhoi kami..
Ridhoi proses yang telah kami jalani
Kami ingin sekali engkau tersenyum
Melihat kami, anak-anakmu yang sekarang bisa memberi manfaat.."
Sebenarnya itu hanya sebuah rangkaian kalimat persembahan dari sepasang anak kepada orangtuanya, permohonan maaf dan permohonan keridhoan atas segala yang mereka hadapi. Hanya saja, entah bagiku itu juga sangat cocok bila dibaca oleh kedua orangtuaku, makanya aku jadi terpikir untuk 'menghadiahi' mereka buku ini.

Buku ini dibagi menjadi 5 bagian : (1) Tujuan, (2) Mindset, (3) Knowledge and skill, (4) Komitmen, dan (5) berserah. Sekilas aku melihat bahwa subbab-subbab yang ada dapat dibaca secara acak --begitu pula kata penulisnya-- karena tiap subbabnya mengandung gagasan-gagasan tidak runut namun bermakna.

* * * * *

Baru kusadar, aku bahkan belum masuk pada bagian ke-1 dari buku ini, tapi rangkaian kisah yang diberikan @bundanoveldy (mbak nunik) menjawab semua kekhawatiran dan ekspektasiku terhadap buku ini. Tulisannya dimulai dengan beberapa kutipan yang powerfull bagi sebuah pernikahan.

"Kebahagiaan pernikahan tidak diantar malaikat di atas nampan emas ke hadapan anda. You have to fight for it!!"

"The best thing a parent can do for a child is to love his/her spouse."

* * * * *

PERNIKAHAN IMPIAN, NIKMATI PROSESNYA
Aku langsung tertarik ketika beliau menceritakan bahwa adanya turbulensi hebat pada awal-awal pernikahan mereka dan bahkan dikatakan sering terjun bebas menuju jurang perpisahan. Maksudku, kini mereka adalah pasangan yang memberikan relationship coaching, dan tak pernah kubayangkan bahwa mereka mengalami hal itu juga --sebuah pernikahan, tentu saja mengalami banyak permasalahan . Aku jadi bisa menangkap bahwa buku yang kini hadir ini di tanganku merupakan saripati berharga yang diinduksi dari permasalahan-permasalahan mereka, dan punya misi untuk berbagi --agar sepasang suami-istri mampu melalui masa-masa sulitnya.

Ditulis dengan gaya penulisan diary --sangat personal, dari sudut pandang seorang perempuan. Mereka saling mencintai, namun tanpa disadari ternyata saling menyakiti. Kekhawatiranku disebutkan, maka aku semakin merasa cocok dengan buku ini, hehehe..

Kau tahu, bagaimana rasanya bila kita punya suami yang too good to be true, yang impiannya adalah kita? Yang impiannya mewujudkan sebuah keluarga yang penuh kehangatan dan kasih sayang? Maka istri adalah impiannya, maka istri sebagai komponen yang berperan besar untuk mewujudkannya.
Dari sudut pandang sang istri, banyak hal yang membuatnya kemudian merasa membunuh impian suaminya!  Beberapa penyesalan dan penyalahan atas kekurangan diri dimunculkan dengan sangat jujur, dan betapa ia berusaha memperbaikinya. Bayangkaaan!

Tapi, a man with a dream will not be denied; and if the dream is big enough, the facts don't count!Begitulah sang istri menggambarkan suaminya, seorang manusia yang menjaga dan bertahan dengan impiannya apapun yang terjadi.  What a though guy!

Aku kemudian mencoba merenung, membayangkan akan seperti apa bahtera pernikahanku nanti. Dua orang yang sangat berbeda dengan isi otak dan mimpi yang berbeda, harus hidup bersama dan berupaya mewujudkan mimpi bersama. Ya, mimpi bersama itu harus ada, bukan sebuah kewajiban melainkan sebuah konsekuensi logis dari sebuah pernikahan, bukan? Mereka memasuki pernikahan dengan impiannya masing-masing, namun bentuk kasih sayang Allah adalah dengan memberinya ujian luar biasa untuk mewujudkannya.

Aku mendapat pelajaran yang luar biasa,bahwa perubahan begitu 'enak' terdengar, namun sering kali kulupakan jatuh bangun proses mempraktekannya. "Tidak ada yang enak dan nyaman dalam proses untuk berubah, tetapi sangat berharga untuk dinikmati..", begitu katanya. Dan bagian yang paling kusuka adalah ini "Dia memberi banyak pelajaran berharga dan membuatku bisa berpikir benar. Seorang suami yang tidak mau memanjakan istri dengan melindungi dari rasa sakit untuk tumbuh."

Dari 10 pelajaran yang beliau tuliskan, 9 nya kurasa terjadi padaku juga. Haha! Kau baca saja ya bukunya hihi

Kemudian aku terkejut karena turbulensi dalam pernikahan mereka membuat sang istri semakin mengenal diri. Turbulensi yang membuatnya terus belajar mendalami karakter diri. Mungkin ini salah satu kekhawatiranku yang lain, tapi kemudian menjadi lecutan untuk segera selesai dengan diri sendiri.


Sebuah upaya pengikatan makna dari pengantar buku MUB
Baru nulis tentang pengantaaar :)

16 Oktober 2013


Wednesday, May 15, 2013

bukan lomba lari

Memangnya menikah itu perlombaan lari? Jadi ada yang lambat menikah? Cepat menikah?
Semua orang paham bahwa jodoh adalah rahasia Tuhan. Sayangnya, tetap saja banyak yang mendefinisikan 'telat menikah', atau sebaliknya 'pernikahan dini'. Tidak ada standar kapan harus menikah, karena semua orang khas. Jika tiba masanya, maka pasti akan terjadi.
--Tere Liye




Kaget, tapi selamat mempersiapkan ya re :)
Semoga dilancarkan dalam prosesnya sampai selesai 
barakallah

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...