Showing posts with label Kaderisasi. Show all posts
Showing posts with label Kaderisasi. Show all posts

Monday, March 17, 2014

Mengubah Orang Lain : Tentang Persepsi



Persepsi kita terhadap orang lain akan sangat memengaruhi sikap dan perilaku kita pada orang tersebut. Dalam konteks pendidikan/pembinaan, maka akan sangat memengaruhi cara kita membangun komunikasi dan tentu saja berpengaruh pada hasilnya. Sebut saja saya sempat menemukan sebuah kasus, yang kemudian solusinya saya coba cari. Susah. Hehe. Ini terkait posting saya yang sebelumnya “Mengubah Orang Lain?”, ya, ini terkait usaha­­-usaha kita dalam mengubah orang lain.

Mungkin kalian pernah menemukan kasus ini, saat kita berupaya mengubah orang lain akan sifat, sikap atau pengaruh buruknya. Segala jurus sudah dilancarkan, niat juga kayanya sudah bener *saat itu*, tapi hasilnya ngga sesuai dengan yang diharapkan.

Ini saya dapatkan dari bukunya mas Stephen Covey yang judulnya The Seven Habits of Highly Effective People. DIketik ulang dengan berbagai perubahan yang tidak mengubah makna. Kisah yang akan saya ceritakan adalah pengalaman pribadi mas Covey *so akrab* dan istrinya (mbak Sandra) menghadapi anaknya. Saya pikir itu salah satu inspirasi dan alasan kuat  mengapa buku beliau itu bisa hadir, masalah paradigma.
* * * * *

Kisah Covey, Sandra, dan Persepsi Tentang Anak Mereka
Covey dan Sandra punya seorang anak yang saat itu mengalami masa-masa buruk di kehidupannya. Prestasi buruk, tidak bisa mengerjakan ujian dengan baik, dan bahkan sulit mengerti instruksi dalam ujian. Secara sosial belum matang dan suka mempermalukan orang disekitarnya. Perawakannya kurus kecil, tidak terkordinasi, dan permainan baseball nya cukup buruk untuk ditertawakan teman-teman lainnya.

Beruntung sang anak punya orangtua yang memahaminya. Covey dan Sandra istilahnya kerjasama untuk memperbaiki sikap dan perilaku mereka pada sang anak. Mereka kompak untuk bersikap positif dan memberinya kata-kata positif, semangat, dukungan, dan pujian. Mereka juga melindungi anaknya ketika sang anak ditertawakan saat main baseball, “Jangan ganggu dia, ia baru belajar”. Sang anak akan menangis dan berkeras bahwa dia tidak bisa melakukannya dan bahwa sebenarnya sang anak memang tidak suka.

Secara kasat mata, bukankah memang itu sikap yang seharusnya sebagai orang tua? Ya, tapi nyatanya semua yang mereka lakukan tidak membantu. Ada apa? Akhirnya mereka menarik diri dan melihat situasinya dari level yang berbeda.

Saat itu Covey sedang memegang projek pengembangan eksekutif IBM, dan tertarik pada “bagaimana persepsi terbentuk, bagaimana persepsi mengatur cara kita memandang, dan bagaimana cara kita memandang akan mengatur bagaimana kita berperilaku.” (persepsi à cara memandang à perilaku). Saya dapat ilmu dari covey, bahwa kita harus melihat pada lensa yang kita gunakan untuk melihat dunia, pada dunia itu sendiri, dan bahwa lensa itu sendiri membentuk cara kita menafsirkan dunia.

Di tengah projek profesionalnya dan permasalahan ttg anaknya itu, Covey dan Sandra mulai menyadari satu hal, ini kutipannya :

“bahwa apa yang kami kerjakan untuk membantu anak kami tidak selaras dengan cara kami memandangnya. Ketika kami secara jujur memeriksa perasaan kami yang paling dalam, kami sadar bahwa persepsi kami adalah ia memang tidak cakap, agak ‘terbelakang’. Lepas dari betapa besar usaha kami memperbaiki sikap dan perilaku kami, usaha tersebut tidak efektif karena, walaupun kami sudah bertindak dan memberikan dorongan dengan kata-kata, apa yang kami komunikasikan kepadanya adalah : ‘kau memang tidak mampu. Kau harus dilindungi’.
Kami mulai sadar bahwa jika kami ingin mengubah situasinya, kami harus lebih dahulu mengubah diri kami. Dan untuk mengubah diri kami secara efektif, kami lebih dahulu harus mengubah persepsi kami.”
(Stephen R. Covey - The Seven Habits of Highly Effective People)
* * * *

Apa yang bisa saya pelajari dari hal tersebut?
Saya belajar untuk mengecek ulang persepsi saya terhadap orang tersebut. Bisa jadi awalnya niat saya benar dan sayapun melakukan hal-hal positif untuk perbaikannya. Tapi sinyal yang dipancarkan hati akan sampai ke hati. Mungkin tertanam dalam alam bawah sadar saya bahwa ‘ia memang begitu dan sudah tidak bisa diapa-apakan lagi’. Maka segala sikap positif yang saya berikan tidak akan berhasil. Persepsi kita tentang orang tersebut akan terkomunikasikan melalui sikap kita.
Apakah saya udah punya niat yang bener? Apakah cara saya udah bener? Apakah persepsi saya ke dia udah bener?
* * * *
Masalahnya belum selesai, saya sendiri masih berproses untuk punya persepsi yang baik dan benar. Semoga kita dianugerahkan lensa terbaik untuk memandang apapun dunia kita, dan penafsiran terbaik dalam memandang kehidupan kita.

Kamar,
Ahad, 16 Maret 2014

Tuesday, July 17, 2012

Mengapa Harus Ada Kaderisasi


    Bismillah..
    Mungkin banyak yang heran sekaligus masih bertanya-tanya kenapa harus ada kaderisasi dalam setiap organisasi. Baik itu di organisasi-organisasi di kampus ataupun organisasi kemasyarakatan pasti memiliki satu bagian yang mengurus kaderisasi. Apa sebegitu pentingnya kaderisasi untuk organisasi?? Mari kita telaah secara bersama-sama.

    Sebelum lanjut ada sebuah cerita yang mungkin bisa memberikan sedikit gambaran tentang kaderisasi, sok dinikmati ya…

    Dalam sebuah kisah diterangkan seorang kakek yang sudah tua renta menanam sebuah pohon kurma. Kebetulan pada saat itu seorang raja lewat dan melihat kakek yang sedang menanam tersebut. Dengan rasa penasaran sang raja bertanya kepada si kakek tentang alasan atau motivasi menanam pohon tersebut. Sang raja bertanya seperti itu karena semua orang sudah tahu bahwa pohon kurma tidak akan berbuah kecuali setelah beberapa tahun sehingga mana mungkin kakek itu menanam pohon kurma untuk dipetik oleh dirinya sendiri. Ternyata benar, ketika ditanya si kakek menjawab dengan bijak, “Dulu orang-orang sebelum kita menanam pohon kurma sehingga buahnya dapat kita nikmati sekarang, apakah tidak ada keinginan dalam diri kita untuk mengikuti jejak mereka dengan menanam pohon kurma saat ini supaya generasi setelah kita dapat menikmati buah kurma dari pohon yang kita tanam?”

    Bagaimana? Sudah adakah sedikit gambaran yang didapatkan dari cerita di atas, bro?

    Inti dari cerita di atas adalah bagaimana begitu perhatiannya sang kakek terhadap keberlangsungan kehidupan bagi generasi yang akan datang. Dia tidak ingin generasi berikutnya tertimpa masalah, mengalami kemunduran hingga akhirnya menghilang tanpa jejak. Nah, pada dasarnya ini jugalah yang melandasi kenapa harus ada suatu bagian yang mengurusi kader-kader dalam setiap organisasi. Kaderisasi menjadi bagian yang memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan organisasi dengan menciptakan dan menjaga kader-kader yang akan melanjutkan perjuangan.

    Kaderisasi bisa diibaratkan sebagi jantungnya sebuah organisasi, tanpa adanya kaderisasi rasanya sulit dibayangkan suatu organisasi mampu bergerak maju dan dinamis. Hal ini karena kaderisasilah yang menciptakan embrio-embrio baru yang nantinya akan memegang tongkat estafet perjuangan organisasi. Kaderisasi berusaha menciptakan kader yang bukan hanya hebat dalam mengerjakan suatu program, tapi lebih dari itu. Kaderisasi haruslah mampu menciptakan kader yang memiliki jiwa pemimpin, memiliki emosi yang terkontrol, kreatif dan mampu menjadi pemberi solusi untuk setiap permasalahan serta yang terpenting mampu dan pantas nantinya menjadi seorang teladan bagi anggotanya.

    Bung Hatta pernah bertutur mengenai kaderisasi, 

    “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”

    Dalam proses kaderisasi ada dua ikon penting, yaitu:
    1. Pelaku Kaderisasi (subjek)
    1. Sasaran Kaderisasi (objek)

    Pelaku kaderisasi merupakan individu-individu yang telah memiliki kapasitas yang mantap untuk mengkader para anggotanya dan memahami alur kaderisasi dalam organisasi tersebut.  Sementara sasaran kaderisasi merupakan individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk menjadi penerus visi dan misi organisasi.

    Jadi, sudah jelas terlihat urgensi dari kaderisasi dalam sebuah organisasi. Kaderisasi merupakan suatu kebutuhan internal yang harus dilakukan demi kelangsungan organisasi. Seperti hukum alam akan adanya suatu siklus, dimana semua proses pasti akan terus berulang dan terus berganti. Namun satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensinya. Sukses atau tidaknya sebuah institusi organisasi dapat diukur dari kesuksesannya dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya. Karena, wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa depan.


    Penulis:
    M. Arief Gusti Putra. 2012. Mengapa Harus Ada Kaderisasi. http://www.dakwatuna.com/2012/07/21460/mengapa-harus-ada-kaderisasi-dalam-organisasi/#ixzz2036Jkxwb

    image source: dari sini

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...