Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts

Sunday, May 5, 2013

Beramal Islami di Dalam dan Melalui Jamaah (Anis Matta)


Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencintai
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu
-M. Iqbal

Itulah beberapa bait dari sajak doa iqbal. Mungkin batinnya menjerit pada kesaksiannya atas zamannya: umat ini seperti daun daun yang berhamburan. Seperti daun daun yang gugur diterpa angin, tak ada lagi kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih menggayut pada pohonnya.

Begitulah kenyataan umat ini: mungkin banyak orang salih diantara mereka, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah bernama jamaah, mereka hilang diterpa angin zaman. Mungkin banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu diantara mereka, tapi semuanya berserakan di sana sini, tak terhimpun.

Maka, jamaah adalah alat yang diberikan islam bagi umatnya untuk menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, supaya padu dengan kekuatan setiap orang shalih, orang hebat atau satu potensi bertemu pada dengan kekuatan saudaranya yang lain, yang sama shalihnya, yang sama hebatnya, yang sama potensialnya.

Jamaah juga merupakan cara yang paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan individu. Di dalam satu jamaah, individu-individu yang mempunyai kemiripan disatukan dalam sebuah simpul. Maka, meskipun ada banya jamaah, itu tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Bagaimanapun, jauh lebih mudah memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau simpul simpulnya, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu.

Maka jalan panjang menuju kebangkitan umat ini harus dimulai dari menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, merajut kembali jalinan cinta diantara mereka, menyatukan potensi dan kekuatan mereka, kemudian meledakkannya pada momentum sejarahnya, menjadi pohon peradaban yang teduh, yang menaungi kemanusiaan.

Tapi, itulah masalahnya.  Ternyata, itu bukan pekerjaan yang mudah; ternyata, cinta tidak mudah ditumbuhkan diantara mereka; ternyata, orang shalih tidak mudah disatukan; ternyata, orang hebat tidak selalu bersedia menyatu dengan orang hebat yang lain. Mungkin itu sebabnya, ada ungkapan di kalangan gangster mafia: seorang prajurit yang bodoh, kadang-kadang lebih berguna daripada dua orang jenderal yang hebat. Namun, tidak ada jalan lain. Nabi umat ini tidak akan pernah memaafkan setiap orang diantara kita yang meninggalkan jama'ah, semata-mata karena ia tidak menemukan kecocokan bersama orang lain dalam jama'ahnya. Bagaimanapun, kekeruhan jama'ah, kata imam Ali bin Abi thalib r.a jauh lebih baik daripada kejernihan individu.

DARI INDIVIDU KE  JAMA'AH
Orang-orang shalih diantara kita harus menyadari bahwa tidak banyak yang ia berikan atau sumbangkan untuk islam kecuali kalau ia bekerja di dalam dan melalui jama'ah. Mereka tidak dapat menolak fakta bahwa tidak ada orang yang dapat mempertahankan hidupnya tanpa bantuan orang lain; bahwa tidak pernah ada orang yang dapat melakukan segalanya atau menjadi segalanya; bahwa kecerdasan individual tidak pernah dapat mengalahkan kecerdasan kolektif. Bekerja di dalam dan melalui jamaah tidak hanya terkait dengan fitrah sosial kita, tapi terutama terkait dengan kebutuhan kita untuk menjadi lebih efisien, efektif, dan produktif.

 Ada juga alasan lain. Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia dilakukan didalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan, dan lain-lain. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat modern menjadi sangat efektif, efisien dan produktif.

Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada pada individu-individu yang lain.

Jadi kebutuhan setiap individu muslim untuk bekerja atau beramal islami di dalam dan melalui jama'ah, bukan saja lahir dari kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan produktivitasnya, tapi juga lahir dari kebutuhan untuk bekerja dan beramal islami pada level yang setara dengan tantangan zaman kita.


Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri tanpa organisasi, dan kalau ada biasanya tanpa manajemen.


Pilihan untuk bekerja dan beramal islami di dalam dan melalui jama'ah, hanya lahir dari kesadaran mendalam seperti ini. Namun, kesadaran ini saja tidak cukup. Ada persyaratan psikologis lain yang harus kita miliki untuk dapat bekerja lebih efektif, efisien, dan produktif dalam kehidupan berjama'ah.


  1. Kesadaran bahwa kita hanyalah bagian dari fungsi pencapaian tujuan. Jama'ah didirikan untuk mencapai tujuan-tujuan besar: jama'ah bekerja dengan sebuah perencanaan dan strategi yang komprehensif dan integral. Di dalam strategi besar itu, individu harus ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan elemen yang diperlukan untuk mencapainya. Jadi, sehebat apapun seorang individu, bahkan sebesar apapun kontribusinya, dia tidak boleh merasa lebih besar daripada strategi dimana ia merupakan salah satu bagiannya. Baegitu ada individu yang merasa lebih besar dari strategi jama'ah, strategi itu akan berantakan. Untuk itu, setiap iindividu harus memiliki kerendahan hati yang tulus.

  1. Semangat memberi yang mengalahkan semangat menerima. Dalam kehidupan berjama'ah terjadi proses memberi dan menerima. Namun, jika pada sebagian besar proses kita selalu pada posisi menerima, secara perlahan kita "mengonsumsi" kebaikan-kebaikan orang lain hingga habis. Itu tidak akan pernah mampu melanggengkan hubungan individu dalam sebuah jama'ah. Betapa bijak nasihat KH. Ahmad Dahlan kepada warga Muhammadiyah, "Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah."

  1. Kesiapan untuk menjadi tentara yang kreatif. Pusat stabilitas dalam jama'ah adalah kepemimpinan yang kuat. Namun, seorang pemimpin hanya akan menjadi efektif apabila ia mempunyai prajurit-prajurit yang taat dan setia. Ketaatan dan kesetiaan adalah inti keprajuritan. Begitu kita bergabung dalam sebuah jama'ah, kita harus bersiap untuk menjadi taat dan setia. Akan tetapi, ruang lingkup amal islami yang sangat luas membutuhkan manusia-manusia kreatif, dan kreativitas tidak bertentangan dengan ketaatan dan kesetiaan. Jadi, kita harus menggabungkan ketaatan dan kreativitas; ketaatan lahir dari kedisiplinan dan komitmen, sementara kreativitas lahir dari kecerdasan dan kelincahan. Hal itu merupakan perpaduan yang indah.

  1. Berorientasi pada karya, bukan pada posisi. Jebakan terbesar yang dapat menjerumuskan kita dalam kehidupan berjama'ah adalah posisi struktural. Jama'ah hanyalah wadah bagi kita untuk beramal. Maka kita harus selalu berorientasi pada amal dan karya yang menjadi tujuan utama kita berjama'ah, dan memandang posisi struktural sebagai perkara sampingan saja. Dengan begitu, kita akan selalu bekerja dan berkarya, ada atau tanpa posisi struktural.

  1. Bekerjasama walaupun berbeda. Perbedaan adalah tabiat  kehidupan yang tidak dapt dimatikan oleh jama'ah. Maka, menjadi hal yang salaha jika berharap bisa hidup dalam sebuah jama'ah yang bebas dari perbedaan. Yang harus kita tumbuhkan adalah  kemampuan jiwa dan kelapangan dada untuk tetap bekerja sama dengan perpecahan dan karena itu kita tetap dapat bersatu walaupun kita berbeda.


JAMAAH YANG EFEKTIF
Mungkin jauh lebih realstis untuk mencari jama'ah yang efektif ketimbang mencari jama'ah yang ideal. Kita adalah umat yang sakit. Setiap kita mewarisi kadar tertentu dari penyakit tersebut. Jika orang-orang sakit itu sering bertemu dalam sebuah jama'ah, pada dasarnya jama'ah itu juga merupakan jama'ah yang sakit. Itulah faktanya. Namun, tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan.

Jama'ah yang efektif adalah jama'ah yang dapat mengeksekusi atau merealisasikan rencana-rencanaya. Kemampuan eksekusi itu lahir dari integrasi antara berbagi elemen: ada sasaran dan target yang jelas, strategi yang tepat, sarana pendukung yang memadai, pelaku yang bekerja dengan penuh semangat, dan lingkungan strategi yang kondusif. Jama'ah yang didirikan untuk kepentingan menegakkan syariat Allah di muka bumi akan menjadi efektif apabila ia memililki syarat-syarat berikut ini:

  1. Ikatan akidah, bukan kepentingan. Orang-orang yang bergabung dalam jama'ah itu disatukan oleh ikatan akidah, dipersaudarakan oleh iman, dan bekerja untuk kepentingan Islam. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan duniawi yang biasanya lahir dari syahwat; keserakahan (hubbud dunya) dan ketakutan (karahiatul maut).

  1. Jama'ah itu sarana bukan tujuan. Jama'ah itu tetap diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan, sehingga tidak ada alasan untuk memupuk dan memelihara fanatisme sekedar untuk menunjukkan kesetiaan pada jama'ah. Hilangnya fanatisme juga memungkinkan jama'ah-jama'ah itu saling bekerja sama diantara mereka, membangun jaringan yang kuat, dan tidak terjebak dalam pertarungan yang saling mematikan.

  1. Sistem, bukan tokoh. Jama'ah itu akan menjadi efektif jika orang-orang yang ada di dalamnya bekerja dengan sebuah sistem yang jelas, bukan bekerja dengan seseorang yang berfungsi sebagai sistem. Pemimpin dan prajurit hanyalah bagian dari strategi, sistem adalh sesuatu yang terpisah. Dengan cara ini, kita mencegah munculnya diktatorisme, di mana selera sang pemimpin menjelma menjadi sistem,

  1. Penumbuhan, bukan pemanfaatan. Sebuah jamaah akan menjadi efektif jika ia memandang dan menempatkan orang -orang yang tergabung ke dalamnya sebagi pelaku-pelaku, yang karenanya perlu ditumbuh-kembangkan secara terus menerus, untuk fungsi pencapaian tujuan jama'ah itu. Jama'ah itu akan menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi perkembangan kreativitas individunya, dan tidak memandang mereka sebagai pembantu-pembantu yang harus dipaksa bekerja keras, atau sapi-sapi dungu yang harus diperah setiap saat.

  1. Mengelola perbedaan, bukan mematikannya. Jama'ah yang efektif selalu mampu mengubah keragaman menjadi sumber kreativitas kolektifnya, dan itu dilakukan melalui mekanisme syura yang dapat memfasilitasi setiap perbedaan untuk diubah menjadi konsensus.***



____________________________________________
Sebuah tulisan Anis Matta dalam bukunya yang berjudul "Dari Gerakan Ke Negara : Sebuah rekonstruksi Negara Madinah yang Dibangun dari Bahan Dasar Sebuah Gerakan"
Buku ini recomended banget menurut saya, membuka pikiran tentang esensi negara dalam islam, tahapan yang dicontohkan rasulullah, tentang rakyat dan pemimpinnya, tentang paradigma berpikir bagaimana penegakkan syariat yang sebenarnya, dan banyak hal lainnya.
Dari sekitar 30 essay singkat yang ada di buku ini, saya pilih yang ini karena cocok dengan apa yang saya pikirkan mengenai suatu hal yang terjadi di lingkungan terdekat saya, dan saya bingung harus berbuat apa, dan mulai dari mana. >,<

Wednesday, April 24, 2013

kids wear hijab : nisa in action!




Suatu malam di bulan april, iseng-iseng makein kerudung ke 2 keponakan. 
Ceritanya eksperimen hijab-hijab-an (tantenya belum, ponakannya dulu aja yang didandanin hehe :p). 
Waloupun outfitnya belum pas (baju tidur little mermaid lengan pendek hehe), 
tapi kerudungnya udah oke kan ya? hehe
Nah model yang paling oke ya nisa ini karena si caca mah mau fotonya sambil ganggu2 aja hehe. 
(liat yang nongol dari gorden -_-)
aaaaa lucuuu :3

Emang anak kecil harus diusahain dibiasain pake kerudung ya dari kecil.
Supaya ntar pas udah gede, pas emang udah wajib, jadinya ga kaget.

Tuesday, April 23, 2013

Baru sadar, parsial ga akan berhasil

Sudah sifat nya islam itu rahmatan lil alamin

Rasanya ini kesalahan yang baru benar-benar disadari, saat upaya menunaikan salah satu kewajiban untuk menyampaikannya ke sekitar. Dakwah yang saya lakukan di SITH ternyata hanya mengarah pada mahasiswa S1, padahal, civitas SITH ITB itu masih banyak komponen lain.
Dosen, mahasiswa S2, para bapak ibu pegawai, teknisi laboran, analis kimia, para penjaga malam, bahkan pegawai IWK yang jualan di kebab!

Namun setelah 4 tahun saya kuliah, saya baru sadar bahwa ternyata saya sebegitu belum kenal dekat sama komponen-komponen yang ada di sith. Ckckck *kasihan. Yang paling minimal saja, saya belum bener-bener merhatiin akhlak, adab dan memperkuat silaturahim. Ternyata saya lupa sama hal-hal semacam itu. Seharusnya saya sudah hapal hampir semua pegawai atau laboran di masing-masing lab. Ga wajib juga sih, tapi kalo kenal aja enggak, apa yang mau disampaikan?

Sejak lama dakwah di SITH terorganisir, ada organisasinya gitu. Sejak awal memang targetnya adalah mahasiswa S1, tentu karena sudah dipertimbangkan bahwa perubahan itu dimulai dari teman-teman terdekat.
Tapi saya rasa ada yang salah, ketika pola pikir saya hanya menspesifikkan target hanya pada mahasiswa S1, sedangkan kita hidup di SITH dengan segala komponen pendukung yang ada. Jamin deh mahasiswa S2 juga seneng kalo persaudaraan muslim di SITH nya kuat. Para pegawai juga seneng kalo akhlak mahasiswanya pada superduper baiknya.

Ini refleksi pribadi. Bisa dibilang menyesal, tapi ya ngga ada gunanya juga kalau hanya disesali. Sekedar saran buat siapa aja yang baca, mulai dibiasain aja. Keajaiban menyambung silaturahim kan juga banyak. insyaAllah. Sekali lagi, islam itu emang universal, ngga akan berhasil kalo cara pandang kita masih parsial.

Semangat jah, masih bisa diusahakan!

Friday, April 19, 2013

udah berusaha memenuhi hak orang lain, belum?

Bismillah..
Ini beneran, ternyata banyak banget hal yang sering  aku lewatin alias ga bener-bener aku pedulikan. Mungkin bukan maksudnya sengaja, tapi mengenai pemaknaan, kan ga selalu bisa kita dapat.

Sudah hampir 3 bulan ngekos di pelesiran sini. Banyak hal yang dulu-kupikir-aku-tidak-begitu, tapi kenyataannya sebaliknya. Nah suatu saat pas lag ingelingker rutin (halaqah/mentoring) dapat materi ttg adab terhadap sesama muslim. Catet, ADAB. Ya, adab gituloh, yang biasa dipelajari tiap di pelajaran agama waktu jaman sekolahan dulu. Dan yang aku sadari sekarang, ternyata aku ga bener-bener ngamalin.

* * *

Ini  salah satu contohnya :

"Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam:
jika bertemu maka berilah salam,
jika tidak kelihatan maka cari tahulah,
jika sakit maka jenguklah,
jika mengundang maka penuhilah,
jika bersin dan mengucapkan hamdalah maka jawablah (dengan mengucapkan 'yarhamukallah',
dan jika meninggal dunia maka hantarkanlah (ke pemakaman)."
(HR Muslim)
Beneran loh, sebelum ini, aku baca hadits rasul di atas itu rasanya BIASA BIASA AJA, dan aku mikir itu hadits "NORMATIF BANGET", "GA USAH DIINGET JUGA DILAKUIN".
PADAHAL ENGGAAAAK!

Aku baru sadar ternyata dari 6 hak yang harus kita penuhi terhadap sesama muslim itu, bahkan hampir semua dilupain. T_T


Mari liat satu-satu
1.       Kalo ketemu, ngucap salam ga?
Kalo aku ketemu orang lain seringnya, "Hey!!"
Mending kalo dilanjut sama salam, lah seringnya enggak. Padahal ucapan salam itu doa. Ya toh? Alternatif : Hey! Assalamu'alaikum! (pake senyum, kalo lengkap lebih oke lagi sih)

2.       Ada temen yang biasanya ada malah ga ada, nanyain kabarnya ga?
Aku ngebayangin hadits ini kalo di jaman dulu kondisinya belum ada sms, facebook, twitter. Jadi bahkan effortnya lebih. Nah sekarang komunikasi udah gampang banget, harusnya lebih bisa kan?
Sms gitu minimal.

3.       Kalo sakit, nengokin ga?
Paling inget kejadian terbaru. Ada temen sakit, nah aku udah tau dia sakit, malah sama sekali ga ngejenguk. Cuma nge sms -_- #jleb
Parah, maafin terlalu sibuk sama diri sendiri :s

4.       Kalo diundang, dipenuhi ga undangannya?
Kalo kondangan biasanya dateng sih hehe. Kejadian masih fresh juga, diundang sama orang tuanya temen untuk makan siang bareng, malah ga dateng, bahkan aku lupa ga kasih kabar -_-
Parah, huhu maaf tante T_T

5.       Ada yang bersin dan ngucap kalimat Hamdallah, balas doanya dengan Yarhamukallah ga?
Nah ini nih yang kuperhatiin agak luntur. Maaf ya buat temen yang bersin, aku suka lupa bilang yarhamukallah, padahal itu hak kamu. Huhu

6.       Ada yang Meninggal dunia, nganter ke pemakaman ga?
Sejauh ini masih diusahakan, tapi memang belum ada kerabat yang urgent buat dihantarkan.
(bukan ngedoain cepet, ini mah kan bahkan bisa aku yang duluan)

* * *
 
Intinya mungkin memang ga semua bisa kita amalkan dengan lengkap, karena memang tergantung kondisi kita juga, dan kita yang lebih tau dan bisa menyesuaikan.
Tapi akan lebih baik kan kalau kita usaha dikit-dikit?
Allah juga ngerti kok kalo kita serius pengen berproses menuju apa yang Allah kehendaki.

Tulisan ini sama sekali bukan kajian terhadap isi hadits ya (ya kali sembaranga begini -_-), ini cuma refleksi diri aja sekaligus usaha buat menunaikan tugas untuk saling ngingetin.
Banyak ko kalo mau sumber2 kajian yang bagus, pengajian banyak, mbah google udah ada, kayanya asal niat pasti dapet ko jaman sekarang mah.
Semangat jah!
Dengan ini aku minta maaf buat temen-temen yang masih sering terdzalimi, mudah-mudahan masing-masing bisa semakin baik ya :)

___________
*mulai terpikirkan sejak 5 april 2013 baru nulis sekarang
*free writing tanpa proses editing (dibaca =  nulis sembarangan -_-)

Friday, April 5, 2013

mari kita berhenti sejenak

Mari kita berhenti sejenak..

Kita memerlukan saat-saat itu, saat dimana kita melepaskan kepenatan yang mengurangi ketajaman hati, saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual; melepaskan sejenak beban dakwah yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina kita.
Kita perlu karena, kita perlu membuka kembali peta perjalanan dakwah kita, melihat jarak yang ditempuh dan sisanya, melihat hasil yang sudah diraih, meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan dakwah, memandang alam sekitar karena banyak aspek lingkungan strategis kita telah berubah.


Majelis iman. 


"Duduklah bersama kami, biar kita beriman sejenak."  
-Ibnu mas'ud

Secara individu kita dapat merenungi, menghayati, menyelami telaga akal. Kemudian menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, aktual. Bermuhasabah, perbarui niat, kesadaran, motivasi dan semangat jihad.

"Ucapan mereka adalah zikir, diam mereka adalah perenungan
-Ali bin Abi Thalib


_______
Kutipan dari sebuah buku : Menikmati Demokrasi, Anis Matta

*Kangen sama yang senantiasa mengingatkan* >,<

Sunday, November 11, 2012

aku ngajak orang ke mana sih?

Dipikir-pikir cukup lama juga saya berada di jalan ini. Bukan karena sudah kuat, tapi ingin menjadi kuat, tentu saja. Kalau bisa dibilang, asam-garam problematika kehidupan saya rasakan setelah memilih jalan ini. Di jalan ini saya jadi lebih memperoleh gambaran mengenai diri saya, apa yang saya suka dan apa yang tidak saya suka. Di jalan ini juga belajar banyak mengenai berbagai karakter manusia.

Orang bilang ini dakwah, menyebarkan nilai-nilai islam yang kita tahu.
Allah bilang kita ngga boleh nyembunyiin ilmu, selain itu juga harus berupaya melakukan yang kita telah sampaikan. Memberi dan menerima, merealisasikannya pada diri sendiri.

Visi saya tentang jalan ini adalah bagaimana membahasakannya menjadi lebih mudah diterima siapapun. Bagaimana muatan islam yang mulia itu dapat diterima berbagai kalangan. Otak-otak marketing-lah. Hal-hal kreatif, nyeleneh, unik, ringan, semacam itu. Pekerjaan-pekerjaan saya jadi mayoritas seperti itu lah, yang penting orang tertarik dan ga takut dulu. Negatifnya, terlalu mikirin apa penilaian orang. Gimana pun kontennya,  yang penting rame lah.

Biasanya jurusnya pakai acara makan-makan, pembicara yang kocak dan lucu.
Yang jangan dilupakan adalah, setelah rame itu mau apa? Mau digimanakan?
Seringnya lupa, lupa sama hakikat kita melakukan hal itu, lupa ngajak ke Allah nya.
Yang saya pernah rasakan ketika lupa sama hal itu, saya seneng acara-acara yang diadain rame, semua merespon, semua senang, hore-hore. Setelah itu mikir, "aku ngajak orang kemana sih?"

Orang yang udah benar-benar berhasil kita ajak, kalau ngga ada follow up nya, kasian. Mereka tuh pengen loh tersentuh sama ayat qur'an, mereka pengen loh ada penyejuk jiwa dari kekeringan, ngerasain nikmanya iman. Semua tuh pada akhirnya pasti pengennya begitu, karena itu yang dibutuhkan.

Cara dakwah bisa banyak dan asik-asik. Sekarang gimana caranya supaya hakikat utamanya ngajak ke Allah bisa jadi energi untuk membuat berbagai hal menarik, kreatif dan asik.

Bandung, 11 November 2012

Sunday, October 7, 2012

yang bisa diambil dari nonton film Ummi Aminah

image source : addyn.web.id


Habis kumpul krima, ngga sengaja saya nonton film Ummi Aminah di salah satu chanel TV swasta. Awalnya biasa aja, tapi nyata nya saya nonton sampai habis dengan (lagi-lagi) berurai air mata.

Ngga akan terlalu banyak cerita tentang sinopsis filmnya, intinya tentang hikmah di balik musibah yang dialami keluarga seorang Ummi Aminah (Nany Wijaya). Seorang ustadzah berakhlak baik yang biasa menyebarkan dan mengajarkan ajaran islam. Namun dibalik itu semua, dia juga tetap manusia yang ga bisa lepas dari permasalahan. Musibah juga bisa mendatanginya kapan saja.

Sutradara dari film ini Aditya Gumay. FILM INI RECOMENDED BANGET BUAT LANGSUNG DITONTON AJA SENDIRI. Dipikir-pikir kita tuh butuh sesuatu yang bisa bikin kita rada tobat.

Poin penting yang bikin saya pingin bikin tulisan ini adalah kesan yang saya dapat dari cuplikan beberapa adegan dalam film itu.

Diperlihatkan bahwa dari bertubi-tubinya masalah yang menghadang Ummi Aminah (tokoh utama) ada satu bagian yang disebutkan bahwa "walopun kena musibah, tapi masih punya keluarga."
Ya, secara garis besar masalah datang dari anggota-anggota keluarganya (anak), tapi dengan keluarga pula, masalah bisa selesai. Fungsi keluarga  berjalan dengan sangat baik. Punya aqidah kuat, dan saling memahami.

Bicara tentang membangun keluarga seperti itu, tentu saya belum tau apa-apa, tapi dari film itu bisa dilihat bahwa keluarga yang baik, yang bisa memberikan rasa nyaman bagi kita, adalah keluarga yang kebaikan kebaikannya kita tanam sendiri.

Saya yakin kalo ummi aminahnya (sebut saja) jahat, ditengah derasnya masalah, keluarga nya ngga akan jadi penentram hati. 

* * * * *

Permasalahan yang timbul sepintas memang dari anak-anaknya, tapi keluarga yang sejak awal dengan baik terpelihara, nantinya akan tetap dalam koridor yang baik. Contoh adegan saat anak perempuannya digosipkan merebut suami orang, ummi aminah muarah besar sampai bilang "Ngga akan ridha dunia akhirat!"
Kita kadang kalau ngga ada masalah apa-apa, liat kata-kata begitu bebal aja, ngga ada efek apa-apa. Tapi di situ diperlihatkan bahwa sang anak langsung meronta-ronta minta pada Ummi Aminah agar menarik kembali ucapannya. Ikhtiarnya adalah dengan segera pergi dan mendatangi istri laki-laki yang menjalin hubungan sama dia. Udah tertanam gitu rasa cinta dan bener-bener takut sama Allah nya.

* * * * *

Jadi lebih dapet feel nya pas liat di salah satu adegan ada wartawan yang ngedatengin rumah Ummi aminah. Ceritanya mau dapet kabar teraptudet tentang gosip anaknya masuk penjara yang beredar. Disitu saya cuma kebawa kesel aja ( ceritanyaudah menghayati), maksudnya orang lagi kena masalah gitu, malah dibuat rungsing. Ngerti sih, itu memang kerjaan mereka, mencari berita. Tapi yang jadi masalah adalah "masalah pribadi orang bukan buat dibuka-buka juga". Coba kalo kita memposisikan diri jadi orang yang kena masalah, berat bung!

* * * * *

Di endingnya, adegannya lumayan jleb.
Akhirnya sang abah mau mendatangi anaknya (disitu pemerannya Ruben Onsu) yang ceritanya punya sedikit kelainan (laki-laki yang kewanita-wanitaan). Si abah udah mau dicium tangannya, dan minta dipotong rambutnya.
Saya pikir akan happy ending dong. Paling ngga terharu dan kocak gitu.
Ternyata dalam proses pengeramasan si Abah, ruben yang terus berbicara menyadari bahwa Sang Abah tertidur pulas.
Tau? Ternyata sang abah meninggal T_T

Setidaknya sebelum meninggal, hubungannya sudah baik, sudah tidak ada lagi rasa marah diantara keduanya.


"Bersama kesulitan ada kemudahan"

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.
"Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.
Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. 
Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."
(diketik dengan nyontek dari al-qur'an surat 2:286)


Bandung, 7 Oktober 2012
Pukul 00:02

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...