Showing posts with label muhasabah. Show all posts
Showing posts with label muhasabah. Show all posts

Monday, June 13, 2016

Mengaji dengan Niat Melakukan Amalan Terbaik

Banyak sekali yang ingin kutulis, tapi.. ah.. mari memulainya dari sesuatu yang mungkin bermanfaat :)

* * *

Sungguh malam ini hatiku bahagia sekali setelah duduk mengaji walau aku sangat lelah. Mengaji itu pupuknya hati dan akal, ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan iman kita di era hebat ma’siyat ini.” - Ust. M Arifin Ilham

Sebuah kutipan singkat dari salah seorang kakak sealmamater yang orangnya lucu tapi sangat meaningful. Entahlah, saya juga jarang berinteraksi dengan beliau lagi, tapi saya masih bisa merasakan kedalaman makna yang beliau pancarkan lewat tulisan tulisannya.

Ramadhan sudah hari ke-delapan. Begitu cepat, sungguh, bahkan sampai saya tak sempat menulis sepatah dua patah kalimat sambutan di blog berdebu ini.

Ramadhan kali ini, Allah karuniakan pada kami anggota keluarga baru. Haidar sudah 9 bulan saja, tak terasa. Amanah sebagai seorang istri, serta ibu, menjadi tantangan tersendiri bagi saya pribadi.

Kelompok halaqah kami punya target harian di bulan ramadhan ini. 2 kali khatam, berarti persebarannya 2 juz perharinya. Tantangan tersendiri, apakah saya bisa mencapainya dengan amanah saat ini ?

Seharuanya bisa. Tak lebih dari 3 jam seharusnya. Tapi saat ini jujur saya masih belepotan mengatur pekerjaan domestik rumah tangga. Hehe. Dan salah satu godaan lain adalah mengurusi online shop hehe.

Ah seharusnya tetap bisa. Banyak yang sudah bisa membuktikannya.

***

Namun perbincangan dengan paksuami, dan diskusi ringan di grup watsap halaqah kami membahas tentang amalan yang terbaik (ahsanu amala), Bukan amalan terbanyak. Bisa dilihat pada surat al-Mulk ayat 2, surat yang sejak 3 bulan lalu saya masih stuck menghapal disini :"" *parah*

"...Supaya Dia mengujimu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya..." (TQS AL-Mulk 67:2)

Menurut Muhammad bin ajlan dari kutipan dalam buku tafsir ibnu katsir, "Yang paling baik amalnya. Dan allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya."

Sejak dulu saya juga punya targetan tertentu yang dikejar, misal dulu hanya 1 juz perhari saja. Namun seiring berjalannya waktu dan pemahaman, target penting untuk standar diri kita pribadi, namun kualitas harus dipikirkan juga.

Kalau kita mau setiap ramadhan selalu lebih baik dengan "hanya" meningkatkan kuantitas tilawah kita, mungkin 30 tahun lagi, target kita 30 juz perhari alias 30 kali khatam?
Untuk apa? Tak diijinkan karena memang pasti kita akan melalaikan kewajiban kewajiban lain. Islam mengajarkan keseimbangan.

Membaca tanpa memahami, kira kira apa dampaknya untuk kehidupan kita?

***
Saya pribadi masih banyak peer.
Bacaan masih harus diperbaiki
Hafalan masih belum komitmen.
Pemahaman quran juga masih sangat minim.

Semoga kita bisa meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita dengan shaum, meningkatkan pemahaman dan kecintaan kita terhadap quran di bulan ramadhan. (Seperti yang ust. Nouman ali khan sebutkan dalam status fb nya)

Sabtu 18 juni 2016
Diselesaikan pada ramadhan hari ke 12

Thursday, April 7, 2016

Mengapa harus di "nanti, nanti" kan ?


Banyak dari kita sering berkata,
"aku mau berubah nanti kalau bla bla bla."
"Ngerjainnya nanti aja kalau udah blablabla"
"Sekarang enggak akan bisa, nanti aja kalau blablabla."

Benar ?

Ah tak perlu menunjuk siapapun, cukup berkaca saja. Kita sering terlena dengan rutinitas kita, sehingga saat ingin membuat komitmen atau membangun kebiasaan baru, kita jadi begitu sulit mewujudkannya.

Belum sholeh lagi, euy!
Iya nanti kalau bayi udah gede, udah ngga repot, bisa belajar solehah lagi. Kalau udah punya uang banyak nanti sedekah nya dilakuin lagi. Kalau rumah udah beres, nanti tilawahnya rutin sehari sejuz lagi. Blablabla ...

Belum tentu saat "nanti" nya tiba, kamu inget. Belum tentu nanti kamu nya siap, belum tentu kondisinya memungkinkan, belum tentu kamu udah ngga punya excuse apa-apa lagi.

Kehidupan itu selalu naik setingkat demi setingkat. Berhasil atau tidak nya kita lulus pada tahapan ini mungkin bisa kita abaikan, ga kerasa sekarang. Tapi, akan menggambarkan bagaimana kondisi kita di tahapan selanjutnya, yang lebih tinggi tentunya. Belum tentu energi kita saat "nanti" itu cukup besar atau bahkan masih ada.

Belum tentu jatah usia kita masih ada saat "Nanti" itu tiba.

Kamis, 7 april 2016
#Odopfor99days #day26

Thursday, February 25, 2016

Siapalah Kita Ini

Siapalah kita yang masih berani bermalas-malasan dalam mendirikan shalat. Sementara di belahan dunia yang lain, seseorang telah meninggal dalam shalatnya yang khusyu.

Siapalah kita yang begitu bodohnya menunda-nunda untuk sekedar membaca alquran, sementara di luar sana, banyak orang yang telah memiliki alquran dalam hati dan jiwanya.

Siapalah kita yang berani mendahulukan kesibukan kesibukan dunia yang kita buat sendiri, kemudian mengakhirkan kewajiban kewajiban kita pada Sang Pemilik Jiwa.

Siapalah kita yang sedikit-sedikit mengeluh dengan kondisi yang menimpa kita, sementara di luar sana, banyak orang yang tak punya waktu lebih untuk sekedar mengeluhkan keadaan.

"Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang bertaqwa…”
(QS. Ali Imron : 133)

“Maka berlarilah kembali ta’at kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzaariyat : 50)

Astaghfirullah.
Kamis, 25 Februari 2016

#odopfor99days #day20
#muhasabah

Thursday, January 28, 2016

Meresapi Kenikmatan

Jadi tulisan malam ini terinspirasi oleh seorang teman yang sering membanjiri grup line angkatan dengan berbagai sticker dan komen komen ajaib yang membuat kami tak kuasa menghentikannya.  Seseorang yang pernah niat banget gali gali foto alay di fesbuk saya cuma buat ngebales komen dan ngegodain saya yang ikut-ikutan ngomong "cinq" disetiap postingannya yang murudul. Wkwkwk. Sebut saja namanya cacing (emang cacing). Saya yang ngga banyak kerjaan aja heran dia bisa komen murudul. Sakti.

* * *

Malam ini cacing ngingetin saya pada setidaknya 3 hal :
1. Belajarlah menjadi tulus (yang melihat semua dengan hati)
2. Belajar meresapi setiap kenikmatan yang hadir saat ini
3. Tidak hidup dalam ketergesaan

Mungkin sebelum ini saya belum dihadapkan pada kondisi yang membuat saya bisa memahami semua maksud-maksudnya. Bahkan mungkin, dulu saya termasuk orang sotoy yang melewatkan bab-bab semacam ini untuk segera beranjak ke bab selanjutnya.

Waktu yang kita punya, kadang rasanya "terlalu sedikit" untuk bisa benar-benar menikmati interaksi kita dengan yang lainnya. Terkadang terlalu sebentar karena hanya sekedar menyapa di saat perlu saja. Atau ahh, mungkin seringnya karena kita lupa membersihkan hati hati kita dari debu prasangka.

Kenikmatan yang dihadirkan allah pada kita sering lewat tanpa makna, tanpa rasa syukur yang sebenar-benarnya. Astaghfirullah. Padahal syukur itu menambah nikmat dan akan semakin nikmat karena Allah yang menambahkan.

Selain itu, kita sering ingin semua serba cepat. Padahal hidup bukan untuk dikejar kejar. Bukan untuk dikejar oleh masa lalu, ataupun cita-cita/target/impian yang akan datang. Kita tak bisa berlari di udara dengan kaki yang tak pernah menapak kan?

Diketik dengan relatif mudah,
Dijalankan dengan bersimbah darah
Hehe lebay

Semoga sabar dan syukur menjadi teman perjalanan

#ODOPfor99days #day15

Wednesday, November 18, 2015

Sebelum Suami Pergi Mencari Nafkah

Doa adalah kebutuhan hamba pada tuhannya. Ia yang berdoa dalam malam-malam panjangnya dengan lirih mungkin begitu disukai Allah. Dalam doa ada harap, dalam doa ada pengakuan bahwa kita lemah dan tak berkuasa apa-apa.

Doa terbaik bagi seorang mukmin untuk mukmin lainnya adalah doa yang tak diketahui, sementara sejatinya malaikat mendoakan hal yang sama untuk kita.

Namun adakalanya ucapan doa perlu diucapkan langsung di hadapan orang yang kita doakan. Untuk apa? Terkadang orang butuh diingatkan, terkadang orang perlu tahu apa yang diharapkan kita dari dirinya, dan kalimat yang baik tersebut akan mengiringi kesibukan hari-harinya.

Semoga kita senantiasa memiliki kesadaran dalam berdoa.

* * *

Aku sendiri bukan manusia yang ahli dalam berdoa, baik dalam kesunyian, maupun dalam lisan. Astaghfirullah.

"Minta doanya ya, Bunda." Kata Ayah.

Aku cuma bisa bilang insyaallah. berharap apa-apa yang menjadi doaku cukup kuat, dan bisa memberkahi langkah-langkah kami.

Merasa ada yang kurang bila suami pamit pergi dan aku hanya bisa bilang, "iya, yang lancar ya, yang berkah. Ati ati ya.."

Apa yang lancar?
Ati ati dari apa?
Apa manfaatnya berkata seperti itu?

Tak adakah kata-kata yang lebih baik lagi untuk, seseorang yang telah bekerja keras untukmu demi ketaatan pada Tuhannya?

Aku belum terbiasa untuk berkata-kata yang lebih baik dari itu, segan rasanya, entahlah. Merasa diri belum cukup pantas mengatakannya.

Maaf ya sayang, aku masih harus terus belajar..

* * *

Kukutip dari buku Suami istri bijak, kupinjam doanya untuk menjadi doaku setiap kepergianmu bekerja keras mencari nafkah :

"Bertakwalah engkau (jagalah dirimu) demi kami. Sesungguhnya kami dapat bersabar (tahan) dari rasa lapar di dunia, tetapi kami tidak mungkin akan dapat bersabar (tahan) dari adzab di akhirat nanti.

Aku akan selalu mengingatmu hari ini jika kita bersama-sama bertasbih kepada Allah, meski engkau sedang berada di kantor dan aku berada di rumah."

* * *
Bismillah.
Kini ini menjadi doaku, dan aku ingin ayang tahu. Aku akan mulai mengatakannya, sesegera mungkin semampuku. Kalau esok pagi terdengar aneh, maafkan saja dulu ya. Mungkin memang masih masih belum enak didengar karena doaku masih butuh penghayatan dan pembiasaan. Mungkin juga nanti redaksi nya tak sama bagusnya dengan itu, sebisanya dulu aja ya?

Cibangkong, 18 November 2015
Menuju setahun pernikahan,

Istrimu yang entah kenapa suka ngambek cari perhatian hehe :">

Friday, November 13, 2015

Refleksi Kondisi Iman Kita

"Jika iman benar-benar tumbuh, maka kesungguhan dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya adalah buah yang manis untuk di petik.

Ini sekaligus menandakan bahwa jika kesungguhan itu tidak hadir, ada yang perlu diperiksa atas iman mereka.

Adakah mereka telah benar-benar beriman ataukah hanya memiliki banyak pengetahuan tentang iman.

Sangat berbeda mengimani dengan memiliki pengetahuan tentang iman."

--- Segenggam Iman Anak Kita, M. Fauzil Adhim

* * *

Singkat saja.
Di tengah kesibukanmu, apa kau tahu kabar imanmu?

._.

Tuesday, September 29, 2015

Salah Satu Yang Perlu Kau Syukuri Hari Ini

Begitu banyak hal dalam hidup yang luput kita syukuri. Begitu sepele saat dijalani setiap detiknya, sampai tak terasa sudah menjadi rutinitas saja.
Dan Allah selalu punya cara untuk mengingatkan kita, dengan tetap memberi, --bahkan  memberi lebih banyak sesuai janjinya-- dengan menumbuhkan rasa syukur kita padaNya.
- hajah sofyamarwa -

* * *

Sudahkah kau bersyukur bisa pipis seperti biasa, hari ini?
Iya, yang seperti biasa saja kok, sudah bersyukur?

Kau baru boleh pulang setelah bisa buang air kecil (pipis) sendiri ke kamar mandi. Efek bius sesar mungkin menyebabkan organ organ dalammu juga 'terbius'. Ya, bisa buang angin saja harus disyukuri. Dengan bisa pipis mandiri, berarti secara motorik kau sudah bisa sendiri, dan tak ada masalah dengan kemihmu yang sebelumnya dipasangi kateter.

Mungkin tubuhmu kini sedang menyesuaikan dirinya kembali. Beberapa bulan yang lalu, kan kandung kemihmu terhimpit janin dalam rahim, sehingga daya tampungnya harus menyusut sementara dan mengubah pola buang air mu menjadi sedikit-sedikit saja tapi sering. Kini setelah anakmu lahir, kandung kemihmu mulai 'dapat mengembang lagi' seperti sedia kala. Hanya saja itu tadi, perlu penyesuaian, dan kau mungkin akan merasakan sedikit rasa ngilu setiap buang air. Seperti kantung besar yang terus dipaksa dikuras sampai habis, tanpa banyak daya yang bisa kita lakukan untuk mengendalikannya.

Tapi tenang saja, setelah 2 minggu semua akan kembali normal, dan kau tak akan merasa 'terganggu' dengan kondisi itu. Alhamdulillah.
Allah memberiku berbagai rasa dan pengalaman agar aku lebih bersyukur. Alhamdulillah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(Terjemah QS. Ibrahim:7)

"Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.
(Terjemah QS. An-Naml: 40).

Sekitar 12 september 2015
Masa-masa nifas, pasca melahirkan operasi sesar :)

Tuesday, June 30, 2015

Menyiram Tanaman

Halo, saya lulusan biologi yang sampai pada tingkat 4 kelulusan, kadang masih suka dibilang gini sama mamah :
"Kalo mamah lagi ngga ada, meni ngga ada yang nyiramin tanaman."
Dan habis itu biasanya berjuta alasan dilancarkan untuk berkilah mencari pembenaran. Hehehe.. xp

Terkadang orangtua kita meng-generalisir, karena ada masanya kita juga nyiram taneman di rumah kita. Tapi coba itung deh, pasti "gak nyiram" nya lebih sering daripada nyiramnya, betul? Hehe xp

Sebagai anak jurusan biologi, tentu sangat merasakan banyak berhubungan dengan makhluk hidup, khususnya tumbuhan.

Hampir setiap mata kuliah tumbuhan yang saya ambil, kalau ada praktikumnya tentu berurusan dengan perawatannya. Entah dari tanamannya, atau komponen pendukungnya seperti tanah dan air.
Contoh :
1. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan (supertum)
2. Fisiologi tumbuhan (fistum)
3. Ekofisiologi tumbuhan (ekofistum)
Dll

Seingat saya, waktu di praktikum, saat jadi asisten, saat Kerja Praktek, bahkan saat tugas akhir, saya diharuskan merawat tanaman perlakuan. Entah menanam tomat dan cabai dari biji, menyiram adenium pagi sore, merawat salvinia buat TA, semua praktikum itu harus dilakukan dengan tertib dan terjadwal. Pagi dan sore harus di cek. Kalau ga disiplin, tanamannya rusak (ga kekontrol) dan bakal ngerusak hasil penelitian juga. Untuk hal itu, kita rempongnya setengah mati.

Jadi kalau buat urusan kuliah mah, tanaman diurus. Kalau udah ngga ada tugas kuliahnya, tanaman dibiarin aja?

Dari hal sederhana itu, renungan buat saya pribadi. Proses pendidikan berhasil ketika materi dan esensi nya berhasil kita pahami dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menyiram tanaman pagi atau sore bukan sekedar karena disuruh mamah, atau cuma karena si taneman lagi jadi objek penelitian.
Menyiram tanaman pagi atau sore harus disertai rasa tanggung jawab sebagai seorang yang pernah tahu ilmunya, sebagai 'petugas' pesuruh langit yang harus menjaga bumi ini, sebagai sesama makhluk yang ingin berbuat baik pada makhluk lainnya.

Tanaman yang dirawat mamah kita di depan rumah itu manfaatnya banyak. Bikin mata seger, udara seger, bisa panen, bikin rumah lebih enak, dll. Dan untuk dapat semua benefit itu, emak kita yang suka rajin nyiramin (kita mah kan suka lupa haha -_-). Hehe maaf dan makasih ya maah :3

Ingat, ketika begitu banyak fasilitas yang kita dapatkan dari sesuatu yang tidak kita lakukan sendiri, maka kita harus berterimakasih dan lebih bersyukur atas hal itu.

Semoga semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin bermanfaat.

Selasa, 30 Juni 2015
Sebuah renungan pagi 13 ramadhan,
Saat melakukan aktivitas "nyebor tanaman", ketika rasa haus dahaga melanda di hari-hari kemarau (taneman ga disiram kasian loh, masa ikut puasa juga). Hehe

Tuesday, May 26, 2015

Nikmat Sehat

"Ya Allah, sehatkanlah badanku, sehatkan lah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku.."

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. 
(HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Kesehatan adalah salah satu dari dua hal yang sering manusia lalaikan. Wajar, karena sehat sepertinya hanya terlihat seperti "default" dari kehidupan kita. Dan karena itulah, kadang manusia sering lupa mensyukurinya.

Setiap orang punya kadar ketahanan tersendiri perkara tubuhnya. Alhamdulillah saya termasuk yang ngga terlalu gampang sakit, tapi ya saking selebornya, tetap saja bila diabaikan suatu saat akan nge drop juga.

By the way, semua sepakat ya kesehatan menjadi hal yang penting?

Sekuat kuat nya diri kita, nantinya akan punya tanggungan tubuh makhluk lain yang harus dijaga (suami, anak, orangtua, keluarga kita). Mau tidak mau, kesehatan harus menjadi suatu hal yang diperhatikan.

Tubuh kita adalah amanah dari Allah yang harus kita jaga. Bukan untuk Allah, tapi sebagai bentuk rasa syukur kita pada Allah, dan utamanya sih karena tubuh menjadi kendaraan kita dalam menjalani hidup.

Tak perlu berlebihan pula menghadapinya. Kita yakini Allah membekali kita imunitas dan ketahanan yang baik, variasi kondisinya kita yang berusaha pahami dan siasati.

Usia saya 23 tahun, suka "garing" kalau liat list penyakit penyakit orang tua, berasa ga akan ngalamin. Padahal siapa yang tau masa depan ya? Bukan bermaksud mendoakan, tp lakukan yang bisa kita lakukan, jaga pola hidup yang sehat ya #ntms

Kadang juga kita diingatkan Allah dengan sakit-sakit yang berkategori "unpredictable" bagi diri kita. Namanya juga sakit ya, siapa yang bisa ngira atau ngatur.

Semoga bisa menjaga amanah tubuh dengan sebaik-baiknya. Sabar dan syukuri kondisi sehat dan sakitmu, karena itu yang utama.

Health is the real wealth, not pieces of gold and silver
--Mahatma Gandhi

Selasa, 26 Mei 2015
Di atas kasur Marrakesh,
Edisi sakit telinga karena pilek --sakit kategori unpredictable versi saya
Hehe
Semoga bisa bersabar dan sakitnya jadi penggugur dosa aamiin :")

Thursday, April 9, 2015

Ah bisa jadi ini karena..

Ah bisa jadi ini karena kelalaianmu akhir akhir ini
Ya, entah apa yang kau pikirkan tapi begitu banyak kebiasaan baikmu yang tak lagi kau tunaikan.

Ah bisa jadi ini karena kesibukanmu akhir-akhir ini
Ya, kau sibuk mencari kesibukan, terlena dengannya, sampai kewajibanmu yang biasa kau lakukan, berangsur kau lupakan

Ah bisa jadi ini karena amalanmu tak lagi seperti biasanya
Ya, kini berapa lama kau sanggup berlama-lama dengan al quran?
Seberapa bersegeranya kau menunaikan shalat setelah mendengar adzan?
Seberapa konsistenkah kau menjaga shalat-shalat sunnahmu?
Seberapa sering kau berniat dan melaksanakan shaum sunnah?

Memang tidak semua hal hanya bisa kau lihat dari amalan harian mu yang bersifat 'langitan', tapi percayalah, kekonsistenan dalam menjalankannya yang akan menjagamu untuk tetap berada di kondisi yang baik.

Semoga kita dimudahkan dalam menjalani kebiasaan kebiasaan baik ya.. Hidup dalam kebiasaan dan keyakinan yang benar.

Astaghfirullah..

Friday, March 6, 2015

Nafsu Makan Trimester Awal

Jelang pekan ke-12 usia dede janin dari perhitunganku. Tak terasa sudah hampir tiga bulan berlalu ya? Itu berarti trimester pertama hampir berakhir, dan akan memasuki trimester kedua. Insyaallah :)

Nafsu Makan dan morning sick Trimester Awal
Sejak awal kehamilan, aku mencari tahu tentang apa apa saja yang terjadi di tiap trimesternya. Konon, trimester awal akan diwarnai dengan morning sick alias mual-mual-muntah yang dibumbui dengan hilangnya nafsu makan, karena indera penciuman menjadi lebih sensitif. Sampai bulan kedua, aku tak merasakan mual mual berlebih yang mengganggu, makanya kupikir sepertinya aku tak akan mengalaminya (padahal namanya juga hormonal, tergantung kondisitiap orang). Akupun masih doyan makan dan bersemangat sekali memasak. Tapi entah mengapa, menjelang puncak bulan ketiga, aku mual hampir setiap hari! Mual, kemudian harus makan, kemudian harus keluar lagi karena ada penolakan. Ckckck.. tak pernah terbayangkan bahwa kini makan menjadi sebuah perjuangan..

Makanya selalu, kalau sudah ada indikasi mual, harus kumuntahkan dulu (aduh maaf ya frontal, bacanya jangan sambil makan), baru bisa makan dengan tenang. Karena rugi sekali kalau makan, trus muntah. Jadi harus makan lagi, dong? :O
Btw, alhamdulillah akang juga suka nemeni kalau aku lagi mual-muntah. Bahkan kalau aku mual dan tertahan, dia suka bantu dengan menstimulasi agar aku mau muntah (hihi kebayang kan kaya apa, padahal dia juga jadi kepingin muntah abis itu) jazakallahu khairan, yaangg :")

Buah pisang ambon
Harus cari cara back up hal ini. Buah pisang selalu jadi andalan. Sekali makan bisa 8, banyak dan nutrisinya bagus, tapi tetap mesti masuk nutrisi lainnya. Seenggaknya cukup mengenyangkan. Jadi inget waktu itu ujug ujug pengen cake pisang malem- malem. Terus akang nyariin dan akhirnya dapet. Aaaa terimakasih >,< bela-belain nyari padahal habis seharian kerja, capek, dan udah malem banget. :") jazakallahu khairan :)

Nasi putih
Tak pernah kubayangkan akan "rewel" maksudnya semasa sebelum ini pun aku jarang komplain sama makanan. Mendekati akhir bulan ketiga ini, kurang selera sama nasi putih, jadi harus bikin nasi goreng, atau sumber karbohidrat yang lain kaya ubi, mie, bihun, makaroni, kentang. Hehe emang bawaan, atau emang pengen ganti suasana aja? Hehe
Tapi ciyus deh, ini aneh. Hehe

Karena ga nafsu makan, masak pun jadi ga selera, karena ga bernafsu untuk memakannya. Dan hal ini imbasnya jadi ke banyak hal. Pertama  amanah makanku bertambah, dari hanya diri sendiri, kini ada dede janin. Kedua, suamiku juga harus makan. Ketiga, ada keluarga satu atap yang seharusnya aku masakin juga. Hehe. Udah mah masaknya belum master, ditambah lagi ngga nafsu makan. Aku mah kasian sama yang harus makan masakanku. Hehe

Susu Ibu Hamil
Sempat beli 1 kotak, Lactam*l. Aku ga rewel tentang ini. Kayanya merk apapun hajar aja. Tapi dari banyak referensi, sebenernya kita ga terlalu perlu minum susu ibu hamil, asal bisa mastiin makannya bener. Hehe. Habis satu kotak itu jadi ngga minum lagi. Liat pola makan ku yang sekarang, ibu mertua ngewanti wanti minimal susu harus masuk. Jadi sepertinya akan diagendakan beli susu bumil habis ini.

* * * * *
Menarik. Trimester awal adalah masa krusial pertumbuhan seorang anak manusia di dalam rahim. Sebuah masa yang irreversible, dimana nutrisi yang dimakan harus baik untuk menunjang kehidupannya jauh ke depan. Di sisi lain, seorang ibu secara hormonal mengalami perubahan sehingga nafsu makannya jadi berubah. Janin butuh asupan terbaik, dan sang ibu harus berjuang memakan makanan yang baik.

Bukankah kini kau merasakan perjuangan seorang yang dulu mengandungmu?

Mungkin Ini salah satu jawaban dari pertanyaan bodohmu sebelum ini :
Kenapa sih al quran nyuruh kita berbakti sama orang tua (ibu), padahal perjuangan yang disebutkan "hanya" sejak kehamilan hingga kau disapih? 3 tahun "saja".

Bismillah, menyelami maksud maksud Allah.. semoga kita bisa menjadi anak shaleh yang berbakti pada orang tua, juga kelak menjadi orang tua yang sebaik baiknya.
Aamiin..

De Marrakesh, 6 Maret 2015

Wednesday, November 12, 2014

Saatnya Perhatikan Kembali Shalatmu

Ini ada kutipan yang insyaallah bisa jadi renungan kita terhadap shalat-shalat kita. Semoga bermanfaat

* * * * *

Shalat 60 tahun, tidak diterima
Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata,
“Ada seseorang yang mengerjakan shalat selama 60 tahun, akan tetapi shalatnya tidak diterima.” Lalu ia ditanya tentang orang tersebut, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Abu Hurairah berkata, “Dia tidak pernah menyempurnakan rukuk, sujud, berdiri dan khusyuk dalam shalatnya.”

Adapun ‘Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada orang yang sampai beruban memeluk agama Islam, tapi ia belum pernah menyempurnakan satu rakaat shalatpun demi mengharap ridha Allah.”
Lalu ditanyakan tentang hal tersebut, “Bagaimana hal tersebut bisa terjadi, ya Amirul Mu’minin?”
Umar berkata, “Dia tidak pernah menyempurnakan rukuk dan sujud dalam shalatnya.”

Shalat, tapi hakikatnya tidak melaksanakan shalat.
Berkata pula Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, “Akan tiba suatu zaman yang mana manusia sedang melaksanakan shalat, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidak melaksanakan shalat. Dan aku sangat khawatir jika zaman itu adalah zaman sekarang ini.”
Maka apa (yang akan Anda katakan) jika Anda datang kepada kami lalu melihat keadaan kami saat ini wahai Imam?

Merasa Sujud Sebenar-benarnya, tapi melahirkan dosa karena disibukkan oleh Dunia.
Berkata Imam al-Gazali rahimahullah, “Ada seseorang yang sujud dengan sebenar-benarnya sujud, mengira bahwa dengan melakukan hal itu ia telah mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, demi Allah, seandainya dosa sujud tersebut dibagi kepada seluruh penduduk negerinya maka mereka semua akan binasa.”
Lalu ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana bisa seperti itu?”
Imam Gazali menjawab, “Ia sujud di hadapan Tuhannya dengan kepalanya, akan tetapi ia sibuk dengan hiburan, maksiat, syahwat dan cinta kepada dunia.”

Sujud macam apakah ini?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
(( وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنِيْ فِيْ الصَّلاَةِ))
“Dan dijadikan kecintaanku ada dalam shalat.”

Demi Allah, pernahkah Anda menjadikan kecintaan Anda terhadap 2 rakaat shalat Anda?
Dan pernahkah Anda rindu untuk segera pulang hanya demi melaksanakan shalat 2 rakaat karena Allah?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya),
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 016).

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Belum genap empat tahun antara keislaman kami dengan turunnya ayat tersebut, akan tetapi Allah telah memperingatkan kami. Maka kami menangis karena kurang khusyuknya kami dan dengan peringatan Allah kepada kami.”
Maka pada saat itu kami keluar dan saling mengingatkan satu sama lain.
Kami berkata, “Apakah Anda tidak mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Belum tibakah waktunya bagi orang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” ….
Maka tersungkurlah salah seorang di antara kami lalu menangis atas peringatan Allah kepada kami…

Wahai saudara-saudariku!
Pernahkah Anda merasakan bahwa Allah memperingatkan Anda dengan ayat ini?
Janganlah Anda melihat kepada kecilnya suatu maksiat.
Akan tetapi lihatlah kepada kebesaran Allah yang Anda bermaksiat kepadanya.

Alih bahasa : Arif Ahmadi Yusuf
Diterjemahkan dari artikel berbahasa Arab

* * * * *

Thursday, October 2, 2014

Walau Belum Istiqamah pun, Jangan Putus Asa Terhadap Kemurahan Allah

"Bisa jadi, karamah diberikan kepada orang yang benar-benar belum beristiqamah."

Teruskan perjalananmu hingga paripurna, meski keadaanmu belumlah sempurna. Sebab, bila engkau sudah memilih jalan hidup, semangatmu tak boleh redup. Jangan mengukur diri terlalu tinggi, sebab anugerahNya tak datang secara pasti. Bisa jadi banyak yang engkau dapat meski perjalananmu kadang tersendat. Jika tiba tiba engkau merasakan keajaiban, sadarilah bahwa itu kemurahan dari Allah, sumber kegaiban. Keistimewaan atau keajaiban adalah karunia-Nya yang bisa saja engkau peroleh atas kehendak-Nya. Meskipun mungkin saj hatimu belum sepenuhnya istiqamah. Itulah cara-Nya agar karunia-Nya makin tak terhinggakan.

Adab menerangkan keadaan spiritual hal 207. Buku Al-Hikam. Untaian hikmah ibnu athaillah

Wednesday, August 27, 2014

Hidup Lebih Hidup (3)

Ketika penggalian akan dirimu semakin dalam, kamu akan semakin takjub dengan sebuah sosok yang ternyata begitu menarik. Mungkin kamu tak melihat sosok selebritis atau tokoh heroik fantastis, tapi jauh dari itu, itu adalah kamu dengan segala keunikan dirimu. Bentuk badan, kebiasaan, kesukaan, minat, bakat, potensi, hal lucu, kebodohan, jalan hidupmu, masa lalu, pilihanmu, keputusanmu, orang disekitarmu, latar belakang keluargamu, dan banyak hal lainnya yang melekat rapat pada dirimu.

Tak ada yang persis sama dengan kamu, Seru ya?

Pada suatu ketika, setelah kamu jauh melangkah, kemudian kamu sadar bahwa kamu tidak berada pada jalurmu. Ah benarkah? Tak ada yang benar-benar tahu, hanya saja sepertinya hati kecil kamu bisa mengetahuinya dan meneriakimu. Karena ya, mungkin saja dalam hidup kita pernah 'kurang tepat' dalam memilih jalan, ikhlaskanlah, karena setiap perjalanan selalu mengandung hikmah bagi yang mau  berpikir.

Kini, dengan segenap kesadaran dan kemampuan menentukan pilihan yang telah Allah curahkan padamu, putuskan dengan bulat. Kamu sudah menggali dirimu, buat keputusan-keputusan yang menjadi pondasi hidupmu ke depan.

Kamu akan takjub dengan keputusan itu, karena tetiba muncul sebuah energi besar yang meliputi dirimu! Kamu menjadi tak khawatir lagi dengan apa yang orang lain katakan, kamu punya 'sesuatu' yang besar untuk kamu perjuangkan! Dan tetiba rasanya seluruh alam semesta, Allah perintahkan untuk membantu perjuanganmu.

Ini bukan akhir, perjuangan terus berlanjut. Bersyukurlah dengan apa yang ada, berani merawat cita-citamu, berani memperjuangkannya.

Kamar, 27 Agustus 2014

Tuesday, August 26, 2014

Kalau ngga punya tujuan hidup? (2)

Kalau kamu lagi terus terusan merasa ngga pantes hidup karena ngga punya tujuan, sini deh, berhenti dulu sebentar.

Ngga ada di dunia ini yang Allah ciptakan sia-sia atau seenaknya, kamu ada disini PASTI ada alasannya, dan emang CUMA KAMU yang bisa ngelakuin hal itu.

Dan kalau kamu beneran lagi ngrasa ngga punya tujuan idup banget, saatnya ngaca. Liat diri kamu sendiri, bongkar lagi semua ingatan kamu tentang apa apa yang membuat kamu sedih, atau yang membuat kamu senang.

Serius, dig yourself deeply!

Karena kadang kita sudah terlalu lama bergerak menjauh dari apa yang sebenarnya kita cari, sampai kita lupa sama diri kita sendiri.

Jadi, kalau ngga punya tujuan hidup? Seriusin memaknai diri, dan minta sama pencipta kita buat diarahkan.

Kamar, 26 agustus 2014
Terkadang berani berbagi itu hanya ketika merasa sudah selangkah lebih dari tahap ini. Aku juga termasuk hehe. Padahal menurutku banyak juga orang yang merasakan hal yang sama :)

Minta dibaikkan dalam proses pencarian (1)

Pernah ngerasa hidup seperti zombie? Yang sekedar menjalani, bahkan jadi mempertanyakan tuhan kenapa kita mesti ada di dunia ini?

Ngerti banget deh perasaan kamu yang ngerasa nggak punya arah hidup, ngga punya tujuan, ngga ada yang ingin dicapai, rasanya ngga enak ngapa ngapain. Sampe mikir ngapain hidup?

Hal terpenting sebenarnya ada pada proses pencarian tujuan. Dalam proses itu, fitrah kita untuk berpikir dan merenungkan banyak hal, jadi bertumbuh subur.

Dalam proses pencarian yang kita ngga tau ada ujungnya apa ngga, berdoalah untuk menjalani kehidupan yang baik. Karena kalau di jalan tiba tiba mati? Kan ngga tau, ya?

"Ya allah, perbaikilah agamaku yang merupakan urusanku paling penting, dan duniaku tempat penghidupanku, serta akhiratku tempat aku kembali. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan dan kematian sebagai istirahat bagiku dari setiap kejahatan."
-H.R. Muslim

Kamar, 26 Agustus 2014

Tuesday, July 22, 2014

Niat : 5 Detik Pertama Aktivitas Kita


Apa selama ini kamu udah merasa bahwa semua yang kamu kerjakan dalam hidup, semata kamu persembahkan untuk Allah SWT,  atau untuk kepentingan lain?

Banyak dari aktivitas kehidupan  kita yang luput dalam pengawasan diri. Kita sudah tahu bahwa sesuatu yang tidak didasari karena Allah, sebaik apapun aktivitasnya, maka tidak memberikan keuntungan sedikitpun di hari akhir nanti.

Seringkali niat kita tidak tepat, entah kenapa menjadi begitu banyak “tuhan-tuhan” lain di sekitar kita. Beberapa pengotor dalam memulai aktivitas antara lain : Ingin dilihat, ingin didengar, ingin menonjol, ingin dianggap terhebat, ingin dianggap shaleh, ingin dianggap baik, ingin dilihat ‘dia’, malu sama yang lebih muda, malu kalau tidak berbuat hal yang sama dengan yang lain, terpaksa, kebetulan bisa, dan banyak lagi yang lainnya. Padahal inilah 5 detik pertama yang menentukan keberkahan aktivitas kita, niat.

Niat memang tidak cukup dengan hanya 5 detik saja, tapi bila setiap detik sebelumnya jiwa hidup kita sudah mengarah pada Tuhannya, bukankah 5 detik meluruskan niat menjadi lebih mudah?

Kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan, insyaallah. Sudahkah kau tau bahwa orang yang cerdas adalah yang niatnya meliputi bumi dan menjangkau sampai ke langit? Kau sudah tau apa yang harus kau pikirkan setiap detik.

“Amal ibadah tidak akan sah kecuali jika diiringi dengan niat. Karena niat tanpa amal diberi pahala, sementara amal tanpa niat adalah sia-sia. Perumpamaan niat bagi amal, ibarat ruh bagi jasad. Jasad tidak akan berfungsi jika tanpa ruh, dan ruh tidak akan tampak jika terpisah dari jasad.”
--- Al Baidhawi

Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.
--- Hadits Shahih Muslim Nomor 1907



Belum, semoga Allah kuatkan ikhtiar kita semua.
#TanyaHakikatHidupDanKematian

Hajah Sofyamarwa R.
20 Juli 2014



* * *
Pertanyaan #TanyaHakikatHidupDanKematian ini adalah salah satu dari sekian banyak daftar pertanyaan yang terdapat dalam buku Anis Matta, "Delapan Mata Air Kecemerlangan", yang saya coba jawab dengan sebuah tulisan :)

Friday, November 22, 2013

keputusan, kebetulan, keterarahan

Ada saat-saat di masa lalu di mana keputusan telah salah dibuat dan tindakan telah salah diambil.
Terkadang ada gelisah : Tidakkah itu berdampak buruk bagi masa depanku?
Ah, jangan terlalu gelisah. Sang Maha besar telah menutupi dan mengkoreksi begitu banyak kesalahan kita lewat kasih sayang-Nya. Jika bukan karena kasih sayangNya, 
bukankah telah binasa alam ini ulah perbuatan kita?
Jadi istighfar dan bertaubatlah..
Lalu tetaplah optimis
-- Bang Aad, Adriano Rusfi

* * *

Ah, baru-baru saja aku merasakan bahwa banyak keputusan yang sudah salah kuambil.
Sempat terpikir bahwa aku yang disini hanya sekedar kumpulan dari kebetulan-kebetulan yang tidak kuusahakan. Tapi dengarlah ini :

"Setelah jagad raya ini memberikan apa yang dia inginkan, dia justru mengembalikannya. Akhirnya dia pun mulai belajar kembali, tetapi rasanya lebih sulit dari pada ketika dulu dia mendapat banyak peristiwa "kebetulan". Salah satu hal terpenting…  adalah kita kurang serius dalam menanggapi berbagai kemungkinan bahwa jagad raya ini akan membantu rencana-rencana kita yang sedang kita kembangkan. Kita menjadi lebih berani untuk coba melakukan..., tetapi kita tidak ingin alam semesta benar-benar membantu kita."
--Julia Cameron dan Mark Bryan, Meniru Kreativitas Tuhan

Jleb!
Tidak ada sebutir debu pun yang kebetulan, Allah yang mengaturnya. Semua hal yang sudah dilalui, baik buruknya, kepuasan atau penyesalan, semua adalah bekal buat masa depan, yang bila tidak saat ini tidak bisa, suatu saat akan sangat kau syukuri.

Bukankah kita tinggal berbaik sangka bahwa semua ini skenario terindah yang sudah Allah siapkan??
Yakin kalau Allah memang punya maksud padamu, bahwa semua yang terjadi padamu adalah sebaik-baik takdirmu.

7 November 2013 

waktu #1 : taubat si tukang telat

Bismilllah..

Ada dua hal yang mendorong saya harus merampungkan tulisan ini:
1. Saya tukang telat yang ingin tobat
2. Membaca buku Agus Mustofa yang berjudul "Tahajud Siang hari, Dhuhur Malam Hari" (buku ini sepertri nya akan di bahas di lain waktu :D)

Waktu adalah kehidupan. Tidak menghargai waktu berarti tidak menghargai kehidupan. Saya tertampar, bahwa setiap milidetik yang sering kita sia-siakan, yang sering kita abaikan, mengilustrasikan kebenaran sempurna surat al-ashr. Bahwa pada hakikatnya, manusia berada dalam kerugian, kecuali yang sadar untuk beriman dan melakukan amal shaleh.

Yah, biasanya orang menulis karena setidaknya punya integritas untuk diteladani. Tapi kali ini, tulisan ini dibuat sebagai langkah awal tobat saya yang tukang telat, untuk lebih menghargai waktu, menghargai kehidupan. Saya sadar, sudah jutaan korban *lebay* berjatuhan akibat sikap saya. Dalam proses penulisan ini pun masih dirasa keleletan saya yang berdampak pada waktu orang lain. Bersama ini saya memohon maaf atas segala kesalahan yang saya lakukan, karena sangat tidak mungkin menulis semua korban saya disini, bisa terlalu panjang. Saya berharap kawan-kawan mau saling mendoakan dan memaafkan saya hehe :)

* * * * *

Saya adalah termasuk orang yang sangat meyakini, dan telah membuktikan bahwa ajaran islam adalah ajaran yang bersifat universal. Al-qur'an menyimpan petunjuk universal yang akan berlaku sampai akhir zaman. Bergantung pada kemampuan kita merumuskannya… Dalam buku ini saya hanya mengungkap salah satu bagian tantangan universal itu. Sederhana saja : tentang jadwal shalat dan puasa. Kita bisa melihatnya betapa umat islam perlu merekonstruksi kembali kepahamannya tentang 'waktu'. Sebuah parameter yang oleh Allah dijadikan sebagai sumpah: "Demi masa." (Agus Mustofa)

Sejauh ini, saya mulai sampai pada satu kesimpulan bahwa pemahaman kita terhadap waktu sangat menentukan kualitas diri kita sebagai manusia. Kalau saya bilang waktu itu sangat penting, semua orang pasti juga akan bilang "Ya Iyalah!". Namun pemahaman sebagian orang, termasuk saya ini, belum sampai pada tahap benar-benar memaknai dan mengaplikasikannya pada seluruh kehidupan. Contoh sederhana saja, kalau kita benar-benar mengerti tentang waktu, kita tidak akan pernah sengaja datang terlambat pada suatu pertemuan meskipun tahu bahwa orang-orang lainpun akan terlambat, bukan?

Kemudian saya lalu teringat pada tulisan ustadz anis matta mengenai umur, bahwa umur adalah sebagai batas masa kerja. Kita harus bertanggung jawab pada batas umur kita sendiri. Di dalam batas umur, kualitas hidup kita tidaklah ditentukan pada seluruh umur itu sendiri. Kualitas hidup kita hanya ditentukan pada batasan umur efektif kita. Umur efektif kita adalah saat dimana kita mencapai rasio produktivitas hidup, yaitu apabila 1 unit waktu kita sama dengan 1 unit amal.

Bisa dibilang kita ini hanya numpang lewat di lalulintas waktu yang ada. Bersyukurlah bahwa Kita tidak akan mempertanggung jawabkan seluruh waktu yang Allah hamparkan dari jaman Nabi Adam sampai sekarang. Ya, kita hanya mempertanggungjawabkan usia (waktu hidup) yang diberikan pada kita.

Waktu tidak akan terulang, waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan yang pasti waktu kita akan kita pertanggungjawabkan >,< Mohon jangan bosan mengingatkan >,<

6 November 2013

Thursday, November 21, 2013

mungkin ini saatnya kembali mempedulikan orang lain

Untuk yang pernah merasa seperti ini,
Kau sedih, tak ada orang yang memperdulikanmu. Orang-orang hanya mau berteman dengan teman yang lain. Rasanya tak ada yang mengerti kamu kecuali ada berita kau mati bunuh diri. Temanmu sibuk semua, mereka tidak pernah menghubungimu, mereka tidak pernah mengajakmu pada hal-hal yang bisa dikerjakan bersama. Orangtua? Oh kau bisa berharap apa? Selama ini mereka tidak pernah mengerti dirimu kan? Kau merasa seperti hidup di neraka. Bahkan psikolog ternamapun mungkin akan angkat tangan mengatasi masalahmu.

Langitmu serasa runtuh? Bumi serasa menelanmu? Tidak ada termpat bernaung? Mungkin kau sama denganku?

* * *
Yah, Kurasa ini saatnya kau bertaubat. Kurasa belakangan ini kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri, kau tak lagi memerhatikan teman-teman dan orang di sekelilingmu. Kau lupa dengan hak-hak yang biasa kau tunaikan pada sahabat-sahabatmu. Kau terus mencari solusi jauh di luar dirimu tanpa menyadari bahwa sebenarnya solusimu ada dirimu sendiri.

Yaa, mungkin ini sangat berat, dan kutahu kau masih tak bisa mempercayaiku. Tapi percayalah, ketika kau merasa sangat kesepian dan mengharapkan adanya perhatian dari orang lain, itulah saatnya kau mulai peduli dan memerhatikan orang lain. Sesederhana itu saja.


9 Oktober 2013

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...