Showing posts with label Sekolah Alam. Show all posts
Showing posts with label Sekolah Alam. Show all posts

Sunday, November 2, 2014

Tips Pengajaran Quran di Sekolah

Tulisan ini saya dapat dari salah seorang guru senior di Sekolah Alam Bandung di dalam grup whatsapp. Seorang pendidik dan pengajar yang sejak awal perbincangan saya dengannya, memberikan saya pemahaman bahwa menjadi seorang guru adalah amanah yang besar. Beliau sangat concern pada Al-Quran, senantiasa "menohok" diri saya kala itu untuk terus memperbaiki interaksi dan pendalaman al-quran saya yang masih kecebelehe -_-

Ini tentang pembiasaan tilawah quran untuk para guru, kaitannya dengan pemahaman menyeluruh yang harus dimiliki seorang pendidik. Semoga bermanfaat.

Kuantitas Tilawah Harian dengan Tahapan Belajar Al-Quran

* * * * *
Bismillah
Agar program yang baik membuahkan hasil yang baik maka ikutilah tahapan/marhalahnya.

Sempurnakan program yang bagus (odoj Al Qur'an) dengan pemahaman ilmunya (ilmu belajar dan mengajarkannya/orthopedagogi).

Standard prosedur program GURU belajar Al Qur'an di sekolah agar berkah harus mengikuti kaidah yang berlaku di kalangan ulama bahwa mempelajari Al Qur'an (meskipun hanya membacanya) wajib memiliki guru yang baik. #mohon dengan sangat tidak perlu dibenturkan kebaikan dengan kebaikan, maksudnya tetap jalankan program odoj dengan sukses dan semangat sambil terus berupaya dengan sungguh-sungguh mencari guru Qur'an yang baik terutama jika diamanahi sebagai pimpinan dan atau pemegang kebijakan di Sekolah#

Ustadz-ustadz di Tarqi, Maqdis, atau jendela hati Insya Allah biidznillah bisa menjadi guru tahsin tilawah Qur'an yang baik.
Ilmu dari Tarqi yang saya dapat adalah tahapan tilawah harian sangat disarankan sesuai dengan level tahsin. (Penting: terlebih dahulu harus dijalani belajar AlQur'an yang benar, tidak cukup dikira-kira atau meraba-raba. )

Arahan dari guru Tarqi, Peserta yang sedang belajar di level:
Tahsin 1 --> minimal tilawah harian 2 lembar
Tahsin 2 --> minimal tilawah harian 4 lembar
Tahsin 3 --> min 6 lembar
Tahsin 4 --> min 8 lembar

One day one juz (Odoj) sepengetahuan saya di tahsin lanjutan.

Bismillah
Artinya Tahapan dari pra Tahsin, kemudian 4 level tahsin yang sudah disiapkan guru-guru di Tarqi dirancang untuk membantu setiap muslim untuk bisa membaca Al Qur'an dengan kualitas seperti contoh Rasulullah dan Kuantitas minimal yang diperintah Beliau, yaitu sebulan hatam Qur'an (odoj = 30 hari/sebulan hatam Qur'an).

Saran teknis, agar semua pihak terfasilitasi program maka disesuaikan dengan kemampuan semua guru kelas, jadi membuat grupnya bisa diperbanyak
1) one day one ngain (sebaiknya 'ain, biar bagus juga namanya ODO' bukan ODONG -ada di tahsin2), atau
2) one day one page (odop)
3) one day a half juz (odaj)
4) one day one juz /odoj

Insya Allah sambil terus saling mengingatkan untuk belajar Qur'an di Tarqi,Maqdis, atau Jendela Hati.

Barakallah untuk semuanya terutama yang sudah mendaftar program Tahsin dan semoga bertambah keberkahannya, rizqinya, kemudahan segala urusan, dan bertambah kemuliaannya di hadapan Allah Rabbul 'Izzati bagi yang sedang/telah belajar Tahsin.

Allahu a'lam bisshowab

(Pak Kodiron, 1 November 2014)

* * * * *

#Ada perubahan sedikit yg saya lakukan untuk membuatnya dapat lebih umum digunakan.
#aslinya ngga ada judul
Sy ngasi judul sendiri, hehe

=======

Serial tulisan #SekolahAlam ini saya buat sebagai salah satu wujud syukur dan terimakasih atas pembelajaran yang saya dapatkan waktu saya mendapat kesempatan menjadi guru kelas (fasilitator) di Sekolah Alam Bandung. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk para pendidik, calon orangtua, siapapun yang berdekatan dengan anak-anak, dan yang ingin lebih dekat dengan Al-Quran :)

Tuesday, October 21, 2014

Pembiasaan Disiplin dari Kecil, dari Hal Kecil : Simpan Sepatu



Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan
--Aristotle

Ruang kelas hasil perpaduan bambu dan kayu itu  begitu sederhana. Tak ada pintu untuk masuk yang menutupi, namun sebelum masuk, siapapun dipersilakan membuka alas kaki dan menyimpannya di  sebuah rak penyimpanan sepatu di sebelah kiri tangga.

Bukan sebuah hal besar, tapi begitu membekas di hati. Setiap anak dibiasakan untuk selalu menyimpan alas kakinya di rak. Barangsiapa yang lupa. Bersiap diteriaki oleh murid yang piket atau yang sedang rajin sweeping sepatu. Setiap anak punya hak untuk diingatkan terlebih dahulu. Tak ada bedanya guru maupun murid, semua punya hak dan kewajiban yang sama.


“Heeey ini sepatu siapaa? Mau di simpen atau mau dibuang ajaa?”


Dan setelah itu anak-anak berhamburan menyimpan sepatu sandalnya masing masing dengan riang gembira! Kebiasaan itu pasti tidak muncul serta merta, perlu pengondisian dan kekonsistenan dari seluruh elemen yang terkait. Dalam hal ini guru kelasnya di sekolah, dan terutama di rumahnya.

Dari sana anak belajar untuk disiplin, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Teratur dan disiplin yang dijadikan kebiasaan akan menuntun kita pada kebiasaan baik yang sangat berguna di masa depannya. Saking pentingnya sebuah keteraturan, sampai seorang penyair Pope menyatakan bahwa keteraturan adalah hukum surga pertama. Dan tahu kan apa yang lebih utama? Amalan yang dicintai Allah adalah yang iqtiqamah (konsisten) walaupun kecil.

Kalau sudah punya pandangan tentang akhiran yang baik, maka prosesnya juga mesti baik, maka otomatis cara mengingatkannya pun harus dengan baik, betul kan? :)

Maka perhatikan hal kecil, biasakan disiplin sejak kecil, dari hal-hal kecil yang seringnya kita abaikan :)


Bandung, 21 Oktober 2014
Hajah Sofyamarwa R.
Pernah sebentar jadi guru

*Special Thanks To Bu Arti, mantan “Partner in Crime” saya di SD 2 dulu yang sudah menyetting suasana semacam itu :D


=========================================================================
Serial tulisan #SekolahAlam ini saya buat sebagai salah satu wujud syukur dan terimakasih atas pembelajaran yang saya dapatkan waktu saya mendapat kesempatan menjadi guru kelas (fasilitator) di Sekolah Alam Bandung. Dulu tak sempat, sekarang punya waktu lebih luang, sayang sekali kalau tidak dibagikan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk para pendidik, calon orangtua dan siapapun yang berdekatan dengan anak-anak :)

Kisah Melamar Kerja : Guru Kelas Sekolah Alam Bandung



Pemandangan Gerbang masuk Sekolah Alam Bandung, Dago

Sebetulnya saya agak canggung kalau bilang “melamar kerja” di Sekolah Alam Bandung. Soalnya bagi saya, saat itu saya memilih dan mengajukan diri untuk mengabdi dan beraktivitas pada suatu aktivitas yang sangat menyenangkan! Tapi karena melamar kerja inilah yang jadi tema-tema besar yang banyak dicari orang, maka tertulislah “Melamar Kerja” hehe


* * *


KISAH AWAL MELAMAR KE SEKOLAH ALAM BANDUNG
Sehabis lulus S1 Biologi ITB (Oktober 2013) saya tidak langsung berambisi mencari kerja. Saat itu saya masih ada proyek dari dosen, pegang beberapa anak privat, dan memang tidak sebegitu inginnya mencari pekerjaan #jitak. Saya ingat hanya sempat mengikuti Career Day ITB dan BUMN Career Day di Jakarta, hanya untuk memenuhi rasa penasaran saya bagaimana rasanya menjadi seorang jobseeker. Bukan maksud hati untuk nge’sok, percayalah, saat itu saya masih begitu ‘bocah’ dan belum sadar sama realita kehidupan yang ada #hehe.

Sekitar Desember akhir saya dapat informasi lowongan untuk menjadi Guru di Sekolah Alam Bandung dari seorang sepupu yang dulu pernah bekerja di sana. Tahukah? Dengan tekad penuh, saya langsung meng-apply kirim email ke sana, bahkan tanpa perduli bahwa DEADLINE SUDAH LEWAT,  dan yang dicari juga guru LAKI-LAKI, bukan perempuan! Saya kirim seberkas email lamaran, dan saat itu saya hanya berbekal keyakinan diri bahwa saya ingin menjadi bagian dari sana. Saya begitu tertarik dengan konsep sekolahnya, saya bahkan baru memikirkan nominal insentif (gaji) ketika mau berangkat interview, itupun karena diberi tahu sepupu! Saat itu sayapun tidak begitu mempedulikan hal itu. niat saya satu, diberi kesempatan disana saja sudah alhamdulillah :)

Februari 2014 itu saya mendapat kesempatan menjadi panitia exchange mahasiswa Korea (Kookmin University) dan mengharuskan saya berada total di ITB jatinangor selama sekitar 7 hari. Di sela-sela tugas saya sebagai konsumsi dan LO itu, saya mendapat panggilan untuk interview dari Sekolah Alam Bandung. Apa mau dikata, saat itu saya memutuskan untuk fokus di acara dulu, dan minta reschedule. Setelah sekian hari setelah itu, saya mendapat panggilan interview lagi, dan Alhamdulillah waktunya cocok.

Sehubungan dengan adanya informasi rekruitmen terbuka sebagai Guru Kelas di semester II tahun ajaran 2013-2014, saya Hajah Sofyamarwa tertarik untuk dapat bergabung dengan Sekolah Alam Bandung. Sebagai lulusan Sarjana Biologi ITB yang terbiasa di alam dan memiliki ketertarikan dalam bidang pendidikan dan perkembangan anak, menjadi seorang guru adalah salah satu cita-cita yang sesuai dengan passion saya.

Belum banyak pengalaman mengajar saya. Sudah hampir kurang lebih 2 tahun saya menjadi guru les privat di tingkat SD kelas 5, SMP kelas 2, dan SMA kelas 2. Latar belakang saya cukup aktif dalam kegiatan pengembangan diri remaja dan mentoring di sekolah maupun kampus.

Seperti yang tercantum dalam publikasi, saya tahu bahwa yang dibutuhkan adalah Pria dan batas waktunya sudah lewat (24 Desember 2013), namun saya tetap mencoba, dan yakin bahwa saya masih punya peluang untuk dapat menjalin hubungan dengan Sekolah Alam Bandung dalam bidang apapun. Menurut saya sekolah alam merupakan salah satu lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Tidak seperti sekolah biasa yang kadang hanya berfokus pada kemampuan akademis namun juga praktek di alam bebas yang mengasah imajinasi dan kreativitas. Saya juga berharap dapat meningkatkan kualitas diri pribadi, memberikan nilai tambah bagi Sekolah Alam dan saya akan sangat senang dapat menjadi bagian dari itu.
 

SAAT INTERVIEW
Persiapan saya untuk interview terbilang simple. Saya cukup percaya dengan diri saya sendiri untuk bisa mendapat kesempatan “belajar” di Sekolah Alam Bandung (SAB). Sekali lagi mudah-mudahan bukan karena kesombongan, pengalaman hidup sampai saat itu memang menuntun saya untuk terbiasa berada dalam lingkungan pembinaan dari anak-anak sampai remaja. Akan beda cerita kalau saya harus meng-apply kerja di sebuah lab penelitian, pasti saya grogi setengah mati ahehe. Saya merasa punya keterkaitan hati pada dunia pendidikan dan anak-anak. Saat interview saya berhadapan dengan kepala sekolah, dan guru-guru senior yang semua berjumlah 3 orang (Pak Aryo, Pak Sururi, Bu Hafni).

Sebelum interview saya menyempatkan diri berjalan jalan di lingkungan sekolah. Excited banget! Selain suasana sekolahnya yang ‘ngalam’ banget, saya lagi liat anak-anak yang outbond, main basah-basahan di kolam. Kebayang banget kan gimana nanti aktivitas saya kalau ada disana? Makin ;)

Bismillah, interview apa adanya, tanpa beban. Habis interview juga santai aja, jalan-jalan lagi dan ngajak ngobrol murid di sana. Alhamdulilla, sekarang hanya bisa berharap yang terbaik aja.

DI KONTRAK SEBAGAI PENGAJAR
Alhamdulillah, saya dipanggil lagi untuk membicarakan kontrak. Sebut saja guru percobaan, tentu saja, menjadi seorang pendidik juga sama saja dengan kalau kita melamar ke suatu perusahaan. Ada masa percobaan, masa penyesuaian. Saya ditempatkan bersama seorang partner, Bu Arti di SD 2. Bu Sari minta maaf karena ditempatkan bersama guru perempuan (seharusnya laki-perempuan), tapi toh emang saya yang ngaco karena lowongan buat cowok laki-laki malah saya lamar juga hehe. Saya pun masuk di pertengahan semester, jadi makin merasa dodol juga hehe. Saya sendiri juga tak begitu yakin apa yang membuat saya bisa diterima disana. Mungkin semua karena kebaikan hati mereka untuk memberi saya kesempatan untuk bisa belajar disana. Singkat cerita, tak lama setelah itu 17 Maret saya mulai masuk kelas. Alhamdulillah :’) Kisah seru mengharukan selama saya menjadi pengajar setelah ini dilanjut di postingan terpisah ya :)

* * * * *
Sudah 3,5 bulan berlalu sejak saya resign sebagai guru kelas SD 2 Sekolah Alam Bandung (Juni 2014). Ya, resign, singkat sekali bukan?  Saya tipikal orang yang suka menulis, namun betapa sulitnya mengabarkan perihal ini pada dunia, pada para blogwalker disini. Butuh keberanian dan kekuatan ekstra untuk akhirnya berani berbicara hehe. #maaplebay #tapiserius. Mau tahu alasannya? Insyaallah di postingan yang lain ya, insyaallah :)


Bandung, 21 Oktober 2014
Hajah Sofyamarwa R.

Sunday, June 1, 2014

Hari Pertama di Sekolah Alam Bandung




#latepost
Yap! Akhirnya datang juga hari yang ditunggu-tunggu. Insyaallah mulai hari ini saya mulai mendampingi anak-nak SD2 di sekolah Alam Bandung dan berpartner dengan bu Arti :3

Malam sebelumnya, saya tidur di awal waktu karena khawatir keesokan harinya terlambat bangunhehe. Paginya, saya kaget jam 7.50 an sampe skolah, tapi masih sepi banget. Apa salah hari ya? Akhirnya jala-jalan dulu aja (di sana kaya tempat piknik ko hehe). Hari ini kelas dipegang sama pak aryo juga (Kepsek) karena bu arti nya lagi sakit.

Ini anak pertama yang saya kenali. Anaknya pinter, dan suka nunjukkin kalau dia suka bisnis. Usut punya usut ternyata beliau anaknya salah satu guru di SAB juga yang emang suka bisnis. Dzilan ini anak pertama yang saya tanyakan : "Mau panggil bu Hajah atau bu sofya?" hehe.

HARI SENIN JADWAL OUTBOND!

Apaaah? Outbond?
It sounds interesting! Pasti. Kalau istilah konvensionalnya mah olahraga. Katanya “Pakai pakaian yang sesuai aja dengan outbond.” Saya sempet bingung mau langsung pake celana ato rok. Saya pribadi bukan orang anti-celana, toh selama dipergunakan di waktu dan tempat yang sesuai ngga masalah. 

Outbond kali ini Web climbing. Anak-anak dipasangin tali webbing untuk pengaman saat manjat. Guru-guru kelas pada bantuin guru outbond, saya?? Waduh belum tau cara nail-nali nyaa! :O Alhamdulillah diajarin sama Bu Tya, sama pa Nandang. Setelah cukup lancar, baru berani buat masangin ke anak-anak.
pemasangan tali webbing

SAB (Sekolah Alam Bandung) punya kolam, saat itu lagi banyak anak-anak lele. Ternyata banyak ikan lele yang mati karena beberapa hari sebelumnya diperkirakan ada orang yang kurang bertanggungjawab sama kondisi kolam. Anak-anak pada heboh deh! Hehe
ikan lele mati

 

BUDAYA BUKA KELAS-TUTUP KELAS

Ini nih yang menarik dan bikin saya tertohok! Sebelum memulai kelas, 25 anak-anak dan guru duduk melingkar di tengah kelas. Kelas tidak dimulai kalau masih ada yang rebut sendiri.
Buka kelas ini dimulai dengan salam dan do’a-do’a yang sudah mereka hafal. Setelah itu dilanjutkan dengan cerita pagi oleh anak-anak yang dijadwalkan piket di hari itu. Sehabis bercerita, dilanjutkan dengan talaqqi hafalan juz 30 bersama-sama, menambah ayat hapalan, dan shalat dhuha.

Memberi kesempatan bercerita

Anak-anak diberi kesempatan untuk menceritakan kisah liburannya. Kalian harus liat betapa hampir semua dari mereka semangat syekalii! Semuanya mengacung ingin bercerita! Saya jadi penasaran waktu saya kelas 2 SD jaman dulu, ada sesi semacam ini ngga ya? *ga inget*. Menurutku ini bagus banget, pembiasaan untuk berani bercerita. Yah, walaupun pasti ada-lah alur cerita yang ga jelas atau “terlalu imajinatif”, tapi seenggaknya mereka punya kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka. Tinggal diarahkan saja.

Saat Talaqqi juz 30

Di situ saya salting, batin meraung-raung T_T merasa tertampar karena sampai sekarang juz amma belum hapal semua, dan mereka sudah dibiasakan menghapal surat-surat panjang di juz 30 di usianya yang masih 7 dan 8 tahun! T_T Memang, belum semuanya hafal, tapi rata-rata bisa mengikuti. (oke kawan-kawan seusia, mari berjuang! >,< *jadi nambah tujuan ada disini*)

Hari Pertama ini, saya dipanggil Bu Sofya. Ternyata anak-anak perempuannya lagi pada doyan sama tokoh Disney Sofia The First! hehe


#latepost
17 Maret 2014
Hajah Sofyamarwa R.

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...