Showing posts with label mengikat makna. Show all posts
Showing posts with label mengikat makna. Show all posts

Wednesday, December 5, 2018

Hey, Reclaim Your Heart! Part. 1



Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah setelah sekian lama vakuum dalam menulis blog, insyaallah mulai hari ini hajah akan meruntinkan kembali di setiap pagi.

insyaallah alamat blog ini yang semula www.hajahsofya.com, sementara akan kembali menjadi www.hajahsofya.blogspot.com ya. Faktornya karena memang domain .com tersebut belum bisa didaftarkan lagi dan membuat saya jadi tak semangat menulis. PADAHAL, kalau mau menulis ya menulis saja yah HEHEHEHE. Singkat cerita saya putuskan kembali ke alamat lama dulu.

Baik, pagi ini saya menyempatkan membaca sedikit sebuah Buku Berjudul Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu) : Wawasan-Mencerahkan tentang Cinta, Duka dan Bahagia karya Yasmin Mogahed. Buku ini merupakan buku terjemahan yang setahu saya sangat dicari versi bahasa inggrisnya. Saya mencukupkan diri membaca versi terjemahannya dulu saja, saat bukunya ada. hehe

Kenapa buku ini? Bisa nebak sendiri ya kondisi seseorang dari pilihan buku bacaannya ;)

Terdiri dari 7 BAB besar, dengan beberapa subbab. Saya membaca BAB 1 yang berjudul KETERIKATAN, pada subbab : Mengapa Orang Orang harus Saling Meninggalkan?. Jujur pada awalnya saya tak langsung bergejolak saat membacanya, bisa jadi karena faktor buku terjemahan tadi ya. Tapi bisa jadi juga karena pada saat awal saya merasa saya tidak membaca apa yang saya perlukan. PADAHAL setelah dilanjutkan bacanya, saya merasa agak sedikit mirip dengan yang disebutkan dalam bab tersebut.

Cinta dunia itu bukan sekedar materi —seperti yang banyak disangka— 
“Tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia berarti terikat pada hal-hal yang bersifat material. dan saya tidak mengikatkan diri pada materi. Saya terikat pada manusia. Saya terikat pada momen. Saya terikat pada emosi. Maka tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia tidak berlaku pada diri saya. Saya tidak menyadari bahwa manusia, momen, emosi merupakan bagian dari dunia.”“Saya mengharapkan kehidupan ini menjadi sempurna, kondisi yang tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Sebagai seorang yang idealis, saya berjuang dengan setiap sel tubuh saya untuk melakukannya. hidup saya haruslah sempurna. Saya memberikan darah, keringat, dan air mata dalam ikhtiar ini : mengubah dunia menjadi Jannah. Ini berarti mengharapkan orang orang di sekitar saya untuk menjadi sempurna. Mengharapkan hubungan saya menjadi sempurna. Mengharapkan terlalu banyak dari orang-orang di sekitar saya dan dari hidup saya.” 
Jleb!

Kutipan singkat yang rasanya begitu cocok menggambarkan diri saya. Tentu ada beberapa hal yang berbeda dari diri saya dan diri penulis. Kalau penulis menggambarkan diri sebagai orang yang mudah terikat, sangat butuh sahabat. sementara saya, termasuk orang yang sebetulnya tak mudah terikat pada orang. Bukan berarti tak butuh sahabat, ah siapa sih yang tak butuh sahabat? Bedanya, saya perlu waktu lebih untuk beanr benar dekat orang. Bersyukur selama ini Allah berikan saya sahabat-sahabat orang yang mau merangkulm sehingga saya tak begitu sulit menjangkau mereka :)

Saya paling suka kutipa ayat dari Alquran yang muncul disertai dengan hikmah yang ia berikan, salah satunya seperti di surat Al Baqarah 2:256. Seperti secercah embun ditengah kedahagaan jiwa bagi saya! 
“Barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhbul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hey, kemanakah kau berpegang selama ini?
Sekuat apa peganganmu pada Nya?

dan satu lagi ayat yang menggugah saya adalah surat Yunus 10:7 
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”

Baca hikmah ini dan mungkin kamu juga akan merasa tertampar : "Dengan berpikir bahwa saya bisa memperoleh segalanya disini, saya tidak mengharapkan pertemuan dengan Tuhan. Harapan saya bersifat duniawi. Apa artinya menempatkan harapan pada dunia? .., Ini berarti bila Anda memiliki teman, jangan mengharapkan teman-teman anda untuk memenuhi kekosongan Anda. Bila Anda menikah, jangan mengharapkan pasangan Anda untuk memenuhi setiap kebutuhan Anda. Bila Anda seorang aktivis, jangan menaruh harapan dalam hasil. Bila Anda sedang kesulitan, jangan bergantung pada diri sendiri. Jangan bergantung pada manusia. Bergantunglah pada Tuhan."

Jleb jleb jleb.

By the way, Jawaban dari pertanyaan di subbab ini adalah : Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Karena hidup ini tidak sempurna. Jika hidup ini sempurna, bagaimana lagi kita menyebut tahapan perjalanan hidup selanjutnya (akhirat)?

Dicukupkan dulu sampai disini, masih lanjut bacanya yah :)
Semoga bermanfaat :)


Rabu, 5 Desember 2018
Hajah Sofyamarwa R.

Thursday, December 11, 2014

Asyiknya Ditampar Buku Self Driving Rhenald Kasali

Satu lagi buku bergizi berhasil hadir di depan mata! Alhamdulillah :)

Dikenalkan pertama kali oleh pak hernowo dalam ulasan-ikatan- makna-nya, serta sedikit kutipan cerita dari salah satu sahabat saya, hani. Buku SELF DRIVING nya Pak Rhenald Kasali ini seperti diramu dari berbagai bahan pilihan yang memang membuat para pembacanya merasa terus "tertampar" setiap membaca halaman demi halamannya. (Ya gatau ya, saya sih ngerasa begitu hehe).

Apa yang disampaikan melalui buku ini begitu cocok dibaca oleh siapapun, terutama bagi yang sedang dalam masa penyadaran diri. Itulah kondisi saya pribadi saat awal membaca buku ini. Saya merasa ini saatnya benar2 memegang kendali terhadap diri saya sendiri. Tidak mudah, tapi insyaallah saya akan sangat senang untuk menjalani prosesnya.

Buku ini menggambarkan perbedaan nyata dari karakter seorang passenger dengan driver. Ternyata banyak orang yang ngga sadar kalau sebenernya masih hidup dengan mental passenger, tak terkecuali orang-orang yang sudah berpendidikan tinggi bahkan sudah punya jabatan.

Menariknya, sejak awal justru dibahas mengenai sistem pendidikan yang ada di indonesia ini, khususnya lulusan lulusan universitas. Ngga main main, dibuat dari persepektif seorang calon rektor yang akan "meramu" sebuah sistem pendidikan. Kalo boleh meminjam istilah bang aad mah, jadi melihat dengan helicopter view nya.

Tadinya saya mau rajin posting rutin resumenya, tapi saking bergizinya buku ini, saya bener bener harus perlahan melahapnya untuk bisa mengambil saripatinya. Membaca adalah sarana, yang terpenting adalah bahwa dengan membaca, kita secara sadar melakukan perubahan atau perbaikan kita menjadi lebih baik.

Karena saat ini lagi baca bab 8 tentang play to win, saya bocorin sedikit ya, meurut saya : buku ini bukan menampar orang-orang pada titik ekstrim, justru buku ini "menampar" orang orang pertengahan yang terkadang hidup sekedarnya, istilah pak rhenald : play not to lose. Yang tidak terganggu dengan gejolak sedihnya kekalahan, tapi juga tidak berjuang sepenuhnya mencapai kemenangan tertinggi, terlalu aman.

Kalau dipikir pikir, Allah juga nyuruh kita minta surga terbaik (ekstrim kanan), dan menjauhkan diri dari neraka (ekstrim kiri), kan? Ngga nyuruh kita untuk jadi biasa biasa aja?

Semoga proses absorpsi isi buku ini membuahkan hasil terbaik ya!
Selamat membaca, share pengalaman baca mu ya! :D

De Marrakesh, 11 Desember 2014

Wednesday, November 19, 2014

Teknik Mengikat Makna, Bekal Belajar Saya dalam Membaca Buku

Lama tak bersua dengan Pak Hernowo lewat bukunya, membaca buku Vitamin T saya langsung menuju pada satu topik yang saat ini begitu saya butuhkan. Sudah pernah dibaca, tapi rasanya perlu mengingatnya kembali. Dituliskan pada halaman 58-63, artikel berjudul "Meresensi Buku dalam setting Mengikat Makna", lagi-lagi sukses membuat saya begitu bersemangat lagi membaca buku.

Saya begitu suka dengan buku. Ada masanya saya begitu tak bisa diganggu bila sedang membaca, namun ada masanya pula saya merasa membaca buku hanyalah bagian dari escape from something i don't want to think about. Tapi biar bagaimana pun, saya bersyukur tempat pelarian saya ada pada sesuatu yang cukup positif hehe. Kebiasaan baik tersebut memang sepantasnya dirawat, dan diperhatikan. Bagian bagian mana saja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya, karena semua orang bisa membaca, namun tak semua orang bacaannya bisa kemudian berdampak baik pada kehidupannya.

Saya paling suka ketika kata-kata yang dituangkan pak hernowo benar-benar dapat membahasakan apa yang saya rasakan. Inti proses pengikatan makna yang beliau lakukan adalah bertemunya pengalaman batin diri kita pribadi dengan pengalaman si penulis buku, yang hasil akhirnya membuat diri kita berkembang. Dan itulah yang membuat prose membaca buku menjadi begitu menyenangkan dan berdampak.

Sampai sini saya mau memastikan bahwa kita sudah sefrekuensi dulu ya?
Tujuan saya baca artikel ini adalah agar kegiatan membaca saya benar2 bermanfaat. Saya baca, dan menuliskan kembali untuk mengikatnya, kemudian agar bermanfaat bisa dibagikan kembali pada yang lain. Maka ini upaya agar proses dan hasilnya baik, serta dapat bermanfaat untuk yang lain. Cukup ya?

Lantas bagaimana caranya meresensi buku dengan setting mengikat makna?

Ada 3 teknik, dan proses ini bertingkat semakin tinggi :
1. Cut and paste
Teknik mengunting dan merekatkan. Memberikan peluang sangat besar kepada seseorang untuk berlatih menulis dengan bantuan "bahasa" oranglain. Caranya dengan mencuplik dan mengumpulkan tulisan tulisan yang menarik perhatian kita dari sebuah buku, tuliskan kembali pada buku harian. Lakukan berkali kali, kumpulan resensi itu akan sangat bermakna buat kita, karena pengalaman penulis itulah yang menarik batin kita, yang cocok dengan pengalaman pribadi kita.
-> saya perlu ningkatin lagi ini. Ingat dulu sering, dan buku yang jadi kumpulan tulisan itu bener bener jadi sesuatu yang bermakna kalau dibaca ulang.

2. Focusing
Pusatkan perhatian pada satu hal yang ada di dalam buku, yang menarik perhatian kita. Bisa fokus pada sosok pengarang (latar belakang pendidikan, alasan menulis, apa keistimewaannya, hikmah dari pengalaman luar biasa si penulis), desain sampul buku (kalau misal punya ketertarikan disitu), pengorganisasian buku.
-> Sepertinya saya belum pada tahap ini, karena kadang saat baca buku belum mau nulis yang fokus begitu. Biasanya resume general, dan emg dirasa kadang "core" nya malah kurang dapet. Perlu dicoba.

3. Comparing
Teknik membandingkan, Teknik tertinggi yang akan optimal dilakukan bila 2 teknik sebelumnya sduah dilakukan cukup lama. Perlu baca buku lainnya yang sejenis, analisis lebih dalam dan lebih terukur. Yang perlu diperhatikan dan "diikat" makna nya lebih banyak.

Bagi pak hernowo, pada akhirnya, proses mengikat makna bisa dilanjutkan dalam konteks apa saja. Pokonya ketika bersentuhan dengan hal hal yang bermanfaat bagi diri, langsung dituliskan. Bisa dari nonton film, denger musik, bahkan ketika melihat diri sendiri, langsung IKAT!

Mengikat makna dapat membantu saya dalam mengenali pikiran, perasaan, dan apapun yang bergejolak di dalam diri saya. -hernowo

"Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang lain -entah hal itu nyata atau imajiner- merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kuta mengenai apa sebenarnya diri kita san bisa menjadi seperti apakah diri kita ini."
-Ursula K. L. Guin

Terimakasih pak hernowo, semoga semakin semangat mengikat makna lagi, memudahkan diri dalam proses belajar selanjutnya :)

Saturday, February 15, 2014

One Day One Lesson - Branding, Marketing 3.0

Lagi ngetrend ODOJ (One Day One Juz), kemudian muncul ODOP (One Day One Page), ODOL (One Day One Line), ODOA (One Day One Ayat), dll

januari lalu saya diajakin sama Kang Bezie dan Teh amie buat gabung di milis ODOL (One Day One Lesson). Tujuannya untuk saling berbagi pelajaran yang didapat di hari itu. Seru deh dapet cerita belajar dari kawan-kawan :) Ckck.. Udah lama banget saya absen dari dunia per-ODOL-an ._. tiba-tiba keinget dan jadi ingin mosting disini :)

* * * * *
BRANDING, MARKETING 3.0
Bismillah
Assalamualaikum semoga keberkahan diberikan Allah pada kita semua..
Kabar baik kang, teh?  Alhamdulillah.. :)

Mohon ijin memperkenalkan diri ya? Saya Hajah Sofyamarwa Rachmawati, akang teteh bs panggil saya hajah :)

 
Alhamdulillah saya bersyukur punya kesempatan bergabung dgn kawan2 untuk saling berbagi. Terimakasih khususnya untuk kang bez dan teh ami yang mngajak dan memfasilitasi milis ini.

 
Kawan2 tau? Walau belum ramai, Sy senang sekali saat tahu ada email baru yg masuk, yang isinya rumusan pembelajaran dari kawan2 milis ODOL ini. Rasanya seperti dapat kejutan, karena jadi penasaran menebak nebak hal menarik apa yang kawan2 alami sbg pembelajaran.
Alhamdulillah :')

 
Kemarin berkesempatan ikut kelas inspirasi branding nya kang Monde dari KSM di audi inspira. Pikiran saya dibukakan mengenai generasi marketing di era ini, mas Philip Kotler et al menamainya era Marketing 3.0.

 
Marketing 1.0 berfokus pada produksi barang, distribusi pada pelanggan. (Vertikal aja)
Marketing 2.0 mulai memerhatikan sisi emosional manusia.
Dan Di era teknologi internet spt skarang, Marketing 3.0 bergerak horizontal yg basisnya human spirit. Ada nilai tambah ketika membeli suatu produk, tp kita bisa trut berkontribusi pada suatu hal (kelestarian bumi, kemanusiaan,dll). Perusahaan melibatkan pelanggan dalam banyak hal. Pelanggan lbh aktif mencari yg dia inginkan dgn fasilitas internet dan jaringan teman.

 
Pernah inget rumusnya mas einstein yg E= mC^2? Hihi, Dalam marketing agak dimodif sedikit jadi seperti ini sama pa yuswohadi

E = wMC^2
E = energi marketing yang maha dahsyat sedahsyat bom nuklir (ini bukan sy yg lebay ya, emg begitu ktny hehe)
C = community (online offline)
wM = word of mouth (rekomendasi dan testi pelanggan)


Kang monde jg bilang, 2 hal yang saat ini paling efektif adalah bersosial media dan berkomunitas.

 

"The world became flat", kini hampir ga ada batas antar siapapun. kemajuan teknologi berbasis internet bisa mentransformasi individu, membebaskan potensi, dan kreativitasnya.
Ada buku bagus ktny terkait ini: The world is flat, A brief history of the 21 century, karyanya mas Thomas L. Friedman. Belum baca juga sih hehe.

 

Intinya di era ini, lebih melibatkan pelanggan dan komunitasnya. Karena pada suatu ketika, mungkin saja loyalitas pelanggan lah yang "ribut" memasarkan produk kita. Jadi selain memperbaiki kualitas produk, pintar2 kita dalam menjaga hubungan baik dgn komunitas kita.
 

Kang teh, cukup menarik bagi saya yg visual untk membahas desain logo.
Branding erat kaitannya dengan logo. Kemarin bnyk dibahas tentang dasar2 dalam design bentuk suatu logo dan psikologi warna2. Usahakan visi dan value jelas, kemudian dirangkum menjadi logo kita.

 

* * * *
1 Pelajaran lagi, kalau udah adzan, derr langsung wudhu dan shalat. Sesaat sblm magrib sampai adzan tadi keasyikan ngetik ODOL, eh ditegur sama Allah dgn jari yg ga sengaja mencet discard a.k.a smua yg udh ditulis jd ilang smua.
 

Cukup sekian dulu ya dari hajah.
Semoga bermanfaat :)
Semoga istiqomah saling berbagi makna :D

16 Januari 2014

Friday, November 22, 2013

Kesan pertama membaca buku "Menikah Untuk Bahagia"

image source : http://www.indranoveldy.com/menikah-untuk-bahagia

Aku langsung tercerahkan pertama kali membaca kalimat pengantar dari tulisan mas Mas Indra Noveldy dan mbak Nunik Hermawati dalam bukunya yang berjudul Menikah Untuk Bahagia : Formula Cinta Membangun Surga di Rumah.
 
"Mama, Papa, Ibu, Bapak..
Buku ini kami persembahkan untukmu
Maafkan kami yang terlalu lama berproses.
Maafkan kami yang telah melukai hatimu.
Maafkan kami yang belum bisa membahagiakanmu
Kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu
Kami tidak akan pernah mampu
Ridhoi kami..
Ridhoi proses yang telah kami jalani
Kami ingin sekali engkau tersenyum
Melihat kami, anak-anakmu yang sekarang bisa memberi manfaat.."
Sebenarnya itu hanya sebuah rangkaian kalimat persembahan dari sepasang anak kepada orangtuanya, permohonan maaf dan permohonan keridhoan atas segala yang mereka hadapi. Hanya saja, entah bagiku itu juga sangat cocok bila dibaca oleh kedua orangtuaku, makanya aku jadi terpikir untuk 'menghadiahi' mereka buku ini.

Buku ini dibagi menjadi 5 bagian : (1) Tujuan, (2) Mindset, (3) Knowledge and skill, (4) Komitmen, dan (5) berserah. Sekilas aku melihat bahwa subbab-subbab yang ada dapat dibaca secara acak --begitu pula kata penulisnya-- karena tiap subbabnya mengandung gagasan-gagasan tidak runut namun bermakna.

* * * * *

Baru kusadar, aku bahkan belum masuk pada bagian ke-1 dari buku ini, tapi rangkaian kisah yang diberikan @bundanoveldy (mbak nunik) menjawab semua kekhawatiran dan ekspektasiku terhadap buku ini. Tulisannya dimulai dengan beberapa kutipan yang powerfull bagi sebuah pernikahan.

"Kebahagiaan pernikahan tidak diantar malaikat di atas nampan emas ke hadapan anda. You have to fight for it!!"

"The best thing a parent can do for a child is to love his/her spouse."

* * * * *

PERNIKAHAN IMPIAN, NIKMATI PROSESNYA
Aku langsung tertarik ketika beliau menceritakan bahwa adanya turbulensi hebat pada awal-awal pernikahan mereka dan bahkan dikatakan sering terjun bebas menuju jurang perpisahan. Maksudku, kini mereka adalah pasangan yang memberikan relationship coaching, dan tak pernah kubayangkan bahwa mereka mengalami hal itu juga --sebuah pernikahan, tentu saja mengalami banyak permasalahan . Aku jadi bisa menangkap bahwa buku yang kini hadir ini di tanganku merupakan saripati berharga yang diinduksi dari permasalahan-permasalahan mereka, dan punya misi untuk berbagi --agar sepasang suami-istri mampu melalui masa-masa sulitnya.

Ditulis dengan gaya penulisan diary --sangat personal, dari sudut pandang seorang perempuan. Mereka saling mencintai, namun tanpa disadari ternyata saling menyakiti. Kekhawatiranku disebutkan, maka aku semakin merasa cocok dengan buku ini, hehehe..

Kau tahu, bagaimana rasanya bila kita punya suami yang too good to be true, yang impiannya adalah kita? Yang impiannya mewujudkan sebuah keluarga yang penuh kehangatan dan kasih sayang? Maka istri adalah impiannya, maka istri sebagai komponen yang berperan besar untuk mewujudkannya.
Dari sudut pandang sang istri, banyak hal yang membuatnya kemudian merasa membunuh impian suaminya!  Beberapa penyesalan dan penyalahan atas kekurangan diri dimunculkan dengan sangat jujur, dan betapa ia berusaha memperbaikinya. Bayangkaaan!

Tapi, a man with a dream will not be denied; and if the dream is big enough, the facts don't count!Begitulah sang istri menggambarkan suaminya, seorang manusia yang menjaga dan bertahan dengan impiannya apapun yang terjadi.  What a though guy!

Aku kemudian mencoba merenung, membayangkan akan seperti apa bahtera pernikahanku nanti. Dua orang yang sangat berbeda dengan isi otak dan mimpi yang berbeda, harus hidup bersama dan berupaya mewujudkan mimpi bersama. Ya, mimpi bersama itu harus ada, bukan sebuah kewajiban melainkan sebuah konsekuensi logis dari sebuah pernikahan, bukan? Mereka memasuki pernikahan dengan impiannya masing-masing, namun bentuk kasih sayang Allah adalah dengan memberinya ujian luar biasa untuk mewujudkannya.

Aku mendapat pelajaran yang luar biasa,bahwa perubahan begitu 'enak' terdengar, namun sering kali kulupakan jatuh bangun proses mempraktekannya. "Tidak ada yang enak dan nyaman dalam proses untuk berubah, tetapi sangat berharga untuk dinikmati..", begitu katanya. Dan bagian yang paling kusuka adalah ini "Dia memberi banyak pelajaran berharga dan membuatku bisa berpikir benar. Seorang suami yang tidak mau memanjakan istri dengan melindungi dari rasa sakit untuk tumbuh."

Dari 10 pelajaran yang beliau tuliskan, 9 nya kurasa terjadi padaku juga. Haha! Kau baca saja ya bukunya hihi

Kemudian aku terkejut karena turbulensi dalam pernikahan mereka membuat sang istri semakin mengenal diri. Turbulensi yang membuatnya terus belajar mendalami karakter diri. Mungkin ini salah satu kekhawatiranku yang lain, tapi kemudian menjadi lecutan untuk segera selesai dengan diri sendiri.


Sebuah upaya pengikatan makna dari pengantar buku MUB
Baru nulis tentang pengantaaar :)

16 Oktober 2013


Sunday, May 26, 2013

Cerpen Dramatis Ironis : Mahasiswa dalam penantian beasiswa



Langkah kakinya berat, pikiran gadis itu melayang, matanya nanar menatap uang di dompetnya yang tinggal selembar. Wajah pangeran antasari dalam uang 2000 rupiah itu hanya dapat menatapnya datar, tentu tak bisa menggandakan diri seperti harapannya.

Baru akhir-akhir ini rasanya  ia merasakan kesulitan finansial. Bukan, bukan, orangtua gadis itu tidak tiba-tiba jatuh miskin. Keluargapun bukan kaya raya, tidak bisa juga dibilang miskin, biasa saja. Walaupun orangtuanya sudah pensiun, alhamdulillah keluarga selalu berkecukupan. Sang gadis pun hampir selalu bisa mengatur keuangannya dalam kesempitan. Kali ini lain, mungkin memang sedang banyak pengeluaran, tugas akhir pendidikannya kini juga butuh biaya, dan ternyata orangtua di rumahnya juga emmang sedang sulit biaya.

Hidup dalam zona nyaman, Rahma, panggilan akrabnya, merasa tidak ada yang perlu diperjuangkan. Bisa makan sehari tiga kali, kadang berlebihan bisa buat jajan atau membeli buku untuk hobi baca-tulisnya. Selain dari orangtua, rahma juga bekerja sebagai pengajar privat, lumayan untuk tambahan. Amal sedekahnyapun tak ada yang istimewa, ia tak pernah secara sengaja merencanakan amalan yang satu ini.

Mendadak rahma rajin sekali berkunjung ke mesin ATM. Saldonya tetap tak berubah.
Harapannya hanya satu, uang beasiswa segera turun. Haha! Dari 8 semester perkuliahan, ini kali kedua ia mengajukan beasiswa dan dapat. Tak seberapa, tapi saat ini menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu karena ia benar-benar tak punya uang.

****

Dalam perjalanannya, lamunan Rahma dibuyarkan, seketika  pengamen cilik menghampirinya.
"Eh, teteh!"ujarnya. Rahma mengenalinya, Erna namanya. S enyum mengembang dengan mata kecilnya yang berbinar. Pengamen cilik itu sering berganti-ganti profesi. Kadang mengamen, kadang berjualan keripik, kadang berjualan es atau kadang hanya sekedar bermain disekitaran taman.

"Eh erna, lagi apa disini?", tanya Rahma penasaran

"ini ingin beli batu batere, teh! Buat mobil-mobilan adik!"

Rahma terdiam, ingat uangnya yang kini sangat minim. Membayangkan bila sisa uangnya harus dibelikan baterai, mungkin setelah itu hanya akan punya 3 koin seratusan.
"Yaudah sini sama teteh aja ya, si ade mana?"

"Adek lagi di taman. Makasih ya teh!"

Cess.. Ada kesejukan di dadanya. Lama nian hatinya tak merasa begini. Memberi di saat sulit memang sangat sulit, namun janji Allah tak pernah salah. Ketenangan bathin jadi kekayaan tersendiri yang tak dapat dibayar  dengan apapun.

****

Ada yang salah ketika ia berharap rezeki datang dari beasiswa. Selama ini ia tak pernah benar-benar meminta pada Tuhan. Selama ini, rezeki yang datang padanya semata-mata kebaikan Tuhan. Ketika ia tak pernah meminta, sangat mungkin ia jadi tak pernah bersyukur atas apa yang dimilikinya. Walau tuhan tak pernah pelit atau lupa, Tuhan selalu tahu bagaimana cara mengingatkan hambaNya.

Rezeki apapun datang atas kehendak-Nya. Rahma memikirkan ulang pada apakah ia menggantungkan harapannya, apakah pada pemberi beasiswa ? Bukankah seharusnya ia hanya berharap pada pemilik langit bumi dan seisinya yang Maha Kaya dan Maha Pemurah itu?
Ingat dalam setiap rezeki ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Bukan hanya sekedar untuk menolong orang, tapi karena Tuhan yang menyuruhmu berbuat baik seperti itu.

Kini rahma tak punya uang sepeser pun, namun langkahnya kini semakin ringan :)


Hajah Sofyamarwa
Rabu, 8 Mei 2013

 ___
Based on true story.
Lama banget ga buat dan baca cerpen, sampai lupa gimana seharusnya. hehe

Saturday, March 16, 2013

tulisan gue ada yang (mau) baca! hehe


Seperti biasa geng ninja kami kumpul buat mentoring. Sore tadi sih tempatnya di mesjid al-hidayah kebon kembang. Disana anak-anak pada rame tuh, kayanya mau ada pengajian. Akhirnya kita ditawarin buat pindah tempat supaya ga keberisikan. Karena kita masih nunggu, kita sih oke-oke aja. Ternyata mereka mau nonton bareng filem Petualangan Sherina! Yak kita jadi nunggu disitu aja, sambil ikut nonton dan ikut nyanyi (loh?)

Singkat cerita, ketemu lah saya sama Yoga, anak SR (angkatan 2010 ato 2011 ya?) yang baru aja kenal sepekan lalu di Cisitu Menghijau. Kupanggil, ngobrol-ngobrol, ternyata anak SR tiap hari sabtu emang megang anak-di mesjid sini, hari ini sabtu kreatif gitu. Wow, Konkrit parah, COOL

Dipersingkat lagi, masuk ke inti.
Saat semua hampir bubar, saya mesti nunggu bapak saya dulu jadi ikut nangkring sama anak-anak SR itu. Lagi pada ngangkut meja, yah bantu-bantu dikit lah sambil ngobrol sama yoga. Terus saya ngajak kenalan 1 orang temennya. Namanya Iman.

"Dari SR juga ya? Wah keren banget nih anak SR!"
"Iya, saya DKV '11 (Desain Komunikasi Visual), yang lainnya disini jurusan DP (Desain Produk).
"Oh iya lupa, siapa namanya?"
"Iman. Kalau teteh?"
"Hajah."
 Terus ini nih yang bikin kaget
"Eh tar dulu-tar dulu. Hajah. Jurusan biologi kan? 2009 kan?"
Eh buset, kenal dari mana? Perasaan ga pernah ada koneksi apa-apa sama orang ini.
"Eh iya, kok tau??"
"Buka blog kakak, waktu itu lagi cari referensi buat fotografi tentang silver man."
"Silver man? Asa ga pernah nulis tentang itu deh!" (entah yang kubayangin disini malah silverboys, grup abang-abang berpakaian perempuan -_-)
"Pernah kaak. Jadi selama ini kan banyak berita negatif tentang mereka, jadi nyari kalau-kalau googling dapet referensi positif. Pas itu liat blog kakak deh. Aku komen kok. Dan itu lagu backsound yang raef enakeun paraaah…."
Bla bla bla (dan kita ngomongin lagu)

Begitulah.
Mungkin ga penting-penting amat, tapi saya seneng kenal sama orang baru :D
Terus jadi kepikir, ternyata ada juga yang baca blog ini (walopun banyak yang nyasar).
Yah namanya takdir Allah. Kalau Allah udah nakdirin ada yang nyasar ke blog kita, harapannya yang kita tulis itu sesuatu yang ga biasa, baik dan bermanfaat kan ya?

Yah walaupun kecil, dengan menulis saya juga bisa ikut #melukisindonesia kan ya (loh?)
Hehe
bismillah..
  

Monday, February 18, 2013

kesadaran untuk berdo'a


Bismillah
Menggantikan buku agenda lama yang hilang, dalam buku agenda baruku tahun ini, kusadar bahwa aku memulai tulisannya dengan meresume buku tentang doa. Judul bukunya "Setiap saat Bersama Allah", yang disusun oleh H.M Anis Matta.

Aku tak tahu persis apa yang sebenarnya sedang kualami dalam pikiranku, yang aku tahu, di usia 21 tahun ku ini ternyata jarang sekali aku berdoa. Maksudku, baru kali ini aku benar-benar memaknai segala hal tentang berdo'a. Biasanya orang berdo'a sebagai kebutuhan, sebagai salah satu jalan dalam menuju keberhasilan tujuan-tujuannya, keinginan-keinginannya. Mungkin, ketika kau punya banyak keinginan tapi tidak melakukan permintaan sebenar-benarnya pada Allah dengan berdo'a, kau tidak benar-benar menginginkannya. Maka wajar bila keinginanmu belum banyak terwujud, kau tidak benar-benar memintanya pada Sang Maha Berkehendak.

Setiap orang punya khilaf, dan semoga kita senantiasa diberikan kesadaran untuk menyadari kekhilafan itu.

Ini beberapa makna yang mungkin akan memperkaya pemaknaan kita mengenai do'a, semoga bisa mengikat maknanya :)

* * * *

Ketika engkau terimpit dan terlilit oleh problematika kehidupan, sesungguhnya yang dapat membuatmu bertahan adalah harapanmu, dan sebaliknya, yang akan membuatmu kalah atau bahkan mematikan daya dan energi hidupmu adalah saat dimana engkau kehilangan harapan.

Maka ketika engkau berdoa kepada Allah sesungguhnya engkau sedang mendekati sumber dari semua kekuatan dan apa yang segera terbangun dalam jiwamu adalah harapan. Harapan itulah yang kelak akan membangunkan kemauan yang tertidur dalam dirimu.

Jika kemauanmu menguat menjadi azam (tekad) itulah saatnya engkau melihat gelombang tenaga jiwa yang dahsyat! Gelombang yang akan memberimu daya dan energi kehidupan serta menggerakkan segenap ragamu untuk bertindak.

Dan apa yang kau butuhkan saat itu hanyalah mempertemukan kehendakmu dengan kehendak Allah melalui doa dan tawakal.

Tidak ada gunanya waspada menghadapi takdir, namun doa bermanfaat menghadapi takdir, sebelum dan sesudah ia turun. Dan sesungguhnya, ketika musibah itu ditakdirkan turun (dari langit) Maka ia segera disambut oleh doa (dari bumi), lalu keduanya bertarung sampai hari kiamat.
(HR Ahmad, Al Hakim, Al Bazar Ath-Tabrani)

* * * *

Dalam doa kita menemukan keseimbangan jiwa karena harapan akan penerimaan dan kecemasan akan penolakan senantiasa akan menjadi 2 sayap jiwa yang mengarungi angkasa kehidupan

Dalam doa kita menemukan keutuhan jiwa dan pikiran, yang akan menyatukan semua instrumen kepribadian kita dalam seluruh lakon kehidupan yang kita jalani.

Dalam doa, kita menemukan ketenangan jiwa karena keyakinan terhadap Allah yang memberi kita keyakinan, keberanian untuk menghadapi semua kemungkinan dalam hidup.

Dalam doa, menemukan keberkahan hidup karena semua peristiwa kehidupan yang kita hadapi hanyalah merupakan pertemuan yang indah antara kehendak Allah dengan kehendak kita.

Maka masih adakah tempat bagi kesedihan dalam jiwa seperti itu?
Masih adakah ketakutan dalam jiwa seperti itu?
Masih adakah celah bagi putus asa dalam jiwa seperti itu?

* * * *

Sebenarnya saat berdoa kita sedang berupaya untuk terus menerus menyerap cahaya Allah ke dalam jiwa dan pikiran agar bisa melihat panorama kehidupan ini dengan hati yang tenang bercahaya

Kata dalam doa adalah surat dari sang jiwa kepada Rabb nya. Maka jika engkau ingin surat itu sampai kepada-Nya, tulislah ia saat jiwamu benar-benar sedang bersujud padanya..

* * * *

Allah itu Maha Pemula lagi Mulia, dan merasa malu menolak, ketika seorang mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa
(HR Ahmad, Abu Dawud)

* * * *

Semakin disadarkan setelah beberapa hari lalu ikut kajian tentang do'a. Belajar lagi, belajar memaknai lebih lagi.. 
MInta diajarin dong :D

Wednesday, February 6, 2013

lingkungan yang bikin tumbuh

"sebenarnya kita ga butuh lingkungan yang hebat,
yang kita butuhkan adalah lingkungan apapun yang bisa membuat kita terus tumbuh dan berkembang..."

Tumbuh yang kumaksud bukan dalam aspek fisik, karena secara fisik tubuh kita pasti terus tumbuh, ya toh?

Lintasan pikiran yang kudapat dari pengamatan dalam sebuah komunitas yang sudah lama sekali kuikuti. Orang datang dan pergi. Berubah, tumbuh (seharusnya).

Teori tentang pengaruh lingkungan terhadap perkembangan diri kita pasti sudah sering dengar. 
Logikanya, lingkungan yang baik akan memberi dampak baik terhadap kita. Sedangkan lingkungan yang buruk akan memberi dampak yang buruk terhadap kita. Kita semua setuju tentang logika itu, tapi kenyataan yang terjadi memang tidak sesederhana itu. Yang terjadi bisa sebaliknya, sudah banyak contohnya.

Dulu kupikir kita harus dapat lingkungan yang hebat-hebat. yang orangnya udah wow gitu.
tapi ternyata tidak, di lingkungan manapun kita bisa hidup dengan baik. Mungkin lingkunganmu saat ini belum sukses, atau tidak seheboh lingkungan lainnya. Kau bisa berpikir bahwa kau tidak mengikuti teori tadi. Ketika kamu gagal, kamu sangat mungkin menyalahkan lingkungan. Tapi apa gunanya? Yakinlah, waktu akan membuktikan nantinya, mungkin kita hanya perlu bersabar, dan bersyukur dengan apa yang ada sekarang. Pada akhirnya yang salah bukan lingkungan, tapi cara pandang dan sikap mu mengenai lingkunganmu.

Dan kalau kau kini merasa di lingkunganmu hebat-hebat, perhatikan lagi, jangan sampai terlena, pastikan kau benar-benar belajar, benar-benar dapat tumbuh.

bagaimanapun kondisi lingkunganmu, kamu punya kekuatan untuk memilih dan memutuskan mana yang benar-benar baik. Menurutku, itu sih sebenarnya yang esensial. Allah juga bilang gitu kok (inget QS Ar-Rad ayat 13)

yeyeye! di usia segini baru memaknai kembali beberapa istilah.

#selftalk
Jl Pelesiran 20a
6 Februari 2013

*internet disponsori oleh chamar, hehe numpang ya chaaam :D

Wednesday, December 19, 2012

allelopathy : ga baik buat tetangga

Setahun lalu dan beberapa bulan yang lalu saya belajar interaksi antar spesies (yang mutualism, parasitism dll tea).
ada salah satu interaksi yang namanya Alelopati.
Istilah alelopati ini artinya efek berbahaya (harmful effect) dari suatu tanaman pada tanaman tetangganya (di sekitarnya). (Taiz and Zeigher, 2003)
Menurut yang dipelajari di kelas, Interaksi ini bagi spesies 1 tidak berefek apa-apa (0), tapi bagi spesies lainnya akan terganggu (-). Jadi spesies 1 akan mengeluarkan suatu senyawa, terserap ke tanah, dan akan membuat spesies tetangga di sekitarnya pertumbuhannya terhambat. Interaksi (0) (-)

Ilustrasinya :
Kamu tiba-tiba ngeluarin suatu senyawa yang bagi kamu  ga berefek apa-apa, tapi temen sebelah kamu pertumbuhannya jadi terhambat.
(ekstrim juga, saya ga mau punya temen kaya gitu, makin terhambat aja pertumbuhan saya hehe)

Nah terus saya belajar metabolisme tumbuhan nih barusan, seperti sebuah AHA MOMENT, ternyata alelopati itu diakibatkan oleh suatu senyawa  metabolit sekunder golongan phenol, lebih tepatnya dari turunan asam benzoat atau fenil propanoid sederhana (as. Caffeic ato ferulic). (trust me, ini karena lagi belajar aja jadi bisa nulis ini).

Nah tapi dari ebook abang taiz and zeigher (2003) itu disebutkan kalo di ekosistem alami kepentingan dari senyawa alelopati ini masih kontroversi. Para peneliti masih ragu kalo senyawa ini adalah faktor signifikan pada interaksi antar tanaman, karena pembuktian fenomena ini sulit untuk didapetin.

Kenapa?
Kalau dilakukan penelitian di lab, mungkin mudah, tapi di alam bebas sulit buat nunjukkin kalau senyawa yang dilepaskan ke tanah bisa cukup untuk menghambat pertumbuhan tanaman lainnya.

Menurut bang taiz dan zeigher juga, ini menarik. alelopati potensial untuk aplikasi bidang agrikultur. Penurunan hasil panen karena rumput-rumput liar atau sisa tanaman sebelumnya bisa jadi hasil dari alelopati. Prospek ke depannya, mungkin bisa dirancang rekayasa genetik taneman yang bersifat alelopati terhadap rumput-rumput liar.

* * * * * *
Setelah dipikir-pikir, interaksinya harusnya (+) (-) sih, soalnya si empunya senyawa diuntungin untuk bisa tumbuh lebih baik. Dari taiz dan zeigher disebutkan kalau pertumbuhan temennya terhambat, dia jadi bisa tumbuh lebih baik karena akses ke nutrisi, air dan cahaya yang lebih mendukung. Ya ga sih? Cmiiw

* * * * * *
Kalau ceritanya dia membahayakan sekitar gitu, ga mau punya efek alelopati dong ya?

"Sebaik-baik manusia di antaramu  adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain."
(HR. Bukhari )

Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya.
(HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156)

Wallahu 'alam
Back to UAS mettummbzh ~

(sumbernya taiz and zeigher, biar ga sesat, lebih lanjut baca ebook nya aja sendiri ya, bisa download di link di atas, atau minta ke aku hehe)

fenomena lidah mertua di ITB

Nama latinnya Sansevieria sp. Bisa dilihat di dekat koridor ketika masuk gerbang depan kampus ITB, dekat pos satpam.
Kasus ini saya jadikan bahan pembahasan dalam UTS mata kuliah Metoda Berpikir Kreatif.

 
Foto pertama (22 Mei) diambil jauh hari sebelum UAS diberikan. Di gambar itu bisa dilihat area kosong yang tidak lagi ditumbuhi Sansevieria. Sansevieria dikenal sebagai tanaman penyerap polutan, saya kurang tau alasan pastinya kenapa itu tanaman yang ditanam disana, mungkin juga karena dia termasuk tanaman yang kuat (?). Keberadaan sanse (disingkat ya, biar lebih akrab hehe) di situ sebenernya udah lama jadi perhatian saya. Kenapa? Karena saya termasuk orang yang suka motong lewat jalur itu! Awalnya cuma ikut-ikutan, supaya perjalanan lebih efisien (egois). Juga pada awalnya saya berpikir "ah ga akan kenapa-kenapa ini, toh jalannya juga ati-ati". Asalnya area kosong nya cuma sedikit, lama kelamaan orang-orang banyak yang lewat situ juga, jadi tanamannya lama kelamaan mati karena gangguan mekanis (langkah kaki).

Foto kedua (18 Oktober) nampaknya ITB sudah melakukan penanaman kembali. Kali ini, untuk melindungi si sanse, dipasanglah itu pita hitem-kuning! Bisa dilihat dengan jelas, sanse-sanse aman dari langkah-langkah kaki orang. Ckckck..

Nah, buat UTS ku cuma sampe sini ngebahasnya. Untuk menegakkan hak hidup si sanse, ternyata musti  pake pita kuning-item yang nyata keliatan kayanya. Tapi, indah gitu?

Lama kelamaan, mungkin ITB sudah merasa aman, markipot (mari kita copot) pitanya!
Eeeh, beberapa saat lalu (14 Desember) saya ambil gambarnya lagi, kondisinya udah ompong lagi..



malangnya nasibmu, sansee..

* * * * 
Pemilihan fenomena  sederhana ini bukan sekedar menyoroti kondisi tanaman saja, melainkan apakah dapat berkorelasi dengan sifat manusia dalam masalah kepedulian lingkungan serta menaati peraturan.
Diawali oleh rasa bersalah dan penasaran. hehe

Pada awalnya, mungkin orang pertama yang lewat situ sedang terburu-buru, berpikir "ah sekali-kali ga akan apa-apa". Tapi mungkin ada yang melihat dan terinspirasi, kemudian meniru. Atau mungkin tanpa pernah melihat pelakunya, langsung lewat situ karena liat kondisinya memang sudah hancur.

* * * *
Kalau dikorelasikan dengan bagaimana perilaku kita sehari hari, kita ga bisa dengan egois berpikir "ini hidup gue, terserah gue, urus aja diri lo sendiri". Karena bagaimanapun juga, yang kamu lakuin itu pasti punya dampaknya ke lingkungan. Ya, mungkin ga secara langsung sih, tapi setelah belajar ekologi saya percaya banget kita ini hidup itu saling memengaruhi satu sama lain.

Sebuah efek multiplikasi yang jelas. Efek multiplikasi buruk lebih tepatnya. berkali lipat juga mungkin dosanya.

Jadi, kalo mau bikin efek multiplikasi, bikinlah efek multiplikasi yang baik! :D
Yuk jah, lebih peduli sekitar!
Semoga bisa, aamiin..
         

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...