Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Tuesday, December 16, 2014

Pendidikan Iman sebelum Qur'an

Saya (hajah) berlindung pada Allah dari segala hilaf dalam menyebarkan sebuah ilmu. Kajian ini pasti hanya secuil dari inti yg dimaksudkan. Barusan diingatkan juga, oleh salah seorang guru, untuk lebih mendalami lagi maksud iman dan quran.

Kuttab al fatih adalah sebuah lembaga pendidikan untuk anak usia 5-12th yang menitikberatkan pada iman dan al-qur'an. (Baca baca aja di http://kuttabalfatih.com/) barusan aja saya juga tau nya. Ckckck. Sedikit reminder buat diri sendiri, cek semua yang mau kita share dengan benar, jangan sembarang ngeshare sekalipun itu terlihat baik.
Semoga bermanfaat ya, selamat membaca :)

* * * * *
Kajian bersama
Ustadz Budi Ashari, Lc.
Bazaar Madinah, 13 Desember 2014

Pola kita dalam mendidik anak-anak harus kita ubah.

Peran sekolah hanya sebagian saja dalam pendidikan anak, sisanya dilakukan oleh orangtua. Oleh karena itu, orangtua harus terus belajar untuk meningkatkan perannya dalam mendidik anak.

Iman sebelum Quran adalah tema utama di Kuttab. Bermula dari hadist Jundub bin Abdillah, konsep inilah yang menjadi panduan dalam mendidik generasi. Cara keluar dari kesesatan yang nyata ialah dengan memperhatikan urutan perbaikannya. Hal yang kita lakukan di Kuttab Al Fatih saat ini sebenarnya belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan peradaban Islam.

Hasil dari pendidikan yang langsung melompat ke Al-Quran (melewati iman) adalah munculnya penghafal Quran yang buruk keimanannya, akhlaknya, dan keilmuannya. Tidak semua sahabat Nabi hafal Quran, namun keimanan mereka kokoh dan teraplikasikan dalam kehidupan.

Seringnya, kita lebih mengapresiasi anak yang hafalannya banyak dibandingkan anak yang adab akhlaknya baik. Perlu pembenahan bagi anak yang hafalannya banyak namun moralnya buruk. Cobalah mulai memperhatikan keimanan anak anak, jangan hanya hafalan dan nilai akademiknya saja yang diperhatikan. Keimanan itu misalnya terlihat dari mulai tumbuhnya kecintaan terhadap Nabi dan orang beriman.

Orang tawakal itu ialah yang mampu menyeimbangkan antara Raja' (harapan) dan khauf (ketakutan). Raja' secara berlebihan berpotensi melanggar rambu syariat. Sedangkan khauf yang berlebihan akan menimbulkan ketakutan dan kelesuan. Modal utama kita adalah keyakinan. Terutama keyakinan akan janji Allah dan Rasulnya akan kebesaran dan kemuliaan Islam di kemudian hari.

Salah satu contoh dari keimanan: Khansa RA kehilangan 4 orang putranya sekaligus di perang Qadisiyah. Saat dikabari, Khansa hanya tersenyum dan berkata,"Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan syahidnya mereka."

Iman berbeda dengan karakter, bahkan ia melampaui karakter. Seseorang yang memiliki keimanan akan sangat kokoh dan stabil dalam menghadapi hidupnya. Bangsa ini sebenarnya berada dalam kebingungan besar, hendak dibawa ke mana generasi ini? Jika pemimpinnya memberikan teladan yang tidak baik, bagaimana dengan generasi di bawahnya?

Waspadailah syariat yang menjadi tren. Syariat itu punya pakem yang jelas, sedangkan tren senantiasa berubah mengikuti zamannya. Membangun sebuah keyakinan/itikad perlu usaha yang sangat besar. Inilah yang dahulu dilakukan oleh para sahabat, dan kita hendak mengikutinya.

Iman yang sudah memiliki bibit mudah diketahui, yaitu dengan memperhatikan lisannya. Lisan memiliki peran yang sangat besar dalam menghinakan atau memuliakan seseorang. Saat lisan baik, Insya Allah akan diikuti dengan amal perbuatan.

Di akhir, Ustadz Budi mengingatkan kembali jangan sampai kita salah fokus dalam melaksanakan kurikulum Iman sebelum Quran ini. Jangan sampai Al-Qurannya dikejar tapi imannya ketinggalan.

*Dikutip dari grup wa sekolah alam

* * * * *
Astaghfirullah.. Ya, pendidikan iman sebelum apapun. Pendidikan iman akan berhasil bila kedua orang tuanya beriman, atau benar2 berusaha menuju keimanan yang semakin meningkat.

Ya Allah, Jadikanlah kami orang orang yang senantiasa beriman dan mampu beramal shalih..

>,<

Bimbing fya ya kang, belajar sama sama :") mohon maaf ya harus banyak bersabar :"

Wednesday, April 9, 2014

proker : nonton film kartun!


Ceritanya hari gini lagi booming Frozen. Sebelumnya saya ngga merasa menonton frozen adalah suatu keharusan. Lagunya di nyanyikan dalam banyak bahasa, booming, semua nonton. Tapi saat itu saya belum ngerasa perlu-perlu amat nonton. Saya sendiri doyan kok nonton kartun ato Barbie, macem-macem, tapi ya kalau belum kahatean *halah* ya ngga maksain nonton. 

Sampai ketika membersamai anak-anak SD2 di Sekolah Alam, akhirnya saya merasa bahwa menonton banyak film kartun adalah suatu keharusan! Hihi, ya, mereka banyak bercerita tentang film kartun –yang bahkan judulnya aja aku ngga pernah tau--. Belajar menjadi seorang pendidik harus mengerti dunia mereka. Saat mereka bercerita pada kita, pasti menurut meraka itu hal yang penting, maka sebagai pendengar, tentu harus menghadirkan hati saat mendengarkan mereka, benar-benar ikut merasakan bahwa hal itu benar-benar penting. Karena percayalah, selain mendengar, anak-anak harus belajar untuk didengar agar timbul kepercayaan dirinya.

Jadilah malam itu ngubek-ngubek film di laptop, akhirnya nemu Happy Feet! Yah, ngga apa-apa, nyicil dulu aja nonton film kartunnya. Hihi. Akhirnya frozennya nonton juga kok hehe

Dasar saya kudet, sinopsis Happy Feet aja ngga tau -_- Ngga pake gugling dulu itu cerita film nya kaya apa, yang penting konsentrasi di awal-awal nonton. Finally, filmnya bagus syekaliii :D :D Sarat makna :’)

Everything in this world
No mater how big
No matter how Small
Is connected in way we never accepted
--Happy Feet


Kamar,  9 April 2014
Habis nyoblos pileg, kepingin nulis hehe
  
image source : http://miconyau.wordpress.com/2010/10/23/happy-feet/

Thursday, December 13, 2012

Nonton dan DIskusi Sistem Pendidikan Finlandia "The Finland Phenomenon"

http://commonroom.info/2012/pemutaran-dan-diskusi-film-the-finland-phenomenon-rabu-12-desember-2012/
MENCERAHKAN! :D

nanti ya ceritanya hehe

Thursday, June 7, 2012

Lindungi anak-anak, masa kini, masa depannya..

Entah ini salah siapa. Atau kebingungan mencari siapa yang salah. Lihat gambar di atas saya miris. Mengiyakan, sekaligus refleksi. Belum, saya belum punya anak, adik saya pun sudah sangat besar, tapi saya punya 3 keponakan yang lucu-lucu yang kisaran usianya masih sekitar pra TK, TK, dan kelas 1 SD.

Kalau liat  anak kecil, perempuan, dibajuin macem-macem, didandanin macem-macem kayanya lucu ya. Emang dari sananya anak kecil diciptakan masih sangat lucu, ditambah hasrat doyan main barbie, jadi dipakein pakaian yang lucu-lucu. Warna pink untuk perempuan, dan warna biru untuk laki-laki, rasanya jadi template di pikiran saya.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan itu, dampak positifnya anak jadi punya selera seni, tau warna, tau matching, tau berpakaian pantas. Tentang perilaku mereka juga, terkadang kita orang dewasa menganggap lucu hal-hal aneh yang mereka lakukan. Tarian, goyangan, atau nyanyian aneh-aneh yang sering kita dengar sekarang (dangdut, artis dengan pakaian minim dll) jadi terasa lazim dan lucu kalau anak-anak itu bisa mempraktekkannya. Memang lucu kan?

Tapi jadi ngga lucu kalo inget gambar di atas. Ngga selalu begitu sih alurnya, tetep aja  orangtua punya peran penting untuk membimbing. Tapi bayangkan,  faktor lingkungan saat ini dapat mendorong munculnya alur semacam itu kan?

Contoh kasus, anak SD jaman sekarang sering nonton TV. Mungkin kesukaannya kartun dan beberapa film superhero indonesia (yang wonderwoman, catwoman, betmen, kolor ijo jadi satu itu loh) yang aneh-aneh. Udah mah jalan ceritanya aneh, bajunya juga aneh-aneh. Sehabis itu, ada iklan. Dan iklan-iklan di Indonesia tea juga suka ada yang aneh-aneh, ditambah cuplikan film-film yang pemainnya pake baju kurang bahan. Anak-anak tuh merekam dalam memorinya, dan lama kelamaan meniru. Hasilnya? Lebih suka pake baju terbuka dan gayanya macem-macem. Ckck

Kasus lain, beberapa hari yang lalu saat saya sedang di rumah tante, datang 2 anak murid privat tante saya. Namanya Adul kelas 2 SD, dan Opik kelas 1 SD. Karena tante saya lagi ngga ada, saya suruh aja mereka nunggu sambil baca-baca buku (sayangnya belum lancar baca, jadi ngobrol hehe). Mereka sempet cerita, temennya ada yang nonton film jojorangan (apa jorang2an ya? Lupa). Saya ngga tau ini bahasa apa, (sunda?) tapi dari alur ceritanya, intinya film anonoh lah. Katanya temennya itu liat di Hpnya anak ini. Yang jadi aneh adalah, ni anak cerita seolah-olah mengadukan perilaku temannya, tapi film yang ditonton itu dari HP nya -_-) Serem lah pokonya.
 
Mungkin kasus serupa masih banyak. Yang simpel-simpel kaya ngikutin gaya artis, dan apal banget ama SM*SH ama CHERRYBELE hehe. Chibi chibii (eh kalo ini kadang saya suka ngikutin gayanya buat poto rame-rame hehe)

Semacam itulah. Saya serem aja kalo ngebayanginnya. Maksudnya sekarang kan emang belum ngerasain punya anak dengan segala kesibukannya. Yah semoga ada yang bisa diambil pelajaran buat para calon orangtua.

Ya, lindungi masa kininya, masa depannya..

Hari keempat kerja praktek
Balitsa, 7 Juni 2012
sumber gambar: punten lupa, dari sebuah situs, sempat banyak dishare di salah satu jejaring sosial

Tuesday, April 10, 2012

Membangun kepemimpinan di sekolah (sebuah resume)


Dari hal sederhana, tapi luar biasa :)

Bicara kepemimpinan (leadership), bukan sesuatu yang didapat serta merta tiba-tiba. Dibutuhkan suatu proses panjang yang dibentuk dan diupayakan sejak kecil.
Beberapa pertanyaan yang sering terungkap adalah seperti ini:
Apakah pemimpin itu dilahirkan, atau dibentuk?
Jawabannya:
Tentu saja semua pemimpin dilahirkan, oleh ibu kita hehe
Maksudnya begini, kalau kita ingat lagi, sebetulnya manusia memang dilahirkan untuk menjadi khalifah di muka bumi, which means, kita  memang diminta untuk menjadi pemimpin.

Sesuatu yang diwajibkan tentu akan dimudahkan. Analoginya sama seperti ini, ketika diwajibkan shalat, kita benar-benar dimudahkan dalam pelaksanaannya. Kalau ngga bisa berdiri ya duduk, kalo ngga bisa duduk ya tidur, kalo ngga bisa juga, dengan isyarat mata (kedipan) pun diperbolehkan. Kalo sampe berkedip pun kita ngga bisa, saatnya dishalatkan..
Contoh analogi lain, kita wajib menghirup oksigen --> kalo ngga, bisa mati karena kebutuhan respirasi kita tidak terpenuhi.
Maka, Allah memudahkan kita untuk mendapat oksigen secara gratis, bahkan kita ngga ada istilah lupa minta oksigen sama Allah, karena udah pasti dapet. Perkara oksigen semakin sedikit, itu mah salah manusia.

Jadi pada dasarnya kita sudah diberi bakat sejak kelahiran kita, yang membedakan adalah lingkungan. Pembentuknya, keluarga, dan juga sekolah.

Kalau sekarang kita dalam masa sekolah, bisa hitung sudah berapa tahun kita berada di bangku sekolah? Kalu dihitung hitung dari TK-SMA, mungkin sekitar 14 tahun ya? Lama juga ya?
Kalau disuruh mengingat ngingat, apa pendidikan yang sekolah berikan padamu? Pelajaran akademis-kah? Sejauh mana berdampak  pada dirimu?

PENDIDIKAN BERKARAKTER
Pendidikan berkarakter mulai dicanangkan oleh pemerintah, karena memang mulai dirasakan penting. Tapi gimana aplikasinya ya? Apakah nantinya akan ada tambahan mata pelajaran baru "Pendidikan Berkarakter"? Dengan tambahan jam, guru dalam kelas? Apa yang kira-kira mau diajarkan? Apa bedanya dengan mata pelajaran agama, atau Kewarganegaraan?
Idealnya, selain memberi ilmu, guru juga mendidik. Bukan hanya berfokus pada "LULUS UAN". Mari kita apresiasi guru-guru teladan yang mendidik kita dengan baik :)
Dan tentang ekstrakurikuler, itu wadah yang paling pas buat mengaplikasikan ilmu-ilmu kehidupan. Karena kehidupan setelah selesai masa sekolah formal kita, itu keras, bung :) hehe

BUKAN LAGI UPACARA 17-an
Kalau 17 Agustus, apa yang pada umumnya sekolah sekolah lakukan? Rasanya dari mulai TK hingga SMA, semua melakukan upacara bendera. Sebetulnya itu membentuk budaya 'mau disuruh suruh, mau patuh'. Malah ada yang pernah bilang, "kamu tuh disekolahin supaya gampang diatur!"
Nah ngaco ngga tuh?
Makanya kalo lihat pemimpin-pemimpin hebat, dulunya biasanya mereka bandel (menurut pendapat kebanyakan orang). Padahal yang bandel-bandel calon pemimpin hebat tuh!
Hehe.

Ada salah satu budaya menarik yang dibiasakan oleh suatu sekolah. Jadi sekolah itu ketika Hari kemerdekaan RI 17 Agustus menghormati jasa para pahlawan dengan cara yang berbeda. Mereka biasa menjadikan dirinya sebagai  pahlawan itu sendiri dengan cara berjalan jauh dengan perbekalan yang juga sedikit. Guru-gurunya akan berkata : "Begini nih analogi pahlawan kita dulu, bahkan dulu lebih berat." Nah dari situ akan terlihat mana anak-anak yang memang semangat dan tidak berkeluh kesah serta anak-anak yang manja istilahnya. "Pak, nanti kalo ada ojeg, boleh naik ojeg ngga?" hehe

DI JERMAN
Di jerman itu ngga ada bimbel calistung. Mereka disibukkan dengan kegiatan melukis, dan berekspresi. Nanti pun mereka menghadapi "UAN" atau ujiannya. Keseluruhan fokus sekolah tidak ditujukan kesana, tapi memang dipersiapkan. Rasanya UAN bukan fokus utama.

Bagaimana menanamkan konsep kepemimpinan dari tali sepatu?
Seorang anak tali sepatu nya selalu terlepas. Guru teladan ini kemudian membantu anak ini dengan mengikatkan kedua nya. Keesokan harinya terjadi lagi, dan guru ini masih membantunya. Namun selanjutnya, ketika tali sepatunya lepas lagi, sang guru hanya mengikat sebelah sepatunya saja, dan membiarkan sebelahnya lagi dilakukan oleh anak tersebut. Dan kau tahu? Keesokan harinya, sang anak dengan bangga berteriak, "Pak Guru, Kedua sepatuku sudah kuikat  sendiri dengan benar !"
Yah, sesederhana itu.. :)

Sisanya keasikan ngedengerin, hehe
sedikit ada tambahan yang berupa opini :)

Resume dari radio MQ FM 102,7 di pagi hari
10 April 2012
:)

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...