Showing posts with label lintasan pikiran. Show all posts
Showing posts with label lintasan pikiran. Show all posts

Thursday, December 10, 2015

Tentang Kebaikan

Kau tahu, aku mulai merasakan bahwa setiap manusia punya kebaikan serta kekurangannya. Dengan jenis kebaikan dan kekurangan yang berbeda, dengan kadar yang berbeda, dengan jenis interaksi lingkungannya yang berbeda, serta kombinasi unik yang membuat setiap manusia itu menjadi dirinya.

***

Dua orang yang berbeda mungkin sama sama baik, tapi interaksi keduanya belum tentu menghasilkan kesan yang baik pada keduanya.

Dua orang yang berbeda mungkin yang satu baik yang satu tidak, interaksi keduanya bisa saja tetap berkesan baik, bisa juga tidak.

Dua orang yang berbeda yang sama sama tidak baik, interaksi keduanya bisa saja tidak baik, tapi bisa juga malah sangat baik.

***

Dan kamu, apakah kau benar-benar baik?
Ataukah hanya sekedar tidak jahat?

***

Semoga kita menjadi semakin baik sesuai apa yang Allah inginkan pada kita.

10 Desember 2015
Hajah Sofyamarwa

Tuesday, June 16, 2015

Ironi Sebuah Media Sosial

Media sosial kini menjadi suatu hal biasa. Kalau dahulu orang bilang "setiap bayi lahir akan bersamaan pula dengan qarinnya", maka jaman ini boleh jadi akan berganti menjadi "setiap bayi yang lahir, akan bersamaan pula dengan akun facebook, twitter, dan instagramnya"

Ya, semua orang kini sudah bisa mengaksesnya, menggunakan sebagaimana yang ia inginkan. Tak ada lagi sekat antara si orang biasa dengan orang ternama, antara para fans dengan seleb idolanya, antara pejabat dan rakyat yang diwakilinya.

Dengan media sosial, berbagai prestasi dapat kita apresiasi, namun dengan media sosial pula lah, setiap orang serasa punya hak untuk saling menghujat apa-apa yang tidak sesuai dengan diri pribadinya.

Dengan media sosial, solidaritas kemanusiaan dapat dirasakan, namun dengan media sosial pula lah berbagai bentuk kejahatan bisa bermula.

Eh, panjang sekali prolognya,
Aku hanya ingin bilang, bahwa salah satu ironi media sosial adalah :
"apa-apa yang mereka sebarkan belum tentu bersesuaian dengan apa yang tengah mereka alami. Ada kalanya seolah bersedih, namun nyatanya tetap tegar di dunia nyata. Ada kalanya seolah bahagia, namun nyatanya sedang bermuram durja."

Ya, karena kehidupan tidak selalu menawarkan kepastian. Pagi tak selalu sama dengan siang, siang tak selalu sama dengan sore, sore tak selalu sama dengan malam.

Mari pergunakan media sosial dengan bijak, #ntms
Mari berbaik sangka dengan kawan di media sosial kita, #ntms
Mari doakan keberkahan hidup kawan kawan yang muncul di timeline kita. #ntms

De Marrakesh
Selasa, 16 Juni 2015
H-1 Ramadhan, barakallah. Semoga dimudahkan dalam berbuat amal kebaikan :)

Sunday, June 14, 2015

Selalu Ada Cara Yang Lebih Baik

Ilustrasi : markisa kisut dan tidak kisut (punya ibu) sumber : dok. pribadi

Setiap orang punya hak untuk mengklaim bahwa dirinya sudah melakukan yang terbaik. Bahwa cara yang dilakukannya sudah baik, melihat dari hasil yang telah ia peroleh. Suatu hal yang wajar.

Yang jangan sampai kita lupakan adalah, bahwa di atas langit masih ada langit, bahwa diantara hal hal yang sudah kita lakukan dengan baik menurut kita, akan ada yang sudah melakukannya dengan lebih baik pula. Memahami hal itu bukan berarti kita menjadi manusia kerdil yang merasa kalah dari siapa saja, tetapi menjadi penyeimbang dan kontrol diri bahwa kita akan selalu bisa lebih baik pada apa yang bisa kita lakukan esok hari. Ya, sebuah kesempatan untuk menjadi lebih baik
.
Setiap orang mempertanggungjawabkan apa yang ia ketahui, apa yang ia kerjakan, apa yang ia pilih, apa yang ia yakini. Sungguh, masing-masingnya adalah urusan pribadi, yang memang sejatinya dapat memberikan efek pula kepada yang lain.
Ada banyak jalan menuju Roma, begitu katanya. Ya, ada begitu banyak cara untuk mendapatkan sesuatu. Bukan sekedar pada hasil yang dituju, namun jalan dan cara yang ia pilih tentu akan menjadi penilaian sesungguhnya.

Kalau kita bisa mengingatkan orang lain dengan cara yang baik, mengapa harus membuatnya tidak nyaman dengan cara kita?
Kalau kita bisa melakukan suatu hal melalui cara yang baik, mengapa harus "merasa terpaksa" melakukannya dengan cara yang tidak baik?

Ya, selalu ada cara yang lebih baik.
Asal kita mau sedikit berpikir dan bersabar.

Selamat berusaha melakukan yang terbaik dengan cara yang baik! :D

De Marrakesh
Senin, 15 Juni 2015

Thursday, January 8, 2015

Anak yang Belajar Diterima dengan Baik

Aku langsung menepi dan menghentikan laju motorku. Mengetik di memo, membuat lintasan pikiranku tak lenyap begitu saja. Berpikiran kekinian untuk harus mengapdet di status (-,-'). 😅

4 bocah polos di tengah rintik gerimis ini yang membuat hati ini bergejolak. Bukan apa apa, mereka hanya membagikan selebaran pamflet kreditan motor yang promo di bulan desember (eh sudah lewat?). Tak berniat beli motor (belum), terkadang malas juga ambil selebaran yang tak kita butuhkan. Di gang perbatasan santosa asih - margahayu ini sebetulnya aku tinggal lewat, tapa perlu menghiraukan mereka. Ah tapi pikiranku mengutusku untuk berhenti, memberi senyum dan menerima selebaran yang mereka berika. Kau tahu? Ah begitu senangnya melihat tiba tiba senyumannya mengembang!
Ya allah, aku senang sekali!

Aku hanya berharap, satu hal kecil-tak-berarti yang kulakukan ini memberi mereka pengalaman rasa 'diterima dengan baik', meningkatkan rasa percaya diri nya, dan lebih bersemangat.

Bahagia itu sederhana.
Maaf lebay, insyaallah berusaha jujur.

3 Januari 2014,
Jok motor di tepi jalan.

* * * *

Thursday, August 14, 2014

Radio Kehidupan

Ada benarnya bahwa setiap adegan dalam kehidupan kita tak bisa berjalan sesuai seperti apa yang kita inginkan. Kalo dianalogikan dengan radio atau ipod, lagu hidup kita ngga selalu bisa kita pilih kaya ipod.

Mau bahagia tinggal setel lagu bahagia, dan karena terserah kita, kalo bisa ngga perlu simpen lagu sedih deh.

Karena hidup kita milik Allah dan Ia tahu yang terbaik untuk kita, maka terkadang (bahkan sering) kenyataan tak sesuai dengan harapan.

Apa apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Dan apa apa yang menurut kita buruk, mungkin saja terbaik bagi kita menurut Allah. Maka percayakan saja lah pada yang Lebih Mengetahui, ya?

* * *

Pola yang terjadi di kehidupan kita mungkin memang lebih mirip channel di radio. Apa yang disiarkan, itu yang harus kita terima. 

Lantas dimana daya kita sebagai makhluk berakal yang punya kehendak?

Hey jangan lupa, kita tetap harus memilih channel mana yang akan menjadi prinsip kita, kan?

Kita bisa berpindah-pindah mencari gelombang untuk memperkaya pikiran kita, tapi kurasa pada akhirnya, kita akan tetap berpulang pada channel prinsip kita. Berserah dan berjuang di sana.

A very late post. Lagi ngoprek draft blogger, liat ini belum di posting. #Dibuangsayang #jadidiposting #semoga bermanfaat ajah  :)

14 Agustus 2014


Tuesday, March 11, 2014

Fenomena Whatsapp : Serbet (Serangan Alfabet) --Setiap Harinya



Setiap harinya peradaban manusia berhasil menemukan hal baru. Teknologi semakin canggih, tren selalu berputar, semua orang semakin membutuhkan kepraktisan.

Masih ingat postingan saya tentang HP Android dari kakak saya? Hihi, anggap saja ini lanjutannya :)

2014 ini sudah jamannya gadget layar sentuh dengan OS android. Saya sih gaptekan orangnya, pemakai aja. Yang jelas saat ini kebanyakan orang udah pake android, dan di Indonesia (minimal di lingkungan sekitar saya) kami menggunakan whatsapp untuk berkomunikasi.

Menurut saya whatsapp ini memang fitur yang enak dipakai karena murah (pakai tarif data aja), tinggal daftar pakai nomer handphone, dan bisa bikin chatgroup. Konon, Whatsapp ini pertumbuhan pertahunnya cepet banget (googling gih hehe), sampe abang Mark pencetus facebook juga ngebeli whatsapp (dia liat potensinya kali ya). Saya kurang tahu gimana perkembangan whatsapp di dunia, tapi fyi saya sempat Tanya sama temen-temen korea waktu itu, mereka ngga pada pake whatsapp. Saya bilang di Indonesia aplikasi yang sering dipakai itu Whatsapp dan line, sedangkan saat ini mereka pakai kakaotalk (produksi Korea sendiri).

Sebelum pakai whatsapp rasanya dunia saya juga terbelakang banget (lebay) karena ngga ikutan chatgroup, jadi nggatau apdet terkini. Setelah pakai whatsapp, awal-awal seneng karena murah dan bisa terus nge-link sama temen-temen. AKhir-akhir ini, pernah ngerasain pusing sendiri gara-gara banyak notif whatsapp di chatgroup. Hehe, memang yang berlebihan itu selalu kurang baik yaa..

Saya kemudian terpikir kata-kata apa yang pantas menggambarkan apa yang saya rasakan saat ini. Karena online setiap saat, setiap harinya dengan rentetan pembicaraan dari puluhan grup yang kita ikuti, kusebut ini serbet, serangan alphabet! Hihi Saya sebut serangan karena memang terasa seperti itu *hihi berasa lagi perang* Terkadang pembicaraan di grup juga tidak semuanya penting untuk dibaca, atau penting untuk diketahui, atau ditujukan secara khusus untuk kita. Saya sendiri termasuk orang yang sering khilaf nge junk di grup (maaf yaa -_-). Tapi skrg saya sadar kok, saling ngingetin aja. btw, grup facebook juga udah kalah saing (dari lama kayanya). Kalau dipikir-pikir, berapa coba waktu yang harus dihabiskan untuk membaca setiap notif yang masuk ke whatsapp kita. Semoga dengan adanya whatsapp ini tetap membuat kita menjadi lebih produktif, lebih pintar memanfaatkannya. Semakin menjaga keberkahan waktu-waktu kita.. >,<

Kortim salman, 11 Maret 2014 
banyak sekali yang ingin disampaikaaan. sabar sabar.. :D

Saturday, February 15, 2014

ketika manusia yang harus mencatat semuanya



Lintasan pikiran ini muncul ketika saya sedang dalam kondisi riweuh. Saat itu saya sedang bertugas menjadi panitia volunteer untuk menerima kunjungan exchange mahasiswa Korea, Kookmin University. Kondisi handphone saya saat itu senantiasa harus aktif, dengan internet yang terus menyala, dengan sinyal yang megap-megap, membuat baterai handphone lebih cepat habis. Ketika itu seluruh panitia sedang sibuk-sibuknya karena bertanggungjawab terhadap 53 mahasiswa Korea, dan beberapa professornya. 

Saya sendiri sangat mencintai tugas itu, dan bersyukur bisa terlibat disana, jadi selama 7 hari penuh saya full tinggal bersama mereka. Saya sendiri sebenarnya bertugas sebagai tim konsumsi yang kadang merangkap jadi LO. Kegiatan mereka padat sekali dari pagi sampai magrib. Sudah bawaan orok, saya senang berinteraksi dan berusaha membuat mereka nyaman. Saya ikut tidur larut seperti kebiasaan mereka, sehingga jam tidur saya cukup terganggu. Tapi tak ada masalah dengan itu, saya menikmatinya :)

Kondisi interaksi di dunia nyata ini yang sangat saya senangi, hingga tak terlalu fokus pada apa-apa yang terjadi di dunia whatsapp masa kini. Ya, ratusan perbincangan muncul setiap harinya, dan sangat sulit bagi saya bila harus membaca semuanya satu-persatu.

Maaf karena berputar-putar (hehe), teman-teman tau odoj kan? Grup WA One Day One Juz, sarana buat kita untuk komitmen tilawah Qur’an 1 juz perhari. Sederhananya, kita hanya perlu laporan saja ke grup WA kita kalau sudah selesai tilawahnya. Kalau jadi admin, kita tetap harus mantau grup kita, kemudian melaporkannya ke kordinator admin (grup lain).

Entah gangguan setan, entah males, entah kelupaan. Saya sering ga inget buat ngelapor kalo udah beres 1 juz. Saya juga sering lupa ga laporan ke grup adminnya. Selain karena rungsing kebanyakan grup watsap, juga karena terkadang (as a human being) saya nya males -_- Ga jarang juga ngerasa diteror sama penagih laporan, mungkin terlintas juga “kenapa manusia itu cerewet amat yak”.

Nah, saat itu saya ngebayangin, betapa Allah menciptakan untuk kita malaikat pencatat amalan yang ga pernah ngerasa males. Segala laporan pasti rapi tercatat dan akurat. Saya ngga kebayang kalo manusia harus melaporkan semua amalannya dengan mencatatnya sendiri. Buat ngelapor kalo “juz nya udah done” aja suka males minta ampun, ini baru satu amalan. Bayangin kalau kita harus nyatet semua amalan kita buat pelaporan nanti sama Allah. Jamin deh banyak bolong datanya -_-

Tulisan ini bukan untuk berandai-andai, hanya sebuah renungan tentang tugas dari suatu makhluk yang tak pernah bisa kita lihat, yang bila kita dilimpahkan tugas itu, sepertinya kita tak akan pernah bisa hidup tenang.
Ya, bayangkan ketika tak ada malaikat pencatat, dan kita yang harus mencatat, semuanya..

Dengan ini kusampaikan maaf sebuesar-buesarnya pada admin grup ku, segenap member 1 grup yang senantiasa harap-harap cemas, member grup yang kuadmin kan yang seperti anak kehilangan induknya, dan kormin yang senantiasa menyemangati.

Kebosanan terhadap rutinitas selalu ada, terimakasih untuk selalu bersabar dan terus mengingatkan. :")

Bandung, 15 Februari 2014

Wednesday, April 3, 2013

ketika mulut "pindah" ke jempol



Dulu ketika fitur SMS lagi keren-kerennya saya pernah mikir bahwa kini mulut sudah "pindah" ke jempol. Bisa nangkep maksudnya kan ya?
Sekarang sebenarnya mulut mungkin udah "pindah" ke seluruh jari-jari.
Pikiran random yang muncul dari fenomena kemajuan teknologi media sosial online.
Facebook, twitter, blog, line, BBM, whatsap, skype, dan jutaan fitur komunikasi udah jadi hal biasa.
Mau bikin isu apa, tinggal ramaikan dunia maya. Ketik-ketik, post, share, and everybody knows.
As simple as that.
Kadang jadi "lupa" sama dunia nyata.

Yah, semoga bisa bijak menggunakan kecanggihan teknologi.

Pelesiran 20a
3 April 2013

Friday, March 15, 2013

cara-Nya mengajariku


Entah ya, aku merasa Allah sering sekali mengajari suatu hal dengan cara membuatnya tak ada dulu.
Dulu aku ingin belajar mengenai takdir. Allah mengajariku dengan mengambil titipannya dari ku, untuk kemudian aku sadari bahwa itu adalah takdir ku, kehendak nya. Ya, mungkin itu yang dinamai percaya dengan takdir-Nya.

Saat aku mencari sesosok pemimpin, dan mencoba memahami bagaimana menjadi seorang pemimpin itu, rasanya aku bahkan dibuat merasa kehilangan kendali atas diriku sendiri. Di sekitarku, ya, aku jadi sadar bahwa ketiadaan sosok pemimpin sangat-sangat membuat gelisah.
Tidak ada sang penunjuk jalan, tidak ada jejak yang bisa diikuti.

Ya, mungkin ini cara Allah mengajariku
Tidak mudah memang, tapi apapun yang Allah kehendaki pasti baik bagiku
Semoga dapat menyikapi segalanya dengan baik :)

Pelesiran,
14 Maret 2013
  

Wednesday, December 19, 2012

tuntas, totalitas : don't give up!


Ga totalitas itu adalah sama ketika kamu lagi ngedownload film dari youtube.
Persen downloadnya lama-lama nambah kan ya? Anggaplah saya mau download film buat tugas ekologi yang durasinya 59 menit ato video lain, tentu  downloadnya jadi lumayan lama.

Di tengah jalan, tiba-tiba koneksi internet kamu terputus, entah itu terpaksa kamu putus karena koneksinya nge hang, atau memang dari sananya.

Walhasil proses download kamu berhenti, dan ga tuntas.
Film yang kamu download jadi ga full, ada sih sedikit, tapi kamu tetep harus ngulang dari awal, atau (kalo masih bisa) nerusin downloadnya.

Udah mah lama prosesnya, hasilnya ga maksimal juga.
Udah gitu downloadnya pake modem yang kuota nya terbatas lagi.

Bayangin juga kalo itu terjadi berkali kali
Habislah waktumu, kuota modemmu


__________________________________________
Kuota modem ibarat waktu hidup kamu di dunia, sangat terbatas.
Download film ibarat kerjaan atau amanah yang kamu pegang di dunia.

Ya rabb, sadar selama ini belum mencurahkan segala totalitas dan kerja dengan super tuntas, masih suka nunda dengan berbagai alasan, mudahkan ya Allah, mudahkaann.. >,<


* * *
jangan bilang "makanya pake yang unlimited ato jaringan ITB dong" yaa!
Hehe
 
* * *

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (94:7)

“Kemenangan abadi ada di akhir perjalanan. 
Maka celakalah mereka yang gugur dalam perjalanan tersebut..”
Muhammad Asy-Syafi’i
(from puteri-fadillah, via kurniawangunadi's tumblr)

Thursday, November 29, 2012

belum resmi masuk 'geng motor'


Bismillah
Tak terasa sudah 1 minggu saya tergabung dalam geng motor. Ternyata ga kalah seru sama di angkot.

Iya, bukan 'geng motor' beneran, ceritanya karena ada satu lain hal, saya kemana-mana jadi bisa pake motor buat ngampus.

Pengalaman pertama parkir di kampus, masih kikuk. Bingung musti masuk lewat mana, ambil tiket parkir gimana, bayar parkir gimana, markir gimana, dll.
Cukup sudah lah membuat efek domino dari rentetan motor karena secuil senggolan motor saya. (maaaaf banget ga bisa minta maaf langsung sama empunya motor). Alhamdulillahnya ada mas-mas baik yang mau bantuin saya ngembaliin semua motor ke posisi normal.

Di hari lain saya ngga bisa ngeluarin motor karena mepet banget sama motor sebelah. Datanglah si kak adib (kakak taplok PROKM 44, yang kayanya udah lupa sama saya hehe) ngebantu ngeluarin motor. Alhamdulillah, pokonya selalu ada yang bantu.

Saat nyetir, ternyata banyak banget yang saya pikirin. Seolah pengen mengaitkan dan mencari analogi dari mengendarai motor dengan kehidupan real. hehe

BELUM JAGO KALO BELUM PERNAH JATOH
Satu hal, sebelum benar-benar naik motor di jalanan raya sendiri ini, saya pernah berpikir bahwa:
"Belum terbukti jago namanya, kalo belum pernah jatoh dari motor!"
Pas saya bilang gitu saya dibilang aneh sama kakak saya. Padahal bener loh menurutku, maksudnya, kita tuh bener-bener nguasain kalo udah makan asam garam jatuh dari motor, karena udah ngerasain gimana rasanya jatuh itu.
Aneh sih, tapi ya saya pernah mikir gitu hehe.
Terus dikasi jatoh deh sama Allah, gara gara pas ngebut di jalanan, ada motor di depan hampir kutabrak, ngerem, ujan, licin, gubrag.
*ehem* pelajaran aja, setidaknya jadi bener-bener ngerti arti "Hujan, awas licin" itu apa.

KAMU BISA MATI KAPAN AJA
Serius, ngendarain motor itu butuh konsentrasi full. Meleng dikit bisa bahaya, jalanan rusak juga bisa jadi sumber bahaya.
Entah kenapa dengan helm bertengger di kepala, saya selalu jadi kepengen nyanyi. Pas  saya nyanyi (kadang lagunya aneh-aneh). Sedetik kemudian saya terlintas "kalo saya kecelakaan sekarang, terus kondisi akhir saya lagi nyanyi ga jelas kaya gitu, gmn? Hiiiiy!
Akhirnya saya ganti senandung lain yang biasanya lebih bikin insyaf dan inget mati. Karena bener deh,  celaka bisa dateng dari mana saja.

KALO PUNYA SALAH, PASTI GA AKAN TENANG
Yak, saya belum resmi. Semua perangkat lengkap dan saya tertib lalu lintas kecuali yang satu itu. Selalu nga-deg-deg kalo liat yang ijo-ijo-stabilo. Mo segimana pura-pura tenang tetep aja ga bisa. Kalo ditilang, sudahlah, tak bisa bela diri, memang dalam posisi bersalah. Paling nangis kaya waktu itu -_-
Yang parah, nantinya alarm deg-deg saya bisa mati rasa kalo kesalahan ini saya lanjutin terus.

SIKAPMU HARUS JELAS, NGGA BOLEH ASA ASA
Kerasa banget kalo ada mobil di depan kita yang arah geraknya ga jelas. Kanan ngga, kiri ngga. Karagok. Berkendara juga harus punya sikap.
Saya kadang suka jalan di tengah, makanya sering di klakson.



Lama juga ngga nulis, mungkin ini pemanasan dulu.
Lagi banyak banget yang dipikirin hehe
:)

Tuesday, July 24, 2012

ternyata membuat publikasi itu...


Membuat suatu desain menggunakan software desain adalah salah satu kesukaan saya. Mungkin lebih tepatnya, mengemas sesuatu  hal untuk menjadi konsumsi publik adalah salah satu passion saya.

Tidak ada background sekolah desain, marketing atau bisnis. Saya hanya menyukainya, itu saja.

berbekal pengalaman yang tak seberapa, saya mulai berpikir bahwa membuat publikasi (poster dll) itu ternyata tak bisa semudah yang dipikirkan. Yang jago desain akan sangat handal membuatnya, dan hasilnya mungkin sangat bagus. Namun sering juga dijumpai poster-poster yang meskipun sangat indah secara artistik, namun tidak punya 'ruh'.
Saya pernah mengalaminya beberapa kali, membuat poster secepat kilat, tapi tidak ada kesan yang menempel.
Mungkin itu juga yang membuat saya, setiap membuat pesanan atau suatu poster, selalu mengerjakan itu dengan lama. Bukan hanya  keindahan yang diinginkan, tapi informasi mengenai acara, feel yang  diinginkan dari pembaca poster dan pesan yang ingin disampaikan benar-benar sangat dipikirkan.

Sekali lagi saya bukan ahli di bidang desain, dan bukan juga ahli di bidang psikologi atau apapun itu, namun mungkin secuil pengalaman selama ini yang mengasah perasaan-perasaan saya. Mungkin aneh ya, bikin poster aja pake perasaan? Tapi ya itu, selain saya memang sense of feelingnya dominan (kata hasil psikotest), menurut saya suatu publikasi itu emang harus dibuat sepenuh hati, dan kita harus "masuk" ke dalam nya.

Sungguh ternyata berat pekerjaan para  pembuat iklan, harus memastikan bahwa seluruh konten sudah cukup, serta mencoba mengkomunikasikannya dalam iklan.

Satu lagi, pembuat publikasi (iklan dll) menurut saya bisa jadi indikator, sudah lengkap atau belum konten dari suatu hal yang ingin dipublikasikan

just sharing
:)

Kamar, 24 Juli 2012
Sehabis main ke SLB Bina Kasih, dan sedang membuat poster kegiatan yang lain.

Monday, July 23, 2012

Egoisme Sajadah

Puasa perdana saya di hari ketiga, Tarawih perdana pula berjamaah di Masjid Al-Muhajirin.
Berkah Ramadhan mungkin, banyak yang saya renungkan.
sembari mendengar khutbah tarawih, muncul ide-ide di kepala saya, dan wajib segera di tuangkan dalam tulisan supaya ga nguap dan lupa begitu aja.
Tapi sekali lagi, satu-satu aja ya saya paparkan hehe

* * *

Sudah sejak beberapa tahun kebelakang fenomena ini sering terlihat. Begitu semangatnya kaum muslimin di sekitar masjid saya berbondong-bondong memenuhi shaf-shaf shalat untuk tarawih berjamaah

Warga disini mengambil tempat shalat yang sesuai dengan keinginannya. Ada yang menyukai di depan agar lebih hangat (biasanya orangtua), ada juga yang memilih di belakang agar mudah berjalan jalan (biasanya anak-anak) dan ada pula yang memilih di luar agar tidak kepanasan.

Dengan sajadah yang beraneka ukuran, menambah besar lubang-lubang shaf yang terbentuk. Lucu memang, sajadah yang dibawa biasanya berukuran besar, jadi shafnya pun tidak rapat.

Ada keengganan untuk saling merapat, mungkin karena kalau terlalu rapat jadi sulit saat duduk tasyahud, mungkin juga karena teritorinya sudah dibentuk dengan sajadah masing-masing. Padahal masjid Al-Muhajirin sekarang udah pake karpet yang alhamdulillah bagus banget (mahal anti debu hehe), ngga pake sajadah juga sepertinya masih nyaman.

Egoisme sajadah istilah yang terlintas, biasanya dialami kalangan ibu-ibu. Penanggulangannya tidak bisa instan, harus dibiasakan, serta disadari oleh banyak pihak. Mungkin saya harus bikin Gerakan 1000 Sajadah Mini (GSM) atau Gerakan Penambal/Penyempil Shaf (GPS) untuk melibas egoisme sajadah semacam itu. Hehe.

"Barang siapa menutup shaf, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya satu kali dan akan membangunkan sebuah istana untuknya di Surga." (HR. Nasa'i & Huzaimah)
Kamar, 23 Juli 2012
Hari ke 3 Ramadhan

Monday, June 18, 2012

Which One, Ibu Suri atau Ibu Peri?

Mungkin istilahnya, saya sedang dilanda dilemma. Kenyataan bahwa saya harus menjadi orang yang membina dan mengusahakan cara-cara yang tentunya bertujuan untuk dapat bersama-sama menjadi lebih baik.

Semakin lama saya semakin menyadari bahwa hidayah itu datangnya hanya dari Allah, sekeras apapun usaha kita mengubah seseorang menjadi lebih baik, tanpa ridha-Nya, bisa apa kita. Dan bilapun seseorang tersebut memang menjadi baik, buang sikap sombongmu, sekali lagi itu bukan karenamu.

Dalam membentuk suatu karakter, diperlukan manusia-manusia berkarakter kuat. Manusia-manusia yang yakin akan apa yang mereka bawa, dan optimis bahwa bersama mereka ada Allah yang senantiasa menolong. Mereka yang tidak mengharapkan apapun, selain ridha Allah.

Saya yakin tidak ada orang yang tidak mau punya karakter yang kuat, yang kokoh. Namun adakalanya ada saja orang yang mau-tidak-mau harus berada dalam posisi membina. Yang menjadi dilemma adalah bagaimana seharusnya dia memposisikan diri, dan bagaimana dia seharusnya bersikap.

Mungkin lebih nyaman menjadi seorang sosok yang "baik hati", seperti Ibu peri dalam kisah-kisah dongeng. Ibu peri baik hati ini menjadi idola binaannya. Tapi ibu peri dalam versi saya ini terlalu pleghmatis, mengikuti arus, mengikuti kemanapun binannya membawa. ibu peri ini ingin sekali dapat diterima dengan baik, karena memang unsur kedekatan lah yang dia sukai. Namun ia tercelup, bukan mencelup. Bahkan sampai "lupa" misi utamanya.  Terus berbincang kesana-kemari, tanpa kemudian punya kuasa lebih untuk mengarahkan.

Atau dengan menjadi sosok yang "jahat" mungkin lebih mudah? Seperti Ibu suri atau ibu tiri dalam kisah-kisah terdahulu. Kejam. Diktator. Toleransi rendah. Dengan begitu lebih mudah bukan mencapai tujuan? Setidaknya kali ini, tipe ini akan mencelup, bukan tercelup. Sebuah konsekuensi lain adalah, tipe ini tidak akan diterima dengan baik, barangkali hidupnya akan sengsara dibenci berbagai jenis orang. Ibu suri versi saya ini, sebenarnya punya maksud baik, tapi terpaksa untuk menjadi terlihat jahat.

Dua contoh diatas memang ekstrim, dan segala yang berlebihan memang tidak baik. Bagaimana menyusun keduanya menjadi paduan yang baik, merupakan suatu kemampuan yang patut disyukuri.

Namun dalam urusan akhirat di dunia yang singkat ini, saya lebih memilih jadi ibu suri  tapi membawa mereka ke surga, daripada menjadi ibu peri yang tak sadar malah membawa mereka menjauh dari surga.

Wallahu 'alam
image source: http://osmd.wordpress.com/2012/03/06/dilema/
 
* * * * * * * * * * * * *
Lintasan pikiran seusai isya tadi.
Ya Allah, kuatkan.


Di hari kelimabelas KP
Cikole, 18 Juni 2012

Thursday, June 7, 2012

Lindungi anak-anak, masa kini, masa depannya..

Entah ini salah siapa. Atau kebingungan mencari siapa yang salah. Lihat gambar di atas saya miris. Mengiyakan, sekaligus refleksi. Belum, saya belum punya anak, adik saya pun sudah sangat besar, tapi saya punya 3 keponakan yang lucu-lucu yang kisaran usianya masih sekitar pra TK, TK, dan kelas 1 SD.

Kalau liat  anak kecil, perempuan, dibajuin macem-macem, didandanin macem-macem kayanya lucu ya. Emang dari sananya anak kecil diciptakan masih sangat lucu, ditambah hasrat doyan main barbie, jadi dipakein pakaian yang lucu-lucu. Warna pink untuk perempuan, dan warna biru untuk laki-laki, rasanya jadi template di pikiran saya.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan itu, dampak positifnya anak jadi punya selera seni, tau warna, tau matching, tau berpakaian pantas. Tentang perilaku mereka juga, terkadang kita orang dewasa menganggap lucu hal-hal aneh yang mereka lakukan. Tarian, goyangan, atau nyanyian aneh-aneh yang sering kita dengar sekarang (dangdut, artis dengan pakaian minim dll) jadi terasa lazim dan lucu kalau anak-anak itu bisa mempraktekkannya. Memang lucu kan?

Tapi jadi ngga lucu kalo inget gambar di atas. Ngga selalu begitu sih alurnya, tetep aja  orangtua punya peran penting untuk membimbing. Tapi bayangkan,  faktor lingkungan saat ini dapat mendorong munculnya alur semacam itu kan?

Contoh kasus, anak SD jaman sekarang sering nonton TV. Mungkin kesukaannya kartun dan beberapa film superhero indonesia (yang wonderwoman, catwoman, betmen, kolor ijo jadi satu itu loh) yang aneh-aneh. Udah mah jalan ceritanya aneh, bajunya juga aneh-aneh. Sehabis itu, ada iklan. Dan iklan-iklan di Indonesia tea juga suka ada yang aneh-aneh, ditambah cuplikan film-film yang pemainnya pake baju kurang bahan. Anak-anak tuh merekam dalam memorinya, dan lama kelamaan meniru. Hasilnya? Lebih suka pake baju terbuka dan gayanya macem-macem. Ckck

Kasus lain, beberapa hari yang lalu saat saya sedang di rumah tante, datang 2 anak murid privat tante saya. Namanya Adul kelas 2 SD, dan Opik kelas 1 SD. Karena tante saya lagi ngga ada, saya suruh aja mereka nunggu sambil baca-baca buku (sayangnya belum lancar baca, jadi ngobrol hehe). Mereka sempet cerita, temennya ada yang nonton film jojorangan (apa jorang2an ya? Lupa). Saya ngga tau ini bahasa apa, (sunda?) tapi dari alur ceritanya, intinya film anonoh lah. Katanya temennya itu liat di Hpnya anak ini. Yang jadi aneh adalah, ni anak cerita seolah-olah mengadukan perilaku temannya, tapi film yang ditonton itu dari HP nya -_-) Serem lah pokonya.
 
Mungkin kasus serupa masih banyak. Yang simpel-simpel kaya ngikutin gaya artis, dan apal banget ama SM*SH ama CHERRYBELE hehe. Chibi chibii (eh kalo ini kadang saya suka ngikutin gayanya buat poto rame-rame hehe)

Semacam itulah. Saya serem aja kalo ngebayanginnya. Maksudnya sekarang kan emang belum ngerasain punya anak dengan segala kesibukannya. Yah semoga ada yang bisa diambil pelajaran buat para calon orangtua.

Ya, lindungi masa kininya, masa depannya..

Hari keempat kerja praktek
Balitsa, 7 Juni 2012
sumber gambar: punten lupa, dari sebuah situs, sempat banyak dishare di salah satu jejaring sosial

Friday, June 1, 2012

Opini : Tembakau vs Rokok

Bismillah..

Pagi-pagi sehabis subuh lihat berita di televisi, channel Trans TV. Beritanya tentang Hari Anti Tembakau Sedunia (World No Tobbaco Day) pada hari Kamis kemarin (31/5). Mahasiswa mengadakan aksi ke jalan sebagai pengingat bagi masyarakat dengan menukarkan sebatang rokok dengan buah jeruk.

Jujur saya baru tahu ada hari itu, ternyata juga sudah ditetapkan sejak lama oleh WHO. Sebagai warga Indonesia yang baik, saya senang-senang aja.

Kemudian berita berganti, dengan topik yang masih serupa. Namun kali ini, aksi massa yang MENOLAK Hari Anti Tembakau Sedunia. Kejadian yang disorot saat itu di Medan, kalau saya tidak salah dari komunitas kretek. Dari sebuah website (Antaranews.com) saya mengutip pernyataan salah satu kordinator aksi yang menolak Hari Anti Tembakau Sedunia:
"Hari Anti Tembakau Sedunia merupakan agenda perusahaan asing."
 
Lantas saya jadi ingat dengan video yang beberapa saat lalu saya tonton, mengenai fakta di balik industri rokok
Dari video itu jelas terlihat bahwa Indonesia jadi sasaran empuk industri rokok terbesar, dengan segala konspirasinya. Yang diuntungkan? Pihak asing.

Loh?
Jadi bagaimana sebenarnya?

Kalau kata teman saya, paradoks.
Mungkin, tapi sebenernya titik temunya itu dimana? Solusinya gimana ya?

TEMBAKAU VS ROKOK
Permasalahan tentang rokok, dampak negatif merokok, fatwa haram merokok, dll juga sering kita dengar . Alasan kenapa rokok masih terus ada di Indonesia ini sangat dikaitkan dengan permasalahan ekonomi. Petani tembakau, industri rokok indonesia, buruh-buruh pabrik, pedagang rokok asongan, dan berbagai faktor lain yang tetap ngga bisa kita lupakan. It's Real. Walaupun sebenarnya alternatif pekerjaan lain banyak, tapi tetap saja, mungkin ngga semudah itu. Yang jadi tantangan adalah, gimana supaya dengan dibumihanguskannya rokok, para pekerja bisa tetap menafkahi keluarganya. Karena menurut saya, kalau itu berhasil dipecahkan, harusnya udah ngga ada alasan lagi.

nah terus saya mikir, oooh, mungkin tembakau memang selalu diidentikan dengan rokok, makanya kesannya jadi negatif. Atau gimana? (Saya ngomong gini dalam kondisi ngga tau apa-apa loh tentang tembakau, jadi awas sesat juga. Hehe)

Apakah hasil dari petani-petani tembakau tadi bisa mendapat alternatif lain selain memasok industri rokok?
Pasti ada.. Pasti ada..
 

Just share what's on my mind
fell free to discuss :)

Kamar, 1 Juni 2012

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...