Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

Thursday, March 24, 2016

Setelah Membolos Kelas ODOP Tanpa Kabar Selama 36 Hari

Setelah Membolos Kelas ODOP Tanpa Kabar Selama 36 Hari


Kepada Yth.
Ketua Kelas dan teman tercinta ODOPfor99days
Di Tempat.

Hari demi hari rasa tersayat *lebay*melihat notifikasi Facebook Apps di HP dalam group ODOPfor99days selalu ramai oleh semangat konsisten dari para peserta kelas. Bagaimana tidak, per 24 Maret ini sudah masuk postingan hari ke 58, yang mana dimana saya sudah berhenti pada hari ke 22. *jelegerrr*

58 – 22 = 36.
36 hari sudah saya tertinggal kelas. Kalau ingat jaman sekolah dulu yang ada 3 cawu (caturwulan), berarti saya ibarat 1 “caturwulan” ngga masuk kelas *jelegerr
Dan belum jalan 1 caturwulan, saya udah bolos kelas. *huks*
36 hari itu, terserah bagaimana saya. Tidak ada keharusan mengejar ketertinggalan itu. Mau dianggap udah ngga ikutan lagi bisa, dan mau dianggap jadi hutangpun bisa. Tapi poinnya adalah bukan hanya hasil berupa 99 postingan, melainkan pada komitmen dan konsistensi. Sekarang sudah terlihat kan? *cry*

Keterangan Tidak Masuk Karena Alfa
Selama sebulan setengah belakangan ini saya ngga masuk hutan lari ke pantai yang ngga ada sinyal. Saya masih di perkotaan dengan sinyal yang mumpuni. Handphone sebagai alat posting ODOP pun selalu bersama saya setiap saat. Ada apa? Belakangan lagi sok sibuk belajar jualan. Mantengin line, instagram, facebook, WA dan sms buat nyari peminat barang yang saya tawarkan *KenaVirusEmakOlshop. Selain itu, saya juga masih deg-deg an karena haidar udah mulai MPAsi *ternyata jadi drama tersendiri juga*

Ketika oranglain bisa konsisten sampai hari ini, sementara saya tertinggal jauh, sejujurnya sedih. Tapi mungkin kembali lagi ke prioritas kita masing-masing ya. Hal mana yang mau diprioritaskan, hal mana yang mau ditunda dulu. Mudah-mudahan saya masih bisa akselerasi proses menulisnya.

Bertambahnya kerjaan *yang dibikin bikin sendiri ituh*, ternyata sukses membuat saya jarang pergi ke pasar dan masak buat suami. Kerasa banget deh keteterannya. Jadi sering makan seadanya, bahkan jadi beli di luar.
Yang aku ga ke pasar tadi huhu T_T” kata saya
Iya gapapa, ayang mau makan apa? ^^” kata suami
Saya suka ngerasa bersalah kalo ngga ke pasar dan ngga masak, tapi suami masiih aja nawarin saya mau makan apa. Sebenernya mungkin dia sedih juga, tapi ngga mau bikin saya sedih karena dia sedih. *Terharuu*

Ceritanya Warming Up
Dan karena ini postingannya ceritanya warming up, jadi maapkeun kalau isinya curcol semua ya. Tulisan ini dibuat hari kamis jam 23:11 ketika sang ayah dan sang bayi sudah terlelap. Ngampar di karpet ngetik di laptop. Dan hey, feeling buat nulisnya lumayan keluar lagi :D Mungkin selama ini energi ngetik panjang nya cuma buat dagang. Jadi ngga posting ODOP pake hape karena lebih tertarik buat ngetik urusan dagangan hehe. Kalo posting sih saya hamper tiap hari, tapi ngga di tagar #ODOPfor99days karena ngga merasa layak ._. harus dicoba lagi ah. Udah komitmen di awal, dan harus menghidupkan lagi budaya menulis di diri ini *selain menulis orderan wkwkw*
Wah jadi keingetan, domain www.hajahsofya.com tanggal 25 besok udah harus diperpanjang. Bung Eka Pramudita, siap-siap saya kontak buat perpanjang domain di Wide Host Media ya. Heu *tuh di endorse, Ka. hehe

Lumayan geuning, udah 415 kata. Tuh kaan, harusnya bisa. *menulis memang gampang, yang sulit adalah membuat tulisan kita layak dan bermanfaat bagi orang lain*

Udah dulu ya. Lanjut postingan selanjutnya aja J

Kamis, 24 Maret 2016
#ODOPfor99days #day23



Tuesday, May 12, 2015

Kebiasaan Mencatat dalam Refleksi Keberjalanan Mentoring


Bukan berarti milyaran sel dalam otak kita tak mampu memproses berbagai hal yang terjadi. Tapi berbagai faktor akan mempengaruhi performa kemampuan otak kita masing - masing.

Saah satu kebiasaan baik yang harus dibangun bagi para pembelajar adalah kebiasaan mencatat. Mencatat segala hal yang dirasa penting, mendokumentasikannya minimal untuk diri pribadi. Apa apa yang masuk melalui telinga kita, tak selalu bisa kita ingat, tentu saja! Maka mencatat membantu kita untuk mengingat, dan dalam proses mencatatpun, kita seolah sedang memahat informasi di sel sel otak kita.

Sebetulnya tidak semua orang harua melakukan hal ini. Ya, semua kembali kepada diri masing-masing. Kamu yang lebih tahu dirimu sendiri, apa kurangnya, apa lebih nya, apa solusinya. Saya tahu kapasitas diri saya yang pelupa ini, beruntung saya termasuk orang yang suka mencatat, dan saya merasa itu cukup bermanfaat bagi kehidupan saya.

Ya, bahkan mencatat sudah saya jadikan indikator diri. Kalau catatan saya sepi, berarti hidup saya kacau *serem amat yak*. Maksudnya, berarti manajemen diri saya sedang tidak oke. *emang kapan oke nya?* hehe

Tulisan ini sebenarnya sebuah pengakuan, kalau boleh dibilang, ya semacam refleksi juga untuk diambil hikmahnya. 

Saat ini saya masih pegang amanah untuk mengordinasi mengenai mentoring saya di sma. Dan saat ini merupakan salah satu pucak dimana saya merasa kelabakan karena sama sekali belum merekap bahan untuk dilaporkan. Laporan mentoring kelompok pribadi, maupun kelompok-kelompok lainnya.
Astaghfirullah..

Ada rasa segan saat menagih laporan tiap kelompok, ada rasa maklum ada rasa lupa juga *bukan rasa, lalai itu mah* yang terakumulasi. 

Dampaknya? Ya ini,  
ketika ga konsisten melakukan yang rutin, bersiaplah 'kebakaran jenggot' di akhir. 

Untuk kelompok yang saya pegang, alhamdulillah sy masih terselamatkan oleh catatan kecil-secuil di buku saya. Sama sekali ga lengkap T.T, tapi alhamdulillah ada, sekarang tinggal harus mengandalkan daya ingat untuk detail yang terbatas.
Saya saja petugasnya begitu, bagaimana mentor yang lain?
Ah jadi miris, mungkin ini salah satu penyebab mengapa mentoring di DS/DK/dimanapun sering timbul tenggelam. 

Dokumentasi dalam mentoring adalah hal yang sangat penting. Bukan sekedar kita bisa laporan sama petugas, tapi, sejauh mana kita benar benar memantau perkembangan adik adik binaan kita. Dalam skala lebih luas, kita bisa tau seberapa efektif keberjalanan mentoring dalam sebuah organisasi, apa evaluasi untuk ke depannya.

Dalam tulisan ini, sekaligus saya maminta maaf kepada para mentor yang beberapa bulan ini saya dzalimi dengan tidak tegas dalam meminta laporan. Mudah mudahan belum terlambat ya, kita coba perbaiki bersama.

Apa kabar binaan-binaan mu hari ini?
semoga kita termasuk orang yang bersungguh - sungguh dalam mengerjakan setiap hal
T.T

Friday, November 22, 2013

welcoming the new edition

    Alhamdulillah
    Selamat datang buku catatan baruu :D
    Sebenarnya inginnya dimulai saat pergantian tahun masehi 2014 nanti (biar bagus aja klasifikasinya), tapi, buat apa menunggu selama itu (2014) dengan mengorbankan jutaan makna yang mungkin akan dilalui? Hehe :D
    yeay buku catetan baruu! alhamdulillah :D

    Kuharap buku ini dapat membantuku mendengar lebih jelas suara hatiku, membantuku memahami dan memaknai segala yang terjadi padaku dengan lebih baik :)
    Aamiin

    20 November 2013

buku catatan yang membuatku tak ingin mencatat

Sudah lama tak menulis. Ya, menulis dengan pulpen dan buku catatanku, literally. Faktornya bisa banyak, dari analisisku : (1) aku memang sedang tak mau menulis, (2) sedang tak ada bahan yang menarik untuk ditulis, (3) malas, atau karena (4) buku catatan 2013 ku sering "hilang" dan bahkan tak kujadikan teman kemana-mana yang selalu kubawa di tas ku. 

kumpulan buku catetan yang udah setia nemenin kemana-mana hehe

Mari berfokus pada poin ke 4, sesuai dengan dengan judul aku merasa bahwa salah satu faktor utama aku jadi jarang menulis adalah aku tidak dekat dengan buku catatanku sendiri. Sebetulnya ada apa dengan buku catatanku?

Lain dari biasanya, tahun 2013 ini aku memakai buku agenda dari sebuah produk. Desainnya bagus, bentuknya juga bagus, tidak ada masalah dengan itu. Tidak terlalu tebal, cukup ringan dibawa kemana-mana. Ada kalender, lembar komitmen, kalender, bahkan dilengkapi dengan monthly schedule yang menjadi pembatas antar bulan. Template lengkap. Lalu dimana masalahnya?

Kurasa aku tidak menyukai adanya monthly schedule template yang menjadi pembatas (apalagi ada iklannya, hehe konsekuensi sih). Rasanya mengganggu saat aku mau menulis, kemudian terpotong oleh pembatas itu. Jadi malas. Haha.

Lalu apa aku tidak butuh monthly schedule? Tidak juga, hanya penempatannya kurang pas. Toh Monthly schedule aku sudah punya yang terpisah.

Jadi yang aku butuhkan:
1. Buku polos biasa
2. Sampul, spidol dan kreativitas untuk menghias
3. Kalau mau pake template agenda, ya bikin sendiri aja hehe

Emang rempong bener ya gue begini aja di pikirin dan di posting hehe

7 November 2013

ternyata menulis itu bagi saya...

Menulis itu bagi saya, ternyata merupakan separuh nyawa.
Saya dan beberapa teman yang mengenal saya, sangat tahu bahwa saya sangat suka menulis, ya, literally menulis dengan pulpen dan buku. Mungkin tidak ada yang aneh dengan itu, toh banyak orangpun menulis di buku agendanya.

Saya menulis (dengan pulpen) apapun. Hasil rapat, materi, lintasan pikiran, inspirasi, hikmah, jadwal harian, dll. Menulis membantu saya memahami suatu masalah. Menulis membantu saya mengingat, karena saya akan ingat secara visual, hampir persis apa yang telah saya tulis.

Kebiasan menulis saya, sejauh ini belum membuat saya kemudian memiliki pola pikir yang sistematis. Ya, dalam menulis saya masih abstrak. Meskipun beberapa teman bilang bahwa catatan saya rapi, tapi saya belum berkemampuan untuk membuatnya mudah dimengerti orang.

CARA SAYA MENULIS
Saya masih dalam tahap mencari model pencatatan yang tepat bagi saya. Pernah saya membagi catatan aktivitas saya ke bererapa buku, namun tidak efektif karena jadi tercecer. Pernah juga saya menjadikan 1 buku sebagai kumpulan semua aktivitas saya, merasa mudah tapi terkadang merasa bahwa cara penulisan saya menjadi tidak terorganisir.  Saya berharap dan yakin kepada Allah bahwa suatu saat saya akan menemukan pola penulisan yang  paling sesuai dengan diri saya. Prinsip saya, semua lebih baik bila terdokumentasikan, tidak peduli seberantakan apa.

MENULIS ADALAH INDIKATOR PRODUKTIVITAS
Baru saya sadari, bagi saya menulis adalah salah satu indikator produktivitas. Banyaknya aktivitas/amanah membuat kita lebih butuh mengatur waktu, kemudian merencanakan jadwal jadwal, dan semangat dalam mencari ilmu. Saat itu buku saya penuh dan saya sangat bersemangat.
Namun ketika tak ada kegiatan, tak ada sesuatu yang perlu saya atur, kemudian membuat saya menjadi mager  (malas gerak), dan akhirnya tidak banyak menulis.
Saya bisa tahu dari buku catatan saya, mana masa-masa produktif saya, mana masa-masa  yang kurang bermanfaat. Contoh lainnya, saya punya kebiasaan menuliskan pengeluaran dan pemasukan harian, ketika memasuki masa TA-seminar-sidang, kebiasaan saya perlahan menghilang. Hasilnya? Pengaturan keuangan berantakan, tidak terkontrol dan sering merasa "uangku-lari-kemana-ya". Hehe

Bagi saya, menulis berarti mengawali tekad, merencanakan, memberi perhatian. Merencanakan dengan tulisan berarti peduli dengan kemuliaan yang bisa diraih di masa depan :)

21 September 2013
 

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...