Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Thursday, February 16, 2023

Insight dan Review Film Ngeri-Ngeri Sedap (Missing Home) 2022

 

Bismillah..

Kali ini aku pengen sharing tentang apa yang kudapat dari film Ngeri-ngeri Sedap. Buat pecinta film ber-genre keluarga kaya aku, film ini RECOMENDED sih menurutku. Plusnya, aku yang blasteran suku Jawa-Sunda ini jadi agak sedikit tahu mengenai adat dan tradisi Batak. Aku suka banget! <3

Film ini bahas keluarga yang sudah cukup matang, sudah bukan anak-anak lagi. Memang belum ada yang menikah dari anak-anaknya, tapi buat aku, cukup jadi pengingat dan refleksi diri tentang "akan menjadi orangtua yang bagaimanakah aku kelak?"

Mungkin aku ngga akan terlalu bahas isi filmnya ya, spoiler tipis-tipis ngga apa-apa ya hihi. Tentunya, better nonton sendiri ya. Aku pengen nulisin pelajaran/insight yang kudapat dari film yang sedang tayang di Netflix ini

1. Pentingnya sosok Suami dan Bapak untuk dekat dan bersahabat dengan anak-anaknya, juga istrinya.

Kalau dilihat memang usia Orangtua di film ini adalah generasi babyboomers yang bisa dibilang masih sangat konservatif dan memegang adat. Mereka yang masih minim ilmu parenting-parentingan sehingga hubungan antara anak dan Bapak masih sangat kaku. Fenomena Bapak yang "harus selalu ditaati" cukup terasa, namun minim koneksi dengan anak. Diperlihatkan bahwa efeknya adalah anak jadi enggan pulang ke rumah orangtua karena "males" selalu dikoreksi dan ngga dimengerti. 

Jenis hubungan yang kulihat dan Pak domu dan mak domu ini sebetulnya unik. sampai punya "ide gila" itu juga saat menjalaninya malah kagok hihihi. "Lembutnya" hati seorang suami/ayah akan berdampak sangat besar pada anak dan istrinya.

2. Ibu yang rindu sama anak-anaknya dan berani mengekspresikannya

Aku di masa sekarang ini anak masih kecil-kecil belum dewasa dan ngerantau, belum ngerti deh gimana rasanya. Tapi aku belajar dari mak domu ini, bahwa kalau rindu ya sampaikanlah kerinduan itu sama anak-anak. Biar anak tahu betapa ia dirindukan orangtuanya, betapa orangtuanya sedang merindukannya. Cinta dan kasih sayang itu bukan hanya dalam hati, tapi perlu diekspresikan melalui kata-kata dan aksi.

3. Anak-anaknya sebetulnya so sweet dan care sama orangtuanya

Meski mereka tersebar di luar kota (bahkan pulau), tapi ketika ada kabar "menggemparkan", mereka kompak untuk pulang dan membantu orangtuanya untuk memecahkan masalah. Kalau anak ngga "baik" sih bisa aja memilih untuk apatis dan ngga peduli ya. Mereka mau ngusahain bantu orangtua mereka dengan cara yang baik dan dewasa. Patut diapresiasi ya!

4. Pahami latarbelakang dari keputusan yang diambil anak

Setiap anak sebetulnya punya misi tersendiri yang udah Allah takdirkan. Orangtua wajib mengarahkan, mendampingi, namun sebagai manusia tak bisa sepenuhnya mengendalikan manusia lainnya. Seiring bertambahnya usia anak, sangat mungkin terjadi perbedaan pandangan yang bila tak orangtua iringi akan menjadi hal yang "mengagetkan". Bila ada hal-hal yang memang bersebrangan dengan prinsip keluarga, tradisi, agama, value atau hal lainnya, diskusi yang sehat sangat dibutuhkan. Sekedar melarang tanpa memahami latarbelakang anak mengambil suatu pilihan justru akan membuat anak semakin jauh. 

Kalau dalam film ini diceritakan adanya ketidaksetujuan orangtua terhadap pilihan anaknya : anak yang mau menikah dengan suku yang berbeda, anak memilih profesi yang tidak disukai orangtua, dan anak yang tak kunjung pulang karena malah merawat "orangtua" lainnya.

5. Hak perempuan untuk mengemukakan pendapat

Dalam berbagai budaya, juga aturan agama, yang kupahami memang perempuan itu diwajibkan tunduk taat pada suami. Namun untuk mewujudkan pernikahan yang berkah tentu kenyamanan dalam mengemukakan pendapat sewajarnya perlu diperhatikan. Seseuatu yang terlalu ditekan, bila tak diatasi dengan baik, suatu saat akan meledak. Sebetulnya hal ini berlaku baik untuk perempuan maupun laki-laki ya. Juga orangtua maupun anak-anaknya.

6. Pentingnya orangtua mengenal anak lebih dalam

Kadang orangtua ngga sadar apa kesukaan, keinginan, bakat, dan perkembangan jiwa anaknya. Dalam film ini, contohnya saat sang Bapak ngga suka dengan pilihan karir anaknya (gabe) menjadi komedian, padahal sang Bapak juga termasuk yang paling lucu banyolannya. Tokoh Sahat (anak terakhir) juga ternyata begitu berarti & bermanfaat di kampung tempat ia bekerja. Ia bahkan mendapatkan banyak pelajaran hidup dari sosok tetua yang ada di tempat tinggalnya di Jawa. 

7. Yang terpenting bukan apa yang terlihat di luar, melainkan bagaimana yang sebenarnya di dalam

Keluarga Pak Domu ini sempat dijadikan percontohan keluarga harmonis bagi keluarga lainnya di tempat ibadahnya, Ada scene saat pak Domu meminta Mak Domu merangkul tangannya saat di depan orang lain, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Hikmahnya buatku, ya setiap keluarga punya ciri khas, baik itu hal bagus yang bisa dicontoh, ataupun permasalahan masing-masing. Tentunya menjaga marwah keluarga juga hal yang penting dan baik. Terpenting adalah berfokus untuk benar-benar baik di dalam hingga kebaikannya bisa terpancar ke luar. 

8. Sosok Bapak yang "curhat" kepada Ibunya saat ada masalah

Ini menarik sih ya, di balik "keras"nya watak sosok Bapak di film ini, masih ada kesempatan ia untuk akhirnya "curhat" kepada Ibunya sendiri meski ia sudah berumur. Kebanyakan dari kita, semakin dewasa semakin "gengsi" untuk menceritakan permasalahan-permasalahan hidup kita pada orangtua. Berkeluh kesah pada orang yang tepat itu boleh kok ya, karena manusia memang makhluk yang suka berkeluh kesah, bukan? Setelah itu jernihkan pikiran dan ambil keputusan yang terbaik.

9. Mau menyadari, mengakui kesalahan dan meminta maaf itu tidak menurunkan derajat, justru membuka jalan kebaikan

Sebetulnya dalam sebuah keluarga/pernikahan, karena semua saling memberi pengaruh, maka kita memang tidak bisa menyalahkan pihak manapun. Namun, dari melihat film ini, aku melihat bahwa kunci dari segala permasalahan adalah ketika sosok Bapak mau "mendengarkan" apa yang istri dan anaknya sampaikan. Fitrah ayah sebagai imam memang menjadi pengambil keputusan dan setiap anggota keluarga butuh taat, namun pemimpin yang baik tentu bisa mengayomi jiwa-jiwa orang yang dipimpinnya.


Secara budaya aku jadi tahu kalau di tradisi batak itu.. (cmiiw)

1. Usahakan menikah dengan dengan yang satu suku untuk menjaga tradisi

2. Anak lelaki merantau, tetapi anak terakhir tidak merantau dan ia yang bertugas merawat orangtua 

3. Motif ulos berbeda-beda dan dipakai di momen yang berbeda

4. Ada upacara adat Sulang-sulang Pahompu : pengukuhan adat pernikahan Batak Toba

5. Ada budaya kumpul di Lapo : warung ngobrol santai, menyanyi, dkk 

6. Ketika ada permasalahan suami istri dan istri sampai pulang ke rumah orangtuanya, istri harus dijemput oleh suami dan anak-anaknya (keluarga)


Bagus banget sih film semacam ini buat generasi muda, jadi bisa kenalan sama budaya-budaya lewat media yang menyenangkan :D

Nah, insyaallah segitu dulu ya, nanti kalau ada aku tambah-tambah lagi.
Mau ngerjain tugas lain dulu, hihi.

Kalau ada rekomendasi film keluarga yang bagus lagi, berkabar ya!

Saturday, November 28, 2015

Buku Asik Orangtua Pembelajar

Belakangan ini saya sedang bercengkrama dengan beberapa buku. Bagi saya pribadi, buku yang sedang saya baca sedikit banyak menggambarkan apa yang memenuhi pikiran dan jiwa saya. Ketika butuh A, saya akan mencari buku tentang A. Yang kurang baiknya, karena topik bukunya moody, kadang kalau sudah kepikiran yang lain, buku yang lama ditinggal dulu. Hehe.

Suatu saat berniat mengagendakan membaca buku pertopik karena memang ingin upgrading, berarti 1 buku lain diluar buku moody tadi. Tapi entah kapan, sementara ini masih jadi emak-emak rempong banget soalnya hehe.

* * *

2 buku yang lagi saya baca adalah Menjadi Suami Istri Bijak (Rasya Abdus Sami') dan Segenggam Iman Anak Kita (ust fauzil adhim). 2 buku yang saya butuhkan dalam menyokong peran baru saya setahun ini, istri dan ibu.

Menjalani peran baru memang tak semudah yang dibayangkan sebelumnya, serius. Bukan bermaksud menakut nakuti, tapi memang diperlukan kematangan dalam menjalani nya. Maka saat masih single, seharusnya saya sudah mencicil apa apa saja yang diperlukan untuk menjadi seorang istri dan ibu. Namun nyatanya, memang cicilan itu tak akan pernah selesai --prosesnya sepanjang masa.

Buku Menjadi Suami Istri Bijak membuat saya merasa surga begitu jauh T.T Buku ini diperuntukkan dibaca oleh suami dan istri. Flashback setahun kebelakang sebagai istri, rasanya kuraaaaang banget huhu. Harus diakui bahwa diusia saya yang 23 tahun ini, emosi masih belum stabil, wajar sebetulnya. Ternyata saya egois dan bocah banget hihi.

Sedangkan membaca buku Segenggam Iman Anak Kita membuat saya merasa nol sekali sebagai ibu, sementara bekalnya seharusnya sudah banyak, dan  usia anak akan semakin besar seiring waktu berjalan.

Kedua Buku itu rekomended menurut saya. Dibaca dan dihayati sebelum menikah, dan sebelun punya anak, dan saat menjalaninya. Membentuk mindset dan menjadi tools untuk evaluasi saat menjalaninya.

Kalau selama ini ngerasa aman aman aja, dan kepingin ngerasa aman terus, ngga perlu baca buku itu! Hehe

Ah semoga kita senantiasa semakin baik setiap waktunya..

Sabtu, 28 Nov 2015
Menuju setahun pernikahan

Saturday, October 3, 2015

Rasa Baru Idul Fitri 1436 H, 2015

Idul Fitri 1436 H, 17 juli 2015.

Menjadi hari raya yang membahagiakan, sekaligus membuat hati rasa teriris.
Alhamdulillah, hari raya kali ini sudah menjadi seorang istri, sekaligus (insyaallah) akan segera menjadi seorang ibu. Ya, kini usia kehamilanku sudah jalan 8 bulan, tak terasa ya?

Aku bahagia, bertambah lah keluargaku. Suami, keluarga inti suami ku, dan keluarga besar suamiku. Interaksiku dengan mereka memberiku banyak pelajaran, dalam diam. Ya, memang begitulah aku, mengamati, mempelajari, kemudian berkontemplasi.

Sekaligus ada rasa aneh dalam hatiku. Ya, menjadi istri dari seorang laki-laki menambah daftar “kewajiban” ku untuk berbakti pada keluarga suamiku. Apa aku tak tahu? Bersyukur aku juga sudah paham dan menerima konsep ini sebelumnya. Hanya saja fase transisi ini membuatku harus lebih berusaha keras belajar untuk itu (tentu saja).

Dan keluarga intiku, ya, akupun merasakan hal “aneh”. Sebagaimanapun keluarga kita, kita memang akan merasa nyaman dengan mereka. Ah. harus kuakui, sebut saja aku begitu sangat kangen dengan mereka. Bukan sekedar kangen, melainkan rasa penyesalan yang besar lantaran merasa belum bisa membahagiakan mereka. 
Ah bukankah salah satu tujuanku menikah adalah untuk menambah rasa baktiku pada keluargaku? Dan bukankah lambat laun akupun merasakan hal itu? Bismillah.. kumohon juga doa darimu.

Pesanku untuk para calon istri,
Optimalkan waktu waktu berharga bersama keluargamu, khususnya orangtuamu. Kau boleh kesal dengan kakakmu, adikmu, orangtuamu, tapi percayalah, PERCAYALAH, mereka adalah keluarga terbaik yang Allah karuniakan kepadamu. Bersyukurlah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H
Taqabbalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan batin.

*Baru buka tumblr, langsung curcol panjangkalilebarr* hehe

24 juli 2015
Kamar De Marrakesh

*Postingan lama sekali di tumblr hehe hajahsofya.tumblr.com*

Monday, September 7, 2015

Kunjungan Bapak Siang Ini

Bakti seorang anak perempuan yang telah menjadi istri, telah berpindah pada suaminya, pada keluarga suaminya. Walau bagaimanapun, tetap orangtua kandungnya masih harus tetap ia perhatikan, dalam porsi yang semestinya, karena ia tetap punya hak dan tanggungjawab di mata Allah.

Siang ini, seusai shalat dan goler-goleran iseng sambil membuka gadget, bapak ku datang berkunjung. Aku jadi teringat masa-masa ngekost dulu saat bapak berkunjung, makan di warteg bersama, dengan nuansa yang sedikit bicara namun dengan kesan yang begitu mendalam.

Kangen.

Beliau tetap sederhana saja seperti biasanya, hanya minum segelas air putih yang ia ambil sendiri, begitulah kami. Berbincang sedikit tentang rencana ungsian ku sementara kembali ke margahayu ke rumah orangtuaku, pada masa masa kelahiran anak pertamaku. Justru kini aku yang terus berusaha mencari topik pembicaraan, berusaha menceritakan apapun, karena berbincang lagi dengannya terasa semakin menyenangkan.

* * *

Ya, kebersamaan yang sepanjang waktu memang terkadang harus kita hentikan sejenak, biar rindu-rindu itu hadir dan mewarnai hati kita masing-masing
:">

Mungkin benar katanya, daddy is daughter's first love.

Cibangkong, 7 September 2015
Hajah Sofyamarwa R.

* * *

*Jangan protes sama potonya yang samsek tidak dramatis hehe. Itu ada foto bapakku lagi naik motor kok, tampak belakang, udah jauh aja. Hehe xp

Friday, November 14, 2014

'Jemuran' Protecter

Diingatkan Mama
Siang ini tiba-tiba hujan deras. Sebelumnya aku sedang larut dalam kesibukanku sendiri. Mama kemudian mengingatkan bahwa di luar sedang hujan, dan aku punya jemuran yang belum diangkat. Ya, kalau tidak diingatkan, aku akan lupa dan jemuranku mungkin akan tetap ditempatnya sampai besok karena harus menunggu kering lagi.
Ah, perkara sederhana ya?

* * * * *

Teman Kos Misterius Pengangkat Jemuran
Kemudian aku teringat pada kejadian  setahun yang lalu ketika masih berada di tempat kos. Kejadian yang menyentil sekaligus mengharukan -yang ingin kutuliskan disini tapi tak sempat terus- tentang jemuranku.
Saat itu aku dalam kondisi merasa "ga punya adab bertetangga", yang dengan teman kos ngga terlalu mengenal dekat gitu maksudnya. Maklum lagi nugas akhir jarang ketemu di kosan dan emang akunya kuper juga.

Hari hujan, sudah pasrah jemuran akan basah semua, ternyata semua jemuranku ada yang mengambilkan. Alhamdulillah. Bukan chamar, ira, atau syifa (mereka ku kenal dekat dan biasa berbaik hati pula), tapi aku ngga tau siapa. Tanya yang lain juga ngga ada yang jawab. Masya Allah. Mungkin aku lebay, tapi beneran saat itu terharu banget. Maksudnya merasa tertampar karena terkadang aku sendiri ngga berani ngambilkan jemuran orang lain dengan alasan ngga kenal sama pemiliknya. (Padahal kalau liat langit udh mendung, namanya jemuran punya siapa aja ya bantu angkat dong ya ._.)
Yah, lagi lagi perkara sederhana

* * * * *

Dari 2 kejadian itu, yang saat ini kupikirkan adalah bahwa sebenarnya kita hidup itu memang harus banyak bersyukur. Bersyukur atau berterimakasih pada manusia itu wujud keseriusan kita bersyukur sama Allah.

Dan, hal kecil yang berarti banyak dari orang di sekeliling kita itu juga tak abadi. Ada masanya kita akan merindukan itu semua, yang boleh jadi hal itu sebelumnya sama sekali tidak kita hargai.

._.

Jumat, 14 November 2014
Dan kini waktu terasa bergulir begitu cepat..

Thursday, November 13, 2014

Naluri Ibu

"Uhuk uhuk uhuk!"

Suara batuk bocah perempuan kecil dalam pangkuan ibundanya membuat mataku beralih. Mungkin usianya baru 4 tahun. Di sampingnya nampak sesosok bocah laki laki -abangnya- tergolek, tertidur pulas tak bisa diganggu. Di sudut angkutan umum ini Allah perlihatkan padaku, sebuah rekam adegan mengenai romantika seorang ibu dengan kedua anaknya.

Lama sekali bisa kutaksir usia bundanya, mungkin sekitar 35-45 tahun, masih terlihat begitu muda, tetap cekatan meski kulihat sambil menjaga 3 "gembol" barang bawaan. Dengan kondisi itu, tanpa pulasan make up dengan jilbab dan pakaian yang biasa saja, entah kenapa membuatnya justru begitu cantik.

Langit sudah menghitam, Bandung kini sedang dikaruniai rintik hujan dan cuaca dingin. Bocah perempuan itu masih terlelap. Wanita yang mendekap hangat bocah perempuan itu tak henti menciumi putrinya yang terlelap sembari terus terbatuk.

Ah, apakah itu yang disebut naluri keibuan? Sesuatu yang 'katanya' akan otomatis hadir ketika kita ditakdirkan menjadi seorang ibu. Akankah setiap wanita memiliki itu walupun punya latar belakang yang berbeda-beda? Membayangkan harus membersamai putra putri sepanjang hidupnya, membersamai setiap proses tumbuh kembangnya?

Terminal margahayu menjelang, sang ibu kehabisan cara untuk membuat si abang mau bangun. Disaat yang sama tangannya harus sibuk merogoh ponsel dari dalam tas, menggendong putri kecilnya, sembari memastikan 3 gembolannya bisa terangkut pulang.

Ah, Bukan hal yang mudah, sayang. Semoga Allah melapangkan hati hati kita, melunakkan hati kita, menguatkan kita dan membuat semua amal kita hanya tertuju untuk mendapat ridha-Nya..
Aamiin :')

"...Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur..."
-Qs. An-Nahl 16:78

Rabu, 12 November 2014
Padahal katanya sekarang hari Ayah Nasional

Tuesday, November 11, 2014

Menjadi Menantu Idaman

Resume kopdar#8
Komunitas to be wonderful wife
Ahad, 7 September 2014
Oleh Ibu Sinta Yudisia
(Ibu 4 orang anak, psikolog, penulis)

MENJADI MENANTU IDAMAN

Hmm.. Materi ini terdengar berat ya? Karena memang seringkali menjadi momok bagi perempuan di Indonesia ketika ia berposisi menjadi seorang menantu. Rasanya lebih mudah jika berbicara menjadi istri atau ibu idaman daripada menjadi menantu idaman. Tapi tenang saja, segala sesuatu meski tidak ada sekolahnya tetap bisa kita pelajari. Termasuk belajar bagaimana menjadi menantu idaman. Karena sejatinya hidup adalah untuk belajar  ^_^

Yang perlu diingat, kita hidup di Indonesia yang setiap peran tidak terlepas dari budaya ketimuran kita. Kita bisa mengamati perbedaan penekanan budaya dari sebuah film. Pada film2 India, misalnya, hatta diwarnai tarian dan nyanyian,semua tokohnya termasuk tokoh antagonisnya juga akan digambarkan bagaimana mereka berbakti  kepada orang tua. Begitu juga saat genre film tersebut action.

Pada film Korea,  hampir setiap filmnya menekankan hubungan  kekeluargaan, meski genre-nya ‘romantis’.

Sedangkan untuk film hollywood menekankan kebebasan pilihan hidup, sisi personal satu tokoh saja.

Nah tentu saja menjadi ‘menantu’ di Indonesia tidak bisa lepas dari budaya ‘ikatan kekeluargaan yang kuat’. Atau bosa diartikan, menjadi menantu perempuan di negara2 Timur atau di Indonesia ini sangat berat. Hehehe..

Untuk menjadi menantu, istri dan ibu memang tidak ada sekolahnya, seperti yg disebutkan di awal tadi, namun kita bisa belajar dengan sharing bersama orang lain.
Salah satunya dari nenek saya.

Saat itu saya pernah bertanya kepada Beliau. Nek, apa sih tipsnya biar bisa jadi menantu yang baik? Beliau menjawab :  kuncinya cuma satu :  SABAR.

Sabar di sini bukan berarti hanya pasrah, di injak-injak diam saja seperti sinetron kita yang hanya menangis saat teraniaya hehe. Bukan demikian, namun seperti kata tokoh politik Anis mata,
sabar adalah terus maju dengan beban yang ada dan mencari cara untuk mengatasinya.
Salah satu aplikasi sabar adalah jika mertua berbicara maka menantu MENDENGARKAN.

Banyak cara yang bisa kita lakukan terkait hal ini. Misal coba tanyakan kepada ibu mertua kita tentang  anak beliau, tentang keluarga, tentang masa lalu beliau saat bertemu dengan bapak mertua, dsb. Selain itu kita juga bisa mencoba konsultasi masalah resep. Meskipun kita bisa googling di internet, tapi percayalah, mereka akan merasa dihargai sekaligus senang saat dimintai petunjuk seperti ini ^_^

Biasanya ibu mertua ditakdirkan berbeda dengan kita dan ibu kita. Entah dari kebiasaan, kemampuan, dsb. Ini menjadi tantangan untuk kita agar bisa belajar dan beradaptasi menjadi menantu yang baik.

Tips kedua ialah mempunyai PRINSIP.

Untuk masalah yang prinsip misalnya pengelolaan keuangan, kita boleh tetap bertahan dengan keinginan kita hanya saja tetap menggunakan cara yang tidak merugikan salah satu pihak. Buatlah kesepakatan2.
Ingat, Karena anak laki-laki adalah hak ibunya sehingga ridho mertua akan mempengaruhi kehidupan dan kebarakahan keluarga kita.

Masalah keuangan adalah hal yang paling sensitif. Terlebih jika suami atau kita masih punya tanggungan membiayai adik2.
Buatlah kesepakatan suami istri mengenai nominal uang yang dialokasikan untuk membantu keluarga masing-masing. Takar sesuai kemampuan. Jangan berniat membantu tapi sampai kita sendiripun terlilit hutang karenanya. Takar sesuai kemampuan. Karena saat telah berkeluarga, akan banyak pengeluaran yg tak terduga dan harus segera diselesaikan, misal pengobatan saat anak sakit.

Sebaiknya saat masih bujang, wanita hendaknya rajin menabung, karena di masa kritis keuangan saat menikah nanti kita bisa membantu meringankan beban suami. Misal saat butuh uang untuk biaya kontrakan atau membeli rumah baru, dsb. Hal ini juga bisa meningkatkan harga diri kita di depan suami In syaa allah.

Di Indonesia, masih kental stigma bahwa jika ada sesuatu yg kurang benar dengan rumah tangga anak laki2nya maka mertua akan mempertanyakan bagaimana menantunya. Misal cucian baju tidak bersih, setrikaan tidak rapi atau bahkan kehabisan uang pasti akan ditanyakan bagaimana ‘istrinya’.
Masing2 kita pasti memiliki kekurangan, tak apa, tonjolkan saja kelebihan kita. Bisa jadi kita tidak jago dalam urusan mencuci, tapi kita mahir dalam urusan dapur. Tidak selamanya mertua akan melihat kekurangan kita, apalagi sampai membicarakannya di depan umum. Asal kita pun punya kelebihan yang bisa beliau banggakan dari kita, menantunya.

Tipa ketiga ialah SHALAT MALAM.

Ceritakan permasalahan kita kepada Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Terkadang ada permasalahan yang tidak bisa kita ceritakan kepada suami. Tapi kita bisa ceritakan kepada Allah. Jangan sampai dengan menceritakan masalah kita (tentang mertua) justru kita malah mengadu domba anak dengan ibunya.

Meski menjadi menantu merupakan momok bagi kita namun kita bisa terus belajar dengan cara menjalin komunikasi yang baik dengan mertua, membuat kesepakatan mengenai sistem keluarga bersama suami, dan sebisa mungkin segera mandiri, tidak serumah dengan mertua (kecuali alasan2 mendesak seperti orang tua sedang sakit dan tidak ada yg merawat, dsb).

Meski kalau harus serumah masih bisa disiasati dan mengalah untuk menang.
Yang akan diingat mertua bukanlah hal-hal besar yang kita beri namun justru hal- hal kecil yang sederhana namun penuh ketulusan dan perhatian.
Cari tahu saja apa yang mertua suka, dan berikan. Asal masih sesuai kemampuan.
Hubungi mertua setidaknya sebulan sekali dan tanyakan kabarnya, apakah sehat, sedang apa, masak apa dsb. Hal2 ringan dan sederhana yg bisa kita lakukan agar semakin akrab dengan mertua.

Q : bagaimana jika tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga calon suami ada di bawah kita? Bagaimana jika latar belakang agama kedua keluarga tidak sama?
A : pasti kita butuh belajar beradaptasi ya. Lihat kebiasaan2nya dan pelajari. Cari jalan tengah. Jangan terlalu memaksakan kebiasaan kita agar diterima langsung sekejap mata.
Untuk masalah perbedaan latar belakang agama, jangan terlalu menonjolkan sisi2 yang masih menjadi perdebatan. Banyak hal yang sama dan berjalan harmoni.

Q : bagaimana dengan mertua yang membanding2kan menantu?
A : bersiaplah untuk dibandingkan. Karena membandingkan antar menantu hampir pasti terjadi di kalangan mertua2 Indonesia. Kenali kelebihan, dan tonjolkan. Tak perlu berusaha mati2an menjadi sosok menantu idaman seperti harapan mertua. Bisa lelah lahir batin. Sehebat2 kita berusaha, pasti akan dibandingkan.
Saat mertua berbicara kepada kita dan membanggakan menantunya yang lain, di lain kesempatan bisa jadi kita juga akan dibanggakan di depan saudara ipar kita.

Q : jika kita posisinya masih sebagai calon menantu, apa yang bisa kita lakukan?
A : ingat harga diri, jangan terlalu sering berkunjung ke keluarga calon suami. Kalaupun berkunjung, jangan sendirian.

Q : bagaimana tekhnik komunikasi yang cantik dengan mertua, agar tidak membuat beliau sakit hati atau justru membuat kita jadi menantu durhaka? Misal mengkomunikasikan masalah hal2 prinsip yang tidak sepaham, tentang masalah kesehatan anak
A : bagaimanapun, menantu statusnya adalah inferior. Jadi jika ingin memberi nasehat, sebisa mungkin bukan dari lisan kita. Misal masalah asi eksklusif bagi bayi 0-6 bln atau masalah minum jamu2an setelah melahirkan, bisa kita siasati dengan mengajak beliau saat imunisasi/ periksa si kecil ke RS. Bisa kita tanyakan ke dokter terkait hal ini dan biarkan mertua kita mendengarnya langsung dari ahlinya.
Untuk hal2 yang khawatir syirik semisal hatus ada gunting di bantal anak bayi dsb, ikuti saja tanpa niat syirik sambil perlahan2 kita komunikasikan. Ada seni dalam berdakwah. Bukan dengan langkah2 ekstrim yang justru membuat subyek dakwah kita antipati.

Q : bagaimana dengan ide mengkomunikasikan masalah kita lewat lisan suami? Pasti lebih mudah berkomunikasi dengan anak kandung sendiri
A : ada kalanya bisa kita lakukan, ada kalanya juga sebaliknya. Jangan terlalu sering, kita usahakan dulu komunikasikan sendiri. Karena tipe komunikasi laki2 dan perempuan tidak sama. Misal kita akan mengkomunikasikan pola pengasuhan anak, ternyata bahasa yg dipakai suami krg tepat seperti : sudah deh bu, jangan ikut campur. Ini kan keluargaku. Ini anakku.
Hati2. Karena suami cenderung akan membela istri. Khawatir bahasa yang dipakai kurang tepat dalam mengkomunikasikan masalah yg sedang dihadapi..

Q : kalau mertua marah bagaimana?
A : orang timur suka orang yang sopan. Jangan bersuara lebih keras dari mertua. Jika mertua marah, diam dan dengarkan saja

Q : bagaimana kalau menitipkan anak pada kakek neneknya?
A : perlu diwaspadai, kadang kala kakek nenek juga bisa jadi ancaman karakter bagi anak. Mungkin aman dari sisi fisik, tidak akan dianiaya dsb, tetapi seringkali yang muncul adalah perbedaan prinsip dalam pola pengasuhan anak. Karena terlalu sayang pada cucu dan tidak mau repot akhirnya apa yang diminta sang cucu akan diberi. Bisa jadi juga karen faktor usia dan mereka telah lelah. Tanyakan kepada mereka sejauh mana kesanggupan mereka dititipi anak2 kita. Buat pembagian tugas. Sebaiknya di tahap golden age ( 0-5 thn ) anak memang berada dalam pengasuhan tangan ibu sendiri. Jika ingin berkarir di luar rumah bisa menunggu saat anak telah melewati masa golden age nya

-end-

Sumber : http://anikawida.wordpress.com/2014/09/

Friday, August 1, 2014

Cinta untuk perubahan

Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan efeksamping sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam.

Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekedar kekuatan fisik

- Erich Fromm

Sunday, July 20, 2014

Menanamkan Aqidah Pada Anak with Abah Ihsan (part 2)

Setelah sebelumnya kita berusaha memahami beberapa alasan kenapa mendidik itu harus pakai ilmu, postingan kali ini mulai masuk ke bahasan utama, yaitu : gimana cara menanamkan aqidah pada anak kita.

Menurut saya, kenapa ini rasanya menjadi lebih berat, karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Teko yang kosong tidak bisa menuangkan isinya pada gelas. Kalau orangtuanya belum baik aqidahnya, mana pantas menuntut anak untuk shaleh?

* * * *

Bismillah..
Rasul bilang : baiti jannati, rumahku surgaku.
Bukan tetanggi jannati (?) bahkan bukan madrasati jannati (?)
Karena semua selalu berawal dari rumah (keluarga) dan akan kembali pada keluarga. Periksalah orang-orang hebat, apakah karena sekolahnya yang hebat? Atau dari rumahnya? biasanya mereka berasal dari keluarga yang hebat dalam pendidikan.
Kata abah, orang israel sudah sejak 1969 punya pendidikan khusus untuk para orangtua. Alhamdulillah di indonesia juga sudah semakin banyak yang sadar akan pentingnya hal ini.

AQIDAH ITU IKATAN..
Aqidah itu ikatan, maka anak kita harus terikat, pada sesuatu yang benar.
Apa yang terikat?
Yang terikat itu hati dan pikirannya.
Terikat pada apa?
Allah. Bukan semata hanya karena takut, tapi karena bahagia, karena sadar. Kita harus kenal dan mengenalkan ini sama anak kita.

Otak sebagai pusat pengendali tubuh, membutuhkan "installan software" yang benar agar seluruh "hardware" tubuh juga berjalan dengan benar.

Dan ini yang bikin saya merinding:
"Kalau bukan kita sebagai orangtua yang menginstall software otak anak kita, maka DEMI ALLAH, akan ada orang lain yang menginstallkan."

*tv, sinetron, internet, games, lagu, fashion, dll*

POLA RASULULLAH MENDIDIK ANAK SHALAT
mari belajar dari SOP Rasulullah dalam mendidik anak shalat. Usia 7 tahun anak sudah mulai disuruh shalat, dan kalau sudah usia 10 tahun belum mau shalat, baru boleh dipukul. Artinya ada masa 3 tahun minimal untuk mendidik anaknya mau shalat.

Sekali lagi, bukan sekedar menyuruh-nyuruh shalat loh yaa. Ajakan untuk shalat harus diiringi dengan rasa cinta kita (orangtua) pada dzat yang hidup kita dalam genggamannya.
Kalau kita belum khatam kisah kisah nabi dan rasul, belum khatam 99 nama-nama allah (asmaul husna), siapa yang mau kita kenalkan?
Lagipula siapa sih yang suka disuruh-suruh?

UNSUR PENTING UTAMA DALAM AQIDAH
1. Jaga pikiran anak
JAGA RASA KEINGINTAHUAN ANAK. ketika kita sedang capek sekalipun, jangan pernah mematikan rasa ingin tahu mereka, tumbuhkan dengan baik sikap penasaran anak.

Gimana caranya?
Budayakan berdialog, DUA ARAH. namanya dialog, yang bicara kan ngga hanya 1 pihak. Ajak anak bicara, biarkan mereka mengekspresikan rasa penasarannya.
Metode paling rendah dalam pendidikan adalah : memberi tahu langsung jawabannya pada anak. Seharusnya kita memfasilitasi anak untuk dapat menemukan jawabannya, proses penemuan adalah hal yang penting untuk perkembangan pikiran anak.

Contoh
"Ayah/bunda, kenapa sih itu bisa kaya gitu?"
(Ceritanya Kalo lagi sibuk)
Jawaban kurang oke : jawab seenaknya, ngasal, bohong, nyuruh anak diem.
Jawaban lumayan oke : kakak pengen tau ya? Bunda belum bisa jawab sekarang sayang, sedang ada yang bunda kerjakan. Kalau bunda jawab setelah ini, boleh ya? :)
Atau : (kalo ngga tau) wah bunda belum tahu jawabannya, tapi akan bunda bantu carikan jawabannya setelah urusan bunda selesai. Kakak mau bersabar sebentar, ya?

2. Kenalkan pada Allah
Mungkin banyak dari kita mengetahui teori teori ilmu aqidah. Dipelajari, tapi dalam prakteknya entah bagaimna mengaplikasikannya. Selama ini kita seringnya diajarkan keterampilan beragama, bukan keyakinan. Sehingga kita hanya bisa shalat, tapi belum mencintai shalat. Sehingga kita hanya tau teori, tapi tak nampak dalam kehidupan sehari-hari.

Perbanyak pengetahuan kita ttg Allah, maknai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak membaca, terus belajar. Tidak mudah, tapi berusahalah.

Karena bagaimana bisa mengenalkan sesuatu yang kita sendiri tidak kenal?

Dua hal yang menjadi objek ketakjuban anak-anak
1. Tentang Diri mereka sendiri
2.Tentang alam semesta

Suburkan rasa keingintahuan mereka.

* * * *

Abah ihsan kemudian menyuruh kami berpasang pasangan untuk saling bersalaman dan mengucapkan komitmen diri untuk terus belajar. Saat itu partner saya seorang ibu muda, mba tiktik. Saling berangkulan, sibuk dengan pikiran masing masing pada sebuah amanah yang cepat atau lambat akan segera datang.

* * * *

Ahad, 20 juli 2014 02:49
Hajah Sofyamarwa Rachmawati,
A daughter, future wife, future mother, insyaallah :)

*peserta dapat hardcopy handout, kontennya bagus juga. Bagi yang mau, mangga kontak saya ya, nanti bisa dkirim via whatsapp. Lagi ngga bisa upload gambar disini hehe :)

Menanamkan Aqidah Pada Anak with Abah Ihsan (part 1)

Alhamdulillah bersyukuur banget akhirnya allah ngasi saya kesempatan untuk bisa ketemu sama Abah Ihsan (auladi parenting school). Sbelumnya saya dikenalkan oleh seorang teman pada beliau melalui bukunya "Renungan dahsyat untuk orang tua".

Kajian parenting ini mantep buaanget! Karena selain pembicaranya oke pisan, acara ini juga haratis :')) *terharu hehe* kata abah, ini edisi ramadhan, lagi soleh. Hehe. haturnuhun pisan buat panitianya (IIP dan pemudi persis)

Yang paling bikin asik adalah, ternyata abah ihsan itu ekspresif buanget! :D Penyampaiannya kocak dan gampang dicerna.  Jadi sepanjang acara teh, kita pada ketawa ketawa yang bermakna tea #halah

Beliau orangnya open banget bahkan ngizinin kita untuk konsultasi di hari tertentu langsung ke nomer hp ny. Auladi parenting School juga suka ngadain Pelatihan, barangkali pada tertarik ikut :) klik auladi.net

* * * *

"Menanamkan aqidah pada anak"
Bukan menanamkan ketakutan pada allah.

Pertama-tama, abah ihsan membawa kita pada pemahaman mengenai konsep konsep dasar dalam parenting terlebih dahulu, karena kalau bicara aqidah, kita mesti paham strategi mendidik yang benar dulu.
Katanya beliau senang karena peserta yang hadir ternyata ada juga dari muda mudi yang belum punya anak. (Belum terlambat, mempersiapkan)

KENAPA MENDIDIK MESTI PAKE ILMU
1. Jaman skrg, belajar jadi orangtua itu wajib 'ain

2. Biar ga KUDET!
Anak jaman dulu, kalau pait paitnya orangtua ngga ngedidik, masih SAVE. Kalau sekarang? Ada televisi, games, video klip, iklan, internet, dan macem macem yang ga bisa lepas dari kita.

Kalau diibaratkan ungkapan di jaman sekarang,
"Yang menyenangkan itu baik,
Yang buruk itu relatif."

Jaman dulu, orangtua dan guru disegani banget karena gada sumber informasi lain. Skrg?
Sumber informasi udah banyak, tinggal tanya mbah google, apa sih yang ngga bisa kita tahu?

Jaman dulu, kalau kata ortu bgitu, harua begitu, kalau sekarang anak kan lebih "canggih" dari orangtua kalo ngejawabnya. Hehe

3. Kalo ngga, anak akan jadi KORBAN
Tanpa persiapan ilmu, anak jadi trial, korban warisan.
Kita akan melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman kita (kalo ngga punya ilmunya). Jadi sangat mungkin kita melakukan hal yang sama pada anak kita, sbagaimana kita dulu diperlakukan, sadar atau tidak.

* * * * *
Motivasi itu kaya iman, kadang naik kadang turun, makanya jangan permah berhenti belajar :D
Akan beda ortu/calon ortu yang selalu berusaha belajar dgn yang tidak, walau motivasinya naik turun, insyaallah akan ada perubahan perilaku yang semakin baik.
banyak

Anak itu fitrah nya baik, hampir semua potensi sifat baik ada di anak, tapi akan bergantung gimana orang tuanya mengarahkan dan memupuk subur potensi kebaikan itu.
Buat para calon orangtua, yakinlah, apapun yang terjadi sama anak kita adalah tanggungjawab kita, dan ada pengaruh dari kita.

Ini prinsip bagus
"Kalau anak berbuat baik, kita bicara (puji, apresiasi)
Kalau anak berbuat buruk, kita sedikit bicara, perbanyak tindakan."

Ya, betul. Kadang malah terbalik : yang baik dianggap biasa, kalo buruk dinasehatin sampe berbusa. Sekarang kalau kita lihat anak anak yang "bermasalah" (narkoba dll), yang salah itu siapa? Temennya yang ngajak? Lingkungan hanya pemicu, sebagai orang tua, harus ngebangun pondasi yang kuat di anaknya.

Kebanyakan dari mereka memang punya masalah di keluarganya. Entah terlalu sering diberi nasehat, atau bahkan diacuhkan.
Tapi ternyata kebanyakan diberi nasehat, akan punya efek kurang baik juga. Terkadang isi nasehatnya baik, tapi kalau cara penyampaian atau frekuensinya tidak baik, apa efeknya?
Karena bukankah kita tidak suka nasehat yang berlebihan?

* * * *

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.”

Insyaallah bahasan intinya (aqidah) berlanjut ke posting selanjutnya ya :))

Monday, June 9, 2014

Imam Ada Karena Makmum

Ketika kau tak beranjak dari kamar tidurmu dan kau merasa tak menemukan alasan untuk sekedar menongkrong di lantai bawah bersama kedua orangtuamu, kau punya minimal 5 waktu dalam sehari untuk mengajaknya shalat berjamaah lagi.

Ya, lakukan itu.

* * *
"Seorang imam akan menjadi imam bukan hanya karena dirinya yang menganggap/mengharuskan dirinya menjadi imam, tapi, dengan adanya makmum yang senantiasa mengingatkan.."

Sekecil apapun peranmu, lakukanlah. Bukan hanya untuk menjalankan peranmu, juga untuk menghidupkan peran lainnya. Maha Besar Allah yang menciptakan segalanya berpasang-pasangan :')


12 Januari 2014
Hajah Sofyamarwa

pengorbanan tak kasat mata #orangtua


Mata dan seluruh indera kita terlalu lemah untuk tahu segala hal 
yang mereka lakukan untuk kita
Mungkin itu mengapa Allah menyuruh kita untuk berprasangka baik 
dan berbuat baik kepada keduanya
Karena berprasangka buruk sama sekali tidak ada manfaatnya

Sekali lagi, indera kita tak cukup hebat untuk mengetahui segala pengorbanan yang mereka lakukan

Sebuah sudut pandang baru dari nonton  film tokyo tower dan tonbi

Ditulis 26 Juni 2013
dibenarkan 8 Juni 2014
Hajah Sofyamarwa R.
 
b e l a j a r  c i n t a
Mama dan bapak di Solo (captured by adik tercinta :))

Sunday, May 25, 2014

facebook aja bilang kami mirip


"facebook aja bilang kami mirip.." hehe

yap, suka nolak-nolak kan ya dimirip-miripin sama siapapun. Kenyataannya saya sama mamah emang banyak kemiripan. yaiya dong namanya juga ibu-anak hehe harusnya bersyukur karena mirip :')

Wednesday, February 26, 2014

Mama dan Daging-dagingan


ilustrasi bandeng presto goreng fullbody *yang saya makan di cerita ini cuma setengahnya*

 
Saya lagi diliatin mama saya, sedang makan bandeng presto hingga sampai pada bagian kepalanya. Empuk dan lezatnya bandeng presto terbayang kan? :9 Ada bagian yang saat itu sisihkan karena namanya juga ikan, ada saja bagian yang terkadang keliatan “aneh-untuk-dimakan”.

Mama   : Itunya dimakan aja fya, enak da, daging. Presto mah semuanya empuk
Fya      : iya abisnya warnanya aneh, asa geuleuh
Mama   : Matanya juga empuk jigana
Fya      : hiiiy! Ari presto kepalanya empuk juga, dimakan juga ga?
Mama   : Ya bisa aja, gile ya manusia mah buas, segala dimakan. Pantes aja hewan juga kalo berburu gitu semuanya bisa dimakan. Kalo kita mah diolah dulu paling. Kalo anjing sama babi juga boleh dimakan, pasti dimakan da.

Sebuah perbincangan di akhir malam yang sederhana antara saya dan mamah. Ya, saya sepakat, bahwa di Indonesia ini penduduknya sangat kreatif. Apa-apa yang tidak terbayang bisa dimakan, dengan kreatifnya diolah menjadi dapat dimanfaatkan, dapat dimakan juga. Sebetulnya ngga Cuma di Indonesia, saya sih sering denger jenis makanan yang cukup aneh-aneh dari negeri china. Yaah mungkin semacam sup embrio manusia gitu lah *yaiks*.

Saya tertarik dengan statement mamah yang bilang “kalo anjing sama babi boleh dimakan, pasti dimakan da”. Yap, faktanya memang ada ko yang makan anjing dan babi. Saya jadi inget, kemarin waktu berkesempatan ketemu temen-temen dari korea, kami sempet ngobrol tentang makan daging-dagingan. Waktu lagi makan siang mereka (Gengnya Sora Baek) bilang kalo daging gepuknya uenak buanget. Mereka takjub karena saat di Indonesia sini sering banget disuguhin daging sapi (beef). Katanya di Korea sana harga beef (daging sapi) jauh lebih mahal dibanding harga daging anjing dan babi. Jadi sangat wajar kalau disana memang didominasi daging anjing dan babi, kebanyakan dari mereka pun tidak mengharamkan anjing dan babi.

Menanggapi hal itu, saya kemudian berpikir tentang aturan keharaman yang ada di Islam. Prinsipnya semua makanan itu halal, kecuali yang diharamkan. Yang di haramkan jauuuuuuuh lebih sedikit daripada yang dihalalkan. Jadi inget ada yang pernah ngasi statement ini : karena yang diharamkan jauh lebih sedikit dari yang dihalalkan, seharusnya MUI ngeluarin sertifikat haram ya, bukan sertifikat halal? Hehe
Biar kerjaannya ngga berat gitu hihi.

*yakalii, mana ada yang mau produk makanannya di cap haram, jaah -_-*

* * *

Perbincangan yang umumnya memang langka terjadi. Mungkin tidak banyak berguna bagi para blogwalkers disana, tapi sedemikian berharganya bagi saya. Jangan heran, beginilah kami. Saya hanya seorang anak yang berusaha lebih banyak berinteraksi dan menyukai segala hal yang berkaitan dengan mama.

Saya senang, Salam buat mama kamu di rumah! :D

Ruang Tengah,
25 Februari 2014

image source : udfatur.portalsip.com

Pembicaraan Serius Anak dan Bapak




Ada rasa yang tak terkatakan di dalam kepala ini, saat aku memberanikan diri untuk bertanya pada bapak. Kali ini perbincangan kami serius. Aku bertanya tentang pengalaman bapak dulu, saat diharuskan untuk menentukan jalan hidup.

Tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa perbincangan ini ternyata akan berlangsung lama. Saat sampai di garasi rumah, sambil membetulkan posisi duduknya, bapak tak beranjak dan terus bercerita.

Rasanya ini sangat jarang terjadi antara aku dan bapak. Aku merasakan pergulatan emosi yang tak karuan dalam diri. Semua bercampur. Takjub, haru, senang, sedih.

Sekali lagi, mungkin ini perbincangan yang sangat biasa antara seorang ayah dan anak, bagimu. Belum bagiku, karena sudah kusebutkan tadi, hal ini cukup langka dan tidak lazim terjadi padaku, di usiaku yang 22 tahun.

Cerita bapak panjang lebar. Sementara ini, cukup diriku saja dulu yang tahu. Suatu saat kalau aku sudah berhasil menemukan kepingan puzzle lainnya, mungkin akan kurangkai menjadi sebuah cerita yang menarik :)
"Karena semua hal, selalu berawal."

Aku senang, salam buat bapakmu ya! :D

Jok depan, garasi mobil rumah depan
16 Februari 2014

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...