Showing posts with label review film. Show all posts
Showing posts with label review film. Show all posts

Thursday, February 16, 2023

Insight dan Review Film Ngeri-Ngeri Sedap (Missing Home) 2022

 

Bismillah..

Kali ini aku pengen sharing tentang apa yang kudapat dari film Ngeri-ngeri Sedap. Buat pecinta film ber-genre keluarga kaya aku, film ini RECOMENDED sih menurutku. Plusnya, aku yang blasteran suku Jawa-Sunda ini jadi agak sedikit tahu mengenai adat dan tradisi Batak. Aku suka banget! <3

Film ini bahas keluarga yang sudah cukup matang, sudah bukan anak-anak lagi. Memang belum ada yang menikah dari anak-anaknya, tapi buat aku, cukup jadi pengingat dan refleksi diri tentang "akan menjadi orangtua yang bagaimanakah aku kelak?"

Mungkin aku ngga akan terlalu bahas isi filmnya ya, spoiler tipis-tipis ngga apa-apa ya hihi. Tentunya, better nonton sendiri ya. Aku pengen nulisin pelajaran/insight yang kudapat dari film yang sedang tayang di Netflix ini

1. Pentingnya sosok Suami dan Bapak untuk dekat dan bersahabat dengan anak-anaknya, juga istrinya.

Kalau dilihat memang usia Orangtua di film ini adalah generasi babyboomers yang bisa dibilang masih sangat konservatif dan memegang adat. Mereka yang masih minim ilmu parenting-parentingan sehingga hubungan antara anak dan Bapak masih sangat kaku. Fenomena Bapak yang "harus selalu ditaati" cukup terasa, namun minim koneksi dengan anak. Diperlihatkan bahwa efeknya adalah anak jadi enggan pulang ke rumah orangtua karena "males" selalu dikoreksi dan ngga dimengerti. 

Jenis hubungan yang kulihat dan Pak domu dan mak domu ini sebetulnya unik. sampai punya "ide gila" itu juga saat menjalaninya malah kagok hihihi. "Lembutnya" hati seorang suami/ayah akan berdampak sangat besar pada anak dan istrinya.

2. Ibu yang rindu sama anak-anaknya dan berani mengekspresikannya

Aku di masa sekarang ini anak masih kecil-kecil belum dewasa dan ngerantau, belum ngerti deh gimana rasanya. Tapi aku belajar dari mak domu ini, bahwa kalau rindu ya sampaikanlah kerinduan itu sama anak-anak. Biar anak tahu betapa ia dirindukan orangtuanya, betapa orangtuanya sedang merindukannya. Cinta dan kasih sayang itu bukan hanya dalam hati, tapi perlu diekspresikan melalui kata-kata dan aksi.

3. Anak-anaknya sebetulnya so sweet dan care sama orangtuanya

Meski mereka tersebar di luar kota (bahkan pulau), tapi ketika ada kabar "menggemparkan", mereka kompak untuk pulang dan membantu orangtuanya untuk memecahkan masalah. Kalau anak ngga "baik" sih bisa aja memilih untuk apatis dan ngga peduli ya. Mereka mau ngusahain bantu orangtua mereka dengan cara yang baik dan dewasa. Patut diapresiasi ya!

4. Pahami latarbelakang dari keputusan yang diambil anak

Setiap anak sebetulnya punya misi tersendiri yang udah Allah takdirkan. Orangtua wajib mengarahkan, mendampingi, namun sebagai manusia tak bisa sepenuhnya mengendalikan manusia lainnya. Seiring bertambahnya usia anak, sangat mungkin terjadi perbedaan pandangan yang bila tak orangtua iringi akan menjadi hal yang "mengagetkan". Bila ada hal-hal yang memang bersebrangan dengan prinsip keluarga, tradisi, agama, value atau hal lainnya, diskusi yang sehat sangat dibutuhkan. Sekedar melarang tanpa memahami latarbelakang anak mengambil suatu pilihan justru akan membuat anak semakin jauh. 

Kalau dalam film ini diceritakan adanya ketidaksetujuan orangtua terhadap pilihan anaknya : anak yang mau menikah dengan suku yang berbeda, anak memilih profesi yang tidak disukai orangtua, dan anak yang tak kunjung pulang karena malah merawat "orangtua" lainnya.

5. Hak perempuan untuk mengemukakan pendapat

Dalam berbagai budaya, juga aturan agama, yang kupahami memang perempuan itu diwajibkan tunduk taat pada suami. Namun untuk mewujudkan pernikahan yang berkah tentu kenyamanan dalam mengemukakan pendapat sewajarnya perlu diperhatikan. Seseuatu yang terlalu ditekan, bila tak diatasi dengan baik, suatu saat akan meledak. Sebetulnya hal ini berlaku baik untuk perempuan maupun laki-laki ya. Juga orangtua maupun anak-anaknya.

6. Pentingnya orangtua mengenal anak lebih dalam

Kadang orangtua ngga sadar apa kesukaan, keinginan, bakat, dan perkembangan jiwa anaknya. Dalam film ini, contohnya saat sang Bapak ngga suka dengan pilihan karir anaknya (gabe) menjadi komedian, padahal sang Bapak juga termasuk yang paling lucu banyolannya. Tokoh Sahat (anak terakhir) juga ternyata begitu berarti & bermanfaat di kampung tempat ia bekerja. Ia bahkan mendapatkan banyak pelajaran hidup dari sosok tetua yang ada di tempat tinggalnya di Jawa. 

7. Yang terpenting bukan apa yang terlihat di luar, melainkan bagaimana yang sebenarnya di dalam

Keluarga Pak Domu ini sempat dijadikan percontohan keluarga harmonis bagi keluarga lainnya di tempat ibadahnya, Ada scene saat pak Domu meminta Mak Domu merangkul tangannya saat di depan orang lain, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Hikmahnya buatku, ya setiap keluarga punya ciri khas, baik itu hal bagus yang bisa dicontoh, ataupun permasalahan masing-masing. Tentunya menjaga marwah keluarga juga hal yang penting dan baik. Terpenting adalah berfokus untuk benar-benar baik di dalam hingga kebaikannya bisa terpancar ke luar. 

8. Sosok Bapak yang "curhat" kepada Ibunya saat ada masalah

Ini menarik sih ya, di balik "keras"nya watak sosok Bapak di film ini, masih ada kesempatan ia untuk akhirnya "curhat" kepada Ibunya sendiri meski ia sudah berumur. Kebanyakan dari kita, semakin dewasa semakin "gengsi" untuk menceritakan permasalahan-permasalahan hidup kita pada orangtua. Berkeluh kesah pada orang yang tepat itu boleh kok ya, karena manusia memang makhluk yang suka berkeluh kesah, bukan? Setelah itu jernihkan pikiran dan ambil keputusan yang terbaik.

9. Mau menyadari, mengakui kesalahan dan meminta maaf itu tidak menurunkan derajat, justru membuka jalan kebaikan

Sebetulnya dalam sebuah keluarga/pernikahan, karena semua saling memberi pengaruh, maka kita memang tidak bisa menyalahkan pihak manapun. Namun, dari melihat film ini, aku melihat bahwa kunci dari segala permasalahan adalah ketika sosok Bapak mau "mendengarkan" apa yang istri dan anaknya sampaikan. Fitrah ayah sebagai imam memang menjadi pengambil keputusan dan setiap anggota keluarga butuh taat, namun pemimpin yang baik tentu bisa mengayomi jiwa-jiwa orang yang dipimpinnya.


Secara budaya aku jadi tahu kalau di tradisi batak itu.. (cmiiw)

1. Usahakan menikah dengan dengan yang satu suku untuk menjaga tradisi

2. Anak lelaki merantau, tetapi anak terakhir tidak merantau dan ia yang bertugas merawat orangtua 

3. Motif ulos berbeda-beda dan dipakai di momen yang berbeda

4. Ada upacara adat Sulang-sulang Pahompu : pengukuhan adat pernikahan Batak Toba

5. Ada budaya kumpul di Lapo : warung ngobrol santai, menyanyi, dkk 

6. Ketika ada permasalahan suami istri dan istri sampai pulang ke rumah orangtuanya, istri harus dijemput oleh suami dan anak-anaknya (keluarga)


Bagus banget sih film semacam ini buat generasi muda, jadi bisa kenalan sama budaya-budaya lewat media yang menyenangkan :D

Nah, insyaallah segitu dulu ya, nanti kalau ada aku tambah-tambah lagi.
Mau ngerjain tugas lain dulu, hihi.

Kalau ada rekomendasi film keluarga yang bagus lagi, berkabar ya!

Monday, July 26, 2021

Review dan Insight Film Hichki

sumber gambar

Alhamdulillah, halo semuaaa!
Kali ini insyaallah aku pengen nulis insight yang kudapatkan dari Film Hichki.

Sebetulnya sama seperti sebelumnya, ini merupakan tugas dari buped hihi. Tapi meskipun tugas, aku ngerjain ini dengan senaaaang hati. Karena ini tugas pilihanku : nonton! 

Seperti teman-teman tahu, dalam kondisi banyak kerjaan ~yang ngga kelar-kelar ituh~ menonton sebuah film durasi 2 jam itu kadang menimbulkan guilty feeling. Padahal sebetulnya selama kita tahu porsi waktunya, bermanfaat dan ngga berlebihan, ngga apa apa juga yaaaa 😘😘😘

KESAN FILM HICHKI MENURUTKU...
Inspiratiiiiif! Recomended banget buat ditonton para pendidik, baik itu orangtua maupun guru. 

Jadi ceritanya, film ini menceritakan seorang bernama Naina Mathur Lulusan S2 Magister Sains yang sangat memimpikan untuk menjadi Guru. Ironisnya, dia ditolak di banyak sekolah karena ia mengidap sindrom Tourete, sebuah kelainan neurologis yang membuat pengidapnya ngga bisa mengendalikan anggota tubuhnya.

Muncul gerakan-gerakan dan bunyi-bunyian seperti cegukan, dan bertambah banyak jika ia dalam kondisi tertekan. Sindrom tourete ini kabarnya memang tak bisa diobati, tapi setelah film ini saya sedikit cari-cari tahu, ternyata kadar nya berbeda beda, dan yang parah sekalipun bisa dilakukan treatmen ke otaknya (untuk biaya nya aku kurang tahu, tapi biasanya kalau terkait saraf/otak sama sekali ngga murah ya)

Hal yang menarik buatku, adalah bagaimana  dia bisa menjalani kehidupannya dengan tetap baik meskipun dia mengidap sindrom tourete.

Padahal ada hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu hidupnya
1. Dia ditertawakan teman sekelas nya saat ia terus mengeluarkan suara suara tersebut.
2. Dia dikeluarkan oleh belasan sekolah karena dianggap mengganggu proses pembelajaran
3. Dia dianggap "tak normal" oleh ayahnya sendiri, dianggap memalukan, sejak kecil hingga besar.

Hal Positif yang menguatkan dirinya di masa lalu
1. Meskipun ayah dan ibu bercerai, ibunya sangat mendukung dirinya, begitupun adiknya
2. Ia pernah mengenal sosok guru inspiratif di sekolahnya yang membesarkan hatinya, menjadi bibit-bibit mimpinya untuk menjadi guru

Menariknya, di masa Dewasa, ia menjadi sosok Wanita yang Kuat dan Pantang Menyerah.

Ditempatkan di sebuah kelas dengan 14 anak yang 'bermasalah' (dianggap tidak pintar, tidak layak, hopeless). Pada awalnya Naina mendapat perlawanan juga dikerjai anak anak muridnya. Tapi sebagai pendidik, ia percaya bahwa anak anak itu bisa dididik dan bisa dipercaya. Dan menurutku itu sih kunci dari keberhasilan pendidikan.

Dalam ceritanya, diperlihatkan up and down nya sebuah proses pendidikan, jadi sebagai penonton kita seolah ikut dibawa perasaan, dan jalan ceritanya tuh apik banget ngga terduga!

INSIGHT

1.  Keterbatasan diri bukan sebuah penghalang.
Jelas banget ya ini, ibaratnya Ibu Naina aja yang punya 'kelemahan' tetap punya sikap dan prestasi keren. Mau mengejar cita-citanya jadi guru dan bahkan bukan sekedar guru akademis biasa.

2. Kepercayaan pada anak didik adalah sebuah kunci.
Udah tertanam banget dalam mindset bu naina ini, bahwa setiap anak itu punya kekuatannya masing-masing. Dia membesarkan hati dan mengingatkan anak anak muridnya untuk meraih cita-cita mereka.

3. Mengenal anak didik luar dan dalam.
Waktu pertemuan dengan orangtua murid, tak ada yang datang. Akhirnya ia datang ke setiap rumah anak didiknya (atas ide guru rivalnya) dan jadi tahu mengenai kehidupan mereka. Bahwa kemiskinan membuat mereka sulit untuk memprioritaskan pendidikan anak-anaknya, bahwa sehari bekerja bagi mereka adalah hal sangat berharga, dan bahwa untuk mendapatkan air dan makanan saja mereka berebut.

4. Dalam proses, akan selalu ada ujiannya.
• Ya, bayangkan seorang guru yang sudah melindungi anak anaknya, tetiba ada masanya anaknya "mengkhianati" kepercayaan, atau "menyerah" dengan cita-cita mereka. Pasti akan ada rasa kecewa, tapi ia terus memberikan kepercayaannya.
• ujian kejujuran
• ujian kecurangan

5. Berani berbeda, selama itu benar
Saat mengajar anak-anak spesial itu, bu naina juga pede mengajar dengan cara spesial, tidak dengan cara konvensional. Dia tahu dan yakin apa yang dia lakukan, akan membuahkan hasil. Meskipun bagi sebagian orang caranya dianggap aneh, bahkan diremehkan.

6. Bertanggung jawab pada apa yang sudah diperbuat
Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Tak cukup sekedar minta maaf, harus punya kapasitas untuk memperbaiki keadaan.

7. Setiap yang mau berusaha, pasti Allah berikan hasil terbaiknya
Dengan segala perjuangan mereka, akhirnya mereka semua bisa membuktikan pada dunia bahwa mereka semua itu layak dan lulus, bahkan bisa menjadi lulusan terbaik 

8. Apa yang tanpa sadar kita tanamkan pada anak-anak, terkadang itulah yang mereka amalkan.
Bagian ini menurutku paling bikin merinding. Sebetulnya udah sejak awal terlihat betapa Pak Guru yang satunya itu orangnya saklek banget dan ambisius. Hasilnya ya bagus, anak anak punya prestasi yang baik. Tapi, di endingnya diperlihatkan bahwa ternyata anak didik nya bisa salah mengambil value nya. Jangan sampai sekedar ambisi prestasi membuat mereka menghalalkan sebuah cara demi mendapat tujuan tertentu.

Masih banyak insight yang ingin aku tuliskan, insyaallah nanti dilanjut ya !

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...