Sunday, January 20, 2019

My Interphase

Blog! Kangen!

Bismillahirrahmanirrahim,
Apa kabar temen temen semua? Semoga jiwa raga teman teman dalam keadaan terbaik ya. Minimal dalam keadaan ingin selalu lebih baik.

Alhamdulillah malam ini saya berhasil begadang, untuk.. untuk apa yah?
Rasanya begadang jadi hal yang mahal buat saya beberapa waktu ini, karena masih sering ketiduran karena nemenin haidar baca buku sebelum bobo. 

Ditemani iringan backsound musik instrumen yang sengaja saya stel dari yutub, saya hanya sedang mencari ketenangan. ya. ketenangan dari ramainya isi pikiran yang belum sejalan dengan aksi yang seharusnya dilakukan.

ah, sejenak kuhapus saja kata "seharusnya", mari sedikit lebih relax dan tidak memberi beban berlebih pada diri. Targetan selalu mengejar, ah tapi ternyata ku memang perlu waktu sendiri dulu. Ngga apa yah :)

Bagi seorang Ibu muda beranak balita aktif semacam  saya (dan ibu ibu lainnya), cukup sulit menemukan waktu sendiri, kecuali di malam hari. Ngomong ngomong tiba tiba saya jadi ingat sebuah frasa yang pernah saya pakai jaman kuliah di biologi dahulu, tentang interfase dalam siklus sel. Lebih lengkap nya mungkin kapan kapan kubahas, tapi intinya, hikmah yang saya ambil, adalah untuk melakukan hal hal (yang terlihat) produktif dibutuhkan persiapan dulu sebelumnya. yang bahkan waktunya lebih lama dari masa produktif itu sendiri. Mungkin bukan sekedar urusan waktu ya, tapi juga ke-mindfullness-an kita.

by the way 03.15 haidar bangun dan nyariin bundanya yang nangkring di depan laptop. jadi ini udah ngetik sambil mangku anak balita hehe 

I think I need time for doing interphase!

watch this https://www.youtube.com/watch?v=U5vAO_f2LDQ



Friday, December 7, 2018

4 Tahun Pertama Pernikahan

Tanpa sengaja jemari ini membawa saya melihat fitur video pada facebook. Videony bermancam macam sih tapi entah kenapa mostly penampakan uji nyali (?) Hehe ngga juga sih, macem macem pokonya.

Sampai akhirnya saya menemukan film pendek Ini, menontonnya sampai habis dan menangis. Ngga percaya? Coba aja ya tonton sendiri. Hehe.

Alhamdulillah, menyempatkan diri sedikit berkontemplasi tentang apa yang sudah saya alami sepanjang 4 tahun pernikahan. Ya, tepat 30 November 4 tahun lalu, suami saya mengikrarkan Ijab Qabulnya di depan penghulu dan para saksi.

Saat itu sayapun tak menyaksikan, saya berada di bilik ruang rias, menyimak penuh perhatian, dan keluar ketika akad sudah terucap. Saya menangis juga, menangis saja.

Hingga detik ini, ternyata begitu banyak tuntutan yang tidak terpenuhi, hingga saya sadar bahwa pernikahan bukanlah soal menuntut atau dituntut. Bukan juga tentang pertanggungjawaban berupa Laporan LPJ yang tadi pagi saya tanyakan pada suami saya :p

Terkadang kita begitu sibuk memikirkan "apa yang belum ia lakukan pada kita", hingga membutakan mata hati kita, menutup segala tabir yang pernah ada. Padahal, sejatinya yang harus dipikirkan adalah "Apa yang sudah saya perbuat untuk Ia, untuk kebaikannya?"

Kalau lagi "waras" mungkin mudah, tapi bukankah tak jarang pula kita "kurang waras?" 

Sejatinya, pernikahan itu jadi sarana kita buat meraup banyak pahala. Bagaimana suami istri bekerja sama untuk saling berfastabiqul khairat.

Realitanya, keringat dan airmata sering bertumpah karena egoisme pribadi. Pengennya suami begini lah begitulah, terlalu begini lah terlalu begitulah. Padahal itu tadi, kita mah berbuat baik aja semaksimal mungkin, karena saat kita meninggal nanti, yang ditimbang ya amalan kita, bukan amalan pasangan kita pada kita.

Akad nya sama Allah.

Cinta, rasa, kangen, benci, sebel, gemes, itu bumbu. Yang dengannya, amalan kita justru jadi lebih tothemax ke Allahnya.

Kita cinta sama Allah, maka semakin baik sikap kita sama pasangan. Maka semakin baik juga kita menjaga sikap dan memerhatikan setiap kebutuhannya.


"Jika benar cintamu dari Allah, cinta membuatmu lebih baik dari sebelum kamu merasakannya. Ia hadiah untuk hatimu yang kau terima penuh rasa suka. Ia anugerah untuk jiwamu yang membuat hatimu hidup terjaga. Maka cinta tidak akan pernah memburukkanmu, semakin lama kau rasakan semakin ia membaikkanmu"
- Tony Raharjo

Fyi Kutipan ini saya simpan pada kartu undangan pernikahan saya 30 November 2014 lalu. Lazimnya orang menyematkan QS Ar Ruum pada surat undangannya. Saya pribadi sebetulnya saat itu cukup kaget saat semua tulisan dalam undangan harus saya ketik manual seperfect mungkin. Saya juga tak tahu mengapa harus surat ar rum saja yang dikutip (kenapa tidak lebih banyak lqgi? Atau ayat lainnya saja?) Hehe 

Saya hanya berharap, nantinya kami bisa lebih memaknai ayat ayat Allah lebih dalam lagi, memaknai pernikahan tak hanya dari satu ayat tapi dari semua firmanNya.

Kutipan yang saya sematkan, benar benar jadi pengingat bagi diri saya pribadi hingga saat ini.

Jumat, 7 Desember 2018
Hajah Sofyamarwa R
Seorang istri dan ibu yang masih jatuh bangun memperbaiki diri

Wednesday, December 5, 2018

[PRINTABLE] Sayyidul Istighfar

Untuk dzikir sayyidul istighfar 1000x/hari ini saya perlu persiapan.
Ya, hari pertama sudah lasut karena belum punya tally counter alias tasbih digital (alasan macam apa itu). Karena udah lama ngga punya tasbih dan kalau dzikir hanya memanfaatkan ruas jari tangan ;)

Yang kedua, kadang suka lupa-lupa gitu. Jadi akhirnya bikin file buat di print. Dipikir-pikir saya suka ngedit markom jualan aja dipakein hiasan, masa yang beginian ga dihias. Hehehe. Ya sudah dihias dulu, meskipun powered by Canva ya hehe. Nah, buat yang belum hapal betul bisa tempel print an nya di rumah masing-masing yah.

Supaya semangat bisa download printable nya disini yahh :)
Versi PNG & Versi PDF (printable) Download di sini

Semoga Bermanfaat

Hey, Reclaim Your Heart! Part. 1



Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah setelah sekian lama vakuum dalam menulis blog, insyaallah mulai hari ini hajah akan meruntinkan kembali di setiap pagi.

insyaallah alamat blog ini yang semula www.hajahsofya.com, sementara akan kembali menjadi www.hajahsofya.blogspot.com ya. Faktornya karena memang domain .com tersebut belum bisa didaftarkan lagi dan membuat saya jadi tak semangat menulis. PADAHAL, kalau mau menulis ya menulis saja yah HEHEHEHE. Singkat cerita saya putuskan kembali ke alamat lama dulu.

Baik, pagi ini saya menyempatkan membaca sedikit sebuah Buku Berjudul Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu) : Wawasan-Mencerahkan tentang Cinta, Duka dan Bahagia karya Yasmin Mogahed. Buku ini merupakan buku terjemahan yang setahu saya sangat dicari versi bahasa inggrisnya. Saya mencukupkan diri membaca versi terjemahannya dulu saja, saat bukunya ada. hehe

Kenapa buku ini? Bisa nebak sendiri ya kondisi seseorang dari pilihan buku bacaannya ;)

Terdiri dari 7 BAB besar, dengan beberapa subbab. Saya membaca BAB 1 yang berjudul KETERIKATAN, pada subbab : Mengapa Orang Orang harus Saling Meninggalkan?. Jujur pada awalnya saya tak langsung bergejolak saat membacanya, bisa jadi karena faktor buku terjemahan tadi ya. Tapi bisa jadi juga karena pada saat awal saya merasa saya tidak membaca apa yang saya perlukan. PADAHAL setelah dilanjutkan bacanya, saya merasa agak sedikit mirip dengan yang disebutkan dalam bab tersebut.

Cinta dunia itu bukan sekedar materi —seperti yang banyak disangka— 
“Tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia berarti terikat pada hal-hal yang bersifat material. dan saya tidak mengikatkan diri pada materi. Saya terikat pada manusia. Saya terikat pada momen. Saya terikat pada emosi. Maka tadinya saya menyangka bahwa cinta terhadap dunia tidak berlaku pada diri saya. Saya tidak menyadari bahwa manusia, momen, emosi merupakan bagian dari dunia.”“Saya mengharapkan kehidupan ini menjadi sempurna, kondisi yang tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Sebagai seorang yang idealis, saya berjuang dengan setiap sel tubuh saya untuk melakukannya. hidup saya haruslah sempurna. Saya memberikan darah, keringat, dan air mata dalam ikhtiar ini : mengubah dunia menjadi Jannah. Ini berarti mengharapkan orang orang di sekitar saya untuk menjadi sempurna. Mengharapkan hubungan saya menjadi sempurna. Mengharapkan terlalu banyak dari orang-orang di sekitar saya dan dari hidup saya.” 
Jleb!

Kutipan singkat yang rasanya begitu cocok menggambarkan diri saya. Tentu ada beberapa hal yang berbeda dari diri saya dan diri penulis. Kalau penulis menggambarkan diri sebagai orang yang mudah terikat, sangat butuh sahabat. sementara saya, termasuk orang yang sebetulnya tak mudah terikat pada orang. Bukan berarti tak butuh sahabat, ah siapa sih yang tak butuh sahabat? Bedanya, saya perlu waktu lebih untuk beanr benar dekat orang. Bersyukur selama ini Allah berikan saya sahabat-sahabat orang yang mau merangkulm sehingga saya tak begitu sulit menjangkau mereka :)

Saya paling suka kutipa ayat dari Alquran yang muncul disertai dengan hikmah yang ia berikan, salah satunya seperti di surat Al Baqarah 2:256. Seperti secercah embun ditengah kedahagaan jiwa bagi saya! 
“Barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhbul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hey, kemanakah kau berpegang selama ini?
Sekuat apa peganganmu pada Nya?

dan satu lagi ayat yang menggugah saya adalah surat Yunus 10:7 
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”

Baca hikmah ini dan mungkin kamu juga akan merasa tertampar : "Dengan berpikir bahwa saya bisa memperoleh segalanya disini, saya tidak mengharapkan pertemuan dengan Tuhan. Harapan saya bersifat duniawi. Apa artinya menempatkan harapan pada dunia? .., Ini berarti bila Anda memiliki teman, jangan mengharapkan teman-teman anda untuk memenuhi kekosongan Anda. Bila Anda menikah, jangan mengharapkan pasangan Anda untuk memenuhi setiap kebutuhan Anda. Bila Anda seorang aktivis, jangan menaruh harapan dalam hasil. Bila Anda sedang kesulitan, jangan bergantung pada diri sendiri. Jangan bergantung pada manusia. Bergantunglah pada Tuhan."

Jleb jleb jleb.

By the way, Jawaban dari pertanyaan di subbab ini adalah : Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Karena hidup ini tidak sempurna. Jika hidup ini sempurna, bagaimana lagi kita menyebut tahapan perjalanan hidup selanjutnya (akhirat)?

Dicukupkan dulu sampai disini, masih lanjut bacanya yah :)
Semoga bermanfaat :)


Rabu, 5 Desember 2018
Hajah Sofyamarwa R.

Tuesday, May 29, 2018

Bunda.. Jangan Mandi

Sudah jadi rahasia umum bagi para ibu ibu beranak bayi balita,  bahwa pergi mandi terkadang jadi barang yang mewah.

Terutama di usia usia tertentu,  buang air saja terkadang pintu harus terbuka lebar,  atau si balita harus ikut nongkrong di dalem toilet sambil nemenin bundanya.

Ada juga yang harus mendengar tangisan super keras dari sang balita dari luar pintu kamar mandi, yang membuat orang luar akan berpikir macam macam.

Itu semua pilihan, pilihan yang sulit.  Hihi

Pada fase ini,  haidar di usianya yang 32 bulan (2 tahun 8 bulan)  masih juga begitu.  Katanya "Bunda,  jangan mandii.. " diiringi tangisan bak bunda mau mudik ngga balik balik.

"iya,  bunda ngga akan mandi lagi, kan tadi udah. "

"Bunda jangan mandii.. "

Begitulah.

Separation anxiety sebuah kondisi dimana anak mengalami kecemasan karena merasa jauh dari orang tuanya.  Hal yang wajar dan memang masanya, yang perly diketahui orangtua.

Tak jarang orangtua yang menjadi begitu stress ketika anak balitanya tak bisa lepas dari dirinya.

Semoga kita bisa menikmati setiap masa balita kita ya

Sunday, March 25, 2018

Kreativitas dan Bagaimana Menjadi Ibu Kreatif

Tantangan Bunda Sayang di Level 9 ini sedikit berbeda dari biasanya. Kali ini kami lebih diarahkan untuk lebih aktif dan lebih banyak bepikir lagi. 

Diskusi mengenai keativitas ini diawali dengan beberapa test penglihatan, yang sejatinya adalah test pesepsi. Dalam melihat suatu gambar, jawaban dari setiap orang dapat sangat bervariasi. Mengapa? Setidaknya ada 4 hal : pengalaman, sudut pandang, persepsi dan cara kerja otak.

UBAH FOKUS, GESER SUDUT PANDANG KITA. Dalam konteks membersamai anak, kita pelu memiliki berbagai sudut pandang kreatif ketika melihat berbagai kelakuan anak kita. 

Salah satu hal yang dapat mematikan kreativitas adalah dengan memberi komentar
Dalam konteks membersamai anak, terkadang saking pedulinya, orangtua jadi terlampau banyak memberikan komentar. Penggunaan warna yang salah saat menggambar, misalnya. Ketika anak mewarnai awal dengan warna pink, sangat mungkin kita segera mengkoreksi dan memberitahu  tentang itu. Kemungkinan yang terjadi, anak akan sangat hati-hati sekali dalam mewarnai, bahkan bisa menjadi takut, malas, dan bosan. Padahal kita belum tahu dengan jelas, apakah ia memang tidak tahu, lupa, atau sekedar bosan dengan warna awan yang putih.

MAKA, JANGAN BERASUMSI. Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak kita, maka janganlah buru-buru membuat pernyataan, perbanyaklah pertanyaan supaya anak bisa menyampaikan idenya dengan jelas (CLEAR). Tugas kita? Mengklarifikasi saja (CLARIFY). Lebih banyak bertanya, mendengarkan, tanpa perlu menghakimi.

OUTSIDE THE BOX THINKING. Buka kotak pemikiran kita.
Dalam diskusi kami diminta membuat 3 garis tanpa terputus di atas 9 buah titik. kadang kita membatasi diri pada hal yang kita tahu saja, kita kira saja. Padahal kita perlu belaja untuk berfikir keluar dai kebiasaan, ketika memang tidak ada aturannya. Inti simulasi tersebut adalah jangan sampai kita membatasi anak pada pemikiran dan pengalaman kita saja. Biarkan anak-anak bepikir berbeda dari hal-hal yang pernah kita alami.
Kita tidak bisa memaksakan anak untuk berpikir, bertindak, dan merasa seperti kita.

Sekarang, mari kita tengok tentang PROSES KREATIF
1. Evolusi : Ide baru, dibangkitkan dari ide sebelumnya
2. Sintesis : Dua atau lebih ide yang ada, digabungkan jadi satu Ide baru lagi
3. Revolusi : Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada.

Intinya, sebetulnya kita bisa mendapatkan ide baru dari banyak hal, loh. Tapi dalam konteks sebagai Ibu, kadang tantangan menjadi kreatif itu masih ada. Apa ya yang menghambat kita selama ini? Dan solusinya apa?

Hambatan (hasil diskusi) : 
1. Mengkhawatirkan komentar/penilaian orang lain
2. Rutinitas
3. Malas
4. Mau nya instan, ngga mau repot
5. Kurang piknik
6. Ngga siap dikomentari jelek / aneh
7. Kebiasaan
8. Pengaruh trauma masa kecil
9. Belum bisa mengelola diri dengan baik
10. Emosi/kejernihan pikiran

Kalau ngga Kreatif, gimana?
1. Jalan di tempat, ngga maju maju
2. Hidup Flat

Perlu kreatif ga sih jadi Ibu?
Perluuuu, harusssss. Kenapa?
1. supaya ngga garing dan bosen
2. supaya bisa masuk ke frekuensi anak yang kreatif
3. bikin urusan lebih mudah
4. biar anak mau makan dan mandi
5. hidup lebih hidup, ada variasi
6. Supaya uang belanja cukup
7. mengisi aktivitas weekend

Gimana agar kreativitas Ibu tetap terjaga?
jaga kewarasan dan jangan lupa bahagia
Kesehatan jiwa dan raga.
Pikiran yang tenang, ikhlas dan Syukur

Resume Diskusi Kreativitas Kelas Bunda Sayang Level 9
Tanggal : 19 Maret 2018
Oleh : Hajah Sofyamarwa R

Friday, March 16, 2018

Surat Cinta Dari Bunda : Kebaikan Ayahmu

KEBAIKAN AYAHMU
Anakku yang shaleh, tahukah?
.
Dalam kehidupan berumah tangga nantinya, ada kalanya kita menghadapi rintangan yang membuat indahnya keluarga menjadi terasa begitu jauh di mata.
.
Mungkin tak banyak, namun terkadang nila setitik itu jadi merusak kebaikan besar di sekelilingnya. Yang perlu kita lakukan adalah terus mainkan peran dan kewajiban kita sendiri, dan tetap konsisten melakukan kebaikan
.
Bunda belajar untuk mengukir kebaikan kebaikan ayah dalam tulisan. Ya, karena bunda suka menulis dan menulis membuat bunda lebih nyaman. Sangat ingin rasanya juga menuliskan hal hal yang kurang berkenan, namun hingga beberapa lama ini tak pernah bunda lakukan.
.
Bunda tepiskan semua, bahkan tak bunda tulis dalam catatan pribadi bunda. Karena Bunda sadar, begitu banyak kekurangan bunda, dan menuliskan kekurangan orang lain tak mengubah apa apa.
.
Maka, banyak banyaklah bersyukur. Tuliskan saja semua kesyukuranmu setiap harinya nanti. Ingat sisi baik dari orang orang yang kau temui kelak. Beri apresiasi terbaik sepayah apapun ia. .
Caramu menerima dan memotivasinya, akan berarti banyak untuk perubahan dirinya.
.
Mengapa?
Karena tiada yang sempurna, tiada yang bisa persis sama dengan apa keinginan kita. Kitapun begitu, harapan yang oranglain sematkan pada kita juga tak selalu dapat kita penuhi kan?



** Oh ya, ini salah satu kebaikan ayahmu, meski kami sedang belum berteman baik 2 hari ini, ayah tetap menyisakan beberapa lembar menu gokana tepan untuk kita nikmati. Dan pagi ini kamu pun memakannya dengan sangat lahap 

Salam sayang, 
Bunda yang masih terus belajar

Jumat, 16 Maret 2018

Surat Cinta Dari Bunda : Jangan Marah

Dear Anak Kesayangan Bunda,
Baru kali ini bunda sadari, betapa sudah jarang sekali bunda memberimu nasihat.
.
Tanpa bunda sadari, mungkin belakangan ini bunda terlalu takut ucapan bunda menyakiti orang sekitar. Padahal kebenaran tetap harus dikatakan, dan mengatakan kebenaran itu meski pahit tetapi lebih baik daripada pengabaian
.
Sulit memberi nasihat, terlebih karena mungkin hati sedang bernoda. Ya, kau perlu tahu bahwa hati mungkin menjadi keruh karena dosa. Nasihat menjadi tak bermakna, manakala apa yang kita katakan begitu sulit kita lakukan.
.
Mulai hari ini, ingatkan bunda untuk memberimu nasihat ya?
.
.
*
Jangan marah,
Jangan marah,
Jangan marah.
Maka bagimu surga.

Hati yang diliputi kemarahan, tak mampu menangkap logika dengan baik. Itulah kenapa, tersebut oleh nabi bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang fisiknya kuat, tetapi yang mampu menahan amarahnya.

Otoritas diri yang lebih tinggi, membuat diri merasa pantas memarahi lawan bicara. Padahal tak ada manfaat dari kemarahan itu sendiri selain menorehkan luka.

Bunda tahu, terkadang pukulan kecilmu hanya perwujudan dari caramu melindungi dirimu, bagian dari naluri kemanusiaanmu.

Namun bunda yang kurang sabar, tak jarang tersulut api amarah, kemudian menuruti hawa nafsu dengan memarahimu.

Ah, malu sekali.
Padahal bunda sudah lebih besar dari mu, sudah sepatutnya bisa menjaga diri.

Kelak, jadilah orang yang mampu menjaga diri, menjaga agar tidak suka marah marah padahhal yang tak diperlukan.
Semoga selama ini bunda cukup ikhtiar memenuhi kebutuhan emosionalmu, hingga pada saatnya nanti, kau sudah cukup matang untuk bersikap lebih bijaksana.

Salam, bunda. :)

Monday, February 19, 2018

Dan Posting di Medsos Untuk Apa?

Di tengah kegiatan saya ngapload dokumentasi Bunda Sayang dari instagram ke album facebook, kemudian saya berhenti sejenak. Berpikir kembali, "kenapa saya harus melakukan ini?"

Sudah saya tulis di instagram lalu kenapa perlu repot di upload lagi ke album facebook?

😅😅

Sebetulnya sekarang saya bukan orang yang senang mengunggah beraneka aktivitas pribadi di sosial media, apalagi facebook. Tapi saya suka sedih sendiri karena banyak hal yang sering saya lupakan kalau saya ngga mendokumentasikannya.

Dari postingan saya juga, harapannya saya tetap bisa memberikan manfaat buat orang lain walau terkendala jarak dan waktu.

Sekali sekali ngga apa ya, sambil jualan, sambil sharing, sambil berbagi informasi kegiatan. :)

Lurusin niat aja ya.

Wednesday, January 24, 2018

Kuli Pofesional - Renungan dari Robohnya Selasar Gedung BEI Jakarta

Siapa sangka, gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta yang megah itu, bisa "memakan" 72 korban luka akibat robohnya selasar lantai 2 nya? (sumber)
TMC POLDA METRO JAYA

Baiklah, walaupun saya sudah lama tak update blog *kerik lumut*, boleh ya sedikit-sedikit mulai menulis lagi. Berusaha tetap uptodate dengan berita yang ada sambil tetap beraktivitas sebagai emak-emak hehe. Sambil nyetrika, saya dengar diskusi tentang kontraktor dari suatu projek pemerintah.

Sebelumnya, harap maklum ya kalau banyak penggunaan istilah yang salah, dan juga kalau susunan kalimatnya agak acakadut. Hanya mau share sedikit tentang sebuah hikmah yang saya coba tangkap dari diskusi para pakar tersebut.

*

Sudah jadi hal yang wajar ketika sebuah proyek besar dilakukan oleh orang yang besar, sebut saja Proyek Nasional Pemerintah, tentu tak sembarangan. Banyak faktor yang pasti terlibat. Kredibilitas perusahaan, arsiteknya, pemilihan materialnya, pekerjanya, waktu pengerjaannya, pemeliharaannya, dan lain-lain.

Salah satu yang di highlight saya, adalah perkataan narasumber saat itu:
"Perusahaan mungkin boleh bonafit, terpercaya. Tapi ketika sesuatu berhubungan dengan manusia sebagai pekerja, sangat mungkin ada human error. Diantara sebegitu banyak SDM (buruh bangunan)  yang diperlukan, kita kan ngga tau kinerja atau perfomancenya di waktu tertentu seperti apa, misalnya."

*
Tentu saja dengan faktor yang banyak, kita tak bisa menggeneralisir. Namun karena pada dasarna saya tertarik dengan faktor manusianya, maka terkait kualitas manusia, ini yang jadi saya pikirkan:

Oh Ternyata,
Kalau Mau Jadi Kuli Sekalipun, Jadilah Kuli Yang Profesional!


Profesi kuli mungkin masih dianggap sebelah mata, kerjanya yang tak selalu tentu ada, dan resiko kematian tinggi juga melekat. Gedung baru yang indahpun selalu disematkan pada sang perancang/arsiteknya. Tak ada yang menyematkannya pada Sang Kuli Bangunan, kan?


Tapi, Hal kecil sekalipun memang harus dilakukan sepenuh hati, oleh seseorang yang punya kualitas baik. Bukankah mengharukan, bila setiap lapis bangunan rumah atau sekolah kita bertabur zikir dari para pekerja bangunan? Yang mengerjakan semuanya dengan penuh tanggungjawab?

Maka dengung parenting seharusnya lebih menjalar ke setiap tetangga rumah-rumah kita. Tetangga yang mungkin sering makan sekadarnya. Yang tak jarang kita pandang sebelah mata karena dianggap tak prioritas. Yang tak jarang kita jauhi karena takut pengaruh buruknya, padahal karena lemahnya kita membentengi diri sendiri.

Orang berkualitas itu ketika ia bisa menularkan kualitas pada sekitarnya. 
Tetap bersinar dan menyalakan lilin di sekelilingnya. 
lilin kecil yang meskipun kecil, begitu berarti menerangi ruang gelap.


Rabu, 24 Januari 2018
Hajah Sofyamarwa


Tuesday, January 23, 2018

Drama Anak Tantrum Mulai Usia 2 Tahunan

Tangisanku terhenti sejenak. Bocah berusia 2 tahun lewat 4 bulan itupun sudah terlelap di pelukanku sehabis menangis hebat.

Sehabis pulang dari pasar tadi kami mampir sejenak ke buyutnya, maksud hati agar anakku mau bermain disana barang sejam dua jam. Sudah sekian lama tak main disana, karena sesuatu.

Untuk mengalihkan perhatiannya, sempat kubelikan jam tangan spinner 25ribuan di pasar tadi, berharap moodnya bagus dan saat ke uyutnya ia akan mau ditinggal.

Ternyata sama seperti saat berangkat tadi, ia melantai, menangis rewel dan tak mau. Minta digendong dan ingin pulang.

Kalau anakku bilang ngga mau, Aku juga tak bisa membiarkan anakku disana. Maka segera kuajak haidar untuk sekedar salam, namun juga tak mau.

Kupikir ia akan mereda, dalam perjalanan pulang yang hanya sekitar 10meter menuju rumah, anakku mulai memukul marah dan menangis lagi. Barangkali mau di uyutnya lagi? Ternyata tidak juga. Kubawa saja pulang, ia mengantuk.

Sampai depan teras, ia tak mau masuk rumah, berdiam dipagar sambil menangis keras. Alhamdulillah aku masih belum baper, masih santai, hanya heran saja.

Tak mau masuk, akupun masuk ke dalam rumah, dan tangisannya semakin kencang. Singkat cerita ia pun mau digendong dan masuk ke dalam rumah

Tak berhenti sampai disitu, tangisnya mulai lagi. Meronta ronta, gerakan tangannya memukul, gerakan kakinya menendang. Ku tahan dan bilang "kalau marah itu boleh, tapi ngga boleh memukul atau nendang, bunda ngga suka." Belum mempan, saya menjauh dan masuk ke dalam kamar, menutup pintu.

Dipersingkat lagi, tangisanku akhirnya pecah. Ingat beberapa hari sebelumnya ini pernah terjadi, dengan kejadian yang persis. Apakah trauma ya sampai kejadian yang hampir sama walau tak ada penyulutnya, menghasilkan kemarahan yang sama. Bisa jadi, karena ia masih kecil dan apa apa yang terjadi saat kecil begitu membekas.

Ketika tangisanku pecah sambil meringkuk di atas kasur, ia kemudian masuk ke pelukanku. Saling meminta maaf, dan tak lama ia tertidur.

Ya Allah..

Selasa, 23 Januari 2018
Seorang bunda yang masih belajar dan berusaha melakukan yang terbaik.

Kutulis untuk jadi pengingat, dan kelak evaluasi. Betapa bunda masih sangat perlu belajar perlu sabar. Saat Haidar 2 tahun 4 bulan. Maafkan bunda ya, semoga kita selalu disayang Allah

Saturday, January 13, 2018

Diam


"Bisa diam gak sih?"
Begitu katanya, seorang ibu muda yang sedang hilang kesabaran menghadapi tangisan anak balitanya.

Tak pernah terbayang sebelumnya, ia akan menjadi selayaknya “monster” yang terpancing balas meneriaki balitanya.

Segala kesempurnaan menjadi ibu yang pernah ia bayangkan sebelum menikah dulu, kandas semua. Ah, ternyata sebegitu susahnya menjadi ibu.

Ia lalu menutup pintu dan masuk ke dalam kamar. Maksud hati menenangkan diri dan menjauh dari kalimat-kalimat emosi lainnya, balitanya menangis semakin menjadi.

Tumpah pula tangisannya. Mencoba mendekap anak semata wayangnya itu, tak lama justru tendangan kuat bocah kecil itu mendarat di badannya.

Hanya tuhan yang tahu betapa menghayatinya ia berucap istighfar saat itu. Hanya tuhan pula yang tahu, seberapa besar kadar emosinya sudah memuncak.

Ahh, tak pernah terbayang ia akan bersikap seperti itu.

Ia rebahkan dirinya di atas kasur, sementara sang anak tetap merengek menangis.

Didekap kembali anaknya dengan penuh kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa anaknya hanya sesosok manusia kecil yang masih berkembang.

Ia memulainya dengan minta maaf, tak peduli siapa yang sebenarnya salah duluan. Ia hanya tahu bahwa memang sejatinya ia yang perlu meminta maaf pada buah hatinya, atas sikap dan kata-kata yang terlampau berlebihan.

Tangisan bocah kecil itu kemudian berubah nada. Dari kemarahan menjadi tangisan manja khas anak anak. Perubahan gerak bibir bawahnya makin melembutkan hati sang Ibu.

Ah astaghfirullah.
Ia hanya anak-anak yang harus dihujani kasih sayang.

Jumat, 5 Januari 2017
Hajah Sofyamarwa
A mother who learn

*Kisah ini ditulis saat materi kulwap kepenulisan tentang menulis itu mudah, dalam 7 menit :)

Tuesday, December 19, 2017

Mulai Dari Nol, Ya..


Usia nya sudah 2 tahun 2 bulan, 1 bulan lebih muda dari usia anakku. Asus zenfone ku akhinya mati total, nampaknya ia sudah lelah berkali-kali meronta karena kehabisan space RAM yang penuh setiap saat. Juga mungkin baterai yang soak karena sering mati mendadak karena sering di charge dalam keadaan mati total. Tugasnya memang semakin berat akhir-akhir ini, sementara kapasitasna tidak betambah, selain itu sang empunya juga hanya mengeksploitasinya habis-habisan tanpa benar-benar membenahi dalamnya.

Beberapa  hari sebelumnya, laptop juga berdesing setiap dinyalakan, otomatis tak bisa bekerja. Sebelumnya? Jarang sekali kumatikan. Sekedar sleep atau hibernate, karena pemakainya ini memang mengajaknya terus bekerja. Usia yang sudah cukup tua, ditambah faktor kecemasan pemakai, yang tak bisa tenang kalau pekerjaannya tak kunjung selesai.

Sekarang kepalaku. Aku yang tak biasa minum banyak obat ini mendadak perlu parasetamol setiap saat. Sakit hebat. Rasanya ingin dibentur-benturkan ke dinding untuk mengurangi rasa sakitnya. Ah, kalau handphone dan laptop bisa merasakan, mungkin ini yang selama ini ia rasakan. Maaf yah..

By the way, perbincangan malam ini mungkin menjadi puncak dari segala yang kurasakan selama ini. Banyak hal yang kemudian kusadari, tentang :

Kenapa aku melakukan ini, kenapa aku melakukan itu. 
Apa yang sebenarnya ingin kucapai?
Mau kemana aku?
Kemana diriku yang kukenal?
daaan lainnya..

Singkat kata, aku ingin menegaskan ini sedikit, pada diriku sendiri.
Aku manusia merdeka, yang hanya perlu memenuhi standar yang Allah minta, yang terbaik.
Yang segera kembali pada rute yang benar
Menjadi yang terbaik bukan untuk dinilai makhluk, bukan yang beharap penilaian makhluk.
Yang melakukan sesuatu, bukan karena ga enakan sama seseorang, bukan karena mau diapresiasi orang, tapi karena Allah.
kemana itu niatnya selama ini.

Mulai dai Nol, Ya

Selasa, 19 Desember 2017
23.41
wake me up, when september ends :p

Friday, November 24, 2017

Membandingkan Ukuran Dua Bola -

Tantangan Bunda Sayang 6:  Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - I Love Math Day 1
Jumat, 24 November 2017

Hari ini bunda belum sempat bikin rencana kegiatan selama 10 hari buat haidar. Tapi sesuai bayangan di awal, haidar akan mengikuti konsep dari buku LMA saja.

Konsep pertamanya adalah tentang perbandingan, ukuran besar kecil 2 buah bola. Jujur selama ini haidar memang belum banyak saya sengajakan mempelajari matematika, meski dalam keseharian cukup sering juga dikenalkan konsepnya.

Dari buku, Haidar sudah bisa menjawab, bola mana yang lebih besar. Saat saya tunjuk benda aslinya (peraga) haidar juga bisa menjawab mana bola besar dengan bola kecil.

Lembar selanjutnya, membandingan tangan, ibu dan anak. Saya letakkan tangan di atas gambar tangan ibu, namun haidar belum merespon hihi. Ia menunjuk gambar sosok bapak dan bilang "ini tangannya gede yah". Saya jawab "iya, itu tangan ayahnya lebih gede ya."

Selanjutnya haidar ingin melihat buku 123 teh amel, buku yang niatnya saya pakai untuk jadi alat peraga pembanding. Ternyata haidar ingat, waktu itu pernah baca, dan mungkin tau dulu itu belajar matematika ya hehe. (Ngarang)

2 lembar, akhirnya berhenti. Lalu kami jalan jalan keluar dan bermain bersama anak tetangga.

Sekian
Jumat 24 Nov 2017

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUS

Thursday, November 23, 2017

Menstimulasi Anak Suka Matematika Logis

Tantangan Bunda Sayang 6:  Menstimulasi Matematika Logis Pada Anak - I Love Math Day 0
Kamis, 23 November 2017

Bismillah, alhamdulillah kemarin sempat melihat grup bunsay, menyimak materi, tantangan, dan cemilannya. Syukur juga melihat bahwa tantangan dinulai di hari ini.

Seperti biasa, saya akan memulai postingan pertama ini dengan tulisan saya tentang persiapan dan perasaan saya mengahadapi tantangan kali ini.

Saat berkunjung ke kantor tigaraksa, saya teringat bahwa tantangan bunsay kali ini adalah tentang Matematika, maka saya pinjam lah 1 slipcase buku Learning Math With Albert punya kantor untuk saya pakai.

Sebetulnya tadinya mau ambil buku yang lain aja karena buat dibedah dan dipromosiin (hehe) tapi hati sudah tergerak untuk memilih LMA, untuk membersamai tugas bunsay minimal 10 hari kedepan.

Kenapa LMA, soalny saya blank tools apa yang bisa dipakai untuk stimulasi matematikanya. Yang saya tahu, LMA sudah dirancang dengan sistematis mulai dengan konsep konsep sederhana.

Berat sedikit ngga apa apa, meski harua dibawa bawa ke RS sambil nengok saudara.

* * *

Tengah malam begini, waktu yang tepat untuk bunda Me Time, belajar. Alhamdulillah, malam ini bisa baca materi Bunsay, Tantangannya, dan Cemilannya. Lalu menyimak juga sharing grup mengenai metode montessori. Lalu kemudian ingatanku melambung pada 3 tahun silam.

* * *

Saat menjadi guru kelas SD 2 tahun 2014 lalu, saya mendampingi anak-anak mengerjakan worksheet mereka, sembari menjelaskan hal hal konsep yang perlu diulang. Saat itu saya amaze sama worksheetnya.

Masing-masing anak bebas mengerjakan worksheetnya cepat atau lambat tergantung kemampuan masing masing. Dengan gambar sketsa yang khas, ubin ubin, tulisan yang besar dan memudahkan.

Saya tidak tahu pasti itu diambil dari buku apa, yang saya tahu, setiap anak akan mendapat print out nya untuk dikerjakan.

Sebuah cara belajar matematika yang baru saya tahu saat itu. Saya ingat betul karena untuk membuat soal Ujiannya pun harus menggunakan gambar atau teks sejenis, bukan sekedar angka.

Dan tahukah, setelah saya melihat buku LMA, saya baru sadar bahwa tokoh dalam sketsa  worksheet itu ya Alberts dan annie! Ya, saya baru sadar sekarang. Astaga.

Sekian nostalgia nya hihi

* * *

Lanjut ke kondisi haidar Pre-challenge ilovemath ini, saya juga menghighlight hasil assesment haidar tempo lalu oleh tim morinaga mengenai tipe kecerdasan. Salah satu hasilnya menunjukkan bahwa kecerdasan matematis/logisnya masih kurang.

Tapi perlu diketahui, bahwa itu saya yang mengisi, dan saat mengisi lebih cenderung kepada : saya memang belum banyak melakukan stimulasi yang sifatnya matematis/logis, jadi wajar kalau poinnya tidak besar :)

Kenapa? Jujur memang belum fokus, selama ini pembelajaran matematis memang seputar hal yang terjadi sehari-hari dan memang tidak apa-apa.

Sejak usia 20 bulan haidar sudah bisa menyebutkan 1-10, apa sudah jago matematika nya? Tentu belum bisa dibilang begitu, karena haidar masih meniru, belum dihadapkan dengan kondisi sehari-hari.

Kalau beli makanan pun, haidar sudah mengenal konsep berbagi. "Ini 1 untuk ayah, ini 1 buat bunda, ini 1 buat iday"

Saya perlu *lebih rajin dan niat* lagi belajarnya.

Nah, mumpung tantangan bunda sayang kali ini adalah tentang matematis logis, insyaallah akan ditargetkan agar saya secara konsisten merancang dan memberikan stimulasi matematis nya.

Kenapa? Kemampuan berbahasa dan matematis adalah salah satu hal penting yang menunjang anak memasuki usia sekolah nantinya.

Hajah Sofyamarwa R
Kamis, 23 November 2017

IG : https://www.instagram.com/p/Bbzq96dgqux/

#Tantangan10hari
#Level6
#kuliahBunsayIIP
#ilovemath
#matharoundus

Friday, September 22, 2017

Menelisik Peran sebagai Ibu, Istri dan Diri Sendiri – Buku 5 Tahun Pertama Pernikahan


Masih pergejolakan di tahap kedua : Pain, tentang sebuah penerimaan (bagian 5)

Jadi sampai pada tahap ini, saya merasa begitu nge-klik dengan buku ini adalah karena ada bahasan-bahasan dari penulis (teh fufu) yang sangat relevan dengan apa yang saya rasakan sebagai seorang istri dan ibu beru. Pada bagian ini, penulis mencoba berbagi mengenai perjalanannya dalam meneliti diri sendiri tentang bagaimana ia menjalani perannya sebagai ibu, istri, dan diri sendiri.

A.      Sebagai Ibu
Pesannya adalah, telisik kembali bagaimana sisi kanak-kanak kita saat dahulu, untuk bisa memperbaiki peran kita sebagai seorang ibu. Peran ibu sering membawa kita pada kondisi membanding-bandingkan diri kita dengan yang lain. Menurut beliau, efeknya hanya 2 : menjadi sombong, atau justru menjadi minder. Saya pribadi merasakan lebih banyak mindernya. Pengalaman menjadi ibu baru 2 tahun, pun masih kewalahan dengan diri sendiri. Perasaan “merasa di bawah/minder” itu justru membuat diri saya jadi sulit berkembang. Menelisik diri lebih jauh, mungkin bukan karena aturan yang terlalu mencekik (karena saya termasuk yang banyak dibebaskan), melainkan –mungkin- karena kurangnya apresiasi. Sehingga merasa diri tak punya apa-apa, rendah diri.
Apa pengaruhnya pada anak? Secara tak langsung kita mentransferkan rasa, sikap, emosi pada anak kita lewat pengasuhan kita. Maka refleksi untuk saya adalah: mengakui kapasitas diri itu bukan berarti sombong, justru bentuk syukur pada Allah atas keunikan yang Allah berikan. Saya pribadi sudah menyadari ini, dan berusaha memberikan apresiasi sekecil apapun pada anak saya.
Sedikit gambaran bagi tipe kedua, sombong. Biasanya karena haus pengakuan (tidak mendapatkannya saat kecil dahulu), dampak buruknya jadi mudah merasa stress ketika semua tidak berjalan sesuai harapan.

B.      Sebagai Istri
Dari part ini saya jadi terbayang bagaimana cara penulis mengkomunikasikan sesuatu pada pasangannya. Tentukan fokus pembelajarannya, belajar dengan cara sendiri. Tidak perlu menuntut pasangan untuk jadi seperti yang kita inginkan, atau seperti gambaran film romantic yang pernah kita lihat. Cerita kita berbeda, kita yang membuatnya bersama. Kalau buat saya ada tambahan sedikit, fokus menjalankan kewajiban, bukan menuntut hak.

C.      Sebagai Diri Sendiri
Disini saya juga merasakan bahwa penulis tahu betul bagaimana karakter dirinya. Memahami, mencintai diri, untuk bisa membersamai keluarga kita dengan cinta yang penuh. Untuk topik ini mungkin perlu saya buat artikel tersendiri ya hihi.

Penutup dalam bab ini :

Suami dan istri yang baik adalah ia yang tak menuntut pasangannya berubah seperti orang lain, melainkan menuntun pasangannya menjadi dirinya sendiri yang semakin baik setiap hari.
@fufuelmart


Bandung, 22 September 2017
Seorang perempuan yang sedang jatuh bangun belajar

Hajah Sofyamarwa R.

Pelajaran dari Iklan Property dan Buku 5 Tahun Pertama Pernikahan tentang Mindset


Sampai di halaman 49 dalam buku 5 Tahun Pertama Pernikahan, ingatan saya tetiba terasosiasi pada sebuah iklan perumahan yang ada di televisi. (Tahu kah, Mei*karta?) Menilik-nilik iklan tersebut, saya menangkap bahwa adanya perubahan mindset membuat segalanya jadi berbeda. Gadis kecil dalam iklan tersebut awalnya “memohon” untuk dibawa pergi dari tempatnya semula, karena lingkungannya tak nyaman. Namun di akhir cerita, ketika ia sudah melihat sesuatu yang lebih baik, mindsetnya kemudian berubah. Ia menjadi ingin pindah ke tempat tersebut.

Sekilas nampak sama. Hasil akhirnya mungkin terjadi sebuah perpindahan. Namun, pada kondisi pertama, ia seakan ingin “kabur” dari tempat semula, dan pergi bisa kemana saja. Bisa terarah, bisa jadi tanpa arah, asalkan pergi. Sedangkan pada kondisi kedua, ia menuju sesuatu impian yang ingin dicapai. Ia tahu kondisi lamanya memang tak baik, tapi itu bisa terobati dengan adanya impian yang jelas, pindah ke tempat yang lebih baik. Lebih terarah, dan mungkin hanya sedikit saja meninggalkan luka.

Kembali pada buku yang saya baca ini, saya kembali diingatkan mengenai Niat dalam Pernikahan. Bab yang seharusnya sudah 2 tahun lalu khatam bagi saya, dan mungkin belasan atau puluhan tahun bagi orang lain. Dikisahkan ada seseorang yang sudah menjadi istri dan memiliki anak, dan ketika ada permasalahan rumah tangga ada hasrat terbersit untuk pulang ke Rumah. Rumah yang mana? Rumah orangtua. Padahal dulu sekali sebelum menikah, berpikir ingin segera menikah karena kondisi rumahnya tak nyaman. Entah adanya pertengkaran, atau hal lain. Lantas kenapa ingin pulang ke rumah, padahal saat ini ia juga sedang berumah tangga?

Saya kemudian merefleksi kembali apa niat saya menikah. Ini penting karena sayapun juga mengalami masa-masa dimana saya begitu malas sekali mengatur rumah atau menghadapi gemericik konflik di rumah tangga. Mungkin saya bukan seperti contoh di atas, tantangan saya adalah untuk lebih bisa memvisualisasikan pola pernikahan yang pernah saya idamkan, berjuang mengkomunikasikannya, dan bersabar menjalaninya. Karena tentu dalam setiap pernikahan ada perbedaan-perbedaan antara ekspektasi dan realita, bagaimana pengaturannya lah yang harus terus dipelajari.

Alhamdulillah.
Mari ikhlaskan semua takdir yang telah Allah gariskan. Terima, syukuri dan berlari menuju keindahan hakiki. Bukan untuk siapa-siapa, kecuali lillah.

Bandung, 22 September 2017
Seorang perempuan yang sedang jatuh bangun belajar
Hajah Sofyamarwa R.



Friday, September 8, 2017

Kangen Nulis

Bergabung dengan 30DWC membawaku pada hal hal menakjubkan. Baru tiga jilid saja, 3 bulan tapi cukup membuka pikiranku mngenai dunia tulis menulis. Tak lantas membuatku jadi penulis hebat, tentunya. Masih sekedar memberi pupuk dan air bagi salah satu kesukaanku.

Aku rehat dulu di jilid 8, tak ikut. Alasan utamanya ingin menimba ilmu dulu karena merasa kering bila harus terus menulis tanpa menyempatkan waktu barang sejenak untuk mengisi teko.

Dan selama periode rehat ini, ternyata aku betul betul rehat. Hehe. Sekedar posting foto-foto di instagram, dengan caption yang seadanya. Kangen juga. Kangen mendengar curhatan diri sendiri. Hehe.

Selama masa ini, aku lebih fokus berjualan, ngiklan, kontak customer, packing, perdana jaga stand pameran juga. Qadarullah, beberapa hari juga harus menemani haidar yang masuk RS karena demamnya yang tinggi akibat infeksi bakteri.

Nostalgia ini, sedikit banyak terdorong dari melihat postingan kawan kawan yang ikut 30DWC jilid 8. Ada teteh sepupu yang psikolog yang ikutan, makin produktif menulisnya, makin viral tulisannya. Ada juga yang tadinya cuma sendiri, sekarang berhasil mengajak suaminya untuk ikut dan mereka soswit banget hahaha, rajin ikut sayembara, lolos dan jadi buku antologi. Terharuu :"))) pengen banget mensyen orangnya ini haha. Ada juga kaka kelas pas SMA yang juga jadi semangat lagi nulisnya. Ikut seneng :)

Belum lagi kawan kawan dari komunitas ODOPfor99days juga udah menelurkan buku antologinya. Masyaallah hebat hebat!

Alhamdulillah.
Apapun yang terjadi, nikmati prosesnya, dan yang penting terus bersyukur.

Yak mari mulai menulis lagii :D

Jumat, 8 September 2017
22:23
Hajah Sofyamarwa R.

Friday, August 18, 2017

Boardbook Anak Indonesia Murah Berkualitas ABC Indonesiaku @loveshugah

OPEN PREORDER BOARDBOOK BALITA " ABC Indonesiaku"
by Amalia Kartika Sari -
Pernah ngga, nyari buku belajar alfabet tapi versi Bahasa Indonesia? Atau malah kayak saya.. yang beli bukunya ABC tp impor 😁

Atau malah bosen karena A-nya seringan "apel"/apple,B-nya pasti "bola"/ball.
Sebenernya salah satu keinginan saya bikin buku sendiri adalah.. punya buku yang saya mau tapi ngga ada yg jual di pasaran.

Salah satunya ini.
Sebagai orang Indonesia yang suka bacain buku ke anak, kayanya kurang pas kalau belum mengenalkan "ABC" pakai buku yang menggunakan bahasa sendiri.

Maka, bikinlahhh buku ini.
Yang bisa mengenalkan ABC, sekaligus kekayaan Indonesia. Berharap dengan buku ini, anak-anak lebih mengenali negerinya, dan juga menambah kosa kata baru mereka.

Buku ini adalah jenis picture book, ada "ruang" yang saya sediakan bagi orang tua dan anak untuk "membaca" gambar. Bukan sekedar tulisan yang ada. Bahwa ada aneka Makanan enak di Indonesia, ada banyak ikan yang tinggal di Laut kita, bahwa Terumbu Karang itu sangat cantik dan perlu dilestarikan supaya hewan-hewan bisa hidup di sekitarnya, bahwa kita hidup di negeri yang beragam.. berbeda-beda tapi tetap satu Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.
-
PO Batch 1 : 17 Agustus - 17 September 2017
-

Ready pertengahan oktober insyaallah

Harga PO: IDR 95,000 (Belum Termasuk Ongkos Kirim)
Harga Normal (Setelah PO): IDR 110,000* -
Spesifikasi buku:
* Tipe board book ivory (bukan boardbook bahan dupleks abu, tapi seperti boardbook impor)
* Ukuran 14 x14 cm
* 28 Halaman
* Cover & Isi buku Ivory Paper 350 GR (gambar dan tulisan jadi lebih tajam dan menarik), hooked (ujungnya rounded)
* Finishing: gloos varnish (Semua halaman cover dan isi buku diberi gloos varnish agar awet)
* Untuk anak umur: newborn - 5 tahun

pemesanan : bit.ly/OrderViaWasap
0856-201-6256
IG : @jannafaly

1 kg muat 3 buku ya moms ^^

Saturday, August 5, 2017

Aliran Rasa Melatih Kemandirian Toilet Training Haidar - Tantangan Bunda Sayang IIP Game Level 2

Bismillah..

Alhamdulillah, dengan adanya tantangan melatih kemandirian anak dari Bunda Sayang IIP, saya jadi terdorong untuk melaksanakan toilet training untuk haidar. Saya jadi memulai lebih cepat dari yang dulu direncanakan, karena saya memulainya tanggal 13 Juli 2017, tepat ketika haidar berusia 22 bulan 3 hari.

Akibat memulai lebih cepat, saya kurang persiapan. Saya memulainya dengan bekal nekat saja, sementara pembelian alat pendukung seperti potty train atau training pants belum dilaksanakan.

Awal mula saya cukup deg-deg an dibumbui dengan berbagai macam rasa seperti kesal kalau haidar tetiba pipis tanpa bilang, atau pup tidak bilang, dsb. Beriringan juga dengan rasa memaklumi, juga pasrah bahwa semakin banyak cucian hihi. Tapi lama kelamaan seiring haidar belajar, haidar semakin bisa mengungkapkan tanda-tanda ingin buang air. Saya juga semakin santai menjalaninya.

WAKTU PELAKSANAAN
Laporan secara tertulis saya tuliskan di akun instagram saya selama 15 hari sejak tanggal 13 juli hingga tanggal 27 Juli. Sampai saat penulisan aliran rasa ini (5 Agustus 2017) haidar masih toilet training namun tidak tercatat lagi hehe.

PERKEMBANGAN
Lengkapnya bisa dilihat di akun @hajahsofya ya.

ALIRAN RASA
Ternyata melakukan toilet training itu sejatinya bukan hanya mengajarkan kemandirian pada anak, melainkan juga mental orangtuanya. Sebagai orangtua kita harus sabar menghadapi berbagai "accident" yang bisa terjadi, sabar pula menjaga emosi diri.

Dari satu pelatihan, ternyata memunculkan banyak hal. Seperti haidar asalnya hanya mau dilatih buang air di toilet, ternyata jadi lebih mudah sikat gigi dan kumur, menggantung barangnya di toilet, memilih bajunya sendiri.

Alhamdulillah, meski toilet training nya belum selesai, insyaallah cepat atau lambat haidar akan lulus.

5 Agustus 2017
Hajah Sofyamarwa

#30dwc #30dwcjilid7 #30dwchajah #day30
#aliranrasabundasayangIIP

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...