Monday, June 13, 2016

Mengaji dengan Niat Melakukan Amalan Terbaik

Banyak sekali yang ingin kutulis, tapi.. ah.. mari memulainya dari sesuatu yang mungkin bermanfaat :)

* * *

Sungguh malam ini hatiku bahagia sekali setelah duduk mengaji walau aku sangat lelah. Mengaji itu pupuknya hati dan akal, ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan iman kita di era hebat ma’siyat ini.” - Ust. M Arifin Ilham

Sebuah kutipan singkat dari salah seorang kakak sealmamater yang orangnya lucu tapi sangat meaningful. Entahlah, saya juga jarang berinteraksi dengan beliau lagi, tapi saya masih bisa merasakan kedalaman makna yang beliau pancarkan lewat tulisan tulisannya.

Ramadhan sudah hari ke-delapan. Begitu cepat, sungguh, bahkan sampai saya tak sempat menulis sepatah dua patah kalimat sambutan di blog berdebu ini.

Ramadhan kali ini, Allah karuniakan pada kami anggota keluarga baru. Haidar sudah 9 bulan saja, tak terasa. Amanah sebagai seorang istri, serta ibu, menjadi tantangan tersendiri bagi saya pribadi.

Kelompok halaqah kami punya target harian di bulan ramadhan ini. 2 kali khatam, berarti persebarannya 2 juz perharinya. Tantangan tersendiri, apakah saya bisa mencapainya dengan amanah saat ini ?

Seharuanya bisa. Tak lebih dari 3 jam seharusnya. Tapi saat ini jujur saya masih belepotan mengatur pekerjaan domestik rumah tangga. Hehe. Dan salah satu godaan lain adalah mengurusi online shop hehe.

Ah seharusnya tetap bisa. Banyak yang sudah bisa membuktikannya.

***

Namun perbincangan dengan paksuami, dan diskusi ringan di grup watsap halaqah kami membahas tentang amalan yang terbaik (ahsanu amala), Bukan amalan terbanyak. Bisa dilihat pada surat al-Mulk ayat 2, surat yang sejak 3 bulan lalu saya masih stuck menghapal disini :"" *parah*

"...Supaya Dia mengujimu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya..." (TQS AL-Mulk 67:2)

Menurut Muhammad bin ajlan dari kutipan dalam buku tafsir ibnu katsir, "Yang paling baik amalnya. Dan allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya."

Sejak dulu saya juga punya targetan tertentu yang dikejar, misal dulu hanya 1 juz perhari saja. Namun seiring berjalannya waktu dan pemahaman, target penting untuk standar diri kita pribadi, namun kualitas harus dipikirkan juga.

Kalau kita mau setiap ramadhan selalu lebih baik dengan "hanya" meningkatkan kuantitas tilawah kita, mungkin 30 tahun lagi, target kita 30 juz perhari alias 30 kali khatam?
Untuk apa? Tak diijinkan karena memang pasti kita akan melalaikan kewajiban kewajiban lain. Islam mengajarkan keseimbangan.

Membaca tanpa memahami, kira kira apa dampaknya untuk kehidupan kita?

***
Saya pribadi masih banyak peer.
Bacaan masih harus diperbaiki
Hafalan masih belum komitmen.
Pemahaman quran juga masih sangat minim.

Semoga kita bisa meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita dengan shaum, meningkatkan pemahaman dan kecintaan kita terhadap quran di bulan ramadhan. (Seperti yang ust. Nouman ali khan sebutkan dalam status fb nya)

Sabtu 18 juni 2016
Diselesaikan pada ramadhan hari ke 12

Saturday, May 21, 2016

Materi Matrikulasi #1 Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga (Part 1)

[Materi Matrikulasi #1 Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga]

Materi disampaikan oleh Bu Septi Peni Wulandai dalam Kuliah WhatsApp Grup Matrikulasi Batch 1, pada Senin, 9 Mei 2016 pukul 20.00 – 21.00 WIB.

Salam Ibu Profesional,

Selamat  datang di program Matrikulasi Ibu profesional.
Di sesi pertama ini kita akan membahas tentang 4 hal :
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?
Apa itu Ibu Profesional?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna: 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami; 3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota.

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna: 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang : a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh–sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa itu Komunitas Ibu Profesional?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan yang paling unggul di Indonesia.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana tahapan-tahapan menjadi Ibu Profesional?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :

a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Apa indikator keberhasilan Ibu Profesional?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA"

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena customer kita adalah anak-anak dan suami. Maka yang perlu ditanyakan adalah :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?
Anak Tangga Ibu Profesional
Anak Tangga Ibu Profesional. Sumber:

Pertanyaan-pertanyaan

#1 Apakah mandiri secara finansial itu suatu keharusan?
Jawaban:
Makna produktif di Ibu Profesional tidak selalu bermakna dengan uang. Bisa produktif berbagi ilmu dan karya. Hanya secara fitrah ketika kita sudah profesional menjalankan peran hidup kita, maka uang itu akan mengikuti kita, bukan kita yang mengejar uang.
Maka kemandirian finansial menjadi salah satu pendukung (bukan satu-satunya) proses terwujudnya rasa percaya diri seorang ibu. Ibu yang PD akan mendidik anaknya jauh lebih baik.

#2 Step pertama apa yang mesti dilakukan untuk melangkah menjadi ibu profesional?
Jawaban:
Lakukan perubahan sekecil apapun yang bisa kita lakukan. Materi sekeren apapun kalau tidak dipraktekkan, akan sia-sia, karena tidak akan membumi dan menjadi amalan kita

#3 Bagaimana kita menemukan misi hidup spesifik? Menurut yang saya pelajari, misi hidup tersebut lebih ke aspek batin atau spiritual dibandingkan aspek sosial ekonomi. Meskipun tidak menampik adanya pengaruh ke arah dua aspek tersebut jika kita telah menemukannya. Mohon pandangan ibu.
Jawaban:
Dalam hidup ini tidak ada yang terpisah-pisah antara aspek batin, spiritual, sosial dan ekonomi, semua menjadi satu kesatuan. Orang yang sudah menemukan misi spesifik hidupnya itu akan paham apa maksud Allah s.w.t menciptakan dirinya di muka bumi ini. Sehingga seluruh perjalanan hidupnya adalah perjalanan menuju DIA. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya tidak perlu heboh mencari peluang, peluanglah yang akan datang padanya.

#4 Apakah memang harus berurutan?
Jawaban:
Apabila belum memiliki anak, mulailah dari bunda cekatan, kalau sudah punya anak, langsung ke bunda sayang. Setelah itu lanjut ke bunda produktif dan shaleha. Karena ini merupakan anak tangga Ibu Profesional, maka sebaiknya dikuatkan setahap demi setahap, agar mendapatkan pijakan yang kuat.

#5 Bagaimana jika ingin menjadi seorang ibu profesional tapi kurang dukungan dari suami?
Jawaban:
Bunda, perempuan itu makhluk luar biasa, diberikan berbagai kekuatan ganda, jadi apabila suami tidak mendukung, tetap berjalanlah dan JANGAN BERHENTI.
Dengan catatan : selama suami tidak mengganggu perjalanan anda sebagai Ibu Profesional, lanjutkan. Tapi kalau mengganggu segera selesaikan dulu rintangan ini.
Setelah anda berjalan, segera mendekatlah ke Yang Maha Membolakbalikan hati. Agar suami kita mau mendukung perjalanan kita mendidik anak. Karena berdasar pengalaman, istri yang tidak didukung suami, akan tetap menjalankan aktivitas mendidik anak dengan BAIK, berbeda apabila kondisi sebaliknya.
Sedangkan  keluarga yang suami istri mau berjalan bersama beriringan, bisa mendidik anak dengan SANGAT BAIK. Sehingga pilihannya hanya dua BAIK dan SANGAT BAIK

#6 Bila berbicara tentang komunitas terkadang secara tidak langsung terbagi menjadi ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Yang ibu bekerja kebanyakan jadi terfikir untuk resign demi perkembangan anak anak nya. Bagaimana di iip memandang ini bu?
Jawaban:
Di Ibu Profesional hanya ada satu ibu yaitu IBU BEKERJA. Ada yang memilih BEKERJA DI RANAH DOMESTIK dan ada yang memilih BEKERJA DI RANAH PUBLIK, dua-duanya memerlukan keprofesionalitasan. Sehingga harus mengikuti pijakan-pijakan yang ada.
Ibu yang memilih bekerja di ranah domestik harus menguatkan bunda sayang dan bunda cekatannya sebagai pijakan masuk ke ranah publik dengan dasar ilmu bunda produktif dan bunda shalehah.
Ibu yang memilih bekerja di ranah publik, harus menguatkan bunda produktif dan bunda shaleha dengan benar, agar bisa dengan cepat  mengejar ketertinggalan di bunda sayang dan bunda cekatan.

#7 Ketika ada ibu profesional, bagaimana dengan ayah profesional?  Bagaimana dengan keprofesionalan ayah dalam keluarga?
Jawaban:
Jangan pernah menuntut ayah, karena fitrahnya laki-laki baik-baik itu untuk perempuan baik-baik. Pasangan hidup adalah cermin bagi kita, ketika kita mendapati suami "tidak sesuai harapan" jangan buru-buru menuntut, itu pertanda kualitas kita juga sama. Maka pakai prinsip :
"For Things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST"
Untuk mengubah seseorang, maka ubahlah diri kita terlebih dahulu. Istilah di Ibu Profesional, "proses memantaskan diri'. Jangan pernah berhenti di ranah ini, karena Allah tidak akan rela memberikan kita pasangan hidup yang tidak mau berubah ketika kita terus berubah.
Apabila ingin mengajak para ayah, buatlah aktivitas keluarga, jangan diminta sang ayah menyendiri mencari komunitas sendiri.

#8 Saya sudah menemukan minat dan bakat dan sudah merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat ini tetapi saya tidak tau bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita saya....bagaimana saran ibu?
Jawaban:
Hanya ada dua kata KONSISTEN dan KOMITMEN. Menurut penelitian para ahli, seseorang akan menjadi ahli itu apabila sudah mencapai 10.000 jam terbang. maka tetapkan mulai besok, sehari akan mendedikasikan waktu kita untuk ranah minat dan bakat ini berapa jam?, berkomitmenlah bahwa 10.000 jam terbang anda akan raih selama berapa tahun? setelah itu konsisten di satu hal, jangan berganti-ganti.

#9 Untuk Bunda Sayang, bagaimana menilai bahwa anak bangga dan suka dididik oleh ibunya? Karena yang saya lihat satu anak (7th) seperti menurut agar tidak kena marah, dan yang satu (5th) seperti tidak mau mendengar apa yang saya sampaikan untuk kebaikannya.
Jawaban:
Lihatlah respon mereka, dan IQRA', pertajam hati untuk membacanya. Karena kondisi di atas artinya "komunikasi kita ke anak" belum clear. Maka perkuat materi komunikasi produktif.

#10 Apakah ini merupakan sebab akibat bu? Kalau suami tidak mau / tidak bisa / tidak mampu banyak terlibat, apakah cara ibu ini belum benar / banyak kekurangan dalam mendidik anak-anaknya?
Jawaban:
Tergantung tipe apa suami kita. Kalau tipe suami itu hanya mencari nafkah dan urusan rumah adalah urusan istri, maka semakin kita tidak mampu mendidik anak, semakin tidak ingin terlibat, karena merasa menambah beban pikiran dia. Akhirnya cuek dalam kegalauan. Tapi kalau suami tipe  "family man", melihat istri tidak mampu mendidik anak, akan semakin ingin melibatkan diri bahkan mendidik kita.

#11 Dan siapakah sebenarnya yang harus mulai terlebih dahulu, apakah memang mesti dari seorang ibu dulu?
Jawaban:
Karena anda yang melahirkan, maka jangan pernah bergantung pada siapapun dulu untuk mendidik anak, meski itu suami kita. Andaikata suami kita mau terlibat itu bonus keberkahan yang luar biasa.

#12 Bagaimana cara mendidik anak-anak jika kita masih tinggal dengan mertua yang kadang ada bedanya dalam mendidik anak, anak jadi banyak pola asuhnya.
Jawaban:
Bunda berdiskusilah terus dengan mertua untuk menemukan titik temu pola pendidikan antara kita dan mertua kita. Tentukan mana ranah yang prinsip tidak bisa diubah, dan mana ranah yang fleksible menyesuaikan kondisi. Seringlah ajak ibu mertua berkegiatan bersama, sehingga masing-masing akan saling memahami.

#13 Bagaimanakah cara single mom bisa menjadi ibu profesional? Dan bagaimanakah efek ke anak? Apakah bisa tumbuh seperti umumnya?
Jawaban:
Saya dibesarkan oleh seorang single mom, ayah meninggal saat saya usia 8 th. Ibu menjadi sosok yang sangat tegar saat itu. Perempuan memang ditakdirkan untuk memiliki energi dobel. Sehingga pintar-pintarlah memanage energi tersebut. Logika harus seimbang dengan perasaan. Kemudian untuk peran ayah, ibu saya dulu mendekatkan saya ke pakdhe/ om dari jalur ibu, agar sosok ayah tidak hilang dari kehidupan saya. Alhamdulillah sampai hari ini semua berefek positif.

#14 Bagaimana mengaplikasikan bunda sayang karena yang dirasakan ketika anak bertambah dan semakin besar sepertinya lebih sulit untuk membuat anak bangga dengan didikan ibunya?
Jawaban:
Kuncinya tidak boleh BERHENTI mengaplikasikan sebisa yang kita mampu. Teruslah berjalan, karena tugas kita hanya ikhtiar, hasil itu hak Allah. Jangan terganggu oleh perasaan, saya merasa, sepertinya, katanya dll. Pastikan apa yang bunda jalankan sudah ON Track, maka jangan berhenti meski anak kita makin besar. Karena nanti PR makin banyak dan waktu tidak bisa diputar ulang. Pengalaman saya bunda sayang itu cukup efektif di kisaran usia anak 0-12 th, setelah itu bunda bisa masuk ranah produktif dengan tenang dan bahagia.

#15 Mungkinkah seorang ibu merasa sudah menjalani hal-hal pada tahapan Bunda Sholeha tapi dia merasa ada beberapa hal pada tahapan bunda Cekatan yg belum di kuasainya. Bagaimana pendapat ibu?
Jawaban:
Sangat mungkin, indikatornya apa? Biasanya ada yang tidak seimbang dalam perjalanan kita di Bunda Shaleha. Mulai dari memanage waktu, struktur berpikir, mempolakan aktivitas dll. Kalau menjumpai kondisi ini, lebih baik mundur dulu sesaat untuk membenahi management diri kita di bunda cekatan, setelah itu ambil start lagi dengan persiapan matang untuk bisa mencapai finish di bunda shaleha.

#16 Menjadi ibu profesional sangat saya dambakan dari dulu, materi sudah didapatkan, sering ikut kuliah tapi saya merasa belum profesional juga malah bingung mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan biasanya satu materi dipraktekan, belum selesai saya ganti lagi materi yang lain karena sepertinya penting dan harus segera dan begitu seterusnya. Yang saya dapatkan justru saya merasa setengah-setengah. Bagaimana mengatasinya ya bu dan butuh berapa lama kira-kira kita konsisten dengan satu materi.
Jawaban:
Disini pentingnya membuat checklist profesionalisme perempuan yang jadi NHW #1 kita. Artinya ada skala prioritas yang harus kita kerjakan satu persatu. Mulailah dari yang mudah terlebih dahulu baru beranjak ke tingkat kesulitan yang makin tinggi. Cara menilai adalah per minggu. Misal materi komunikasi produktif, anda akan mulai dengan pekan ini belajar "the power of question" ke anak-anak. Maka lihat bagaimana perkembangan komunikasi anada pekan ini dengan pekan lalu? terus tambahkan hal baru lagi setiap saat.

#17 Saat ini banyak bermunculan komunitas belajar perempuan yang sedikit banyak memiliki kemiripan dengan IIP. Berkaitan dengan visi ibu profesional diatas, apakah ada rencana masa depan untuk membuat program bersama/bersinergi dengan komunitas pendidikan perempuan yang lain bu? Dan adakah bayangan bentuk kolaborasinya seperti apa?
Jawaban:
Alhamdulillah makin banyak komunitas yang tumbuh, bersinergi itu kunci utama teh, selama masing-masing komunitas memiliki core value yang hampir sama. Bentuk kolaborasi yang sangat memungkinkan adalah membentuk jejaring dalam bentuk Community Based Education for Woman. Bahkan saya sedang membayangkan hadirnya Woman University di Indonesia. Ini perlu jejaring.

Nice HomeWork #1 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga, pekan ini silakan membuat: CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN.

Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya.
Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri. Indikator harus:
- SPESIFIK (unik/detil),
- TERUKUR (contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- Bisa diraih
- Berhubungan dengan kondisi permasalahan sehari-hari dan ada BATAS WAKTUnya.

Siapa yang akan menilai?
- Diri kita sendiri
- Anak-anak
- Suami

(Bersambung)
Copas dari postingan teh shanty dewi arifin di grup institut ibu profesional bandung

Telur Dadar Kecap dalam Pernikahan

Setiap orang punya caranya masing masing dalam menjalani hidup.

Boleh tahu telur goreng macam apa yang kamu sukai ? Hihi prolognya so' serius amat ya, padahal saya cuma mau ngomongin telor dadar :"

Saya biasa makan telur dadar yang dikocok bersama penyedap, kecap manis dan saus sambal. Warnanya sedikit hitam, dan banyak hitam kalau sedang gosong hehe. Disantap dengan nasi hangat, sudah lezat.

Entah sejak kapan saya mulai memakan telur dadar dengan cara begitu. Yang saya ingat, dulu saya suka makan telur dadar kecap yang dibarengi dengan sop (?) dipikir pikir aneh juga ya haha 😅 (atau ada teman teman yang begitu juga? Hehe)

Setelah menikah, saya bertemu dengan seseorang yang menyukai cita rasa telur dadar yang berbeda. Katanya, telur dadarnya lebih nikmat kalau banyak daun bawangnya, dan digoreng dengan irisan bawang merah yang digoreng duluan.

* * *

Ketika awal kami bertemu, saya membuatkan telur dadar kecap kebanggaan saya (halah) yang kata saya enak. Ternyata ia tak begitu menyukainya, lidahnya tak terbiasa makan telur semacam itu. Begitupun saya, ketika harus makan telur dadar kesukaan beliau awalnya berpikir "ini telur dadar mainstream." Hihi. (Padahal kayanya itu telur dadar normal yang sudah standar internasional mereun yah :p)

Namanya sebagai istri, membuatkan makanan sesuai yang suami suka,  akhirnya saya juga ikut makan telur dadar versi standar. Awalnya aga aneh, tapi seiring waktu berjalan, bahkan saya sampai lupa kalau saya sukanya telur dadar kecap.

* * *

Mungkin semacam itu analogi yang mungkin terjadi dalam pernikahan. Dua orang dengan kisah hidup berbeda, harus selaras hidup bersama. Saling mempengaruhi, saling membawa. Mungkin juga tak pernah benar-benar jelas siapa yang salah atau siapa yang benar. Jenis interaksi keduanya adalah konsekuensi dari pribadi masing masing.

Dominan di luar, belum tentu tetap dominan pada pasangannya. Resesif diluar, belum tentu tak kuasa mendominasi pasangannya. Kompleks memang.

Maka mungkin pernikahan bukan sekedar aku mau apa, kamu mau apa.

Melainkan : aku begini, engkau begitu, kalau kita bersatu jadinya begini. Mari saling menerima dengan sabar dan syukur. Aku begini, engkau begitu, kalau kita bersatu jadinya begini. Baik ngga? Kalau ngga baik. Harus gimana. Apa yang harus aku perbaiki. Apa yang harus kamu perbaiki. Apa darimu yang perlu kulengkapi, apa dari diriku yang perlu kau lengkapkan. Kita mau kemana, apa tanggung jawabku, apa tanggungjawabmu. Apakah yang sudah kulakukan membuat kita sampai kesana, apakah yang kau lakukan juga begitu?

* * *

Sebuah refleksi yang PENTING BANGET setelah membuat telur dadar kecap kesukaan, setelah sekian lama. Hihi. :p

* * *

Pesan moral : setiap orang itu unik. perbedaan pasti ada, tentang bagaimana memanage diri kita, dan kesiapan untuk saling menghargai keunikan orang lainlah yang menjadi penting.

Jumat, 20 Mei 2016

Monday, May 16, 2016

Dibalik Perempuan bernama Ibu

Ada yang pernah bilang bahwa perempuan itu begitu hebat.

Mengandung calon anaknya sembilan bulan dalam rahimnya, dan setelah lahir masih akan sering menggendongnya sampai batas usia tertentu.
Apakah perempuan yang setelah melahirkan seketika mendapatkan suntikan energi yang membuatnya jadi kuat ? Apakah mereka tidak capek atau pegal-pegal?

Sedetik setelah melahirkan dan jadi ibu, perempuan tetap manusia, tentu saja. Sehingga menggendong anak juga lama kelamaan akan pegal. Sunatullahnya ya BERAT, karena punya massa dan bukan hidup di bulan yang tanpa dipengaruhi gaya gravitasi hihi.

Syukur alhamdulillah Allah menciptakan segalanya dengan tingkatan yang perlahan lahan naik, tidak ujug-ujug. Jadi tubuhnya pun menyesuaikan perlahan lahan.
Bayangkan saja kalau setelah bayi lahir, tiba tiba beratnya 20 kilo? :)

Bersamaan dengan anak yang kemana mana harus digendong, muncul konsekuensi baru. Harus dikemanakan gembolan para perempuan kece yang isinya beranekarupa, belum lagi kini ada tambahan barang-barang keperluan bayi? Saya yakin banyak perempuan yang mampu membawa nya. Tapi, kini selalu ada lelaki baik hati yang siap siaga membawakan gembolan ibu-ibu ini. Mau tidak mau, siap tidak siap (kalo ngga mau jitak aja wkwkw)

* * *
Beginilah kami kalau lagi jadwal menginap ke rumah orangtua kami. Dengan fixxion hitam kami melaju, bahu ayah jadi selalu dihiasi tas ransel kantor, tas selempang kecil, dan tas bayi besar. Berat loh itu, pegal. Belum lagi harus pakai jaket tebal dan penahan angin yang kalau kelamaan pasti kepanasan. Ayah juga sering banget gendongin haidar, jadi ya ngga selalu bunda yang gendong kok :)

Ah terimakasih ayah, sudah selalu siap berbagi peran dan sigap backup in bunda :")  😭😭😭

Ditulis 16 mei 2016
Foto 17 april 2016

"Keluarga super tidak dibangun oleh seorang superman saja. Namanya juga keluarga super : ada superman, ada superwoman, ada superchild. Superdede lain lagi." 😂
Ini quotes abal abal bunda 😅 hehe

Tuesday, April 19, 2016

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah

🍀Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah🍀
Ditulis oleh : Ust.Dwi Budiyanto

Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saatu dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?

Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang resign darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.

Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah. Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.

Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan resign dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat ‘kemaruk’ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.

Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.

Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.

Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. Na’udzubillahi min dzalik.

Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.

Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan ‘resign’ tanpa pamitan.

Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir (driver) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.

Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.

Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.

Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.

Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.

Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.

Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin..

===============================

Warmest Regards,
🌐Public Relation Department PD KAMMI Jakarta Timur🌐

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah

🍀Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah🍀
Ditulis oleh : Ust.Dwi Budiyanto

Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saatu dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?

Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang resign darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.

Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah. Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.

Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan resign dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat ‘kemaruk’ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.

Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.

Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.

Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. Na’udzubillahi min dzalik.

Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.

Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan ‘resign’ tanpa pamitan.

Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir (driver) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.

Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.

Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.

Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.

Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.

Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.

Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin..

===============================

Warmest Regards,
🌐Public Relation Department PD KAMMI Jakarta Timur🌐

Thursday, April 7, 2016

Mengapa harus di "nanti, nanti" kan ?


Banyak dari kita sering berkata,
"aku mau berubah nanti kalau bla bla bla."
"Ngerjainnya nanti aja kalau udah blablabla"
"Sekarang enggak akan bisa, nanti aja kalau blablabla."

Benar ?

Ah tak perlu menunjuk siapapun, cukup berkaca saja. Kita sering terlena dengan rutinitas kita, sehingga saat ingin membuat komitmen atau membangun kebiasaan baru, kita jadi begitu sulit mewujudkannya.

Belum sholeh lagi, euy!
Iya nanti kalau bayi udah gede, udah ngga repot, bisa belajar solehah lagi. Kalau udah punya uang banyak nanti sedekah nya dilakuin lagi. Kalau rumah udah beres, nanti tilawahnya rutin sehari sejuz lagi. Blablabla ...

Belum tentu saat "nanti" nya tiba, kamu inget. Belum tentu nanti kamu nya siap, belum tentu kondisinya memungkinkan, belum tentu kamu udah ngga punya excuse apa-apa lagi.

Kehidupan itu selalu naik setingkat demi setingkat. Berhasil atau tidak nya kita lulus pada tahapan ini mungkin bisa kita abaikan, ga kerasa sekarang. Tapi, akan menggambarkan bagaimana kondisi kita di tahapan selanjutnya, yang lebih tinggi tentunya. Belum tentu energi kita saat "nanti" itu cukup besar atau bahkan masih ada.

Belum tentu jatah usia kita masih ada saat "Nanti" itu tiba.

Kamis, 7 april 2016
#Odopfor99days #day26

Tuesday, March 29, 2016

Sesaat Setelah Operasi Sesar


Mampu melakukan banyak hal secara mandiri, adalah salah satu hal yang sangat perlu kita syukuri. Akan begitu terasa ketika sebentar saja kita hanya bisa terbaring tak berdaya, dan melihat orang-orang tersayang kita melakukan banyak hal untuk membantu kita.
--Hajah Sofyamarwa

Perasaan itu begitu membuncah setelah 8 jam operasi sesar selesai. Bius spinal yang membuat sebagian tubuhku 'baal' sampai kaki baru mulai berangsur menghilang setelah 5 jam, membuatku panik tak bisa tidur karena merasa linu pada bekas luka sesar.
Maklum, rasanya baru kali ini aku mengalami sebuah operasi.

Malam itu setelah haidar lahir, aku tak bisa langsung mendekapnya dan mewujudkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) seperti yang kubayangkan sebelumnya. IMD yang kubayangkan adalah ketika sang bayi menelungkup ke dadaku, berusaha berjuang menggapai tetesan colostrumnya yang pertama. Haidar harus diobservasi dulu sekitar 6 jam. Pada waktu sepertiga malam sembari panik karena sakit tak bisa tidur, kutanya perawat kapan bayiku dibawa masuk ke kamar, katanya pagi, setelah haidar mandi, karena lepas itu bayi harus sudah diurus orangtuanya. Aku hanya bisa bersabar, toh aku masi belum bisa apa apa, kakiku masih mati rasa. Setelah shalat subuh dan tersadar bahwa aku sedang tak wajib shalat (nifas) akhirnya aku tertidur lagi. Alhamdulillah pukul setengah tujuh pagi, kami bertemu, dan dengan susah payah haidar mendapatkan colostrum pertamanya. Repot sekali badanku rasanya, mau miring kanan atau kiri saja setengah mati! Hehe

* * *

Mereka dan Dukungannya
Aku merasa begitu terbantu ketika seluruh keluarga membantu dan mensupport kami. Suami yang terus mendampingi, bapak, mamah, bov, ifa, mashan, caca, ica, bapak, ibu, eneng, alfath, aki, ema, sodara sodara, --bahkan yang berkunjung juga kebagian gantiin popoknya hehe. Mencucikan baju, kain pernel, dan popok haidar; menggantikan popok kainnya saat basah; mengambilkan barang untukku; menjemur haidar; dan lain sebagainya. Aku juga salut pada para perawat dan bidan yang membantuku untuk seka, menggantikan pembalut nifasku, membersihkan badanku. Serius, aku pasrah saja, karena memang belum bisa ngapa-ngapain sendiri.

Belajar Berjalan
Kata dokter, pasca operasi 6 jam, aku baru boleh makan, latihan miring kanan - miring kiri dengan kasur yang tetap datar. Setelah 24 jam bisa belajar duduk, dan besoknya boleh belajar jalan kalau sudah merasa kuat.

Ya allah.. karena terlalu lama berbaring, sulit sekali rasanya menurunkan kaki dari kasur, belum lagi saat mau mulai menginjakkan kaki ke lantai..
ya rabb..

Tiba tiba muncul adegan film one liter of tears di benakku, ketika sang tokoh utama yang sakit sedang belajar jalan sambil tertatih. Lebay, tapi emang muncul rasa itu hehe. Baper, jadi mewek sendiri deh, rasanya ga berdaya banget. Huhu.
Sambil jemur haidar, suamiku sambil mapah aku yang belajar jalan :") payah banget deh saat itu aku ngerasanyaaaa

***
Keluar dari Rumah Sakit
Tanggal 8 September 2015 hari Selasa sore aku masuk RS, dan pulang 2 hari kemudian pada hari kamis malam. Katanya sudah boleh pulang kalau aku sudah bisa pipis sendiri, berjalan sendiri ke kamar mandi. Sedari siang belum muncul rasa ingin pipis, karena sebelumnya masih pakai kateter, jadi rasa nya belum di bawah kendali diri sendiri.

***

Bersambung ya :)

#Odopfor99days
#day25

Friday, March 25, 2016

Menjadi Reseller Buku 5 Guru Kecilku Teh Kiki Barkiah


Saya belum pernah bertatap muka sekalipun dengan teh Kiki barkiah. Pertama mengenal beliau sebatas lewat dunia maya, dalam grup FOCER (Forum Curhat Emak Rempong), tak lama setelah saya menikah 30 November 2014 lalu. Itupun tak intens, hanya selewat saja. Rajin memoderatori grup dan sharing hal-hal bermanfaat yang ngena banget buat para emak-emak. Saat itu saya masih belum merasakan kerempongan yang para anggota grup bicarakan. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata kami sealmamater, beliau lulusan Elektro ITB, beda tahun angkatan tentu saja.

Saya berteman dengannya lewat facebook, lebih tepatnya minta request berteman pada beliau, sampai akhirnya sering membaca tulisan-tulisan beliau dari update-an statusnya. Bisa dibilang saya skip, dan baru sadar bahwa teh Kiki udah mau launching buku ke 2 nya setelah sepupu saya (Mba Dyah) nawarin untuk ikutan preorder bukunya. Karena banyak teman yang juga berminat, akhirnya saya mendaftarkan diri menjadi reseller resminya. Minimal pembelian 100 pcs saja pada waktu itu bikin saya maju mundur. Jadi ngga ya? Laku ngga ya? Reseller bandung nya aja udah bejibun banyaknya, emang peminat bukunya banyak banget sampai semua buku di reseller bakal habis? Pasti ada titik maksimal dong dimana semua followers teh kiki sudah dapat bukunya, nanti buku ku laku gak, ya?

Yah begitulah, tukang dagang masih amatir, 100 buku aja masih takut-takut. Bahkan sempat hampir menyerah dan minta dikurangi jatah. Tapi karena udah komit sama diri sendiri, pesan 100 ya harus bayar 100 pcs. Bismillah. Belakangan saya tahu bahwa ada yang sudah berhasil menjual sampai 2000 buku, maka 100 buku di saya apalah artinya. Hihi.

Saya mendapat jatah percetakan batch 2 saat itu, artinya sebelum saya dapat bukunya, banyak yang sudah baca bukunya duluan dan puas. Masih harap-harap cemas, antara ingin segera baca, udah ditanyain sama para customer, dan yakin ga yakin 100 pcs ini bisa habis. Saat hari H bukunya ready, Alhamdulillah sudah setengahnya dipesan. Masih sisa 50, tapi saya makin semangat karena buku udah di tangan. Udah santai.

PENGIRIMAN BUKU
Lokasi saya yang cukup dekat dengan pengambilan bukunya membuat saya berpikir untuk mengambilnya sendiri. Agak bingung pada awalnya karena sekarang kemana-mana udah bawa anak. Akhirnya saya ke rumah orangtua dan pake motor maticnya buat bawa gembolan bukunya. Beli dulu tali rapia dan gunting buat packing. Alhamdulillah 100 pcs masih bisa muat di atas motor, sampai saya baru sadar bahwa masa kini sudah ada GOJEK *plis jah haha* Eh tapi ngga apa-apa jadi bisa silaturahim sama Nadine, ponakannya teh kiki (anaknya teh siti Maryam). Biasanya kan Cuma ketemu lewat facebook hehe. Packingan selesai dalam 2 jam, tepat pukul 3 saya bawa gembolan ke JNE, ternyata udah tutup. *pukpuk besok lagi ya* Saya pulang dalam keaadan mata basah (bukan air mata, tapi air hujan. Bukan Cuma mata yang basah tapi sebadan-badan dan semotor-motor hehe). Singkat cerita keesokan harinya semua terkirim, dan sisanya saya bawa pulang.

ALASAN JADI RESELLER
Pada dasarnya saya kepingin banget punya bukunya, itu aja. *toss pada para doyan buku* hehe.
Cari cara supaya bisa dapat harga lebih murah, maka ingin jadi resellernya. Waktu jadi reseller buku nya Kang Canun dan Teh Fufu yang Rumah Tangga Surga juga, alasannya karena itu. Pengen punya bukunya. Yakin bagus jadi bisa rekomendasi ke temen-temen. Pada perjalanannya saya sempat berpikir “cuma hemat berapa doang, tapi malah jadi repot sendiri. Hihi”. Seru sih, Alhamdulillah. Bukunya kang Harri Firmansyah juga saya daftar jadi reseller karena pengen bukunya. Hehe.

TAKJUB
Yang bikin saya takjub dari para penulis itu adalah bahwa mereka suka mengingatkan para reseller untuk meluruskan niat. Niatnya untuk menjadi jalan kebaikan, menjadi penyalur informasi dan dakwah, bukan semata menjadkan mereka komoditas (yang ini mah kata kang Harri). Urusan bonus rejeki mah Alhamdulillah, tapi intinya jangan lupa.
Saya takjub sama animo followers teh kiki yang sampai saat ini masih ada aja yang pesan bukunya teh kiki. Semacam ngga ada habisnya. Denger-denger cetakan pertama buku bagian 1 aja sehari ludes 14.000 copy. Masya Allah. Semoga Allah merahmati mereka dan menjaga niat mereka, yang kegiatan menulis menjadi salah satu jalan dakwah dan kebaikannya.
Tentang isi bukunya mungkin di postingan lain ya :)


FINALLY
Buku 5 Guru Kecilku Bagian 2 masih ada. Bagian 1 sedang cetak ulang dan sebentar lagi ready. Pesanan preorder sudah berdatangan kembali, dan dahsyatnya masih terus dicari. Barakallah..
*lirik HP yang tetiba ngga bisa nyala sejak tadi* :O Ya Allah..


Jumat, 25 Maret 2016 pukul 01:09
Hajah Sofyamarwa R.

#ODOPfor99days #day24

Thursday, March 24, 2016

Setelah Membolos Kelas ODOP Tanpa Kabar Selama 36 Hari

Setelah Membolos Kelas ODOP Tanpa Kabar Selama 36 Hari


Kepada Yth.
Ketua Kelas dan teman tercinta ODOPfor99days
Di Tempat.

Hari demi hari rasa tersayat *lebay*melihat notifikasi Facebook Apps di HP dalam group ODOPfor99days selalu ramai oleh semangat konsisten dari para peserta kelas. Bagaimana tidak, per 24 Maret ini sudah masuk postingan hari ke 58, yang mana dimana saya sudah berhenti pada hari ke 22. *jelegerrr*

58 – 22 = 36.
36 hari sudah saya tertinggal kelas. Kalau ingat jaman sekolah dulu yang ada 3 cawu (caturwulan), berarti saya ibarat 1 “caturwulan” ngga masuk kelas *jelegerr
Dan belum jalan 1 caturwulan, saya udah bolos kelas. *huks*
36 hari itu, terserah bagaimana saya. Tidak ada keharusan mengejar ketertinggalan itu. Mau dianggap udah ngga ikutan lagi bisa, dan mau dianggap jadi hutangpun bisa. Tapi poinnya adalah bukan hanya hasil berupa 99 postingan, melainkan pada komitmen dan konsistensi. Sekarang sudah terlihat kan? *cry*

Keterangan Tidak Masuk Karena Alfa
Selama sebulan setengah belakangan ini saya ngga masuk hutan lari ke pantai yang ngga ada sinyal. Saya masih di perkotaan dengan sinyal yang mumpuni. Handphone sebagai alat posting ODOP pun selalu bersama saya setiap saat. Ada apa? Belakangan lagi sok sibuk belajar jualan. Mantengin line, instagram, facebook, WA dan sms buat nyari peminat barang yang saya tawarkan *KenaVirusEmakOlshop. Selain itu, saya juga masih deg-deg an karena haidar udah mulai MPAsi *ternyata jadi drama tersendiri juga*

Ketika oranglain bisa konsisten sampai hari ini, sementara saya tertinggal jauh, sejujurnya sedih. Tapi mungkin kembali lagi ke prioritas kita masing-masing ya. Hal mana yang mau diprioritaskan, hal mana yang mau ditunda dulu. Mudah-mudahan saya masih bisa akselerasi proses menulisnya.

Bertambahnya kerjaan *yang dibikin bikin sendiri ituh*, ternyata sukses membuat saya jarang pergi ke pasar dan masak buat suami. Kerasa banget deh keteterannya. Jadi sering makan seadanya, bahkan jadi beli di luar.
Yang aku ga ke pasar tadi huhu T_T” kata saya
Iya gapapa, ayang mau makan apa? ^^” kata suami
Saya suka ngerasa bersalah kalo ngga ke pasar dan ngga masak, tapi suami masiih aja nawarin saya mau makan apa. Sebenernya mungkin dia sedih juga, tapi ngga mau bikin saya sedih karena dia sedih. *Terharuu*

Ceritanya Warming Up
Dan karena ini postingannya ceritanya warming up, jadi maapkeun kalau isinya curcol semua ya. Tulisan ini dibuat hari kamis jam 23:11 ketika sang ayah dan sang bayi sudah terlelap. Ngampar di karpet ngetik di laptop. Dan hey, feeling buat nulisnya lumayan keluar lagi :D Mungkin selama ini energi ngetik panjang nya cuma buat dagang. Jadi ngga posting ODOP pake hape karena lebih tertarik buat ngetik urusan dagangan hehe. Kalo posting sih saya hamper tiap hari, tapi ngga di tagar #ODOPfor99days karena ngga merasa layak ._. harus dicoba lagi ah. Udah komitmen di awal, dan harus menghidupkan lagi budaya menulis di diri ini *selain menulis orderan wkwkw*
Wah jadi keingetan, domain www.hajahsofya.com tanggal 25 besok udah harus diperpanjang. Bung Eka Pramudita, siap-siap saya kontak buat perpanjang domain di Wide Host Media ya. Heu *tuh di endorse, Ka. hehe

Lumayan geuning, udah 415 kata. Tuh kaan, harusnya bisa. *menulis memang gampang, yang sulit adalah membuat tulisan kita layak dan bermanfaat bagi orang lain*

Udah dulu ya. Lanjut postingan selanjutnya aja J

Kamis, 24 Maret 2016
#ODOPfor99days #day23



Thursday, February 25, 2016

Siapalah Kita Ini

Siapalah kita yang masih berani bermalas-malasan dalam mendirikan shalat. Sementara di belahan dunia yang lain, seseorang telah meninggal dalam shalatnya yang khusyu.

Siapalah kita yang begitu bodohnya menunda-nunda untuk sekedar membaca alquran, sementara di luar sana, banyak orang yang telah memiliki alquran dalam hati dan jiwanya.

Siapalah kita yang berani mendahulukan kesibukan kesibukan dunia yang kita buat sendiri, kemudian mengakhirkan kewajiban kewajiban kita pada Sang Pemilik Jiwa.

Siapalah kita yang sedikit-sedikit mengeluh dengan kondisi yang menimpa kita, sementara di luar sana, banyak orang yang tak punya waktu lebih untuk sekedar mengeluhkan keadaan.

"Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang bertaqwa…”
(QS. Ali Imron : 133)

“Maka berlarilah kembali ta’at kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzaariyat : 50)

Astaghfirullah.
Kamis, 25 Februari 2016

#odopfor99days #day20
#muhasabah

Saturday, February 13, 2016

(Harus) Persiapan MPASI

Alhamdulillah.. ngga kerasa sekarang haidar udah 5 bulan, dan bulan depan udah mulai MP-ASI. Hah? Apa? MP-ASI ? :O

Horor gitu hihi.
Tarif nafas dulu..
Rada deg deg an banyak dapet cerita beberapa ibu ibu di Itbmh, saat anaknya mulai makan. GTM (Gerakan Tutup Mulut) alias ngga mau makan katanya sempet bikin nangis emaknya juga. Ckckck, saya belum tau akan seperti apa nantinya. Mudah mudahan haidar doyan makan, emaknya bisa ngasi makan dengan bener, nutrisi masuk dengan baik, dan tak ada halangan berarti. Pun kalau ada, semoga bisa melalui dengan kuat :))

Masa ASI ekslusif haidar saya masih berkutat seputar pengaturan rumah tangga (baca: keberesan pekerjaan rumah hehe). Memasuki masa MP-ASI, semoga semua pekerjaan itu tetap bisa dilaksanakan. Hihi.

****

Nah, ketika tiba hari pertama MP-ASI, apa yang harus aku lakuiiin?
Tetap tenang, hehe. Cuma bisa berbekal buku nya Wied Harry Apriadji (makanan bayi sehat alami) hadiah barter dari wulan (thankkssssss maaciiiiiih!!!), dibaca sedikit-sedikit sambil beneran dibayangin dan dihayatin. :"))

MAKANAN PERTAMA HAIDAR MAU APA?
Entah apa untuk ini saya harus rapat dulu sama paksuami untuk menentukan makanan pertama yang bersejarah buat haidar. Hehe. Tapi sebetulnya masa ASI eksklusif ini udah banyak yang masuk ke mulutnya selain asi. Entah cipratan aer mandi, air pipis sendiri (._.), dan berbagai benda di sekitaran haidar. Jadi kayanya ngga perlu rapat segala ya. Hehe

Menurut buku itu pemberian MPASI awal harus memperhatikan 2 hal, yaitu :
(1) KEENCERAN (KONSISTENSI) yang sama dengan ASI,
(2) STRUKTUR MOLEKUL mudah dicerna bayi
Dari syarat itu, maka yang cocok itu BUAH.

Sampe situ masih deg-deg an, buah apa dong? Buah nya diapain dong??
Gimana ngasiinnya ???
Habis buah apa lagi ??
(Kadang udah baca-baca tetep aja panik wkwkkw)

Tenang bund, tenang.. Hehe.
Banyak juga kok panduannya dari berbagai sumber. (Walaupun kadang jurus terampuh ya nanya-nanya ibu ibu lain hihi)

TERUS PAKE METODE APA? DISUAPIN ATO BLW?
So far, kalau metode pemberian kayanya saya masih pake yang konvensional dulu (disuapin). Kepinginnya mah makannya ga sambil jalan-jalan (usia awal MPASI emang belim bisa kucar-kacir sih hehe). BLW nya sambil jalan aja, di mix, atau semaunya haidar deh. Harus siap mental bahwa segala idealitas sangat mungkin tak bisa dilakukan, dan harus menyerah pada realitas hihi. Tapi tetap, semangat dan lakukan yang terbaiik !

*  *  *

Baiklah sekian curhat bunda muda malam ini. Hehe

#ODOPfor99days #day18

Thursday, February 11, 2016

Don't Judging Before Asking

Pernahkah kalian terlalu tergesa-gesa dalam menghakimi seseorang tanpa benar-benar memahami permasalahannya?

Hari ini saya belajar tentang itu. Saya coba tuliskan karena sepertinya ini sangat penting dalam parenting nantinya. Entah pada anak sendiri atau pada anak orang lain.

* * *

Kisah 1 - Ketika Memang Dia Bersalah

Pagi ini rumah diramaikan oleh adik-adik ipar saya. Sambil gemes, mereka sambil ngajak main haidar di bouncer. Alhamdulillah, saya bisa sejenak lepas untuk membereskan setrikaan, toh haidar juga senang main bersama mereka.

Tiba-tiba terdengar suara panik. Adik ipar saya yang masih TK itu tanpa sengaja merobek tempelan gambar hewan laut yang sengaja saya tempel buat haidar. Gambarnya pun hanya kertas HVS biasa, yang di print dan di tempel dengan solatip. Ternyata juga hanya robek sedikit, bisa ditempel ulang.

Hanya saja, saat itu dia panik. Wajahnya menunjukkan raut senyum yang merasa bersalah. Karena memang iseng, adik saya yang lainnya bilang "hayo lohh...". Setelah itu adik kecil saya langsung membela diri, "..enggak.. enggak.." adik kecil saya ini takut dimarahin.

Saya yang lagi nyetrika cuma bilang, "... ngga apa apa de, ceritain aja tadi gimana, ngga akan dimarahin kok.."
"Enggak.. tadi lagi nutupin gambarnya.. terus sobek"
"Ooh gitu, iya gapapa. Tadi lagi main sama haidar, nutupin gambarnya dan ngga sengaja kesobek ya. Gapapa, gampang nanti kan bisa ditempel lagi. Kalau rusak juga bisa di print lagi. Yang penting ade cerita aja, ngga akan dimarahin kok."

***

Kisah 2 - Ketika Ternyata Bukan Salahnya

Masih di hari yang sama. Siang itu setelah hati tenang, saya mulai menyapu. Adek kecil saya megang remote mindah2in chanel. Tiba tiba TV gada gambarnya, burem. Terus dengan tenang nanya nanyain, adek mencet mencetin apa? Dia bilang ngga mencetin apa apa. Sampai akhirnya ketahuan kalau ternyata colokan antena lepas dari TV. Nah loh, kegeser saya yang lagi nyapu dong tadi??

***

Dari 2 kejadian itu saya belajar, bahwa sebelum merespon sesuatu, kita perlu tenang. Tak perlu langsung marah atau merespon negatif dengan tergesa-gesa. Sekecil apapun respon kita, akan berpengaruh pada lawan bicara (apalagi anak-anak, terbiasa langsung dimarahi akan membuat pertahanan dirinya tinggi. Ngeles dan tidak bertanggungjawab).

Selidiki dulu akar masalahnya, pahami dulu. Jangan "nyemprot" duluan sebelum tau pasti alasan pasti kenapa kita harus marah atau menghakimi sesuatu.

Change your response, change your class :)
(Pinjem slogan butterflyact hihi)

#ODOPfor99days #day17

Saturday, January 30, 2016

Cerita Popok : 0-5 Bulan

"Terkadang kita justru diuji pada sesuatu yang kita lemah terhadapnya..."

Baru menjadi seorang ibu, segalanya juga menjadi baru. Adaptasi terus menerus dan tiada henti.

Ini cerita tentang popok. Ya, kini tak perlu kaget ketika obrolanmu justru hal-hal yang menurutmu "sepele". Dari mulai pipis bayi, pup, popok kain atau pospak, asi dan sufor, vaksin ato ga (vaksin ya), de el el. Bicara pup bayi juga ternyata bisa bikin kebakaran jenggot, panik entah pup bayi yang terlalu encer, terlalu hijau, terlalu kental,  terlalu sering, terlalu jarang, wahh.. heboh.

Haidar sekarang berusia hampir 5 bulan. Pakai popok kain, clodi atau pospak? Campur. Idealisme awal sebagai ibu ibu baru, perlahan memudar. Saya jadi inget sepekan setelah haidar lahir, saat difototerapi saya membawa bergembol popok kain dan baju ganti yang sangat banyak buat haidar. Soalnya bayi baru lahir kan pipis dan pup nya sering. Sampai di ruang fototerapi, perawat tanya, pospaknya mau dari ibu atau dari kami aja? Saya kaget (elah begitu aja kaget yak) sampe jawabnya juga aneh. Saya baru sadar, ga mungkin di rumah sakit gitu perawat harus gonta ganti popok kain haidar seharian. Saya sadar bahwa memakai pospak saat itu adalah keniscayaan. Hehe. Dan baik baik aja sih, kan gamungkin juga saya nyuci pospak di rumah sakit pas lagi riweuh. Hheu.

2 bulan setelah lahir masih pakai popok kain. Bertahan rajin mencuci dan mengucek setiap harinya. Bulan bulan selanjutnya, sering juga tambal sulam sama pospak. Pernah dilanda males nyuci? Sering, apalagi popok bekas pup. Percayalah, itu ngga apa apa banget. Semales malesnya kita, pada akhirnya akan dikerjain. Pasti.

Beberapa hari ini entah kenapa cucian pup haidar kembali banyak lagi. (Stlh usia 2 bulan, frekuensi pup berkurang, hanya sekitar 2-3 kali sehari). Agak hijau dan berlendir. (Dan saya ngga tau pasti itu kenapa, udah baca baca juga banyak faktor). Saat itu, ketika SAYA LAGI MALES MALESNYA, JUSTRU HAIDAR SERING BANGET PUP NYA :"))) hihi haidarnya ngerti ya kalo bundanya lagi males.

Seperti yang sudah saya bilang tadi, semales malesnya kita, pasti akhirnya harus dikerjain juga. Alhamdulillah siang tadi selesai :"))) hehe.

Memang sebaiknya ga ditumpuk, langsung diberesin.

Ingat, kehidupan itu naik setingkat demi setingkat. Harus lulus ujian tiap tingkatannya dengan sangat baik --bukan sekedar terlewati, supaya di tingkat selanjutnya bisa dijalani dengan sangat baik pula.

Susahnya jadi orangtua adalah karena kita adalah contoh nyata. Apa yang mau dicontohkan ke anak nantinya? Selama 24 jam 7 hari nantinya?

* * *

Intinya, nikmati aja ya, memang begitu kok. Banyak sharing sama ibu-ibu lain lumayan menenangkan :)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya;ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” 
(QS. Lukman: 14)

Frasa "menyapihnya dalam dua tahun" di ayat itui sempat terdengar sangat sederhana di telinga saya. Tapi,sekarang saya mulai merasakan "drama" nya, dan ternyata tidak sesederhana yang aaya pikirkan! Hehehe. Jadi ngebayangin dulu ortu kita gimana :O

Perjalanan masih sangat panjang, SEMANGAT!

Mangat ya buibuu baru \:D/
Kalian ngga sendiri, dan pasti bisa melaluinya dengan indah :D

#ODOPfor99days
#day16

Popok Dari Perspektif Ibu Baru

"Terkadang kita justru diuji pada sesuatu yang kita lemah terhadapnya..."

Baru menjadi seorang ibu, segalanya juga menjadi baru. Adaptasi terus menerus dan tiada henti.

Ini cerita tentang popok. Ya, kini tak perlu kaget ketika obrolanmu justru hal-hal yang menurutmu "sepele". Dari mulai pipis bayi, pup, popok kain atau pospak, asi dan sufor, vaksin ato ga (vaksin ya), de el el. Bicara pup bayi juga ternyata bisa bikin kebakaran jenggot, panik entah pup bayi yang terlalu encer, terlalu hijau, terlalu kental,  terlalu sering, terlalu jarang, wahh.. heboh.

Haidar sekarang berusia hampir 5 bulan. Pakai popok kain, clodi atau pospak? Campur. Idealisme awal sebagai ibu ibu baru, perlahan memudar. Saya jadi inget sepekan setelah haidar lahir, saat difototerapi saya membawa bergembol popok kain dan baju ganti yang sangat banyak buat haidar. Soalnya bayi baru lahir kan pipis dan pup nya sering. Sampai di ruang fototerapi, perawat tanya, pospaknya mau dari ibu atau dari kami aja? Saya kaget (elah begitu aja kaget yak) sampe jawabnya juga aneh. Saya baru sadar, ga mungkin di rumah sakit gitu perawat harus gonta ganti popok kain haidar seharian. Saya sadar bahwa memakai pospak saat itu adalah keniscayaan. Hehe. Dan baik baik aja sih, kan gamungkin juga saya nyuci pospak di rumah sakit pas lagi riweuh. Hheu.

2 bulan setelah lahir masih pakai popok kain. Bertahan rajin mencuci dan mengucek setiap harinya. Bulan bulan selanjutnya, sering juga tambal sulam sama pospak. Pernah dilanda males nyuci? Sering, dan percayalah, itu ngga apa apa banget. Semales malesnya kita, pada akhirnya akan dikerjain. Pasti.

Beberapa hari ini entah kenapa cucian pup haidar kembali banyak lagi. (Stlh usia 2 bulan, frekuensi pup berkurang, hanya sekitar 2-3 kali sehari). Agak hijau dan berlendir. (Dan saya ngga tau pasti itu kenapa, udah baca baca juga banyak faktor). Saat itu, ketika SAYA LAGI MALES MALESNYA, JUSTRU HAIDAR SERING BANGET PUP NYA :"))) hihi haidarnya ngerti ya kalo bundanya lagi males.

Seperti yang sudah saya bilang tadi, semales malesnya kita, pasti akhirnya harus dikerjain juga. Alhamdulillah siang tadi selesai :"))) hehe.

Memang sebaiknya ga ditumpuk, langsung diberesin.

Ingat, kehidupan itu naik setingkat demi setingkat. Harus lulus ujian tiap tingkatannya dengan sangat baik --bukan sekedar terlewati, supaya di tingkat selanjutnya bisa dijalani dengan sangat baik pula.

Susahnya jadi orangtua adalah karena kita adalah contoh nyata. Apa yang mau dicontohkan ke anak nantinya? Selama 24 jam 7 hari nantinya?

* * *

Intinya, nikmati aja ya, memang begitu kok. Banyak sharing sama ibu-ibu lain lumayan menenangkan :)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya;ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” 
(QS. Lukman: 14)

Frasa "menyapihnya dalam dua tahun" di ayat itui sempat terdengar sangat sederhana di telinga saya. Tapi,sekarang saya mulai merasakan "drama" nya, dan ternyata tidak sesederhana yang aaya pikirkan! Hehehe. Perjalanan masih sangat panjang, SEMANGAT!

Mangat ya buibuu baru \:D/
Kalian ngga sendiri, dan pasti bisa melaluinya dengan indah :D

#ODOPfor99days
#day16

Thursday, January 28, 2016

PREORDER Buku 5 Guru Kecilku Bagian 2 - Kiki Barkiah

"Adalah suatu kedamaian ketika dapat memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan orang lain sebagaimana kitapun berharap orang lain memaafkan kita"
- Kiki Barkiah, dalam 5 Guru Kecilku Bagian 2

* * *

Buku ini adalah buku lanjutan dari buku 5 guru kecilku bagian 1. Setelah 14000 buku bagian 1 ludes di hari pertama cetak, kini buku kedua sudah dapat kita nikmati.

Buku ini bukan cerita bersambung namun terusan kumpulan cerpen dari pengalaman teh Kiki Barkiah mengenai seputar pengasuhan anak.

Buku ini bukan buku teori parenting, buku ini adalah buku bagaimana teori parenting dapat diaplikasikan dengan penuh kesabaran dan keyakinan.
Buku ini tidak hanya memberikan teladan dalam mengatasi berbagai konflik yang spesifik seputar pengasuhan anak, namun juga memberikan hikmah yang dapat menjadi ruh dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan lainnya.
Meskipun permasalahan yang diangkat adalah seputar pengasuhan anak usia dini dan remaja.

Buku kumpulan kisah ini tidak berhubungan antara 1 cerita dengan cerita lainnya, sehingga buku 5 guru kecilku bagian 2 tetap dapat dinikmati pembaca meski belum membaca buku bagian 1.

HARGA NORMAL 80.000
PROMO : 65.000 (sampai 10 feb)

Silakan kontak
Wa 08562016256 (reseller resmi bandung)
Line hajahsofya

Tertarik menjadi reseller? Silakan ya :)

Meresapi Kenikmatan

Jadi tulisan malam ini terinspirasi oleh seorang teman yang sering membanjiri grup line angkatan dengan berbagai sticker dan komen komen ajaib yang membuat kami tak kuasa menghentikannya.  Seseorang yang pernah niat banget gali gali foto alay di fesbuk saya cuma buat ngebales komen dan ngegodain saya yang ikut-ikutan ngomong "cinq" disetiap postingannya yang murudul. Wkwkwk. Sebut saja namanya cacing (emang cacing). Saya yang ngga banyak kerjaan aja heran dia bisa komen murudul. Sakti.

* * *

Malam ini cacing ngingetin saya pada setidaknya 3 hal :
1. Belajarlah menjadi tulus (yang melihat semua dengan hati)
2. Belajar meresapi setiap kenikmatan yang hadir saat ini
3. Tidak hidup dalam ketergesaan

Mungkin sebelum ini saya belum dihadapkan pada kondisi yang membuat saya bisa memahami semua maksud-maksudnya. Bahkan mungkin, dulu saya termasuk orang sotoy yang melewatkan bab-bab semacam ini untuk segera beranjak ke bab selanjutnya.

Waktu yang kita punya, kadang rasanya "terlalu sedikit" untuk bisa benar-benar menikmati interaksi kita dengan yang lainnya. Terkadang terlalu sebentar karena hanya sekedar menyapa di saat perlu saja. Atau ahh, mungkin seringnya karena kita lupa membersihkan hati hati kita dari debu prasangka.

Kenikmatan yang dihadirkan allah pada kita sering lewat tanpa makna, tanpa rasa syukur yang sebenar-benarnya. Astaghfirullah. Padahal syukur itu menambah nikmat dan akan semakin nikmat karena Allah yang menambahkan.

Selain itu, kita sering ingin semua serba cepat. Padahal hidup bukan untuk dikejar kejar. Bukan untuk dikejar oleh masa lalu, ataupun cita-cita/target/impian yang akan datang. Kita tak bisa berlari di udara dengan kaki yang tak pernah menapak kan?

Diketik dengan relatif mudah,
Dijalankan dengan bersimbah darah
Hehe lebay

Semoga sabar dan syukur menjadi teman perjalanan

#ODOPfor99days #day15

Friday, January 22, 2016

DIY Buku Agenda Pribadi

Monthly planner 2016

Apapun di dunia ini punya sistemnya masing-masing. Bisa sama, bisa beda, tapi masing-masing akan punya ciri tersendiri. Begitu juga dengan cara kita memenej diri kita sendiri. Kali ini saya memulai dengan membahas buku agenda saya.

Saya juga bingung menyebut ini apa. Sebut sajalah buku agenda. Buku agenda ini memudahkan saya mengetahui jadwal terdekat, janji bertemu, quotes, targetan, agenda kegiatan, catatan penting lainnya atau untuk mengabadikan momen tertentu. Selain tanggalan, bisa diisi juga dengan hal lain seperti siklus menstruasi, riwayat sakit, dll. Saya membuatnya perbulan dalam bentuk tabel agar mudah dilihat saja.

Itu bikin sendiri?
Yap. Silakan anggap saya embak-embak ribet. Hihi. Tapi sejauh ini saya selalu bikin sendiri. Entah digaris manual pada kertas hvs, atau di print. Padahal yang jual jadi juga mungkin ada, tapi sejauh yang pernah saya coba, jadinya ga kepake. Semacam agak kurang pas aja dipake pribadi. Udah ada template, tapi  malah jadi males nulisnya Kalau bikin sendiri kan kerasa keringetnya juga, jadi kepake deh hehe.

Kok bikin  segala? Kan gituan ada di henpon?
Bagi saya pribadi, berbeda antara menulis di kertas asli pake pulpen dengan menulis dalam digital. Saya mungkin masih konvensional, tapi percaya ada kekuatan tersendiri di setiap pahatan tulisan tangan (wkwkwk naon)

Cara buatnya?
Saya cuma butuh kertas hvs polos (bisa berwarna juga), perekat (dobeltip solatip), bahan cover, microsoft excel, dan printer. Ditempelin Kalau kita bandingin agenda saya sejak tahun 2014, ada perubahan. Ada yang make kertas warna (spectra) ada yang pake hvs. Ada yang di print, ada yang kerajinan digarisin sendiri. Ada yang udah lecek ga pake cover, ada yang kerajinan dikasi cover. Hehe. Edisi 2016 ini pake hvs biasa, covernya pake karton bekas kado trus dibungkus pake kertas kado hello kitty (yeah!) *bahagia*

Buku agenda ini menurut saya..
Bermanfaat buat saya. Kalau bikin janji atau acara, jadi tau kapan kosong kapan lowongnya. Karena dibuat langsung setahun, kalau ada janji beberapa bulan kedepan jadi ngga lupa, tinggal catet. Kalau ada perlu buat nginget-nginget suatu hal pun lebih mudah. 

Karena dalam bentuk tabel perbulan, jadi lebih terbayang kegiatan minimal sebulan kedepan. Kegiatan juga terdokumentasikan.

Saya cuma ngebayangin 40 tahun mendatang, bakal numpuk dong itu 40 buku. Hihi. Belom sama buku catetan  saya lainnya yang segambreng-gambreng tea. (Ngga tega buangnya hihi)

Saya yakin cara saya ini bukan yang terbaik (pastiii), ini cuma apa yang saya lakuin. saya berharap banget bakal banyak yang juga sharing tentang cara ngemenej diri.
Dan kemungkinan agenda kali ini juga bakal beda dengan tahun tahun sebelumnya yang diisi dengan banyak agenda di luar. Sekarang kan udah punya haidar, jadi mungkin ga bakal sering kucar-kacir. Eh ya tapi nggak tau juga ya. Hihi.

Karena intinya bukan mengisi waktu dengan kesibukan, tapi bagaimana kegiatan yang kita lakukan bisa produktif.

*peer pribadi : membuat semua catatan dan tools menejemen diri dan rumah tangga yang sederhana. Ya, SEDERHANA. Ga belibet kebanyakan kertaaasss. Hehe

Kalau kalian gimana? Sharing dong :D

#ODOPfor99days
#day11

Isi dan cover buku agenda saya dari tahun 2014-2016

Tuesday, January 19, 2016

Kakatu, Solusi Orangtua Melindungi Anak Dari Candu Games dan Gadget

 “Saya kecanduan games sampai 2 tahun lamanya baru bisa nyelesain skripsi. Ngga kemana-mana, di rumah aja, main The Sims.”
-Ujar salah satu dari 10 pengguna pertama aplikasi parental control Kakatu.

Glek!
Terkejutlah saya mendengar salah satu permainan favorit saya disebut. Apaa? Main The Sims berlama-lama itu disebut kecanduan games juga?? Itu kan “cuma” mainan biasa, bikin keluarga, ngurus kesehariannya, desain rumah yang unyu-unyu. Dulu saya “cuma” main seharian, pake istirahat makan, begadangan main giliran, kalo libur tambah males mandi, dan komputer jadi nyala terus. Terus kalo lagi libur panjang, siap-siap main Nintendo dan sega yang kalo mau berhenti cuma pause bentar terus lanjut main lagi. Eh, yang kaya gitu termasuk kecanduan games gitu?? *panik *jadicurcol

Begitulah pengakuan bunda Dai, salah satu dari 10 user pertama aplikasi Kakatu. Bunda Dai baru benar-benar sadar untuk berhenti bermain games setelah menikah dan memiliki anak, “Entar anak saya siapa yang ngurusin, kan ngga bisa gede sendiri kaya di The Sims. Hehe.” Bunda Dai merasa sangat terbantu dengan adanya aplikasi Kakatu. Bunda Dai pernah menemukan anaknya menangis saat pegang HP, ternyata sang anak tak sengaja meluncur ke YouTube dan terpasang film hantu. Ya, Kini bahkan anaknya akan menangis kalau aplikasi kakatu pada smartphone ibunya tidak aktif.
* * *

Apa sih Aplikasi Kakatu itu?

Kakatu -seperti disebutkan dalam aplikasinya-, adalah sebuah aplikasi parental control yang berfungsi untuk membatasi dan mengedukasi penggunaan gadget anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan bijak dalam menggunakan gadget di era digital saat ini. Aplikasi yang awalnya bernama Kockatoo ini memiliki berbagai fitur, seperti : (1) pembatasan aplikasi apa saja yang boleh diakses anak dengan bebas; (2) Pembatasan Waktu, agar anak tak berlama-lama bermain sampai melalaikan dirinya, (3) Pengecekan Aktivitas Anak, apps apa saja yang dibuka, (4) Lihat Lokasi Anak, dan (5) Pembatasan Kontak.  

Tampilan Kakatu Apps. Pembatasan Aplikasi, pembatasan waktu dan yang menarik ada pesan yang bisa dimunculkan sebagai alarm dalam bentuk teks, suara atau video
Saat masuk aplikasi ini kita diharuskan registrasi diri dan anak. Kakatu sudah mempersiapkan banyak hal dengan baik. Missal ketika saya mau mendaftarkan usia anak saya yang baru 4 bulan, kakatu bilang “Anak anda masih berusia di bawah 3 tahun, sehingga tidak diizinkan untuk menggunakan gadget.” Hihi.


Tampilan Pemilihan mode pada kakatu apps, pin, dan penggunaan aplikasi
Ada 2 mode saat kakatu aktif : Mode Orangtua atau Mode Anak. Saat mode anak aktif, anak tak bisa mengganti pengaturan karena harus memasukkan nomor pin.
Sederhana, menghemat waktu dan tenaga serta membantu para orangtua agar anak tak berlebihan dalam bermain gadget.

Siapa Di Balik Kakatu


8 orang muda kreatif dalam tim Kakatu
Muhamad Nur Awaludin adalah salah satu founder Kakatu, yang berbagi kisah tentang masa lalunya sebagai seorang pecandu games. Mendapat banyak masukan dan pencerahan setelah mendengarkan petuah dari sosok Ibu Elly Risman Sosok berbadan imut-imut yang lebih akrab disapa mumu itu mengaku sudah mengenal game sejak kelas 4 SD. Adiksinya pada game terus berlanjut hingga SMA dan mengantarkannya pada berbagai perilaku tak baik. Mulai mencuri, berbohong, terpapar konten pornografi, bahkan “berjudi” untuk sekedar mendapat tambahan uang untuk beli voucher. Semua terjadi setahap demi setahap, padahal waktu kelas 2 SD sempat jadi Juara MTQ Se Kecamatan! Kebayang ga? Nah, tahun 2016 ini, mulai usia berapa hayo anak-anak terpapar game dan gadget? Terus kadang kita suka ngasih pinjem aja ngga pake mikir?

Kesepian. Ya, ia dihadapkan pada kondisi kedua orangtua sibuk bekerja. Merasa lebih dihargai, dibutuhan dan diterima di dunia games daripada di kehidupan nyata. Dan ketika Mumu pindah ke kota dan tinggal dengan saudaranya, mumu merasa BEBAS, ya, BEBAS!

Level candunya bahkan membuat mumu tak khawatir bila tertabrak bus, “toh masih ada 1 nyawa lagi”, kenangnya. Untung supir bus ngga mikir yang sama “tabrak aja da masih bisa idup lagi.’ Hihi

Masa SMA, pernah semakin tak peduli ibadah, semakin tertutup, kesehatan menurun dan berhenti sekolah setelah lulus. Ingin berubah, Mumu mencoba kuliah di kampus swasta yang katanya ngga ada Test (padahal ada juga! hehe). Bekerja sampingan juga menjadi salah satu pengalihnya dari dunia games. Perjalanan panjang Mumu jadi pelajaran yang sangat berharga. Bagaimana tidak, Mumu baru benar-benar sadar setelah ibunya meninggal.
* * *

MITOS SEPUTAR PEMBERIAN GAMES PADA ANAK

Waspada kalau kalian masih punya pemikiran seperti ini :
1.      Daripada anak mabok, stress gajelas, mending maen game aja dirumah. Bener sih. Game apa dulu, trus mainnya didampingin atau dibiarin?
2.      Cuma maen game doang ini kok. Ingat anak-anak lebih mudah merekam dan meniru. Dan, mainnya udah berapa lama?
3.      Di rumah ini kok, jadi bisa diawasi setiap  saat. Emang kita standby terus? Itu kerjaan rumah emang ga numpuk? Terus itu konten gamenya emang kita pantau terus seluk beluknya?
4.      Mana bisa anak lepas dari gadget? Emang susah ya, ortunya juga gabisa lepas dari gadget *jleb
5.      Bener kan anteng kalau dikasi game. Yaiyalah anteng! Enak kan kita jadi ga pusing?

PENGETAHUAN TENTANG GAMES

A.     Media games secara general :

1.      Console games (biasa dihubungkan ke TV) : Nintendo, Nintendo Wifi, PC, Sega, Playstation, Xbox
2.      PC Games : PC, Laptop
3.      Mobile Games : Handphone, tablet, ipad
4.      Handheld Games (di console portable) : PSP, Nintendo, N-Gage

B.      Genre game dan level adiksinya:

Kategori SANGAT
RPG (Role Playing Games) : Dota2, World Of Warcraft, Ragnarok, League Of Legends, Final Fantasy
RTS (Real Time Strategy) : COC (Clash of Clans), Warcraft, Command and Conquer
Game Shooter : Point Blank, Counter Strike, Call Of Duty, Conflict Vietnam

Kategori SEDANG
Game Adventure : Devil My Cry, Assasins Creed, Tomb Raider, God Of War, Resident Evil
Game Racing : Need For Speed, Burnout, Sirt 2, Asphalt
Fighting Game : Smack Down, Mortal Kombat,
Arcade : Tetris dan Zuma, Temple Run, Angry Birds, Flappy Bird

Kategori KURANG
Sport Game : Sepak Bola, Winning Eleven, PES, FIFA, Tenis, Basket
Edugames : Duolingo (bahasa), Toddler Kids Puzzle, game belajar mewarnai, mengenal binatang dsb

(The Sims di genre mana ya? Hihi. Kategori manapun, kalau melalaikan berlebihan berarti adiksi juga sih ya. Tapi kan the sims bagus mengasah jiwa interior desain kita wkwkw *tetep)

C.      Rating Game ESRB – Entertainment Software Rating Board (di USA)

Sebenernya ya semua games ada peruntukkannya. Mana game yang kontennya cocok dengan usia pemain. Nah kadang kita kurang aware sama rating itu. Contoh kecil aja, jaman SMP SMA dulu saya main GTA (Grand Theft Auto) karena liat kakak main itu. Biasa aja mainnya juga, ngerampok mobil orang, nembakin, ngambil uangnya, *biasa dari manaaa* Pas saya ngajar di sekolah kelas 2 SD, denger cerita pagi katanya pas libur ada seorang anak main itu seharian. Kaget dong, padahal GTA ini termasuk game “keras” dan masuk kategori rating M alias Mature 17+. More info cek www.esrb.org (fyi, ini ada esrb rating search app nya juga loh yang bisa di download gratis).
 

Ciri Games yang Menimbulkan Adiksi

1. Dapat bermain secara berkelompok
2. Terdapat level challenge, quest, reward, dan experience point
3. ada ajang tournament mengenai game tersebut
4. banyak orang mengetahui game tersebut
5. bersifat dinamis secara gameplay dan umumnya game online
6. memiliki storyline/ cerita yang menarik

* * *
“Kakatu hanya bisa sedikit membantu para orangtua, tapi tetap tidak bisa menggantikan kehangatan kasih sayang kita sebagai orangtua.”

Bahaya yang paling besar bukan anak akses pornografi atau main game seharian. Tapi bahaya yang tidak pernah orangtua sadari bahwa itu adalah bahaya 
-Bu Elly Risman

 Teknologi adalah penunjang masa depan dan dibuat untuk membantu memecahkan masalah setiap orang. Tetapi pengasuhan orangtua tetap tidak dapat dipindah tangankan terhadap canggihnya teknologi
-mumu


Materi diresume (dan sedikit ditambahkan) dari acara Peluncuran GGS (Gerakan Gadget Sehat) dan Seminar Parenting “Kiat-kiat Memahami dan melindungi anak dari Bahaya dibalik Kecanduan Games” yang diselenggarakan oleh Kakatu dan YKBH (Kamis, 14 Januari 2016) di Auditorium Ged. FK UNPAD Jl. Eyckman 38 Bandung

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...