Tuesday, June 16, 2015

Ironi Sebuah Media Sosial

Media sosial kini menjadi suatu hal biasa. Kalau dahulu orang bilang "setiap bayi lahir akan bersamaan pula dengan qarinnya", maka jaman ini boleh jadi akan berganti menjadi "setiap bayi yang lahir, akan bersamaan pula dengan akun facebook, twitter, dan instagramnya"

Ya, semua orang kini sudah bisa mengaksesnya, menggunakan sebagaimana yang ia inginkan. Tak ada lagi sekat antara si orang biasa dengan orang ternama, antara para fans dengan seleb idolanya, antara pejabat dan rakyat yang diwakilinya.

Dengan media sosial, berbagai prestasi dapat kita apresiasi, namun dengan media sosial pula lah, setiap orang serasa punya hak untuk saling menghujat apa-apa yang tidak sesuai dengan diri pribadinya.

Dengan media sosial, solidaritas kemanusiaan dapat dirasakan, namun dengan media sosial pula lah berbagai bentuk kejahatan bisa bermula.

Eh, panjang sekali prolognya,
Aku hanya ingin bilang, bahwa salah satu ironi media sosial adalah :
"apa-apa yang mereka sebarkan belum tentu bersesuaian dengan apa yang tengah mereka alami. Ada kalanya seolah bersedih, namun nyatanya tetap tegar di dunia nyata. Ada kalanya seolah bahagia, namun nyatanya sedang bermuram durja."

Ya, karena kehidupan tidak selalu menawarkan kepastian. Pagi tak selalu sama dengan siang, siang tak selalu sama dengan sore, sore tak selalu sama dengan malam.

Mari pergunakan media sosial dengan bijak, #ntms
Mari berbaik sangka dengan kawan di media sosial kita, #ntms
Mari doakan keberkahan hidup kawan kawan yang muncul di timeline kita. #ntms

De Marrakesh
Selasa, 16 Juni 2015
H-1 Ramadhan, barakallah. Semoga dimudahkan dalam berbuat amal kebaikan :)

[Our Marriage Story] Lamaran Resmi Keluarga Besar


1 September 2014
Serangan Negara Api dan Kerja Rodi

Akang tahu, belakangan ini rumah kami habis diserang “Pasukan Negara Api” yang membuat kami harus membereskan seluruh jengkal demi jengkal yang ada di rumah. Dari mulai perbaiki plavon, menambal yang bocor, mengecat genteng, mengecat seluruh dinding rumah. Tak perlu kaget karena kini rumah kami dominan berwarna pink! Ya, pink kang! Sebagai penyuka warna pink, aku GR (hihi, karena yang lamaran fya, jadi cat nya warna pink heu). Tapi toh katanya rencana cat ulang ini sudah dari lama, jadi bukan karena ada keluarga akang yang mau datang ke rumah. Hihi, tak tahu juga, yang penting insyallah membuat yang hadir lebih nyaman.


7 September 2014
Dan maksud baik itupun disampaikan.

Ini sudah 2 bulan 3 pekan sejak kali pertama kau mengutarakan maksud baikmu. Alhamdulillah, akhirnya kita dapat melaksanakan langkah selanjutnya, khitbah formal yang mempertemukan dua keluarga besar. Allahu Akbar!

Aku bingung harus pakai baju apa. Kebaya rapi terencana seperti yang terlihat di berbagai blog? Ah tidak, aku tak menyiapkan ini. Agak konslet mungkin otakku yang ingin tampil sederhana saja. Akang tahu, untuk ini pun akhirnya aku menurut untuk pakai baju saran kakak (si mbov). Adik (ifa) dan kakak perempuanku yang menambahkan kesemarakkan make-up pada wajahku, di tambah dua keponakan yang tak hentinya bilang “ciyee, tante fya mau dilamarr!!”. -_-“

Bagiku hari ini bukan hari biasa, dan tiada maksud membuatnya menjadi terlalu biasa. Sehari-hariku juga bukan tak pernah sepiawai adikku bermake-up. Hanya saja, aku tak ingin terlalu sering menampilkan wajah make-up ku, dibanding wajah asliku, kepadamu. Toh nantinya kau kan harus bersabar dengan wajahku yang itu-itu saja kan setiap harinya?  Kalaupun harus berias cantik, pasti ada lah masanya, kalau sudah halal ya? 

Kau dan keluargamu datang tepat waktu, ya begitulah perbedaan kau dan aku. Hehe
Kupinta kau jalan perlahan saja agar tak perlu sampai pada waktunya. Ya, kami masih mempersiapkan banyak hal! hehe. Perdebatan waktu menggoreng ayam, kue yang belum dibeli, dan terutama bertabuhnya genderang di jantungku. AAAAAAAAA! Hehe

Tak hentinya seluruh anggota badanku bergerak, aku hanya bingung harus melakukan apa. Mereka bilang : “Udah, tenang aja, ngga usah keluar dulu.” Kalau kau mau tahu, untuk hal ini saja aku harus menanyakannya pada sahabatku. Kupasang kedua daun telingaku, serta sebuah alat perekam untuk mengabadikan apa yang terjadi, hanya dari balik gorden di kamar sebelah.

Akang tahu, aku bingung setengah mati harus menjawab apa! Aku bahkan lupa menyiapkan jawabanku. Entah keywords apa yang kucari dari mbah google. Ya, aku bingung nanti harus menjawab apa! Aku hanya bisa bilang :
Bismillah, insyaallah iya.”

Tak berani mataku menatap akang. Aku hanya ingat kaus kaki hitam yang kau pakai dan jambul pada rambutmu yang sekilas saja kuperhatikan.

Bersyukur sekali bahwa banyak sanak saudara yang turut datang membantu. Apalah jadinya kami tanpa mereka. Ungkapan terimakasih yang tak hingga juga tentu harus terhaturkan pada keluarga yang mendukung dengan segala caranya, yang berucap dalam doa yang sampai tak tidur untuk terus membuat rumah ini lebih terasa seperti rumah yang nyaman.

Suasana "Lamaran" Keluarga Besar (captured by my lil sister, burem yak hihi)
utfit lamaranku yang nge-rental dari si bov (kakak) -_- hehe (captured by : my lil sister)


9 September 2014
Cincin yang sudah bermerek.

Sudah lewat 2 hari, aku cukup tersanjung mengetahui akhirnya kau juga sudah mengenakan cincin. Maaf karena kau harus membelinya sendiri, serta memakainya sendiri.
Kupandangi setiap detail cincin yang ada di jari manisku, dan tebaklah apa yang baru saja kulihat!
Namamu sudah terukir disana!

Hehe, maaf ya baru sadar :’)


Rabu, 24 September 2014
Penentuan Tanggal Pernikahan

Kang, sejujurnya fya ngga terlalu tahu persis bagaimana cara menentukan tanggal pernikahan. Setelah lamaran, kedua keluarga kita memang belum membicarakan tanggal. Lalu siapa yang harus memutuskan? Harusnya pas lamaran kemarin ya, pas seluruh keluarga kumpul, jadi bisa dipastikan tanggal terbaik yang seluruh keluarga bisa hadir. Tapi kan waktu itu belum dirumuskan.. ckckck hadeuuh T_T
 


* * * *
sedikit 'bonus' lintasan pikiran mengenai lamaran, saat itu.


Tentang Lamaran

Sungguh, ingin kunasehatkan padamu untuk mengalami berbagai pengalaman dengan penuh kesadaran. I’m totally blank about it. Hehe

Saya sempat bingung antara khitbah, pinangan, lamaran. Apa bedanya? Ketika seorang laki-laki sudah menyampaikan maksud untuk serius menikahi kita, sebetulnya sudah jatuh khitbah. Ketika seorang laki-laki datang ke rumah, bertemu dan menyampaikan maksud kepada orang tua kita, itu juga sudah khitbah. Dalam islam, laki-laki tak perlu bersama walinya untuk meminang seorang perempuan. Hanya entah kenapa di Indonesia ini, ada semacam formalitas, yang kita sebut Lamaran.

Dulu sekali waktu pernikahan belum saya pahami, saya pernah ikut lamaran saudara sepupu. Kami datang sebagai keluarga pihak laki-laki, mengiringi untuk melamar seorang perempuan. Tahu kah apa yang ada di  benak saya saat itu?

“Ngelamar kaya gini teh harus janjian dulu atau boleh surprise ujug ujug sih?
Bukannya kalau pakai janjian dulu mah udah bakal pasti diterima? Terus kenapa pakai basa-basi ‘sok sok nanyain pinangannya diterima ato enggak?’? Terus perempuannya dandan cantik pake baju bagus, rumah dirapiin, makanan disediain.”

*minta dilempar sepatu banget ga tuh?
Dasar ya, masih pikiran bocah banget..

Secara islam memang tak perlu seperti itu, karena Allah memang begitu memudahkan umatnya. Islam itu memudahkan kok. Lantas apa harus ‘berpesta’ dengan sebuah prosesi lamaran? Pakai tenda di depan rumah , sedia makanan melimpah, mengundang seluruh keluarga, kerabat dan tetangga? (saya enggak gitu sih hehe) Kalau milyuner sih ngga usah pusing-pusing ya, da uangnya pabalatak hihi. Yang harus dipertimbangkan adalah, setelah ini akan ada fase-fase lainnya yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Yang terdekat ya walimah, namun yang terpenting adalah kehidupan paska walimah, alias real life sebagai keluarga muda yang belum banyak punya apa-apa hehe.

Hanya sekarang saya coba memahami bahwa hal-hal semacam itu punya maksud baik. Sebelum lamaran (formalitas itu),  tentu sudah ada pembicaraan sebelumnya, dan secara implisit maupun eksplisit, pasti lamaran diterima. Segala persiapan itu semacam warming up bagi kedua keluarga untuk menuju tahap selanjutnya. Bukan maksud memamerkan atau sekedar publikasi awal, tapi dari silaturahim itu akan muncul nasihat-nasihat, dan seluruh keluarga besar akan mulai memposisikan diri kita sebagai keluarga muda. Sekali lagi ingat, Karena pernikahan bukan hanya tentang dua orang saja, tapi seluruh keluarga besar. Hakikatnya memang hanya akan berdua menjalani hidup, tapi seiring berjalannya waktu, peran sanak saudara pasti akan terasa juga.

Soalnya saya sempat ngga paham, sempat hanya memikirkan bahwa cukuplah keluarga inti saja yang menghadiri lamaran. Gonjreng~ (dasar boloho -_-). Inti lamaran justru sebagai salah satu sarana untuk saling bersilaturahim kedua keluarga, jah! hehe

Jadi tak perlu ‘kesal’ dengan proses lamaran yang terkesan ribet ya? Insyaallah kalau kita bisa mengambil hikmah, manfaat dan pelajarannya, kita akan sangat bersyukur.
Betul? Ada masukan lain?


***** Tulisan ini semacam diary pranikah, dibuat beberapa saat setelah kejadian berlangsung :) *****


previous post
1. Siapkanlah (Juli 2013).
2. Pertanyaan Yang Mengawali Segalanya (Juni 2014).
3. Gonjang-Ganjing Masa Penantian, Sebelum Pinangan  (Juli-Agustus 2014)

next post
5. PIkiran-pikiran yang Belum Terselesaikan (Okt-November 2014)

Monday, June 15, 2015

[Our Marriage Story] Gonjang-ganjing Masa Penantian, Ketika Pinangan Belum Tersampaikan



28 Juli 2014

Dream of You

Ini sudah kali ke empat aku memimpikanmu.
Ditambah kau mengirimkanku gambar dengan sebuah tulisan “Let’s Get Married, and Go to Paradise” :O heyaah
Ya Allah..Semoga Allah menambah keberkahan dalam setiap detik masa penantian kita. >,<

Dan kau tahu? Kuperhatikan diri ini selalu menunggu kabar apapun terbaru dari mu. Ya, setiap saat mengecek ponselku, itu yafng kutunggu. Padahal demi Allah, mungkin bukan aku yang sedang dipikiranmu. Bahkan mungkin kau sedang menghabiskan waktu penuh manfaat dengan sanak keluargamu di sana.

Kau sering mengekspresikan perasaanmu, seperti yang kukatakan padamu, aku sangat tersanjung karena itu. Ingin sekali kubalas dengan sesuatu yang setimpal, yang mungkin akan membuatmu merasakan hal yang sama. Ya, itu sangat bisa kulakukan. Tapi Demi Allah, aku takut itu menjadi penghilang dari keberkahan-keberkahan yang kita inginkan.

“Intensnya komunikasi tak menjamin kau akan jadi suami istri kelak” –Zaky nya Pipit

Kau bahkan belum resmi melamarku kan?
Rasa-rasanya ini akan menjadi kepingan hari yang panjang.. >,<

Wonosobo, 28 Juli 2014



29 Juli 2014

Mama said that..

Pagi ini sepupuku bertanya tentang proses kita. Sambil tersenyum malu aku mencoba menceritakannya. Di tengah perbincangan, kudapati suatu fakta mencengangkan. Mama berkata “Masa pas lebaran haji? kan persiapan dulu, bisa tahun depan..”

Aku hanya mencoba menjelaskan bahwa itu perkiraan bapak, dan BUKAN berarti aku begitu ngebet ingin cepat-cepat. Aku hanya menegaskan, bila memang tidak tahun ini, maka akan kupersilakan akang untuk mencari yang lain. Aku percaya ada keberkahan dalam menunggu, ada keberkahan dalam kesabaran. Namun, aku juga tak mau mengotori hati sepanjang tahun, memikirkan akang lalu lalang di pikiranku terlalu lama tanpa kehalalan ikatan.

Ya, mungkin beliau belum mengerti. Meskipun aku juga tak tahu sampai kapan beliau akan sekedar mencoba untuk mengerti. Hanya saja aku tak bisa menerima kalau alasannya (lagi-lagi) hanya seputar uang dan uang. Aku mengerti, persiapan materi untuk sebuah acara pernikahan bukan suatu hal sepele, ditambah adanya keinginan untuk mempersembahkan yang terbaik, tentu memang tidak sepele.

Aku juga paham semuanya butuh persiapan, tentu saja. Mungkin harus aku tanyakan dengan detail padanya, hal apa apa saja yang harus dipersiapkan.

Kalau memang tak jadi tahun ini, kupersilakan akang mundur saja dan berproses dengan yang lain. :’(

* * *
Dan tepat setelah selesai menulis ini, akang menghubungi ku, mengajak diskusi tentang psikologi suami istri. Ah Andai kau mengerti bagaimana rasanya..
T_T


2 Agustus 2014

Kapan kau lamar aku?

Perjalanan ke jogja kemarin ditemani iringan lagu norak yang sepanjang putaran albumnya kuhina-hina. Liriknya, sesuatu. Kok rasanya seperti tak ada keindahan dalam penyusunan liriknya. Masa ada perempuan nanya ke pacarnya, “kapan kau lamar aku ke orangtuaku? Aku tlah cinta mati padamu.” Hehe -_-
Percayalah aku hanya bisa tersenyum dan mengiyakan karena merasa terwakili lagu norak itu. Yaa walaupun cinta mati nya sih belum. hehe
Baca judulnya, anggap saja ini tulisan lucu-lucuan. Sudah, jangan ditertawakan, dong.


3 Agustus 2014

Berharap menjadi pembuka segalanya.


Sudah lebih dari sebulan sejak pertama kau menanyakannya padaku. Maka kini aku mengerti bagaimana ”tersiksa” nya seorang insan yang dirundung kerinduan. (-_-‘) Hemm.. Baiklah aku tahu aku terlalu berlebihan dalam mengatakan ini. Hehe.

Keputusan ini –untuk berproses denganmu— kuakui sebuah keputusan yang multidimensi. Ya, tentu setiap orang tahu bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua orang anak manusia. Pernikahan melibatkan dua keluarga yang akan semakin rekat ikatannya, yang dari sanalah, muncul dukungan kuat membangun satuan unit peradaban. Sekali lagi aku mohon maaf karena sering membuatmu menunggu. Aku selalu membuatmu harus bersabar dengan apa-apa yang kulakukan.

Keputusan ini, kuharap menjadi sebuah pembuka gerbang, pemecah gunung es (seperti yang kau bilang), atas apa-apa yang ada pada keluargaku. Mungkin aku terkesan egois karena ada yang ingin kuselesaikan dulu di bawah atap rumahku, tapi percayalah, aku melakukannya sebagai bagian dari cita-citaku bersamamu.

Keputusan ini, memberikan energi lebih padaku untuk berbicara dengan orangtuaku. Si bocah kanak-kanak ini, jadi semakin belajar bahwa cinta itu peduli, bahwa cinta itu tidak membiarkan semua berlarut larut.

Keputusan ini, membuatku menjadi seorang yang lebih berani untuk mengerjakan cinta pada yang seharusnya kucintai lebih dahulu. Ucapan terimakasihku tak akan sanggup menggantikan kebaikanmu.

Mengapa lama sekali pulang ke bandungnya.. hehe
Wonosobo, 3 Agustus 2014


4 Agustus 2014

Jadi lama sekali, ya?


Tanggal 16 nanti kami kembali ke jogja, Alhamdulillah adik semata wayangku di wisuda pada tanggal 19. Itu berarti harus semakin bersabar untuk yang ditunggu-tunggu. Bisa jadi 23 Agustus atau bahkan 13 September katanya. Itu berarti 3 atau 6 pekan lagi.

Bersabar dalam penantian, insyaallah akan indah pada waktunya.
Sama seperti hari itu, perjalanan pulangku diiringi dengan shaum syawal dan godaan remeh limpahan makanan. Insyaallah, akan berbuah indah pada waktunya :”)

5 Agustus 2014

Tetiba ingin semua diakhiri



Memang hanya Allah lah sang Maha Pemilik Hati..
Kuselesaikan amanahku yang terkait denganmu ini, ah tapi mengapa aku jadi sangat benci dengan ini semua.
Seketika aku ingin ini semua diakhiri T_T

Ini amanah pilihanku, jauh sebelum kau menanyakan hal itu padaku. Betul aku serius.
Kuakui memang ada kalanya aku berfikir bahwa amanahku ini akan membantumu nanti, kelak.
Tapi demi Allah, aku tak mau amanahku hancur karena ada kamu pada niatku.

Mungkin karena harus menunggu terlalu lama,
Ah Ya Allah, berikah keberkahan dalam masa menunggu kami
Berikan yang terbaik..
Aamiin..

7 Agustus 2014

Tak perlu mencurahkan apa yang memang belum saatnya dicurahkan



Setelah kusadari sejauh ini, ternyata tak ada hari tanpa sekedar chating denganmu. Maha besar Allah yang mengingatkan hambanya dengan berbagai cara :
“Tak perlu menumpahkan apa yang sebenarnya memang belum tumpah, tak perlu mencurahkan apa yang memang belum saatnya.”
Itu cukup bagiku agar tak “tergoda” untuk sekedar menyapamu.

Pinangan belum disampaikan saja godaan banyak sekali ya?

Ada yang selalu memahamiku lebih dari siapapun, tanpa aku perlu berkata-kata padanya
Ada yang bila ku dekat dengannya malah justru membuatnya terbakar
Ada yang diam diam terus kuperhatikan selama ini
Ada yang diam diam terus kuharapkan.

Semoga Allah mengampuni.


previous post
1. Siapkanlah (Juli 2013).
2. Pertanyaan Yang Mengawali Segalanya (Juni 2014).

next post
4. Lamaran Resmi Keluarga Besar (September 2014) 

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...