Tuesday, March 31, 2015

Kantung Keresek dan Niat yang Sekedar

Saat membeli sesuatu, seringkali barang tersebut dibungkus dan dijadikan satu dengan sebuah kantung keresek. Setelah barang dipakai, keberadaan kantung keresek pun tak begitu penting lagi adanya.

Bukan, saya bukan mau kampanye hijau atas penggunaan kantung keresek yang berlebih. Hehe.

Coba lihat koleksi tas kita yang mungkin jumlahnya lebih dari 1. Terkadang sebelum pergi kita sempat memikirkan, akan pakai tas yang mana ya? Terlebih lagi wanita, ujung kerudung sampai sepatu kan harus match.

* * *

Keresek hitam itu kulihat tergantung di bahu bocah lelaki itu. Tampak terikat kuat dengan seutas tali rapia biasa, diselempangkan dan terisi barang dagangan. Barangkali tissue, ya, seperti apa yang memenuhi kedua tangannya. Matanya awas, sembari sigap selap-selip di lalu lalang kendaraan di jalanan yang padat merayap.

Hanya 2 ribu rupiah dijualnya, tak jauh berbeda dengan harga pasaran. Aku tiba tiba ingat pada anak lain yang menjual barang semacam itu dengan harga 5 ribu rupiah. Ah, anak ini polos sekali.

Terbersit niat untuk membantu membelinya. Toh barangnya dibutuhkan dan harganya normal. Tapi tiba tiba lampu menyala hijau, dan semua menjadi harus berjalan serba cepat.

Ah, dasar aku ini, niat hanya tinggal niat.
Tanpa keteguhan hati melaksanakannya, niat hanya sekedar niat. Tapi tak apalah, kita tahu niat baik akan membekas di hati kita. Semoga lebih banyak lagi niat kita yang terlaksana.

De Marrakesh B3 18, dituangkan 5 April 2015

Friday, March 20, 2015

A Home Team (2) - Dodik Maryanto

Postingan lanjutan dari kulwapp IIP Bandung bersama Pak Dodik Maryanto : A Home Team

7⃣ Dalam sebuah team smua punya peran yang berbeda2. Mnrt ibu/bpak, apa msing2 peran utama ayah,ibu dan anak dalm keluarga untuk membentuk tim yg solid? terimakasih.
-Shofi-IIP bandung-
7⃣ bunda Shofi, yang kami lakukan di rumah. Ayah berperan sebagai leader, ibu manager, dan anak-anak sebagai partner. Itu dalam keseharian. Tetapi kami juga memiliki sarana latiham berganti peran saat mengerjakan projek keluarga. Saat projek A dengan pimpro si kakak, maka kakak sebagai leader ayah bisa sebagai partner. Begitu seterusnya. Itu yang kami namakan management DONAT✅

8⃣ Ayah saya punya karakter yg kuat. Dan saat marah kata2 beliau seringkali menyakiti hati, baik kepada ibu maupun saya dan anak2nya yang lain.
Walaupun saya sudah hafal karakter beliau dan tetap menyayangi beliau, tetap saja sulit menghadapi karakternya.
Bagaimana cara menghadapi dan membangun komunikasi dengan pasangan/orang tua yang mudah berkata tajam saat sedang emosi?
Yulia - IIP Bdg

8⃣ bunda Yulia, kalau karakter tersebut tidak bisa diubah, maka tugas kita hanya mendengarkan tanpa haris melawan, saat beliau marah. Jangan hadapi api dengan api. Dan pahamilah saat marah , nalar tidak berjalan dengan baik. Setelah itu maafkan, terima, ajak untuk berbicara saat cooling down. Nanti anda akan menjadi anak yang luar biasa. Sebentar bola bekel yang dilentingkan ke lantai keras, bakal melambung tingi✅

9⃣ Bu Septi/Pak Dodik
Bgmn pola pengasuhan anak saat ekonomi sulit shg ayah dan ibu sibuk bekerja mmnuhi kbutuhan?
-nurmalia IIP Bdg-
9⃣ bunda Nurmalia, saat Allah memberikan kondisi tersulitan di kehidupan kita, yakinlah bukan kita yang sedang diuji, tapi Allah sedang memuliakan anak-anak kita dengan caranya. Maka mereka harus dilibatlan dalam pembicaraan , meski tidak harus detail. Ajak mereka mengikuti prosesnya. Dan selalu cek apakahnkemuliaan anak naik? Kalau ya lanjutkan. Tapi jangan pernqhnmeninggalkan mereka dengan alasan ekonomi✅

🔟 Apakh transfer of feeling dilakukan setiap hari?adakah waktu khususnya?apakh pertanyaannya hanya itu2 saja?dan jika itu sdh berhasil dilakukan,apa yg selanjutnya sy lakukan u membentuk hometeam yg sy impikan?
-Zahra, IIP Bdg-
🔟 bunda zahra, komunikasi akan berkembang seiring jam terbang. Jadi anda mulai dulu yang pertama, nanti Allah akan memberikan ilmu berikutnya. Yakinlah. Just DO it✅

1⃣1⃣ Assalamu'alaikum...bu septi, kadang ketika kami sedang berkumpul, suara saya dan suami kadang tidak sinkron, bagaimana caranya kami kompak.  Trima kasih.
-Dewi-
1⃣1⃣ bunda Dewi, sinkronkan dulu di kamar, perbanyak komunikasi dengan suami berdua. Sehingga kalau bapak bilang A ibu juga akan bilang A. Kalau saat life diskusi dengan anak-anak diantara anda berdua ada yg tidak xoxok, salah satu harus silent. Tapi kalau topiknya debat keluarga😊 boleh sekali-kali diadakan silakan debat scr rasional jgn emosional✅
1⃣2⃣ Pertanyaan
Bagaimana cara menghadapi orang tua yang tinggi sekali tingkat intervensinya hingga urusan makan apa pun diintervensi dan memiliki karakter selalu benar?
-Ririn-
1⃣2⃣ bunda Ririn, sekali-kali anak boleh menyampaikan ketidaksukaam terhadap intervensi ortu. Bicarakan baik-baik, dan minta mereka mendengar. Usulkan ada satu hari suara anak, dan selebihnya ortu boleh bersuara. Buat kesepakatam keluarga hal-hal apa yang membuat semua orang  merasa nyaman✅

1⃣3⃣ Assalamualaikum..
1. Bagaimana berkomunikasi dlm keadaan marah?Memang diam lebih baik dilakukan ketika marah,tp kadang suka gak bisa.Alih alih jadi menyakiti pasangan atau anak?
2. Dalam berkomunikasi dengan suami,saya suka sulit mengartikan maunya.Karena tidak to the point. Bilang A tp pengennya B. Sementara saya mengartikan A..Akhirnya gak mudeng deh jadinya.. Bagaimana ya mengatasinya?
-Mirayana-
1⃣3⃣ bunda Mirayana, jangan hadapi marah dengan marah, karena marah itu api, maka pasangan harus bisa menjadi air. Maka kalau pasangan kita marah, segeralah minum air dan jangan ditelan, itu sebagai latihan di awal. Kalau pasangan sudah selesai marah, baru telan airnya😊
2. Kumci komunikasi itu 2 C yaitu clear dan clarify, jangam sungkan untuk mengklarifikasi pernyataan suami. Kemudoan baru lanjutkan pembicaraan selanjutnya✅

* * * alhamdulillah, selesai :) * * *
Semoga bermanfaat :)

A Home Team - Dodik Maryanto (Kulwapp IIP Bandung)

'A' HomeTeam
Resume Kulwapp IIP Bandung 2
Narsum : Dodik Maryanto
Admin : shona Vitrilia
Host : Zakia Mutmainnah
18 Maret 2015

Kita mulai dengan melihat beda antara 'kerumunan' dan 'team'.
Saat jalan-jalan pagi dan melewati sebuah pasar kaget, apa yang Bunda dapati?

Sekumpulan orang, ada yang heboh menawarkan barang, sebagian sibuk menawar barang, yang lain hanya lihat-lihat saja, ada pula yang jalan kesana-kesini, bahkan ada pula yang bengong. Setiap orang sibuk dengan kegiatannya sendiri, mengejar tujuannya sendiri yang tak selalu ada kaitan dengan yang lain, interaksi seperlunya sebatas kebutuhan jikapun ada, berada di tempat yang sama namun tak saling sapa satu dengan lainnya, asing dan tak peduli kecuali ada maunya. Inilah KERUMUNAN.

Para penggemar bola tentu tak asing dengan Barca, tempat Lionel Messi dan Neymar mengukir prestasi, tapi tak mungkin sendiri. Setiap pemain mengerti posisi, tugas, peran dan tujuan. Mereka saling mengerti bahkan tanpa keluarnya satu kata pun, memberikan support satu dengan yang lain. Menyajikan permainan cantik yang membuahkan goal kemenangan, rapat menjaga dari serangan lawan. Ini satu contoh TEAM.

Kerumunan dan Team sama-sama merupakan kumpulan orang.
Kerumunan tak mempunyai tujuan bersama yang menyatukan mereka, tak ada komunikasi untuk saling mengerti. Yang menyatukan mereka hanya karena kebetulan berada di tempat yang sama.

Team disatukan oleh tujuan bersama, tatanilai yang diyakini semua, komunikasi dan interaksi yang membuahkan saling mengerti, tahu peran, posisi dan tugasnya, saling memberikan dukungan dan bantuan, gembira bersama bergerak menggapai impian.

Mari kita tengok keluarga kita, lebih dekat dengan ciri-ciri kerumunan ataukah team?

Sebuah hometeam berbeda dengan team lainnya. Hometeam tidak bisa sesuka-suka ganti pemain, anggotanya memiliki usia dan tingkat kematangan yang berbeda-beda, ada peran-peran yang secara alamiah sudah melekat pada anggotanya, ada pula yang dapat berganti-ganti dimainkan.
Hometeam memerlukan manajemen yang unik. Sebagian dari kita menganggap akan bisa dengan sendirinya mengatur rumahtangga bila tiba waktunya, ketrampilan itu akan tumbuh secara naluriah. Bukankah orang tua kita juga tak repot-repot belajar saat membesarkan kita?

Barangkali memang demikian.
Namun bila yang hendak kita bangun adalah 'A' HomeTeam, hometeam yang berkualitas 'A' dan bukan sekedar hometeam maka ada hal-hal yang perlu kita cermati.

Kita dengan pasangan hidup kita dipertemukan dan disatukan setelah dewasa. Sebelumnya kita dibesarkan di lingkungan berbeda, melalui jalan berbeda, dengan cara berbeda, dan mungkin juga dengan tatanilai yang berbeda.
Maka langkah pertama adalah banyak-banyaklah membangun KOMUNIKASI, verbal maupun non verbal. Sering-sering ngobrol bareng, melakukan kegiatan bersama, membicarakan apa yang kita sukai dan tidak kita sukai, memahami gelagat dan bahasa tubuh. Jangan diam saja dan menganggap pasangan hidup kita pasti tahu atau seharusnya tahu. Pasangan hidup kita bukan dukun kan? ;p
Yang pertama dibangun adalah tatanilai bersama, our values.
Tak perlu banyak, yang utama dulu saja yang akan menjadi INDUK NILAI.
Sekedar contoh, Induk nilai Tanah Perdikan Margosari adalah iman dan kehormatan.

Meski rumusannya sederhana, proses ini bisa jadi berdarah-darah, penuh tetesan air mata. Maka Anda dan pasangan perlu menyepakati konstitusi dan aturan main dasar. Kami memiliki 3 aturan sederhana:
1. Mesti TETAP BERKOMUNIKASI seberapa pun marahnya.
2. Segala keputusan yang dihasilkan dalam keadaan marah, BATAL demi hukum.
3. Bila terjadi selisih atau beda pendapat, kembali kepada al QUR'AN dan al HADITS.

Proses ini bisa jadi lama, jangan berharap bagai membalik telapak tangan: Plek, selesai. Tidak! Intensitas komunikasi dan main bareng akan sangat menentukan. Maka perbanyaklah sarananya. Misalnya: Makan bareng, sholat berjamaah, bermain bersama, ngopi pagi, dll.
Manfaatkan teknologi, bikin grup keluarga di wa/line/bb dll. Share hal-hal baik yang mencerminkan nilai keluarga.

Setelah itu kita akan lebih enak untuk membicarakan TUJUAN keluarga.
Tidak harus sekali jadi, biarkanlah tujuan ini dinamis dan berkembang. Secara berkala dibicarakan bersama.
Dengan mengetahui tujuan bersama dan sasaran masing-masing, setiap anggota keluarga jadi tahu hal-hal yang dibutuhkan yang lainnya. Dengan demikian mereka mengerti bila hendak men-support yang lainnya.
Bila saat ini sepertinya tidak ada kerjasama dalam keluarga, yang satu tak mau membantu yang lainnya, barangkali karena yang satu dan yang lain tidak saling mengerti apa yang diperlukan.
SALING MEMAHAMI adalah dasar tumbuhnya kerjasama team.

Aturannya: Understand first then to be understood.

Dan kuncinya adalah KOMUNIKASI.
Kita bahas di lain kesempatan.
Sukses selalu!

/Dodik Mariyanto/*
Email : didod2020@gmail.com
FB : Dodik Mariyanto
Twitter : @dodikmariyanto

SESI TANYA JAWAB
1⃣ Bu, apakah jika suami tdk ingin mengenal teknologi lbh jauh, home team lebih lama terwujudnya? Krn utk komunikasi hanya terjadi saat bertemu saja, sedangkan utk bepergian hanya sms dan telpon. Utk Grup WA, line atau BBM beliau lbh suka menggunakannya. -Zakia-
*Lbh suka tdk menggunakannya
1⃣ teh Zakia, tidak teh komunikasi itu dibangun dengan tatap muka terlebih dahulu, adanya teknologi itu hanya sarana untuk mengeratkannya tapi bukan satu-satunya cara. Saling menulis pengalaman kemudian menshare saat ketemu otu juga dahsyat. Jadi kunci hometeam itu hati✅

2⃣ Assalamualaikum wr wb
Hal menarik ada dalam 3 aturan, saya belum mengerti point 2 sperti apa? ..
Terima kasih - Yayu - IIP bandung
2⃣ bunda Yayu, aturan tersebut kami buat, dengan pemahaman apabila dalam kondisi marah, semua kalimat yang keluar dari mulut kami saat itu, batal demi hukum. Karena kami yakin saat marah nalar biasanya tidak wajar. Maka yang berlaku adalah kalimat setelah cooling down✅

3⃣Assalamu'alaikum...
Bagaimana cara pendekatan orang tua, khususnya Ibu, dlm mengenalkan 'A' hometeam pd anak usia 2-3 thn? Trm ksh.
Fithri_IIP Bandung
3⃣ bunda fitri, libatkan dalam aktivitas-aktivitas keluarga. Misal buatlah projek keluarga dimana anak usia 2-3 th nertugas m2ngembalikan mainan padq tempatnya. Jadi kalau ada mainan tidak pada tempatnya maka dialah yang mengingatkan. Projek ini bosa dinamakan clean up. ✅

4⃣ Assalamu'alaykum pak dodik/bu septi
Saya dan suami terkadang berbeda cara untuk menuju ketujuan bersama,  tidak saling menyalahkan sih...tapi jd tdk spt sebuah tim.  Kondisinya memang krn  kondisi kerja suami yg padat,  sering dibicarakan agar konsisten punya  waktu berkumpul tp nyatanya susah sekali.  Mohon masukannya dr pak dodik.  Terimakasih.
-Nur-
4⃣ bunda Nur, pertama memang harus satu jalan, setelah itu cara boleh berbeda. Karena tim itu tidak selalu mendapatkan peran yang sama dan melakukan hal yang sama. Kunci kita adalah membangun moral character keluarga terlwbih dahulu yg harus sama, setelah performance character bisa sama bisa berbeda✅

5⃣ Assalamu'alaikum Bu Septi, Pak Dodik..apakah sebagai orang tua, masih berhak untuk memiliki mimpi pribadi? Apa segala hal tentang keinginan dan mimpi harus dikomunikasikan kepada seluruh anggota keluarga (termasuk anak)?
-Karin, IIP Bdg-
5⃣ bunda Karin, selama mimpi tidak dipungut pajak😄 kita masih berhak bermimpi. Buatlah mimpi ibu, mimpi suami, mimpi anak menjadi  MIMPI KITA. Dan diwujudkan bersama di keluarga. Sehingga kalau ada yang sukses di keluarga tidak ada kecemburuan dan memicu tantangan baru✅

6⃣ Saya seorg ibu rumah tangga dgn 5 org anak,bagaimana cara saya membentuk hometeam yg baik dlm rumahtangga saya?apa2 yg mesti saya lakukan u membentuknya?,sy bingung bagaimana hendak memulainya,krn sejak kecil kami tdk terbiasa kumpul dan membahas satu kesepakatan bersama,...anak saya yg paling besar berumur 11,9,8,4,dan 2thn.
-Zahra, IIP Sulsel-
6⃣ bunda Zahra, mulailah demgan mematikan televisi di ruang keluarga, siapkan teh dan cemilan, dan start dengan transfer of feeling. Bagaimana perasaan kakak hari ini, apa yang dirasakan adik saat di sekolah, saat ayah di kantor? Biarkan mereka bercerita. Kemudian latih master mind.
A. Sudah sukses apa hari ini
B. Apa rahasia sudah bisa sukses seperti itu
C. Minggu depan pengin sukses apa✅

Pertanyaan 7-13 Bersambung ke post selanjutnya ya :)

Pujian (1) : Antara Pujian dan Koreksi

Saya jadi tertarik menulis ini karena 3 hal. Pertama, saya hanya ingin merefleksikan bagaimana masa lalu "mendidik" saya terkait pujian. Kedua, saya dihadapkan pada sebuah kondisi dimana saya harus terbiasa disanjung, sedangkan saya tak terbiasa dan bingung menyikapinya (hehe._.) Dan ketiga, saya harus mengerti bagaimana sebuah pujian akan berdampak baik, kaitannya dengan membangun sebuah keluarga.
Maka dari itu, rencananya hal ini akan saya bagi menjadi 3 bagian. (Btw, Manusia hanya bisa berencana hehe)

Saya dibesarkan pada lingkungan yang tak membudayakan pujian atau sanjungan. Apa apa yang sudah baik, yasudah, tapi bila ada sebuah kesalahan, sebutkan. Katanya, seperti itu agar kita tak mudah cepat puas atau sombong, juga supaya kita bisa perbaiki kesalahan kita. Namun, betulkah harus seperti itu ?

Mungkin sindromnya terjadi tak hanya pada lingkungan saya. Saya yakin, begitu banyak orang yang memiliki cara pandang semacam itu. Saya yakin dampak pada setiap individu akan bervariasi, tergantung bagaimana komposisi antara pujian dan koreksi, juga tergantung bagaimana individu tersebut memaknainya.

Sebelum lebih jauh, saya penasaran apa kata KBBI tentang puji, sanjungan dan koreksi

pu·ji n (pernyataan) rasa pengakuan dan penghargaan yg tulus akan kebaikan (keunggulan) sesuatu

san·jung v, me·nyan·jung v melontarkan kata-kata pujian untuk membangkitkan rasa senang; mempersenangkan hati

mengoreksi /me·ngo·rek·si/ v 1 membetulkan (memperbaiki) kesalahan.

****
Karena saya jarang dipuji (atau karena emang ga ada hal yang bisa dipuji? Hehe), saya begitu terbiasa melakukan segala hal dengan biasa biasa saja. Tidak pada semua hal sih. Saya melakukan segala hal sebagaimana yang saya inginkan saja. Kalau maunya segitu, ya segitu, titik. Hehe

Saya pernah baca, kalau untuk anak anak, pujian sangat bagus untuk memotivasi. Puji pada hal spesifik yang memang anak itu baik disitu, fokus pada hal baiknya. Bila konsisten, Dampaknya akan bagus untuk masa depannya, motivasinya untuk menjadi yang terbaik akan besar. Dan memang terbukti, sudah saya coba pada beberapa anak yang saya temui.

Anak yang terlalu sering dikoreksi malah akan takut dalam melangkah. Padahal, masa-masa itu adalah masa yang penting untuk bereksplorasi.

Btw, alhamdulillah, sejauh ini saya ngga terlalu takut pada banyak hal. Yang kurang mungkin, motivasi saya untuk jadi numero uno hehe. Saya ngga mengutuki diri ko, toh selama ini emang menganggap blm perlu perlu amat kaya gitu. Hehe. Saya sendiri memahami kenapa saya seperti itu. Tapi tenang, mungkin nanti akan ada masa nya saya semakin baik, ya! Kan kita semua hidup sambil terus belajar ya? Doakan! :D

Februari 2015

Thursday, March 19, 2015

USG 13-14 Weeks :)

Allahu akbar.. allahu akbar..

Dek, 10 Maret 2015 lalu, ayah sama bunda ngecek kehamilan di RS al Islam. Sementara ini masih kontrolnya sama dr. Ani, Spog. Beliau ini Tipe dokter yang ayah bundanya mesti aktif nanya, kalau nggak, pasti periksanya cuma bentar banget. Hehe

Bunda cek usg terakhir udah 6 minggu yang lalu, jadi agak nervous ini mau usg liat dede lagi. Tau ga, bunda sempet ngebayangin, "gimana kalau pas usg, adek tiba tiba ngga ada!" >,< Bunda aneh ya mikir kaya gitu? Hehe -_- maaf ya dek, bunda khawatirnya rada ngelantur sih emang hehe.

Usg sebelum ini adek masih kecil banget, dan organ adek belum terbentuk sempurna. nah, usg kali ini, masyaallah.. entah kenapa bunda terharu banget. Bunda udah bisa liat adek udah tumbuh seperti bayi dekk :"3 Dan kali ini, ayah sama bunda udah liat detak jantung adek, masyaallah.. :")) insyaallah sehat terus ya..

Menariknya, sebelum ini bunda kan juga udah pernah liat foto usg orang lain dari berbagai sumber, dan harusnya biasa aja. Terua jaman bunda kuliah dan praktikum juga sempet belajar proses perkembangan makhluk hidup, harusnya udah ngga aneh ya. Tapi ini emang beda dek. Rasanya bunda ngga percaya kalau adek ada di rahim bunda. Ya Rabb.. :")

Alhamdulillah alhamdulillah..
Semoga allah memampukan ayah dan bunda bisa memegang amanah dengan baik ya dek :")

Wednesday, March 18, 2015

Polisi dan Razia Motor yang Aneh

Bismillah, ini kompilasi kisah saya waktu kena razia motor. Hehe. semoga saya inget sama pelajaran berharga ini, dan semoga ada cuilan manfaat bagi yang baca :)

SEBELUM PUNYA SIM
1. Razia di polsek ciwastra
Kisah : waktu itu masih kuliah tingkat 2 kalo ga salah. Saat itu udah magrib, mau ke rumah sodara di baturaden buat pinjem kamera. Karena deket (geser komplek doang dikit), berasa ga usah nyiapin apapun. Ternyata di setop sama pak polisi di polsek. Jeleger 🔥🔥
Kondisi :
- no sim
- no STNK
- lampu ngga dinyalain
- ngga pake helm
Status : ke laut aja ya mending hehe
Ending : NANGIS BOMBAY (udah tau salah, ngga bisa ngapa ngapain lagi. Udah gitu motor mau disita padahal motor kakak ._.) Nelepon rumah, mashan dateng, nego damai, bayar 100.000. Lanjut nangisnya. Inget banget waktu itu masih polos, sidang teh gimana?? Si mashan cuma ngakak. Ahahaha. Emang belum pantes dapet SIM mental begini mah

2. Razia di jl. Supratman (28 juni 2014)
Kisah : entah dari pagi udah ada feeling ngga enak pas tau ada razia.
Siang nya pas pulang, udah takdirnya ke gap gara gara lampu mati. Hehe
Biasa kan dikasi tau denda dll. Terus tadinya mau disidang tgl 11.
"siap pak insyaallah"
Trus dia bilang : kalo gini motornya mesti ditahan juga. Keberatan?

"Ya Keberatan lah pak, biasanya juga stnk aja."
"Tapi paling sy telpon ortu dlu, ijin pulang g bw motor. Sy pulang naik angkot."

"Ade adanya berapa? Bisa dibantu."

"Ada 100ribu pak, tapi ini uang buat bayar sesuatu di rumah (oriflame). Kalo sy pulang g bawa uangnya, percuma pak."

"Ada brp atuh, dibantu. 50 ada?"
"Beneran pak ngga ada segitu."

"Motor ny ditahan, kasian ke adenya"

"Iya pak, tapi ya kalo harus gitu ya udah. Da emang salah. Gpp insyaallah."

*polisinya bingung mikir gelisah*

"Yaudah ini peringatan aja. Bisa kan ya bikin sim. "
"Bisa pak insyaallah."
Kondisi :
- STNK kadaluarsa
- no sim
- lampu mati
Status : Nekat ga punya sim, lupa cek lampu.
Ending : dibebaskan, kekeuh milih sidang. Mungkin ribet kalo mereka harus ngangkut motor. Hehe

SUDAH PUNYA SIM
Well, bagi saya kepemilikan sim saya itu sebuah prestasi (dasar ya ga punya prestasi lain hihi), dibuat secara sadar dan penuh perjuangan (lebay haha). Karena sebelum punya sim saya nekat tetep bermotor (dengan mesti deg degan terua tiap liat pak polisi dengan baju stabilo), setelah punya sim, suka kepingin ditangkep pas razia (dasar, gitu aja sombong). Saya penasaran dengan karakter tiap polisi yang ditemui.

3. Razia di belokan jl. Jakarta menuju laswi (sept 2014)
Kisah : habis survey gedung pindad buat nikaha. Mau jemput icha di banjarsari. Sempet mikir kelupaan bawa helm buat icha, tapi yaudah lah ya. Biasanya ambil jalur supratman, malah belok kiri, dan TRAP! LAGI ADA RAZIA.
Kondisi :
- STNK kadaluarsa
- kestop karena LAMPU MATI!
Status : lupa banget ga ngecek.
Ending : STNK Ditahan. Pak polisi nya bagus ini mah, emang ga nawari nego apapun. Sidang langsung di pengadilan katanya. Yes sidang! (Emang pingin nyobain). Pas ke pengadilan beberapa hari kemudian, ternyata masih di jalan jawa) Ambil ke polres, dinasehatin, bayarnya 40rb. Yaa, gagal ngerasain sidang :"((

4. Razia di soekarno Hatta dekat MTC (18 mar 2015)
Kisah : asalnya yari kunci motor di rumah ga ketemu, dompet ketinggalan. Jadi kedistrak buat inget bawa stnk (padahal udah dipegang sebelumnya). Biasa lewat sini selalu mepet polisi (siapa tau dipanggil hehe ga ding. Kalo mepet justru emang jarang dipanggil karena mungkin ga keliatan menghindar). Ternyata STNK nya ketinggalan! Dipanggil lah, dan minta sidang aja.
Kondisi :
- no STNK
Status : lupaa
Ending : dibebaskan begitu saja.
Saya bilang stnk nya tadi udah dipegang, malah ketinggalan.  Diperlihatkan tabel denda maksimal yang bikin orang takut (500rb). Pak polisinya nawari opsi sidang, titip sidang, dan menitik beratkan pada titip sidang. Polisi pertama bilang 60rb. polisi kedua bilang 75rb, saya protes bukan karena harga nya turun, tapi karena ga konsisten, pasti ada apa apa dong. Saya kekeuh aja sidang, saya bilang da emang saya salah, saya bilang bisa sidang tanggal segitu.  Terus dia bilang motornya yang ditahan. Saya protes karena polisi di razia edisi seblumnya bilang sim yang ditahan. Kekeuh aja mau sidang.
Bapaknya manggil-manggil saya bu haji, pas aku sambil nunggu dan tiis ngemper di trotoar (haha). Singkat cerita dibebasin, dan bilang jangan lupa lagi ya. Akhirnya ibu dateng bawain stnk. (Haduh haduh).

* * * * * * * * * *
Dari pengalaman razia yang saya alami, ada 2 sikap polisi yg saya temui :
(1) tegas bener-bener negakkin hukum,
(2) negotiable bahkan sebelum kita nya ngomong apapun.
Mana yang saya suka?
Jelas yang pertama, walaupun pada pengalaman saya, aga ribet mesti ke pengadilan.
Tapi jenis kedua, saat dia ngajak nego rasanya pingin ngomong macem macem nanyain aturan hukum yang berlaku. Ketika dia nyebut aturan aneh, rasanya saya pengen kejar supaya dia bisa ngomong yang benernya. Walaupun jenis polisi kedua ini yang bikin saya bebas dari aturan yang berlaku hehe (enak aja sih saya mah dibebasin)

Hikmah nya :
1. Periksa kelengkapan bermotor
2. Pegang prinsip yang bener. Prinsipnya penegak hukum mesti tegas, dan ga boleh lembek. Trus sebagai warga negara yang berusaha taat agama dan bangsa, kalau kita nya lembek, penegak hukumnya juga ikutan lembek.

Saya ngga tau mungkin suatu saat bisa jadi kena razia lagi, dan bisa jadi ngga seberuntung ini. Dan siapa yang tau nanti nanti taunya saya ngelakuin yang ga bener juga (naudzubillah, doain jangan ya). Tapi beneran deh, sy belum nemu istilah titip sidang dan bayar di tempat itu suatu hal yang benar. Kalo ada yang tau, tulung banget ya sharing.
Pegang prinsipnya, berani aja karena benar. (Kecuali pak polisinya ngasi tau ada peraturan resminya)

* tadi lihat pak polisi marahin anak cabean abg, setelah uangnya dimintain. Sedih banget liatnya ._.

* apresiasi sama pak polisi yang pernah nilang saya. Dan saya yakin banyak pak polisi indonesia yang senantiasa tegas menegakkan kebenaran :D

* * * *
Baru pengadilan dunia, brosist.
Pengadilan akhirat ngga bisa "sekedar" pengen nyobain rasa disidang, nyuap malaikat, titip hisab; terus nanti bisa jalan jalan ke surga neraka bebas.
Astaghfirullah..

T.T

Thursday, March 12, 2015

Capcay Mas Brewok dan 'Nafsu Memasak'

Melanjutkan tema "pola makan" di trimester 1 yang lalu pada postingan yang ini, saya getek pengen banget bikin postingan ini.

Anugerah mual-muntah yang saya alami di trimester 1 kemarin, ternyata ngaruh ke nafsu makan dan nafsu masak. Hehe.

Sebelumnya saya lagi doyan doyannya masak, gimanapun rasanya toh tetep ada yang makan (saya makan, akang juga rela makan hehe). Tapi ketika 'nafsu masak' sedang menurun, buat makan hasil masakannya juga jadi ngga mau.

Terus saya sadar, sekarang mesti lebih banyak makan sayur sayuran, jadi kadang mesti masak sayur. Sayur tergampang sedunia kan jatuh pada capcay dan sop, nah kalau bikin sop masih suka manusiawi rasanya, tapi entah kalo capcay, saat itu saya ogah juga makan bikinan sendiri hehe. Padahal rasanya mungkin ga separah-yang-kamu-pikirkan juga, entah karena emang ga nafsu aja ato gimana.

Sampai suatu ketika makan capcay nya mas brewok (di depan margahayu), saya terharu makan capcay nya.
MAAAS KENAPA BISA ENAK GINI CAPCAY NYAAA???? :O

Setiap beli pasti enak (quality control masakannya udah oke pisan hehe). Terus saya berazam suatu saat beli nanti, mesti liat dan tanyain si mamang pake bumbu apa aja.

Btw masakan mas brewok yang enak bukan cm capcay sih, mie tektek, kwetiaw, nasgornya juga enak semua.
Emang jago weh si mamang nya ini mah hehe.

Makasih mas brewok, aku jadi makan sayur kembali :"D hehe

Friday, March 6, 2015

Nafsu Makan Trimester Awal

Jelang pekan ke-12 usia dede janin dari perhitunganku. Tak terasa sudah hampir tiga bulan berlalu ya? Itu berarti trimester pertama hampir berakhir, dan akan memasuki trimester kedua. Insyaallah :)

Nafsu Makan dan morning sick Trimester Awal
Sejak awal kehamilan, aku mencari tahu tentang apa apa saja yang terjadi di tiap trimesternya. Konon, trimester awal akan diwarnai dengan morning sick alias mual-mual-muntah yang dibumbui dengan hilangnya nafsu makan, karena indera penciuman menjadi lebih sensitif. Sampai bulan kedua, aku tak merasakan mual mual berlebih yang mengganggu, makanya kupikir sepertinya aku tak akan mengalaminya (padahal namanya juga hormonal, tergantung kondisitiap orang). Akupun masih doyan makan dan bersemangat sekali memasak. Tapi entah mengapa, menjelang puncak bulan ketiga, aku mual hampir setiap hari! Mual, kemudian harus makan, kemudian harus keluar lagi karena ada penolakan. Ckckck.. tak pernah terbayangkan bahwa kini makan menjadi sebuah perjuangan..

Makanya selalu, kalau sudah ada indikasi mual, harus kumuntahkan dulu (aduh maaf ya frontal, bacanya jangan sambil makan), baru bisa makan dengan tenang. Karena rugi sekali kalau makan, trus muntah. Jadi harus makan lagi, dong? :O
Btw, alhamdulillah akang juga suka nemeni kalau aku lagi mual-muntah. Bahkan kalau aku mual dan tertahan, dia suka bantu dengan menstimulasi agar aku mau muntah (hihi kebayang kan kaya apa, padahal dia juga jadi kepingin muntah abis itu) jazakallahu khairan, yaangg :")

Buah pisang ambon
Harus cari cara back up hal ini. Buah pisang selalu jadi andalan. Sekali makan bisa 8, banyak dan nutrisinya bagus, tapi tetap mesti masuk nutrisi lainnya. Seenggaknya cukup mengenyangkan. Jadi inget waktu itu ujug ujug pengen cake pisang malem- malem. Terus akang nyariin dan akhirnya dapet. Aaaa terimakasih >,< bela-belain nyari padahal habis seharian kerja, capek, dan udah malem banget. :") jazakallahu khairan :)

Nasi putih
Tak pernah kubayangkan akan "rewel" maksudnya semasa sebelum ini pun aku jarang komplain sama makanan. Mendekati akhir bulan ketiga ini, kurang selera sama nasi putih, jadi harus bikin nasi goreng, atau sumber karbohidrat yang lain kaya ubi, mie, bihun, makaroni, kentang. Hehe emang bawaan, atau emang pengen ganti suasana aja? Hehe
Tapi ciyus deh, ini aneh. Hehe

Karena ga nafsu makan, masak pun jadi ga selera, karena ga bernafsu untuk memakannya. Dan hal ini imbasnya jadi ke banyak hal. Pertama  amanah makanku bertambah, dari hanya diri sendiri, kini ada dede janin. Kedua, suamiku juga harus makan. Ketiga, ada keluarga satu atap yang seharusnya aku masakin juga. Hehe. Udah mah masaknya belum master, ditambah lagi ngga nafsu makan. Aku mah kasian sama yang harus makan masakanku. Hehe

Susu Ibu Hamil
Sempat beli 1 kotak, Lactam*l. Aku ga rewel tentang ini. Kayanya merk apapun hajar aja. Tapi dari banyak referensi, sebenernya kita ga terlalu perlu minum susu ibu hamil, asal bisa mastiin makannya bener. Hehe. Habis satu kotak itu jadi ngga minum lagi. Liat pola makan ku yang sekarang, ibu mertua ngewanti wanti minimal susu harus masuk. Jadi sepertinya akan diagendakan beli susu bumil habis ini.

* * * * *
Menarik. Trimester awal adalah masa krusial pertumbuhan seorang anak manusia di dalam rahim. Sebuah masa yang irreversible, dimana nutrisi yang dimakan harus baik untuk menunjang kehidupannya jauh ke depan. Di sisi lain, seorang ibu secara hormonal mengalami perubahan sehingga nafsu makannya jadi berubah. Janin butuh asupan terbaik, dan sang ibu harus berjuang memakan makanan yang baik.

Bukankah kini kau merasakan perjuangan seorang yang dulu mengandungmu?

Mungkin Ini salah satu jawaban dari pertanyaan bodohmu sebelum ini :
Kenapa sih al quran nyuruh kita berbakti sama orang tua (ibu), padahal perjuangan yang disebutkan "hanya" sejak kehamilan hingga kau disapih? 3 tahun "saja".

Bismillah, menyelami maksud maksud Allah.. semoga kita bisa menjadi anak shaleh yang berbakti pada orang tua, juga kelak menjadi orang tua yang sebaik baiknya.
Aamiin..

De Marrakesh, 6 Maret 2015

Sunday, March 1, 2015

Transisi

Pola asuh, kebiasaan-kebiasaan, budaya keluarga, pembiasaan-pembiasaan yang dialami setiap orang pasti berbeda, setiap keluarga memiliki kebijakan-kebijakan dan prinsip yang mereka anut. Ada yang memang prinsip nya sudah terpatri dalam jiwa, dan diterjemahkan oleh kehidupan sehari hari. Ada pula yang tak tahu prinsip yang dianut, tapi menjalankannya setiap harinya, itu juga prinsip, hehe.

Alhamdulillah, allah berikan saya kesempatan untuk dapat melihat lebih dalam mengenai hal ini, untuk mempelajari lebih. 22 tahun dibesarkan dalam sebuah keluarga, kini Allah mengajarkanku untuk mengenal sebuah keluarga baru, dengan segala paketan yang tentu saja berbeda dengan paketan keluargaku.

Selalu ada kali pertama untuk segala sesuatu. Maka untuk hal ini, saya juga memahamkan pada diri saya bahwa inilah proses belajar saya. Saya harus belajar beradaptasi. Kaget? Pasti, tentu saja. Jangankan dengan keluarga baru, kalau baru beli kacamata baru aja pasti mata harus beradaptasi dulu. Kalau mau mindahin taneman hasil kuljar dari lab ke tanah lapang juga tanaman harus diaklimatisasi dulu agar bisa bertahan tetap hidup.

Alhamdulillah saya bersyukur, dengan ini, saya jadi punya sudut pandang baru. Saya jadi punya frame baru mengenai "paketan" keluarga saya, dan saya juga belajar dari "paketan" keluarga baru saya. Dari sana, Allah munculkan rasa dalam hati saya, bahwa apapun yang kita alami, hangatkan dengan sabar dan syukur. Ya, kau merasa jadi lebih bersyukur dengan apa yang selama ini kau dapatkan.

Ada kalanya kita mempertanyakan takdir Allah pada kita, mempertanyakan maksud-maksudnya. Tak ada yang salah dengan itu, namun yang perlu kita pahami adalah bahwa tak pernah ada kehendak buruk untuk kita dari Allah. Allah pasti sudah menyiapkan paketan takdir kita dengan sebaik baiknya. Maka, tetap berjuang menjalaninya dan sabar. Karena seringnya, semua baru dapat kita pahami setelah semua kejadian berlalu, ya kan? Waktu akan menjawabnya.

Sama seperti saya, dan mungkin beberapa anak lainnya di berbagai belahan bumi lainnya. Terkadang tak sabar hingga muncul rasa tak bersyukur dalam hati. Kondisi keluarga begini-lah, ortu gue begitu lah, hidup gue begitu-lah, dan segala keluhan lainnya. Padahal akan ada suatu masa, kamu begitu mensyukuri bagaimanapun buruknya kondisimu di masa lampau.

Ada 2 hal yang mungkin bisa lahir dari pengalaman yang-kata-dia-pahit : (1) Perasaan tak terima dan ingin membalas dengan melampiaskannya pada orang lain, atau (2) berupaya menerima, mempelajari lebih, dan berupaya tak melakukannya lagi pada siapapun. Bersyukurlah ketika Allah menanamkan perasaan yang kedua padamu. Rasa pertama diwujudkan seperti perpeloncoan, sedangkan rasa kedua menimbulkan tekad yang kuat dalam diri untuk menjadi lebih baik.

Alhamdulillah,
Alhamdulillah,
Alhamdulillah.
:)

Monday, February 23, 2015

Home Education (Bpk Harry Santosa)

💖 Apa itu Home Education? 💖

Narasumber : bpk. Harry santosa

Ass.wr.wb
Ayah bunda apa kabar, tetap semangat ya 😊🙏

Ayah Bunda yg baik,

"Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yg tak tergantikan oleh siapapun dan tdk bisa didelegasikan kpd siapapun."

HE bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kpd anak2 kita  namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah2 dalam diri kita dan anak2 kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia2 akhlak.

Rumah2 kita adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah2 baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah2 kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan:

1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bhw Allah sbg Robb. Maka setiap bayi yg lahir pd galibnya mengenal dan merindukan sosok Robb.
2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati
3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yg lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifik nya di muka bumi
4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqilbaligh dan sesudahnya, memiliki tahap2 perkembangan yg harus diikuti. Tdk berlaku kaidah makin cepat makin baik.

Ke 4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Kurang salah satunya akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke 4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirinya, begitu pula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia. ✅

💖 Bagaimana Memulai Home Education? 💖

Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua. Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita. Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah. Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.

Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu. Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik. Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya. Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya. Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari kedua orangtuanya. Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing..dstnya. Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya. Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.
Silahkan dibuka surat 62:2.

Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 - Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk merka seorang rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta
mensucikan mereka.

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)

Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.

Doa Nabi Ibrahim as adalah "pembacaan", "pengajaran" , "pensucian"

Jawaban Allah adalah "pembacaan" dan "pensucian" sebelum memulai proses "pengajaran" (ta'limunal-Kitaba walHikmah). Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sdgkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill n knowledge. Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE 😊🙏. Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya. Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran. Pendidikan sebgamna pengantar diawal adalah proses "inside out", membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan "outside in". Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll).... namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi. Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (مَا بِأَنْفُسِهِمْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk. Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous. Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2. Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya... Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini. Sampai sini, silahkan jika ada masukan dan pendapat 😊🙏

Resume Kulwap IIP Bdg 2 #1 : How To Be Professional Mother

Resume Kulwap Perdana IIP Bdg 2,
Rabu, 18 Februari 2015
Narasumber: Septi Peni Wulandani
Admin: Shona Vitrilia
Host: Zakia Muthmainnah Kadir
Co-Host: Lendy Kurnia Reni

HOW TO BE A PROFESSIONAL MOTHER

Anakmu bukan milikmu,ia adalah milik jamannya, boleh kau berikan rumah untuk raganya tapi tidak untuk jiwanya, karena jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi walaupun dalam impian…… (Kahlil Gibran-Anak)

Penggalan puisi di atas mengingatkan kepada kita bahwa tugas orangtua adalah menghantarkan anak-anak untuk siap menemui masa depannya. Meskipun anak-anak adalah homo ludens (makhluk yang suka bermain) tetapi mendidik mereka tidak bisa “Main-main”. Butuh keseriusan para orangtua untuk mempersiapkan anak tersebut mencapai gerbang mimpinya. Butuh sikap profesional dalam mendidik mereka.

Salah satu definisi kata “Profesional” adalah memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya (sumber : kbbi).Sehingga bukan suatu hal yang mustahil apabila ada seorang ibu yang bangga akan profesinya sebagai ibu, menjalankan aktivitas mendidik anak dan mengelola keluarganya dengan berlandaskan sebuah ilmu. Ada satu kalimat dahsyat “jangan biarkan sesuatu berjalan tanpa ilmu, apabila itu terjadi maka tunggulah titik kehancurannya”.

Bagaimana langkah menjadi Ibu Profesional.

1. Menguatkan value ( induk nilai hidup) yang akan kita gunakan selama menjalankan peran sebagai Ibu.

Value (Induk Nilai) dari Ibu Profesional adalah :

a. Never stopped running, THE MISSION ALIVE ( Ibu Professional tidak akan pernah berhenti menjalankan misi dan tugas hidupnya, dengan sukacita. Teruslah bergerak, misi tak pernah mati)

b. Don't Teach Me,I LOVE TO LEARN (Ibu Professional adalah ibu yang senang belajar,tak pernah berhenti hingga mati, proaktif mencari ilmu untuk kemaslahatan diri,suami dan anak-anaknya)

c. I Know, I can be BETTER (Ibu Professional bertekad untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari, karena orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin)

d. Always ON TIME (Ibu Profesional adalah ibu yang menghargai waktu, dan selalu berusaha untuk menepati waktu yang telah disepakati)

e.SHARING is CARING (Ibu Profesional sayang sesama, tak segan-segan untuk berbagi pengalaman, dan hanya membagikan pengalaman apa yang sudah dijalankannya)

2. Menetapkan COMMON INTEREST (ketertarikan bersama) yaitu ANAK, Melawan COMMON ENEMY (musuh bersama) yaitu PERASAAN tertindas di rumah sendiri:)

3.Mempelajari dan menjalankan Tahapan Ilmu di Ibu Profesional yaitu :

a. BUNDA SAYANG (Ilmul tentang mendidik anak)

b. BUNDA CEKATAN (ilmu tentang mengelola diri dan rumah tangga)

c. BUNDA PRODUKTIF (Ilmu tentang memahami passion diri sehingga muncul 4 E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn) aktivitas dalam hidupnya

d. BUNDA SHALEHA (ilmu tentang bagaimana kehadiran kita bisa bermanfaat untuk diri, keluarga dan lingkungan sekitarnya)

Salam Ibu Profesional,

Septi Peni Wulandani twitter : @septipw FB : Septi Peni Wulandani www.ibuprofesional.com

----------Tanya-Jawab---------

1⃣ Alhamdulillah..InsyaAllah bu, saya sedang berusaha menjalani semua proses menjadi ibu profesional. Yang saya tanyakan, seringkali di lapangan saya menjumpai justru Ayahnya yang tidak (belum) profesional, terutama dalam hal ketidakmauan dalam berilmu (agama, parenting, dll) yang berdampak pada sebuah persepsi lama "mendidik anak urusan ibunya".
Pertanyaannya:
Bagaimana pendekatan yang sebaiknya dilakukan terhadap tipikal suami seperti itu, baik kita sebagai:
a.Istrinya
b.Orang luar yang melihat fenomena itu.
1⃣ teh muthi, ini hal jamak yg kita lihat di sekitar kita, karena faktor budaya, bahwa laki-laki itu bekerja, perempuan mendidik anak. Maka langkah awal :
a. Yang harus berubah diri kita terlebih dahulu, tanpa harus menunggu pasangan berubah
b. Perbanyak amunisi ilmu, dam share sedikit demi sedikit ke pasangan sesuai gaya belajarnya
c. Buktikan pada pola pengasuhan anak kita
d. Curhatlah hanya kepada Allah yang maha membolak balikkan hati✅

2⃣ Assalamua'alaikum.  Mohon penjelasan lebih detail utk point no 2. Hatur nuhun.
2⃣ teh kenny, sebagai pasangan maupun komunitas sebaiknya kita memiliki common interest yang sama, yg apabila dibicarakam itu membuat mata kita berbinar-binar dan energy makin naik.

Begitu juga sebaliknya kita perlu common enemy, sesuatu hal yg akan diselesaikan bersama, dilawan, agar adrenalin kita naik, dan kita bisa satu kata unt memicu semangat.

Ini perlu dibicarakan, sebagai ibu biasanya anak adalah common interest kita. Sdgkan PERASAAN tertindas, tidal berguna, jenuh sbg ibu, bisa jadi common enemy yg harus dilawan dg ilmu dan jejaring✅

3⃣ Maksud point 2 apa?  Merasa tertindas di rmh?
3⃣ teh yayu, disana saya gunakan huruf besar semua PERASAAN, artinya kita ini sbg perempuan apalagi IRT, kadang "merasa" ada yg menindas, sehingga perlu sebuah pengakuan. Padahal sebenarnya tidak ada, kita hanya MERASA saja. Tetapi perilaku kita seperti org tertindas, minder, sakiiiit banget, perlu diakui dll.  Maka hilangkan perasaan itu✅

4⃣ Saya ftm dgn 3 anak, paling kecil usia 4 bln, anak prtama terlambat bicara, sehingga 3 anak dgn beda usia jauh tapi seperti punya 3 anak kmbar, sehingga sering keteteran dlm mnjalankan pekerjaan rmh tangga,,
Selain itu saya dan suami berencana utk mnjalankan program HS, 
Adakah tips dari ibu untuk menentukan skala perioritas dari semua itu agar sy bisa mnjadi ibu profesional dlm rmh
4⃣ bunda, yg perlu disiapkan adalah management waktu yg tepat. Tentukan 3 hal aktivitas utama setiap hari dan penuhi dg disiplin. Kemudian perkaya ilmu dan jejaring. Insya Allah bisa teratasi✅

5⃣ Saya adalah ibu rmh tangga yg berbagi waktu di luar separuh waktu dr jam 08-14.00 saya mengajar tk.namun yg saya syukuri adalah anak anak saya tdk pernah tertinggal drmh kami berangkat selalu bertiga....namun ada yg membuat saya kurang nyaman perasaan saya pada anak anak sering ht kecil saya bertanya ridho kah mereka sll menemani aktivitas saya...profesionalkah saya sbgai ibu....
5⃣ teh rani, tanyakan pada diri kita :
a. Apakah anak tetap mendapat prioritas utama selama kita ajak?
b. Apakah hak mereka mendapat kasih sayang ibunya cukup?
c. Apakah kualitas anak semakin neningkat ketika kita ajak bekerja?

Kalau ya, lanjutkan, kl tidak ada yg perlu dibenahi.
Di usia mereka, anak-anak berhak mendapatkan diri kita, hati kita, senyum kita dg kualitas no 1✅

6⃣ pada point menerapkan on time pada anak sangat susah, terutama ketika pagi hari menyiapkan anak sekolah..krn bangun tidur anak lgsung main sementara saya menyiapkan sarapan.sedangkan saya sendiri harus pergi juga berangkat kerja. Bagaimana agar semua bisa dikerjakan pagi hari dengan mudah?
6⃣ teh diah, bicarakan dg seluruh anggota keluarga, untuk mengeejakan pekerjaan rumah sebagai project keluarga bersama.

Bukan hanya pekerjaan kita saja. Ingat kita bukan pembantu rumah tangga, melainkan manager keluarga, maka aturlah dg cermat. Dan atur keluarga kita dg benar✅

7⃣ Menurut Bu Septi, dari mulai usia berapakah seorang anak bisa mulai disekolahkan? Karena sekarang sudah banyak sekali PG yang menerima anak mulai dari usia 2 tahun? Bagaimana tanggapan ibu?

Saya baru punya seorang anak laki-laki umur 21 bulan. Saya masih bimbang apakah anak cukup bermain dengan orang tua dan lingkungannya atau sudah boleh sekolah.
Terima kasih sebelumnya Bu Septi..
7⃣teh yulia, yang kita perlukan sejak dini itu adalah pendidikan anak, bukan sekolah. Karena sekolah itu menjadi salah satu bagian dan pilihan anak di dunia pendidikan
Usia 0-7 th anak akan berkembang bersama ortunya
7- 14 th anak akan berkembang bersama ortu dan lingkungannya
14 th ke atas, anak berkembang bersama komunitas dan mentornya

Jadi jangan buru2 disekolahkan ya, penuhi bermain di alam secara natural bersama ayah ibunya, sambil menguatkan bahasa ibu✅

8⃣ Ttg value point always on time. Bgaimana caranya agar always on time in mnjadi budaya dalam keluarga? Karena seringkali kita brusaha on time tpi suami dan anak kdang menghambat. Adakah tips praktis  selain mengkomunikasikan dgn pasangan?
Maksudnya tips praktis setelah mengkomunikasikan dg pasangan bu.
8⃣ teh shofi, buatlah permainan,  yg ada time keepernya scr bergantian. Insya Allah ini akan membuat kita dan kel menjadi terbiasa. Prosesnya terpaksa, biasa, bisa, budaya✅

9⃣ Sy ibu rumah tangga dg 2 anak balita dan lg hamil 6bln... sejak menikah suami meminta sy u full time d rumah ngurus anak dan rumah tangga.. semua2 yg berhubungan dg keuangan sy bergantung sm suami, awalnya sy enjoy, tp stlh sy jalani 5th sy merasakn jenuh dan merasa ada bbrp kebutuhan pribadi sy yg ga bs suami penuhi bahkan sy sempat jealous liat suami bs beli apa2 aja yg beliau mau dan memuaskan hobby nya.. keinginan u punya penghasilan sendiri lg jd bahan pemikiran bbrp bulan trakhir ini.

Pertanyaan : u menjadi Ibu Produktif itu hrs  spt apa? Pd kenyataannya ngurus anak n rumah aja kadang udh terasa memakan tenaga?
9⃣ teh fitri, hehehe sabaar teh, fasenya memang seperti itu, maka bersungguh-sungguhlah di dua tahap awal, bunda sayang dan cekatan, maka kita akan dg cepat menemukan passion yg membuat kita produktif. Produktif itu bukan diukur dg uang, tp doukur dr portofolio karya kita. Uang itu hanya bonus dr kesungguhan✅

🔟 Pada saat anak di usia golden ages, bisakah kita para ibu memiliki waktu utk aktualisasi diri dan "Me Time"?
Apalagi kalau anaknya jaraknya berdekatan.
Trimakassii, bu Septi.
🔟 teh lendy, dg management waktu yg baik akan sangat bisa kita mengaturnya. Carilah aktivitas me time yg pendek, namun bermakna. Apakah itu, ayo kita brainstorming✅

1⃣1⃣ Sy ibu dr 1 anak laki2 berumur 3th5bln
Sdh 7 bulan inai sy mjalani pengobatan dan fisioterapi, yg tkadang ckp mnyita waktu sy. Belum lg kegiatan latihan terapi mandiri (diluar jadwal rmh sakir) yg hrs sy ikuti. Bagaimana tips agar sy ttp tdk mngurangi hak anak sy atas diri sy, sementara anak sy ckp aktif dan memerlukan energi + fitalitas tinggi dlm mnyertainya bermain
1⃣1⃣ teh mia, syafakillah ya teh. Teteh melatih orang untuk bisa mendelegasikan pekerjaan2 rumah dan anak saat ditinggal. Setelah itu penuhi yg teteh sanggup menjalankannya✅

1⃣2⃣ Aslkm. Ibu saya saat ini ibu bekerja dgn jam kerja dari jam 8 sd jam 16.30 meski kerja sbg dosen tp pekerjaan menuntut untuk full time. Terkadang menjadi ibu prof dgn cerita ibu2 full time sama anak kok rasanya tdk mungkin ya. Pilihan untuk berhenti belum bisa. Anak saya skrg 21bln udah masuk daycare berangkat bareng. Pulang dijemput jam 17.00 bareng.

Wednesday, February 4, 2015

Summoners War Uninstalled


Dek, adek harus tahu kalau adek punya ayah yang lucu dan baiiik banget.

Sebulan setelah nikah, biasanya pasangan pasangan lain bikin sesuatu yang romantis romantis gitu ya, dek. Eh, bunda entah kenapa malah "ngajak ribut" ayah. Bunda protes karena ayah main game terus, pas bunda mau ngomong jadi ngerasa di cuekin.

Habisnya gimana lagi, walaupun baru sebulan (yang harusnya sabar), bunda khawatir kalau bunda ngga segera bilang, nanti semakin sulit ngungkapinnya. Ada rasa khawatir, bunda ngebayangin kalau ayah selamanya anteng main summoners war teruus deeek :O (Ga mungkin atuh buuunnn! Hehe) ._.

Bunda tahu, bagi ayah, game itu sebuah refreshing, dan bunda tahu, ayah juga banyak ambil pelajaran dari situ. Mudah mudahan bunda juga ngga rese ya, bunda baru action kalo sudah merasa berlebihan kok.
Baru bunda sadar, ternyata mungkin karena bunda mulai ngandung adek, jadi lebih sensitif mungkin ya, pengen lebih diperhatiin.. :")

Terus sampe pagi bunda dicuekin dek :"( sedih banget rasanya :"(
Beberapa malam lalu ayah cerita udah nemu komunitas gamenya, dan skill mainnya bisa jadi semakin jago. (Oh waw! Ayah udah hampir level 40 kalo ga salah) Dan adek tau, keesokan paginya, ayah bilang kalau ayah udah nge-uninstall summoners war! (Aaaaaaa)

Antara terharu, tapi kasian jugaa. Bunda ga bermaksud sampai gituuu, sampai ayah harus stop semuanya. Tapi ayah bilang, mesti total katanya.

* * * *
Setelah sebulan berlalu, ayah ijin lagi buat install game nya lagi. Biar ga bosen selama di ambon katanya. Hihi.
Iya gapapa.. :))
4 Februari 2015
Bunda yang lagi Kangen Ayah di Ambon :")
*Sembari galau antara di post ato ngga hehe*

Monday, February 2, 2015

Bertanya Hujan dan Munculnya Pelangi Terindah


Adek Alfath dan si kakang :)
Entah kenapa adek selalu ribut takut banjir. Ya. Maka setiap hujan ia selalu Ribut takut hujan, takut banjir, takut badai. Setiap melihat awan gelap, selalu bertanya, "sekarang hujan?"

Ibu dan yang lain juga tak habis pikir kenapa adek seperti itu, maka terkadang saking kesalnya, jadi muncul omelan. Percayalah, anak kecil memang lucu, namun ada kalanya memang sangat menyebalkan karena begitu cerewet :)

Aku sedikit berbeda. Aku yakin dibalik apapun yang terjadi, selalu ada alasan. Apalagi anak kecil. Kalau sudah berlebihan semacam itu, besar kemungkinan dia pernah trauma suatu hal. Tak selalu begitu sih, aku juga tak tahu pasti.

Ibu heran, dulu ngga pernah ada kejadian apa apa. Tapi waktu kutanya adek, katanya dulu pernah banjir di emak (nenek kami). Aku percaya saja dulu, karena sangat tak mungkin anak kecil tiba2 begitu ketakutan seperti itu.

Aku juga bingung harus jawab apa lagi. Kubilang berbagai hal dari nada sabar sampai yang pake nada rada kesel. Diajak cerita panjang yang komunikatif, bilang "kemaren adek kan sudah berani", dll.
Sammpai suatu titik kehabisan stok jawaban, akhirnya selalu kubilang,  
"kalau hujan tinggal ngapain? Berdoa ya, allahumma shayyiban nafiian.  Kalau udah berdoa ngga perlu takut lagi. Betul kan?"
Adek pun mengangguk senyum :)

Dibalik ketakutannya akan hujan, petir dan banjir, aku mengajaknya untuk berharap bahwa suatu saat kita bisa melihat pelangi setelah hujan. Setelah hal menakutkan, ada sesuatu yang indah untuk dinantikan, jadi tak perlu takut. (Tentang proses terjadinya pelangi dari bias cahaya matahari pada titik hujan yang kujelaskan padanya, sepertinya belum bisa dia pahami, ya? Hehe)

Pokonya aku selalu mencoba menjawab sebaik yang kutahu. Banyak loh yang tak kuketahui tentang alam ini. Dari pertanyaan polosnya yang lucu-polos-kadang-nyebelin itu, kita jadi ngukur diri kalo kita juga banyak ngga tahu nya sama banyak hal.

Siang ini berbeda, saat langit sedang biru cerah cerahnya. Aku mencoba kembali 2 test pack kehamilan lagi.
Alhamdulillah positif. :")

Akang mengajak dan mengingatkanku ku sujud syukur.
Dan seperti teletubbies, kami Berpelukan (loh)

Sambil merenung tiba tiba di luar muncul pelangi
2 hari ini tak hujan, tadi hujan.
Masyaallah..
Ini pelangi terindah yang pernah kulihat. Suasana senja tersyahdu yang pernah kurasa.

6 januari 2015
Kamar De marrakesh 


... dan Terimakasih akang hari tersayang, untuk segala kebaikan, kelembutan, perhatian dan pengertian yang selalu tercurah limpah hingga detik ini. Tak cukup pandai rasanya diri ini mengungkapkan rasa syukur yang teramat banyak atas anugerah Allah terindah yang berwujud akang. :") Maaf karena sering menyangsikan hal-hal baik yang kau lakukan. Jazaakallahu khairan.. :")

Ditambahkan dengan penuh rasa syukur,
2 februari 2015

Test Pack Pertama. Hamil?

Entah kenapa tekadku bulat untuk segera ke apotek terdekat. Ya, aku mau beli test pack kehamilan. Spontan banget, belum sempet baca-baca tentang test pack, pas di dpn griya farma baru browsing.

Merk? AKURAT.
Harga 10.500.
Yg murah ada onemed (3500 wkwkw), tapi di situ gada, yasudahlah.

Coba cek urine. Awalnya band kontrolnya udh muncul. Cuma segaris. Yah, emg belum rejeki. Allah kan yang paling tau kapan amanah nya bisa hambanya sanggup sanggupin untuk dijalani.

Tapi ga lama, eh muncul garis samar di bawahnya!

Masyaallah kagett! Ini teh beneran hamil? Ad yg bilang, kadang hasil TP ga sesuai. Tapi kalau udah 2 garis gitu, artinya positif, berarti HcG nya kedeteksi. Wallahu 'alam.

Terus iseng iseng cek gejala kehamilan lewat informasi di internet. Kan gejalanya banyak tuh. Masalahnya aku ngga ngerasain apa apa (nahloh).
Telat datang bulan aja baru sehari (itu juga kan kadang siklusnya ga pasti). Katanya ada rasa mual pusing gitu, eh abis baca artikelnya tiba tiba sok-sok an pusing (wkwkwk) Walopun aga maksa dan suhesti sih kayanya anggep aja positif dulu hehehe

Ikhtiar dan berdoa yg terbaik aja,
Besok coba lagi ya :)

5 jan 2015
Lantai 2 Rumah De Marrakesh

Tak Kuawali dengan Cinta

Dengannya tak kuawali dengan cinta. Kurasa dia pun begitu. Bukan aku tak peduli cinta, tapi kuharap, keyakinan untuk membersamainya dapat mengantar kami lebih dekat menuju-Nya.

Aku tak bilang yang kulakukan mudah. Maka bukan saranku bila kau mau melakukan hal yang sama. Hanya saja setiap orang punya jalan pembelajarannya masing masing, dan aku mau bantingtulang berupaya untuk bisa memahami dan bersatu dengannya.

Aku tak sedang jatuh cinta. Aku sedang membangun cinta. Ya, aku terus belajar membangun cinta.

Belajar mencintai lagi :)
3 Januari 2014
Mie baso suryani, cicadas

Tuesday, January 27, 2015

Cara Mencintai

Setiap orang punya cara masing masing untuk mencintai. Ya, bahkan terkadang mereka mencintai kita dengan cara yang tak kita pahami atau yang baru saja kita pahami. Maka terkadang kita baru sadar bahwa ternyata mereka itu mencintai kita, hanya saja Mereka mencintai dengan caranya masing masing.

Berlapang-lapanglah, lihat semua kerja cinta yang telah Allah anugerahkan pada hidupmu lewat tangan tangan mereka.
Buka mata buka hati, jernihkan diri, mudah mudahan kau akan lebih jeli melihat semua kebaikan-kebaikan cinta mereka.

Kalau kau belum bisa juga, kerjakan bagian cintamu sekarang juga. Memberi, memberi, memberi. Karena cinta tak mengharap kembali. Ingat, Allah sebaik baik pemberi balasan..

3 Januari 2015
Kamar de Marrakesh
Hajah Sofyamarwa R.

Saturday, January 24, 2015

Pentingnya Keberanian dan Ketegasan Berlalu Lintas

Wess gaya judulna (hehe)

Kali ini aku tak langsung menepi dan memberhentikan motorku untuk menuliskan apa yang barusan kualami. Ya, ini di jalanan, jalur cepat, dan baru saja aku "dimarahi" pengendara motor lain lantaran berjalan terlalu lambat di jalur cepat.
"Neng kalau pelan, jangan di kanan!"

Aku hanya terhentak. Tak jadi kesal, karena pernyataannya memang benar, akupun mengiyakan dan segera menambah kecepatan motor (loh bukannya ambil kiri -_-)

Kadang jalanan itu keras. Yang plin plan, di klakson; yang ragu berjalan, membahayakan; yang ngebut bikin deg degan; yang pelan bikin geregetan.

Aku jadi merefleksi caraku mengendarai motor. Kuakui, kalau jalanan kosong memang sering ngebut (hehe), tapi insyaallah ngga semrawutan ya. Aku juga sering tanpa sadar naik motor di tengah atau di kanan dan bikin kagok orang lain (kalo jalan kaki juga suka ga sadar masih suka ke tengah hehe).

* * *

Jalanan selalu menyajikan pelajaran bagi yang berusaha mencarinya (atau yang kurang kerjaan mikirin daripada bengong hehe). Di jalanan, semua orang berlari kencang pada suatu lintasan jarak dan waktu, bergerak menuju sebuah titik tujuan. Dalam perjalanan terkadang kita begitu tak peduli dengan apa yang terjadi pada orang lain, "ngga ada masalah sama gue, bukan urusan gue.", padahal setiap orang dalam perjalanan itu seringnya butuh diingatkan.

Terimakasih bapak yang sudah berani menegur dan mengingatkan saya!
Saya yang bandel ini kadang tak mempan diingatkan secara halus.
Tapi saya ngga sakit hati kok pak, ciyus. Saya malah seneng. Semoga jadi amal soleh bapak ya!
:))

Suatu sore di jalan memutar soekarno hatta,
Sekitar 12 januari 2015

Thursday, January 15, 2015

Habitat Terbaik : Belajar dan Sadar

Habitat terbaik bukanlah tempat yang mewah dengan berbagai fasilitas, habitat terbaik adalah tempat kita bisa belajar, sadar memaknai apa apa yang disekeliling kita dan bertumbuh baik karenanya :)
- hajah sofyamarwa

* * * *

Kita berbicara tempat kita bertumbuh. Bukan pada mahalnya atau lengkapnya fasilitas fisik, tapi pada proses dan interaksi yang membuat kita mudah dalam belajar. Fitrahnya, manusia selalu bertumbuh dan pasti terus belajar.

Dan, sadar itu mengawali segalanya. Irisan pisau tajam di kulit kadang baru terasa sakitnya setelah kita sadar ada luka, kebaikan seseorang kadang baru kita rasakan ketika sadar bahwa tak ada yang berbuat baik seperti dia memperlakukanmu.

Bersyukurlah bila kau menyadari suatu hal. Mungkin agak terlambat dari yang lain, tapi siapa peduli? Setiap orang punya episodenya masing-masing, kan?

* * * *

29 Desember 2014
Yang terus berupaya mensyukuri yang dihadapi, yang telah lalu, dan kejutan Allah lainnya yang akan datang :)

Thursday, January 8, 2015

Anak yang Belajar Diterima dengan Baik

Aku langsung menepi dan menghentikan laju motorku. Mengetik di memo, membuat lintasan pikiranku tak lenyap begitu saja. Berpikiran kekinian untuk harus mengapdet di status (-,-'). 😅

4 bocah polos di tengah rintik gerimis ini yang membuat hati ini bergejolak. Bukan apa apa, mereka hanya membagikan selebaran pamflet kreditan motor yang promo di bulan desember (eh sudah lewat?). Tak berniat beli motor (belum), terkadang malas juga ambil selebaran yang tak kita butuhkan. Di gang perbatasan santosa asih - margahayu ini sebetulnya aku tinggal lewat, tapa perlu menghiraukan mereka. Ah tapi pikiranku mengutusku untuk berhenti, memberi senyum dan menerima selebaran yang mereka berika. Kau tahu? Ah begitu senangnya melihat tiba tiba senyumannya mengembang!
Ya allah, aku senang sekali!

Aku hanya berharap, satu hal kecil-tak-berarti yang kulakukan ini memberi mereka pengalaman rasa 'diterima dengan baik', meningkatkan rasa percaya diri nya, dan lebih bersemangat.

Bahagia itu sederhana.
Maaf lebay, insyaallah berusaha jujur.

3 Januari 2014,
Jok motor di tepi jalan.

* * * *

Thursday, January 1, 2015

Berlatih "Editing" untuk Menyederhanakan Kehidupan

"Tak banyak orang menyadari bahwa menambah ilmu adalah suatu hal, dan menggunakan ilmu dalam kegiatan sehari hari adalah hal yang berbeda. Dibutuhkan lebih dari sekedar menyimpannya. Untuk dapat digunakan secara efektif diperlukan banyak penyesuaian, yang berarti penyederhanaan."

(Rhenald Kasali, Self-driving, The Power of Simplicity hal.177"

Sampai pada bab ke 9 dari buku ini, "lampu" di kepala saya kedap kedip, ahaaa! Saya jadi inget dengan postingan saya beberapa waktu lalu terkait kesederhanaan : Sederhana VS Tidak Sederhana. Membaca bab itu menyadarkan saya bahwa ternyata pada akhirnya, kita harus berusaha menyederhanakan banyak hal.

Saya adalah orang yang merasa simple, padahal ribet haha. Overthinking mungkin penyebabnya. Jadi sesuatu yang mudah mungkin (tanpa sadar) akan saya bikin jadi ribet. Sejauh ini saya memaklumkan diri, toh masih belajar, masih cari "bentuk", tapi dengan berubahnya fase hidup menjadi seorang istri dan ibu, pencarian bentuk itu harus lebih cepat dan lebih sederhana.

"Menyederhanakan sebuah pengetahuan membutuhkan kerja keras. Segala sesuatu harus disederhanakan, namun bukan berarti itu mudah."
--Einstein

* * *

TIPS BERLATIH "EDITING"
Mengedit dalam kehidupan akan membuat hidup kita dan orang lain jadi lebih simpel. Ya, kita jadi lebih fokus pada apa tujuan kita dan pada apa yang harus kita kerjakan sekarang.

Ini dia tips dari pak Rhenald :
1. Gunakan kata-kata yang mudah dipahami lawan bicara
2. Buat kalimat lebih ringkas, satu dua ide dalam 1 kalimat. Buat contoh jelas, jangan bertele-tele
3. Melayani oranglain agar mereka lebih mengerti, hidup lebih mudah
4. Buang bagian tak perlu, rapikan, pangkas cabang
5. Menambahkan contoh2, menjadikan tulisan/pikiran lebih membumi
6. Sederhanakan penjelasan, susun kembali agar lebih bermakna
7. Memasukkan dalam kategori, subjudul, atau file sehingga mudah ditemukan.

* * *

Masih ada 8 hal lagi selain berlatih editing, insyaallah di postingan selanjutnya.

Nah sampai sini, saya masih ribet dan belum sederhana ya? Hehe

#OneDayOnePost
#ODOPfor99days
#day7

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...