Monday, October 8, 2012

Membentuk Karakter Mahasiswa Anti Korupsi (resume studium generale 2)


Narasumber : Abraham Samad – Ketua KPK RI

Korupsi menjadi berita terhangat di televisi-televisi Indonesia. Budaya buruk yang sudah mengakar dalam setiap lini kehidupan ini kian menggerogoti berbagai sektor. Dari mulai korupsi kecil-kecilan, di kursi DPR, berbagai proyek kementrian, bahkan sempat ada kasus yang menyangkut wakil Presiden RI. Penanganan kasus korupsi tidak bisa main-main atau setengah-setengah, butuh keseriusan dan tekad untuk memberangusnya dari setiap kalangan.
Korupsi berasal dari kata corruptio/corruptus (latin), korruptie (Belanda) yang juga senada dengan rasuah (Malaysia),  riswah “suap” (Arab), tanwu “keserakahan bernoda” (China) serta oshuko “kerja kotor” (Jepang). Secara harfiah artinya kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap dan tidak bermoral. Korupsi secara yuridis dijelaskan dalam undang-undang Indonesia Pasal 2 ayat 1 UU No. 31/1999 tentang pemberantasan tipikor (Tindak pidana korupsi) yang berbunyi “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara..”
 Banyak faktor penyebab terjadinya korupsi: (1) Sikap permisif dan skeptis masyarakat terhadap korupsi itu sendiri. Kini korupsi dianggap biasa-biasa saja, dianggap bukan suatu perbuatan yang amoral karena sudah terlalu sering kita lihat pemberitaan bahwa korupsi terjadi dimana-mana tanpa ada penyelesaian yang jelas. Kini kejujuran dianggap sebagai seuatu yang aneh, masih banyak masyarakat yang juga tidak percaya kalau korupsi bisa diberantas. Anehnya lagi, para pelaku korupsi masih diberi tempat terhormat oleh masyarakat. Ada suatu pola pikir yang salah pada masyarakat Indonesia yang masih memberi penghormatan terhadap orang yang kaya dan berkedudukan, padahal moralnya tidak baik. (2) Peraturan perundangan yang belum memadai, saling tumpang tindih dan banyak celah. Tidak ada realisasi penegakkan hukum dan ketegasan. Hal ini banyak dimanfaatkan para koruptor untuk menumbuhsuburkan praktek korupsinya. (3) Lemahnya law enforcement. Suatu cita-cita bersama dimana sistem penegakan hukum di Indonesia dapat diperbaiki, dan berfungsi sebagaimana mestinya. Sangat tidak masuk akal bila seorang penegak hukum (polisi, jaksa, dll) tidak memiliki integritas dengan melakukan hal yang amoral juga. Beberapa contoh di luar negeri, sudah ada yang melakukan langkah besar dengan membekukan institusi penegak hukum yang korup, kemudian me-restartlagi dengan melakukan rekruitmen ulang. (5) Kurangnya keteladanan dari pemimpin. Pemimpin-pemimpin bangsa dari skala terkecil sampai terbesar belum sepenuhnya dapat dicontoh. Masyarakat akan menyalahkan pemimpinnya yang tidak memberi teladan, dan efeknya skeptis dan pesimis tadi. (6) sebab-sebab lainnya sangat banyak, kondisi ekonomi minim, tidak memiliki integritas, dan lain lain. Namun satu hal yang sangat pasti adalah, tidak adanya rasa diawasi oleh sang pemilik kehidupan.
Akibat korupsi terlalu banyak untuk dijabarkan. Efeknya mungkin tidak secara langsung, tapi kemiskinan, hutang luar negeri yang semakin besar, kerusakan alam, pengangguran dan penurunan berbagai kualitas sudah menjadi akibat yang nyata. Penurunan moral bangsa juga semakin terasa dan berdampak pada generasi muda. Yang jelas, seluruh masyarakat menjadi korban.
Menurut data litbang KPK, jumlah kerugian negara akbat korupsi setiap tahunnya diperkirakan menembus angka triliunan rupiah.. Pada tahun 2011, total aset kekayaan negara yang berhasil diselamatkan adalah sebesar Rp 152.957.821.529.773 ! Dengan uang sejumlah itu, tentu fasilitas yang kita dapat akan lebih optimal, dan dana tersebut bisa dialokasikan ke berbagai sektor! Seperti untuk rumah penduduk, susu bayi, biaya sekolah, beras, pembangunan sekolah dan sarana.
Sekarang bagaimana cara memeranginya? Dibutuhkan tekad yang sangat kuat. Perangi dengan gigih, adil, dan tidak pandang bulu, sampai tuntas. Kita harus percaya bahwa korupsi bisa diberantas, percaya dengan esensi penegakan hukum, memberdayakan seluruh pihak, dan tahan banting. Karena seperti kita ketahui, korupsi yang terjadi tidak hanya melibatkan satu dua orang saja, tapi sebuah jaringan besar yang saling melindungi. Kelemahan birokrasi dan lambatnya proses peradilan juga menjadi sebuah hal yang harus dievaluasi, untuk mengefektifkan proses. China sudah dengan tegas memberlakukan hukum mati pada koruptor, apakah Indonesia akan siap?
Sebagai mahasiswa, kita dapat berperan sebagai duta anti korupsi, sebagai agen-agen pencerdasan pada masyarakat, suri tauladan yang baik dan mempersiapkan diri sedini mungkin untuk membentuk karakter yang kuat. Karakter menurut KBBI didefinisikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Yang kita sebut pendidikan karakter sebenarnya adalah upaya penyadaran kembali nilai nilai kepercayaan atau agama yang kita anut, menjadikannya sebagai prinsip hidup untuk menjalani kehidupan, bukan sekedar materi yang disengajakan pada suatu pelajaran atau matakuliah.


PERTANYAAN SESI DISKUSI DAN TANYA JAWAB
1.   Mengenai hukuman untuk koruptor, di China dikatakan sudah efektif, mengapa tidak diterapkan di Indonesia?
2.      Bagaimana alur proses tindak pidan korupsi?
3.      Batasan-batasan apa saja yang menyebabkan seseorang disebut korupsi? Misal Sumber dana dari sekolah swasta kan dikelola sendiri, apakah itu korupsi, kan bukan memakai dana APBN?
4.      Bagaimana seleksi SDM untuk anggota-anggota KPK? Saat ini sebagai mahasiswa masih idealis, namun saat di dunia kerja, kita dihadapkan pada suatu lingkungan yang korup, lalu harus bagaimana?
5.      Sejauh mana peran KPK (wewenang bapak) dalam nenyeret orang-orang besar seperti SBY misalnya, atau Anas Urbaningrum dalaagar m suatu kasus korupsi? Antasari azhar pernah mengatakan bahwa ketika menerima tugas sebagai kepala KPK harus siap mempertaruhkan seluruh jiwa raga bahkan keluarga, apakah bapak pernah mendapat ancaman semacam itu?
6.      Boleh tolong dielaskan, mengapa saya harus percaya sama KPK?
7.      Bagaimana cara KPK menjamin anggota-anggotanya steril? Bagaimana hutang-hutang kasus KPK?
8.      Pendapat bapak mengenai revisi UU KPK? Pengaduan lewat twitter? Money Laundry?


* * * * * * * *
dibuat sebagai resume tugas kuliah umum Studium Generale ke 2. Sebenarnya saya agak ngantuk ngedengerinnya. hehe. kurang gereget. Kirain akan menjelaskan tentang KPK nya.
Di tulisan ini ada beberapa pendapat pribadi yang saya cantumkan juga hehe.
Menurut kalian, pembentukan karakter yang baik itu seperti apa sih? :)

Sunday, October 7, 2012

yang bisa diambil dari nonton film Ummi Aminah

image source : addyn.web.id


Habis kumpul krima, ngga sengaja saya nonton film Ummi Aminah di salah satu chanel TV swasta. Awalnya biasa aja, tapi nyata nya saya nonton sampai habis dengan (lagi-lagi) berurai air mata.

Ngga akan terlalu banyak cerita tentang sinopsis filmnya, intinya tentang hikmah di balik musibah yang dialami keluarga seorang Ummi Aminah (Nany Wijaya). Seorang ustadzah berakhlak baik yang biasa menyebarkan dan mengajarkan ajaran islam. Namun dibalik itu semua, dia juga tetap manusia yang ga bisa lepas dari permasalahan. Musibah juga bisa mendatanginya kapan saja.

Sutradara dari film ini Aditya Gumay. FILM INI RECOMENDED BANGET BUAT LANGSUNG DITONTON AJA SENDIRI. Dipikir-pikir kita tuh butuh sesuatu yang bisa bikin kita rada tobat.

Poin penting yang bikin saya pingin bikin tulisan ini adalah kesan yang saya dapat dari cuplikan beberapa adegan dalam film itu.

Diperlihatkan bahwa dari bertubi-tubinya masalah yang menghadang Ummi Aminah (tokoh utama) ada satu bagian yang disebutkan bahwa "walopun kena musibah, tapi masih punya keluarga."
Ya, secara garis besar masalah datang dari anggota-anggota keluarganya (anak), tapi dengan keluarga pula, masalah bisa selesai. Fungsi keluarga  berjalan dengan sangat baik. Punya aqidah kuat, dan saling memahami.

Bicara tentang membangun keluarga seperti itu, tentu saya belum tau apa-apa, tapi dari film itu bisa dilihat bahwa keluarga yang baik, yang bisa memberikan rasa nyaman bagi kita, adalah keluarga yang kebaikan kebaikannya kita tanam sendiri.

Saya yakin kalo ummi aminahnya (sebut saja) jahat, ditengah derasnya masalah, keluarga nya ngga akan jadi penentram hati. 

* * * * *

Permasalahan yang timbul sepintas memang dari anak-anaknya, tapi keluarga yang sejak awal dengan baik terpelihara, nantinya akan tetap dalam koridor yang baik. Contoh adegan saat anak perempuannya digosipkan merebut suami orang, ummi aminah muarah besar sampai bilang "Ngga akan ridha dunia akhirat!"
Kita kadang kalau ngga ada masalah apa-apa, liat kata-kata begitu bebal aja, ngga ada efek apa-apa. Tapi di situ diperlihatkan bahwa sang anak langsung meronta-ronta minta pada Ummi Aminah agar menarik kembali ucapannya. Ikhtiarnya adalah dengan segera pergi dan mendatangi istri laki-laki yang menjalin hubungan sama dia. Udah tertanam gitu rasa cinta dan bener-bener takut sama Allah nya.

* * * * *

Jadi lebih dapet feel nya pas liat di salah satu adegan ada wartawan yang ngedatengin rumah Ummi aminah. Ceritanya mau dapet kabar teraptudet tentang gosip anaknya masuk penjara yang beredar. Disitu saya cuma kebawa kesel aja ( ceritanyaudah menghayati), maksudnya orang lagi kena masalah gitu, malah dibuat rungsing. Ngerti sih, itu memang kerjaan mereka, mencari berita. Tapi yang jadi masalah adalah "masalah pribadi orang bukan buat dibuka-buka juga". Coba kalo kita memposisikan diri jadi orang yang kena masalah, berat bung!

* * * * *

Di endingnya, adegannya lumayan jleb.
Akhirnya sang abah mau mendatangi anaknya (disitu pemerannya Ruben Onsu) yang ceritanya punya sedikit kelainan (laki-laki yang kewanita-wanitaan). Si abah udah mau dicium tangannya, dan minta dipotong rambutnya.
Saya pikir akan happy ending dong. Paling ngga terharu dan kocak gitu.
Ternyata dalam proses pengeramasan si Abah, ruben yang terus berbicara menyadari bahwa Sang Abah tertidur pulas.
Tau? Ternyata sang abah meninggal T_T

Setidaknya sebelum meninggal, hubungannya sudah baik, sudah tidak ada lagi rasa marah diantara keduanya.


"Bersama kesulitan ada kemudahan"

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.
"Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.
Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. 
Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."
(diketik dengan nyontek dari al-qur'an surat 2:286)


Bandung, 7 Oktober 2012
Pukul 00:02

Wednesday, September 26, 2012

ngga tepat sasaran

X : Linggis, gergaji, palu, obeng, senapan angin, meriam, semua udah kukerahin kok buat mereka! Terus ko tetep ga bisa?
Y : Terang aja, mereka itu kelaperan, bukannya mau perang
X : ....

Terlintas di perjalanan pulang tadi sore hehe
26 September 2012

Tuesday, September 25, 2012

met new people : another way to found yourself


"Bertemu dengan orang-orang baru adalah salah satu jalan menemukan dirimu. Terkadang memang proses yang terjadi hanya di permukaan saja. Tapi percayalah, selalu ada pelajaran untuk dirimu."
--Jalan Setiabudhi, 19 September 2012

Sebuah catatan yang kutulis dalam buku catatanku seusai pulang dari Balitsa Lembang, terkait pengumpulan laporan KP.

Pembimbingku disana memberikan form penilaian kinerja ku di sana beberapa waktu lalu.  Sesuatu yang awalnya kupikir sebuah formalitas saja, tapi ternyata ngga sepenuhnya begitu.

Hasil akhirnya, aku diberi sebuah nilai yang cukup baik. Cukup lah, mungkin juga tak jauh beda dengan nilai teman-temanku yang juga KP di tempat berbeda. Namun yang lebih menarik buatku adalah bagian "Catatan".

Di situ tercatat bahwa secara umum kemampuanku cukup baik, namun perlu meningkatkan kemampuan ilmiahnya

Mungkin terdengar biasa-biasa saja bagi kalian, namun bagiku, terasa seperti ada bayangan lampu menyala di atas kepala kanan, kemudian terdengar "aha!"

Yah, itu semua jadi lain kawan, kalau kau merasakan ada sesuatu yang rasanya cocok.

Interaksi dengan pembimbing ku selama lebih kurang 45 hari itu, tentu menimbulkan sebuah kesan, apalagi mungkin setelah melihat draft laporan KP ku. Kemampuan ilmiah salah satu skill yang sangat diperlukan di berbagai bidang, kupikir. Jadi mungkin setelah ini harus lebih keras berusaha!

Yak dibantu yak temannya dibantu yak! :D

Resume Studium Generale 1 - Wakapolri

REFORMASI DAN DEMOKRASI KEPOLISIAN
“MELIHAT DAN MEMAHAMI KEPOLISIAN RI LEBIH DEKAT“
Narasumber : Komjen Polisi Drs. Nanan Soekarna

Citra kepolisian di Indonesia masa kini dinilai negatif oleh masyarakat, pungli, kekerasan, atau korupsi. Padahal sejatinya tugas polisi adalah mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat. Seburuk itukah kepolisian di Indonesia? Tak tahukah bahwa penilaian berbagai  lembaga menunjukkan bahwa polri mempunyai hasil yang baik? Bahkan dinilai sebagai lembaga kepolisian yang sangat baik di luar negeri sana?

Pak Nanan memulai ceritanya dengan latar belakangnya dahulu. Dulu beliau sangat membenci polisi. Dibesarkan di lingkungan militer, ternyata Allah menunjukkan jalan berbeda, hingga sampai saat ini berada di kepolisian dan menjadi orang nomor 2 di polri. Beliau bertekad semoga tidak menjadi polisi yang banyak dibenci oleh masyarakat.

Wajah polisi Indonesia dicitrakan buruk. Para mahasiswa mengaku kesal dengan ulah polisi yang tampak di jalanan. Kalau lapar, adakan razia, tilang saja yang melanggar. Kalau tidak mampu bayar denda, kompromi jadi jalan keluar. Uang kompromi yang ditarik tak masuk kas negara, tidak tahu kemana.

Perlu kita ketahui bahwa dalam menjalankan tugasnya, anggota Kepolisian Republik Negara Indonesia berjumlah mencapai 400 ribu orang. Dari jumlah yang banyak tersebut terdapat 4 levelisasi kepemimpinan yang masing-masing memiliki jumlah dan wewenang yang berbeda: (1) Pati sekitar 237 orang, (2) Pamen sekitar 13ribu orang, (3) Pama sekitar 31 ribu orang, dan (4) Bintara sekitar 340 ribu orang.

Masing-masing level tentu berbeda. Oknum polisi yang sering kita lihat di jalanan, mungkin yang jumlah nya paling banyak, mencitrakan polisi, sebenarnya produk dari pembentukan masyarakat juga. Bila top management nya bagus namun pada tingkat bawahnya kurang bagus, mungkin citra yang terbentuk memang akan negatif, karena jumlahnya lebih banyak dan tersebar di grass root.

Ketidakseimbangan dalam pemberitaan media juga berimbas pada citra yang buruk. Padahal selain itu, polri juga memiliki banyak prestasi, namun sangat jarang dipublish oleh media. Penilaian kinerja polri dinilai sangat baik oleh menpan, BPK, KPK, UKP-4 dan JSI (2011). Namun mungkin bagi media, bad news is a good news. Jadi prestasi yang baik jarang di ekspos.

Perlu diketahui juga, anggaran total untuk kepolisian hampir 40 T. Sebuah angka yang besar. Namun alokasi dananya 71% untuk gaji (28 T), 19% operasional (7,349 T), dan 10% untuk sarana dan prasarana (0,39 T). Tak seberapa bila dibanding kasus yang terjadi di Indonesia. Namun mereka tak bekerja atas dasar uang, namun rasa pengabdian untuk negara.

REFORMASI POLRI
Reformasi polri dilakukan bersamaan dengan reformasi Negara Indonesia, pada tahun 1998, yang dikenal juga sebagai buku biru polisi. Sejak tahun 2005, sudah dibuat Grand Strategy Kapolri (2005-2025) oleh UI. Dari grand strategy tersebut dibagi menjadi 3 renstra yang harus terus dijalankan dan dievaluasi keberjalanannya. Sasaran reformasi birokrasi adalah : (1) polri bersih, bebas dari KKN; (2) meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat; serta (3) meningkatnya kepasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi.

Bekerja sebagai pelayan masyarakat sipil, bukan bekerja secara militer. Kini arah geraknya juga banyak menyertakan masyarakat, lebih terbuka, dan aktif di berbagai komunitas. Membangun kepercayaan sehingga dapat mencapai sinergi untuk lebih optimal. Di dada kanan polisi kini terdapat Pin Pelayan Prima Anti KKN dan Anti Kekerasan yang melambangkan tekad yang kuat dari polisi sebagai pelayan dan sahabat masyarakat.

POLISI DEMOKRATIS
Emotional quotient cukup sering disebut-sebut oleh Pak Nanan. Rupanya dalam membentuk seseorang menjadi polisi, rasa ketaqwaan menjadi faktor utama. Dalam setiap apel pagi dan siang terdapat do’a yang memang dimaksudkan untuk terus menyadarkan diri dan sebagai jalan hidayah. Karena godaan dari berbagai kepentingan akan terus datang, dan kalau tidak kuat menghadapinya, akan terjerumus.

Ada yang disebut Politic of Policing, mengenai berbagai kepentingan yang tak bisa lepas dari kepolisian, yaitu : Political, Public Pressure, Policy, Pendidik/Peserta, Pengacara, Publish/media, Politism. Hal-hal tersebut akan menjadi masalah bila polisi tidak mempunyai karakter kuat untuk terus menegakkan hukum.

Sebagai penegak hukum, menjadi sebuah dilema bila dihadapkan antara menegakkan hukum dengan adanya HAM. Karena ini, polisi sering di cap tidak manusiawi. Padahal sebetulnya mereka memegang asas tegas humanis. Dalam aturannya, terbukti bahwa sebenarnya kepolisian membutuhkan masyarakat untuk terus mengawasi dan mengingatkan polisi. Keamanan dapat terwujud bila semuanya bersedia berpartisipasi dalam mewujudkannya.

Pesan Terakhir Kepada Civitas Akademika
Semua civitas akademika ikut mengawasi, mendukung melaporkan dan mengingatkan. Karena kedepannya, mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa yang akan datang, yang akan menggantikan kepemimpinan saat ini.

 ______________________________
Dibuat sebagai tugas mata kuliah umum Studium Generale Rabu, 19 September 2012
selesai pada 21 September 2012 :)
membuka pandangan lebih luas tentang kepolisian RI 
 
dan ini sedikit oleh-oleh bisa berfoto bersama hehe :)
(Captured by : Anjaritha, 2012)

Monday, September 24, 2012

tebak-intip dunia pekerjaan


Saya termasuk orang yang santai bila harus bertemu dengan seseorang. Maklum masih mahasiswa biasa yang ngga punya kesibukan apa-apa. Masa mahasiswa ini saya belum mengerti tentang kode etik dalam profesionalisme dunia kerja. Masih cupu, masih banyak salah, masih belajar karena belum banyak tau apa-apa.

Dengan tanpa perasaan apa-apa saya melangkah memasuki sebuah kantor perusahaan penjualan mobil, tempat dimana kakak saya bekerja. Tujuan kedatangan saya adalah untuk mewawancarai Bagian HRD terkait tugas Manajemen Sumber Daya Manusia. Tugasnya mengetahui struktur organisasi, posisi tertentu yang ingin dipelajari , serta tugasnya sehari-hari.

Sebelumnya saya sudah minta tolong kakak saya untuk menanyakan, apakah bisa  ngobrol-ngobrol terkait tugas analisis pekerjaan ini. Masuklah saya ke show room, bertemu respsionis, dan diminta tunggu di lantai 2, di ruang tunggu.

Singkat cerita, saya bertemu dengan orang yang dijanjikan. Lega rasanya karena diterima orang yang sangat terbuka. Setelah menjelaskan maksud kedatangan, saya diarahkan untuk bertemu atasannya di bagian HRD.

Perlahan tapi pasti saya buka pintu dan masuk ke dalam ruangannya, disambut dengan sebuah senyuman menyapa. Saya jelaskan kembali maksud kedatangan saya, dan kemudian inilah inti ceritanya.

Saya datang kesana tanpa membawa surat pengantar dari kampus. Bukannya saya tidak diajarkan untuk membawanya, tapi saya pikir saya memang hanya ingin berbincang sedikit saja, unformally, dan karena sudah sempat buat janji. Tapi ternyata mungkin tidak bisa seperti itu. Orang yang saya temui ini kan seorang profesional, bekerja dalam sebuah perusahaan, dan punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Dia juga tidak bisa memberikan informasi sembarangan. Setidaknya secara formal harus ada surat pengantar.
Saya ngga berhasil wawancara deh.
:)

* * * *
Banyak pelajaran yang bisa diambil khususnya oleh saya pribadi.
Mungkin saya masih terlalu polos (belum mengerti) tentang bagaimana dunia kerja.
Kepala HRD itu hanya menjalankan pekerjaannya, sebagai pekerja yang profesional. Saya harus belajar lebih mengenai adab-adab dalam perusahaan, sesuatu yang lebih serius dibanding kehidupan mahasiswa sehari-hari. Yang bukan bocah lagi, kehidupan orang dewasa.

* * * *
By the way, struktur organisasi dalam perusahaan itu sesuatu yang rahasia ya?

* * * *
Ketika kau meminta diberi kekuatan, Allah memberimu pengalaman untuk menjadi kuat :D

Wednesday, September 19, 2012

stronger

What doesn't kill you makes you stronger  
Stand a little taller
...
What doesn't kill you makes you fighter  
Footsteps even lighter
...

--Kelly Clarkson, Stronger

Thursday, September 13, 2012

Bincang Asik Pak Hernowo : Tips Menulis :D

Suatu pengalaman tak terlupakan bisa berbincang dengan Pak Hernowo walaupun hanya lewat tulisan. Teknologi semakin berkembang, dan kini jarak udah ga jadi masalah berarti. Yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh juga hehe. Beliau ini di Mizan, aktif banget nulis dan ngajarin nulis. Contoh bukunya Vitamin T dan Mengikat Makna. Dari buku beliau saya banyak tau juga beberapa nama yang beliau tuliskan sebagai sumber inspirasi.
Saya tergabung di sebuah grup facebook milik beliau yang spesialis baca-tulis mengikat makna. Wooh pertama kali saya baca buku Pak Hernowo, langsung suka dengan gaya berceritanya, plus seneng karena konten yang ditulisnya memang serba-serbi dalam menulis.  Bukan teknisnya tapi, penghayatannya hehe
Ini kutipannya, gak saya edit biar original hehe. semoga bermanfaat :)

* * * * *
Pak
Hernowo Hasim, permisi saya hajah, sangat senang baca-tulis. dan ingin belajar Ada yang ingin saya tanyakan:
1. Bapak sangat produktif sekali dalam menulis dengan tulisan yang bergizi, bagaimana pengaturan waktu membaca dan menulis bapak? dijadwal tetap atau sesukanya? proporsinya bagaimana?
2. dari sekian banyak yang bapak tulis, cara penyimpanan tulisan tulisan bapak (mendokumentasikan) seperti apa? saya masih bingung pengelompokannya dan karena tulisan2 saya tersimpan acak. hehe oh ya saya suka nulisnya di blog.
terimakasih ya pak :D

Alhamdulillah, memiliki kesenangan dalam membaca dan menulis adalah sebuah anugerah Bu. Jadi, anugerah itu perlu Ibu rawat dengan baik. Silakan belajar bersama saya. Saya akan memberikan apa pun yang Ibu mintakan kepada saya. Saya akan membagi pengalaman baca-tulis saya dengan senang hati.

Jawaban saya: 1. Pertama, sy punya konsep "mengikat makna". Konsep ini mewajibkan sy untuk menuliskan (mengikat) hal-hal penting dan berharga yg sy dpt dari membaca. Jadi, setiap kali selesai membaca, sy tentu memproduksi tulisan. Mungkin ini ya Bu yg menyebabkan sy produktif menulis. Sy tak mau terjebak dlm kesia-siaan membaca. "Mengikat makna" telah menolong sy agar tak sia-sia membaca. Membaca sy ada hasilnya.

"Mengikat makna" memberi sy sebuah cara membaca yg enak dan menyenangkan. Cara itu bernama MEMBACA "NGEMIL". Lewat cara membaca "ngemil", sy bisa membaca setiap hari. Ada banyak bacaan yg sy baca tiap hari, tak hanya buku. Prinsip sy, sekali lagi, habis baca (apa pun yg sy baca meski hanya sedikit), sy pun menuliskan apa yg sy peroleh dari membaca tsb.

Jawaban 2: Di komputer sy, ada folder yg sy kelompokkan per tahun (2011, 2012 misalnya) dan kemudian kelompok per tahun itu sy pecah menjadi 12 bulan (Januari-Desember). Setiap hari, tulisan atau "ikatan makna" itu sy masukkan ke kelompok bulan. Setiap minggu, sy mengevaluasinya. Ada yg sy posting ke Facebook dan ada yg tidak. Yg penting, bukan hanya mengelompokkan dlm folder tapi mengevaluasi dan menatanya.

Sy tak punya blog. Ibu beruntung punya blog. Sekali lagi, jangan lupa mengevaluasi tulisan-tulisan ibu. Teruslah bertanya, kenapa menulis ini dan untuk apa tulisan ini? Carilah makna dari setiap tulisan Ibu. Menemukan MAKNA menjadi bagian yg sangat penting dari kegiatan baca-tulis saya. Makna itulah yg menjadi motivator sy untuk kontinu dan konsisten membaca dan menulis setiap hari---meski hanya sedikit yg sy baca dan sy tulis. Semoga bermanfaat. Salam.

(eh tiba-tiba ada yang komen : Kak irfan hehe)
karena namanya hajah dipanggilnya ibu, padahal masih mahasiswa. hehehe...

wah sip pak! (balasannya wow banget hehe)
kalo boleh saya ngiket maknanya (hehe),
-seneng baca-tulis itu harus disyukuri, dipiara, dan bapak memang bersedia membimbing siapapun yang membutuhkan (yess)
- baca "ngemil" --> ngiket makna --> otomatis produksi tulisan
 Aaaa terimakasih pak, saya mau ngesave in tulisan tulisan bapak yang di document sini hehe

Ya, Hajah, silakan bertanya apa saja kepada saya. Semoga dengan memberi pertanyaan kepada saya, pertanyaan itu kemudian dapat membantu saya mengeluarkan pengalaman membaca dan menulis yang saya jalani selama ini. Saya punya "cara" atau "jalan" dalam membaca dan menulis yang bernama "mengikat makna". Saya yakin, Hajah juga punya. Temukan "jalan" membaca dan menulis Hajah lewat "jalan" setapak yang saya miliki. Pernah nonton film Finding Forrester? Kalau pernah, Hajah tentu paham dengan apa yang saya kisahkan barusan ini.

"satu lagi pertanyaan pak, teknis banget tapi, pas bapak nulis makna, bapak punya semacam buku catetan yang isinya 'hasil ikatan makna" semua gitu pak? baru ntar ditulis di komputer gitu ya? haturnuhun paak!" 

JAWAB: Saya dulu punya buku catetan itu. Sewaktu saya naik haji pada 2002, saya punya 5 buku catetan (berupa buku tulis). Ya, buku catetan itu memang untuk menampung "ikatan makna" dalam bentuk yang beragam dan luat. Dalam bahasa Ralph Fletcher, buku catetan itu disebut "Writer's Notebook".

Waktu saya selesai berhaji, buku catatan haji saya kemudian saya pindah ke digital (diketik lewat komputer)--sebagaimana yang Hajah katakan. Namun, kini, saya mengubah buku catetan atau Writer's Notebook itu dalam bentuk BlackBerry he he he
. Saya sering mencatat (mengikat makna) di BB saya karena praktis. Mula-mula susah karena keyboard-nya kecil. Eh lama-lama jadi nyaman. Terutama kalau tiba-tiba ada GAGASAN atau IDE datang. Saya langsung mengikatnya di BB saya. Kan gagasan datang tak kenal waktu?

Baru, catatan saya di BB itu saya kirim via email atau saya pindah ke komputer/lap top saya dan saya eksplorasi. Jadilah sebuah tulisan. Demikian Hajah, semoga pengalaman saya ini bermanfaat untuk memperbaiki dan mengembangkan serta meningkatkan kemampuan menulis (dan membaca) Anda. Salam.

Terimakasih banyak pak,
Wah Finding Forrester saya belum pernah nonton pak, kalo finding nemo sudah hehe :3
wah saya senang juga jadi tau cara-cara teknis bapak, mungkin sya tiru dulu sekarang2, nanti mungkin akan nemu gaya sendiri ya pak. Saya seneng juga jadi tau Ralph Fletcher dan writer's notebooknya! Saya googling dan dapet websitenya (terus dapet tipsnya, yes! www.ralphfletcher.com/tips.html) intinya selalu sedia media tulis weh ya pak kemana kita berada. soalnya hape saya BL pak (Black Lenovo - ngegaring ceritanya he he)
ini walaupun comment saya pendek sebetulnya wejangan bapak ini saya coba resapi hehe.
sekali lagi terimakasih banyak ya pak! :D

Ya kita memang perlu meniru dulu, baru nanti menemukan cara atau "jalan" menulis yang khas diri kita. Itu yang diajarkan seorang novelis, William Forrester, yang ada di film yang saya tunjukkan. Salam.

* * * * *

ini grup nya Klinik Baca-Tulis Mengikat Makna, silakan yang mau lihat lihat :D
image source : http://www.thewritersworkshop.net/classes_fiction.htm

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...