Tuesday, November 11, 2014

Menjadi Menantu Idaman

Resume kopdar#8
Komunitas to be wonderful wife
Ahad, 7 September 2014
Oleh Ibu Sinta Yudisia
(Ibu 4 orang anak, psikolog, penulis)

MENJADI MENANTU IDAMAN

Hmm.. Materi ini terdengar berat ya? Karena memang seringkali menjadi momok bagi perempuan di Indonesia ketika ia berposisi menjadi seorang menantu. Rasanya lebih mudah jika berbicara menjadi istri atau ibu idaman daripada menjadi menantu idaman. Tapi tenang saja, segala sesuatu meski tidak ada sekolahnya tetap bisa kita pelajari. Termasuk belajar bagaimana menjadi menantu idaman. Karena sejatinya hidup adalah untuk belajar  ^_^

Yang perlu diingat, kita hidup di Indonesia yang setiap peran tidak terlepas dari budaya ketimuran kita. Kita bisa mengamati perbedaan penekanan budaya dari sebuah film. Pada film2 India, misalnya, hatta diwarnai tarian dan nyanyian,semua tokohnya termasuk tokoh antagonisnya juga akan digambarkan bagaimana mereka berbakti  kepada orang tua. Begitu juga saat genre film tersebut action.

Pada film Korea,  hampir setiap filmnya menekankan hubungan  kekeluargaan, meski genre-nya ‘romantis’.

Sedangkan untuk film hollywood menekankan kebebasan pilihan hidup, sisi personal satu tokoh saja.

Nah tentu saja menjadi ‘menantu’ di Indonesia tidak bisa lepas dari budaya ‘ikatan kekeluargaan yang kuat’. Atau bosa diartikan, menjadi menantu perempuan di negara2 Timur atau di Indonesia ini sangat berat. Hehehe..

Untuk menjadi menantu, istri dan ibu memang tidak ada sekolahnya, seperti yg disebutkan di awal tadi, namun kita bisa belajar dengan sharing bersama orang lain.
Salah satunya dari nenek saya.

Saat itu saya pernah bertanya kepada Beliau. Nek, apa sih tipsnya biar bisa jadi menantu yang baik? Beliau menjawab :  kuncinya cuma satu :  SABAR.

Sabar di sini bukan berarti hanya pasrah, di injak-injak diam saja seperti sinetron kita yang hanya menangis saat teraniaya hehe. Bukan demikian, namun seperti kata tokoh politik Anis mata,
sabar adalah terus maju dengan beban yang ada dan mencari cara untuk mengatasinya.
Salah satu aplikasi sabar adalah jika mertua berbicara maka menantu MENDENGARKAN.

Banyak cara yang bisa kita lakukan terkait hal ini. Misal coba tanyakan kepada ibu mertua kita tentang  anak beliau, tentang keluarga, tentang masa lalu beliau saat bertemu dengan bapak mertua, dsb. Selain itu kita juga bisa mencoba konsultasi masalah resep. Meskipun kita bisa googling di internet, tapi percayalah, mereka akan merasa dihargai sekaligus senang saat dimintai petunjuk seperti ini ^_^

Biasanya ibu mertua ditakdirkan berbeda dengan kita dan ibu kita. Entah dari kebiasaan, kemampuan, dsb. Ini menjadi tantangan untuk kita agar bisa belajar dan beradaptasi menjadi menantu yang baik.

Tips kedua ialah mempunyai PRINSIP.

Untuk masalah yang prinsip misalnya pengelolaan keuangan, kita boleh tetap bertahan dengan keinginan kita hanya saja tetap menggunakan cara yang tidak merugikan salah satu pihak. Buatlah kesepakatan2.
Ingat, Karena anak laki-laki adalah hak ibunya sehingga ridho mertua akan mempengaruhi kehidupan dan kebarakahan keluarga kita.

Masalah keuangan adalah hal yang paling sensitif. Terlebih jika suami atau kita masih punya tanggungan membiayai adik2.
Buatlah kesepakatan suami istri mengenai nominal uang yang dialokasikan untuk membantu keluarga masing-masing. Takar sesuai kemampuan. Jangan berniat membantu tapi sampai kita sendiripun terlilit hutang karenanya. Takar sesuai kemampuan. Karena saat telah berkeluarga, akan banyak pengeluaran yg tak terduga dan harus segera diselesaikan, misal pengobatan saat anak sakit.

Sebaiknya saat masih bujang, wanita hendaknya rajin menabung, karena di masa kritis keuangan saat menikah nanti kita bisa membantu meringankan beban suami. Misal saat butuh uang untuk biaya kontrakan atau membeli rumah baru, dsb. Hal ini juga bisa meningkatkan harga diri kita di depan suami In syaa allah.

Di Indonesia, masih kental stigma bahwa jika ada sesuatu yg kurang benar dengan rumah tangga anak laki2nya maka mertua akan mempertanyakan bagaimana menantunya. Misal cucian baju tidak bersih, setrikaan tidak rapi atau bahkan kehabisan uang pasti akan ditanyakan bagaimana ‘istrinya’.
Masing2 kita pasti memiliki kekurangan, tak apa, tonjolkan saja kelebihan kita. Bisa jadi kita tidak jago dalam urusan mencuci, tapi kita mahir dalam urusan dapur. Tidak selamanya mertua akan melihat kekurangan kita, apalagi sampai membicarakannya di depan umum. Asal kita pun punya kelebihan yang bisa beliau banggakan dari kita, menantunya.

Tipa ketiga ialah SHALAT MALAM.

Ceritakan permasalahan kita kepada Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Terkadang ada permasalahan yang tidak bisa kita ceritakan kepada suami. Tapi kita bisa ceritakan kepada Allah. Jangan sampai dengan menceritakan masalah kita (tentang mertua) justru kita malah mengadu domba anak dengan ibunya.

Meski menjadi menantu merupakan momok bagi kita namun kita bisa terus belajar dengan cara menjalin komunikasi yang baik dengan mertua, membuat kesepakatan mengenai sistem keluarga bersama suami, dan sebisa mungkin segera mandiri, tidak serumah dengan mertua (kecuali alasan2 mendesak seperti orang tua sedang sakit dan tidak ada yg merawat, dsb).

Meski kalau harus serumah masih bisa disiasati dan mengalah untuk menang.
Yang akan diingat mertua bukanlah hal-hal besar yang kita beri namun justru hal- hal kecil yang sederhana namun penuh ketulusan dan perhatian.
Cari tahu saja apa yang mertua suka, dan berikan. Asal masih sesuai kemampuan.
Hubungi mertua setidaknya sebulan sekali dan tanyakan kabarnya, apakah sehat, sedang apa, masak apa dsb. Hal2 ringan dan sederhana yg bisa kita lakukan agar semakin akrab dengan mertua.

Q : bagaimana jika tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga calon suami ada di bawah kita? Bagaimana jika latar belakang agama kedua keluarga tidak sama?
A : pasti kita butuh belajar beradaptasi ya. Lihat kebiasaan2nya dan pelajari. Cari jalan tengah. Jangan terlalu memaksakan kebiasaan kita agar diterima langsung sekejap mata.
Untuk masalah perbedaan latar belakang agama, jangan terlalu menonjolkan sisi2 yang masih menjadi perdebatan. Banyak hal yang sama dan berjalan harmoni.

Q : bagaimana dengan mertua yang membanding2kan menantu?
A : bersiaplah untuk dibandingkan. Karena membandingkan antar menantu hampir pasti terjadi di kalangan mertua2 Indonesia. Kenali kelebihan, dan tonjolkan. Tak perlu berusaha mati2an menjadi sosok menantu idaman seperti harapan mertua. Bisa lelah lahir batin. Sehebat2 kita berusaha, pasti akan dibandingkan.
Saat mertua berbicara kepada kita dan membanggakan menantunya yang lain, di lain kesempatan bisa jadi kita juga akan dibanggakan di depan saudara ipar kita.

Q : jika kita posisinya masih sebagai calon menantu, apa yang bisa kita lakukan?
A : ingat harga diri, jangan terlalu sering berkunjung ke keluarga calon suami. Kalaupun berkunjung, jangan sendirian.

Q : bagaimana tekhnik komunikasi yang cantik dengan mertua, agar tidak membuat beliau sakit hati atau justru membuat kita jadi menantu durhaka? Misal mengkomunikasikan masalah hal2 prinsip yang tidak sepaham, tentang masalah kesehatan anak
A : bagaimanapun, menantu statusnya adalah inferior. Jadi jika ingin memberi nasehat, sebisa mungkin bukan dari lisan kita. Misal masalah asi eksklusif bagi bayi 0-6 bln atau masalah minum jamu2an setelah melahirkan, bisa kita siasati dengan mengajak beliau saat imunisasi/ periksa si kecil ke RS. Bisa kita tanyakan ke dokter terkait hal ini dan biarkan mertua kita mendengarnya langsung dari ahlinya.
Untuk hal2 yang khawatir syirik semisal hatus ada gunting di bantal anak bayi dsb, ikuti saja tanpa niat syirik sambil perlahan2 kita komunikasikan. Ada seni dalam berdakwah. Bukan dengan langkah2 ekstrim yang justru membuat subyek dakwah kita antipati.

Q : bagaimana dengan ide mengkomunikasikan masalah kita lewat lisan suami? Pasti lebih mudah berkomunikasi dengan anak kandung sendiri
A : ada kalanya bisa kita lakukan, ada kalanya juga sebaliknya. Jangan terlalu sering, kita usahakan dulu komunikasikan sendiri. Karena tipe komunikasi laki2 dan perempuan tidak sama. Misal kita akan mengkomunikasikan pola pengasuhan anak, ternyata bahasa yg dipakai suami krg tepat seperti : sudah deh bu, jangan ikut campur. Ini kan keluargaku. Ini anakku.
Hati2. Karena suami cenderung akan membela istri. Khawatir bahasa yang dipakai kurang tepat dalam mengkomunikasikan masalah yg sedang dihadapi..

Q : kalau mertua marah bagaimana?
A : orang timur suka orang yang sopan. Jangan bersuara lebih keras dari mertua. Jika mertua marah, diam dan dengarkan saja

Q : bagaimana kalau menitipkan anak pada kakek neneknya?
A : perlu diwaspadai, kadang kala kakek nenek juga bisa jadi ancaman karakter bagi anak. Mungkin aman dari sisi fisik, tidak akan dianiaya dsb, tetapi seringkali yang muncul adalah perbedaan prinsip dalam pola pengasuhan anak. Karena terlalu sayang pada cucu dan tidak mau repot akhirnya apa yang diminta sang cucu akan diberi. Bisa jadi juga karen faktor usia dan mereka telah lelah. Tanyakan kepada mereka sejauh mana kesanggupan mereka dititipi anak2 kita. Buat pembagian tugas. Sebaiknya di tahap golden age ( 0-5 thn ) anak memang berada dalam pengasuhan tangan ibu sendiri. Jika ingin berkarir di luar rumah bisa menunggu saat anak telah melewati masa golden age nya

-end-

Sumber : http://anikawida.wordpress.com/2014/09/

Menjadi Ibu Tangguh

Oleh : Ustadzah Habibah

Ibu dahsyat itu quwwatut tahammul (kuat dalam menanggung, menjalankan tugas, menjalankan amanah).

Tangguh bukan hanya perkara fisik, tp yg lbh penting adalah kognitif dan perasaan. Tangguh itu pantang mengeluh. Ini yang Rasulullah ajarkan saat Fatimah meminta pembantu karena lelah dengan pekerjaan rumahnya. Rasulullah tidak memberikan pembantu, tapi justru mengajarkan untuk lebih bersabar, kuat, dan ikhlas. Ibu hebat itu adalah yang mampu melaksanakan tugas dengan ikhlas dan hati yang riang.

CARANYA :
1.  Husnuzan billah
Selalu berbaik sangka pada Allah atas apapun yang Allah beri karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya.

■ sebelum nikah,
kadang ada yg punya perasaan takut dulu kalo nanti saat jadi ibu akan repot ngurusin anak, rumah, dll. Padahal mereka yang sudah menikah pun banyak yang menjalankan perannya sebagai ibu dengan bahagia.
Banyak bersyukur, maka akan lahir perasaan senang dan bahagia.

■ saat waktunya tiba akan menikah,
Pikirkan dengan matang apakah dia yang terbaik? Caranya: istikharah. Selalu libatkan Allah dalam setiap keputusan penting yang akan kita ambil.
*bahkan ustadzah cerita, ayahnya  istikharah sampai sebulan untuk mencarikan pasangan terbaik untuk beliau.
Serahkan keputusan pada Allah, karena Dia pasti memberikan yang terbaik untuk kita.

■ setelah punya anak,
Tetap husnuzan selalu, bagaimana pun anak kita, fisik maupun sikapnya. Ga perlu ngeluh anak nakal, dsb. Selalu optimis bahwa kita masih bisa mendidik mereka selama kita masih hidup. Karena An Najah (sukses) baru terlihat setelah kita meninggal.

2. Ilmu
Banyak-banyak belajar. Dari mana pun. Jangan hanya dari buku, karena itu hanya teori. Belajar juga dari ibu-ibu lain secara langsung. Misalnya lihat anak yang pinter, hafidz, nah tanya tuh ibunya, gimana cara mendidik anaknya. Terbuka dengan semua orang, bahkan dari yang berbeda agama pun insya Allah ada teladan yang bisa diambil.

3. Jaga fisik
Mulai dari sekarang, bahkan yang belum nikah juga. Mulai dari olahraga, makanan yang dikonsumsi, istirahat, dll. Investasi dari sekarang! Ini akan menentukan juga kekuatan fisik kita saat tua nanti. Ibu dahsyat kan pasti banyak yang harus diurusi, jadi musti kuat

Semoga bermanfaat

Sumber : http://anikawida.wordpress.com/2014/09/

Sunday, November 9, 2014

Cinta dan keshalihan, dua hal yang saling mengikat dan tidak akan pernah saling menjatuhkan

Bang, ada teman saya bertanya soalan rasa. Sejatinya dia cenderung kepada seorang muslimah yang dikenal shalihat. Qadarullah, sang muslimah terikat takdir dengan lelaki lain hingga kecenderungannya menjadi hal yang terlarang. Namun masalahnya sampai saat ini dia tidak bisa mencabut rasa itu. Kecenderungan itu tetap ada walau dia sudah ikhlas dengan keputusan takdir. Apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kecenderungan itu?

Sebelum kita berbicara soal kecenderungan yang terlarang karena takdir, mari kita runut beberapa sejarah kecenderungan yang muncul namun tidak terikat kepada takdir.  Kecenderungan kepada pertama sekali ada pada Qabil anak nabiyullah Adam yang merasa seharusnya dia menikahi saudara kandungnya sendiri Iqlima. Namun jodohnya tertolak hingga membunuh saudara kandungnya sendiri Habil. Inilah kisah tragis kecenderungan kepada lawan jenis pertama sekali di dunia. Kecenderungan yang tidak berlandaskan iman di dada akhirnya berakhir kepada kecelakaan.

Namun bila kita bicara kepada  kecenderungan yang berlandaskan keimanan, maka kisah ini akan berbeda sama sekali. Ada beberapa kisah yang akan kita contohkan. Pertama sekali kisah Salman Al Farisi dengan Abu Darda. Kisah ini tentunya menjadi tolak ukur kisah kecenderungan yang tertolak takdir namun berada dalam koridor ke imanan. Kita akan menjumpai bahkan atas nama ukhuwah, mahar yang sejatinya ingin diberikan kepada sang gadis malah di wakafkan kepada sang shahabat demi kebahagiaan keduanya.

Ada kisah lain yang mungkin jarang kita ketahui. Yakni terkisah shahabat Rasulullah yang di jamin syurga, Thalhah bin Ubaidillah memiliki kecenderungan kepada Aisyah Radhi Allahu Anha. Namun takdir menuliskan ketetapan lain. Sang Ummul Mukminin ini dimuliakan oleh Allah dengan dijodohkan untuk Rasulullah. Kenyataannya rasa itu masih terikat dengan baik. Perasaan tersebut masih disimpan hingga kemudian turunlah perintah larangan menikahi istri nabi sepeninggal beliau yang terabadikan dalam surah Al- Ahzaab ayat 53. 

Sungguhlah firman Allah berada jauh diatas kecenderungan hati. Maka Thalhah pun mengurungkan niatnya dan akhirnya menikahi adik dari Aisyah Radhi Allahu Anha. Kelak, anak dari Thalhah yang bernama sama dengan Aisyah, yakni Aisyah binti Thalhah, di asuh dan dibesarkan oleh Ummul mukminin Aisyah, sang kekasih Rasulullah yang walaupun kecenderungannya tertolak dengan takdir namun tetap di lindungi keselamatannya oleh Thalhah bin Ubaidillah hingga titik darah penghabisan di perang Jamal.

Belum lagi kisah Khalifah Umar bin Abdul Azis. Yang demi kasih sayang kepada istrinya, merelakan gadis yang dicintainya seumur hidup untuk menikah dengan pemuda yang lain. Perkataan yang begitu indah terekam oleh sejarah adalah ketika sang gadis pujaan hati tersebut bertanya kepada khalifah:

“Dulu engkau berniat menikahiku dengan begitu besarnya. Namun ketika saat ini aku ditawarkan oleh istrimu kepadamu, engkau malah menginginkan aku menikahi yang lain. Apakah sudah berkurang cintamu kepadaku wahai khalifah?”

Sang khalifah menjawab dengan beruraikan airmata:
“Bahkan cinta saat ini lebih besar dari dahulu kala.”

Cukuplah tiga kisah ini menjadi catatan kita bagaimana keimanan dan keshalihan mampu menghadirkan sisi manis dramatis penuh keindahan dari kisah cinta tidak sampai.  Belajar dari para shahabat dan tabi-tabi-in, seharusnya kita sadar, cinta yang tidak terikat takdir bukanlah satu momok yang tidak akan berakhir dengan indah. Karena seharusnya semua kisah cinta berakhir happy ending.

Sejatinya cinta sendiri adalah sebentuk energi bagi kehidupan kita. Maka pada cinta berlaku hukum yang sepadan dengan hukum energy.

 Hukum energi berbunyi: energi tidak dapat di hilangkan. Namun dapat berubah-ubah bentuknya. Maka cinta juga sejatinya tidak dapat di hilangkan, namun dapat diubah menjadi bentuk yang lain.

Selayak kisah Thalhah yang mengubah rasa cenderungnya kepada Aisyah dengan menikahi adiknya Aisyah demi mendapatkan kedudukan yang mulia dari keturunan Abu Bakar. Kelak,  anaknya pun tetap memiliki seorang bibi yang mengajarinya langsung dari rasulullah. Walaupun sang anak tidak lahir dari Rahim Aisyah, namun ilmu dan pemeliharaannya sejak kecil hampir serupa dengan anak Aisyah. Bahkan dalam satu atsar dikatakan, Aisyah binti Thalhah mewariskan kecantikan serta keberanian serta keilmuwan Ummul Mukminin Aisyah.

Maka bila ada seorang ikhwan yang memiliki kecenderungan yang tertolak takdir, seharusnya rasa itu bukan dihapus. Namun alihkanlah kepada yang lain. Khitbah dan lamarkanlah muslimah yang lain, yang menurut kita memiliki kemuliaan selayak yang kita cenderungi dulunya. Ini lebih menenangkan daripada berusaha membunuh rasa yang telah Allah tetapkan ada dihati kita. Berusaha tidak jatuh cinta lagi, bahkan merasa cinta atau kecenderungan adalah sesuatu yang menyakitkan hati dan jiwa. Sungguh bila itu yang kita pilih, maka kita sedang memilih jalan cinta yang seharusnya berakhir happy ending menjadi sad ending.

Wallahu alam..

--Ustadz Rahmat Idris

"Rasanya berlaku untuk siapa saja, tak hanya untuk laki laki, tapi juga perempuan ya :)"

Sumber : https://m.facebook.com/notes/rahmat-idris/cinta-dan-keshalihan-dua-hal-yang-saling-mengikat-dan-tidak-akan-pernah-saling-m/10152651376940753/?__tn__=C

Monday, November 3, 2014

Gejolak dalam Penantian

Entah apakah para calon pengantin merasakan hal ini juga. Sebulan menjelang hari akad timbul berbagai gejolak atau kekhawatiran akan banyak hal. Aku sendiri mengalaminya. Ketidakyakinan akan kepantasan diri sendiri untuk bisa mendampinginya, serta kekhawatiran apakah ia adalah orang yang tepat.

Tapi satu hal, alasan yang membuatku akan sangat mensyukuri kehadirannya. Ia adalah lelaki yang penuh kelembutan hati. Eh, Bagaimana kau bisa tahu? Kau kan belum mengenalnya sepenuhnya? Tenanglah, tak ada orang yang mengenali orang lain 100 %, karena perkenalan itu sepanjang masa. Aku hanya melihat dan mendengar dari apa yang ibunya katakan tentangnya. Mencoba merasakan apa yang ibunya ungkapkan mengenai anak lelakinya itu.

Seorang lelaki yang tak sampai hati menyakiti ibunya, meskipun menikah dengan seburuk-buruk perempuan, tak akan pernah menyakiti istrinya. Aku yakin itu. Ia begitu menghormati dan menghayati betul sosok seorang perempuan.

Setelah itu, gejolak yang timbul tadi tiba-tiba sirna (ngga tiba tiba banget sih), berganti sebuah keyakinan bahwa aku sudah memilih orang yang tepat. Aku kembali ingat bahwa inilah yang memang menjadi salah satu alasanku untuk yakin terhadapmu, insyaallah :)

Ditulis di kamar, 3 November 2014
Sekarang diposting untuk kakanda yang sudah halal, yang lagi pusing dan kepanasan di Surabaya.
Selamat berjuang! :")

Sunday, November 2, 2014

Tips Pengajaran Quran di Sekolah

Tulisan ini saya dapat dari salah seorang guru senior di Sekolah Alam Bandung di dalam grup whatsapp. Seorang pendidik dan pengajar yang sejak awal perbincangan saya dengannya, memberikan saya pemahaman bahwa menjadi seorang guru adalah amanah yang besar. Beliau sangat concern pada Al-Quran, senantiasa "menohok" diri saya kala itu untuk terus memperbaiki interaksi dan pendalaman al-quran saya yang masih kecebelehe -_-

Ini tentang pembiasaan tilawah quran untuk para guru, kaitannya dengan pemahaman menyeluruh yang harus dimiliki seorang pendidik. Semoga bermanfaat.

Kuantitas Tilawah Harian dengan Tahapan Belajar Al-Quran

* * * * *
Bismillah
Agar program yang baik membuahkan hasil yang baik maka ikutilah tahapan/marhalahnya.

Sempurnakan program yang bagus (odoj Al Qur'an) dengan pemahaman ilmunya (ilmu belajar dan mengajarkannya/orthopedagogi).

Standard prosedur program GURU belajar Al Qur'an di sekolah agar berkah harus mengikuti kaidah yang berlaku di kalangan ulama bahwa mempelajari Al Qur'an (meskipun hanya membacanya) wajib memiliki guru yang baik. #mohon dengan sangat tidak perlu dibenturkan kebaikan dengan kebaikan, maksudnya tetap jalankan program odoj dengan sukses dan semangat sambil terus berupaya dengan sungguh-sungguh mencari guru Qur'an yang baik terutama jika diamanahi sebagai pimpinan dan atau pemegang kebijakan di Sekolah#

Ustadz-ustadz di Tarqi, Maqdis, atau jendela hati Insya Allah biidznillah bisa menjadi guru tahsin tilawah Qur'an yang baik.
Ilmu dari Tarqi yang saya dapat adalah tahapan tilawah harian sangat disarankan sesuai dengan level tahsin. (Penting: terlebih dahulu harus dijalani belajar AlQur'an yang benar, tidak cukup dikira-kira atau meraba-raba. )

Arahan dari guru Tarqi, Peserta yang sedang belajar di level:
Tahsin 1 --> minimal tilawah harian 2 lembar
Tahsin 2 --> minimal tilawah harian 4 lembar
Tahsin 3 --> min 6 lembar
Tahsin 4 --> min 8 lembar

One day one juz (Odoj) sepengetahuan saya di tahsin lanjutan.

Bismillah
Artinya Tahapan dari pra Tahsin, kemudian 4 level tahsin yang sudah disiapkan guru-guru di Tarqi dirancang untuk membantu setiap muslim untuk bisa membaca Al Qur'an dengan kualitas seperti contoh Rasulullah dan Kuantitas minimal yang diperintah Beliau, yaitu sebulan hatam Qur'an (odoj = 30 hari/sebulan hatam Qur'an).

Saran teknis, agar semua pihak terfasilitasi program maka disesuaikan dengan kemampuan semua guru kelas, jadi membuat grupnya bisa diperbanyak
1) one day one ngain (sebaiknya 'ain, biar bagus juga namanya ODO' bukan ODONG -ada di tahsin2), atau
2) one day one page (odop)
3) one day a half juz (odaj)
4) one day one juz /odoj

Insya Allah sambil terus saling mengingatkan untuk belajar Qur'an di Tarqi,Maqdis, atau Jendela Hati.

Barakallah untuk semuanya terutama yang sudah mendaftar program Tahsin dan semoga bertambah keberkahannya, rizqinya, kemudahan segala urusan, dan bertambah kemuliaannya di hadapan Allah Rabbul 'Izzati bagi yang sedang/telah belajar Tahsin.

Allahu a'lam bisshowab

(Pak Kodiron, 1 November 2014)

* * * * *

#Ada perubahan sedikit yg saya lakukan untuk membuatnya dapat lebih umum digunakan.
#aslinya ngga ada judul
Sy ngasi judul sendiri, hehe

=======

Serial tulisan #SekolahAlam ini saya buat sebagai salah satu wujud syukur dan terimakasih atas pembelajaran yang saya dapatkan waktu saya mendapat kesempatan menjadi guru kelas (fasilitator) di Sekolah Alam Bandung. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk para pendidik, calon orangtua, siapapun yang berdekatan dengan anak-anak, dan yang ingin lebih dekat dengan Al-Quran :)

Wednesday, October 29, 2014

Wanita Cantik di Hari Tua nya

Flashback.
Entah apa yang membuat saya menjadi teringat akan hal ini pada hari ini.

Ramadhan lalu, di malam-malam jelang idul fitri, seperti biasa keluarga besar kami berkumpul dan berbincang di ruang tengah rumah Mbah. Sederhana saja, di atas lantai dingin beralaskan karpet tua.

Kami anak-anak bertugas memijat, ya, saya sih amatiran. Tahukah apa yang saat itu terlintas di pikiran saya?

* * * *

Orang tua, lebih khususnya seorang ibu. Wanita yang dahulu pernah muda, yang pernah begitu cantik dengan fisik yang menarik. Menikah, hamil, melahirkan, menyusui, merawat tempat tinggalnya, merawat keluarganya. Perlahan ia akan menua, dan tentu berubah secara fisik. Perubahan fisiknya akan sangat jauh drastisnya, dibanding saya yang saat ini terkadang terlalu 'berisik' saat kulit semakin menggelap atau saat timbul jerawat.

Saat muda kini mungkin kau langsing, tapi setelah melahirkan, kau sudah siap bila badanmu menjadi gemuk?

Pekerjaan rumah yang begitu banyak mungkin membuat kau harus rela  urat-uratmu lebih menonjol, otot-otot semakin kekar, kulit kasar, kulit kaki pecah-pecah?

Yah, memang begitu, bahkan lebih dari itu.
Maka benarlah, Allah tak mengukur kita dari seberapa cantik rupa kita.

Wahai perempuan,
Berdoalah semoga taqwa menjadi jatidiri terbaik kita, dan semoga Allah berikan pasangan terbaik untuk menjadi imam kita menuju-Nya.

Maka apalah arti cantik kini?
Mensyukuri yang Allah beri, merawatnya sebaik-baiknya, berjuang keras dalam keshalihan, shalihah :)

Kamar, 29 oktober 2014
Hajah Sofyamarwa R.

Saturday, October 25, 2014

Dari Nol

Pernahkah kamu merasakan suatu masa, ketika kamu merasa begitu tak tahu apa apa?

Begitu banyak ilmu dan pengetahuan yang tak kamu ketahui di dunia ini. Bahkan setelah kamu selesai mengecap pendidikan di tingkat perguruan tinggi sekalipun, kamu semakin merasa banyak hal yang harus terus kamu gali di bumi Allah yang menghampar ini.

Terimakasih atas sebuah perbincangan seru di grup line SITHeads malam ini :)

Mengapa tak sudi memulai semua dari nol, bila dengan begitu kau akan segera berada di jalan yang benar dan mencapai semuanya dengan lebih cepat?

Stay hungry!
Bandung, 25 Oktober 2014

Tuesday, October 21, 2014

Pembiasaan Disiplin dari Kecil, dari Hal Kecil : Simpan Sepatu



Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan
--Aristotle

Ruang kelas hasil perpaduan bambu dan kayu itu  begitu sederhana. Tak ada pintu untuk masuk yang menutupi, namun sebelum masuk, siapapun dipersilakan membuka alas kaki dan menyimpannya di  sebuah rak penyimpanan sepatu di sebelah kiri tangga.

Bukan sebuah hal besar, tapi begitu membekas di hati. Setiap anak dibiasakan untuk selalu menyimpan alas kakinya di rak. Barangsiapa yang lupa. Bersiap diteriaki oleh murid yang piket atau yang sedang rajin sweeping sepatu. Setiap anak punya hak untuk diingatkan terlebih dahulu. Tak ada bedanya guru maupun murid, semua punya hak dan kewajiban yang sama.


“Heeey ini sepatu siapaa? Mau di simpen atau mau dibuang ajaa?”


Dan setelah itu anak-anak berhamburan menyimpan sepatu sandalnya masing masing dengan riang gembira! Kebiasaan itu pasti tidak muncul serta merta, perlu pengondisian dan kekonsistenan dari seluruh elemen yang terkait. Dalam hal ini guru kelasnya di sekolah, dan terutama di rumahnya.

Dari sana anak belajar untuk disiplin, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Teratur dan disiplin yang dijadikan kebiasaan akan menuntun kita pada kebiasaan baik yang sangat berguna di masa depannya. Saking pentingnya sebuah keteraturan, sampai seorang penyair Pope menyatakan bahwa keteraturan adalah hukum surga pertama. Dan tahu kan apa yang lebih utama? Amalan yang dicintai Allah adalah yang iqtiqamah (konsisten) walaupun kecil.

Kalau sudah punya pandangan tentang akhiran yang baik, maka prosesnya juga mesti baik, maka otomatis cara mengingatkannya pun harus dengan baik, betul kan? :)

Maka perhatikan hal kecil, biasakan disiplin sejak kecil, dari hal-hal kecil yang seringnya kita abaikan :)


Bandung, 21 Oktober 2014
Hajah Sofyamarwa R.
Pernah sebentar jadi guru

*Special Thanks To Bu Arti, mantan “Partner in Crime” saya di SD 2 dulu yang sudah menyetting suasana semacam itu :D


=========================================================================
Serial tulisan #SekolahAlam ini saya buat sebagai salah satu wujud syukur dan terimakasih atas pembelajaran yang saya dapatkan waktu saya mendapat kesempatan menjadi guru kelas (fasilitator) di Sekolah Alam Bandung. Dulu tak sempat, sekarang punya waktu lebih luang, sayang sekali kalau tidak dibagikan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk para pendidik, calon orangtua dan siapapun yang berdekatan dengan anak-anak :)

Kisah Melamar Kerja : Guru Kelas Sekolah Alam Bandung



Pemandangan Gerbang masuk Sekolah Alam Bandung, Dago

Sebetulnya saya agak canggung kalau bilang “melamar kerja” di Sekolah Alam Bandung. Soalnya bagi saya, saat itu saya memilih dan mengajukan diri untuk mengabdi dan beraktivitas pada suatu aktivitas yang sangat menyenangkan! Tapi karena melamar kerja inilah yang jadi tema-tema besar yang banyak dicari orang, maka tertulislah “Melamar Kerja” hehe


* * *


KISAH AWAL MELAMAR KE SEKOLAH ALAM BANDUNG
Sehabis lulus S1 Biologi ITB (Oktober 2013) saya tidak langsung berambisi mencari kerja. Saat itu saya masih ada proyek dari dosen, pegang beberapa anak privat, dan memang tidak sebegitu inginnya mencari pekerjaan #jitak. Saya ingat hanya sempat mengikuti Career Day ITB dan BUMN Career Day di Jakarta, hanya untuk memenuhi rasa penasaran saya bagaimana rasanya menjadi seorang jobseeker. Bukan maksud hati untuk nge’sok, percayalah, saat itu saya masih begitu ‘bocah’ dan belum sadar sama realita kehidupan yang ada #hehe.

Sekitar Desember akhir saya dapat informasi lowongan untuk menjadi Guru di Sekolah Alam Bandung dari seorang sepupu yang dulu pernah bekerja di sana. Tahukah? Dengan tekad penuh, saya langsung meng-apply kirim email ke sana, bahkan tanpa perduli bahwa DEADLINE SUDAH LEWAT,  dan yang dicari juga guru LAKI-LAKI, bukan perempuan! Saya kirim seberkas email lamaran, dan saat itu saya hanya berbekal keyakinan diri bahwa saya ingin menjadi bagian dari sana. Saya begitu tertarik dengan konsep sekolahnya, saya bahkan baru memikirkan nominal insentif (gaji) ketika mau berangkat interview, itupun karena diberi tahu sepupu! Saat itu sayapun tidak begitu mempedulikan hal itu. niat saya satu, diberi kesempatan disana saja sudah alhamdulillah :)

Februari 2014 itu saya mendapat kesempatan menjadi panitia exchange mahasiswa Korea (Kookmin University) dan mengharuskan saya berada total di ITB jatinangor selama sekitar 7 hari. Di sela-sela tugas saya sebagai konsumsi dan LO itu, saya mendapat panggilan untuk interview dari Sekolah Alam Bandung. Apa mau dikata, saat itu saya memutuskan untuk fokus di acara dulu, dan minta reschedule. Setelah sekian hari setelah itu, saya mendapat panggilan interview lagi, dan Alhamdulillah waktunya cocok.

Sehubungan dengan adanya informasi rekruitmen terbuka sebagai Guru Kelas di semester II tahun ajaran 2013-2014, saya Hajah Sofyamarwa tertarik untuk dapat bergabung dengan Sekolah Alam Bandung. Sebagai lulusan Sarjana Biologi ITB yang terbiasa di alam dan memiliki ketertarikan dalam bidang pendidikan dan perkembangan anak, menjadi seorang guru adalah salah satu cita-cita yang sesuai dengan passion saya.

Belum banyak pengalaman mengajar saya. Sudah hampir kurang lebih 2 tahun saya menjadi guru les privat di tingkat SD kelas 5, SMP kelas 2, dan SMA kelas 2. Latar belakang saya cukup aktif dalam kegiatan pengembangan diri remaja dan mentoring di sekolah maupun kampus.

Seperti yang tercantum dalam publikasi, saya tahu bahwa yang dibutuhkan adalah Pria dan batas waktunya sudah lewat (24 Desember 2013), namun saya tetap mencoba, dan yakin bahwa saya masih punya peluang untuk dapat menjalin hubungan dengan Sekolah Alam Bandung dalam bidang apapun. Menurut saya sekolah alam merupakan salah satu lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Tidak seperti sekolah biasa yang kadang hanya berfokus pada kemampuan akademis namun juga praktek di alam bebas yang mengasah imajinasi dan kreativitas. Saya juga berharap dapat meningkatkan kualitas diri pribadi, memberikan nilai tambah bagi Sekolah Alam dan saya akan sangat senang dapat menjadi bagian dari itu.
 

SAAT INTERVIEW
Persiapan saya untuk interview terbilang simple. Saya cukup percaya dengan diri saya sendiri untuk bisa mendapat kesempatan “belajar” di Sekolah Alam Bandung (SAB). Sekali lagi mudah-mudahan bukan karena kesombongan, pengalaman hidup sampai saat itu memang menuntun saya untuk terbiasa berada dalam lingkungan pembinaan dari anak-anak sampai remaja. Akan beda cerita kalau saya harus meng-apply kerja di sebuah lab penelitian, pasti saya grogi setengah mati ahehe. Saya merasa punya keterkaitan hati pada dunia pendidikan dan anak-anak. Saat interview saya berhadapan dengan kepala sekolah, dan guru-guru senior yang semua berjumlah 3 orang (Pak Aryo, Pak Sururi, Bu Hafni).

Sebelum interview saya menyempatkan diri berjalan jalan di lingkungan sekolah. Excited banget! Selain suasana sekolahnya yang ‘ngalam’ banget, saya lagi liat anak-anak yang outbond, main basah-basahan di kolam. Kebayang banget kan gimana nanti aktivitas saya kalau ada disana? Makin ;)

Bismillah, interview apa adanya, tanpa beban. Habis interview juga santai aja, jalan-jalan lagi dan ngajak ngobrol murid di sana. Alhamdulilla, sekarang hanya bisa berharap yang terbaik aja.

DI KONTRAK SEBAGAI PENGAJAR
Alhamdulillah, saya dipanggil lagi untuk membicarakan kontrak. Sebut saja guru percobaan, tentu saja, menjadi seorang pendidik juga sama saja dengan kalau kita melamar ke suatu perusahaan. Ada masa percobaan, masa penyesuaian. Saya ditempatkan bersama seorang partner, Bu Arti di SD 2. Bu Sari minta maaf karena ditempatkan bersama guru perempuan (seharusnya laki-perempuan), tapi toh emang saya yang ngaco karena lowongan buat cowok laki-laki malah saya lamar juga hehe. Saya pun masuk di pertengahan semester, jadi makin merasa dodol juga hehe. Saya sendiri juga tak begitu yakin apa yang membuat saya bisa diterima disana. Mungkin semua karena kebaikan hati mereka untuk memberi saya kesempatan untuk bisa belajar disana. Singkat cerita, tak lama setelah itu 17 Maret saya mulai masuk kelas. Alhamdulillah :’) Kisah seru mengharukan selama saya menjadi pengajar setelah ini dilanjut di postingan terpisah ya :)

* * * * *
Sudah 3,5 bulan berlalu sejak saya resign sebagai guru kelas SD 2 Sekolah Alam Bandung (Juni 2014). Ya, resign, singkat sekali bukan?  Saya tipikal orang yang suka menulis, namun betapa sulitnya mengabarkan perihal ini pada dunia, pada para blogwalker disini. Butuh keberanian dan kekuatan ekstra untuk akhirnya berani berbicara hehe. #maaplebay #tapiserius. Mau tahu alasannya? Insyaallah di postingan yang lain ya, insyaallah :)


Bandung, 21 Oktober 2014
Hajah Sofyamarwa R.

Tuesday, October 7, 2014

Rumah, Akar dari Daun Perhatian Kita (internal)

Menjalani proses ini, membuatku berpikir akan banyak hal, membuat mata, hati dan telingaku semakin terbuka pada apa-apa yang terjadi di sekitarku. Kenyataan bahwa di usia ku yang 22 tahun jelang 23 ini, aku baru bertekad untuk mulai menjadi manusia yang sadar dengan prosesnya. Tak mengapa. Maka harap dimaklumi kalo banyak keluar bahasa-bahasa jiwa yang hanya Allah dan diri sendiri yang tahu *saking abstraknya diksi gueh maksudnya hehe*

* * * * *

Aku mulai sadar, titik fokusku sangat berkisar pada apa-apa yang terjadi di internal. Kesadaranku ini muncul diawali dari ketertarikanku yang sangat dalam mengurusi manusia. Aku selalu peduli pada bagaimana setiap orang dalam satu tim/kelompok, saling merasa. Misal kalau dalam sebuah organisasi akan mengadakan sebuah acara tapi relasi manusianya kurang baik, saya lebih memprioritaskan mengurusi hubungan-hubungan antar anggota, bukan hanya keberlangsungan acara.

Apalah arti berlangsungnya sebuah acara, tapi komponen manusia yang seharusnya terlibat malah tidak terlibat? Apalah arti nya bila malah tak saling peduli atau bahkan harus ada yang menahan sakit?

Dari interaksi itu kita belajar, dari sana kita mendewasa. Ada beda karakter pasti, ada beda pendapat biasa, namun ada keharusan untuk berlapang dada. Karena tujuannya satu, keikhlasan dan untaian doa terbaik dari setiap pihak.

Aku kadang heran juga, datang dari mana pemikiran semacam itu. Maksudku, kita di hari ini kan kumpulan dari berbagai inputan dari manapun. Kupikir pemikiran itu semata-mata datang dari interaksiku dengan orang-orang dalam berbagai organisasi yang kuikuti selama ini. Ya, sedikit banyak pasti iya. Tapi lucunya, dari proses ini baru aku sadari, bahwa ketertarikanku pada hal hal internal memang berawal dari rumah.

Mama bilang : "ya gimana-gimana juga prioritas keluarga dulu, baru yang lain." Bagiku dulu, kalimat itu begitu tak kusukai. Kenapa? Karena bagiku saat itu, kalimat itu terdengar begitu egois. Bagiku saat itu, aku iri dengan orang lain yang bisa berbuat banyak pada manusia lainnya. Bagiku saat itu, aku merasa tak banyak hal yang bisa kulakukan pada orang lain, sehingga kesal sekali rasanya ketika ingin berbuat lebih tapi malah dibatasi.

Tapi akhirnya aku mulai mengerti sebabnya. Aku mengerti, sangat memahaminya. Dan bagaimanapun juga harus bersyukur dengan apa-apa yang sudah membentukku menjadi seperti ini. Alhamdulillah :) Hey, bukankah itu salah satu fokus terpenting seorang istri atau ibu dalam rumah tangga nya kelak? Menjaga rumah tangganya? :")

Ya, kusadar bahwa segalanya memang berawal dari rumah. Rumah yang menjadi akar dari daun-daun perhatian-perhatian kita di kehidupan.

Selasa, 7 oktober 2014

Friday, October 3, 2014

Alarm Anti-Males Sholat

Namanya manusia ada kalanya merasa capek, lelah, atau malas sehingga jadi menunda waktu shalat. Itu wajar, tapi ya teteup, harus diantisipasi.

Belakangan ini saya mulai punya alarm-anti males sholat. Namanya icha, ponakan saya (kelas 2 Sd) Hehe. icha lagi sering-seringnya ngingetin shalat, walaupun malesnya juga suka muncul. Pernah suatu waktu, saya sampai di rumah malem-malem habis ngasi privat dan belum shalat, icha ngajakin sholat. Allah Tau banget gitu kayanya saat itu saya lagi males, trus ngingetinnya lewat icha. Hehe

Kenapa bisa begitu?
Note to myself, buat para om dan tante, calon orangtua, kakak, dimanapun kalian berada, buatlah shalat menjadi suatu ajakan yang menyenangkan. Terkadang kita hanya berfokus pada : anak udah umur segitu tapi belum bisa bacaan shalat; atau nyuruh shalat sekedar nyuruh, padahal menurut saya yang terpenting ditanamkan pada anak-anak adalah kesukaannya pada shalat dan pembiasaan untuk melakukannya disiplin tepat waktu.

Kita semua pernah jadi anak anak toh, suka males solat juga, suka boong juga bilangnya udah solat padahal belum, atau suka males kena aer wudu pagi-pagi. Jadi namanya nyuruh anak shalat ngga perlu pake marah marah dulu. Inget pola rasul : sebelum umur 7 pembiasaan, usia 7-10 masa berlatih, 10 sudah harus mantep (makanya kalo anak gamau, boleh dipukul. Asal udh ngelewatin tahap pelatihan nya dulu ya..)

Ngajarin anak shalatnya bagus itu investasi banget. Jangan jaim dan sekedar memberi instruksi satu arah ke anak, mereka perlu tau bahwa kitapun bersedia diingatkan oleh anak anak. Seru deh!

* * * *

Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat, apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk
(HR. Ath thabrani)

Menanam, menjaga dan merawat shalat anak, menolong dirinya dan diri kita di masa depan :)

Ahad, 5 oktober 2014
Happy idul adha :)

Thursday, October 2, 2014

Walau Belum Istiqamah pun, Jangan Putus Asa Terhadap Kemurahan Allah

"Bisa jadi, karamah diberikan kepada orang yang benar-benar belum beristiqamah."

Teruskan perjalananmu hingga paripurna, meski keadaanmu belumlah sempurna. Sebab, bila engkau sudah memilih jalan hidup, semangatmu tak boleh redup. Jangan mengukur diri terlalu tinggi, sebab anugerahNya tak datang secara pasti. Bisa jadi banyak yang engkau dapat meski perjalananmu kadang tersendat. Jika tiba tiba engkau merasakan keajaiban, sadarilah bahwa itu kemurahan dari Allah, sumber kegaiban. Keistimewaan atau keajaiban adalah karunia-Nya yang bisa saja engkau peroleh atas kehendak-Nya. Meskipun mungkin saj hatimu belum sepenuhnya istiqamah. Itulah cara-Nya agar karunia-Nya makin tak terhinggakan.

Adab menerangkan keadaan spiritual hal 207. Buku Al-Hikam. Untaian hikmah ibnu athaillah

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...