![]() |
| Ilustrasi. Gambar asli dari : http://farm5.staticflickr.com/4058/5124590031_0e576aa48f_z.jpg |
Thursday, July 6, 2017
Ketika Bertemu Ia Yang Kehabisan Ongkos Pulang
Saturday, July 1, 2017
Pengaruh Ghibah dalam Keluarga & Kaitannya dengan Menonton TV Bersama
"Banyak diantara kita yang merasa tidak menggunjing ketika mereka membicarakan orang lain, meskipun telah jelas-jelas menggunjing."
"Tahukah kalian apakah ghibah (menggunjing) itu?", Tanya nabi. Mereka menjawab, "Allah dan RasulNya lebih mengetahui."
"Ghibah," kata nabi, "adalah membicarakan saudara kalian dengan cara yang tidak akan dia sukai."Salah seorang sahabat kemudian bertanya, bagaimana jika yang aku katakan mengenai saudaraku itu hal yang sebenarnya?" Rasulullah menjawab, "Jika yang engkau katakan itu benar, maka engkau telah mencemarkan nama baiknya (dengan ghibah), dan jika dia tidak seperti yang engkau katakan, maka engkau telah menuduhnya dengan kebohongan dan dusta (buhtan)."
1. Menonton TV
"Kebiasan semacam itu, terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Masalah-masalah yang datang disikapi secara dangkal saja (karena tidak terbiasa lagi melihat akar masalah), diselesaikan dengan mengandalkan otoritas --terutama jika berkenanaan dengan anak--sehingga masalah tak benar-benar terselesaikan, kecuali permukaannya saja... Dari sinilah kemudian anak merasa tidak memperoleh perhtian yang dibutuhkan, tidak menemukan kesejukan yang diharapkan, dan tidak mendapatkan orangtua yang 'mendengarkan' dia... Budaya bicara dan pemecahan masalah yang lebih banyak menyangkut keburukan orang lain, dan jarang berbicara tentang apa yang dibutuhkan oleh jiwanya sendiri, menjadikannya merasa asing dengan realitas psikis istri atau suaminya."- Ust. Fauzil Adhim
Thursday, June 29, 2017
Aliran Rasa (Level 1) Komunikasi Produktif
Assalamu'alaikumwrwb :)
Alhamdulillah tantangan kelas bunda sayang mengenai komunikasi produktif di level 1 ini sudah terlewati.
Pada tantangan level 1 ini, Dari 10 hari yang harus dilalui, saya baru berhasil menyelesaikan 7 hari saja. Jadi saya belum berhasil mendapatkan badge kelulusan di bulan Juni ini.
ALIRAN RASA
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#BundaSayang
#IIP
#KuliahBunsayIIP
#aliranrasalevel1
Wednesday, June 21, 2017
Kumpulan Tulisan 30 Days Writing Challenge Jilid 6 hajah #30DWC
Alhamdulillah Tantangan menulis 30 hari jilid ke 6 sudah rampung :)
Meskipun ini kali kedua saya ikut, ternyata ngga serta merta membuat saya selalu tepat waktu dalam menulis, banyak juga tantangannya hehe.
Kali ini saya mengambil peran sebagai guardian yang bertugas merekap kumpulan link teman-teman dalam satu squad. Lebih menantang di banding sebagai controller pada periode sebelumnya, karena menjadi guardian perlu lebih rajin melihat grup, melaporkannya setiap hari dan mengatur hal lainnya.
Mohon maaf atas segala kekurangan ya squad 2. Terimakasih banyak semua inspirasinya. Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat dari semua prosea ini xoxo
Di bawah ini kumpulan tulisan saya selama #30DWC di jilid 6.
Day 1 : Salesman PT Salem Mandiri Jaya (SMJ), Electronic Pulse Massager, dan Buku Motivasi http://www.hajahsofya.com/2017/05/pt-salem-mandiri-jaya-smj-electronic.html
Day 2 : Ibu adalah Madrasah, Kata Siapa? http://www.hajahsofya.com/2017/05/ibu-adalah-madrasah-kata-siapa.html
Day 3 : Mencintai Pemilik Cinta http://www.hajahsofya.com/2017/05/mencintai-pemilik-cinta.html
Day 4 : Perhatikan Apa Yang Kau Wariskan http://www.hajahsofya.com/2017/05/perhatikan-apa-yang-kau-wariskan.html
Day 5 : Jadi Harus Bersyukur http://www.hajahsofya.com/2017/05/jadi-harus-bersyukur.html
Day 6 : Tentang Siapa Yang Berpulang Duluan http://www.hajahsofya.com/2017/05/tentang-siapa-yang-berpulang-duluan.html
Day 7 : Iman Seharga Gorengan http://www.hajahsofya.com/2014/08/iman-seharga-gorengan.html
Day 8 : Komunikasi Keluarga, Positif dan Konstruktif http://www.hajahsofya.com/2017/05/komunikasi-keluarga-positif-dan.html
Day 9 : Ketika Abdullah Mencandai Bunda Asma http://www.hajahsofya.com/2017/05/ketika-abdullah-mencandai-ibunda-asma.html?m=1
Day 10 : Masjid Penuh, Masjid Kosong http://www.hajahsofya.com/2017/05/masjid-penuh-masjid-kosong.html
Day 11 : Ramadhan Bersama Balita http://www.hajahsofya.com/2017/05/ramadhan-bersama-balita.html
Day 12 : Menghafal Quran di Waktu Sempit http://www.hajahsofya.com/2017/05/menghafal-quran-di-waktu-sempit.html
Day 13 : Inspirasi dari Hafiz Indonesia 2017 http://www.hajahsofya.com/2017/05/inspirasi-dari-hafiz-indonesia-2017.html
Day 14 : Flashdisk Kurma : Duplikasi Pahala http://www.hajahsofya.com/2017/05/flashdisk-kurma-duplikasi-pahala.html
Day 15 : Day 0 Tantangan Komunikasi Produktif Bunda Sayang http://www.hajahsofya.com/2017/06/day-0-komunikasi-produktif-bunda-sayang.html
Day 16 : Day 1 Komunikasi Produktif Level 1 http://www.hajahsofya.com/2017/06/day-1-komunikasi-produktif-level-1.html
Day 17 : Day 2 : Komunikasi Produktif [Level 1] http://www.hajahsofya.com/2017/06/day-2-komunikasi-produktif-level-1.html
Day 18 :
Day 19 : Melampaui Keterbatasan http://www.hajahsofya.com/2017/06/melampaui-keterbatasan.html
Day 20 : Ketika Harap dan Cemas Jadi Satu http://www.hajahsofya.com/2017/06/ketika-harap-dan-cemas-jadi-satu.html
Day 21 : Rumah Kita http://www.hajahsofya.com/2017/06/rumah-kita.html
Day 22 : Day 3 : Komunikasi Produktif [Level 1] http://www.hajahsofya.com/2017/06/day-3-komunikasi-produktif-level-1.html
Day 23 : Day 4 : Komunikasi Produktif [Level 1] http://www.hajahsofya.com/2017/06/day-4-komunikasi-produktif-level-1.html
Day 24 :
Day 25 :
Day 26 : Day 5 : Komunikasi Produktif [Level 1] http://www.hajahsofya.com/2017/06/day-5-komunikasi-produktif-level-1.html
Day 27 : Tentang Menitipkan Anak http://www.hajahsofya.com/2017/06/menitipkan-anak.html
Day 28 : Day 6 : Komunikasi Produktif [Level 1] http://www.hajahsofya.com/2017/06/day-6-komunikasi-produktif-level-1.html
Day 29 : Ritual Ruwatan Si Anak Berambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng http://www.hajahsofya.com/2017/06/ritual-ruwatan-si-anak-berambut-gimbal.html
Day 30 : Beruntung http://www.hajahsofya.com/2017/06/beruntung.html
Saturday, June 17, 2017
Ketika Merasa Ibadah Banyak Diskonnya
Seiring berjalannya waktu, kita mungkin mengalami penambahan ilmu pengetahuan. Tambahan ilmu itu, bisa jadi memperkuat landasan kita / hujjah kita dalam beramal, atau memperbaiki yang salah dari amalan kita sebelumnya.
Hamparan ilmu yang ada di muka bumi ini, sudah tentu tidak kita pahami semua. Satu hal mesti kita pahami (dari yang saya tahu), adalah, setiap amalan harus ada dalilnya, ada hujjah nya. Dalilnya pun harus yang benar, dan dengan cara memahami yang benar.
Saya akan membahasnya dari kasus yang saya alami, kebanyakan perkara ibadah. Ini pengalaman pribadi, yang menunjukkan betapa menerima suatu ilmu baru itu tidak serta-merta begitu saja. Ada pergolakan batin yang perlu dituntaskan.
1. Shalat Saat Bepergian (Safar)
Sebelum menikah:
- saya tahu allah kasih kita rukhsah dalam perjalanan, dan Allah seneng kalo kita ngambil rukhsah, tapi bingung aplikasiinnya.
- saya tahu bahwa shalat bisa di jamak dan di qashar.
- saya tau nya safar itu ada minimal jarak, dalam kota mah bukan safar.
- saya hanya menjamak qashar kalau bepergian jauh saat mudik/keluar kota (misal bandung-garut, bandung-wonosobo-jogja).
- saya merasa "kopet" pisan kalau bepergian dalam kota shalatnya harus di jamak/qashar. Saya merasa masjid banyak, dan ada ketenangan tersendiri kalau bisa menyimpang ke masjid saat dalam perjalanan (misal sedang naik motor, atau lagi jalan kaki)
Setelah menikah:
- ternyata hujjah yang benar adalah bahwa ketika kita meniatkan bepergian, itu safar, maka boleh jamak qashar
- jamak qashar itu rukhsah yang allah kasih dan allah seneng kalo kita lakuin, maka ya lakukanlah.
- masih suka ada rasa waswas ketika akhirnya mengambil rukhsah shalat yang di jamak qashar : masih merasa "ko kopet amat, malas amat solat normal sempurna pas adzan", dan "belum yakin bener kalo allah bener2 seneng ketika kita ngelakuin itu."
- dapat cerita dari bang aad, katanya beliau juga termasuk rukhsah hunter, karena beliau sering mobile, maka memang sering jamak qashar.
- akhirnya sekarang saya jamak qashar kalau saat mau pergi terbayang agenda akan padat di luar, dan sulit kalau harus nyimpang-nyimpang.
2. I'tikaf 10 hari ramadhan
Sebelum menikah :
- Saya tahunya itikaf itu ngga mesti full 10 hari, selang seling di malam ganjil aja juga boleh. Suka itikaf di masjid deket rumah, ke salman, biofarma annur, pusdai, habib, atau mesjid lain.
Setelah menikah :
- baru ngeh itikaf itu termasuk ibadah, dan ibadah itu punya aturannya. Ngga boleh ditambah atau dikurang2.
-itikaf rasulullah itu 10 hari full di masjid, jadi kalau cuma sehari dua hari, itungannya bukan itikaf, tapi mabit atau belajar itikaf.
- tapi jadinya saya ngga itikaf sama sekali, gimana hayo? Sekarang bocil baru 1, nanti kalau 2, 3,4 dst, gmn, ngga itikaf terus ?
3. Hafal quran itu, perlu ga sih?
Sebelum nikah :
- Saya tahu itu perlu, punya niatan kesana, meskipun keyakinan dan aksinya belum kuat.
- saya juga mau kalau anak saya kelak jadi penghafal quran, sembari saya juga.
Setelah menikah :
- sampai detik ini saya tetap berharap anak saya bisa jadi penghafal quran yang keinginannya tumbuh dari diri sendiri
- pasangan merasa itu bukan prioritas utama, jadi tidak di programkan.
Sampai sini dulu ya, nanti kalau ada lagi aku share
Semoga allah membimbing kita selalu.
Wassalamu'alaikum wrwb.
Hajah Sofyamarwa R.
Sabtu 17 Juni 2017
Friday, June 16, 2017
Beruntung
[Beruntung]
Sudah kali kedua aku menemanimu dalam sesi sharingmu. Tak tahu, mungkin sudah ratusan telinga pernah melahap kisah perjuangan cintamu. Dua setengah tahun menikah tak membuatku berhenti tertarik mendengar kembali kisahmu. Aku selalu penasaran dengan perubahan cara pandangmu setiap waktunya.
Berkali kali menjalani proses taaruf dan tetap teguh berjuang, itulah kamu. Sementara aku, tidak pernah teruji dengan proses taaruf selain padamu, maka kupikir aku bukanlah pejuang sepertimu, dalam hal itu.
Kau berkata, bahwa menikah itu tetap perlu kecenderungan, biar bagaimanapun kita manusia dan wajar sajalah. Bersama itu, harus selalu ada naungan besar bernama niat yang tulus hanya karena Allah.
Hingga saat ini, terkadang masih kutemukan betapa kau merasa bersyukur bisa menikahiku, padahal aku tahu pasti, bukan aku yang terbaik, tapi hatimu yang penuh kesyukuran. Kau tidak sempurna, begitupun aku. Kita hanya seperti komposisi dari adonan untuk saling melengkapi.
Aku jadi ingin tertawa kalau ingat salah satu kriteria pasangan yang dulu kuharapkan, yang tak ada padamu. Ya, cukup kutertawakan saja mengingat bahwa itu sama sekali bukan hal yang penting.
Tentang niat yang lurus karena Allah, kau yang membuatnya begitu nyata saat ini. Dalam perjalanan ketika ego dan perasaanku begitu ganas mendominasi, kau selalu mengembalikanku pada yang utama. Membuatku begitu kesal pada awalnya, namun begitu bersyukur pada akhirnya.
Aku bersyukur Allah lah yang mempertemukan kita. Bukan karena apa-apa, ikhtiarku begitu kecil dibanding pengetahuanNya. Ketika aku menjadi pasanganmu, sejatinya bukan karena ilmu menikahku sudah mantap, tapi semata-mata kebaikan Allah untukku. Teringat sebuah frasa dari kakakku, bahwa aku seperti orang yang sudah lengkap menyiapkan perbekalan, namun selalu lupa membawa tas nya. Ya, begitulah. Aku beruntung menjadi istrimu.
Kamis, 15 Juni 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30dwc #30dwcjilid6 #day30
*posted first at instagram
Thursday, June 15, 2017
Ritual Ruwatan Si Anak Berambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng
Kok rambut kamu ngga gimbal? Kan kamu anak Dieng!
Begitulah candaan kami, saya dan sepupu-sepupu, saat berkunjung ke kampung halaman orangtua kami di Wonosobo, Jawa Tengah. Lokasinya yang cukup dekat dengan Dieng membuat kami cukup sering berwisata kesana, dan sudah menganggap Dieng adalah bagian dari kampung halaman kami.
Dataran tinggi Dieng secara administratif berada di wilayah Kota Banjaran, Jawa Tengah. Udaranya yang sejuk, serta pemandangan yang alami masih menjadi daya tarik tersendiri para wisatawan.
Dibalik keindahan alamnya itu, ada fenomena menarik tentang anak-anak yang rambutnya menempel seperti model rambut Bob Marley. Rambutnya gimbal/gembel, menempel satu sama lain dan tak bisa dihilangkan dengan sekedar keramas saja. Tak hanya secara fisik, biasanya hal tersebut dibarengi dengan sikap tertentu yang agak aneh bagi anak--anak. Dengan suatu ritual tertentu, rambut gimbal mereka baru bisa hilang. Keinginan mereka harus terpenuhi dulu, baru pemotongan rambut gimbal bisa berhasil dan sikap mereka pun kembali normal.
Menarik ya?
Ritual Ruwatan Potong Rambut Gimbal
Dalam tradisi Jawa Kuna, ruwat dikenal dengan konsep lukat dengan arti dihapuskan, dibatalkan, dilepaskan, dibersihkan, disucikan (Zoetmulder, 1982:611-612 dalam Febriari, 2014).
Ruwatan adalah ritual sakral dengan tujuan untuk membebaskan, membersihkan seseorang dari sesuatu yang dipandang tidak baik atau buruk serta jahat. Dalam ruwatan juga ada harapan, keinginan, agar orang terhindar dari malapetaka yang akan menimpa kepada mereka apalagi ada kepercayaan dan keyakinan bahwa diri seseorang yang memiliki karakteristik tertentu seperti rambut gembel akan riskan dengan malapetaka tersebut, untuk mencegah hal tersebut maka diperlukan adanya ritual ruwatan. (Febriari, 2014)
Khusus tanggal 1 Sura saja ritual ruwatan pemotongan rambut gimbal dilaksanakan. Didampingi kedua orangtuanya, anak-anak itu mengenakan pakaian khusus seperti beskap untuk laki-laki, dan kebaya untuk perempuan. Menariknya, ritual ini melibatkan seluruh masyarakat di Pegunungan Dieng Banjarnegara. Mereka semua bersama-sama membentuk kepanitiaan dan berembug untuk membagi-bagi tugasnya.
Ritual ruwatan diawali dengan doa memohon perlindungan Allah, sungkeman pada orangtua, siraman, memotong rambut gimbal, pemberian permintaan sesuai keinginan anak gimbal yang sedang diruwat, dan diakhiri dengan makan bersama serta memperebutkan sesaji oleh masyarakat dan peserta ritual.
Begitu menakjubkan kebudayaan yang muncul dari hasil berpikir manusia. Terkadang manusia modern menganggap hal tersebut sekedar peninggalan kuno dari leluhur yang mengandung hal tak masuk akal atau tak sesuai dengan perkembangan jaman modern saat ini. Memang secara kasat mata, ritual yang dilakukan terkesan kuno, namun ternyata mereka memiliki alasan alasan kuat mengapa mereka melakukan ini atau melakukan itu. Ada esensi mendalam yang ternyata berkaitan dengan kebertuhanan dan penjagaan alam sebagai salah satu tugas manusia di muka bumi.
Di samping itu, kita tetap perlu menempatkan budaya sesuai porsinya, tanpa perlu mengganggu prinsip keimanan masing-masing.
Mari belajar dan menggali esensi dari menariknya budaya-budaya di Indonesia!
Kamis, 15 Juni 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Pustaka :
Febrari. 2014. Budaya Ritual Ruwatan Bagi Masyarakat Dieng. http://febryarifan.blogspot.co.id/2015/02/budaya-ritual-ruwatan-bagi-masyarakat.html?m=1
#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day29
Wednesday, June 14, 2017
Day 7 : Komunikasi Produktif [Level 1]
Sudah memasuki hari ke 7 tantangan bunda sayang tentang komunikasi produktif.
Pagi itu dimulai agenda bicara kami sesuai jadwal, selasa kamis jam 5.30. Kami memulainya dengan (tetap) saling bertanya, mau bicarain apa. Haha. Sayapun akhirnya membicarakan tugas bunsay saya, dan minta agar setiap postingan saya diberi komentar. Jadi tidak sekedar baca, tapi beri feedback. Semalam sebelumnya, saya sudah mengajak ngobrol yang isinya curahan hati karena agenda rutinan kami sempat pending selama kami menginap di rumah orangtua kami. Kami juga membahas beberapa hal yang perlu diluruskan terkait hari-hari sebelumnya. alhamdulillah nya pagi bisa terlaksana lagi.
Setelah itu kami membahas buku berjudul al ishlah lagi sampai pukul 7 pagi, untuk nantinya diberikan pada adik adik binaan kami.
Tak lama haidar yang terbangun sambil menangis. Sudah biasa, kalau masih ada hajat yang belum selesai (misal masih ngantuk atau ingin mimi), haidar memang bangun dengan menangis. Haidar akan bangun dengan tertawa ketika hajatnya terpenuhi, dan saya menyambutnya dengan canda dan tawa.
Pagi itu ketika haidar bangun dan menangis, saya segera ambil posisi menyusuinya. Hanya karena ayahnya haidar iseng, bilang "sok nangis, nangis." Maka haidar tambah menangis. Spontan saya manyun (literally manyun beneran), untuk mengkomunikasikan bahwa saya tidak suka perlakuan yang seperti itu.
Saya bilang bahwa kalau haidar bangun pagi dengan menangis, biasanya seharian itu juga mood nya bikin bundanya emosi jiwa. Hehe. Ayah protes : "Ih ko manyun" saya jawab "Iya lah manyun, ayahnya gitu." Clear ya pesannya, to the point hehe.
Sehabis itu saya memandikan haidar, dan benar benar mengusahakan agar haidar fun banget selama mandi. Untuk mandi saja kan seringnya "nggamau!" Jadi perlu effort lebih. Alhamdulillah berhasil dan saya pun emang ngga bete, jadi saat selesai pun menyapa ayah seperti biasa.
Dalam kondisi netral itu, langsung saya sampaikan : "Ayah jangan seperti itu, karena yang di rumah seharian bareng haidar kan bunda, jadi awal bangun tidur jangan dibuat ngga nyaman. ayah kan seharian kerja di luar, jadi ngga ngerasain gimana kalau haidar rewel. Kalau haidar gitu, bunda nya bisa emosi seharian."
Setelah itu kamipun ketawa bersama. Alhamdulillah pesan tersampaikan.
Malam hari nya kami berbuka puasa bareng bersama teh fufu dan kang canun, karena suami diminta sharing terkait perjuangan taaruf nya yang fenomenal. Hehe xp
Anyway, berjalan lancar alhamdulillah.
* * *
Saya mulai menemukan pola, pada waktu semacam apa cara komunikasi saya kurang produktif.
Komunikasi tidak produktif antara saya dan pasangan akan muncul ketika saya memendam rasa terlalu lama. Kesulitan mencari timing yang tepat, membuat saya menahan diri, dan tetiba meletup sewaktu waktu. Dari situ akan merembet ke cara komunikasi yang negatif dengan bahasa tubuh yang kurang baik (kaidah 7-38-55). Selain itu, saat mengobrol sebaiknya bisa mengontrol kadar ke-baper-an, lebih santai saja.
Sedangkan terhadap anak, komunikasi tidak produktif akan terjadi ketika (1) saya terlalu lama membersamai anak tanpa jeda, sementara harus melakukan pekerjaan rumah, (2) tetiba ada masalah dengan suami.
Solusinya, jeda aktivitas membersamai anak dengan hal yang kita sukai, kerjakan pekerjaan rumah dengan lebih cepat, dan ketika menghadapi suatu masalah dengan suami, tetap tenang dan tidak perlu bumbu baper.
* * *
Dilakukan pada hari selasa, 13 juni 2017
Dituliskan pada hari rabu, 14 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
#30dwc #30dwcjiid6 #30dwchajah #day28
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2
Tuesday, June 13, 2017
Day 6 : Komunikasi Produktif [Level 1]
Akhir pekan lalu, saya sudah ada agenda sehari bersama al quran bersama beberapa kawan. Hampir sama dengan acara tahun sebelumnya saat saya masih single, ada targetan untuk menyelesaikan tilawah dan hapalan sekian halaman. Bedanya, kali ini acara nya menginap, dari pukul 12 siang hingga pukul 12 siang keesokan harinya.
Karena saya masih belum yakin, maka saya mencoba sharing pada suami. Mencoba mencari waktu yang tepat, maka ketika suami sedang di luar, saya memberi pesan via whatsapp :
"Nanti pulangnya ngobrol yaaa"
Ya, saya perlu mengkondisikan dulu agar suami pun siap.
Singkat cerita, saya membulatkan tekad untuk berangkat dan ikut acara tersebut.
Selama acara HP saya dimatikan, jadi tidak ada laporan progress komunikasi dengan pasangan lagi ya hehe.
Sampai di sana, alhamdulillah ada kamar bermain untuk anak-anak. Pemilik rumahnya juga punya anak kecil, jadi haidar juga ada teman main. Saya juga bisa mulai mengejar target interaksi dengan quran, tilawah dan hafalan.
Alhamdulillah menghadapi haidar disana saya bisa menjalankan poin-poin komunikasi produktif dengan cukup baik. Misalnya menunjukkan empati ketika haidar berebut mainan dengan teman, emosi terkendali, bicara dengan intonasi yang ramah, memberikan pujian dengan jelas saat haidar mau makan.
Pelajaran yang bisa saya ambil selama ini, adanya aktivitas menarik pada anak membuat anak senang. Kalau bosan atau tidak ada kejadian seru, anak akan menangis (yang kadang tak kita mengerti, malah membuat kita emosi).
Semoga kita bisa membersamai anak dan menghadirkan aktivitas-aktivitas menarik untuk anak kita :)
Biar bundanya juga sehat hepi yaa ;) hihi
Dilakukan sabtu, 10 Juni 2017
Ditulis Selasa 13 juni 2017
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day28
Tentang Menitipkan Anak
Dari dulu sampai sekarang, menitipkan anak adalah suatu hal yang biasa. Saya mungkin membahasnya secara luas dulu. Entah titip selama ayah bunda kerja pada keluarga/pengasuh, titip sementara, titip ikut bekerja ke kota (misal dari desa), atau menitipkannya di sekolah untuk belajar.
Semakin menjadi menarik pembahasannya di masa kini, karena muncul wacana ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Mengenai hal itu, tidak saya bahas panjang, karena yang harus kita pahami adalah tiap kondisi keluarga berbeda. Maka terkadang tidak ada yang lebih baik, namun mana yang lebih cocok dengan kondisi khas masing-masing.
Saya pribadi saat ini masih fokus di rumah sebagai ibu rumah tangga dengan balita berusia hampir 2 tahun. Belum pernah menitipkan anak seharian pada mertua atau ortu, karena selain anak belum dekat dengan mereka, lokasi rumah cukup jauh, dan tidak ada alasan urgent untuk saya titipkan, kan saya di rumah. Hehe.
Namun anak saya hampir setiap hari harus bermain ke rumah uyut nya yang lokasinya 3 rumah dari rumah tinggal saya saat ini. Supaya aki dan ema uyutnya ada "co'oan" (mainan). Jadi ya walaupun saya ibu rumah tangga, saya pun "menitipkan" anak saya.
Loh ngapain?
Insyaallah menyenangkan orangtua itu ada pahalanya. Haidar juga pasti belajar sesuatu di sana. Saya pun merasa lebih bisa leluasa membereakan rumah atau me time sendiri. Bagi ibu ibu pasti tahu rasanya mengurus anak dan rumah seperti apa, memang ada kalanya butuh waktu jeda.
Saya mencoba menganalisis latar belakang saya pribadi dan suami, untuk jadi bahan pertimbangan keputusan-keputusan kami. Saya dibesarkan dari ibu yang tidak bekerja di ranah publik, sementara suami dibesarkan oleh ibu yang bekerja. Semasa kecil ibu saya dibantu oleh asisten rumah tangga, sedangkan suami saya, selama ibu bekerja, beliau diasuh oleh kakek dan neneknya. Sejak kecil, saya tidak pernah diperbolehkan menginap di rumah saudara, sementara saudara-saudara saya sering menginap di rumah saya.
Untuk membuat kesimpulan, ternyata banyak faktor yang terlibat. Saya pribadi sejak awal memang ingin memegang anak sendiri, yang dalam perjalanannya selain bahagia, pasti mengalami kebosanan juga, wajar. Tapi ada lemungkinan suatu saat nanti saya perlu bekerja dan menitipkan anak juga, siapa yang tahu. Saya hanya perlu mencari tahu lagi pengalaman-pengalaman orang lain dan mencari role model yang mendekati kebutuhan keluarga kami nantinya.
Sedikit merenung, mari belajar lagi tentang bagaimana para shalafusshaleh mendidik anak-anaknya
Para sahabat-sahabat yg shaleh pun suka menitipkan anaknya pada orang shaleh. Mungkin saat ini kita sebut "magang", saat anak kita titipkan pada seseorang yang memiliki keahlian khusus atau karakter khusus.
Sebaik baiknya orangtua, ada kalanya kita tidak didengar oleh anak kita, karena anak kita sudah tahu "cacat diri kita". Kita pun memang bukan superman yang bisa segala hal.
Menitipkan anak yg dicontohkan para orang orang shaleh yang di bahas disini, maksudnya menitip dididik iman islamnya.
Contoh:
1. Rasulullah sewaktu kecil juga yatim piatu, kemudian diasuh orang lain. Hasilnya, tetap bisa bagus, maka perlu dipelajari faktor-faktor.
2. Ibu anas bin malik (ummu sulaim) "menghadiahkan" anaknya, Anas, ke rasulullah. Anas dibiarkan untuk harus ikut membantu rasulullah juga. Efek pendidikannya terbukti baik, tentu saja, dididik oleh rasulullah.
Maka benarlah nasihat ini,
"Carilah tetangga sebelum mencari rumah. Beli lingkungan sebelum beli rumah."
Jangan sekedar beli rumah dulu baru ngecek tetangganya, karena kita perlu lingkungan yang baik untuk pembiasaan kita, dan pembiasaan tumbuh kembang anak kita. Mau tidak mau anak kita akan bergaul dengan tetangga.
Jaman sekarang tidak hanya yang dekat rumah, kita bisa kenal dengan yang rumah nya jauh melalui media sosial. Jadi seberulnya sangat bisa kita "magang"kan anak-anak kita.
Saya pribadi berharap punya anak yang shaleh, yang tidak dikungkung selalu di dalam rumah, tapi bisa mengenali lingkungannya dan bersosialisasi dengan baik, maka harus didukung dengan lingkungan yang baik.
#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day27
Monday, June 12, 2017
Day 5 : Komunikasi Produktif [Level 1]
Alhamdulillah, hari kemarin yang cukup menantang saat saya sedang diserang flu, sudah berlalu. Saya memulai pagi ini dengan mengajak haidar berjalan jalan ke luar rumah menghirup udara pagi.
Kondisi lebih fit, mood lebih bagus, tekad untuk memperbaiki komunikasi dengan haidar lebih terpatri. Semua berjalan lancar bahkan ketika haidar jatuh dan mendadak sedikit rewel.
Saya mencoba berusaha menunjukkan empati, dilanjutkan dengan mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Berusaha mencari ulat, dan syukurnya ulatnya muncul juga hihi.
Terkadang di setiap lancarnya urusan, akan datang tantangan. Tantangannya muncul justru dari kami sendiri, ayah dan bundanya. Kami perlu memutuskan tentang siapa yang harus ke rumah mertua untuk mengambil baju-baju yang sudah kering. Berusaha sebaik mungkin berbicara dengan kaidah clear and clarify, tapi ketika salah satu sudah mengeluarkan emosi, energi nya terasa oleh yang lain, dan terasa ada sedikit kendala. Hal itu berujung pada emosi yang berlebihan pada haidar, yang mudah-mudahan terhitung sebagai bentuk pendidikan dari orangtuanya.
Karena setan sedang terbelenggu di bulan ramadhan, dan nafsu saya sedang bisa dikendalikan (he he), saya pun memilih untuk tidak terlarut. Saya mencoba melupakan yang terjadi, dan menggali-gali kebaikan pasangan dan kemudian saya tuangkan dalam sebuah puisi. Hehe. Efeknya menurut saya bagus. Setelah itu saya juga lebih bisa mengendalikan diri.
Siang harinya, saya ke Edu Global School di Jl Kalimantan untuk menghadiri acara penutupan mentoring. Haidar turut serta, dan bermain seru di kolam kura-kura. Memainkan bola yang saya bawa, haidar bermain bersama salah satu adik mentor saya (shabrina). Insyaallah fotonya nanti saya update ya. ;)
Sore harinya pulang dijemput suami, ada sedikit cerita tentang kami yang harus kembali ke Samsung Center untuk mengambil baterai yang tertinggal. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 sementara saya ada jadwal mengisi acara kegiatan pesantren kilat di masjid rumah. Tapi saya tetap mensuggest suami untuk balik lagi saja, karena saya memprioritaskan kebutuhan beliau. Saya mampir sebentar membeli cokelat untuk dibagikan pada peserta. Qadarullah, singkat cerita jalanan macet, saya pun terlambat dan tidak bisa mengisi karena acara sudah selesai. Saya baru di pertengahan jalan memutuskan bilang "ayah kalau mau ngebut, gapapa ya, biar aku keburu ke mesjidnya". Ternyata dari situ saya baru tahu kalau ternyata suami saya lupa kalau saya ada agenda sore itu, dan salah mengira dikira acaranya malam.
Alhamdulillah tapi semua masih terkendali. Karena fokus tantangan ini ada di diri saya sebagai peserta kelas bunsay, saya berani menyatakan diri saya "under my control" pada hari ini.
Magrib setelah shalat, saya dan pasangan mulai mendiskusikan yang terjadi di hari itu, saya pikir ini waktu yang tepat. Sayangnya hanya sebentar dan tidak tuntas, kepotong iklan (haidar udah manggil. Hehe.)
Saya merasa perlu mengkomunikasikan apa yang saya rasakan, yang menurut saya perlu diperbaiki, perlu diklarifikasi, dan tentang bentuk pendidikan yang perlu disepakati.
Mudah mudahan kami mau meluangkan waktu untuk mendiskusikannya di lain waktu :)
Terjadi pada hari Jumat, 9 Juni 2017
Ditulis pada 12 Juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day26
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2
Saturday, June 10, 2017
Kuliner Khas Wonosobo
Udara yang sejuk dan dingin menjadi salah satu ciri khas kota ini, Wonosobo. Terletak di jawa tengah, berdekatan dengan banyumas. Pemandangannya masih asri, dan belum terlalu ramai dengan hiruk pikuk perkotaan. Tapi kota kecil ini menjadi salah satu destinasi para wisatawan.
Belum ke Wonosobo kalau belum makan mie ongklok, begitu katanya. Sudah pernah mencobanya?
Kuliner ini sebetulnya sangat sederhana. Mie kuning dan sayur sosin disajikan dengan siraman kuah kental dan bawang goreng. Sajian ini biasa dilengkapi dengan tempe kemul dan sate ayam berbumbu kacang.
* * *
Carica papaya
Friday, June 9, 2017
Day 4 : Komunikasi Produktif [Level 1]
Alhamdulillah Allah kasih saya pengalaman baru, sakit saat ramadhan bersama sang balita :)
Meskipun berucap hamdallah itu mudah dituliskan, namun pada kenyataannya ternyata penuh drama.
Setelah 3 hari haidar demam dan sulit makan, keesokan harinya saya bersin-berain tak berhenti dengan sekujur badan yang lemas. Tak bisa dipungkiri, jadi malas melakukan apapun. Padahal sakit saya hanya flu, tapi ya begitu kalau sudah flu ngefek ke semuanya. Inginnya tidur saja supaya ngga terasa dan bersin-bersin.
Astaghfirullah semoga Allah mengampuni.
* * *
Hari ke 4 tantangan komunikasi produktif dilakukan di rumah orangtua saya di margahayu raya.
Komunikasi terhadap pasangan :
Kondisi tidak fit sejujurnya membuat teori yang mau diaplikasikan jadi mentah kembali. Kaidah 7-38-55 komunikasi terhadap pasangan yang saya lakukan sepertinya berhasil menyampaikan pesan bahwa saya sedang sakit dan tidak mood, tapi pesannya sungguh negatif. Ya, intonasi dan body language saya belum bisa saya kendalikan.
Contoh kasus 1 :
Pada saat suami sedang bersiap mandi, saya menyusui haidar lalu tertidur. Ketika bangun saat masih belum sadar betul, suami bilang yang kurang lebih intinya begini : Ini haidar celananya basah belum diganti? Dingin loh.
Karena masih setengah sadar saya hanya tidak ingat betul redaksi yang digunakan. Pesan yang saya tangkap saat itu hanya: saya baru bangun, terus tiba tiba dibilang hal semacam itu, saya agak ngambek. Hehe. Maksudnya kan kalau tahu istrinya sedang sakit, bisa tolong digantikan aja gitu ya langsung celananya.
Setelah mengganti celana, saya mengambil kaus kaki suami ke atas dan kesadaran saya mulai terkumpul betul. Saya kembali normal hehe.
Komunikasi terhadap anak :
Dengan kondisi tidak fit, alhamdulillah masih bisa menjalankan kaidah KISS. Tapi kaidah intonasi yang ramah hanya bertahan di awal-awal. Saya sedang ingin membereskan dapur sampai rapi, tapi haidar sedang ingin digendong terus, saya lama lama hilang kesabaran. Ngga sampai marah sih, tapi tegas hehe. Tapi setelah itu haidar masih terus menangis dan honestly timbul rasa stress di diri saya. Hari ke 4 ini haidar menangis terus sedikit-sedikit.
Alhamdulillah sempat bermain di luar dan menemani saya ke warung membeli bahan makanan, semua terkendali.
Namun rentetan kejadian seharian itu betul-betul luar biasa bagi saya. Drama pemberian makan pun cukup menguras emosi.
Dibuatkan sop, telur ceplok dan nasi haidar ngga mau makan, akhirnya masak nasi goreng dan lumayan mau makan. Sebelumnya karena udah makan snack taro, jadi maunya makan snack terus sepertinya. Saya agak dilema ngasih snack sebetulnya, karena niat nya ngasih supaya ada makanan yang masuk, dan dia jadi selera makan, tapi jadinya malah agak susah makannya.
Bahkan ketika mau ditidurkan pun nangis nya menjadi jadi, saya semakin stress melihat bahwa bisa jadi haidar haus mimi dan lapar sementara ASI mungkin sedang sedikit dan selama sakit haidarpun sedang tak nafsu makan. Astaghfirullah. Alhamdulillah suami mengambil alih haidar menggendongnya. Saya masih terdiam di kasur dan menutup wajah. Astaghfirullah, memang ada ya masa-masa semacam ini.
* * *
Astaghfirullah, padahal ini ramadhan. Saya introspeksi dan sadar diri bahwa kondisi sakit memang "berbahaya". Mungkin benar katanya, kalau ibu ibu tak boleh sakit, emosinya bisa naik turun. Apalagi ibu menyusui, rasa panik terhadap ASI yang kurang juga memengaruhi. Target tilawah saya pun tak tercapai pada hari itu.
Semoga ada pelajaran yang bisa diambil. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Sedikit menginsyafi diri bahwa kita hanya manusia yang memang penuh kekurangan, hanya seorang wanita(ibu, istri) yang memang masih bengkok.
Semoga Allah mengampuni kita semua. Saling menguatkan ya :)
Jumat, 9 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
Pagi hari, Disamping haidar yang terlelap.
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day23
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2
Wednesday, June 7, 2017
Day 3 : Komunikasi Produktif [Level 1]
Sudah masuk hari ke 11 bulan ramadhan.
Qadarullah, 3 hari ini haidar demam (yeng tertinggi terukur hingga 38.5dercel), dan ini kali pertama ramadhan mendampingi anak yang sakit. 1 pekan ini kami sedang "marathon" nginep di rumah eninembu-ngki dan embah-enin (kakek nenek haidar di ciwastra).
Semoga bukan jadi pembenaran, maka tantangan bunda sayang hari ke 3 harus terpending hingga saat ini.
Selama menginap di mertua, jujur saya agak susah mendeteksi progress dari komunikasi produktif antara saya-pasangan, dan saya-anak. Di rumah mertua banyak orang yang mengajak haidar main, jadi emosi saya juga lebih terkontrol. Ada masanya haidar saya pegang terus, dan ada masanya saya dilepas karena haidar hanya mau main dengan om kecilnya, atau tante-tantenya.
Selama di mertua dan suami pergi bekerja, Komunikasi dengan pasangan pun sejujurnya kurang intens. Kesepakatan untuk berbincang pukul 2 pagi bablas karena masing-masing lelah hayati. Hehe. Jarak tempuh ke kampus jadi lebih jauh, memakan waktu lebih lama dan tentu menguras tenaga. Pulang sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.
Alhamdulillah,
Komunikasi produktif dengan pasangan :
Poin choose the right time nya belum bisa dilihat lagi. Selama menginap di mertua, saya memilih untuk lebih banyak diam saja pada suami. Secukupnya saja hehe. Karena saya tahu kondisi beliau sedang cape, saya pun cape.
Saya menjalankan kaidah 7-38-55, tak banyak bicara tapi secara body language (55%) menunjukkan bahwa sayah sedang merasa bosan dan bete hihi. Maka suami sempat menanyakannya kepada saya, kenapa dari pagi saya sikapnya beda. Saya kalau udah ditanya gitu, baru jawab. Kenapa? Karena berarti lawan bicara saya udah aware, udah cukup siap untuk diajak bicara. Setelah itu berpelukan hehe.
Komunikasi produktif dengan anak :
Usia 21 bulan ini haidar sudah lancar merespon pembicaraan, sudah mengerti banyak instruksi, dan sudah mulai berpikir saat menjawab.
Saya mencoba fokus pada kaidah lain yaitu KISS dan Intonasi yang Ramah, alhamdulillah berjalan baik. Saya memang irit bicara jadi berusaha seoptimal mungkin kalau bicara sama haidar. Saya juga paham kalau haidar baru akan merespon dengan benar jika kalimat saya singkat singkat.
Intonasi saya diusahakan seramah mungkin, namun ketika pada kondisi dimana saya begitu lelah atau mengantuk, saya merasa belum sepenuhnya bisa ramah lagi. Ini yang sepertinya perlu di evaluasi, bagaimana agar tetap ramah ketika kondisi saya sedang tidak oke.
Overall selama sakit diwajari kalau memang haidar agak rewel, karena memang begitulah kalau demam. Apa-apa selalu ingin sama bunda, dan inginnya digendong.
7 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day22
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2
Rumah Kita
Atap rumah kita satu, semoga terisi dengan segala material kebaikan di dalamnya.
Pondasi rumah kita dibuat dari bahan terbaik, senantiasa kita periksa agar menjadi pondasi terbaik rumah kita. Beton keimanan dan pengetahuan yang kokoh, yang semoga berbuah amal surgawi di rumah kita.
Dinding rumah kita kokoh, bekerja saling melindungi diri kita dari panasnya keburukan, dan dinginnya ketidakpedulian. Dinding yang kita bangun ini tersusun dari batu bata kesepakatan, keyakinan dan rangkulan hangat. Dilapisi campuran semen dan cat dinding yang indah untuk bisa dinikmati banyak orang.
Jendela rumah kita hasil dari jatuh bangun diskusi kita. Kaca ku dan kaca mu berbeda, namun bersatu menjadi jendela pandang kita. Jendela yang sama untuk kita memandang dunia.
Ya, rumah kita. Mungkin kini jauh dari sempurna. Namun semoga selalu kita pantau pembangunannya hingga ke surga.
7 Juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day21
Monday, June 5, 2017
Ketika Harap dan Cemas Jadi Satu
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjalan perbuatan-perbuatan yang baik. Dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang orang yang khusyu kepada Kami."
QS. Al Anbiya : 90
Harap yang disebutkan dalam ayat di atas, diterjemahkan dari kata raghbah. Artinya rasa penuh minat, berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang dicintai.
Sedangkan cemas, diterjemahkan dari kata rahbah, berarti perasaan cemas yang menimbulkan keinginan untuk melarikan diri dari yang ditakutinya. Dan ini adalah rasa takut yang dibarengi dengan perbuatan.
Bahasan yang menarik yang dibahas oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam buku yang ditulisnya berjudul Ulasan Tuntas tentang 3 prinsip Pokok.
* * *
Siapa di antara kita yang suka berdoa? Rasa-rasanya hampir setiap orang berdoa, meski dengan cara, keyakinan dan kadarnya masing-masing.
Kekhusyuan dalam berdoa dan beribadah menjadi keinginan setiap orang, namun ternyata ada suatu sikap yang melengkapi rasa khusyu itu, yakni rasa harap dan cemas.
Kita berdoa dengan penuh rasa harap akan dikabulkan, didengar, diberi pahala, diberi petunjuk. Juga berdoa dengan rasa cemas akan siksaNya, akibat dosa dari perbuatannya sendiri. Keduanya perlu seimbang.
"Sebagian ulama berpendapat, rasa harap diperbanyak saat sakit, dan cemas di saat sehat." - Syaikh Muhammad
Mengapa?
"Orang yang sedang sakit, lemah jiwa raganya, dimana mungkin ajal sudah dekat lalu meninggal. Dengan demikian ia dalam keadaan berbaik sangka pada Allah.
Sebaliknya, jika sehat, seseorang dalam keadaan sangat kuat dan berharap panjang umur sehingga timbul sikap lupa diri dan sombong. Maka disaat ini perlu ditumbuhkan rasa cemas agar selamat dari keadaan tersebut."
-- Syaikh Muhammad.
* * *
Saya jadi berpikir, sudahkah saya memiliki rasa semacam itu sepanjang hidup saya? Sudahkah seimbang?
5 Juni 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day20
Sunday, June 4, 2017
Melampaui Keterbatasan
"Eh, itu tangannya ngga ada!" Tukas seorang anak kecil.
Begitulah kutipan yang kudengar dari sebuah tayangan di televisi. Seorang dengan keterbatasan fisik menceritakan pengalamannya pada pemirsa. Masih terasa pahit, maka hatinya masih sakit kala mendengar ucapan itu, pasalnya, ia pernah punya tangan.
Tangannya harus diamputasi karena kelalaian seorang rekan kerjanya, ya, apa boleh buat. Kini ia harus beraktivitas dengan lengan sepotong. Menikmati pandangan iba setiap orang yang melihatnya. Terkadang masih harus menutupi sepasang tangannya dengan sehelai handuk, ya masih sesak baginya.
Namun ia hanya khawatir terhadap masa depan anak-anaknya. Apakah anaknya bisa sukses dengan kondisi orang tua yang semacam itu. Bersyukur ia masih punya iman, awal yang baik untuk dapat terus menjalani hidup.
Berapa banyak dari kita diberi semesta nikmat tak terhitung oleh Allah? Semua makhluk.
Berapa banyak dari kita diuji Alah dengan keterbatasan masing-masing. Setiap manusia punya episodenya masing-masing.
Semua tergantung bagaimana kita menyikapi semesta nikmat dari Allah. Keterbatasan fisik seolah menjadi penghalang yang kita anggap suatu ketidaknormalan, padahal begitulah desain Allah. Ada keluarbiasaan yang harus dia lakukan dengan segala keterbatasan itu. Banyak dari mereka yang justru melakukan hal - hal di luar ekspektasi kita, bahkan jauh dari kita.
Ini hanya persoalan sudut pandang, dan bagaimana mensyukuri segala kondisinya.
4 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day19
Kiki Barkiah : Satu Atap Lima Madrasah (Open PO)
Open PO buku terbaru karya teh Kiki barkiah (penulis buku best seller 5 Guru Kecilku)
Batch 1 (4 Juni 2017 - 30 Juni 2017)
Satu Atap Lima Madrasah
Banyak diantara orang tua yang menjalankan proses pengasuhan dan pendidikan terhadap anak-anak secara mengalir apa adanya. Dari hari ke hari, hanya melakukan sebuah pengulangan rutinitas yang seolah tak memiliki tujuan pengasuhan. Buku ini memberikan inspirasi bagi kita bahwa sesederhana apapun peristiwa dalam keseharian bersama anak-anak kita, sesungguhnya mengandung hikmah berharga yang dapat mendatangkan kebaikan dan melahirkan perbaikan.
Kisah-kisah dalam buku ini juga memberikan inpirasi bahwa sesederhana apapun sikap yang dipilih orang tua dalam merespon peristiwa terkait anak, hendaknya dilandasi kepahaman dalam ilmu pengasuhan yang dibalut motivasi dan cita-cita besar, serta bergerak dalam naungan visi misi besar dalam membangun keluarga.
Membaca buku ini akan mengajak kita untuk menyelami grand desain kurikulum sekolah kehidupan yang menjadi ruh dalam menjalankan sekolah rumah keluarga penulis. Sebuah rumusan kurikulum pendidikan sepanjang hayat yang dapat menjadi referensi bagi kita untuk diterapkan dalam mendidik anak-anak. Grand desain tersebut begitu renyah untuk dibaca karena terbalut dalam kisah keseruan dalam menjalankan masing-masing madrasah yang unik, yang lengkap tersaji dengan perasaan penulis yang sangat manusiawi.
Membaca buku ini akan membawa kita pada satu kesimpulan bahwa sudah selaknya rumah tangga yang kita bangun berperan sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak.
Spesifikasi buku
Jumlah halaman : 244
kertas HVS 70gr
berat buku sekitar 300-330gr.
Perkiraan selesai cetak sekitar pertengahan Juli 2017, insya Allah
Batch 1 (4 Juni 2017 - 30 Juni 2017)
Batch 2 (1 Juli - 10 Juli 2017)
Pemesanan isi form : bit.ly/1atap5madrasah
Info : 0856-201-6256 / bit.ly/OrderViaWasap
#kikibarkiah #kikibarkiahbook #bukukikibarkiah #1atap5madrasah
2 Prinsip Yang Perlu Diketahui Terkait Ibadah dan Muamalah
Dalam menjalani hidup, kita perlu panduan agar hidup kita dapat dijalani dengan baik.
Dua prinsip yang kemarin saya pelajari adalah tentang bagaimana kita beribadah, dan bermuamalah (dalam kegiatan sehari-hari).
Menurut saya ini sederhana, tapi sangat perlu diketahui oleh seorang muslim. Kenapa sih penting? Kita tahu bahwa beribadah adalah kewajiban setiap manusia yang Allah ciptakan. Dan bermuamalah adalah sesuatu yang juga tidak lepas dari kehidupan kita. Maka, dengan tahu prinsip ini, kita lebih mudah menyaring/memilih hal mana yang memang perlu dilakukan, mana yang benar mana yang salah.
Prinsip yang pertama :
Semua ibadah itu batal, kecuali ada dalil yang menghalalkan.
Prinsip yang kedua :
Semua muamalah pada dasarnya boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkan.
Kedua prinsip ini saya dapat kan dari sebuah buku berjudul al ishlah yang disusun oleh Ust A. Zakaria. Saat ini, buku tersebut menjadi salah satu buku yang saya dan suami pelajari karena isinya yang cukup komprehensif tentang islam.
Saya merasa tercerahkan, karena baru tahu. Adakah teman teman yang baru tahu, atau sudah lama tahu juga ?
* * *
Awal melihat cover buku itu, saya tidak terlalu tertarik, saat melihat daftar isinya pun rasanya "buku agama banget". Tapi ternyata, menurut saya apa yang disampaikan dalam buku itu menyangkut hal hal prinsip dalam beragama islam. Kita kan kadang banyak mencari-cari sumber ilmu, yang kadang sulit untuk kita pahami seluruhnya. Dengan buku itu, kita lebih paham inti kita berislamnya.
4 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day18
Friday, June 2, 2017
Day 2 : Komunikasi Produktif [Level 1]
Bismillah, hari kedua tantangan komunikasi Produktif sudah dilalui.
Hari jumat tanggal 2 juni ini, progress interaksi komunikasi saya dengan pasangan seiring pancasila yang kesaktiannya mulai memudar, tidak terlalu banyak. Hehe. (Saya ngga anti pancasila, tanggal 2 kan udah bukan hari kesaktian pancasila, udah ngga libur jadi paksuami juga ngantor hehe)
Tidak ada agenda spesial yang saya dan suami canangkan. Namun perlakuan suami jadi lebih so sweet. Ya biasanya juga so sweet sih.
Pagi diawali dengan saya yang bangun sahur dengan ngantuk, jam menunjukkan sudah waktu indonesia mepet sementara haidar mau menyusu dan tak bisa ditinggal. Suami dengan sigap menyiapkan makanan sahur. nyemplung-nyemplungin suki ke dalam kuah tomyam, bikinin roti oles, nyuruh banyak minum. Suami juga lebih tegas pada haidar yang saat itu sedang aga rewel karena baru bangun, bilang kalau bundanya harus sahur dulu.
Saat mau shalat subuh juga sama. Suami lebih tegas namun lembut pada haidar, bilang kalau bundanya lagi mau shalat.
Pagi-pagi juga disempatkan dulu ngobrol, tapi terputus karena tetiba haidar nangis keras minta odading (?)
Selama suami kerja di kampus, percakapannya sebatas laptop yang semalam saya pakai saja.
Ayah pulang lebih cepat dan tetap so sweet. Walau capek, ayah tetap bulak balik : mengantar haidar ke uyutnya, mengambilnya kembali, mengambil karpet di laundry, membeli aqua galon. Barakallah.
* * *
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Mengendalikan emosi bisaxdilakukan hingga siang hari, namun siang hari agak kelepasan saat haidar rungsing karena belum tidur juga.
Itu saja selama hari ke 2 ini :)
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2
#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day17
Thursday, June 1, 2017
Day 1 : Komunikasi Produktif [Level 1]
Haidar masih berusia 21 bulan, problem utama saya masih seputar pengendalian emosi. Karena hari ini saya dan suami lagi so sweet, jadi ngga ada kejadian luar biasa yang bikin saya lepas emosi sama haidar. Happy mom, happy kids :)
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2
Day 0 : Tantangan Komunikasi Produktif Bunda Sayang
Perkuliahan online Bunda Sayang dari IIP sudah dimulai sejak tanggal 29 Mei lalu. Materinya adalah tentang komunikasi produktif, bagi saya itu merupakan tantangan tersendiri.
Proyeknya harus dilakukan rutin setiap hari minimal 10 hari dan maksimal 17 hari, terhitung sejak tanggal 1 Juni hingga 17 Juni. Akan saya posting juga di sini, Insha Allah.
Inti dari materi komunikasi produktif ini adalah tentang kemauan kita untuk mengubah pola komunikasi. Diakui atau tidak, selama ini belum mempraktekkan pola komunikasi orang dewasa yang baik. Terkadang (atau sering) masih mengkomunikasikan banyak hal secara kekanakan, bukan lucu malah nyebelin.
Untuk diingat, bahwa fokus kita adalah perbaikan diri sendiri. Memperbaiki kualitas komunikasi kita. Tak perlu pusing dengan respon dari sekitar yang belum sesuai harapan, karena yang perlu kita pertanggungjawabkan hanya diri kita, cara kita. Berdoa, berpikir positif, lakukan yang terbaik, insyaallah Allah memberikan hasil terbaik.
Mengakui kesalahan sendiri itu kesannya mudah, tapi dalam percakapan, karena tidak mau merasa kalah biasanya, kadang tidak terlihat bahwa kita sedang mengakui kesalahan. Ujung-ujung nya malah bikin pertahanan diri yang justru ngga menyelesaikan masalah. Astaghfirullah.
* * *
Sebelum mulai, saya ingin mencoba membuat daftar tentang pola komunikasi saya yang harus diperbaiki. Saya buat ini sebagai langkah ke-0 untuk semacam assesment terhadap 5 kaidah komunikasi produktif (komprod) yang diberikan pada materi 1 ini.
5 KAIDAH KOMUNIKASI PRODUKTIF PADA ORANG DEWASA
1. CLEAR AND CLARIFY
2. CHOOSE THE RIGHT TIME ***
3. KAIDAH 7-38-55 ***
4. INTENSITY OF EYE CONTACT
5. I'M RESPONSIBLE FOR MY COMMUNICATION RESULT *
1. CLEAR AND CLARIFY
Poin ini, menurut saya pribadi, bukan masalah utama saya. Selama ini saya termasuk orang yang kalau ngomong apa-apa harus jelas (clear). Saya juga terbiasa mengkonfirmasi lawan bicara saya (clarify). Problemnya justru karena saya terlalu berlebihan menuntut orang lain untuk harus jelas juga. Hihi. Mungkin karena saya butuh perhatian lebih saat berbicara, maka semuanya harus jelas. Wajar sih, tapi mungkin perlu dikurangi ya hehe.
2. CHOOSE THE RIGHT TIME ***
Jumlah bintang menunjukkan seberapa pentingnya saya memperbaiki poin ini. Hehe. Ya, ini problem kelas berat buat saya pribadi. Bagi saya, seluruh waktu saya sudah saya sediakan kalau pasangan mau ngobrol atau perlu sesuatu. Namun kenyataannya, pasangan bicara kita kan juga punya rasa lelah, sakit, kantuk dll hehe.
Kadang saya ngga bisa lihat sikon saat ingin ngajak/diajak ngobrol sama pasangan. Bagi saya, obrolan jenis serius atau bercanda bebas dilakukan kapan saja, tapi tidak bagi pasangan. Hehe.
Sepulang suami kerja, rasanya banyak yang ingin dibicarakan. Tapi realitasnya tentu saja beliau sudah lelah dan inginnya istirahat hihi. Bukan hal-hal keseharian saja, tapi tentang hal-hal penting yang memang perlu dibicarakan.
Kami perlu membuat kesepakatan waktu khusus. Pernah disepakati jam 2 pagi, tapi sering skip karena tidak bisa selalu bangun pukul 2.
Pemilihan waktu yang kurang tepat ini juga berdampak kurang baik, karena ketika saya lagi ingin ngobrol tapi suami cape dan menanggapi "seadanya", saya jadi ngambek. Haha (maune opo sih)
Akhirnya ngobrol nya nunggu inisiatif dari pasangan aja. Atau cari cara lain.
3. KAIDAH 7-38-55 ***
Ini problem besar saya yang kedua haha. Ketika kata-kata hanya memberi dampak 7%, intonasi 38%, bahasa tubuh lah yang menjadi penentu utama 55%. Ketika bibir tak mampu berkata, maka diam seribu bahasanya saya sudah mengartikan bahwa "Saya ngambek" hehe.
Problemnya muncul karena pasangan saya ngga suka banget kalau saya diem kaya gitu. Haha. Lebih baik ngomong dulu sedikit dan bilang kondisinya.
Mungkin di poin ini, proyeknya adalah tetap mengkomunikasikan (walau sedikit) kalau sedang ngambek. Habis itu baru diem lagi haha.
4. INTENSITY OF EYE CONTACT
Selama ini saya memegang betul prinsip ini, bukan masalah besar. Masalah yang muncul adalah karena saya menuntut pasangan untuk melakukan hal yang sama. Jaman gadget gini ya, mungkin itu problem semua orang. Mungkin nanti bisa membuat kesepakatan dan komitmen bersama.
5. I'M RESPONSIBLE FOR MY COMMUNICATION RESULT *
Karena dari 5 kaidah masih ada big problem nya, maka poin ini masih jadi peer buat saya. Saya bertanggung jawab terhadap apa yang mau saya sampaikan. Membantu lawan bicara untuk paham maksud saya, mencari cara sebaik mungkin untuk menyampaikan pesan.
* * *
Alhamdulillah, sekian gambaran pola komunikasi (terhadap pasangan) saya di awal perkuliahan. Semoga allah karuniakan kesabaran dan ketangguhan untuk memperbaiki diri.
Kamis, 1 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
6 Ramadhan
#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day 15
Wednesday, May 31, 2017
Flashdisk Kurma : Duplikasi Pahala
Memasuki ramadhan, kami sekeluarga belum lagi membeli kurma, masih ada sedikit yang mau dihabiskan. Beberapa kali masuk supermarket, hanya melihat-lihat jenisnya dan mengecek harga. Ternyata kurma itu beragam ya, dari kualitas biasa hingga yang per kilonya bisa ratusan ribu.
Kurma, dulu sempat saya tidak mau memakannya, karena bentuknya yang sangat mirip dengan kecoak. Hehe.
Saat ini, saya tahu bahwa berbuka puasa dengan kurma adalah salah satu sunnah rasul, dan bermanfaat untuk asupan energi saat berbuka. Pun dengan ibu-ibu hamil dan menyusui, kami tinggal merendam kurma itu dalam air selama semalam, dan esoknya di makan. Atau bisa juga dibuat jus kurma dan susu, konon katanya membuat ASI melimpah, ASI booster.
Kurma yang kecil dan nampak sepele itu selama bulan ramadhan, bagiku layaknya flashdisk. Iya, dengan memberikan sebutir dua butir kurma pada orang orang yang berpuasa, kau akan otomatis mendapat pahala puasa orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya. Duplikasi pahala lewat Kurma.
Sebutir dua butir mungkin hanya satu hari, namun kalau satu box? Itulah yang kami dapatkan beberapa hari lalu. Seorang dosen rekan kerja suami saya memberikan kami dan yang lainnya masing-masing 1 kotak kurma tunisia. Kami bersyukur belum sempat membeli kurma lagi, sudah dapat rejeki kurma melalui beliau. Kami dapat kurma, dan beliau otomatis copy-paste pahala kami semua. Hihi. Aih, cerdas sekali.
Saya kemudian berpikir, sebaiknya kita juga merencanakan hal sama, berbagi kurma. Semoga kami dan kamu mendapat rejeki lebih untuk bisa memberi flaskdisk kurma ini ya :) kan kalau belum bisa makanan berat, ya kurma, atau seteguk air.
Btw, kalau nyuapin suami buka puasa copas pahala juga ga ya? ;)
* * *
Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.
HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.
HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.” -- Muhammad Abduh Tuasikal
Rabu 31 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day14
Tuesday, May 30, 2017
Tantangan 1 : 10 Hari Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang
💟🔘🔘🔘🔘💟🔘🔘🔘🔘💟
*_Game Kelas Bunda Sayang_*
Level 1
*TANTANGAN 10 HARI KOMUNIKASI PRODUKTIF*
Selamat anda memasuki game level 1, di kelas Bunda Sayang ini.
Dan inilah tantangan bulan ini :
💟 *KOMUNIKASI KELUARGAKU* 💟
a. Pilihlah 1 poin dalam komunikasi produktif yang menurut Anda paling penting dan utama untuk dilatihkan pertama. Jika dalam waktu kurang dari 10 hari telah tercapai target perubahan, boleh lanjut ke poin berikutnya.
_Panduan poin Komunikasi Produktif untuk anak_
http://bit.ly/TabelKomProdAnak
_Panduan Poin Komunikasi Produktif untuk Pasangan/Keluarga_
http://bit.ly/KomProdPasanganKeluarga
b. Berlatihlah menggunakan poin tersebut.
Misal, Anda memilih melatihkan KISS. Maka latihkanlah setiap hari minimal selama 10 hari berturut-turut.
c. Ceritakan dengan narasi pendek dan boleh disertai foto atau video proses latihan Anda *setiap harinya*. Ceritakanlah:
✅ Hal menarik apa saja yang anda dapatkan ketika mempraktikkan poin tersebut dalam komunikasi sehari-hari bersama keluarga?
✅ Perubahan apa yang anda buat hari ini dalam berkomunikasi?
d. Waktu yang kami berikan dari tanggal 1-17 Juni 2017.
e. Anda cukup mengirimkan link tantangan Anda melalui Google Form dibawah ini
http://bit.ly/Tantangan10hari-Level1
e. Penulisan tantangan boleh dilakukan melalui Blog/FB pribadi/Notes/ Instagram/Aplikasi Google.
f. Setiap kali membuat narasi/gambar /video tantangan, jangan lupa pakai hashtag
#level1
#day1 (ubah menurut hari setoran)
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
g. Bagi anda yang sudah menyelesaikan tantangan di level 1 ini dengan tepat waktu akan mendapatkan badge cantik bertuliskan
_I'm responsible for my communication result_
yang sudah disiapkan oleh para tim fasilitator bunda sayang.
_Selamat berkreasi dalam membangun komunikasi_
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch #2 2017/
💟🔘🔘🔘🔘💟🔘🔘🔘🔘💟
Inspirasi dari Hafiz Indonesia 2017
Saya yakin bukan hanya saya yang menangis saat menonton hafiz indonesia 2017.
Dua hari ini saya secara tidak sengaja menonton hafiz, jadi tidak menonton penuh, namun tetap saja mata ini rasanya berair.
Para peserta hafiz indonesia 2017 itu masih anak-anak, dan menakjubkan bahwa banyak dari mereka yang hafalannya sudah lebih dari 5 juz.
Saya ingin mengambil pelajaran dari dua peserta terakhir yang saya lihat.
1. Salah satu peserta menangis saat diperlihatkan video saat bertemu ibunya. Kangen. Dalam video itu, ibunya kurang lebih berkata seperti ini "Banyak orang mengira saya yang mengajarkan anak saya, padahal tidak. Justru saya belajar dari anak saya. Baru belakangan ini saya suka membaca al quran sebelumnya tidak. Kan kalau hasan murajaah mau ngga mau saya buka quran juga."
Saya bisa melihat betapa sang anak dan sang ibu saling menyayangi. Ada kedekatan emosional yang kuat diantara mereka. Sang ibu selalu mengelus-elus anaknya saat mau tidur, dan sampai sekarang masih begitu.
2. Peserta lainnya berbeda dengan yang lain karena didampingi abangnya selama masa karantina. Abangnya ini hafiz juga. Abangnya juga nampak sayang pada adiknya dan suka menyelipkan bacaan bacaan quran pada setiap aktivitas mau pun permainan. Sambil bermain petak umpet misalnya. Saat berjaga, sang adik tidak menghitung angka seperti yang biasa kita lakukan, tapi memurajaah hafalannya. Katanya kalau murajaah sambil duduk suka ketiduran.
Menariknya, ayah mereka adalah seorang tentara tni berseragam. Ini mengajarkan pada saya bahwa apapun profesinya, boleh punya impian apa saja, bahkan punya anak yang hafiz sekalipun. Saat kita masih jauh dari hafiz, kitapun boleh bercita cita punya anak yang hafiz. Kita boleh berusaha mencapainya, sembari terus berusaha pula mencapai impian itu untuk diri sendiri.
Saya juga jadi terpikir, bahwa kasih sayang yang tulus insyaallah dapat membuka jalan jalan yang tadinya kita anggap tidak mungkin.
Saya jadi ingat nasihat ust nouman ali khan, sebagai orangtua kita punya 2 fungsi : menjaga spiritual, juga menjaga kedekatan emosional. Terkadang kita bisa menjalankan keduanya sekaligus, tapi kadang hanya bisa satu persatu. Contohnya akan sibahas di lain kesempatan ya, insyaallah.
Saya jadi penasaran lebih lanjut tentang latarbelakang kehidupan masing masing dari para peserta. Bagaimana orangtuanya? Apa cita-cita dan prinsip orangtua nya? Bagaimana kesehariannya? Bagaimana caranya ? Bagaimana kiprah mereka nantinya saat dewasa ?
Masyaallah. Tabarakallah.
Semoga kita dianugerahkan cita-cita yang tinggi dan mulia, yang mengantarkan kita dan keluarga kita pada surga Allah yang terbaik.
Selasa, 30 mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day 13
Monday, May 29, 2017
Komunikasi Produktif - Materi 1 Bunda Sayang IIP
📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚
Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1
KOMUNIKASI PRODUKTIF
Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah dengan Menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.
KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.
3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.
4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
5. Kaidah: I'm responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”
d. Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.
I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”
j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚
Update Kehidupan Dulu
Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...
-
" Mencuci dengan MamaLime atau Sunlight, mendapat Hadiah Blender 3in1 Holmes. SELAMAT ..! " Saya ga berniat bikin postingan...
-
Alhamdulillah, ini sharing sedikit pengalaman waktu ikut serta dalam pelatihan Wirausaha Baru Jawa Barat 2015. 1. INFORMASI, DAFTAR, SELEKS...
-
Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...




