Tuesday, June 13, 2017

Tentang Menitipkan Anak

Dari dulu sampai sekarang, menitipkan anak adalah suatu hal yang biasa. Saya mungkin membahasnya secara luas dulu. Entah titip selama ayah bunda kerja pada keluarga/pengasuh, titip sementara, titip ikut bekerja ke kota (misal dari desa), atau menitipkannya di sekolah untuk belajar.

Semakin menjadi menarik pembahasannya di masa kini, karena muncul wacana ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Mengenai hal itu, tidak saya bahas panjang, karena yang harus kita pahami adalah tiap kondisi keluarga berbeda. Maka terkadang tidak ada yang lebih baik, namun mana yang lebih cocok dengan kondisi khas masing-masing.

Saya pribadi saat ini masih fokus di rumah sebagai ibu rumah tangga dengan balita berusia hampir 2 tahun. Belum pernah menitipkan anak seharian pada mertua atau ortu, karena selain anak belum dekat dengan mereka, lokasi rumah cukup jauh, dan tidak ada alasan urgent untuk saya titipkan, kan saya di rumah. Hehe.

Namun anak saya hampir setiap hari harus bermain ke rumah uyut nya yang lokasinya 3 rumah dari rumah tinggal saya saat ini. Supaya aki dan ema uyutnya ada "co'oan" (mainan). Jadi ya walaupun saya ibu rumah tangga, saya pun "menitipkan" anak saya.

Loh ngapain?
Insyaallah menyenangkan orangtua itu ada pahalanya. Haidar juga pasti belajar sesuatu di sana. Saya pun merasa lebih bisa leluasa membereakan rumah atau me time sendiri. Bagi ibu ibu pasti tahu rasanya mengurus anak dan rumah seperti apa, memang ada kalanya butuh waktu jeda.

Saya mencoba menganalisis latar belakang saya pribadi dan suami, untuk jadi bahan pertimbangan keputusan-keputusan kami. Saya dibesarkan dari ibu yang tidak bekerja di ranah publik, sementara suami dibesarkan oleh ibu yang bekerja. Semasa kecil ibu saya dibantu oleh asisten rumah tangga, sedangkan suami saya, selama ibu bekerja, beliau diasuh oleh kakek dan neneknya. Sejak kecil, saya tidak pernah diperbolehkan menginap di rumah saudara, sementara saudara-saudara saya sering menginap di rumah saya.

Untuk membuat kesimpulan, ternyata banyak faktor yang terlibat. Saya pribadi sejak awal memang ingin memegang anak sendiri, yang dalam perjalanannya  selain bahagia, pasti mengalami kebosanan juga, wajar. Tapi ada lemungkinan suatu saat nanti saya perlu bekerja dan menitipkan anak juga, siapa yang tahu. Saya hanya perlu mencari tahu lagi pengalaman-pengalaman orang lain dan mencari role model yang mendekati kebutuhan keluarga kami nantinya.

Sedikit merenung, mari belajar lagi tentang bagaimana para shalafusshaleh mendidik anak-anaknya

Para sahabat-sahabat yg shaleh pun suka menitipkan anaknya pada orang shaleh. Mungkin saat ini kita sebut "magang", saat anak kita titipkan pada seseorang yang memiliki keahlian khusus atau karakter khusus.

Sebaik baiknya orangtua, ada kalanya kita tidak didengar oleh anak kita, karena anak kita sudah tahu "cacat diri kita". Kita pun memang bukan superman yang bisa segala hal.

Menitipkan anak yg dicontohkan para orang orang shaleh yang di bahas disini, maksudnya menitip dididik iman islamnya.

Contoh:
1. Rasulullah sewaktu kecil juga yatim piatu, kemudian diasuh orang lain. Hasilnya, tetap bisa bagus, maka perlu dipelajari faktor-faktor.

2. Ibu anas bin malik (ummu sulaim) "menghadiahkan" anaknya, Anas, ke rasulullah. Anas dibiarkan untuk harus ikut membantu rasulullah juga. Efek pendidikannya terbukti baik, tentu saja, dididik oleh rasulullah.

Maka benarlah nasihat ini,
"Carilah tetangga sebelum mencari rumah. Beli lingkungan sebelum beli rumah."
Jangan sekedar beli rumah dulu baru ngecek tetangganya, karena kita perlu lingkungan yang baik untuk pembiasaan kita, dan pembiasaan tumbuh kembang anak kita. Mau tidak mau anak kita akan bergaul dengan tetangga.

Jaman sekarang tidak hanya yang dekat rumah, kita bisa kenal dengan yang rumah nya jauh melalui media sosial. Jadi seberulnya sangat bisa kita "magang"kan anak-anak kita.

Saya pribadi berharap punya anak yang shaleh, yang tidak dikungkung selalu di dalam rumah, tapi bisa mengenali lingkungannya dan bersosialisasi dengan baik, maka harus didukung dengan lingkungan yang baik.

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day27

Monday, June 12, 2017

Day 5 : Komunikasi Produktif [Level 1]

Alhamdulillah, hari kemarin yang cukup menantang saat saya sedang diserang flu, sudah berlalu. Saya memulai pagi ini dengan mengajak haidar berjalan jalan ke luar rumah menghirup udara pagi.

Kondisi lebih fit, mood lebih bagus, tekad untuk memperbaiki komunikasi dengan haidar lebih terpatri. Semua berjalan lancar bahkan ketika haidar jatuh dan mendadak sedikit rewel.

Saya mencoba berusaha menunjukkan empati, dilanjutkan dengan mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Berusaha mencari ulat, dan syukurnya ulatnya muncul juga hihi.

Terkadang di setiap lancarnya urusan, akan datang tantangan. Tantangannya muncul justru dari kami sendiri, ayah dan bundanya. Kami perlu memutuskan tentang siapa yang harus ke rumah mertua untuk mengambil baju-baju yang sudah kering. Berusaha sebaik mungkin berbicara dengan kaidah clear and clarify, tapi ketika salah satu sudah mengeluarkan emosi, energi nya terasa oleh yang lain, dan terasa ada sedikit kendala. Hal itu berujung pada emosi yang berlebihan pada haidar, yang mudah-mudahan terhitung sebagai bentuk pendidikan dari orangtuanya.

Karena setan sedang terbelenggu di bulan ramadhan, dan nafsu saya sedang bisa dikendalikan (he he), saya pun memilih untuk tidak terlarut. Saya mencoba melupakan yang terjadi, dan menggali-gali kebaikan pasangan dan kemudian saya tuangkan dalam sebuah puisi. Hehe. Efeknya menurut saya bagus. Setelah itu saya juga lebih bisa mengendalikan diri.

Siang harinya, saya ke Edu Global School di Jl Kalimantan untuk menghadiri acara penutupan mentoring. Haidar turut serta, dan bermain seru di kolam kura-kura. Memainkan bola yang saya bawa, haidar bermain bersama salah satu adik mentor saya (shabrina). Insyaallah fotonya nanti saya update ya. ;)

Sore harinya pulang dijemput suami, ada sedikit cerita tentang kami yang harus kembali ke Samsung Center untuk mengambil baterai yang tertinggal. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 sementara saya ada jadwal mengisi acara kegiatan pesantren kilat di masjid rumah. Tapi saya tetap mensuggest suami untuk balik lagi saja, karena saya memprioritaskan kebutuhan beliau.  Saya mampir sebentar membeli cokelat untuk dibagikan pada peserta. Qadarullah, singkat cerita jalanan macet, saya pun terlambat dan tidak bisa mengisi karena acara sudah selesai. Saya baru di pertengahan jalan memutuskan bilang "ayah kalau mau ngebut, gapapa ya, biar aku keburu ke mesjidnya". Ternyata dari situ saya baru tahu kalau ternyata suami saya lupa kalau saya ada agenda sore itu, dan salah mengira dikira acaranya malam.

Alhamdulillah tapi semua masih terkendali. Karena fokus tantangan ini ada di diri saya sebagai peserta kelas bunsay, saya berani menyatakan diri saya "under my control" pada hari ini.

Magrib setelah shalat, saya dan pasangan mulai mendiskusikan yang terjadi di hari itu, saya pikir ini waktu yang tepat. Sayangnya hanya sebentar dan tidak tuntas, kepotong iklan (haidar udah manggil. Hehe.)
Saya merasa perlu mengkomunikasikan apa yang saya rasakan, yang menurut saya perlu diperbaiki, perlu diklarifikasi, dan tentang bentuk pendidikan yang perlu disepakati.

Mudah mudahan kami mau meluangkan waktu untuk mendiskusikannya di lain waktu :)

Terjadi pada hari Jumat, 9 Juni 2017
Ditulis pada 12 Juni 2017
Hajah Sofyamarwa R

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day26

#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2



Saturday, June 10, 2017

Kuliner Khas Wonosobo

Udara yang sejuk dan dingin menjadi salah satu ciri khas kota ini, Wonosobo. Terletak di jawa tengah, berdekatan dengan banyumas. Pemandangannya masih asri, dan belum terlalu ramai dengan hiruk pikuk perkotaan. Tapi kota kecil ini menjadi salah satu destinasi para wisatawan.

Belum ke Wonosobo kalau belum makan mie ongklok, begitu katanya. Sudah pernah mencobanya?

Kuliner ini sebetulnya sangat sederhana. Mie kuning dan sayur sosin disajikan dengan siraman kuah kental dan bawang goreng. Sajian ini biasa dilengkapi dengan tempe kemul dan sate ayam berbumbu kacang.

* * *

Carica papaya

Friday, June 9, 2017

Day 4 : Komunikasi Produktif [Level 1]

Alhamdulillah Allah kasih saya pengalaman baru, sakit saat ramadhan bersama sang balita :)

Meskipun berucap hamdallah itu mudah dituliskan, namun pada kenyataannya ternyata penuh drama.

Setelah 3 hari haidar demam dan sulit makan, keesokan harinya saya bersin-berain tak berhenti dengan sekujur badan yang lemas. Tak bisa dipungkiri, jadi malas melakukan apapun. Padahal sakit saya hanya flu, tapi ya begitu kalau sudah flu ngefek ke semuanya. Inginnya tidur saja supaya ngga terasa dan bersin-bersin.

Astaghfirullah semoga Allah mengampuni.

* * *
Hari ke 4 tantangan komunikasi produktif dilakukan di rumah orangtua saya di margahayu raya.

Komunikasi terhadap pasangan :
Kondisi tidak fit sejujurnya membuat teori yang mau diaplikasikan jadi mentah kembali. Kaidah 7-38-55 komunikasi terhadap pasangan yang saya lakukan sepertinya berhasil menyampaikan pesan bahwa saya sedang sakit dan tidak mood, tapi pesannya sungguh negatif. Ya, intonasi dan body language saya belum bisa saya kendalikan.

Contoh kasus 1 :
Pada saat suami sedang bersiap mandi, saya menyusui haidar lalu tertidur. Ketika bangun saat masih belum sadar betul, suami bilang yang kurang lebih intinya begini : Ini haidar celananya basah belum diganti? Dingin loh.

Karena masih setengah sadar saya hanya tidak ingat betul redaksi yang digunakan. Pesan yang saya tangkap saat itu hanya: saya baru bangun, terus tiba tiba dibilang hal semacam itu, saya agak ngambek. Hehe. Maksudnya kan kalau tahu istrinya sedang sakit, bisa tolong digantikan aja gitu ya langsung celananya.

Setelah mengganti celana, saya mengambil kaus kaki suami ke atas dan kesadaran saya mulai terkumpul betul. Saya kembali normal hehe.

Komunikasi terhadap anak :
Dengan kondisi tidak fit, alhamdulillah masih bisa menjalankan kaidah KISS. Tapi kaidah intonasi yang ramah hanya bertahan di awal-awal. Saya sedang ingin membereskan dapur sampai rapi, tapi haidar sedang ingin digendong terus, saya lama lama hilang kesabaran. Ngga sampai marah sih, tapi tegas hehe. Tapi setelah itu haidar masih terus menangis dan honestly timbul rasa stress di diri saya. Hari ke 4 ini haidar menangis terus sedikit-sedikit.

Alhamdulillah sempat bermain di luar dan menemani saya ke warung membeli bahan makanan, semua terkendali.

Namun rentetan kejadian seharian itu betul-betul luar biasa bagi saya. Drama pemberian makan pun cukup menguras emosi.

Dibuatkan sop, telur ceplok dan nasi haidar ngga mau makan, akhirnya masak nasi goreng dan lumayan mau makan. Sebelumnya karena udah makan snack taro, jadi maunya makan snack terus sepertinya. Saya agak dilema ngasih snack sebetulnya, karena niat nya ngasih supaya ada makanan yang masuk, dan dia jadi selera makan, tapi jadinya malah agak susah makannya.

Bahkan ketika mau ditidurkan pun nangis nya menjadi jadi, saya semakin stress melihat bahwa bisa jadi haidar haus mimi dan lapar sementara ASI mungkin sedang sedikit dan selama sakit haidarpun sedang tak nafsu makan. Astaghfirullah. Alhamdulillah suami mengambil alih haidar menggendongnya. Saya masih terdiam di kasur dan menutup wajah. Astaghfirullah, memang ada ya masa-masa semacam ini.

* * *

Astaghfirullah, padahal ini ramadhan. Saya introspeksi dan sadar diri bahwa kondisi sakit memang "berbahaya". Mungkin benar katanya, kalau ibu ibu tak boleh sakit, emosinya bisa naik turun.  Apalagi ibu menyusui, rasa panik terhadap ASI yang kurang juga memengaruhi. Target tilawah saya pun tak tercapai pada hari itu.

Semoga ada pelajaran yang bisa diambil. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Sedikit menginsyafi diri bahwa kita hanya manusia yang memang penuh kekurangan, hanya seorang wanita(ibu, istri) yang memang masih bengkok.

Semoga Allah mengampuni kita semua. Saling menguatkan ya :)

Jumat, 9 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
Pagi hari, Disamping haidar yang terlelap.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day23

#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2

Wednesday, June 7, 2017

Day 3 : Komunikasi Produktif [Level 1]

Sudah masuk hari ke 11 bulan ramadhan.
Qadarullah, 3 hari ini haidar demam (yeng tertinggi terukur hingga 38.5dercel), dan ini kali pertama ramadhan mendampingi anak yang sakit. 1 pekan ini kami sedang "marathon" nginep di rumah eninembu-ngki dan embah-enin (kakek nenek haidar di ciwastra).

Semoga bukan jadi pembenaran, maka tantangan bunda sayang hari ke 3 harus terpending hingga saat ini.

Selama menginap di mertua, jujur saya agak susah mendeteksi progress dari komunikasi produktif antara saya-pasangan, dan saya-anak. Di rumah mertua banyak orang yang mengajak haidar main, jadi emosi saya juga lebih terkontrol. Ada masanya haidar saya pegang terus, dan ada masanya saya dilepas karena haidar hanya mau main dengan om kecilnya, atau tante-tantenya.

Selama di mertua dan suami pergi bekerja, Komunikasi dengan pasangan pun sejujurnya kurang intens. Kesepakatan untuk berbincang pukul 2 pagi bablas karena masing-masing lelah hayati. Hehe. Jarak tempuh ke kampus jadi lebih jauh, memakan waktu lebih lama dan tentu menguras tenaga. Pulang sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.

Alhamdulillah,
Komunikasi produktif dengan pasangan :
Poin choose the right time nya belum bisa dilihat lagi. Selama menginap di mertua, saya memilih untuk lebih banyak diam saja pada suami. Secukupnya saja hehe. Karena saya tahu kondisi beliau sedang cape, saya pun cape.

Saya menjalankan kaidah 7-38-55, tak banyak bicara tapi secara body language (55%) menunjukkan bahwa sayah sedang merasa bosan dan bete hihi. Maka suami sempat menanyakannya kepada saya, kenapa dari pagi saya sikapnya beda. Saya kalau udah ditanya gitu, baru jawab. Kenapa? Karena berarti lawan bicara saya udah aware, udah cukup siap untuk diajak bicara. Setelah itu berpelukan hehe.

Komunikasi produktif dengan anak :
Usia 21 bulan ini haidar sudah lancar merespon pembicaraan, sudah mengerti banyak instruksi, dan sudah mulai berpikir saat menjawab.

Saya mencoba fokus pada kaidah lain yaitu KISS dan Intonasi yang Ramah, alhamdulillah berjalan baik. Saya memang irit bicara jadi berusaha seoptimal mungkin kalau bicara sama haidar. Saya juga paham kalau haidar baru akan merespon dengan benar jika kalimat saya singkat singkat.

Intonasi saya diusahakan seramah mungkin, namun ketika pada kondisi dimana saya begitu lelah atau mengantuk, saya merasa belum sepenuhnya bisa ramah lagi. Ini yang sepertinya perlu di evaluasi, bagaimana agar tetap ramah ketika kondisi saya sedang tidak oke.

Overall selama sakit diwajari kalau memang haidar agak rewel, karena memang begitulah kalau demam. Apa-apa selalu ingin sama bunda, dan inginnya digendong.

7 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day22

#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2

Rumah Kita

Atap rumah kita satu, semoga terisi dengan segala material kebaikan di dalamnya.

Pondasi rumah kita dibuat dari bahan terbaik, senantiasa kita periksa agar menjadi pondasi terbaik rumah kita. Beton keimanan dan pengetahuan yang kokoh, yang semoga berbuah amal surgawi di rumah kita.

Dinding rumah kita kokoh, bekerja saling melindungi diri kita dari panasnya keburukan, dan dinginnya ketidakpedulian. Dinding yang kita bangun ini tersusun dari batu bata kesepakatan, keyakinan dan rangkulan hangat. Dilapisi campuran semen dan cat dinding yang indah untuk bisa dinikmati banyak orang.

Jendela rumah kita hasil dari jatuh bangun diskusi kita. Kaca ku dan kaca mu berbeda, namun bersatu menjadi jendela pandang kita. Jendela yang sama untuk kita memandang dunia.

Ya, rumah kita. Mungkin kini jauh dari sempurna. Namun semoga selalu kita pantau pembangunannya hingga ke surga.

7 Juni 2017
Hajah Sofyamarwa R

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah  #day21

Monday, June 5, 2017

Ketika Harap dan Cemas Jadi Satu

"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjalan perbuatan-perbuatan yang baik. Dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang orang yang khusyu kepada Kami."
QS. Al Anbiya : 90

Harap yang disebutkan dalam ayat di atas, diterjemahkan dari kata raghbah. Artinya rasa penuh minat, berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang dicintai.

Sedangkan cemas, diterjemahkan dari kata rahbah, berarti perasaan cemas yang menimbulkan keinginan untuk melarikan diri dari yang ditakutinya. Dan ini adalah rasa takut yang dibarengi dengan perbuatan.

Bahasan yang menarik yang dibahas oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam buku yang ditulisnya berjudul Ulasan Tuntas tentang 3 prinsip Pokok.

* * *

Siapa di antara kita yang suka berdoa? Rasa-rasanya hampir setiap orang berdoa, meski dengan cara, keyakinan dan kadarnya masing-masing.

Kekhusyuan dalam berdoa dan beribadah menjadi keinginan setiap orang, namun ternyata ada suatu sikap yang melengkapi rasa khusyu itu, yakni rasa harap dan cemas.

Kita berdoa dengan penuh rasa harap akan dikabulkan, didengar, diberi pahala, diberi petunjuk. Juga berdoa dengan rasa cemas akan siksaNya, akibat dosa dari perbuatannya sendiri. Keduanya perlu seimbang.

"Sebagian ulama berpendapat, rasa harap diperbanyak saat sakit, dan cemas di saat sehat." - Syaikh Muhammad

Mengapa?

"Orang yang sedang sakit, lemah jiwa raganya, dimana mungkin ajal sudah dekat lalu meninggal. Dengan demikian ia dalam keadaan berbaik sangka pada Allah.
Sebaliknya, jika sehat, seseorang dalam keadaan sangat kuat dan berharap panjang umur sehingga timbul sikap lupa diri dan sombong. Maka disaat ini perlu ditumbuhkan rasa cemas agar selamat dari keadaan tersebut."
-- Syaikh Muhammad.

* * *

Saya jadi berpikir, sudahkah saya memiliki rasa semacam itu sepanjang hidup saya? Sudahkah seimbang?

5 Juni 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day20

Sunday, June 4, 2017

Melampaui Keterbatasan

"Eh, itu tangannya ngga ada!" Tukas seorang anak kecil.

Begitulah kutipan yang kudengar dari sebuah tayangan di televisi. Seorang dengan keterbatasan fisik menceritakan pengalamannya pada pemirsa. Masih terasa pahit, maka hatinya masih sakit kala mendengar ucapan itu, pasalnya, ia pernah punya tangan.

Tangannya harus diamputasi karena kelalaian seorang rekan kerjanya, ya, apa boleh buat. Kini ia harus beraktivitas dengan lengan sepotong. Menikmati pandangan iba setiap orang yang melihatnya. Terkadang masih harus menutupi sepasang tangannya dengan sehelai handuk, ya masih sesak baginya.

Namun ia hanya khawatir terhadap masa depan anak-anaknya. Apakah anaknya bisa sukses dengan kondisi orang tua yang semacam itu. Bersyukur ia masih punya iman, awal yang baik untuk dapat terus menjalani hidup.

Berapa banyak dari kita diberi semesta nikmat tak terhitung oleh Allah? Semua makhluk.
Berapa banyak dari kita diuji Alah dengan keterbatasan masing-masing. Setiap manusia punya episodenya masing-masing.

Semua tergantung bagaimana kita menyikapi semesta nikmat dari Allah. Keterbatasan fisik seolah menjadi penghalang yang kita anggap suatu ketidaknormalan, padahal begitulah desain Allah. Ada keluarbiasaan yang harus dia lakukan dengan segala keterbatasan itu. Banyak dari mereka yang justru melakukan hal - hal di luar ekspektasi kita, bahkan jauh dari kita.

Ini hanya persoalan sudut pandang, dan bagaimana mensyukuri segala kondisinya.

4 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day19

Kiki Barkiah : Satu Atap Lima Madrasah (Open PO)

Open PO buku terbaru karya teh Kiki barkiah (penulis buku best seller 5 Guru Kecilku)
Batch 1 (4 Juni 2017 - 30 Juni 2017)

Satu Atap Lima Madrasah

Banyak diantara orang tua yang menjalankan proses pengasuhan dan pendidikan terhadap anak-anak secara mengalir apa adanya. Dari hari ke hari, hanya melakukan sebuah pengulangan rutinitas yang seolah tak memiliki tujuan pengasuhan. Buku ini memberikan inspirasi bagi kita bahwa sesederhana  apapun peristiwa dalam keseharian bersama anak-anak kita, sesungguhnya mengandung hikmah berharga yang dapat mendatangkan kebaikan dan melahirkan perbaikan.

Kisah-kisah dalam buku ini juga memberikan inpirasi bahwa sesederhana apapun sikap yang dipilih orang tua dalam merespon peristiwa terkait anak, hendaknya dilandasi kepahaman dalam ilmu pengasuhan yang dibalut motivasi dan cita-cita besar, serta bergerak dalam naungan visi misi besar dalam membangun keluarga.

Membaca buku ini akan mengajak kita untuk menyelami grand desain kurikulum sekolah kehidupan yang menjadi ruh dalam menjalankan sekolah rumah keluarga penulis. Sebuah rumusan kurikulum pendidikan sepanjang hayat yang dapat menjadi referensi bagi kita untuk diterapkan dalam mendidik anak-anak. Grand desain tersebut begitu renyah untuk dibaca karena terbalut dalam kisah keseruan dalam menjalankan masing-masing madrasah yang unik, yang lengkap tersaji dengan perasaan penulis yang sangat manusiawi.

Membaca buku ini akan membawa kita pada satu kesimpulan bahwa sudah selaknya rumah tangga yang kita bangun berperan sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak.

Spesifikasi buku
Jumlah halaman : 244
kertas HVS 70gr
berat buku sekitar 300-330gr.

Perkiraan selesai cetak sekitar pertengahan Juli 2017, insya Allah
Batch 1 (4 Juni 2017 - 30 Juni 2017)
Batch 2 (1 Juli - 10 Juli 2017)

Pemesanan isi form : bit.ly/1atap5madrasah
Info : 0856-201-6256 / bit.ly/OrderViaWasap

#kikibarkiah #kikibarkiahbook #bukukikibarkiah #1atap5madrasah

2 Prinsip Yang Perlu Diketahui Terkait Ibadah dan Muamalah

Dalam menjalani hidup, kita perlu panduan agar hidup kita dapat dijalani dengan baik.

Dua prinsip yang kemarin saya pelajari adalah tentang bagaimana kita beribadah, dan bermuamalah (dalam kegiatan sehari-hari).

Menurut saya ini sederhana, tapi sangat perlu diketahui oleh seorang muslim. Kenapa sih penting? Kita tahu bahwa beribadah adalah kewajiban setiap manusia yang Allah ciptakan. Dan bermuamalah adalah sesuatu yang juga tidak lepas dari kehidupan kita. Maka, dengan tahu prinsip ini, kita lebih mudah menyaring/memilih hal mana yang memang perlu dilakukan, mana yang benar mana yang salah.

Prinsip yang pertama :
Semua ibadah itu batal, kecuali ada dalil yang menghalalkan.

Prinsip yang kedua :
Semua muamalah pada dasarnya boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkan.

Kedua prinsip ini saya dapat kan dari sebuah buku berjudul al ishlah yang disusun oleh Ust A. Zakaria. Saat ini, buku tersebut menjadi salah satu buku yang saya dan suami pelajari karena isinya yang cukup komprehensif tentang islam.

Saya merasa tercerahkan, karena baru tahu. Adakah teman teman yang baru tahu, atau sudah lama tahu juga ?

* * *
Awal melihat cover buku itu, saya tidak terlalu tertarik, saat melihat daftar isinya pun rasanya "buku agama banget". Tapi  ternyata, menurut saya apa yang disampaikan dalam buku itu menyangkut hal hal prinsip dalam beragama islam. Kita kan kadang banyak mencari-cari sumber ilmu, yang kadang sulit untuk kita pahami seluruhnya. Dengan buku itu, kita lebih paham inti kita berislamnya.

4 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day18

Friday, June 2, 2017

Day 2 : Komunikasi Produktif [Level 1]

Bismillah, hari kedua tantangan komunikasi Produktif sudah dilalui.

Hari jumat tanggal 2 juni ini, progress interaksi komunikasi saya dengan pasangan seiring pancasila yang kesaktiannya mulai memudar, tidak terlalu banyak. Hehe. (Saya ngga anti pancasila, tanggal 2 kan udah bukan hari kesaktian pancasila, udah ngga libur jadi paksuami juga ngantor hehe)

Tidak ada agenda spesial yang saya dan suami canangkan. Namun perlakuan suami jadi lebih so sweet. Ya biasanya juga so sweet sih.

Pagi diawali dengan saya yang bangun sahur dengan ngantuk, jam menunjukkan sudah waktu indonesia mepet sementara haidar mau menyusu dan tak bisa ditinggal. Suami dengan sigap menyiapkan makanan sahur. nyemplung-nyemplungin suki ke dalam kuah tomyam, bikinin roti oles, nyuruh banyak minum. Suami juga lebih tegas pada haidar yang saat itu sedang aga rewel karena baru bangun, bilang kalau bundanya harus sahur dulu.

Saat mau shalat subuh juga sama. Suami lebih tegas namun lembut pada haidar, bilang kalau bundanya lagi mau shalat.

Pagi-pagi juga disempatkan dulu ngobrol, tapi terputus karena tetiba haidar nangis keras minta odading (?)
Selama suami kerja di kampus, percakapannya sebatas laptop yang semalam saya pakai saja.

Ayah pulang lebih cepat dan tetap so sweet. Walau capek, ayah tetap bulak balik : mengantar haidar ke uyutnya, mengambilnya kembali, mengambil karpet di laundry, membeli aqua galon. Barakallah.

* * *

KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Mengendalikan emosi bisaxdilakukan hingga siang hari, namun siang hari agak kelepasan saat haidar rungsing karena belum tidur juga.

Itu saja selama hari ke 2 ini :)

#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day17

Thursday, June 1, 2017

Day 1 : Komunikasi Produktif [Level 1]

Bismillahirrahmaanirrahim

Alhamdulillah

Hari pertama tantangan Komunikasi Produktif dimulai hari ini, tanggal 1 Juni 2017. Bertepatan dengan hari kesaktian pancasila, semoga sakti juga jurus-jurus yang saya lancarkan hehe.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Sedikit terlambat, kami bangun pukul 1 pagi untuk shalat karena malamnya ketiduran. Saya meminta waktu sedikit pada suami untuk memilih kaidah mana yang perlu saya latih pertama kali.


Dari 5 kaidah yang ada, suami saya menunjuk kaidah kedua yang berbunyi "CHOOSE THE RIGHT TIME". Yap, tepat sekali seperti apa yang saya perkirakan. Itu memang problem saya. Saya pun menanyakan waktu yang baginya cocok untuk berdiskusi yang agak serius. Beliau masih bingung menentukannya karena saya tembak mendadak, namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya dipilihlah : Selasa dan Kamis pukul 3.00-3.30 pagi dan 5.30-6.30.

Biarpun saya merasa itu sedikit (hehe) tapi cukup, yang penting sudah ada kesepakatan. Saya pun mengingatkan bahwa hari ini adalah hari kamis, "Jadi  mulai hari ini dong ya? Hihi". Lalu beliau menjawab kaget "hah, apaaah hari inii?" Jreng jreng. Beliau pun bilang, "iya mumpung libur, mau diagendain ngobrol sama ayang, pas dede di titipin ke ema ya, sekitar jam 10-12. Hari ini mau belajar dan Mau ngerjain tugas proyek juga."

Oke. Setelah itu Beliau pun minta ijin untuk melanjutkan tidurnya, sementara saya melakukan hal lain. Singkat cerita, setelah menyelesaikan tergetan tilawah pagi bulan ramadhan, sekitar pukul 6-9 kami sama sama tertidur karena bangun terlalu pagi. Hehe

Saya, suami, dan haidar bangun tidur lalu mandi. Saya sih ngga mandi dulu, langsung ke pasar buat belanja. Saya mengkomunikasikan pada beliau untuk tidak menunggu saya pulang dari pasar, daripada lama lebih baik mengerjakan yang perlu dikerjakan dulu.

Dengan segala drama akhirnya kami baru mulai siang hari. Beliau segera menggendong haidar dan membawanya ke ema dan aki uyut nya. Rumahnya dekat dan kami memang terbiasa seperti itu, karena ema dan aki uyut nya "protes" kalau sehari saja haidar ngga main disana.
Saya melihat, wah ayah sigap nih. Mau rapat harus enak diliat, saya udah mandi dan dandan ondel ondel dikit hehe.



Tibalah waktunya berbincang.
Tapi satu sama lain bingung apa yang mau dibicarakan. Ketawa ketiwi Saling menyuruh lawan bicaranya ngomong. Jujur di kepala saya saat itu ngga ada pikiran apa-apa, yang saya tahu, saya hanya menyiapkan diri mendengar karena ayah mau ngomong. Ternyata si ayah bingung juga mau ngomongin apa. Haha.


Kurang lebih 15 menit kami awkward seperti itu, tapi alhamdulillah gajebo juga nyenengin. Insyaallah pahala ya.
Akhirnya saya minta beliau baca dulu aja tulisan Day 0 saya yang kemarin, supaya tahu dan bisa kroscek mana yang bener mana yang kurang tepat. Hasilnya kurang lebih sesuai.

Setelah itu kami masih bingung mau ngomongin apa. Haha. Tapi akhirnya kami sama-sama nonton video-video singkat nya ust hanan, dan sesi mentoring dari suami tentang ibadah.


Video yang pertama kami tonton berjudul "Be Like Khadijah", bukan karena apa-apa, hanya karena posisi file nya ada di paling atas. Setelah menonton, saya menanyakan pendapat beliau, beliau pun menanyakan pendapat saya tentang video itu. Eeh, saya malah nangis cirambay :"))) Ngerasa jauuuuh banget dari Bunda Khadijah. Dari situ obrolan semakin sosweet dari hati ke hati. Alhamdulillah.



KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Haidar masih berusia 21 bulan, problem utama saya masih seputar pengendalian emosi. Karena hari ini saya dan suami lagi so sweet, jadi ngga ada kejadian luar biasa yang bikin saya lepas emosi sama haidar. Happy mom, happy kids :)


#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GameLevel1
#BunsayBatch2

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day16

Day 0 : Tantangan Komunikasi Produktif Bunda Sayang

Perkuliahan online Bunda Sayang dari IIP sudah dimulai sejak tanggal 29 Mei lalu. Materinya adalah tentang komunikasi produktif, bagi saya itu merupakan tantangan tersendiri.

Proyeknya harus dilakukan rutin setiap hari minimal 10 hari dan maksimal 17 hari, terhitung sejak tanggal 1 Juni hingga 17 Juni. Akan saya posting juga di sini, Insha Allah.

Inti dari materi komunikasi produktif ini adalah tentang kemauan kita untuk mengubah pola komunikasi. Diakui atau tidak, selama ini belum mempraktekkan pola komunikasi orang dewasa yang baik. Terkadang (atau sering) masih mengkomunikasikan banyak hal secara kekanakan, bukan lucu malah nyebelin.

Untuk diingat, bahwa fokus kita adalah perbaikan diri sendiri. Memperbaiki kualitas komunikasi kita. Tak perlu pusing dengan respon dari sekitar yang belum sesuai harapan, karena yang perlu kita pertanggungjawabkan hanya diri kita, cara kita. Berdoa, berpikir positif, lakukan yang terbaik, insyaallah Allah memberikan hasil terbaik.

Mengakui kesalahan sendiri itu kesannya mudah, tapi dalam percakapan, karena tidak mau merasa kalah biasanya, kadang tidak terlihat bahwa kita sedang mengakui kesalahan. Ujung-ujung nya malah bikin pertahanan diri yang justru ngga menyelesaikan masalah. Astaghfirullah.

* * *

Sebelum mulai, saya ingin mencoba membuat daftar tentang pola komunikasi saya yang harus diperbaiki. Saya buat ini sebagai langkah ke-0 untuk semacam assesment terhadap 5 kaidah komunikasi produktif (komprod) yang diberikan pada materi 1 ini.

5 KAIDAH KOMUNIKASI PRODUKTIF PADA ORANG DEWASA
1. CLEAR AND CLARIFY
2. CHOOSE THE RIGHT TIME ***
3. KAIDAH 7-38-55 ***
4. INTENSITY OF EYE CONTACT
5. I'M RESPONSIBLE FOR MY  COMMUNICATION RESULT *

1. CLEAR AND CLARIFY
Poin ini, menurut saya pribadi, bukan masalah utama saya. Selama ini saya termasuk orang yang kalau ngomong apa-apa harus jelas (clear). Saya juga terbiasa mengkonfirmasi lawan bicara saya (clarify). Problemnya justru karena saya terlalu berlebihan menuntut orang lain untuk harus jelas juga. Hihi. Mungkin karena saya butuh perhatian lebih saat berbicara, maka semuanya harus jelas. Wajar sih, tapi mungkin perlu dikurangi ya hehe.

2. CHOOSE THE RIGHT TIME ***
Jumlah bintang menunjukkan seberapa pentingnya saya memperbaiki poin ini. Hehe. Ya, ini problem kelas berat buat saya pribadi. Bagi saya, seluruh waktu saya sudah saya sediakan kalau pasangan mau ngobrol atau perlu sesuatu. Namun kenyataannya, pasangan bicara kita kan juga punya rasa lelah, sakit, kantuk dll hehe.
Kadang saya ngga bisa lihat sikon saat ingin ngajak/diajak ngobrol sama pasangan. Bagi saya, obrolan jenis serius atau bercanda bebas dilakukan kapan saja, tapi tidak bagi pasangan. Hehe.

Sepulang suami kerja, rasanya banyak yang ingin dibicarakan. Tapi realitasnya tentu saja beliau sudah lelah dan inginnya istirahat hihi. Bukan hal-hal keseharian saja, tapi tentang hal-hal penting yang memang perlu dibicarakan.
Kami perlu membuat kesepakatan waktu khusus. Pernah disepakati jam 2 pagi, tapi sering skip karena tidak bisa selalu bangun pukul 2.

Pemilihan waktu yang kurang tepat ini juga berdampak kurang baik, karena ketika saya lagi ingin ngobrol tapi suami cape dan menanggapi "seadanya", saya jadi ngambek. Haha (maune opo sih)

Akhirnya ngobrol nya nunggu inisiatif dari pasangan aja. Atau cari cara lain.

3. KAIDAH 7-38-55 ***
Ini problem besar saya yang kedua haha. Ketika kata-kata hanya memberi dampak 7%, intonasi 38%, bahasa tubuh lah yang menjadi penentu utama 55%. Ketika bibir tak mampu berkata, maka diam seribu bahasanya saya sudah mengartikan bahwa "Saya ngambek" hehe.

Problemnya muncul karena pasangan saya ngga suka banget kalau saya diem kaya gitu. Haha. Lebih baik ngomong dulu sedikit dan bilang kondisinya.

Mungkin di poin ini, proyeknya adalah tetap mengkomunikasikan (walau sedikit) kalau sedang ngambek. Habis itu baru diem lagi haha.

4. INTENSITY OF EYE CONTACT
Selama ini saya memegang betul prinsip ini, bukan masalah besar. Masalah yang muncul adalah karena saya menuntut pasangan untuk melakukan hal yang sama. Jaman gadget gini ya, mungkin itu problem semua orang. Mungkin nanti bisa membuat kesepakatan dan komitmen bersama.

5. I'M RESPONSIBLE FOR MY  COMMUNICATION RESULT *
Karena dari 5 kaidah masih ada big problem nya, maka poin ini masih jadi peer buat saya. Saya bertanggung jawab terhadap apa yang mau saya sampaikan. Membantu lawan bicara untuk paham maksud saya, mencari cara sebaik mungkin untuk menyampaikan pesan.

* * *

Alhamdulillah, sekian gambaran pola komunikasi (terhadap pasangan) saya di awal perkuliahan. Semoga allah karuniakan kesabaran dan ketangguhan untuk memperbaiki diri.

Kamis, 1 juni 2017
Hajah Sofyamarwa R
6 Ramadhan

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day 15

Wednesday, May 31, 2017

Flashdisk Kurma : Duplikasi Pahala

Memasuki ramadhan, kami sekeluarga belum lagi membeli kurma, masih ada sedikit yang mau dihabiskan. Beberapa kali masuk supermarket, hanya melihat-lihat jenisnya dan mengecek harga. Ternyata kurma itu beragam ya, dari kualitas biasa hingga yang per kilonya bisa ratusan ribu.

Kurma, dulu sempat saya tidak mau memakannya, karena bentuknya yang sangat mirip dengan kecoak. Hehe.

Saat ini, saya tahu bahwa berbuka puasa dengan kurma adalah salah satu sunnah rasul, dan bermanfaat untuk asupan energi saat berbuka. Pun dengan ibu-ibu hamil dan menyusui, kami tinggal merendam kurma itu dalam air selama semalam, dan esoknya di makan. Atau bisa juga dibuat jus kurma dan susu, konon katanya membuat ASI melimpah, ASI booster.

Kurma yang kecil dan nampak sepele itu selama bulan ramadhan, bagiku layaknya flashdisk. Iya, dengan memberikan sebutir dua butir kurma pada orang orang yang berpuasa, kau akan otomatis mendapat pahala puasa orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya. Duplikasi pahala lewat Kurma.

Sebutir dua butir mungkin hanya satu hari, namun kalau satu box?  Itulah yang kami dapatkan beberapa hari lalu. Seorang dosen rekan kerja suami saya memberikan kami dan yang lainnya masing-masing 1 kotak kurma tunisia. Kami bersyukur belum sempat membeli kurma lagi, sudah dapat rejeki kurma melalui beliau. Kami dapat kurma, dan beliau otomatis copy-paste pahala kami semua. Hihi. Aih, cerdas sekali.

Saya kemudian berpikir, sebaiknya kita juga merencanakan hal sama, berbagi kurma. Semoga kami dan kamu mendapat rejeki lebih untuk bisa memberi flaskdisk kurma ini ya :) kan kalau belum bisa makanan berat, ya kurma, atau seteguk air.

Btw, kalau nyuapin suami buka puasa copas pahala juga ga ya? ;)

* * *

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.
HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.
HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.” -- Muhammad Abduh Tuasikal

Rabu 31 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day14

Tuesday, May 30, 2017

Tantangan 1 : 10 Hari Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang

💟🔘🔘🔘🔘💟🔘🔘🔘🔘💟

*_Game Kelas Bunda Sayang_*

Level 1

*TANTANGAN 10 HARI KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Selamat anda memasuki game level 1, di kelas Bunda Sayang ini.

Dan inilah tantangan bulan ini :

💟 *KOMUNIKASI KELUARGAKU* 💟

a. Pilihlah 1 poin dalam komunikasi produktif yang menurut Anda paling penting dan utama untuk dilatihkan pertama. Jika dalam waktu kurang dari 10 hari telah tercapai target perubahan, boleh lanjut ke poin berikutnya.

_Panduan poin Komunikasi Produktif untuk anak_
http://bit.ly/TabelKomProdAnak

_Panduan Poin Komunikasi Produktif untuk Pasangan/Keluarga_

http://bit.ly/KomProdPasanganKeluarga

b. Berlatihlah menggunakan poin tersebut.
Misal, Anda memilih melatihkan KISS. Maka latihkanlah setiap hari minimal selama 10 hari berturut-turut.

c. Ceritakan dengan narasi pendek dan boleh disertai foto atau video proses latihan Anda *setiap harinya*. Ceritakanlah:

✅ Hal menarik apa saja yang anda dapatkan ketika mempraktikkan poin tersebut dalam komunikasi sehari-hari bersama keluarga?

✅ Perubahan apa yang anda buat hari ini dalam berkomunikasi?

d. Waktu yang kami berikan dari tanggal 1-17 Juni 2017.

e. Anda cukup mengirimkan link tantangan Anda melalui Google Form dibawah ini

http://bit.ly/Tantangan10hari-Level1

e. Penulisan tantangan boleh dilakukan melalui Blog/FB pribadi/Notes/ Instagram/Aplikasi Google.

f. Setiap kali membuat narasi/gambar /video tantangan, jangan lupa pakai hashtag

#level1
#day1 (ubah menurut hari setoran)
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

g. Bagi anda yang sudah menyelesaikan tantangan di level 1 ini dengan tepat waktu akan mendapatkan badge cantik bertuliskan

_I'm responsible for my communication result_

yang sudah disiapkan oleh para tim fasilitator bunda sayang.

_Selamat berkreasi dalam membangun komunikasi_

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch #2 2017/

💟🔘🔘🔘🔘💟🔘🔘🔘🔘💟

Inspirasi dari Hafiz Indonesia 2017

Saya yakin bukan hanya saya yang menangis saat menonton hafiz indonesia 2017.

Dua hari ini saya secara tidak sengaja menonton hafiz, jadi tidak menonton penuh, namun tetap saja mata ini rasanya berair.

Para peserta hafiz indonesia 2017 itu masih anak-anak, dan menakjubkan bahwa banyak dari mereka yang hafalannya sudah lebih dari 5 juz.

Saya ingin mengambil pelajaran dari dua peserta terakhir yang saya lihat.

1. Salah satu peserta menangis saat diperlihatkan video saat bertemu ibunya. Kangen. Dalam video itu, ibunya kurang lebih berkata seperti ini "Banyak orang mengira saya yang mengajarkan anak saya, padahal tidak. Justru saya belajar dari anak saya. Baru belakangan ini saya suka membaca al quran sebelumnya tidak. Kan kalau hasan murajaah mau ngga mau saya buka quran juga."

Saya bisa melihat betapa sang anak dan sang ibu saling menyayangi. Ada kedekatan emosional yang kuat diantara mereka. Sang ibu selalu mengelus-elus anaknya saat mau tidur, dan sampai sekarang masih begitu.

2. Peserta lainnya berbeda dengan yang lain karena didampingi abangnya selama masa karantina. Abangnya ini hafiz juga. Abangnya juga nampak sayang pada adiknya dan suka menyelipkan bacaan bacaan quran pada setiap aktivitas mau pun permainan. Sambil bermain petak umpet misalnya. Saat berjaga, sang adik tidak menghitung angka seperti yang biasa kita lakukan, tapi memurajaah hafalannya. Katanya kalau murajaah sambil duduk suka ketiduran.

Menariknya, ayah mereka adalah seorang tentara tni berseragam. Ini mengajarkan pada saya bahwa apapun profesinya, boleh punya impian apa saja, bahkan punya anak yang hafiz sekalipun. Saat kita masih jauh dari hafiz, kitapun boleh bercita cita punya anak yang hafiz. Kita boleh berusaha mencapainya, sembari terus berusaha pula mencapai impian itu untuk diri sendiri.

Saya juga jadi terpikir, bahwa kasih sayang yang tulus insyaallah dapat membuka jalan jalan yang tadinya kita anggap tidak mungkin.

Saya jadi ingat nasihat ust nouman ali khan, sebagai orangtua kita punya 2 fungsi : menjaga spiritual, juga menjaga kedekatan emosional. Terkadang kita bisa menjalankan keduanya sekaligus, tapi kadang hanya bisa satu persatu. Contohnya akan sibahas di lain kesempatan ya, insyaallah.

Saya jadi penasaran lebih lanjut tentang latarbelakang kehidupan masing masing dari para peserta. Bagaimana orangtuanya? Apa cita-cita dan prinsip orangtua nya? Bagaimana kesehariannya? Bagaimana caranya ? Bagaimana kiprah mereka nantinya saat dewasa ?

Masyaallah. Tabarakallah.
Semoga kita dianugerahkan cita-cita yang tinggi dan mulia, yang mengantarkan kita  dan keluarga kita pada surga Allah yang terbaik.

Selasa, 30 mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day 13

Monday, May 29, 2017

Komunikasi Produktif - Materi 1 Bunda Sayang IIP

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I'm responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000

Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4

Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

Menghafal Quran di Waktu Sempit

Menghafal quran di waktu sempit, itu yang saya sari kan dari pengalaman teh Salmiah Rambe. Ibu dari 4 anak yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD kota bandung itu memanfaatkan waktu waktu nya untuk bisa menghafalkan al quran.

Usianya belum genap setengah abad, masih sekitar 48 tahun, namun sudah berhasil menghafal quran di sela sela kesibukannya.

Beliau memaparkan bahwa kalau kita sudah punya cita-cita menghafal quran kita harus membuat target, dan melakukannya. Walau menghafal quran rasanya berat, tapi kalau kita breakdown menjadi aktivitas wajib harian, insyaallah lebih mudah.

Beliau mengingatkan bahwa banyak dari keseharian kita, banyak waktu-waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menghafal. Misalnya, saat menunggu antrian rumah sakit, antrian bank, saat menunggu masakan matang, setelah selesai memandikan anak, saat anak bermain, saat sedang menunggu teman, saat menunggu antrian nikahan, dan masih banyak lainnya.

Saya pribadi masih merasa hafalan saya masih segitu-segitu saja, karena bagi saya mungkin menghafal adalah suatu yang superduper istimewa, sampai satu hari bisa berlalu tanpa menghafal -_- iya, terlalu mencari waktu khusus, tapi justru seringnya waktu terlewat begitu saja.

Saya melihat teh mia ini semacam "setiap ada kesempatan mengahafal, akan dimanfaatkan." Beda dengan saya, atau kebanyakan orang yang ketika punya waktu luang lebih memilih pegang smartphone.

Saya juga pernah bertanya pada beliau di lain kesempatan, bagaimana dengan ibu ibu rumah tangga yang juga berjualan online, yang selalu pegang smartphone karena mengurus orderan. Beliau bilang itu adalah hal mulia juga, namub berpesan agar kita mengazamkan diri untuk menyelesaikan targetan dulu, sebelum melakukan aktivitas berjualan. Hanya 3 menit sebelumnya saja, dan lakukan aktivitas seperti biasa.

Beliau juga berpesan, agar para ibu-ibu yang masih "rempong" punya anak anak kecil, untuk menikmati masa masa itu. Karena nanti setelah anak besar dan sudah tidak di rumah, kita akan merasa rindu dengan masa masa itu. Nikmati saja.

Senin 29 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day12

Saturday, May 27, 2017

Ramadhan Bersama Balita

Era digital ini, sangat mudah menjumpai berbagai rekomendasi aktivitas maupun pernak pernik penyambutan bulan Ramadhan. Rupanya tak sulit untuk mendapatkan berbagai tools bagi para orangtua memberikan pengalaman ramadhan yang berharga pada anak-anaknya.

Ada yang sejak jauh hari sudah membuat dekorasi rumah penyambutan ramadhan, ada yang sudah membuat worksheet ramadhan, ada yang sudah membeli buku-buku edukasi untuk dibaca, dan sebagainya.

Bagaimana dengan saya?

Dari jauh hari saya hanya sounding pada anak balita saya yang berusia 20 bulan. Sedikit bercerita saja, tidak banyak. Saya membeli beberapa buku tambahan untuk menjadi bahan bacaan untuk dibacakan pada anak saya. Saya tahu banyak link untuk worksheet tapi belum mencetak nya. Hehe. Intinya belum ada hal khusus yang benar-benar saya lakukan untuk mempersiapkan balita saya.

Banyaknya informasi juga perlu proses untuk mengolahnya. Sampai saat ini saya masih sekedar mengobservasi perkembangan haidar dan kemudian baru menyelipkan apa-apa yang bisa diselipkan pada waktu tersebut.

Hari pertama ramadhan, ada hal yang menarik. Seperti biasa, setiap sore pukul 4 atau 5 rumah kami kedatangan anak-anak tetangga yang belajar iqra. Usianya bervariasi, dari mulai 4 tahun, 5 tahun, 8 tahun dan 10 tahun. Haidar yang masih 20 bulan pun belum mengikuti proses belajar. Sekedar ikut bermain dan terkadang ikut menirukan proses membaca iqra nya.

Sejak magrib dan masuk 1 ramadhan, saya dan suami berlomba membaca quran bersama. Praktis haidar tidak mendapat teman bermain, dan tentu saja berupaya mengajak kami memperhatikannya. Jangan tanya bagaimana kondisi quran saya saat ini, hihi. Saat kami mengaji, haidar juga ingin mengaji.

"Aji, ngaji.." celotehnya.

Karena saya pun sedang mengejar target bacaan, maka saya mencarikan quran yang ada untuk haidar pegang, setidaknya kami semua jadi sama. Hehe. Menariknya, haidar sudah bisa membuka qurannya sambil menunjuk huruf-hurufnya dan mengucapkannya seolah benar-benar membaca. Gayamu, dek ^^

Mungkin selama ini haidar sering mendengar dan melihat kakak-kakak membaca iqra. Saya sendiri belum pernah mengajari haidar secara langsung membaca iqra. Selain karena haidar masih terlalu kecil, saya menganggap bahwa nanti akan tiba masanya untuk belajar iqra. Kami hanya berusaha mensuasanakan saja, memberi atmosfernya.

Hal menarik lainnya, saya berusaha mendiktekan huruf huruf hijaiyah sederhana untuk haidar ulangi. Misal A, I, U atau Ba, Bi Bu, sampai huruf hijaiyah terakhir. Dan hidar bisa mengikutinya dengan baik, kecuali pada huruf tsa, tsi, tsu. Masih terdengar ca,ci,cu. Hehe. Haidar senang sekali. Bahkan ketika saya baru mengatakan A dan I, haidar sudah mengulangnya dengan mengatakan A,I,U secara lengkap. Masyaallah.

Hikmah yang bisa saya petik, setiap anak punya kemampuan, dan masa nya masing masing untuk belajar. Sebagai orangtua perlu mendampingi dan berusaha menemukan momen untuk bisa melakukan pembelajaran secara alami sesuai perkembangan anak.

Tidak perlu iri bila perkembangan anak kita berbeda dengan yang lain, karena memang beda. Tidak perlu merasa inferior karena melihat ibu-ibu lain melakukan kegiatan ini itu, sementara kita tidak. Yang perlu diingat adalah, apakah pendampingan kita sudah maksimal? Kalau belum ya tingkatkan.

Masing masing anak sudah lahir dengan fitrah keimanan masing-masing,
Semoga kita terus dibimbing Allah untuk membimbing anak-anak kita ya.

Sabtu, 27 mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day11

Masjid Penuh, Masjid Kosong


"Besok weh lah, hari pertama mah rame, besok-besok masjid juga mulai kosong." Gumam seorang bocah laki-laki usia belasan tahun itu.

Ini ramadhan ke-3 saya paska menikah dan mempunyai anak. Namun baru kali ini aku menjejakkan kaki lagi di masjid untuk shalat tarawih berjamaah di masjid. Pelataran masjid dipenuhi sendal jamaah yang tumpah ruah, bahkan pintu masjid harus ditutup dulu selama shalat karena tempatnya terbatas.

Perkataan anak tadi, sedikit banyak menggambarkan fenomena yang sering terjadi dan sering diungkapkan banyak orang. Malam-malam pertama di bulan ramadhan masjid akan penuh, dan seiring berjalannya waktu, masjid akan terasa semakin luas.

Apakah karena semangat nya yang semakin kendor? Ah, mudah mudahan tidak. Meskipun iman naik dan turun, tapi semoga semangat mendekat pada Allah semakin membesar. Aktivitas ayah mencari nafkah bagi para ayah dan aktivitas domestik bagi para ibu juga tetap dilakukan sebagai wujud ketaatan pada Allah. Dan tarawih pun sebetulnya bisa dilakukan di rumah masing-masing.

Honestly, saya nulis ini karena baru kali ini saya merasa "terusir" dari masjid karena shafnya sudah penuh. Hihi. Iya, masjid di dekat tempat tinggal saya saat ini mungkin ukurannya tidak sebesar masjid yang dulu sering saya kunjungi saat tarawih. Maka pengalaman ini menjadi unik, karena setelah ke masjid, saya harus pulang karena tidak ada tempat lagi.

Tentang fenomena masjid yang semakin kosong seiring berjalannya ramadhan, dulu saya juga mengamati dan memang itu yang terjadi. Dulu saya masih bisa menikmati meski shalat di halaman luar masjid saat sedang penuh. Saya juga mengamati kemajuan yang ada, majunya shaf shalat karena sedikit jamaah. Hihi. Hanya kini, saya melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tak bisa shalat tarawih di masjid saat sudah niat, dan dengan drama tambahan karena kini berangkat bersama bocah, itu rasanya aneh juga. Saat itu saya berharap masjid menjadi cukup "kosong" atau lebih luas untuk bisa saya gunakan juga. Hehe

Note : tentang membawa anak anak ke masjid juga ada adabnya ya. Bukan sekedar membiasakan anak ke masjid melainkan juga mengajarkan adab-adab. Sesuaikan juga dengan usia anak. Usia anak saya 20 bulan, sebetulnya belum perlu untuk dibiasakan ke masjid, insyaallah nanti akan ada masanya. Saya hanya ingin merasakan suasana ramadhan saat tarawih.

Sabtu, 27 mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Malam tarawih pertama

Thursday, May 25, 2017

Ketika Abdullah Mencandai Ibunda Asma

Urwah menceritakan, pernah aku dan 'Abdullah saudaraku, datang menemui ibunda kami, yaitu sepuluh hari menjelang gugurnya Abdullah. Ketika itu ibu sedang sakit, maka Abdullah menyapanya, bagaimana keadaanmu, Bu..?

"Sakit.." jawabnya,
"Sesungguhnya dalam kematian itu ada ketenangan.." kata 'Abdullah sambil bercanda.
"Nampaknya kau ingin agar aku segera mati ya? Jangan begitu dong.." kata Asma sambil tersenyum.
'Demi Allah, aku belum ingin mati sebelum engkau mengalami satu dari dua hal; kamu terbunuh kemudian aku sabar dan mengharap pahalanya dari Allah, atau kamu menang sehingga aku pun senang. Ingatlah, jangan sampai kamu dihadapkan pada suatu taktik yang tak kau setujui, kemudian kau terima karena kau takut mati." pesan Asma kepada Abdullah.

* * * 

Cerita di atas saya ambil dari buku Ibunda Para Ulama yang disusun oleh Sufyan bin Fuad Baswedan MA. Saya tergelitik untuk mengutipnya, karena melihat suatu bentuk candaan yang diungkapkan seorang anak pada ibunya. Mungkin kalau jaman sekarang terjadi, entah apa tanggapannya. 

Candaan yang dilontarkan sang anak, menurut saya, bukan sembarang candaan. Meskipun kalau kelak anak saya tetiba bilang seperti itu, saya juga belum tahu akan beraksi apa. hihi. Dapat dilihat sekilas bahwa hubungan mereka juga tidak sebatas perkara spiritual, namun juga ada canda-canda yang manusiawi Yang menarik juga adalah respon santai dari sang Ibunda, tidak ada kata-kata tersinggung atau marah. Bisa kita lihat bahwa setelah itu sang Ibunda malah memberikan pesan/harapan pada anaknya terkait kematian itu sendiri. 

Apa-apa yang terjadi pada jaman dahulu, selama bukan syariat, tak serta merta harus kita contoh sepenuhnya. Pengalaman pribadi para orang shaleh terdahulu bisa kita ambil pelajarannya. Mungkin kita bisa memotivasi anak-anak kita untuk terus berkarya mencapai kesuksesan prestasinya di dunia dengan tetap mengingatkan nya pada kehidupan yang sesungguhnya. 

Semoga para ibunda di seluruh dunia ini (khususnya saya) dapat memberikan nasihat terbaik untuk anak-anaknya dengan bimbingan Allah. Karena sungguh, tak mudah memberikan sesuatu yang tak kita punyai dari dalam diri. Semoga Allah mudahkan kita untuk perbaiki diri.
"Wahai Puteraku, hiduplah sebagai orang mulia, dan gugurlah sebagai orang mulia pula. Janganlah kamu sampai jatuh dalam tawanan mereka." 
--Nasihat Bunda Asma pada puteranya, Abdullah bin Zubeir

Kamis, 25 Maret 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30DWC #30DWCjilid6 #30DWChajah #day9 

Wednesday, May 24, 2017

Komunikasi Keluarga, Positif dan Konstruktif

Buku biru berpenampilan usang itu kembali saya buka. Terakhir membuka buku itu, ketika saya merasa perlu solusi atas suatu permasalahan komunikasi yang terjadi dalam keluarga. Kini  saya buka lagi, karena mungkin saya perlu mengingat kembali ilmu-ilmunya.

Komunikasi. Sesuatu yang tak pernah bisa lepas dari manusia. Sesuatu yang sangat penting, apalagi dalam satuan unit terkecil dari masyarakat, keluarga. Ketika kita percaya bahwa banyak hal berawal dari keluarga, maka memperhatikan komunikasi kita dalam keluarga menjadi sangat penting, setuju?

Saya banyak memperhatikan kawan-kawan dan bagaimana pola komunikasinya dengan keluarga. Ada yang begitu jujur hangat dekat, ada yang sekedarnya, ada yang dekat sekaligus sering debat, ada yang tipe unyu-unyu cocwit anet (lucu, so sweet banget - red) ada yang formalitas karena takut akan superioritas orangtua, ada yang dingin dan larut pada kesibukan masing-masing. Ah, saya selalu penasaran dengan hal ini.

"Ada jutaan keluarga lain yang para anggotanya kelihatan dapat bergaul rukun, tetapi hanya karena menghindari pengungkapan perasaan yang terbuka dan apa adanya. Karena pengungkapan perasaan dihindari, maka para anggota keluarga tersebut tidak dapat benar-benar saling mengenal satu sama lain, dengan demikian mereka tidak bisa mengalami keindahan dari keakraban dan persatuan yang berasa dari komunikasi yang terbuka, jujur dan konstruktif. Bahkan dalam banyak keluarga yang cukup rukun pun sering terjadi kesalah pahaman dan hal yang menyakitkan hati, sehingga kegembiraan dan kepuasan dalam hidup keluarga terganggu."
--- Sven Wahlroos, ph.d (pendahuluan hal xvi)

Sering saya temukan, orang-orang memilih diam daripada harus berargumen/berbicara. Kadangkala berbicara malah menambah runyam, namun kalau tidak dibicarakan apa jadinya? Setahun dua tahun mungkin bisa, tapi keluarga kan tidak ada istilah resign, tidak bisa berlepas diri dari interaksi.

Ajaran islam yang saya tahu, mengajarkan untuk menghindari debat kusir, debat yang tak jelas juntrungnya, lantas bagaimana? Ya, sepertinya kita perlu mempelajari bagaimana cara berkomunikasi yang baik, dan insyaallah ada ilmunya. :)

* * *

Untuk kepentingan pembahasan komunikasi keluarga, Sven Wahlroos dalam bukunya mendefiniskan komunikasi sebagai semua perilaku yang membawa pesan dan yang diterima oleh orang lain.

Komunikasi efektif berbeda dengan komunikasi konstruktif. Mengambil contoh dari buku, seseorang yang membanting pintu, mungkin bisa mrngkomunikasikan kemarahan secara efektif, tetapi komunikasinya tidak konstruktif dan memecahkan masalah. Sama hal nya seperti diri saya. Saya marah dengan diam (lalu mencuci piring, menyetrika atau beberes rumah hihi) yang kadang disertai bunyi-bunyian yang tidak biasa. Efektif, mengkomunikasikan bahwa saya sedang marah, tapi nyata nya tidak konstruktif. Suami saya tidak menyukai hal itu (haha gimana dong)

Menariknya, komunikasi yang secara sadar dimaksudkan sebagai positif, malah dapat diterima sebagai negatif. Jadi hemat saya, dalam berkomunikasi tetap perlu melihat ke dalam diri, apa yang kita anggap biasa/positif belum tentu ditangkap yang sama oleh lawan bicara kita.

Kesimpulan dari saya sampai saat ini : Kita perlu mengupayakan komunikasi yang positif dan konstruktif, setiap harinya.

"Hancurnya suatu hubungan biasanya disebabkan oleh hal-hal sehari hari yang keliatannya sepele, seperti tidak ad perhatian, permusuhan, pengjinaan, dan lain sebagainya, bukan oleh pengkhianatan & malapetaka. Demikian pula hubungan yang baik, didasarkan atas kasih sayang, perhatian, dan keterbukaan yang dipraktekkan setiap harinya."
-- Sven Wahlroos, Ph. D (Peraturan-peraturan komunikasi hal 8)

Selamat menyemai benih kebaikan pada keluarga kita :))
Jadi ingat mau masuk kelas Bunda Sayang sebentar lagi.
Mari tingkatkan terus belajarnya, aksinya :))

24 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day8

Monday, May 22, 2017

Tentang Siapa Yang Berpulang Duluan

Malam itu kami tiba pada suatu perbincangan yang sedikit berbeda. Topik ajaib semacam ini dilontarkan pertama kali oleh pak suami, tumben, hihi.

"Bener loh, bunda kalau jualan-jualan gitu juga harus diseriusin." Kata Ayah

"Hmm, kenapa gitu yah?" Tanyaku penasaran. Aku sangat ingin tahu kenapa tiba-tiba si ayah ngomongin itu.

"Ya kan nanti kalau ayah udah ngga ada, gmn? Kan tetep harus stabil, harus bisa mandiri. " Lanjut ayah.

"Kan nanti ada warisan dari ayah. Hehe" lanjutku sambil bercanda.

"Haha, warisan apa. Hutang iya kali. Hihi. Kan ayang tau ya hutang-hutang ayah, selamat ya. Hihi" Lanjutnya menanggapi candaanku.

"Iya sih, yah. Ya mungkin kalau nanti kaya gitu, bisa jadi aku harus cari kerjaan di luar, dan mungkin haidar harus dititipin. Da rejeki mah insyaallah ada, tinggal nyari caranya." Jawabku santai, sambil berpikir.

Kemudian aku jadi teringat pada seorang tokoh fiksi di novel Sabtu Bersama Bapak. Sosok bapak yang setelah divonis hidupnya tak lama, segera mempersiapkan wejangan-wejangan untuk anaknya berupa rekaman video yang bisa ditonton setiap hari Sabtu. Sosok bapak itu juga mengatur agar sang istri nantinya bisa mandiri setelah kepergiannya.

Tokoh fiksi, yang semacam itu entah ada di dunia nyata atau tidak. Tapi menginspirasi, dan mengingatkan kita untuk memperhatikan hal-hal sepeninggal kita.

* * *

Kini giliranku yang bertanya,
"Nah, kalau misalnya yang duluan itu bunda, gimana? Tinggal cari lagi yang lain aja, ya?" Kataku sambil tertawa pasrah.

" ... " aku lupa apa jawabannya, kayanya cuma ditanggepin dengan ketawa hehe.

* * *

Well, cukup ajaib ketika pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Maksudnya, usia pernikahan kami belum genap 2,5 tahun, masih lucu-lucunya. Tapi candaan semacam itu (kematian, menikah lagi), sejujurnya dalem banget.

Saya kalau belum terkondisikan, mungkin baper banget sama pertanyaan sendiri.  Hihi. Iya lah namanya juga suami istri ya. Saya jadi ingat pernyataan seseorang : kalau perempuan ditinggal mati suaminya, mungkin sulit untuk segera mencari pasangan baru, karena ketika perempuan sudah cinta dengan seseorang, tak mudah menggantinya dengan yang lain. Sedangkan kalau laki-laki yang ditinggal mati istrinya, mungkin lebih cepat mencari yang baru karena laki-laki memang perlu ada yang ngurusin. Bener ga sih ? Hehe

Overall, itu ngingetin aku sih supaya cinta kita pada makhluk itu tidak berlebihan, sesuai porsinya saja. Kalau misal aku yang meninggal duluan, terus suami aku nyari istri yang lain, sedih ngga? Misal ternyata istrinya nanti lebih baik dari aku, lebih cantik, lebih rajin, lebih shaleh? Kalau sekarang dipikir mah ya sedih, hihi. Tapi kalau kita udah meninggal, ya boro-boro sedih karena hal begituan, ya ngga?

Belum lagi saya kepikiran sama bidadari yang nungguin suami saya di surga sana. Rasanya aku ko semakin kaya remah rangginang gitu kalau dibandingin bidadari surga bermata jelita itu. Hihi.

Mumpung masih hidup, dan Allah kasih kita kesempatan untuk terus belajar dan perbaiki diri, lakukan aja yang terbaik. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk jadi wanita terbaik yang bisa nandingin bidadari surga. *ciyee saingan. Kapan-kapan kita belajar bareng ya tentang saingan kita ini haha.

Jodoh mah rejeki masing-masing. Doa'anya semoga nanti bisa tetap berkumpul di surga Nya Allah.

Aamiin.

Selasa, 22 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Saingan Bidadari Surga (wannabe) hehe

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day6

Jadi Harus Bersyukur

Siang itu angkutan kota menemaniku ke salah satu kantor cabang sebuah bank. Urusan kredit rumah, yang sebagian orang juga melakukannya. Keadaanku pada waktu itu membuatku dan pasanganku sepertinya harus menghentikan kredit, dan segera menjual rumah tersebut. Akupun mendatangi bank untuk sekedar menanyakan tentang proses penjualan rumah.
Malam sebelumnya sempat berdiskusi hebat dengan suami tentang hukum kebolehan KPR dan perdebatan mengenai halal haramnya.

Selepas urusanku selesai, kini tibalah giliran seorang ibu yang usianya masih sekitar 30-40 tahunan. Sepertinya sama, rumah KPR yang diambil persis pada tahun yang sama dengannya, akan dijual.  Sambil beres beres berkas, tak sengaja aku mendengar bahwa wanita tersebut sudah bercerai dari suaminya. Dan yang jadi perdebatannya ternyata adalah tentang harta gono gini nya, dan apakah kedua belah pihak akan mau saling hadir pada saat akad serah terima KPR nantinya.

Cess.. Astaghfirullah.
Begitu banyak hal yang harus disyukuri.

* * *

Lembaga pernikahan tak pernah menjanjikan kebahagiaan dunia yang terus menerus sepanjang harinya. Pun juga tidak menawarkan kepahitan untuk kita cerna setiap harinya. Sedikit perbedaan pendapat memang wajar terjadi dan hasil akhirnya bergantung cara kita menyikapinya.

Bersyukurlah, ketika pernikahan kita masih dibumbui oleh pembicaran-pembicaraan kecil yang hangat, yang kadang membuat kepala tak sedingin biasanya. Insyaallah, Mudah-mudahan disana masih terselip emosi saling sayang, saling peduli, saling bertanggungjawab pada Tuhannya.

Yuk ah, syukuri kehidupanmu, pasanganmu. Salah satu karunia terbaik yang Allah berikan padamu :)

Hikmah Jumat 17 maret 2017
Di edit 22 mei 2018
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day5 #hikmah

Saturday, May 20, 2017

Perhatikan Apa Yang Kau Wariskan

"Heeh, dasar penjahat! Sekali waktu di pihak 'Ali, lalu  di pihak Ibnu Zubeir, dan sekarang bersama Ibnul Asy'ats.. Dasar penyulut fitnah!!" celetuk Hajjaj.

"Siapa yang Amir maksud?", tanya Anas bin Malik.
"Siapa lagi selain kamu? Dasar tuli!!", bentak Hajjaj.

"Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun..." batin Anas.

Kemudian Hajjaj tersibukkan dengan urusannya dan Anas pun keluar. Maka kami membuntutinya hinga tiba di sebuah lapangan terbuka, lalu kata Anas: "Kalaulah aku tak mengkhawatirkan nasib anak-anak sepeninggalku, niscaya akan kuucapkan kepadanya kata-kata pedas yang setelah itu ia tak mungkin membiarkanku hidup..."

* * *
Itu adalah kondisi yang terjadi ketika Anas bin Malik dipanggil penguasa. Respon yang ia ambil senada dengan kondisi emosional yang terjadi pada kedua orangtuanya (Ummu Sulaim dan Abu Thalhah, ketika Ummu Sulaim dengan cara yang halus memberitahukan suaminya bahwa anaknya telah meninggal)

Kalau diperhatikan, saat dikata-katai Hajjaj, Anas juga merasa jengkel, namun memiih bersabar. Ia melampiaskannya pada waktu dan tempat lain, dengan tetap baik, tidak mengapa, manusiawi.

Cerita itu saya dapatkan dari buku Ibunda Para Ulama, mengenai ketabahan dan kematangan pemikiran Sang Ibunda Ummu Sulaim. Saat ini saya sedang mempelajari bagaimana karakter wanita pendidik di balik para Ulama besar. Pelajaran yang saya tangkap adalah, respon dan karakter orangtua (dalam hal ini ibu) sedikit banyak sangat memengaruhi anak. Selain itu, dalam melakukan sesuatu, sebagai manusia kita juga harus memikirkan keturunan-keturunan kita, generasi-generasi penerus kita. Memikirkan dengan baik, apa "warisan" yang dapat kita wariskan pada generasi setelah kita.

Mungkin status agama bisa diwariskan, tapi iman tidak. Belajar dari kisah Ibrahim, bahwa dari Ayah yang pembuat berhala, ternyata sang Anak malah menjadi orang shalih panutan umat. Kisah nabi Nuh pun mengilhamkan pada kita bahwa ayah yang shalih tak serta merta membuat anak dan istrinya beriman pada Tuhannya. Banyak pula yang lahir dalam lingkungan keluarga beragama tertentu, kemudian mencari dan berpindah keyakinan lain.

Jadi agama "mungkin diwariskan (statusnya)", tapi semenjak aqil baligh (dewasa) keputusan memilih dan mempertanggungjawabkan pilihan adalah keniscayaan setiap orang.

Pesannya adalah, carilah terus kebenaran, semoga  dalam prosesnya semakin mendekatkan pada Sang Pencipta, pada apa yang Ia perintahkan.

Respon kita menentukan kualitas diri kita :)
Tetap sopan, santun, saling menghargai, dan saling mengingatkan dalam kebenaran ya! :)

Sedikit mengutip suatu ayat untuk menjadi pengingat, tanpa bermaksud mencocok-cocokkannya dengan isi tulisan.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S 4:9)

19-20 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.

#30dwc #30dwchajah #30dwcjilid6 #day4

Friday, May 19, 2017

Mencintai Pemilik Cinta


Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Ada yang jalan berputar-putar mengetuk puluhan hati, ada yang harus setiap hari menutup rapat hatinya, ada pula yang cukup sekali-dua kali diketuk lalu telah menemukan cintanya.

Pengalaman-pengalaman itu sewajarnya mendewasakan. Yang pernah sakit, akan sadar bahwa pernah berusaha bangkit adalah sebuah nikmat. Yang tak pernah merasa sakit juga bukan lantas terlena, karena ujian tetap ada di depan mata.

Para pecinta perlu sadar bahwa pelabuhan hati terakhirnya bukan sekedar jodoh di dunia. Perlu waktu dan proses untuk memahaminya, pun perlu senantiasa diingatkan selama prosesnya. Taatnya, baiknya, kebersamaannya harus membuat masing-masing dari kita semakin dekat kepada-Nya, Sang Pemilik Cinta.

* * *
Suami saya saat ini insyaallah adalah yang terbaik yang Allah pilihkan untuk saya. Saya mencintainya, dan saya juga sama seperti perempuan pada umumnya, masi merasa butuh dicintai makhluk. Ingin menjadi yang paling diperhatikan, disayang, dimanja. Dan ironinya, karena kita makhluk yang lemah, terkadang tak semua yang kita harapkan akan selalu terjadi. Lantas bagaimana?

Nasihatnya satu, cintailah sang Maha Cinta. Maka keberlimpahan cintaNya akan mengalir deras pada siapa saja, termasuk pasangan kita, anak anak kita. Teruslah menggapai cinta Nya, karena energi cinta Nya tak pernah melemah karena hal hal yang tak indah menurut pandangan kita.

19 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day3

Thursday, May 18, 2017

Ibu adalah Madrasah, Kata Siapa?



Sudah sering mendengar kalimat "Ibu adalah madrasah pertama"? Tahukah kamu siapa salah satu orang yang mengatakannya?

"Ibu adalah madrasah
yang bila kau siapkan dengan baik
Berarti engkau menyiapkan generasi yang terdidik..."
-- Hafizh Ibrahim, Penya'ir kenamaan asal Mesir

Serasa mendapat pencerahan ketika saya membaca kutipan tersebut dalam sebuah mukadimah dari buku Ibunda Para Ulama yabg diterbitkan oleh Pustaka Inabah. Ah, ternyata kata-kata itu disebutkan oleh seorang penyair asal mesir. Sampai detik ini saya belum mencari dengan baik, sosok seperti apa penyair tersebut.

Kalau boleh jujur, berpontang-panting mengikuti berbagai seminar atau majelis ilmu mengenai ilmu parenting tak serta merta membuat saya dapat segera mengaplikasikannya. Syukur alhamdulillah masih Allah beri saya nikmat untuk menuntut ilmu. Alhamdulillah, semoga semua itu dapat menyusun suatu pemahaman yang benar, agar tanggung jawab saya sebagai orangtua juga bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Ada satu titik dimana saya kemudian terhenti. Ilmu parenting atau ilmu menjadi orangtua, khususnya ibu, dan bagaimanapun juga mencakup berbagai dimensi. Tak cukup dengan batu bata pemahaman sendiri, namun harus juga bersama dengan pasangan kita (ayah dari sang anak). Kita masih punya peran sebagai istri, yang juga harus menaati pola/sistem macam apa yang jadi keinginan suami, insyaallah ada berkah disana. Namun menjalaninya memang perlu beriringan, tumbuh bersama.

* * *
Ibunda adalah madrasah, katanya. Di balik tokoh-tokoh hebat selalu ada jasa wanita dibelakangnya. Entah ibunya, entah istrinya. Allah ciptakan kaum wanita dengan segala kesempurnaannya mengemban amanah sebagai pendidik yang lembut dan penuh kasih sayang, fitrahnya.

Tanpa meniadakan peran para ayah, tentunya. Tulisan ini dibuat untuk melengkapi pemahaman para wanita (khususnya saya), terhadap peran penting seorang ibu dan ayah.

Dari sekian banyak ilmu parenting yang ada, saya kemudian merasa "tersesat", merasa perlu menjernihkan kembali pemahaman. Saya dicerahkan melalui sebuah video dari Ust Nouman Ali Khan yang mengingatkan untuk melihat konsep parenting dari sumber utama umat islam, Al Qur'an. Ya, seharusnya dari sanalah saya memulai.

Yang jadi menarik adalah dalam Al-Qur'an, nama Luqman menjadi sangat terkenal. Dan tugas parenting yang utama adalah justru dari sosok Ayah. Sangat kontradiksi dengan kenyataan bahwa hampir di setiap seminar parenting isinya kebanyakan para wanita. Eh, bukankah Luqmanul Hakim adalah seorang laki-laki? Lalu bagaimanakah sosok ibu digambarkan dalam Al-Qur'an ?

To be continued
Kamis, 18 Mei 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Seorang Bunda yang Mencari Bentuk
#30dwc #30dwcjilid6 #30dwchajah #day2

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...