Tuesday, April 11, 2017

Apakah Kegiatan Baca-Tulismu Sudah Bermakna?




Apakah Kegiatan Baca-Tulis mu Sudah Bermakna?
(Sebuah Refleksi dari Target Diri, dan Pembelajaran Bermakna dari Pak Hernowo)

Apapun yang anda baca, selayaknyalah Anda kemudian melanjutkan “pengikatan”, alias menuliskan pemahaman Anda atas apa yang Anda raih dari kegiatan membaca anda.” 
--Hernowo

Komitmen pribadi yang saya buat di bulan januari lalu untuk membaca 1 buku setiap pekan, hanya berjalan baik selama 2 pekan. Komitmennya adalah membaca 1 buku dalam 1 pekan, kemudian meresensi/mereview nya. Namun yang terjadi, saya berhasil melakukannya 2 kali saja di awal, kemudian selanjutnya sekedar membaca buku yang ingin dibaca saja, random, tanpa menuliskannya. Hingga saat ini (bulan April 2017) saya belum benar-benar menamatkan sebuah buku pun. Kalau boleh dinilai, keberhasilan targetnya baru 14% (sukses 2 dari 14 pekan). Dan kalau dilanjutkan tanpa evaluasi, boleh jadi akan tetap tak bertambah sampai di penghujung tahun. Mari jadi rakyat yang berkontribusi meningkatkan indeks membaca di Indonesia. Hehe

Sebetulnya mengapa di 2 pekan pertama itu saya bisa berhasil, adalah karena:
(1)    Menentukan target baca di awal bulan (misal 4 buku)
(2)   Tentukan judul buku apa yang ingin dibaca (tulis lengkap)
(3)  Bawa selalu buku itu kemanapun pergi, membaca nya dan lekas menandai hal menarik (bersama stabilo, pulpen, post it, atau kalau perlu buku catatan khusus)
(4)    Sambil membaca sambil merangkai draft tulisan.
(5)    Saat waktunya menyelesaikan tulisan, hanya butuh waktu khusus, dan selesai!
Faktor kegagalannya ngga perlu dibahas ya, di bulan pertama kurang menjaga konsistensi, dan di bulan berikutnya, tidak menjalankan step 1 yakni membuat target. Otomatis keempat step dibawahnya juga tidak jelas :))

Pak Hernowo, dalam bukunya Vitamin T mengatakan bahwa, sayang sekali bila kita tidak langsung menuliskan (mengikat) bergeraknya pikiran kita saat membaca. Pikiran kita yang berubah akibat proses membaca, kemungkinan besar jadi hilang, dan terbuang percuma. Hilangnya pemikiran berharga kita itu (sebut saja inpirasi yang datang –red), akan tertimpa oleh pikiran baru yang mendesak, yang mungkin sebetulnya tidak lebih berharga dari apa-apa yang sudah kita baca. Kemungkinan kedua, lanjut pak hernowo, adalah belum terbiasa nya diri kita untuk mengikat makna setelah membaca buku, sehingga kita jadi merasa berat untuk melanjutkannya ke kegiatan tulis menulis (mengikat) hal berharga yang tiba-tiba kita dapatkan.

Sering begitu kah? Sayang ya, apalagi di era digital dan informasi semacam ini, kita dibombardir berbagai info, dan seharusnya kita punya waktu untuk bisa memasukkan pemahaman pada pikiran kita dengan lebih baik.

Latihan Diri agar mampu melakukan proses perekaman (mengikat makna) secara akurat:
1.       Mengikat Makna dengan Membuat semacam catatan harian.
Biasakan diri menulis secara cepat dan bebas, bisa dengan kertas atau di handphone.
Kemampuan ini perlu dilatih secara perlahan dan tidak terburu-buru, karena kalau tidak dicicil kegiatan menuliskan itu jadi terasa seperti beban, berat, dan memakan waktu. Padahal kalau setelah membaca segera menuliskan yang didapat, semuanya terasa ringan.
Tidak perlu memperdulikan struktur kalimat yang berantakan, tulis saja.

Manfaat kegiatan membaca lalu menulis :
a.       membantu kita menangkap gagasan hebat yang berkelebatan bagai kilat setiap saat.
b.      Kegiatan membaca kita juga jadi lebih efektif, berdampak pada pemerolehan “mata baru” yang nyata.

2.       Membaca dan Menuliskan PIKIRAN, bukan sekedar HURUF
Apa bedanya ? Hanya membaca huruf akan mengakibatkan kemalasan, sementara membaca pikiran pengarang di buku yang kita baca dapat menggerakkan pikiran kita.
“Apabila seorang pengarang tidak mampu menyampaikan gagasannya lewat bahasa tulis secara bagus, ada kemungkinan dia belum pernah atau jarang berlatih menuliskan pikirannya. Seorang dikatakan berhasil menuliskan pikiran apabila dia rajin menuliskan pikirannya setiap hari.”

Saran pak hernowo, saat menuliskan pikiran, gunakan kata ganti orang pertama, AKU. Mengapa? Tulisan kita menjadi berisi diri kita sendiri, dan bahasa yang tampil di kertas atau layar komputer pun menjadi bahasa khas milik kita. Huruf yang kita susun, kata, kalimat, alinea, semua jadi menggambarkan pikiran dan perasaan kita sehingga pada akhirnya kita bisa menemukan diri kita.

3.       Kita dapat merumuskan ukuran sebuah tulisan yang baik dan menarik itu seperti apa
Sebuah tulisan yang dapat menampung gejolak pikiran si penulis adalah tulisan yang ‘bertenaga’. Artinya sesuatu yang mampu menggugah dan berkemungkinan besar mengubah diri penulis dan diri pembaca.
Ya, proses menulis yang baik adalah ketika kita benar-benar mengupayakan untuk bisa berkomunikasi dengan diri kita sendiri lewat tulisan-tulisan yang kita buat setiap harinya. Menurut pak hernowo, Kita harus bersungguh-sungguh menggali inner-self (diri-lebih dalam) dan bersabar untuk terus memperbaiki tulisannya, agar kita sendiri dulu yang memahaminya, baru orang lain.

Pesan terakhirnya, tulisan yang baik adalah tulisan yang kaya gagasan. Gagasan itu bisa didapat dari pengalaman yang terjadi di diri sendiri taua dari buku-buku karya penulis besar yang memang sudah “bergulat” dengan proses menuliskan pikirannya.

Jadi, apakah proses membaca dan menulis yang kita lakukan selama ini sudah bermakna untuk kita? Apakah sudah membuat kita menemukan diri kita? Apakah kita bisa menangkap gagasan-gagasan dari seorang penulis yang kita baca bukunya? Apakah kita sudah benar-benar menuliskan pergulatan pikiran kita?

Mari membaca (pikiran) dan menuliskan (pikiran) ! :)
Semoga bermanfaat!

Selasa, 11 April 2017
Hajah Sofyamarwa R

#30DWC #30DWChajah #30DWCday1
#30DWCjilid5 #day1

__________________________________________________________________________
Tulisan ini merupakan refleksi dari targetan yang pernah saya buat, ditambah sedikit rangkuman pengikatan makna dari salah satu bab dalam Buku Vitamin T “Antara membaca-Menuliskan Huruf dan Membaca-Menuliskan Pikiran”
Gambar ilustrasi bakground diambil dari picarts, diedit dengan aplikasi phonto.

789 Words

Menjadi Fighter di 30 Days Writing Challenge #30DWC



Bismillah
Insyaallah selama 11 April 2017 - 9 Mei 2017 menjalani masa 30 Days Writing Challengr nya mas Rezky Firmansyah bareng temen-temen KMO inspiratoracademy.

Semoga istiqomah dan bisa menulis dengan lebih terarah ^^

#30DWC #30DWCJilid5 ##30DWCSquad2  #30dwchajah

Monday, April 10, 2017

Hadiah dari Bentang Pustaka melalui Giveaway ophiziadah.com


Alhamdulillah sekitar 3 bulan lalu dapat rejeki 2 buah buku dari bentangpustaka ketika saya mengikuti giveaway yang diadakan mba ophi ziadah (ophiziadah.com). Saat itu syaratnya tidak terlalu sulit, membaca postingan-postingannya, memberi respon berupa komen, dan memberikan alasan kenapa saya ingin mendapatkan buku Melihat Dunia.

Ini komentar saya pada waktu itu, sekitar bulan Juli 2016 tanggal 26.

Kenapa aku ingin mendapatkan Buku Melihat Dunia?
Saya adalah ibu baru yang masih perlu belajar menjadi ibu. Kutipan kutipan dari postingan mba ophi bikin saya penasaran dengan keseluruhan isi bukunya. Basic nya saya doyan banget sama buku, tapi saya juga jadi tertarik karena baru kemarin lusa "ngga sengaja" ketemu bu yanti nya di sebuah acara diskusi parenting. Beliau sangat vokal dan menyemangati para ibu2 yang ada.
"Syukuri setiap hal kecil yang kita lalui sekarang, karena nantinya kita akan begitu rindu, dan sadar bahwa hal itu tak akan terulang." Kalimatnya terlihat klise, tapi akan beda kalau melihat sendiri bagaimana bu yanti mengungkapkannya :)

Saya ingin membaca habis bukunya, menyerap hal hal terbaik dan semangat ketangguhan beliau, untuk saya praktekan sebagai ibu. 

Saya ingin tahu bagaimana rasanya dikaruniai anak yang gifted, serta bagaimana menyikapinya. Saya juga ingin tahu bagaimana cara beliau istiqomah mengungkap keluarbiasaan anaknya, sementara kadang dunia mengatakan anak kita "beda".
Alhamdulillah.

* * * *
Setelah bukunya sampai, ternyata saya mendapat 2 buku : Melihat dunia dan The magic of tidying things (ini katanya bonus yeay alhamdulillah)
Insyaallah nanti ada sedikit ulasan dari kedua buku itu ya ^^

Senin, 10 April 2017
Hajah Sofyamarwa Rachmawati

Saturday, April 8, 2017

Kamu Istri yang Pundungan atau Baperan? Coba Baca Ini.

Merasa jadi istri yang baperan, pundungan? Coba baca ini ya. 

“Kehidupan setelah menikah itu bukan untuk menuntut hak, tapi untuk menjalankan kewajiban. Perjanjian kita hakikatnya sama Allah, bukan sama pasangan kita. Pada akhirnya kan yang dihisab adalah sejauh mana kita berikhtiar menjadi yang terbaik, menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya, bukan sekedar menuntut hak apa saja yang sudah kita dapatkan.”

Semoga Allah merahmati seorang ustadz yang memberikan pernyataan itu dalam ceramahnya di sebuah acara TV Damai Indonesiaku. Saya bahkan tidak tahu namanya, sekedar tak sengaja mendengar sesaat sebelum saya menjemur pakaian di siang hari.

Tapi bagi saya itu pukulan telak. Jleb!

Setelah menikah, muncul pertanyaan dalam diri saya, kenapa saya itu begitu pundungan? Hehe. Iya, saya sendiri juga heran. Rasanya ko aneeh sekali. Namun kemudian saya berpikir mungkin itu karena adanya kesenjangan antara harapan-harapan kita sebelum menikah dengan realita yang ada setelah menikah. Percayalah insyaallah pasanganmu saat ini memang sudah yang terbaik yang Allah berikan, hanya saja mungkin kau yang belum memahaminya. Memahami dirinya, memahami formulasi hubungan antara kalian. Maka benarlah nasihat ini : sabar dan syukur.

Kehidupan semakin menarik ketika Allah mengamanahkan kita seorang anak. Muncul lagi konflik antara ekspektasi terhadap pasangan, dengan realita yang ada. Padahal pasangan kita sudah memberikan yang terbaik yang ia bisa. Dari situ saya juga semakin bertanya-tanya, “Ko saya pundungan ya? Ko gampang baperan ya? Ko rasanya ada ganjalan ya?” Introspeksi pun harus dimulai.

APA YANG SALAH YA?
1.      Kurang ibadah
2.       Kurang ikhlas
3.       Kurang ilmu
4.       Kurang sabar
5.       Kurang syukur
6.       Kurang deket sama Allah
Astaghfirullah.  Banyak kurangnya :( 

Realitanya memang ada jenis-jenis manusia yang belum baik dalam menjalankan perannya sebagai suami/istri, namun ketika kita belum bisa lapang dengan yang terjadi, menurut saya memang hal itu yang sering terjadi. Dan anehnya (namanya manusia), setelah tau penyebabnya boleh jadi ngga bisa langsung bener-bener bertobat. Mungkin ada ikhtiar memperbaiki kualitas ibadah, perbanyak, cari ilmu, dengerin kajian-kajian, berusaha ikhlas, dll. Tapi ya hidayah kan Allah yang beri, jalannya bisa dari mana aja.

Contoh kesenjangan antara harapan dan kenyataan:

Pundungnya saya tuh dulu suka diem aja. Padahal suami ngga suka saya diem sambil pundung. Padahal saya kalo pundung emang diem. Gimana itu ? Saya ngga mau ngalah karena merasa itu cara pundung saya. Tapi disisi lain, kan kita ingin suami seneng, masa hal yang ngga disukain malah dipiara? Pokonya waktu itu pusing deh saya hehe.
Saya kalau ngerasa ngelakuin kesalahan akan nanya ke suami berkali-kali biarpun dia udah jawab “Ngga apa-apa”. Sementara suami terganggu karena saya nanya berulangkali dan ngga percaya kalau beliau beneran ngga apa-apa.
Di sisi lain, saya kalau pundung justru pingin ditanya-tanya, malah suami Cuma nanya sekali, dan ketika kita bilang ngga apa-apa, mereka akan berhenti bertanya. Padahal saya maunya ditanyain terus haha.
Keduanya melakukan hal yang sebagaimana ia ingin diperlakukan. Berita baiknya, mengubah habit perlu waktu ya ngga bisa instan.Remeh ya problemnya? Tapi ya begitulah.

Nah, hal menarik yang saya pribadi syukuri adalah, ketika dapat  tausiyah dari ustad itu (yang bahkan saya ngga tau siapa), saya semacam dapat pencerahan.

“fokus pada kewajiban, bukan menuntut hak.”

Semenjak itu, bersamaan dengan tekad yang udah saya sampaikan juga ke suami bahwa saya akan woles dan ngga baper berlebihan, mode pundung udah ngga pernah saya lakuin lagi, beneran. Ini baru berjalan sekitar sepekan sih, hehe. Tapi Alhamdulillaaaah banget, lebih ringan.

Pelajaran yang bisa saya ambil:
1.       Fokus sama kewajiban diri, bukan menuntut hak
2.       Hidayah bisa datang dari siapapun bahkan dari yang ngga kita sangka

Sekian dari saya, tulisan ini sama sekali bukan untuk menggurui, semata-mata dibuat sebagai dokumentasi dan pengingat pribadi, dan syukur-syukur kalau bisa bermanfaat buat yang membaca. Semoga semakin dikuatkan dalam beraktivitas hanya karena Allah.
Sharing ya mak, cara ngatasin kebaperan dan kepundungannya ? hehe

Hajah Sofyamarwa R
Sabtu, 8 April 2017

*Pundung itu dalam bahasa sunda, artinya kurang lebih sakit hati karena tersinggung, mudah tersinggung.


Wednesday, April 5, 2017

Rahasia Menulis Produktif dari Sang Penulis 12 Buku dalam 5 tahun, Rezky Firmansyah


Baru dua hari ini saya melihat wajah beliau dalam poster di sebuah akun instagram kepenulisan. Rezky Firmansyah, seorang yang sudah produktif menghasilkan 12 buku dalam usia nya yang relatif masih sangat muda, 23 tahun! Malam ini saya berkesempatan menyimak sharing dari beliau via grup Whatsapp KMO Inspirator Academy 1. Dari cara penyampaian beliau, yang saya lihat beliau orangnya simple dan to the point. Kalau mau dibilang “galak” mungkin bisa karena ngga banyak basa-basi, tapi sebetulnya tegas, dan menurut saya mungkin itulah salah satu karakter yang bikin beliau bisa seperti sekarang ini. Istilahnya kalau orang udah fokus dan komitmen pada suatu hal, jangan berani lawan hehe. Menurut saya orang seperti ini cocok sebagai mentor bagi orang yang “lenjeh-lenjeh”. hehe Wallahu 'alam sih perkenalan baru sebatas sebagai audience dalam grup whatsapp.

Perlu diketahui, saat ini beliau masih berkuliah, mengerjakan skripsi, bisnis, berorganisasi, dan menjabat sebagai Presiden Badan Legislatif Mahasiswa. Masih jomblo, dan sangat produktif. Sharing malam ini adalah cerita seputar awal mula kisahnya dalam dunia kepenulisan dan rahasia beliau menjadi penulis produktif di usia muda.  Beberapa topic dan hasil tanya jawab saya sarikan dalam bentuk tulisan yang sudah saya gubah agar lebih megalir, to the point dan mudah diambil intinya.

* * * * *

Kiprahnya dimulai 5 tahun lalu dari tahun 2012, ketika beliau masih duduk di bangku SMA kelas 12. Beliau bersama teman-temannya memikirkan kenangan terindah bisa mereka berikan saat momentum perpisahan, maka terbitlah sebuah buku antologi yang berjudul Admiral : Generasi, Perjuangan, dan KeajaibanTak sedikit yang meremehkan nilai sebuah buku antologi, “Apa istimewanya?”, namun respon kitalah yang akan membedakannya. Bagi beliau yang merasa masih sangat pemula dalam dunia kepenulisan, momen terbitnya buku pertama benar-benar sangat bermakna. Dari situ ia semakin ingin terus berkarya, dan tekadnya dibuktikan dengan terbitnya buku yang berjudul What Amazing You! Dan diterbitkan oleh penerbit skala nasional Elex Media Komputindo. Bayangkan, anak baru lulus SMA, sudah bisa menerbitkan buku skala nasional, Keren apa keren banget? Begitulah awalnya hingga saat ini beliau aktif terus menerbitkan karyanya satu persatu, termasuk buku ke 9 yang terbit di bulan Februari 2017 lalu yang berjudul “Jomblo, Mantan & Masa Depan”. Buku terbarunya yang ke 12 nya ini insyaallah akan terbit di bulan April, judulnya “Inilah Capres (Catatan Presiden) Pilihan”, Memaknai Momentum Sertijab Organisasi.

Kalau mau kita perhatikan, Mas Rezky berhasil menerbitkan 12 buku dalam 5 tahun (2012-2017). Artinya kalau kita pukul rata,  minimal dalam setahun berhasil menerbitkan 2 buku, ada pula yang 3 buku! Mungkin banyak dari kita yang punya hasrat untuk bisa sekali seumur hidup menerbitkan buku, tapi tak kunjung terbit karena tak kunjung memulai, ada? *cung* Kira-kira supaya bisa produktif gitu apa ya rahasianya?


INI RAHASIANYA

Bangun Kebiasaan Menulis!
Memulai dengan menulis sekarang juga, menulis apapun, bebas. Tak perlu banyak Tanya, tak perlu takut tulisan jelek, tak perlu takut dikritik.
Kalau bingung ide? Ide menulis bisa apa saja. Bahkan saat ngga ada ide, itupun bisa jadi ide. Entah menulis prosa, puisi, atau artikel tentang itu.

Hal ini pula yang menjadi spirit awal Mas Rezky Membuat Program 30DWC (30 Days Writing Challenge). Membangun kebiasan menulis secara rutin selama 30 hari. Outputnya bukan menulis buku, lebih ke komitmen kita untuk meluangkan waktu untuk menulis rutin selama 30 hari. Kalaupun ada tulisan yang bisa dibukukan, sifatnya antologi. Dari naskah dan penulis terpilih.
#0DWC ini juga program berbayar, karena setiap impian selalu ada perjuangan. Harapannya tidak menganggap remeh, dan bisa merasakan esensi perjuangannya


Sesi Tanya Jawab 

Cara Mendapat Inspirasi untuk menjadi penulis produktif
1.      Saat dapat ide, segera dicatat, catat saja keywordnya. Saat ada waktu lowong, bisa langsung dikembangkan.
2. Menulis hampir setiap hari, bahkan pernah nulis artikel 121 hari nonstop di rezkyfirmansyah.com, saat momen 30 Days Writing Challenge Jilid 1 (Oktober 2015-Februari 2016). Kalau per hari nya tergantung kondisi. bila sedang ada naskah akan lebih dari biasanya.

Kategori dalam Blognya (rezkyfirmansyah.com)
1.       Love & Relationship
2.       Passion Writing
3.       Refleksi Diri
4.       Creative Thinking
5.       Indonesia lebih Baik

Supaya stabil mood?
Jangan jadikan jomblo sebagai alasan, jomblo harus produktif dan inspiratif. Kalau masih banyak alasan ngga mood dll, ngga usah nulis, penulis ngga butuh alasan.

Beberapa Penulis Buku yang Menginspirasi :
Sering baca buku non fiksi. Inspirasi, pengembangan diri, motivasi.
Membaca buku yang bahasanya mengalir
1.       Ippho Santosa
2.       Bong Chandra (momentum dan pola pas nulis di awal)
3.       Pandji Pragiwaksono (tema nasionalisme dan Indonesia lebih baik)
4.       Dedy Dahlan (Bahasa yang nyantai)
5.       Rene Suhardono (kretivitas)
6.       Yoris Sebastian (Kreativitas)
7.       Brili Agung (Visi Menulis)

Cara menulis dengan alur yang baik?
Buat outline

Cara mencari ide?
Cari aja, dunia luas, jangan banyak alasan.
Bisa juga dengan mencari inspirasi stalking ke tulisan peserta 30DWC lain
Stalking mantan.. (bercanda) Apapun bisa jadi inspirasi, buktinya bisa jadi Buku. “Mantan tidak bisa dilupakan, melainkan dilepaskan. Lalu pelajarannya digunakan di masa depan.”

Bingung milih tema yang menarik?
Mulai dari kegelisahan yang kita rasakan.
Jangan banyak mikir dan perfeksionis.
Ga ada yang namanya tulisan sekali tulis langsung bagus.

Cara Menggali Ide supaya bisa berkembang dan tulisannya bagus
Gunakan jubah kreator, baru editor. Cek vlog terbaru di @rezky_passionwriter

Cita-cita terbesar dalam dunia kepenulisan
Nulis buku nikah bareng istri

Pesan terakhir :
Intinya jangan banyak alasan. Kita punya waktu 24 jam, tapi ngga ada yang punya waktu 24 jam untuk nulis. Luangkan waktu untuk menulis, bukan menulis di waktu luang.

* * * * *

Sekian sharing saya tentang rahasia sukses dan kisah permulaan Rezky Firmansyah menjadi penulis. Sengaja saya buat dalam bentuk artikel agar lebih mudah membacanya dan mengambil poin pentingnya. Pelajaran bagi saya pribadi, kita perlu memanfaatkan sebuah momentum untuk dapat melesat mencapai impian kita. Percaya pada mimpi kita, pada momentum yang mungkin menjadi batu loncatan kita bergerak maju. Sukses itu meninggalkan jejak, maka jangan gengsi belajar dari ahlinya, ikuti kebiasaan baiknya. Buat keputusan, mau maju terus atau beralasan terus.
Dan dalam belajar, jangan lupa adab menuntut ilmunya juga ya, Semangat!

Semoga bermanfaat dan dapat diambil pelajarannya :)
Salam!

Hajah Sofyamarwa R


30 Days Writing Challenge bersama Rezky Firmansyah.
(sumber : Akun Instagram @inspiratoracd )

Kesan Mengikuti Kuliah Matrikulasi IIP Batch 3


Aliran Rasa Usai Menyelesaikan Matrikulasi IIP Batch 3
By Hajah Sofyamarwa Rachmawati

Kalau boleh jujur, sebetulnya tidak banyak perubahan yang saya alami atau lakukan selama 9 Pekan mengikuti kelas matrikulasi. Aktivitas saya seputar membaca materi, mencoba memahami materi dengan menuliskan ulang materi pada buku, mengerjakan NHW yang seringnya diketik menjelang deadline, serta membaca review NHW kemudian memposting nya pada blog pribadi. Alasan kuat saya mengikuti Matrikulasi IIP di batch 3 ini adalah untuk mempelajari pondasi-pondasi penting yang harus diketahui seorang perempuan terkait perannya sebagai istri dan ibu. Kita semua tahu bahwa Jurusan Ilmu Per-Ibu-an belum ada di bangku perkuliahan kan?

Di awal pengerjaan NHW (1 dan 2) saya masih sempat “berjalan-jalan” cari inspirasi, membaca NHW para peserta lain. Terinspirasi sekaligus terintimidasi sebab seperti mencoba memakai sepatu yang terlihat menawan, namun belum pasti cocok dan nyaman. NHW berikutnya sudah menyadari bahwa jalan hidup setiap orang berbeda maka prosesnya pun akan berbeda. Fokus pada diri sendiri namun kekurangannya adalah belum yakin apakah tugasnya sudah memenuhi standar yang diharapkan dari masing-masing tugas. Saat mendengar bahwa ada peserta yang begitu berhasil mengerjakan NHW bersama suami, saya bahkan “iri” dan seolah malah tidak bersyukur dengan berbagai dukungan yang sudah suami saya lakukan, masih kurang terus rasanya. Padahal nyatanya, Matrikulasi ini memang utamanya untuk diri pribadi, dukungan suami sebagai pelengkap saja. Saat menuliskan aliran rasa ini pun ada rasa malu karena melihat berbagai aliran rasa para peserta lain rasanya begitu bermakna.

Namun entah kenapa, setelah proses Matrikulasi selesai, saya merasakan ada perubahan yang cukup nyata pada diri saya. Saya belum mengerjakan seluruh komitmen yang saya tulis pada NHW, tapi inputan, interaksi, suasana belajar bersama para sejawat (ibu-ibu), membuat saya menjadi memaklumkan diri saya atas apa yang saya jalani selama ini. Menikah dan mempunyai anak tak otomatis membuat diri kita punya sikap, pikiran, dan kebiasaan sebagai Ibu yang baik bukan? Semua perlu proses, dan mungkin perlu babak belur menjalani prosesnya, yang penting terlihat tujuan akhirnya.
Jujur selama ini saya masih sering uring-uringan karena punya pengharapan yang masih belum sepenuhnya didominasi dengan kesabaran menempuh proses, kesyukuran dalam menjalaninya dan qanaah dalam segalanya.

TENTANG TUGAS NICEHOMEWORK MIP Batch 3
Tugas-tugas NHW MIP membuat saya harus membuat keputusan penting mengenai diri sendiri, membuat capaiannya sesuai kemampuan dan kondisi diri, melihat potensi kebaikan dari pasangan dan anak, belajar membuat desain pembelajaran, belajar membuat diri lebih terorganisasi untuk bisa menjadi manajer keluarga, menggali lebih bakat dan minat diri, belajar merumuskan resolusi dan strategi nyata, serta memikirkan alasan kuat mengapa kita diciptakan disini yang berwujud proyek pribadi sederhana untuk masyarakat.

Beberapa hal menarik yang saya temukan paska Kelas Matrikulasi berlangsung :
1.      Proses Matrikulasi IIP sukses membuat saya berpikir bahwa memang ketika menikah, kita dan pasangan harus saling melengkapi, namun semua itu kurang kuat bila kita sendiri tidak menguatkan diri, menguatkan kesadaran peran sebagai istri dan ibu.
2.      Matrikulasi IIP merupakan inputan luarbiasa yang tak bisa sekali baca, sekali lewat. Inputan ini menjadi bekal bagi pikiran, dan mudah-mudahan bisa menarik magnet kebaikan lainnya ke depannya.
3.      Setelah menyadari bahwa pekerjaan utama kita adalah mengerjakan kewajiban dan bukan menuntut hak, saya merasa lebih ringan menjalani keseharian saya. Sebetulnya ini saya dapatkan dari cuilan ceramah, namun bagi saya sangat mencerahkan. Katanya kontrak kita sebetulnya dengan Allah, maka yang dipertanggungjawabkan ya sejauh mana kewajiban kita dilaksanakan, bukan justru menuntut hak macam-macam dari makhluk lain (suami atau anak kita).
Saya merasa lebih ringan menjalankan aktivitas, tanpa banyak dibumbui baper, pundung dan manyun. Hehe.
4.      Project Social Venture pada NHW 9 yang saya coba inisiasi, ternyata sudah Allah sematkan secara tiba-tiba pada saya. Tiba-tiba anak tetangga yang biasanya sekedar main ke rumah, kini ingin rutin belajar membaca iqra di rumah saya. Padahal saya belum benar-benar siap, tapi mungkin menurut Allah sudah saatnya untuk saya lebih bermanfaat bagi sekitar. Tinggal bagaimana saya harus mengorganisasikannya dengan lebih baik.

EVALUASI PRIBADI
1.  Dari 9 pekan pembelajaran, Alhamdulillah berhasil menyelesaikan 9 dari 9 NHW yang diberikan (100%).
2. Terhitung 2 buah ijin dispen minta penambahan waktu karena ingin bisa mengerjakan bersama suami, namun nyatanya kalau mengerjakan ‘bersama suami’ saat itu kondisinya belum memungkinkan, ujung-ujungnya tetap mengerjakan sendiri di waktu deadline.
3. Rencana yang dibuat masih sebatas rencana, belum diaplikasikan.
4. Perlu meninjau ulang kesinambungan antar NHW, karena masih ada yang tidak sesuai.
5. Manajemen waktu perlu diperbaiki, dan menjadi prioritas. Mengingat program selanjutnya Bunda Sayang membutuhkan komitmen yang lebih tinggi setiap harinya. (matrikulasi masih santai karena per pekan)

UCAPAN TERIMAKASIH
Kepada Founder IIP Ibu Septi Peni yang telah mewakafkan diri untuk mempersiapkan ibu-ibu tangguh, fasilitator MIP Bandung 1 (teh Ismi dan Bubu Wiwik) atas bimbingan dan kesabarannya, teman-teman satu grup Bandung 1 yang menginspirasi dengan segala keunikannya masing-masing, suami tercinta Hari Purnama yang udah merelakan waktu, pikiran dan hati ikut sesekali memantau tugas istrinya meski tak jarang dipundungin hehe, dan haidar anak kesayangan bunda yang malah pasang muka ketawa kalau bundanya ngambek, maaf selama ini belum jadi ibu yang baik, semoga masih dikasih kesempatan sama Allah buat terus perbaiki diri.

TIPS BAGI CALON PESERTA MIP BATCH BERIKUTNYA
Komitmen pada diri untuk dapat hadir hati sepenuhnya. Jadwal yang sudah dibuat teratur seharusnya bisa memudahkan. Ambil kesempatan mengikat makna dengan mengalirkan rasa saat kesempatan diberikan. Silent reader terkadang oke, tapi untuk benar-benar terlibat dalam kelas matrikulasi via whatsapp ini sebaiknya banyak terlibat. Kalau dapat kesempatan mengambil amanah lebih (sebagai ketua kelas atau korming) ambillah, semoga bisa terjadi percepatan pembelajar dibanding sebagai warga biasa. Hehe.

Sekian dulu aliran rasa dari saya paska mengikuti Matrikulasi IIP Batch 3 di tahun 2017 ini.
Mohon maaf karena aliran rasa nya mengalir terlalu deras hehe.
Semoga aku dan kamu bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya :D

Salam!
Hajah Sofyamarwa R
Peserta MIP Batch 3 dari Grup Bandung 1

Resume Matrikulasi IIP Batch 3

Kumpulan hasil resume kelas Matrikulasi IIP Batch 3.
Belum sepenuhnya lengkap tapi setidaknya terdokumentasikan


Outline Matrikulasi IIP Batch 3

MATERI
1. Adab Menuntut Ilmu
2. Menjadi Ibu Professional, kebanggaan Keluarga
3. Peradaban dari Dalam Rumah
4. Mendidik dengan Kekuatan Fitrah
5. Belajar Bagaimana Caranya Belajar
6. Ibu Manajer Keluarga Handal, Motivasi Bekerja Ibu
7. Rejeki Itu pasti, Kemuliaan Harus Dicari
8. Misi Spesifik Hidup dan Produktivitas
9. Bunda Sebagai Agen Perubahan

TUGAS NICEHOMEWORK
1. Pilihan Jurusan di Universitas Kehidupan, Alasan, Strategi, Sikap Yang Perlu Diperbaiki
2. Indikator Profesionalisme Perempuan
3. Potensi Suami, Anak, Diri
    3a. Surat Cinta Untuk Suami 
4. Latihan Membuat Kurikulum Diri
5. Desain Pembelajaran
6. Rutinitas Harian : Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Handal
7. Bakat : Tahapan Menuju Bunda Produktif
8. Purpose of Life, Strategic Plan, and A Year Resolution
9. My Social Venture Projects

REVIEW NHW
4. Membuat Kurikulum Yang Gue Banget
5. Belajar Cara Belajar
6. Belajar Menjadi Manajer Keluarga
7. Ikhtiar Menjemput Rejeki
8. Misi Hidup dan Produktivitas


Monday, March 27, 2017

Review NHW #9

Review NHW#9
Program Matrikulasi IIP Batch #3 Sesi #9

BERUBAH ATAU KALAH

Barang siapa hari ini LEBIH BAIK*dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang *BERUNTUNG

Barang siapa yang hari ini SAMA DENGAN hari kemarin dialah term I long orang yang MERUGI

dan Barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK dari hari kemarin dialah tergolong orang yang CELAKA"
– HR Hakim

Berubah adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, karena kalau anda tidak pernah berubah, maka sejatinya kita sudah mati. Maka dengan membaca Nice Homework #9 ini, kami bangga dengan banyaknya ide-ide perubahan yang sudah teman-teman tuangkan dalam tulisan. Kebayang tidak, andaikata dari seluruh peserta matrikulasi Ibu Profesional ini menjalankan langkah pertama perubahan yang sudah dituangkan dalam ide-ide di NHW#9, akan muncul berbagai perubahan-perubahan kecil dari setiap lini kehidupan.

Andaikata hanya 10 % saja yang berhasil menjadikan ide perubahan ini menjadi sebuah gerakan nyata, maka sudah ada sekitar 100 lebih perubahan –perubahan kecil menjadi sebuah gerakan-gerakan positif baru yang memicu munculnya perubahan besar.

Untuk itu kita perlu mencari yang namanya *Tipping point*agar perubahan-perubahan yang kita lakukan bisa memberikan impact  perubahan yang besar.

The Tipping point : the point at which a series of small changes or incidents becomes significant enough to cause a larger, more important change --Malcolm Gladwell

Tipping point adalah titik di mana usaha-usaha kecil yang dilakukan berakumulasi menjadi satu hal besar yang cukup signifikan untuk dianggap sebagai perubahan. Istilah tipping point sudah lama digunakan dalam bidang sosiologi, tapi baru populer setelah dibahas secara mendalam oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference

Tidak perlu orang banyak untuk menyukseskan gerakan yang akan anda lakukan. Kalau bisa dengan suami dan anak-anak sebagai satu team, itu sudah cukup. Namun apabila tidak memungkinkan, maka temukan beberapa orang yang satu visi dengan anda, meski dengan misi yang berbeda-beda, pasti akan bertemu.

Dalam ekonomi, ada Pareto Rule yang menyatakan bahwa 80% dari pekerjaan yang ada sebenarnya diselesaikan hanya oleh 20% orang, yang berarti gerakan kita harus punya 20% orang spesial ini untuk bisa mencapai tipping point. Di bukunya, Gladwell mengupas tentang tiga jenis orang yang menentukan kesuksesan adopsi sebuah ide atau gerakan.

Connector

Connector adalah mereka dengan kemampuan bersosialisasi luar biasa yang bisa menghubungkan orang dari berbagai bidang. Sepanjang yang kami tahu, suatu gerakan bisa jadi besar kalau bisa merangkul banyak orang untuk berkolaborasi. Inilah mengapa kita perlu tipe-tipe connector di komunitas atau gerakan apapun. Mereka adalah jenis orang yang secara natural selalu percaya diri untuk lebur dan bersosialisasi.

Tidak hanya sekedar gaul dan kenal banyak orang,  Connector juga harus punya sensitivitas untuk bertanya,

“Siapa ya yang saya kenal yang bisa membantu gerakan ini?”
atau

“Bagaimana cara menghubungkan si A dari bidang ini dan si B dari bidang itu untuk berkolaborasi?”.

Maven

Maven adalah mereka dengan pengetahuan sangat luas yang senang mengakumulasi informasi dan membagikannya. Bisa dibilang maven adalah orang-orang yang sangat senang belajar. Tidak hanya jadi nerd yang menyimpan semua ilmunya sendiri, maven senang membagikan temuan-temuan barunya kepada orang lain. Orang-orang seperti maven yang punya antusiasme dalam berbagi bisa menarik orang-orang ke sebuah gerakan, melalui api mereka dalam menyebarkan insight bermanfaat.

Salesman

Salesman, tentu, adalah mereka yang punya kemampuan persuasi luar biasa. Salesmen tentu saja dibutuhkan untuk “menjual”apa sebenarnya misi yang dibawa, dengan kemampuan mempersuasinya yang sangat hebat. Tanpa berniat menjual pun, orang-orang yang gifted sebagai salesman selalu bisa bikin orang tertarik dengan apapun yang dibicarakannya.
Kebanyakan dari sebuah gerakan memiliki kemampuan salesman, tapi tidak punya connector dan maven untuk mengimbangi. Maka sejatinya kita perlu 3 orang saja di awal membangun sebuah gerakan perubahan di sekitar kita, ada salesman yang bisa menjual gagasan kita ke pihak lain,  ada connector yang berpikir strategis untuk menghubungkan pihak A dan B, serta maven yang pinter dan senang berbagi.

Setiap orang punya tipping point. Titik dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.                       

Selamat berkolaborasi untuk menemukan tipping point teman-teman semua dengan ide-ide perubahan yang sudah dituangkan dalam bentuk NHW#9

Lihatlah potensi kekuatan di keluarga kita terlebih dahulu,  baru merambah ke luar.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber bacaan:

Malcolm Gladwel, Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference , 2000

Materi Matrikulasi sesi #9, Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2017

Hasil Nice Homework #9 para peserta matrikulasi Ibu Profesional batch #3, 2017

Thursday, March 23, 2017

My NHW #9


NHW kali ini, ada 2 project yang saya rencanakan. (1) Curhat Tetangga, dan (2) Rumah Belajar Mamah Haidar.

2 project ini saya rancang berdasarkan empati dan passion saya. 

Project (1) Curhat Tetangga
Latar belakang : mendorong diri saya pribadi untuk mau bergaul lebih dalam pada tetangga rumah. Dari pengamatan saya pada beberapa ibu muda masa kini (generasi y) banyak pula yang sering terpaku pada gadget dan jarang benar benar berinteraksi dengan tetangganya. Padahal tetangga adalah keluarga terdekat.
Deskripsi : biarpun namanya curhat, tapi tidak melulu harus hal pribadi, sekedar penamaan saja. Merupakan program pdkt pada tetangga dengan mengobrol santai, dan mengambil sisi yang bisa dipelajari. Hasil diposting ke dunia maya untuk dapat menginspirasi yang lain, dan kalau perlu dicetak dalam buletin lingkungan sekitar (edaran)
Sasaran : Ibu-ibu dan anak anak
Harapan : banyak yang mau mulai kenal dekat dengan tetangga, memotivasi orang di dunia maya dan nyata, memotivasi untuk bisa terus berkarya karena profil diri diangkat.
Teknis :
- buat jadwal main ke tetangga
- bawa buah tangan
- ngobrol, gali hal positif.
- buat tulisan, sebar di dunia maya. (Dan kalau mungkin dalam buletin RW misal)

Project (2) Rumah Belajar Mamah Haidar
Latar belakang : terdapat banyak anak anak di daerah rumah yang sore sore keluar main bersama. Terkadang mereka bingung main apa, sehingga perlu diarahkan pada mainan yang lebih bermanfaat. Banyak yang tertarik pada buku, namun mungkin belum memadai fasilitas bukunya. 
Deskripsi : open house rumah untuk jadi taman baca. Dan setia 1 x dalam sepekan ada event khusus misal belajar membuat sesuatu, pembacaan dongeng, dll.
Sasaran : anak anak sekitar
Harapan : anak terfasilitasi belajar dan bermain yang bermanfat dan terprogram, akses yang terbuka pada perpustakaan menambah kecintaan pada ilmu.
Teknis : 
- berusaha menambah koleksi buku2 dan permainan edukatif anak
- membuka pintu rumah setiap sore
- ajak anak tetangga ikut beraktivitas tematik pada 1x per pekannya.


Itulah 2 project yang saya pikirkan dapat dilakukan untuk saat ini. Ke depannya bila ada perubahan atau ilmu baru, akan diapdet insyaallah.

Semoga bisa memberikan manfaat dan menambah amal shalih.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

_Matrikulasi IIP batch #3_
_Nice HomeWork #9_
*BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN*
Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai :
*PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE*
Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.
Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.
Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.
Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.
Mulailah dari yg sederhana,  lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.
Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.
Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan di bawah ini:
(Gambar)
Selamat menjadi agen perubahan
Karena
_Everyone is a Changemaker_
( Setiap orang adalah agen perubahan)
Sampai jumpa di perkuliahan Ibu Profesional selanjutnya untuk bisa lebih memahami secara detil matrikulasi IIP ini.
Salam,
/Tim Fasilitator IIP/

Wednesday, March 22, 2017

Materi #9 BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

_Matrikulasi IIP batch #3 sesi #9_

*BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN*

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

*“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”*

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impactnya.

Darimanakah mulainya?

Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi

*“MISI SPESIFIK HIDUP KITA”*

Kita harus paham *JALAN HIDUP* kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai *CARA MENUJU SUKSES*.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi *CHANGEMAKER FAMILY*.

Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan.

Maka gunakan pola _kaizen_( Kai = perubahan , Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal  kecil yang kita bisa.

*START FROM THE EMPHATY*

Inilah kuncinya.

_Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga_.

Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

_Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION  , hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat_

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes , maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.

Inilah indikator bunda shalehah, yaitu _bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya_.

Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “Rasa TENTRAM”.

Salam

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :

_Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012_

_Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty,  2010_

_Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari,  2016_
[20:20, 3/20/2017] Mba Ikhe Iip: Link Video Matrikulasi IIP Sesi 9 : Bunda Sebagai Agen Perubahan

https://www.youtube.com/watch?v=tDKZAKpH-GI&t=68s

Review NHW #8

_Review NHW #8_
_Matrikulasi Ibu Profesional batch #3_

*MISI HIDUP dan PRODUKTIVITAS*

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengerjakan NHW#7 dengan bersungguh-sungguh. Perbedaan dari orang yang sama-sama belajar itu adalah dari kesungguhannya. Ada yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban yang penting sudah mengumpulkan PR dan ada yang memang bersungguh-sungguh mengerjakan untuk menjadikannya “ROAD MAP” dalam kuliah kehidupannya. Maka di NHW #8 ini kita akan melihat bagaimana produktivitas seorang bunda bisa erat berkaitan dengan misi spesifik hidupnya.

Pola BE-DO-HAVE yang kita gunakan ini akan membuka mindset kita terlebih dahulu akan sebuah makna produktif, kemudian mengerjakan sesuai dengan jalan hidupnya, dan akhirnya mendapatkan hasil dan pencapaian yang cocok antara kehendak kita dan kehendak Allah. Hal ini akan membuat bunda lebih mantap melangkah, apalagi kalau dihubungkan dengan pertanyaan NHW#8

Pertanyaan di NHW #8 itu saling berkaitan, mari kita simulasikan berrsama, kemudian aplikasikan sesuai dengan diri bunda masing-masing.

a. Ambil satu saja dari  aktivitaa yang anda SUKA dan BISA 

Misal : Memasak

b. Anda ingin menjadi apa? ( Be)

Misal : ingin menjadi ahli memasak untuk makanan " gluten free"

c.Apa yang ingin anda lakukan? (DO)

misal : saya akan mulai bereksperimen tentang makanan gluten free dan mengedukasi masyarakat tentang makanan gluten free.

d. Apa yang ingin anda miliki? (Have)

(bisa secara materiil maupun immateriil bebas anda pilih, boleh salah satu atau dua-duanya)

contoh : 
Materiil : Saya ingin memiliki rumah  "healthy food"

Immateriil : saya ingin memiliki legacy dalam hidup saya ttg makanan "gluten free" ini sehingga anak Indonesia akan tumbuh dengan sehat tanpa bergantung dengan gandum.

Setelah itu kita susun langkah-langkahnya :

a. Life time purpose

Saya ingin  memperjuangkan Indonesia Bebas Gandum, dengan mulai menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap gandum

b.Strategic Planning

Dalam waktu 5 tahun ke depan saya ingin dikenal sebagai ahli gluten free, sehingga saya konsisten mempelajari hal tersebut mulai dar sekarang.

c. New Year Resolution

Dalam kurun waktu 2017 - 2018 ini saya ingin menerapkan program "One Month One Recipe" sehingga akan muncul 12 resep baru gluten free dalam 1 tahun ini, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan keluarga di sekitar saya.

Apabila sampai sekarang Anda masih galau belum menemukan apa sebenarnya yang akan anda lakukan, jangan khawatir. 
Mari kita kuatkan proses,

Karena 

*_Proses itu HAK kita, dan hasil itu HAK ALLAH_*

Nah untuk lebih menguatkan proses, silakan buat list dan tempel di rumah, ada banyak contoh, salah satunya saya berikan sample di bawah ini:

(Gambar)

Ini contoh menguatkan BE-DO-HAVE mingguan sampai ketemu ranah produktivitas bunda.

Tahapannya :

🍀ambil ranah yang anda SUKA dan BISA dulu,

🍀simulasikan di form BE-DO-HAVE

🍀Susun lifetime purpose, strategic plan dan new year resolution

🍀Turunkan secara mingguan aktivitas-aktivitas yang harus anda capai untuk bisa menjadi bunda produktif.

Demikian review NHW#8 silakan dicermati sekali lagi, karena ini akan menjadi pijakan untuk tahap berikutnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

_Sumber bacaan_

_David Y,  The "Be Do Have" Paradigm, Avenue South, 2013_

_Tim Matrikulasi IIP, Misi dan Produktivitas, 2016_

_Hasil Nice Homework #8, peserta matrikulasi IIP batch #3_

Tuesday, March 14, 2017

My NHW #8 Purpose of Life, Strategic Plan and A Year Resolution

A. Dari  seluruh Aktivitas suka-bisa yang  saya tuliskan, aktivitas yang saya pilih adalah menulis.

Saya mencoba berdiskusi dengan suami, beliau mengatakan sebetulnya ingin saya tetap di jalur pendidikan, entah sebagai pendidik, atau pengajar. Alasannya juga sesuai dgn yang sudah saya pikirkan, agar sejalan dengan karir yang akan beliau jalani, di bidang akademis, sebagai dosen.

Namun, sampai saat ini, aktivitas yang membuat saya berbinar, dan tak pernah bosan belajar meski dengan kondisi apapun adalah dunia kepenulisan.

B.
1. Saya ingin menjadi apa ? (BE)
Saya ingin menjadi pakar ilmu kepenulisan.
2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
Mempelajari ilmu kepenulisan secara komprehensif.
Menyebarkan ilmu kepenulisan.
Membuat buku mengenai kepenulisan.
Menulis berbagai hal tentang sekitar yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik
3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
-

C
1. Yang ingin saya capai dalam kurun waktu kehidupan  (lifetime purpose)
a. Menjadi istri dan ibu yang senantiasa belajar dan semakin baik
b. Menjadi penulis produktif yang menginspirasi
c. Bermanfaat ilmunya sebagai pengajar
d. Menjadi pakar desain (khususnya grafis) agar dakwah semakin mudah diterima masyarakat luas dan tidak dipandang sebelah mata

2. Yang ingin saya capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
Berarti saat usia saya 30 -35 tahun. Mungkin saat itu anak pertama sudah mau masuk SD, dan mungkin punya anak balita juga. Strategic plan 5-10 tahun ini:
a. Sudah mengambil S2 (*psikologi, *jurnalistik, *manajemen persekolahan)
b. Projek menulis 1 buku setiap tahunnya
c. Sudah punya bisnis sendiri.
d. Punya pekerjaan profesional, karena anak sudah bisa lebih mandiri.
e. Mengikuti konferensi di luar negeri, publish paper.
f. Kontributor tulisan suatu redaksi

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
a. Bergabung dengan coaching kepenulisan
b. Launching 1 buku di tahun ini
c. Konsisten menulis 1 artikel/pekan
d. Banyak bertanya pada narasumber, dan menuliskannya. (Selama ini kadang suka takut atau malu bertanya hal2 tentang pilihan hidup)

**********************************
**********************************

Nice HomeWork #8

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :

a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE  DO HAVE” di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulsi IIP/

Materi #8 MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

_Matrikulasi Ibu Profesional batch #3 sesi #8_

*MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS*

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.

Sebelumnya kita sudah memahami bahwa “Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima , melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

*_Be Professional, Rejeki will Follow_*

Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya  akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

“Rejeki will follow’ bisa dimaknai bahwa  rejeki  setiap orang  itu sudah  pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh  tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

*_Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan , bukan bersungguh-sungguh karena uang_*

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir ( sekitar 10-13 th) dan memasuki taraf aqil baligh ( usia 14 th ke atas). Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang disebut sebagai (mid-life crisis).

Maka sekarang, jalankan saja yang anda BISA  dan SUKA tanpa pikir panjang,   karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tsb apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri :

a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar

b. energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.

c. rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi

d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.

Ada 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas :

a. Kita ingin menjadi apa (be)

b. Kita ingin melakukan apa (do)

c. kita ingin memiliki apa (have)

Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan :

a. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

b.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan ( strategic plan)

c. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang anda pikir memang harus diubah.

Berikutnya mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita.Mulailah dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.Buatlah prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita “gagal fokus”.

Demikian sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, silakan dibuka diskusi dan nanti kami  akan lebih detilkan materi ini secara real di nice homework #8 berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di Nice homework #7.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

_Sumber bacaan_:

_Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014_

_Materi Matrikulasi IIP, Bunda Produktif, 2017_

_Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015_

Review NHW #7

Review NHW #7

IKHTIAR MENJEMPUT REJEKI

Disusun oleh
Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

_Review Nice Home Work #7_

_[Bunda Produktif]_ *IKHTIAR MENJEMPUT REJEKI*

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,

Terima kasih bagi yang sudah mengerjakan NHW#7 ini dengan sangat baik. Melihat satu persatu hasil peta kekuatan teman-teman, maka kami  melihat beragam potensi fitrah yang dimiliki oleh teman-teman yang bisa dijadikan sebagai bekal untuk memasuki ranah produktif.

NHW #7 ini adalah sesi *KONFIRMASI*. Dimana kita belajar mengkonfirmasi apa yang sudah kita temukan selama ini, apa yang sudah kita baca tentang diri kita dengan tools yang dibuat oleh para ahli di bidang pemetaan bakat.

Ada banyak tools yang sudah diciptakan oleh para ahli tersebut, diantaranya dapat dilihat secara online di  www.temubakat.com http://tesbakatindonesia.com/ www.tipskarir.com dan masih banyak lagi berbagai tes bakat online maupun offline yang bisa kita pelajari.

Kita menempatkan tools-tools tersebut sebagai alat konfirmasi akhir, sehingga kita tidak akan buru-buru menggunakannya, sebelum kita bisa menggunakan mata hati  dan mata fisik kita untuk melihat dan membaca diri dengan jujur. Kita makin paham tanda-tanda yang DIA berikan untuk menjalankan peran produktif kita di muka bumi ini.

Efek yang bisa kita rasakan, saat menjadi ibu kita tidak akan menjadi ibu galau yang buru-buru mencari berbagai alat untuk bisa melihat minat dan bakat anak kita secara instan. Kita justru akan punya pola mengamati bakat minat anak, dari kegiatan aktivitas anak keseharian dg mengamati sifat-sifat dominan mereka, yang mungkin akan menjadi peran hidup produktifnya kelak.

Selain itu juga memperbanyak aktivitas panca indra sehingga kita makin paham bidang yang akan ditekuni anak-anak. Maka modalnya, buka mata, buka hati. Kayakan wawasan anak, kayakan gagasan anak setelah itu buatlah mereka kaya akan aktivitas. Terlibatlah (Engage) , Amati (observe), gunakan mata hati dan mata fisik untuk mendengarkan dan melihat  (watch and listen ) keinginan anak selama rentang 2-14 tahun, lalu perkuat pemantauan hal tsb sampai usia 14 tahun ke atas,  jadi modal pertama adalah mata hati dan kehadiran orangtuanya.

Alat hanya mempermudah kita untuk mengenali  sifat diri kita yang produktif menggunakan bahasa bakat yg sama shg mudah untuk diobrolkan.

Tetapi menggunakan alat bukan sebuah keharusan yang mutlak. Bagi anda yang sudah percaya diri dengan aktivitas anda saat ini, tidak perlu lagi menggunakan alat apapun untuk konfirmasi.

Salah satu tools yang kita coba kemarin adalah  www.temubakat.com yang kebetulan kita bisa mengkonfirmasi langsung ke penciptanya yaitu Abah Rama Royani, yang sering menjadi guru  tamu di komunitas Ibu Profesional.

Apabila teman-teman memiliki tools lain tentang pemetaan bakat ini yang bisa dikonfirmasi ulang ke penciptanya silakan dipakai, sehingga kita jadi lebih banyak paham tentang berbagai alat konfirmasi bakat kita.

Setelah mendapatkan hasil segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah teman-teman  tulis di NHW#1 – NHW #6

Semua ini ditujukan  agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA.

*FOKUS pada KEKUATAN, SIASATI segala KELEMAHAN*

Fokus pada kekuatan berarti bahwa ke depan, luangkan waktu untuk belajar dan berlatih hanya pada aktivitas yang merupakan potensi kekuatan. Siasati keterbatasan berarti bahwa usahakan untuk mencari cara lain dalam mengatasi keterbatasan yang ada, bisa dengan cara menghindarinya, mendelegasikannya, bersinergi dengan orang lain ataupun menggunakan peralatan atau sistem. Seperti halnya bila kita tidak mampu melihat jauh karena keterbatasan mata yang minus, maka cukup diatasi dengan menggunakan kaca mata.

Ini salah satu contoh pentingnya kita memahami kekuatan diri kita kemudian mencari partner yang cocok. Untuk itu silakan teman-teman amati sekali lagi, potensi kekuatan yang ada pada diri teman-teman, kemudian minta pasangan hidup anda atau partner usaha anda untuk melakukan proses yang sama dengan tools yang sama, agar anda dan partner anda memiliki bahasa bakat yang sama untuk diobrolkan. Setelah itu lihat apakah anda sama-sama kuat di bidang yang sama atau saling mengisi.

Hal ini penting untuk memasuki ranah produktif teman-teman. Akan berkolaborasi dengan pasangan hidup atau memang perlu partner lainnya. Apabila perlu partner lain maka teman-teman sudah paham orang-orang dengan kekuatan seperti apa yang ingin anda ajak kerjasama. Sehingga mulai sekarang sudah tidak lagi asal bilang “saya cocok dengan si A, si B, si C” cocok di bidang mana? Bisa jadi kecocokan anda dengan seseorang tidak bersifat produktif karena memang tidak saling mengisi (komplemen).

Mari kita lihat beberapa contoh di bawah ini:
*POTENSI KEKUATAN*

Banyak orang masih berpandangan bila kita berlatih atau membiasakan diri melakukan suatu aktivitas, kita akan menjadi semakin hebat. Slogannya mengatakan: “pratice makes perfect”. Namun ternyata slogan ini memiliki kebenaran sepanjang dilakukan pada potensi kekuatan Anda. Sibuk berlatih pada aktivitas yang merupakan keterbatasan hanya akan membuang waktu, energi apalagi biaya. Sayang bila kita berpayah-payah melakukan aktivitas yang merupakan keterbatasan kita.

Menurut Abah Rama Royani dalam bukunya yang beliau tulis bersama teman-teman dari Prasetya Mulya yang berjudul 4 E (2010)
*_Potensi Kekuatan adalah aktivitas yang anda SUKA  melakukannya dan BISA  dengan mudah  melakukannya, hasilnya bagus dan produktif_*

Setelah mengkonfirmasi ulang bakat kita dengan tools yang ada, kami sarankan jangan percaya 100%. Silakan konfirmasi ulang  hasil tersebut sekali lagi dengan mengisi pernyataan aktivitas apa yang anda SUKA dan BISA selama ini.

Setelah memetakan apa yang SUKA dan BISA, maka mulailah menambah jam terbang di ranah anda SUKA dan BISA, mulailah melihat dengan seksama dan kerjakan dengan serius.

Mengapa ranah SUKA terlebih dahulu yang harus kami tekankan. Karena membuat kita BISA itu mudah, membuat SUKA itu baru tantangan.  Maka saran kami masuki ranah SUKA dan BISA terlebih dahulu sebagai awalan memasuki ranah produktif teman-teman, kalau anda sudah menemukan “pola”nya disana, sudah merasa “ Enjoy,Easy dan Excellent” , maka mulailah mencoba ke ranah yang lain selama aktivitas tersebut masuk kuadran BISA. Yang sebaiknya tidak dimasuki di awal ini adalah memasuki ranah yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA.

Seiring berjalannya waktu kita semua akan bisa dengan mudah memaknai kalimat ini :

*_“It is GOOD to DO what you LOVE, but the secret of life is LOVE what you DO_*"

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :

_Materi Matrikulasi IIP Sesi #7, Rejeki itu Pasti, Kemuliaan harus Dicari, 2017_

_Hasil NHW#7, Peserta Matrikulasi IIP, 2017_

_Abah Rama Royani, 4 E (Enjoy, Easy, Excellent,Earn), PPM Prasetya Mulya, 2010_

_Referensi tentang bahasa bakat dan potensi kekuatan di www.temubakat.com_

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...