Friday, January 27, 2017

Materi #1 Adab Menuntut Ilmu ( Matrikulasi IIP Batch 3)

Materi
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU 
ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik darii Ibunya

☘ ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

☘ ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

T&J

Tugas :
📚NICE HOMEWORK #1📚
ADAB MENUNTUT ILMU

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #3, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.

Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.

Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Saturday, January 21, 2017

[Review Buku] Inspirasi dari Rumah Cahaya - Budi Ashari, Lc

[Review Buku] Inspirasi dari Rumah Cahaya – Ust Budi Ashari, Lc

Sebetulnya ini sudah lewat dari target waktu saya menuliskan review dari buku ini. Sekarang kendalanya adalah saya lupa dimana menyimpan buku tersebut, sementara coretan yang saya buat ya hanya di buku itu. Hihi. Selain itu, saya juga tidak sembari menuliskan catatan-catatan di notes hp saya, sehingga sekarang saya udah ngga punya contekan deh. Hehe.
Maka dari itu, kali ini saya mungkin hanya akan menuliskan kesan-kesan saya mengenai buku itu ya. Semoga kapan-kapan bisa diupdate, atau seenggaknya sedikit tulisan ini bisa bermanfaat buat pembacanya.

* * * * * * *

Sudah lama saya menaruh perhatian pada sebuah sekolah dengan konsep “pengajaran iman dahulu, baru Al-qur’an” yang diusung oleh Kuttab Al-Fatih. Budi Ashari sebagai founder nya mungkin sering kita lihat di layar televisi sebagai salah satu ahli dalam sejarah islam.

Sudah lama pula saya suka baca-baca artikel dari parenting-nabawiyah dan punya keinginan besar untuk membeli buku-bukunya. Saya penasaran dan ingin tahu seperti apa sebetulnya konsep pengajaran iman sebelum al-quran itu dalam aplikasi pendidikan keseharian. Singkat cerita, saya memesan paket buku nya : Inspirasi dari Rumah Cahaya; Remaja,Antara Hijaz dan Amerika; serta Ke Manakah kulabuhkan hati ini.



* * * * * * *

Penulisan buku Inspirasi dari Rumah Cahaya (IRC) ini menurut saya cukup runut. Dimaksudkan untuk membuat para pembacanya benar-benar memiliki pondasi yang benar mengenai cara berpikir kita tentang konsep pernikahan, pendidikan dan keluarga. Serial Parenting-nabawiyah ini hadir sebagai “pelurus” dari berbagai pemahaman kita akan konsep parenting yang saat ini sangat menjamur. Bukankah sebuah berita baik, bila kini para orangtua begitu semangatnya mencari ilmu dalam mendidik ? Iya, hanya saja orangtua perlu tahu pakem-pakem apa saja yang harus dipegang sebagai umat islam. Teori pendidikan bisa datang dari belahan bumi manapun, aplikasinya juga mungkin bisa bermanfaat pada sebagian orang, namun sebagai umat islam, patutlah kita mencoba belajar ilmu parenting dari teladan kita terdahulu yang memang terbukti menghasilkan generasi-generasi unggulan yang mulia di dunia dan dirindukan di surga.
Parenting nabawiyah ini membedah sejarah den mengambil hikmahnya dengan sangat baik. Banyak hal-hal yang awalnya bagi saya “biasa saja”, kemudian seolah mendapat pencerahan “Eh, oh iya ya!”

Contohnya di awal, tentang tujuan pernikahan. Penulis menjabarkan mengenai pemahaman surat Al Furqan ayat 74 yang berbunyi: “ Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami iman (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.”
Penulis mengingatkan bahwa Al-quran adalah mukjizat yang susunannya pun sudah diatur oleh Allah sedemikian rupa dengan maksud tertentu. “kompak” dengan pasangan dahulu, lalu mendidik anak agar menjadi pemimpin yang “tim” nya adalah orang bertaqwa, bukan pemimpin yang tidak sejalan secara visi akhirat dengan timnya, begitulah kira-kira.

Gambaran mengenai pentingnya ‘kekompakan’ suami dengan istri begitu nyata terlihat dari kisah-kisah terdahulu. Bagaimana Nabi Nuh yang shaleh bahkan tak bisa mengajak istri dan anaknya kepada Allah, bagaimana Asiyah wanita shaleh harus berdoa mohon perlindungan pada Allah dari Fir’aun suaminya sendiri, bagaimana Maryam salah seorang wanita terbaik juga terlahir dari keluarga yang baik.

Dari buku ini tertancaplah langsung ke otak saya beberapa keluarga/sosok yang memang terbaik dan harus menjadi panutan. Keluarga Nabi Ibrahim AS dan Rasulullah SAW. Saya juga jadi ngeh berapa jumlah anak Rasulullah. 3 lelaki dan 4 perempuan (selama ini ingetnya Cuma Fatimah aja). Kita bisa berguru pada rasulullah bagaimana mendidik anak perempuan, dan “berguru” pada Ibrahim bagaimana mendidik anak laki-laki. Betapa ebrhasilnya rasulullah mendidik sahabat-sahabatnya dari berbagai generasi tua maupun muda.

Buku ini mengajak kita melihat parenting bukan saja dari lingkup kecil, tapi juga pada lingkup yang sangat besar. Memasuki fase akhir jaman dimana Islam akan kembali Berjaya, membutuhkan generasi-generasi yang jauh lebih tangguh dari pemuda di masa kejayaan Islam terdahulu.

Salah satu kelebihan dari susunan buku ini adalah, di setiap akhir bab ada kisah berhikmah semacam studi kasus agar pembaca lebih mudah memahami pelaksanaanya, serta catatan-catatan hal-hal aplikatif untuk menjadi action plan bagi para pembacanya.

Akhir kata, menurut saya buku ini rekomended untuk dibaca para orangtua dan calon orangtua. Mengingatkan kembali pada “settingan awal” mindset berkeluarga dan mendidik generasi terbaik. Parenting nabawiyah ala nabi yang memang terbukti kualitasnya.

Sabtu, 21 Januari 2017
Selesai pukul 01:30


Thursday, January 19, 2017

Karunia Seperempat Abad

25 tahun aja diinjak hehe
Seperempat abad sudah Allah izinkan saya menjalani kehidupan di dunia.
HAJAH SOFYAMARWA RACHMAWATI, sebuah doa yang bapak dan mamah saya panjatkan. 

HAJAH, karena saat masih janin saya sempat dibawa mamah ke mekkah saat mereka berhaji. 
SOFYAMARWA, mengambil nama 2 bukit yang termahsyur di sana, safa dan marwa
RACHMAWATI, jabal rahmah, bukit kasih sayang yang diyakini sebagai tempat bertemunya adam dan hawa. 

Wati untuk identitas keindonesiaan saya, hehe


Saya pernah malu dengan nama hajah, kalau menulis nama, saya hanya menulis singkatannya saja dengan ejaan yang salah pula " H. SOFIA MARWA R." Sampai SD tak ada yang memanggil saya hajah, semua memanggil sofia atau fia.

Tapi terimakasih yudha teman SMP saya yang dulu memanggil saya dengan nama hajah (waktu dulu sih kesel haha). Sampai kini saya sadar kalau nama saya hajah. Dan perlahan saya pun tahu cara menulis nama saya dengan baik dan benar. Hehe.

Seseorang perlu energi dan ruh untuk dapat menjalankan kehidupannya dengan sadar betul. Sejujurnya, saya juga belum pernah dapat "ruh" nya banget ketika mendapat jawaban dari orang tua saya mengenai makna nama saya.

Ah, Biarlah menjadi doa'doa rahasia mereka, biar saya pun menggali sendiri makna nama saya di dunia, menjadi sadar betul tentang apa yang Allah maksudkan pada diri saya.

Salah satu ketidak mengertian saya akan nama hajah ialah sampai saat ini saya merasa jiwa saya belum meraung terpanggil untuk berhaji ke sana. Kalau ditanya apa semua muslim mau ke baitullah, saya juga begitu, siapa yang tidak mau. Tapi jiwa saya belum cukup sadar, atau pengetahuan saya yang memang masih minim.

Iri sekali saya pada siapa siapa yang hatinya sudah begitu terpanggil mengunjungi baitullah. Kita boleh iri pada hal hal yang baik, bukan? Semoga allah berikan kesempatan itu juga pada saya. :)


SAFA dan MARWA identik dengan bukit yang dipakai siti hajar saat berupaya mencarikan air untuk bayinya, ismail. Sebuah kisah yang hampir semua muslim mungkin tahu. Tapi tahukah, ternyata perlu waktu bagiku untuk memahaminya. Ada TAWAKAL yang TINGGI dalam setiap jejak langkah siti hajar. PERCAYA PENUH pada kuasa Allah, bahwa Ia tak akan menyia-nyiakan hambanya yang shalih. KETIDAK BERGANTUNGAN SITI HAJAR pada seorang makhluk pun, meskipun itu suaminya sendiri. DOA PANJANG SEORANG AYAH   yang menjadi bekal utama dan penjagaan bagi keluarganya. Ia tetap bertahan hidup dan setelah pertemuannya lagi dengan ibrahim di kemudian hari, ia tak pernah sekalipun membencinya.

* * *

Dan kini, saya bersama suami saya hari purnama. Nama yang diberikan oleh kakeknya itu sampai saat ini, bila ada, saya belum juga mendapat jawaban akan maknanya. Kalau diijinkan, boleh kah saya menganggapnya sebagai cahaya terbaik, utuh, yang bersinar pada waktu waktu yang tepat,  yang Allah anugerahkan untuk keluarga kecil kami ? :")

Maka dear myself, jagalah agar rumah kita tetap bercahaya, tak dipadamkan oleh pemadam cahaya berupa kelalaian dan bisikan syetan yang tak bisa kita halau karena lemahnya penjagaan diri kita masing masing. Jaga rumah kita tetap bercahaya, seperti bercahayanya keluarga Muhammad saw, keluarga ibrahim, keluarga imran, keluarga luqman.

Bersambung

Ditulis 12 januari 2017
(Tulisan ini dipengaruhi bacaan saya pekan itu, inspirasi rumah cahaya ust budi ashari)

Monday, January 9, 2017

Review Buku Genap - Nazrul Anwar

Genap by Nazrul Anwar (photo : hajahsofya)


Judul : Genap
Penulis : Nazrul Anwar
Penerbit : Adnara Self-Publishing
Cetakan : I, 2015
Tebal : 166 halaman

Alhamdulillah akhirnya selesai juga baca buku Genap ini dalam waktu 4 hari. Buku ini saya beli sekitar tahun 2015 di awal-awal saya menikah dan baru sempat saya tamatkan di awal tahun 2017. Hehe.

Buku Genap ini termasuk serial fiksi yang topiknya sangat dekat dengan keseharian kita. Merupakan kumpulan “curhatan” seorang wanita tentang/pada pasangannya yang menggenapinya (menikah, menjadi jodohnya). Hal pertama yang paling saya sukai adalah dari pemilihan bahasanya. Karena isinya mirip buku diari, maka bahasa yang digunakan seolah mengajak pembaca untuk berbicara pada diri sendiri, atau seseorang yang sangat dekat. Saya menyebutnya dengan istilah monolog yang sesekali berdialog.

Sebetulnya sangat sedikit percakapan yang dimunculkan dalam buku ini, dan secara keseluruhan adanya percakapan memudahkan pembaca untuk memahami isinya. Namun pada bab 7 saya merasa agak aneh ketika muncul percakapan yang tidak formal, seperti “hehe”. Padahal biasanya juga mungkin lazim ya, tapi karena sejak awal saya sudah senang dengan monolognya, saya jadi agak “kaget”.

Kalau melihat daftar isinya, ada 48 Bab yang semua nya mengandung kata “Kamu”, semisal “Siapapun Kamu,  tentang kamu, mencemburui kamu, perhatian kamu, Istri seorang kamu, dan lain-lain. Sedikit banyak menginspirasi saya , kalau nanti mau bikin tulisan buat suami bisa pake tema ini aja. Hihi.

Banyak kalimat kalimat bagus yang bisa kita kutip juga, mengingatkan kita tentang konsep konsep dalam menjalani suatu hubungan pernikahan. Pembaca dapat merasakan dengan cukup lengkap bagaimana sebenarnya perasaan-perasaan yang muncul saat dipertemukan dengan jodoh, "kekagetan" setelah menikah, penyesuaian-penyesuaian, dan lain-lainnya.

Hal menarik bagi saya juga karena di akhir cerita beberapa babnya ada kejutan (twist-nya)! Yang kalau kita bacanya Cuma selewat bisa jadi ngga terasa, harus bener-bener dihayati hehe. Misal pada suatu bab, tokoh utama dapat berbicara banyak hal dan ternyata semua itu hanya karena sang suami dari tokoh utama lupa dengan hari ulangtahunnya! *cewek banget ya hihi*

Salah satu bab yang berkesan bagi saya adalah pada Bab Aku, Dia dan Kamu. Bagian ini yang membuat saya sadar bahwa buku ini punya alur yang menarik. Kisah Antara tokoh utama, suami dan kawannya. Bisa bikin kita tercengang sendiri, baca aja ya.

Buku ini juga menampilkan contoh-contoh kehidupan oranglain untuk diambil pelajarannya, dikemas dengan sangat mengalir dan menimbulkan rasa ingin tahu bagi saya pribadi. Sampai rasanya saya ingin bertanya pada penulisnya, “itu ceritanya beneran gak?”

Hal berkesan lainnya ada di bab Mengingat kamu. Ada surat dari seorang laki-laki duda yang sudah memiliki anak, yang kemudian menikahi seorang gadis. Menurut saya penulis sukses sekali mengatakan bahwa walaupun sosok itu seorang duda, proses menikah yang kedua kalinya tidak hanya sekedar untuk melanjutkan hidup. Pembaca dapat merasakan adanya jaminan bahwa sang istri yang baru akan diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dipahami dan diperhatikan sebagai orang yang spesial.

Menurut saya buku ini mewakili apa-apa yang ingin dikatakan seorang wanita kepada pasangannya. Takjubnya, penulis adalah seorang lelaki, namun begitu sukses menulis dengan sudut pandang wanita. Kesan awalsaat saya membaca, saya berpikir took utamanya laki-laki (karena penulis laki-laki dan buku yang sebelumnya ditulis dengan sudut pandang laki-laki). Jujur, selama membaca saya sempat agak repot memposisikan tokoh utama sebagai perempuan karena penulisnya laki-laki.

Kejutan lainnya, buku ini dipersembahkan sebagai mahar dari penulis untuk istrinya di hari pernikahan mereka. Kebayang ya sweet nya? Hihi awas baper.

Akhir kata, saya suka buku ini. Buku ini juga mengingatkan saya untuk mencari keberkahan pada pernikahan, dan bagaimana asam garam dalam mendapatkannya. Menurut saya buku ini rekomended buat teman-teman yang dalam proses mencari penggenap hidup, berada pada fase-fase awal menggenap, dan yang merasa perlu inspirasi untuksaling terus mengenali detail pasangan hidupnya. Banyak konsep-konsep yang baik dalam kehidupan yang bisa kita petik. Dibaca pelan-pelan, resapi, coret-coret aja bukunya dengan kesan kita supaya makin nampol ya. hehe

Salam,
9 Januari 2017
Hajah Sofyamarwa R.
Sedang belajar mereview buku ^^

Book Review Pertama 2017 #Bookreview2017

Friday, December 30, 2016

Tidur Bagi Ibu Baru


Saya ngga akan mendramatisir kondisi dengan mengatakan bahwa menjadi seorang ibu baru a.k.a Mahmud Abas (Mamah Muda Anak Baru Satu) itu sangat kesulitan untuk bias beristirahat tidur. Apa yang saya nyatakan ini murni opini pribadi berdasarkan pengalaman sendiri, dan kondisi pada ibu-ibu lainnya bias sangat berbeda. Apa yang saya tulis ini semata-mata untuk merefleksikan apa-apa yang saya alami, untuk kemudian saya pikirkan pelajarannya. Dan karena saya begitu sangat pelupa dengan moment-moment, maka saya tuliskan seperti ini. *prolognya panjang pissannn*

Kebutuhan dasar hidup manusia seperti makan, mandi, beristirahat, memang menjadi begitu mewah ketika anak pertama saya lahir. Sebulan pertama paska operasi sesar saya masih sangat dibantu oleh orang-orang di sekitar saya. Makan dimasakin, diingetin, dicerewetin mamah. Mandi diingetin, diingetin, diingetin mamah (diingetinnya ampe berkali kali ya hemmm). Tidur dianjurin, disuruh, dibiarin sama mamah. Iya, sebulan pertama masih adaptasi dan belajar buat ganti popok, cuci popok, nyusuin bayi, dan motoin bayi #eh. Kayak yang ringan yaa hihi. Emang lebih ringan sih, soalnya banyak hal lainnya yang di backup sama yang lain. Tapi percayalah, ketika seorang anak lahir, tak serta merta software “Mamah Kece Hebat Banget” terinstall ke dalam diri kita, semua perlu belajar.

Kembali ke si Tidur tadi, sebulan pertama, haidar masih suka bangun malam untuk menyusu, sampai searang masih sih (13 bulan). Bedanya kalau dulu haidar bangun, saya bangun dengan mata yang full terbuka. Bangun tidur turun dari kasur, gendong haidar, bawa ke kasur, nyusuin, nyimpen haidar lagi di keranjang bobonya, lalu kembali tidur. Atau kalau nangis lagi, bangun berjalan kemudian mengganti popoknya yang basah . begitulah. Kalau sekarang jangan tanya ya, setelah menemukan posisi menyusui ternyaman sedunia bagi saya, kalau haidar bangun nyusu saya hanya bangun sebentar kemudian terlelap lagi bersama haidar. Hehe

Bagi saya pribadi, kalau tidurnya terinterupsi di waktu yang tidak tepat, bangunnya bisa telat. Dan adanya interupsi-interupsi saat kita tidur sedikit banyak akan memengaruhi jam biologi kita masing-masing. Maka jangan kaget kalau jam tidurbangun kita jadi agak beda dari biasanya. Masih bisa pasang alarm atau alarm barunya juga akan bunyi (anak bayi nangis hehe)


Menyusui menjadi gerbang awal saya kemudian tertidur pulas di malam itu. Hehe 

Lain lagi kalau tidur siang. Kalau sudah capek berat dan ikut tertidur bersama haidar, kadang saat bangun saya akan merasa penuh penyesalan. Loh? Menariknya masa-masa bayi pertumbuhan anak kita begitu cepat, singkat.  Pertumbuhan yang pasti dibarengi dengan perubahan itu juga membuat setiap fasenya kita ikut berubah. Tau tau anaknya udah bias senyum, udah bisa balik kanan balik kiri, udah bias muter, udah bias nengkurep, udah bisa ngesot, udah bias ngerangkak, udah bisa jalan dikit, udah bisa jalan banyak, udah bisa nempel terus ke badan kita walaupun kita lagi riweuh masak depan kompor. Nah, penyesalan yang hadir adalah karena banyak hal yang harusnya bisa dilakukan saat anak kita lagi bobo, tapi jadi ngga dilakukan karena kita juga tidur! Ahaha.

Padahal itu mungkin karunia dari Allah supaya kita istirahat, jadi harusnya disyukuri aja yaa hihi.

“Dan kami Jadikan tidurmu untuk Istirahat.” (QS An-Naba : 9)

Kalo inget penyesalan saat tidur itu inget jaman kuliah, ketika lagi ngerjain laporan deadline besok tibatiba ketiduran,  ketika lagi ngapalin materi ber bab-bab itu tiba-tiba ketiduran. Hehe. Yaa, kira-kirasama lah rasa menyesalnya. “seharusnya bisa lakukan ini, lakukan itu.. bisa masak, bisa ini bisa itu..” Tapi sudahlah, kewarasan menjadi yang utama.

Contoh aktivitas yang sebaiknya bisa kita lakukan saat bayi kita bobo : Ngejemur pakaian di atas (pastiin Kasur aman), masak, nyapu, ngepel.

Saat anak bayi bangun  biasanya itu waktunya kita fokus sama bayi. Ngga fokus pun bayi pasti meminta fokus kita. Kalau bisa main sendiri ya syukur-syukur tinggal sambil diawasin, kalau ngga bisa, ya sabar aja ditempelin terus hihi. Bisa sambil beberes, nyetrika (kadang heboh ding kalau bayi udah mulai pegang sanaa sini, bahayaa).

Nah dari itu semua, tengah malam menjadi waktu-waktu berharga bagi saya, istilah kerennya Me Time. Bisa browsing sepuasnya, nulis sepuasnyakaya gini (perlu loh), beberes sepuasnya, ngepel sekedarnya #eh, dan banyak hal lainnya. Tentunya kalau ngga ketiduran dan ga cape banget yaa.. hehe..

Imbasnya, besok bisa bobo siang deh :p
Tidur pada saat siang terik juga suka dilakukan rasul loh, tapi sebentar sih hehe. Asik kan?

* * * * *

Nah apakah kebiasaan tidur saya sudah baik?
Nope.
  • Rasulullah tidur di awal waktu dan bangun tengah malam untuk “Me Time” nya.
  • Tidur siang sesaat sebelum dzuhur nya belum bisa diaplikasiin. haidar masih aktif-aktifnya. Bobonya abis dzhuhur biasanya jam 1
  • Karena bobonya suka tiba-tiba pas lagi nyusuin, kadang jadi lupa berdoa boro boro wudhu. Mungkin harus jaga wudhu terus dan saat nyusuin fokus
  • Karena sekarang udah punya partner buat ngingetin, harusnya hari ke hari makin baik ya!

Sekian :D
Senangnya bisa menulis ini, semoga ada manfaat yang bisa diambil ya
Selamat bobo cantik ibu-ibu sedunia. Semoga berkah selalu meliputi segala aktivitas buibu semua :D


5 Oktober 2016
Hajah Sofyamarwa R.
Di Meja Kecil Ruang Tengah Cibangkong


Monday, November 7, 2016

Resep Siomay Dimsum Ayam udang (Rumbel Boga IIP Bandung)

SIOMAY DIMSUM AYAM UDANG
Ala ala made by me 🍘🍣😘

Alhamdulillah bisa praktek langsung bareng buibu rumbel boga IIP buat bikin siomay ini.

Diajarin teh @vaniiits tuan rumah yang sempet banget bikin sesajen macem macem buat kita kita (zuppa2, kolek) haturnuhun ya teeeh 😘😋 Nah ini foto somay sebelum di kukus ya. Hasil stlh dikukus jadi agak transparan gitu kulitnya lucuu. Mau foto tapi keburu ludes di kukusan, trus blm disempetin aja nata somaynya hehe.
.
.

Bahan Kulit
🍡Kulit gyoza (bandung bisa dibeli di riau junction) harga 8950/20lembar
.
Bahan isian
🍡250 gram ayam giling
🍡2 sdm udang kupas
🍡Bengkuang potong kecil dadu
🍡Wortel potong kecil dadu
🍡 1 sdm bawang daun
🍡 bawang putih cincang
🍡 garam, gula
🍡 1sdm saus tiram
🍡 1/2 sdt minyak wijen

Taburi wortel parut sebagai pelengkap.

Saat mengukus, alasi kukusan dengan daun pisang ya biar ngga lengket kulit gyozanya. Ciprati kulit nya dengan air mateng.

#siomay #resepsiomay #cooking #dimsum #food

18 oktober 2016

Saturday, October 29, 2016

Pentingkah Dianggap Penting

Kadangkala sangat penting untuk dianggap tidak penting. Dengan itu ada jarak untuk merenung dan melihat apa yang sungguh-sungguh penting untuk dipikirkan, untuk dikerjakan, untuk diperjuangkan. Dengan itu kita memiliki jarak untuk melakukan hentian sejenak agar tidak terhanyut oleh pusaran arus gegap-gempita yang mudah melamurkan kejernihan mata hati kita. 
Ini penting! Sebab ketika sudah tak terbiasa menjumpai kejernihan, kadang orang sulit membedakan antara berpikir jernih dengan tidak punya sikap yang jelas. 
Mohammad Fauzil Adhim

Ah.. Itu dia.
Mungkin kita memang perlu jarak untuk merenung dan benar benar melihat kembali apa apa saja yang sungguh penting untuk dipikirkan, dikerjakan dan diperjuangkan.

Pernahkah kamu secara sengaja atau tidak, menganggap orang lain tidak penting ? Rasanya saya pernah. Ada kalanya memang karena tidak memerhatikan, ada kalanya memang kotornya diri yang membuat diri menganggap orang lain tak penting. Astaghfirullah.

Dalam hidup kita mungkin ada orang orang yang menganggap diri kita begitu penting. Entah tingkah laku kita, pakaian kita, cara kita berbicara, tulisan tulisan kita, pemikiran kita, perasaan kita, kesehatan kita bahkan isi perut kita. Tapi kemudian dia tak menjadi siapa siapa kita.

Atau justru ada orang orang yang begitu cuek dengan apa apa yang sebetulnya kau rasa penting buatmu, tapi ia menjadi seseorang yang membersamaimu. Lalu apakah itu salah ?

Ah, bukankah justru kini kau seharusnya menjadi sadar bahwa kau adalah hamba Allah yang bukan siapa siapa ? Bahwa ternyata penilaian makhluk lain yang bersama atau tidak bersama denganmu tidak punya pengaruh apa apa pada kehidupanmu?

Bukankah yang penting adalah fokus menjadi dirimu yang terbaik HANYA DI MATA ALLAH?

Sudahlah. Kalau belum bisa menjadi api, jadilah kayu kayu kecil untuk bahan bakarnya. Kalau belum bisa juga, jadilah minyak tanahnya. Kalau belum bisa juga, jadi lah sebaik baik angin yang nantinya membesarkan riak apinya. Tak usah minta pengakuan apa apa dalam menjalani peranmu.

Nikmati saja dulu jarak yang ada.

Sabtu, 29 oktober 2016
00.01
Margahayu raya

Sunday, October 23, 2016

Sajak Kita, kataku

Kita belum banyak membuat apa apa. Mungkin kita baru mengerjakan tugas masing masing, dan sesekali saling membantu. Mungkin juga kita belum banyak tahu apa apa yang seharusnya kita kerjakan untuk bisa saling merasa terbantu.

Kita belum banyak membuat apa apa, tapi kita akan berusaha membuat banyak hal. Kita akan dengan sempurna mengerjakan pekerjaan masing masing, dan begitu bahagia dapat saling membantu. Kita akan segera tahu apa apa yang seharusnya kita kerjakan untuk saling merasa terbantu.

* * *
Sendiri akan lebih cepat.
Berdua mungkin akan jauh lebih lambat, Namun berdua seharusnya bisa lebih jauh. Dan aku tahu, kita akan sadar, kita bisa.

* * *

Mungkin kata kata kita masih sering teredam untuk saling melindungi, betapa manisnya.
Namun kuharap kata kata kita bisa tetap bergema dengan tetap saling melindungi.

* * *

Harapan selalu membuat manusia menjadi lebih hidup. Ketiadaan harapan membuat manusia berjalan meredup.

Ada harapan di setiap kita untuk terus kita hidupkan. Hidup hidupkan. Perjuangkan.

Dan hidup kita menjadi lebih hidup.

Thursday, September 8, 2016

Pengalaman Belajar Membuat Bento

Alhamdulillah, di sela sela kesibukan domestik yang tak kunjung usai (hihi :p) Allah ijinkan saya untuk bisa bersilaturahim dengan komunitas IIP (Institut Ibu Profesional) wilayah Bandung Selatan.

Agenda kali ini membuat Bento untuk bekal makan anak. Kali ini narasumbernya teh ardha Dapur Si Kribo dan tuan rumahnya teh Ismi, yang berlokasi tepatnya di jalan Jupiter Utama, margahayu Raya.

Awal pertemuan menjelaskan tentang berbagai jenis alat yang biasa dipakai untuk menghias bento. Banyak juga alat perangnya, sekitar 1 box penuh dengan wadah wadah yang sudah diklasifikasi sesuai fungsi. Pemotong roti, puncher kertas untuk nori, cetakan nasi, dll.

* * *

Teknik membuat bento sangat beragam, kali ini fokusnya ada pada (1) membuat bola roti isi bentuk anjing (2) mencetak roti (3) membuat nasi kepal berbentuk kucing (4) membuat nasi kepal berbentuk orang (5) membuat tamagoyaki

(1) Membuat bola roti isi berbentuk anjing
Alat yang diperlukan : plastik biasa untuk membentuk roti.
Bahan : roti tawar kupas kulit, isian (bisa meses, oreo atau apapun), mentega untuk merekatkan,
Hiasan : mentega, meses, chocochips, koko crunch untuk kupingnya
Caranya cukup mudah.
1. Oles roti dengan mentega
2. Isi bagian tengah dengan isian
3. Roti "dibuntel" dibuat bola (haha apa ya istilahnya)
4. Dipadatkan ( hati hati harus agak cepat karena saat lama terpapar udara, roti jadi kering/ mengeras
5. Dihias dengan meses, chocochips, kokocruch. Sebelumnya dioleskan mentega supaya agak menempel

(2) Mencetak roti
Ini sih intinya belajar memotong roti tawar menjadi bentuk yang lucu-lucu. Rotinya bisa dioles mentega dulu, ditumpuk beberapa lapis supaya ngga terlalu tipis. Pakai alat cetaknya, jadi deh :)

(3) Membuat Nasi Kepal berbentuk Kucing
Disini kenalan dengan teknik mewarnai nasi. Kali ini pewarna nya pakai kecap aja. Hehe gunakan nasi yang panas ya supaya nasi mudah saling rekat.
Gunakan plastik biasa lagi, isi nasi warna coklat dan nasi putih, bentuk sesuai kreasi untuk jadi kepala kucing.
Jangan lupa lengkapi dengan 2 tangan dan 2 telinga.
Raut wajah kucing dapat kita buat dengan nori. Paling mudah pakai puncher, tapi kalau ngga ada, bisa pakai gunting. (Hasilnya agak menyon-menyon kaya punya saya sih hehe)
Karena norinya jadi kecil, mengatur posisinya bisa pakai pinset, atau tusuk gigi ya.

(4) Membuat nasi Kepal Berbentuk orang
Dengan cara yang sama, nasi dibentuk bulat menggunakan plastik. Untuk membuat poni dan raut wajah, gunakan nori yang telah dipotong.
Totolkan saus tomat supaya pipinya merona dan tambah imut-imut hehe.
Maafkan ngga ada gambar karena batere hp nya keburu wafat :"))

(5) Membuat Tamagoyaki
Telur dadar sih ini maksudnya hehe.
Supaya warna nya bagus rata sempurna, hanya gunakan kuning telur saja. Kalau tidak salah, butuh sekitar 6 butir telur agar gulungan tamagoyakinya cukup besar. (Pikirkan saja nanti putih telurnya mau diapakan yaa.. hihi) boleh sih kalau mau dengan putih telurnya juga, tapi mungkin warna nya akan jadi beda.
Caranya : kuning telur, ditambah air 1 sendok, aduk perlahan dengan sendok supaya tidak berbusa.
Saat menggoreng, pastikan lapisannya tipis. Lalu digulung2. Dan diulang terus sampai besarnya sesuai yang diharapkan.
Tamagoyaki ini tadinya mau dibentuk love, tapi karena udah sisa2 jadi ceritanya saya bikin syal aja buat si meong ya hehe

Bahan Pelengkap
1. Nugget goreng
2. Mie
3. Selada
4. Brokoli kukus
5. Wortel kukus
(Untuk lauk dan sayurnya. Sekaligus supaya isi bento lebih beragam, dan lebih padat terisi)

* * *
Sekian catatan pribadi saya untuk mengingat materi yang diberikan, sekedar sharing dan khususnya supaya saya pribadi tidak lupa juga hehe.

Evaluasi saya : harusnya ngambil lauknya lebih banyak! Hihi. Terlalu heboh sama hiasan lainnya. Karena pas malem dimakan, rasanya sayang (da lucu), tapi juga jadi awkward karena itu nasi kepal lauknya lupa cuma nugget sebiji. Hihi.
Dan untuk rasa, bisa juga deh ditambah garam saat membuat nasi kepal. Onigiri juga kan pake garem ya? Biar ngga hambar aja sih. Hehe.

* * *
Hari ini aku belajar bahwa membuat bento itu gampang gampang susah. Dan menariknya, kadang keperfeksionisan kita dalam suatu hal mungkin akan berkurang standarnya, ketika jam sudah menunjukkan waktu anak2 butuh perhatian lebih orangtuanya. Hihi.

Kebayang, karena ibu ibu ini belajar bikin bento, sambil ngasuh anak. Banyak iklannya. Entah anaknya pengen nyusu, tetiba nangis pas lagi main sama yang lain, tetiba nangis karena sadar bundanya lagi fokus bikin bento, ngantuk jadi rewel, makanin mesesnya sampai tumpah tumpah, daaaan lain lain. Hehe

Alhamdulillah.
Lumayan juga belajar bikin bentonya dari jam 10 sampai jam 1 siang. Kalo 3 jam bikin bento buat bekel, kayanya anaknya udah keburu pulang sekolah tanpa bawa bekel ya. Hihi

Semoga anak anak kita doyan makan sayur, makan yang sehat sehat yaa :))

Semangat belajar terus ya buibuu :D

Selasa, 6 September 2016
Margahayu Raya

Isian roti tawar : meses dan mini oreo
Roti bentuk anjing masih berbentuk. Agak siangan dikit udah diremes haidar hihi
Teh Ardha (jilbab biru) sedang membagikan kotak bento. Suasana sebelum perang dimulaai. Para balita masih anteng main di ruang sebelah, sebelum akhirnya menginvasi emak emaknya hehe.
Eh dipotoo hehe. Menjelang jam 1 siang haidar mulai ngantuk, harus dimimi in dulu sambil gendong. Emaknye lanjut ngehias bento hehe
Foto bersama emak emak tangguh! :)

Tuesday, August 30, 2016

Ketika Anak Sakit (Part 2)

Tepatnya tanggal 3 agustus 2016, setelah kemunculan gigi seri kedua mu.

Entah kenapa tetiba badanmu panas, demam tinggi hingga sekitar 39 derajat celcius. Sudah lewat ambang batas (38.5) maka segera diberi parasetamol. Tapi suhu badanmu tak kemudian turun. Maka selalu berharap akan ada penurunan suhu setelah periode minum obat selanjutnya.

Mungkin demam karena tumbuh gigi.
Ya mungkin. Kau pun mendadak buang muka setiap kali waktu makan, kecuali suapan yang tanpa sadar kau terima.

Dini hari tanggal 7 agustus 2016
Suhu tubuhmu begitu tinggi. Terpikirlah untuk membawamu ke IGD. Tapi, Haruskah? Terlalu berlebihankah? Memang nanti akan diapakan di IGD?

Setelah menyiapkan beberapa hal, 2 gojek datang membawa ayah dan bunda ke RS Pindad. Rumah sakit terdekat dari sini. Suhumu 39,6 berarti kami tidak berlebihan membawamu kemari. Hamdallah hasil cek darah baik, tidak menunjukkan adanya demam berdarah atau semacamnya.

* * *

Sakitmu berlanjut disertai batuk dan pilek. Demamnya terjadi hanya pada malam hari, dan siang bisa ceria lagi :")
Terasa sekali perbedaannya :")

Bersyukurlah banyak yang sayang padamu, nak. Kakek dan nenek buyut mu sampai memaksakan untuk tidur di ruang tengah kontrakan kita, untuk turut menjagamu. Namun pada masa sakitmu ini, bunda ingin haidar lebih dekat dengan ayah dan bunda dulu saja :) biar agak sedikit begadang 2 malam. Kami juga tak ingin kakek nenek uyutmu sakit dengan memaksakan diri untuk tak tidur juga.

Alhamdulillah, 2 hari setelah itu haidar sudah sehat kembali, sisa pilek, dan kemudian sehat total.

* * *
Sekarang sakitnya gantian bunda ya hihi
Bundanya harus makan yang bener biar fit 😄

Friday, August 26, 2016

Ketika Anak Sakit (Part 1)

Saya itu (dulu) kalau ada ibu ibu yang bilang anaknya sakit, rasanya biasa aja. Apa empati saya minus? :/

***
Yap, seseorang bertindak atas apa apa yang ia miliki. Ketidaktahuan akan suatu hal biasanya akan membuat ia lalai, abai, atau bahkan tidak peduli. Pengetahuan menjadi salah satu ukuran awalnya.

Dulu saya belum tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, tepatnya menjadi seorang ibu yang anaknya sedang sakit. Ditambah saya sendiri termasuk orang yang memang cuek dengan penyakit pribadi. Jadi ya, saya ngga paham gimana rasanya.

Tapi baru 11 bulan jadi ibu baru, akhirnya saya bisa paham. Hehe.

Demam, batuk, pilek, termasuk "penyakit langganan" buat anak bayi. Termasuk salah satu mekanisme tubuh untuk kemudian hari dapat lebih kuat (melatih sistem imunnya). Biasanya anak bayi demam pasca pemberian vaksin, atau saat terpapar kerabat/sanak saudara/lingkungan sekitar yang memang membawa kuman.

Kalau haidar, paska vaksin juga mengalami demam. Tidak selalu, mungkin sekitar 3 kali. Demamnya pun tak terlalu tinggi. Beberapa kali juga haidar sempat batuk pilek, juga demam. Yang terakhir sejak tanggal 4 agustus lalu, yang demamnya tinggi sekali (39.6) sampai ayah bunda harus ke IGD jam 1 pagi.

Lalu apa efeknya bagi sang ibu ?
Pakai logika aja jah, hihi.
Pengasuh utama anak bayi adalah ibu dan ayahnya. Ketika bayi sakit, maka ibu harus ekstra memberi perhatian pada bayi nya. Kebanyakan bayi yang demam akan selalu merasa nyaman digendong, nempel terus gabisa dilepas. Kadang juga ngga mau menyusu, dan jadi semakin ngga nyenyak tidur. Bahasa singkatnya : rewel. Iya, badannya ngga enak. Jadi ingin didekap terus. Sementara di rumah banyak pula yang harus dikerjakan sang ibu. Entah bebersih, memasak, dll. Endingnya mungkin rumah tetep berantakan. Hihi. *minta bantuan ayah*
Memberi makan pada diri sendiri dan mandi aja kadang keteteran banget. Hehe.

Yah ternyata begitulah.
Episode anak sakit bagi seorang ibu itu sangat berarti. Salah salah kalau sang ibu juga kondisinya lagi ngga fit, bisa ikut sakit juga. Terus ngerembet lagi ke ayahnya. *curhat*

***
Ternyata perempuan sejak single itu emang harus sehat, bugar, punya pola hidup sehat. Karena pas udah double, triple dst yang diurus udah bukan badan sendiri aja. Kalau badan sendiri keteteran, gimana bisa maksimal ngurus yang lain?

Dan sodara sebangsa setanah air, Yang mungkin pernah punya pemikiran kaya saya di awal, ini saya kasih sedikit bocoran. :) mudah mudahan lebih tercerahkan ya :) ngga berarti empatinya minus kok, kan namanya juga ngga tau. Hehe

#selfnote

Thursday, August 25, 2016

Menjadi Ibu Baru : Belajar Membeli Pakaian Bayi

Banyak yang bilang, menjadi ibu itu dapat mengubah kehidupan seorang perempuan menjadi berbalik 180 derajat. Dulu saya tak memahami itu sampai akhirnya saya menjadi seorang ibu.

Tanpa bermaksud berlebihan, ketika seorang anak lahir sebetulnya seluruh peran orang-orang di sekitar anakpun ikut berubah. Tak hanya seorang yang menjadi ibu, tapi juga ada seorang yang menjadi ayah, menjadi nenek kakek, juga menjadi om tante. Perubahan terjadi pada semuanya dan semuapun ikut belajar menjalani peran tersebut, hanya saja, perubahan yang paling terasa tentu menjadi orangtuanya. Kalau saya banyak cerita tentang ibunya, ya wajar kan ceritanya ini curcolan saya sebagai ibu ibu #eh

Di tengah pembelajaran masing masing menjalani perannya, saya sebagai ibu memang merasa banyak hal yang jauh berubah. Lebih banyak di rumah, dan dunia kita memang seputar anak kita. Ada masa-masa dimana kita merasa terlalu letih, dan ada pula masa-masa kita begitu bahagia. Ada masa-masa konyol, ada pula masa-masa heroik yang harus terlewati. Begitulah.

Tetang membelikan bayi pakaian baru, misalnya. Saya ingat ketika pakaian bayi haidar sudah mulai kekecilan. Saat itu bertepatan dengan masa lebaran. Saya kebingungan tentang : beli nya dimana ya ? Babyshop atau pasarbaru/itc dll ? Mana yang lebih bagus? Mana yang lebih murah ? Mau beli online tapi ngga puas kl buat bayi pengen megang barangnya langsung.
Akhirnya saya ke itc bandung, dan putar2 belanja sambil gendong haidar.

Haidar masih 8 bulan saat itu, dan pikiran saya dipenuhi foto2 bayi mungil yang berkostum seperti abege (liat yang lucu2 di instagram hehe). Maka pencarian saya adalah baju baju semacam kemeja, celana jeans, dll. Bahkan seset celana joger motif army yang sebetulnya baru bisa dipakai di usianya yang ke 1, 2, dan 3.

Tapi beberapa hari lalu, saat menyadari bahwa haidar akan berusia 1 tahun, yang mana ngga lama lagi haidar akan menjadi besar (dan tidak bayi lagi), maka saat ke babyshop saya membelikan pakaian yang modelnya bayi banget. Semacam, "aaa tidaaaak, haidar udah mau gedee!"

Konyol sih. Tapi ya memang masa masa bayi itu kadang terasa lama dijalani dengan segala rutinitasnya. Tapi benar, masa bayi itu sangat singkat, dan harus dijalani dengan penuh syukur dan kesadaran penuh. Ujug ujug udah gede aja nanti teh kerasanya. Hehe.

Begitulah, salah satu kedodolan bunda. Anak bayi mau digede gedein. Udah mau gede malah di bayi bayi in. >.<

Hanya Allah sebagai penuntun kita menjadi sebaik baik orang tua.

Kamis, 25 Agustus 2016
Subuh 05.22 ketika ayah sedang dinas ke surabaya
Tuh kaan, tanggal 8 September udah bentar lagiii :O

Wednesday, July 20, 2016

Pengalaman Menyusui

Setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing. Ringan bagi yang satu, belum tentu ringan bagi yang lain. Berat bagi yang satu, belum tentu berat pula bagi sebagian orang yang lain.

Maka benarlah. Bukan kondisi yang membedakan para manusia, melainkan bagaimana cara mereka menghadapinya.

* * *
Menjejak babak baru dalam kehidupan saya sebagai istri sekaligus ibu, masih tak lepas dari berbagai macam "kekagetan" yang saya rasakan. Biasanya saya dapat menuliskan/menggambarkan apa - apa yang saya rasakan paska mengalami suatu kejadian. Sedikit rehat dan berkontemplasi, muncullah sebuah tulisan --entah di blog atau di dalam diary. Namun menjadi istri sekaligus menjadi ibu, --jujur-- menggambarkan apa yang dirasa menjadi terlalu sulit diungkapkan.

Sudah 10 bulan 10 hari saya menjadi ibu dan saya masih merasa seperti itu. Tak apa, syukuri saja. Banyak di luar sana yang mengalami "rasa-rasa" lain, yang saya tak pernah bayangkan bila harus terjadi pada saya. Tak sedikit ibu  paska melahirkan mengalami baby blues, post partum depression. Sensitif sekali kalau bahas itu, saya sendiri tak punya kapasitas membicarakan itu. Yang pasti mari kita doakan agar semua ibu di dunia ini mendapatkan berkah dari pengalaman pengalamannya.

Tentang ASIX
Haidar sudah lulus ASI ekslusif selama 6 bulan. Begitu banyak kampanye ASI eksklusif digaungkan, mendukung Bunda Bunda supaya bersemangat dan "keras kepala" untuk tetap menyusui. Maka kini lazim sekali ASIP (ASI Perah), ibu ibu bekerja juga tetap berupaya memberi yang terbaik dengan tetap memompa ASIP untuk anaknya. Ibu ibu yang tak bekerja di luar rumah "dengan mudah" menyusukan bayi nya langsung. Alhamdulillah. Meski begitu, tantangan selalu ada. Ada yang ASI nya lancar, ada yang dengan indikasi medis perlu tambahan sufor, ada yang sama sekali hanya sufor karena hamil lagi, dll.

Tantangan menyusui yang lainnya juga masih banyak. Entah susah posisinya, entah ada kelainan, entah puting ngga keluar,dll. Itulah hidup, kadang bukan sekedar perkara mana yang terbaik, melainkan pula mana yang cocok untuk kondisi masing masing. Tenang saja.

PENGALAMAN MENYUSUI HAIDAR
Usai operasi sesar, saya hanya bisa berbaring. Menyusui pertama sebisanya, karena miring badan saja sulit. Puting belum "keluar" sampai harus "ditarik" dengan suntikan besar (tanpa jarum dong). Awal awal cuma berhasil kalau menyusu sebelah kiri, sebelah kanannya masih sulit.

Saat sudah bisa duduk, tantangan lainnya saya kena sakit pinggang, ada wasir pula, plus posisi nya masih kagok. Belum lagi, kita masih sensitif banget. 1 bulan sakittt banget rasanya. Lewat sebulan udah mulai nyaman. Awal-awal selalu menyusui dengan duduk, tapi setelah tahu bahwa sambil tiduran itu bisa, sampai saat ini malah seringnya tiduran. (Sambil sering ikutan ketiduran :") hehe

Seminggu pertama, kalau malam haidar bangun sekitar 4x, setelahnya kira kira hanya 2-3x. Alhamdulillah.

Sebulan awal, bayi tidur terpisah dengan saya karena kendala kasur yang kurang besar. Saya masih bisa rajin bangun, berdiri, gantiin popoknya, nyusuin, dan tidur lagi. Sebulan setelah itu, kalau bayi bangun minta asi, saya cuma bangun dikit sambil ngasi mimi, dan skejap tidur lagi. Hehe

Karena saya ngga kerja di luar rumah, maka haidar menyusu langsung sampai saat ini. Pernah beberapa kali saya harus pumping karena keluar rumah untu kwaktu lumayan lama (6jam) dan haidar nyusu pakai botol dot pigeon niple plus. Pumping pertama sebetulnya sejak sepekan setelah lahiran sih. Karena haidar harus difototerapi karena sempat kuning. Masih kagok, wajar.

ASI BANYAK, ASI SEDIKIT
Perhatian, Ibu-ibu menyusui itu sangat sensitif dengan perkataan "itu asi nya adaan ga?", "Asi nya banyak ga?" "Meni kempes", dll. Menohok.

Kata kata semacam itu ngga membuat keadaan menjadi lebih baik. Maka sebaiknya daripada bicara hal semacam itu, lebih baik bawakan saja ibu ibu menyusi dengan berbagai makanan dan minuman bergizi guna memperlancar produksi ASI. Hehe

Ada masanya, ASI terasa begitu banyak,  ada juga masanya ASI kita juga sedikit.
Saya juga ngalamin (salah satunya sekarang, makanya nulis ini panjang pisan prolognya) hehe

Nasihat untuk tetap positif terkadang klise dan terlihat ngga akan menambah kecepatan produksi asi kita, tapi bener deh, emang harus begitu. Pikiran positif, sambil minta dipijet, dan makan minum yang banyak.

Sekian dulu cerita malamnya. (Hah udah jam 00.21!)
Semangat ya ibu ibu menyusui, perjuangan masih panjang dan mengejutkan :D

Kesimpulan saya saat ini, kalau ada kampanye #pejuangASI, perlu ada juga pejuangMPASI, karena ternyata bagi saya, masa MPASI bayi itu, lebih sesuatuu :"""

Next ngobrolin MPASI yaa
Ngga ngobrol sih, curcol kali ya.

Lanjut menjahit lagi :D

Selasa, 19 Juli 2016

Sunday, July 17, 2016

Menjahit Bantal Kojo

Cara seorang lelaki memperlakukan istrinya menunjukkan bagaimana dirinya.

Saya sering malu sendiri kalau sedang diingatkan oleh suami. Saya yang masih amatir mengurus rumah dan segala keperluan beliau, sangat sering lalai, hingga suami yang rajin ini harus turun tangan pada akhirnya.

Entah kelupaan angkat jemuran, lupa cuci keset, lupa tutup pintu dan menguncinya, angkat jemuran ngga dilipet, lupa ngga ngepel, lupa beresin bekas pel, baju yang harus dijahit masih ngantri, lupa matiin air bak, lupa lagi ngegoreng, dan lain lain.

Suami dididik keras untuk bisa melakukan banyak pekerjaan rumah dengan level perfeksionis. Beda dengan saya waktu masih gadis, bisa tapi TIDAK TERBIASA DAN DIBIASAKAN. Padahal yang namanya pekerjaan domestik rumah itu butuh komitmen dan konsisten tingkat tinggi. BISA saja tidak cukup, harus TERBIASA, dan MAU MEMBIASAKAN DIRI. hehe

* * *

Ini waktu suami lagi menjahit bantal “kojo” nya yang sudah sobek. Aduh, saya kelupaan belum nyempetin terus, selama ini cuma dibungkus pake sarung bantal 2 lapis supaya kapuknya ngga mabur 😅😅😩 Sampai saat kapuknya mabur pas mau dipake suami, akhirnya beliau turun tangan. Kubilang aku aja yang jahit, tapi bliau kekeuh. Kekeuh dengan sikap terbaiknya. Kesal dalam hati tapi tetap menunjukkan sikap terbaik bagai orang tak memendam kesal.

Ah..
Terimakasih untuk selalu bersikap baik meski harus sabar menghadapi istri amatir ini 🙏🙏

* hasil jaitannya, lumayanlah, ketutup kok. 😂 Hihi. Dalam hal bersih2, suami lebih jago. Hehe.

Monday, June 13, 2016

Mengaji dengan Niat Melakukan Amalan Terbaik

Banyak sekali yang ingin kutulis, tapi.. ah.. mari memulainya dari sesuatu yang mungkin bermanfaat :)

* * *

Sungguh malam ini hatiku bahagia sekali setelah duduk mengaji walau aku sangat lelah. Mengaji itu pupuknya hati dan akal, ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan iman kita di era hebat ma’siyat ini.” - Ust. M Arifin Ilham

Sebuah kutipan singkat dari salah seorang kakak sealmamater yang orangnya lucu tapi sangat meaningful. Entahlah, saya juga jarang berinteraksi dengan beliau lagi, tapi saya masih bisa merasakan kedalaman makna yang beliau pancarkan lewat tulisan tulisannya.

Ramadhan sudah hari ke-delapan. Begitu cepat, sungguh, bahkan sampai saya tak sempat menulis sepatah dua patah kalimat sambutan di blog berdebu ini.

Ramadhan kali ini, Allah karuniakan pada kami anggota keluarga baru. Haidar sudah 9 bulan saja, tak terasa. Amanah sebagai seorang istri, serta ibu, menjadi tantangan tersendiri bagi saya pribadi.

Kelompok halaqah kami punya target harian di bulan ramadhan ini. 2 kali khatam, berarti persebarannya 2 juz perharinya. Tantangan tersendiri, apakah saya bisa mencapainya dengan amanah saat ini ?

Seharuanya bisa. Tak lebih dari 3 jam seharusnya. Tapi saat ini jujur saya masih belepotan mengatur pekerjaan domestik rumah tangga. Hehe. Dan salah satu godaan lain adalah mengurusi online shop hehe.

Ah seharusnya tetap bisa. Banyak yang sudah bisa membuktikannya.

***

Namun perbincangan dengan paksuami, dan diskusi ringan di grup watsap halaqah kami membahas tentang amalan yang terbaik (ahsanu amala), Bukan amalan terbanyak. Bisa dilihat pada surat al-Mulk ayat 2, surat yang sejak 3 bulan lalu saya masih stuck menghapal disini :"" *parah*

"...Supaya Dia mengujimu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya..." (TQS AL-Mulk 67:2)

Menurut Muhammad bin ajlan dari kutipan dalam buku tafsir ibnu katsir, "Yang paling baik amalnya. Dan allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya."

Sejak dulu saya juga punya targetan tertentu yang dikejar, misal dulu hanya 1 juz perhari saja. Namun seiring berjalannya waktu dan pemahaman, target penting untuk standar diri kita pribadi, namun kualitas harus dipikirkan juga.

Kalau kita mau setiap ramadhan selalu lebih baik dengan "hanya" meningkatkan kuantitas tilawah kita, mungkin 30 tahun lagi, target kita 30 juz perhari alias 30 kali khatam?
Untuk apa? Tak diijinkan karena memang pasti kita akan melalaikan kewajiban kewajiban lain. Islam mengajarkan keseimbangan.

Membaca tanpa memahami, kira kira apa dampaknya untuk kehidupan kita?

***
Saya pribadi masih banyak peer.
Bacaan masih harus diperbaiki
Hafalan masih belum komitmen.
Pemahaman quran juga masih sangat minim.

Semoga kita bisa meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita dengan shaum, meningkatkan pemahaman dan kecintaan kita terhadap quran di bulan ramadhan. (Seperti yang ust. Nouman ali khan sebutkan dalam status fb nya)

Sabtu 18 juni 2016
Diselesaikan pada ramadhan hari ke 12

Saturday, May 21, 2016

Materi Matrikulasi #1 Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga (Part 1)

[Materi Matrikulasi #1 Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga]

Materi disampaikan oleh Bu Septi Peni Wulandai dalam Kuliah WhatsApp Grup Matrikulasi Batch 1, pada Senin, 9 Mei 2016 pukul 20.00 – 21.00 WIB.

Salam Ibu Profesional,

Selamat  datang di program Matrikulasi Ibu profesional.
Di sesi pertama ini kita akan membahas tentang 4 hal :
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?
Apa itu Ibu Profesional?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna: 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami; 3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota.

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna: 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang : a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh–sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa itu Komunitas Ibu Profesional?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan yang paling unggul di Indonesia.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana tahapan-tahapan menjadi Ibu Profesional?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :

a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Apa indikator keberhasilan Ibu Profesional?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA"

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena customer kita adalah anak-anak dan suami. Maka yang perlu ditanyakan adalah :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?
Anak Tangga Ibu Profesional
Anak Tangga Ibu Profesional. Sumber:

Pertanyaan-pertanyaan

#1 Apakah mandiri secara finansial itu suatu keharusan?
Jawaban:
Makna produktif di Ibu Profesional tidak selalu bermakna dengan uang. Bisa produktif berbagi ilmu dan karya. Hanya secara fitrah ketika kita sudah profesional menjalankan peran hidup kita, maka uang itu akan mengikuti kita, bukan kita yang mengejar uang.
Maka kemandirian finansial menjadi salah satu pendukung (bukan satu-satunya) proses terwujudnya rasa percaya diri seorang ibu. Ibu yang PD akan mendidik anaknya jauh lebih baik.

#2 Step pertama apa yang mesti dilakukan untuk melangkah menjadi ibu profesional?
Jawaban:
Lakukan perubahan sekecil apapun yang bisa kita lakukan. Materi sekeren apapun kalau tidak dipraktekkan, akan sia-sia, karena tidak akan membumi dan menjadi amalan kita

#3 Bagaimana kita menemukan misi hidup spesifik? Menurut yang saya pelajari, misi hidup tersebut lebih ke aspek batin atau spiritual dibandingkan aspek sosial ekonomi. Meskipun tidak menampik adanya pengaruh ke arah dua aspek tersebut jika kita telah menemukannya. Mohon pandangan ibu.
Jawaban:
Dalam hidup ini tidak ada yang terpisah-pisah antara aspek batin, spiritual, sosial dan ekonomi, semua menjadi satu kesatuan. Orang yang sudah menemukan misi spesifik hidupnya itu akan paham apa maksud Allah s.w.t menciptakan dirinya di muka bumi ini. Sehingga seluruh perjalanan hidupnya adalah perjalanan menuju DIA. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya tidak perlu heboh mencari peluang, peluanglah yang akan datang padanya.

#4 Apakah memang harus berurutan?
Jawaban:
Apabila belum memiliki anak, mulailah dari bunda cekatan, kalau sudah punya anak, langsung ke bunda sayang. Setelah itu lanjut ke bunda produktif dan shaleha. Karena ini merupakan anak tangga Ibu Profesional, maka sebaiknya dikuatkan setahap demi setahap, agar mendapatkan pijakan yang kuat.

#5 Bagaimana jika ingin menjadi seorang ibu profesional tapi kurang dukungan dari suami?
Jawaban:
Bunda, perempuan itu makhluk luar biasa, diberikan berbagai kekuatan ganda, jadi apabila suami tidak mendukung, tetap berjalanlah dan JANGAN BERHENTI.
Dengan catatan : selama suami tidak mengganggu perjalanan anda sebagai Ibu Profesional, lanjutkan. Tapi kalau mengganggu segera selesaikan dulu rintangan ini.
Setelah anda berjalan, segera mendekatlah ke Yang Maha Membolakbalikan hati. Agar suami kita mau mendukung perjalanan kita mendidik anak. Karena berdasar pengalaman, istri yang tidak didukung suami, akan tetap menjalankan aktivitas mendidik anak dengan BAIK, berbeda apabila kondisi sebaliknya.
Sedangkan  keluarga yang suami istri mau berjalan bersama beriringan, bisa mendidik anak dengan SANGAT BAIK. Sehingga pilihannya hanya dua BAIK dan SANGAT BAIK

#6 Bila berbicara tentang komunitas terkadang secara tidak langsung terbagi menjadi ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Yang ibu bekerja kebanyakan jadi terfikir untuk resign demi perkembangan anak anak nya. Bagaimana di iip memandang ini bu?
Jawaban:
Di Ibu Profesional hanya ada satu ibu yaitu IBU BEKERJA. Ada yang memilih BEKERJA DI RANAH DOMESTIK dan ada yang memilih BEKERJA DI RANAH PUBLIK, dua-duanya memerlukan keprofesionalitasan. Sehingga harus mengikuti pijakan-pijakan yang ada.
Ibu yang memilih bekerja di ranah domestik harus menguatkan bunda sayang dan bunda cekatannya sebagai pijakan masuk ke ranah publik dengan dasar ilmu bunda produktif dan bunda shalehah.
Ibu yang memilih bekerja di ranah publik, harus menguatkan bunda produktif dan bunda shaleha dengan benar, agar bisa dengan cepat  mengejar ketertinggalan di bunda sayang dan bunda cekatan.

#7 Ketika ada ibu profesional, bagaimana dengan ayah profesional?  Bagaimana dengan keprofesionalan ayah dalam keluarga?
Jawaban:
Jangan pernah menuntut ayah, karena fitrahnya laki-laki baik-baik itu untuk perempuan baik-baik. Pasangan hidup adalah cermin bagi kita, ketika kita mendapati suami "tidak sesuai harapan" jangan buru-buru menuntut, itu pertanda kualitas kita juga sama. Maka pakai prinsip :
"For Things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST"
Untuk mengubah seseorang, maka ubahlah diri kita terlebih dahulu. Istilah di Ibu Profesional, "proses memantaskan diri'. Jangan pernah berhenti di ranah ini, karena Allah tidak akan rela memberikan kita pasangan hidup yang tidak mau berubah ketika kita terus berubah.
Apabila ingin mengajak para ayah, buatlah aktivitas keluarga, jangan diminta sang ayah menyendiri mencari komunitas sendiri.

#8 Saya sudah menemukan minat dan bakat dan sudah merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat ini tetapi saya tidak tau bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita saya....bagaimana saran ibu?
Jawaban:
Hanya ada dua kata KONSISTEN dan KOMITMEN. Menurut penelitian para ahli, seseorang akan menjadi ahli itu apabila sudah mencapai 10.000 jam terbang. maka tetapkan mulai besok, sehari akan mendedikasikan waktu kita untuk ranah minat dan bakat ini berapa jam?, berkomitmenlah bahwa 10.000 jam terbang anda akan raih selama berapa tahun? setelah itu konsisten di satu hal, jangan berganti-ganti.

#9 Untuk Bunda Sayang, bagaimana menilai bahwa anak bangga dan suka dididik oleh ibunya? Karena yang saya lihat satu anak (7th) seperti menurut agar tidak kena marah, dan yang satu (5th) seperti tidak mau mendengar apa yang saya sampaikan untuk kebaikannya.
Jawaban:
Lihatlah respon mereka, dan IQRA', pertajam hati untuk membacanya. Karena kondisi di atas artinya "komunikasi kita ke anak" belum clear. Maka perkuat materi komunikasi produktif.

#10 Apakah ini merupakan sebab akibat bu? Kalau suami tidak mau / tidak bisa / tidak mampu banyak terlibat, apakah cara ibu ini belum benar / banyak kekurangan dalam mendidik anak-anaknya?
Jawaban:
Tergantung tipe apa suami kita. Kalau tipe suami itu hanya mencari nafkah dan urusan rumah adalah urusan istri, maka semakin kita tidak mampu mendidik anak, semakin tidak ingin terlibat, karena merasa menambah beban pikiran dia. Akhirnya cuek dalam kegalauan. Tapi kalau suami tipe  "family man", melihat istri tidak mampu mendidik anak, akan semakin ingin melibatkan diri bahkan mendidik kita.

#11 Dan siapakah sebenarnya yang harus mulai terlebih dahulu, apakah memang mesti dari seorang ibu dulu?
Jawaban:
Karena anda yang melahirkan, maka jangan pernah bergantung pada siapapun dulu untuk mendidik anak, meski itu suami kita. Andaikata suami kita mau terlibat itu bonus keberkahan yang luar biasa.

#12 Bagaimana cara mendidik anak-anak jika kita masih tinggal dengan mertua yang kadang ada bedanya dalam mendidik anak, anak jadi banyak pola asuhnya.
Jawaban:
Bunda berdiskusilah terus dengan mertua untuk menemukan titik temu pola pendidikan antara kita dan mertua kita. Tentukan mana ranah yang prinsip tidak bisa diubah, dan mana ranah yang fleksible menyesuaikan kondisi. Seringlah ajak ibu mertua berkegiatan bersama, sehingga masing-masing akan saling memahami.

#13 Bagaimanakah cara single mom bisa menjadi ibu profesional? Dan bagaimanakah efek ke anak? Apakah bisa tumbuh seperti umumnya?
Jawaban:
Saya dibesarkan oleh seorang single mom, ayah meninggal saat saya usia 8 th. Ibu menjadi sosok yang sangat tegar saat itu. Perempuan memang ditakdirkan untuk memiliki energi dobel. Sehingga pintar-pintarlah memanage energi tersebut. Logika harus seimbang dengan perasaan. Kemudian untuk peran ayah, ibu saya dulu mendekatkan saya ke pakdhe/ om dari jalur ibu, agar sosok ayah tidak hilang dari kehidupan saya. Alhamdulillah sampai hari ini semua berefek positif.

#14 Bagaimana mengaplikasikan bunda sayang karena yang dirasakan ketika anak bertambah dan semakin besar sepertinya lebih sulit untuk membuat anak bangga dengan didikan ibunya?
Jawaban:
Kuncinya tidak boleh BERHENTI mengaplikasikan sebisa yang kita mampu. Teruslah berjalan, karena tugas kita hanya ikhtiar, hasil itu hak Allah. Jangan terganggu oleh perasaan, saya merasa, sepertinya, katanya dll. Pastikan apa yang bunda jalankan sudah ON Track, maka jangan berhenti meski anak kita makin besar. Karena nanti PR makin banyak dan waktu tidak bisa diputar ulang. Pengalaman saya bunda sayang itu cukup efektif di kisaran usia anak 0-12 th, setelah itu bunda bisa masuk ranah produktif dengan tenang dan bahagia.

#15 Mungkinkah seorang ibu merasa sudah menjalani hal-hal pada tahapan Bunda Sholeha tapi dia merasa ada beberapa hal pada tahapan bunda Cekatan yg belum di kuasainya. Bagaimana pendapat ibu?
Jawaban:
Sangat mungkin, indikatornya apa? Biasanya ada yang tidak seimbang dalam perjalanan kita di Bunda Shaleha. Mulai dari memanage waktu, struktur berpikir, mempolakan aktivitas dll. Kalau menjumpai kondisi ini, lebih baik mundur dulu sesaat untuk membenahi management diri kita di bunda cekatan, setelah itu ambil start lagi dengan persiapan matang untuk bisa mencapai finish di bunda shaleha.

#16 Menjadi ibu profesional sangat saya dambakan dari dulu, materi sudah didapatkan, sering ikut kuliah tapi saya merasa belum profesional juga malah bingung mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan biasanya satu materi dipraktekan, belum selesai saya ganti lagi materi yang lain karena sepertinya penting dan harus segera dan begitu seterusnya. Yang saya dapatkan justru saya merasa setengah-setengah. Bagaimana mengatasinya ya bu dan butuh berapa lama kira-kira kita konsisten dengan satu materi.
Jawaban:
Disini pentingnya membuat checklist profesionalisme perempuan yang jadi NHW #1 kita. Artinya ada skala prioritas yang harus kita kerjakan satu persatu. Mulailah dari yang mudah terlebih dahulu baru beranjak ke tingkat kesulitan yang makin tinggi. Cara menilai adalah per minggu. Misal materi komunikasi produktif, anda akan mulai dengan pekan ini belajar "the power of question" ke anak-anak. Maka lihat bagaimana perkembangan komunikasi anada pekan ini dengan pekan lalu? terus tambahkan hal baru lagi setiap saat.

#17 Saat ini banyak bermunculan komunitas belajar perempuan yang sedikit banyak memiliki kemiripan dengan IIP. Berkaitan dengan visi ibu profesional diatas, apakah ada rencana masa depan untuk membuat program bersama/bersinergi dengan komunitas pendidikan perempuan yang lain bu? Dan adakah bayangan bentuk kolaborasinya seperti apa?
Jawaban:
Alhamdulillah makin banyak komunitas yang tumbuh, bersinergi itu kunci utama teh, selama masing-masing komunitas memiliki core value yang hampir sama. Bentuk kolaborasi yang sangat memungkinkan adalah membentuk jejaring dalam bentuk Community Based Education for Woman. Bahkan saya sedang membayangkan hadirnya Woman University di Indonesia. Ini perlu jejaring.

Nice HomeWork #1 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga, pekan ini silakan membuat: CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN.

Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya.
Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri. Indikator harus:
- SPESIFIK (unik/detil),
- TERUKUR (contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- Bisa diraih
- Berhubungan dengan kondisi permasalahan sehari-hari dan ada BATAS WAKTUnya.

Siapa yang akan menilai?
- Diri kita sendiri
- Anak-anak
- Suami

(Bersambung)
Copas dari postingan teh shanty dewi arifin di grup institut ibu profesional bandung

Telur Dadar Kecap dalam Pernikahan

Setiap orang punya caranya masing masing dalam menjalani hidup.

Boleh tahu telur goreng macam apa yang kamu sukai ? Hihi prolognya so' serius amat ya, padahal saya cuma mau ngomongin telor dadar :"

Saya biasa makan telur dadar yang dikocok bersama penyedap, kecap manis dan saus sambal. Warnanya sedikit hitam, dan banyak hitam kalau sedang gosong hehe. Disantap dengan nasi hangat, sudah lezat.

Entah sejak kapan saya mulai memakan telur dadar dengan cara begitu. Yang saya ingat, dulu saya suka makan telur dadar kecap yang dibarengi dengan sop (?) dipikir pikir aneh juga ya haha 😅 (atau ada teman teman yang begitu juga? Hehe)

Setelah menikah, saya bertemu dengan seseorang yang menyukai cita rasa telur dadar yang berbeda. Katanya, telur dadarnya lebih nikmat kalau banyak daun bawangnya, dan digoreng dengan irisan bawang merah yang digoreng duluan.

* * *

Ketika awal kami bertemu, saya membuatkan telur dadar kecap kebanggaan saya (halah) yang kata saya enak. Ternyata ia tak begitu menyukainya, lidahnya tak terbiasa makan telur semacam itu. Begitupun saya, ketika harus makan telur dadar kesukaan beliau awalnya berpikir "ini telur dadar mainstream." Hihi. (Padahal kayanya itu telur dadar normal yang sudah standar internasional mereun yah :p)

Namanya sebagai istri, membuatkan makanan sesuai yang suami suka,  akhirnya saya juga ikut makan telur dadar versi standar. Awalnya aga aneh, tapi seiring waktu berjalan, bahkan saya sampai lupa kalau saya sukanya telur dadar kecap.

* * *

Mungkin semacam itu analogi yang mungkin terjadi dalam pernikahan. Dua orang dengan kisah hidup berbeda, harus selaras hidup bersama. Saling mempengaruhi, saling membawa. Mungkin juga tak pernah benar-benar jelas siapa yang salah atau siapa yang benar. Jenis interaksi keduanya adalah konsekuensi dari pribadi masing masing.

Dominan di luar, belum tentu tetap dominan pada pasangannya. Resesif diluar, belum tentu tak kuasa mendominasi pasangannya. Kompleks memang.

Maka mungkin pernikahan bukan sekedar aku mau apa, kamu mau apa.

Melainkan : aku begini, engkau begitu, kalau kita bersatu jadinya begini. Mari saling menerima dengan sabar dan syukur. Aku begini, engkau begitu, kalau kita bersatu jadinya begini. Baik ngga? Kalau ngga baik. Harus gimana. Apa yang harus aku perbaiki. Apa yang harus kamu perbaiki. Apa darimu yang perlu kulengkapi, apa dari diriku yang perlu kau lengkapkan. Kita mau kemana, apa tanggung jawabku, apa tanggungjawabmu. Apakah yang sudah kulakukan membuat kita sampai kesana, apakah yang kau lakukan juga begitu?

* * *

Sebuah refleksi yang PENTING BANGET setelah membuat telur dadar kecap kesukaan, setelah sekian lama. Hihi. :p

* * *

Pesan moral : setiap orang itu unik. perbedaan pasti ada, tentang bagaimana memanage diri kita, dan kesiapan untuk saling menghargai keunikan orang lainlah yang menjadi penting.

Jumat, 20 Mei 2016

Monday, May 16, 2016

Dibalik Perempuan bernama Ibu

Ada yang pernah bilang bahwa perempuan itu begitu hebat.

Mengandung calon anaknya sembilan bulan dalam rahimnya, dan setelah lahir masih akan sering menggendongnya sampai batas usia tertentu.
Apakah perempuan yang setelah melahirkan seketika mendapatkan suntikan energi yang membuatnya jadi kuat ? Apakah mereka tidak capek atau pegal-pegal?

Sedetik setelah melahirkan dan jadi ibu, perempuan tetap manusia, tentu saja. Sehingga menggendong anak juga lama kelamaan akan pegal. Sunatullahnya ya BERAT, karena punya massa dan bukan hidup di bulan yang tanpa dipengaruhi gaya gravitasi hihi.

Syukur alhamdulillah Allah menciptakan segalanya dengan tingkatan yang perlahan lahan naik, tidak ujug-ujug. Jadi tubuhnya pun menyesuaikan perlahan lahan.
Bayangkan saja kalau setelah bayi lahir, tiba tiba beratnya 20 kilo? :)

Bersamaan dengan anak yang kemana mana harus digendong, muncul konsekuensi baru. Harus dikemanakan gembolan para perempuan kece yang isinya beranekarupa, belum lagi kini ada tambahan barang-barang keperluan bayi? Saya yakin banyak perempuan yang mampu membawa nya. Tapi, kini selalu ada lelaki baik hati yang siap siaga membawakan gembolan ibu-ibu ini. Mau tidak mau, siap tidak siap (kalo ngga mau jitak aja wkwkw)

* * *
Beginilah kami kalau lagi jadwal menginap ke rumah orangtua kami. Dengan fixxion hitam kami melaju, bahu ayah jadi selalu dihiasi tas ransel kantor, tas selempang kecil, dan tas bayi besar. Berat loh itu, pegal. Belum lagi harus pakai jaket tebal dan penahan angin yang kalau kelamaan pasti kepanasan. Ayah juga sering banget gendongin haidar, jadi ya ngga selalu bunda yang gendong kok :)

Ah terimakasih ayah, sudah selalu siap berbagi peran dan sigap backup in bunda :")  😭😭😭

Ditulis 16 mei 2016
Foto 17 april 2016

"Keluarga super tidak dibangun oleh seorang superman saja. Namanya juga keluarga super : ada superman, ada superwoman, ada superchild. Superdede lain lagi." 😂
Ini quotes abal abal bunda 😅 hehe

Update Kehidupan Dulu

Bismillah, Assalamualaikum! Lama tak bersua, kali ini bahkan aku sudah jadi mamak anak tiga :))) Banyak yang ingin kuceritakan, tapi entah y...